Episode 13 - Tiga belas


Bersamaan dengan meningkatnya pertarungan Gumilang dengan Patraman, pengalaman dan ketenangan Ken Banawa sanggup mengatasi tekanan Ubandhana. Dan perlahan kini Ken Banawa mampu menguasai lawannya. Ubandhana kini menyadari bahwa secara perlahan dirinya menghadapi benteng karang yang semakin kokoh. 

“Tua bangka! Haruslah engkau menyingkir dari hadapanku. Tak lama lagi akan aku benamkan wajah tua itu ke dalam lumpur rawa-rawa!” Ubandhana menyeringai bengis sambil menambah tekanan pada Ken Banawa.

Memerah wajah Ken Banawa namun dirinya masih mampu menguasai keseimbangan dirinya.

Pertempuran kedua kelompok yang terpisah menjadi beberapa lingkaran kecil ini seperti tak kunjung usai. Ken Banawa dan Gumilang telah menyadari bahwa secepatnya pertempuran kecil ini harus diakhiri. Mereka tidak berharap pada Bondan agar lekas mengakhiri pertarungannya dengan Ki Cendhala Geni. Karena kedua orang ini tahu betul watak Bondan. Melihat Ken Banawa menganggukkan kepala, Gumilang paham apa yang harus dia lakukan. Sekejap kemudian dirinya memberi tekanan dahsyat pada Patraman. Selain pedangnya yang bergulung-gulung dengan sinar yang menyilaukan mata, belati pendek Gumilang telah memberi satu dua sentuhan pada kulit Patraman. Beberapa saat setelah itu Patraman mulai merasakan pedih dan hangat menjalari kulitnya. Serangan Gumilang makin bergelombang mendatanginya tiada henti susul menyusul. 

Gelombang serangan pedang Gumilang memang mampu dia hindarkan dan menolaknya, namun belati pendek Gumilang tiada henti menyengat tubuhnya. Darah perlahan mulai membasahi banyak bagian di tubuhnya, semakin lama Patraman semakin merasa lemah. Patraman pun melenting menjauhi Gumilang. 

Namun dia bertekad tidak akan rela ditangkap hidup-hidup serta dihukum gantung di alun-alun kotaraja.

Gumilang menatap lekat wajah Patraman dan kini dia melihat satu wajah yang sangat bengis. Gumilang merasakan getar kemarahan dari Patraman dan dia sadar sepenuhnya bahwa Patraman akan mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaga akan dikerahkan untuk membinasakan dirinya.

“Patraman, menyerahlah! Ada penyelesaian untuk mengakhiri masalah ini selain sebuah kematian,” desis Gumilang.

“Persetan! Hidup sebagai orang yang dikurung adalah kehinaan abadi. Aku sudah bersiap untuk mati bersamamu, Gumilang!” geram Patraman. Gumilang meremang mendengar kalimat terakhir Patraman yang seolah-olah Patraman telah berubah wujud menjadi dewa maut. 

Bentakan keras terdengar bersamaan ketika keduanya saling serang lagi. Pada satu kesempatan ketika keduanya surut terdorong ke belakang, Gumilang melayang cepat menerjang Patraman. Jantung Patraman berdesir karena dia melihat pedang Gumilang kini berada dalam genggaman tangan kiri. Perubahan yang demikian cepat benar-benar mengacaukan perhatian Patraman sekalipun begitu dia cepat menyesuaikan diri. Semakin dekat Gumilang dan selangkah lagi keduanya akan bertumbuk keras. Kaki Gumilang secara tiba-tiba menghunjam tanah dan tubuhnya melayang melintasi kepala Patraman. Patraman cepat menyesuaikan dirinya dengan melontarkan diri ke bagian kiri namun justru pada saat itu Gumilang sangat cepat memindahkan pedang ke tangan kanan. Terdengar pekik tertahan dan Patraman telah roboh dengan pedang yang menghunjam bagian dadanya.

Sesaat kemudian setelah mencabut pedangnya, Gumilang mengamati pertarungan Bondan dengan Ki Cendhala Geni yang mulai mendesak Bondan. 

Serangan demi serangan Ki Cendhala Geni yang beruntun disertai pengalaman bertarung beratus-ratus kali menjadikan Bondan terancam bahaya. Sekalipun dirinya sanggup mengelak dari sabetan kapak namun angin yang ditimbulkan kapak mampu membuat kulitnya terasa pedih. Sedikit demi sedikit Bondan mulai terdesak. Ketika kaki kanan Ki Cendhala Geni menjulur ke lambungnya, Bondan menarik langkah mundur seketika dia melihat cahaya putih mengarah ke lehernya. Bondan berhasil mengelak namun ujung kapak masih menyentuh pundaknya dan meninggalkan selarik luka menganga.

Dengan keris yang tak lagi berada dalam genggaman, Bondan merasakan betapa sulitnya bertarung dengan lawannya. Namun begitu dia tidak merasa putus asa namun luka-luka di pundaknya kini mempengaruhi daya tahannya. Dia menyadari tubuhnya akan semakin lemah bila darah tak segera dihentikan. Tetapi melepaskan diri dari perkelahian bukanlah ciri-ciri ksatria. Dalam kebingungan Bondan mencari jalan keluar, tiba-tiba Gumilang telah menerkam Ki Cendhala Geni. Satu bentakan dahsyat mengawali serangan Gumilang.

“Baguslah jika demikian! Dua tikus Majapahit ini pasti akan berbahagia bila mati bersama-sama!” Ki Cendhala Geni menggeram penuh amarah.

“Kiai! Lihatlah ke pesisir!” seru Ubandhana sambil menghindari serangan Ken Banawa.

Ki Cendhala Geni segera melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk Ubandhana. Dia melihat bahwa pengawal Majapahit berhasil mendesak anak buah Patraman. Kini dirinya menghitung kemungkinan akhir dari pertempuran kecil ini. Jika pasukan Majapahit berhasil menumpas habis kawanan Patraman dan Laksa Jaya, maka kemungkinan besar yang terjadi adalah mereka akan membagi kelompok untuk membantu Ken Banawa dan kedua anak muda dari Trowulan ini.

Meskipun kemampuan tandang Ki Cendhala Geni sangatlah mumpuni namun dirinya juga harus memperhatikan akibat buruk jika Ubandhana akhirnya terbunuh. Tanpa dia sadari, ternyata Ubandhana juga berpikir seperti jalan pikiran Ki Cendhala Geni. Tanpa ada perintah atau tanda yang diberikan, dalam sekejap kemudian kedua orang ini serentak menyerbu lawannya masing-masing.

Ubandhana meningkatkan daya serangnya. Tombaknya berputar-putar meliuk-liuk menghantam setiap bagian pertahanan Ken Banawa. Angin yang tergerak karena tombaknya makin berdesir kencang. Ken Banawa tidak menyangka bahwa angin dari tombak lawannya itu sanggup menyakiti kulitnya. Demikianlah Ken Banawa akhirnya harus mengimbangi serangan demi serangan Ubandhana yang semakin menggila. Lingkaran mereka semakin bergeser mendekati sungai kecil yang berada tak jauh dari rawa-rawa. Ken Banawa tentu akan mencegah tubuhnya terjatuh ke tebing sungai. Oleh karena itu dia mencoba mencari celah kelemahan serangan Ubandhana. Bersamaan dengan itu ketika dia melihat kelemahan Ubandhana, dengan cepat Ken Banawa menjulurkan satu pukulan ke bawah ketiak Ubandhana. Agaknya Ubandhana menyadari bagian yang terbuka lalu dengan cepat ia melontar ke samping dan secepat anak panah dirinya meloncat menuruni tebing. Ken Banawa sepenuhnya menyadari bahwa mengejar lawannya bukanlah tujuan utama pengejaran karena penyelamatan seorang putri dari pemimpin kadipaten adalah yang utama.

“Anak setan!” desis Ki Cendhala Geni mengumpat Ubandhana yang melarikan diri dari pertempuran. Namun kemudian senyumnya mengembang. Tanpa diduga kedua lawannya, ia menghantamkan kapaknya berturut-turut ke permukaan tanah. Dalam sekejap tanah berhamburan menuju ke arah Gumilang dan Bondan. Serangan yang tidak disangka sangat membahayakan keduanya. Debu dan butiran tanah segera menghambur menutup mata serta wajah. Kulit keduanya terasa perih seperti ditusuk-tusuk jarum. Bondan dan Gumilang segera melentingkan tubuh satu putaran ke belakang. Karena tidak adalagi tekanan yang menghimpitnya, Ki Cendhala Geni segera melesat meninggalkan rawa-rawa. Bondan menyadari hal itu dan segera mengejar Ki Cendhala Geni ke arah sungai. Sekalipun begitu luka-luka di pundak Bondan masih mengalirkan darah begitu banyak hingga akhirnya Bondan menghentikan pengejaran. Dia hanya mampu melihat lawannya itu berlari cepat melintasi permukaan sungai menuju tebing sebelah selatan sungai lalu menghilang di balik rerimbun semak kering.

“Sungguh hebat. Siapa lagi yang dapat melakukan hal semacam itu?” gumam Bondan dalam hatinya melihat Ki Cendhala Geni ketika menjejakkan telapak kakinya ke permukaan air sungai.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Ken Banawa segera memerintahkan para pengawal untuk merawat yang terluka meskipun itu dari pihak Laksa Jaya. Dia juga memerintahkan sebagian pengawal untuk merawat mayat yang terbunuh.

Kemudian berjalan mendekati Arum Sari yang belum sepenuhnya perubahan yang terjadi di sekitarnya.

 “Arum Sari, keadaan sudah aman bagimu dan segera kami antar dirimu ke Wringin Anom,” kata Ken Banawa perlahan.

“Siapa engkau, Ki Sanak?” sahut Arum Sari. 

“Ken Banawa. Aku seorang senapati Majapahit.”

“Tunjukkan padaku jika engkau benar pimpinan prajurit?”

“Gadis pemberani” gumam Ken Banawa dalam hatinya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah besi berbentuk lingkaran dengan ukiran simbol prajurit Majapahit.

“Engkau mengenali apa yang ditanganku?” sambil menjulurkan tangannya yang mengenggam besi pertanda keprajuritan.

“Ya. Aku keluar sekarang,” jawab Arum Sari perlahan sambil memberi isyarat jika dia terikat. 

Agaknya Arum Sari sedikit mengenal ciri khusus keprajuritan karena sering melihat kebiasaan para pengawal di Wringin Anom melakukan pertemuan di pendapa kademangan. Rupanya kebiasaan itu secara tidak sadar telah diingatnya dengan baik. 

“Terima kasih Ki Banawa. Aku akan sampaikan ini kepada Ki Demang. Dan secara pribadi aku harap ayah sudi mengundang para prajurit terutama Ki Banawa untuk sekedar mengucap terima kasih atas pertolongan ini,” kata Arum Sari sambil terisak tangis. Dadanya terasa lapang dan lega karena seolah dia telah bebas dari cengkeraman serigala dan anjing liar.

“Ah sudahlah. Ini adalah kewajiban kami semua selaku pengemban keamanan wilayah Majapahit,” Ken Banawa merendah.

“Siapa anak muda yang berjalan kemari itu, Ki?” tanya Arum Sari ketika melihat Bondan berjalan perlahan menuju ke tempat mereka.

“Dia Bondan. Bondan Lelana seperti kami biasa menyebut namanya.”

“Oh,” desah Arum Sari dan hampir saja terlontar pertanyaan serupa ketika dia melihat seorang anak muda dengan busur di punggungnya. Tetapi dia menahan dirinya agar tak dinilai sebagai gadis yang tidak tanggap keadaan.

Ken Banawa lantas memerintahkan untuk segera merawat yang terluka dan menyelenggarakan jenazah bagi yang meninggal dunia dari kedua pihak.

“Bondan, bagaimana dengan luka-lukamu?” Ken Banawa menghampiri Bondan yang sedang merawat luka-lukanya dengan serbuk obat yang dibawanya sendiri.

“Agak lebih baik, paman. Darah sudah berhenti dan mungkin satu dua hari ini lukanya akan menutup,” jawab Bondan sambil menahan rasa pedih yang disebabkan oleh obat.

“Bagaimana menurutmu jika Ra Caksana dan beberapa pengawal menyertaimu melacak jejak Ki Cendhala Geni dan Ubandhana?”

“Tak mengapa karena rasanya mereka juga tidak akan berlari jauh kembali ke Wringin Anom ataupun Sumur Welut.”

“Baiklah dengan begitu aku tinggalkan beberapa orang besertamu dan Gumilang akan menyertaiku mengantarkan Arum Sari ke Wringin Anom. Segeri beritahu kami jika engkau mempunyai kabar penting tentang kedua orang itu.”

“Baiklah, paman. Selamat jalan.”

“Selamat jalan, ngger.”

Kedua kelompok ini segera berpisah dan sekilas Bondan menatap wajah Arum Sari namun dirinya segera memalingkan mukanya. Entah mengapa ada semacam desir aneh yang merambati hatinya.

Kelompok yang dipimpin Ken Banawa segera bertolak ke Wringin Anom dengan membawa beberapa tawanan dan orang yang terluka. Sedangkan Bondan dan Ra Caksana beserta beberapa prajurit berkuda ke arah selatan menyusuri sungai.

“Perjalanan ini akan berat, Arum Sari. Selain kita membawa prajurit yang terluka juga ada tawanan yang terluka. Aku harap tidak ada keberatan darimu bila kita menempuhnya dengan berjalan kaki,” kata Ken Banawa perlahan kepada Arum Sari yang berjalan di sampingnya.

“Tidak, paman. Keadaan ini jauh lebih baik meskipun perlahan tetapi kita secara pasti menuju Wringin Anom.”

“Semoga demikian. Dan aku harap kawanan Ki Cendhala Geni tidak mengejar kita karena aku pikir mereka sudah tidak ada kepentingan dalam hal ini.”

“Semoga begitu, paman.”

Siang itu matahari bersinar terang namun tak begitu terasa panas. Semilir angin yang berhembus sela-sela beberapa hutan kecil yang mereka lalui cukup memberi rasa damai di hati Arum Sari. Namun tidak demikian bagi para tawanan yang merasa perjalanan ini sangat mencekam. Karena bagaimanapun juga sebagian tawanan adalah prajurit Majapahit dibawah pimpinan Patraman.

Sementara itu Bondan dan kelompok yang dipimpin Ra Caksana mulai menyusuri sungai kecil yang melintas di tepi Alas Jatipurwo. Setelah menyeberangi jembatan kecil, mereka berpencar dalam kelompok kecil.

Terdengar suitan nyaring ketika Ki Cendhala Geni melintas di bawah pohon asam yang besar batang pokoknya seukuran dua lengan orang dewasa. Tak lama kemudian dari rerimbun semak terdengar desir langkah orang berjalan mendekatinya.

“Mereka benar-benar licik, kiai,” kata Ubandhana sambil meloncat kecil menghampiri Ki Cendhala Geni.

“Hmm, aku tak menyangka ternyata engkau cerdik juga, anak muda. Aku kira engkau cukup berani dengan bertempur sampai akhir,” Ki Cendhala Geni menyahut sambil terus berjalan tanpa melihat mata Ubandhana.

“Aku kira sangat bodoh jika pertempuran tadi harus diakhiri dengan kematianku. Bukankah kiai sudah mengetahui kekuatan tiga orang itu? Ditambah lagi dengan pasukan mereka yang ternyata cukup lumayan kemampuannya.”

“Iya engkau benar-benar cermat. Sejujurnya aku sangat kecewa sekali dengan kekuatan orang yang dibawa oleh kedua orang dungu dari Wringin Anom itu. Seharusnya mereka membawa orang yang lebih banyak.”

“Kemana kiai akan pergi?”

“Hmm, Kahuripan sekarang bukanlah tempat yang aman untukku. Mungkin sekarang sudah dikuasai kembali oleh prajurit Majapahit. Dan tidak menutup kemungkinan orang-orang Wringin Anom akan mencariku ke sana.”

“Mengapa kita tidak mencoba untuk mengambil kembali gadis itu,kiai? Bukankah saat ini mereka pasti menuju Wringin Anom?”

“Tidak. Kita hanya berdua saja, sedangkan mereka sekalipun pasukannya tidak utuh lagi tapi ada kemungkinan telah mengirimkan kabar itu ke Wringin Anom. Sehingga dengan demikian, ki demang dapat saja mengirim bantuan atau mungkin juga ada sejumlah prajurit yang menyusul ke rawa melalui jalan yang mereka lewati saat berangkat. Kita sama sekali tidak tahu.”

“Jadi menurut kiai, apakah kita akan bersembunyi sekarang?”

“Tentu saja. Ki Srengganan mungkin sudah dihukum mati oleh utusan dari kotaraja. Sementara ini kita harus mencari tempat yang cukup aman untuk menghilang dari kejaran prajurit-prajurit Majapahit. “

“Aku sudah tidak mempunyai tempat untuk bersembunyi. Bagiku saat ini adalah mencari kesempatan untuk menyelesaikan semua persoalan ini. Dan andai saja ada kesempatan lagi untuk bertemu dengan dengan Bondan,” ungkap Ubandhana yang sedikit cemas tapi juga mempunyai harapan untuk berhadapan lagi dengan Bondan.

“Baiklah, jika demikian kita akan menuju pedukuhan Bulak Banteng. Aku mempunyai kawan yang merupakan seseorang yang terpandang di sana. Seseorang yang terhempas ke dalam jurang tak berbatas karena hak yang direbut dari Sri Jayakatwang.”

“Benar. Memang tak seharusnya ayah Sri Jayanegara merebut tahta Kediri. Apalagi ia begitu licik dengan mengarahkan prajurit berkulit kuning itu ke Kediri.” Ubandhana berkata dengan tangan terkepal. Kemudian ia bertanya lagi,“sungguh menarik. Tentunya orang ini masih belum begitu tua ketika dia membantu Sri Jayakatwang. Tetapi mengapa kiai tidak pergi ke padepokan Alas Cangkring?”

“Justru karena Mpu Gemana terbunuh maka aku datang ke Bulak Banteng. Tidak mungkin bagiku berada di padepokan yang berada dalam pengawasan prajurit dari kotaraja. Di Bulak Banteng akan ada seorang teman yang senang jika kita dapat bekerja sama merebut kotaraja.”

“Oh, siapakah dia?”

“Dulu dia seorang senapati dalam pasukan Jayakatwang. Kemudian ia memilih Bulak Banteng untuk mengumpulkan kekuatan yang berserakan. Namun kematian Mpu Gemana ternyata mengusik ketenangannya.” Ia terdiam sejenak sambil memandangi kapaknya. Ia melanjutkan,“beberapa hari yang lampau, dia mengirim utusan untuk menemuiku dan bertanya tentang kebenaran berita kematian Mpu Gemana. Dan dia juga menawarkan kepadaku untuk turut serta bergabung menuntut balas kematian Mpu Gemana sekaligus menggantikan Jayanegara dengna orang lain yang berada di kisaran kotaraja. Yah, orang ini bernama Ki Sentot Tohjaya,” Ki Cendhala Geni mengakhiri penjelasannya.

“Ki Sentot Tohjaya? Aku pernah mendengar nama itu.”

“Agaknya engkau memang pantas menjadi seorang rangga di pasukan Ki Sentot,” derai tawa Ki Cendhala Geni ketika melirik wajah Ubandhana yang serius menyimak penjelasannya. 

Lalu kedua orang ini pun tertawa sambil melangkahkan kaki membelah rumput ilalang menuju jalan setapak yang akan membawa mereka menuju pedukuhan Bulak Banteng. Beberapa lama kemudian mereka telah melihat sejumlah rumah beratap ijuk di luar pedukuhan. Sambil berjalan melintasi pategalan yang ditumbuhi ubi dan ketela, mereka berdua cukup terlindungi dari sinar matahari sore oleh sederet pohon pisang yang seperti berbaris di sepanjang jalan.

“Kita akan memasuki pedukuhan induk Bulak Banteng selepas senja.”

“Hmm, baiklah. Memang lebih baik sedikit orang yang tahu tentang kehadiran kita di tempat ini, kiai.”

Sejenak kemudian kedua orang ini lantas menepi dan merebahkan diri di atas rumput kering yang berada di sekitar pohon pisang di tepi jalan. Parit yang mengalir di bawah mereka ternyata cukup jernih untuk sekedar membasuh tangan dan muka. Bagaimanapun juga tubuh kedua orang ini mengalami kelelahan setelah pertempuran menjelang dini hari sebelumnya. 

“Kita istirahat bergantian. Aku yang pertama, bangunkan aku jika matahari barat sudah menyilaukan mata,” kata Ki Cendhala Geni sembari merebahkan tubuhnya.

“Baiklah kiai. Aku yang berjaga dulu,” kata Ubandhana dengan muka masam.

Selain sedikit terlindung dengan semak yang tidak seberapa tinggi juga keadaan yang menjelang senja itu tampaknya membuat orang menghindari perjalanan di gelap malam.

Pada malam yang sama di Kahuripan, Ki Srengganan menjadi murka mendengar laporan seorang pengawal yang mengatakan jika Ki Cendhala Geni telah meninggalkan kepatihan. Tangan kanannya terkepal dan nampak membara hingga pangkal siku. Bibirnya terkatup erat lalu ia bangkit dari tempatnya duduk dan berkata,”aku akan membunuhnya!” Kemudian ia berjalan keluar ruangan dan seorang pembantunya yang setia mengikuti dengan tombak pendek terhunus.

Ra Pawagal didampingi Gajah Mada berjalan memasuki halaman keraton Kahuripan. Agaknya kedatangan mereka telah diketahui oleh Ki Srengganan yang berdiri tegak dengan sebuah tombak panjang tergenggam. 

“Seluruh pasukan yang bersamamu telah terkurung dan menyerah, Ki Srengganan,” seru Ki Ra Pawagal lantang. Ia meneruskan,”jika kau menyerah, aku akan meminta Sri Jayanegara untuk memberi ampunan padamu.”

Tiba-tiba Ki Srengganan tertawa hingga dadanya berguncang, kemudian menatap tajam ke arah Pagawal,”ampunan? Ra Pawagal, mungkin kau bermimpi jika orang lemah itu mau memberi ampunan. Sedangkan kita telah mendengar apa yang terjadi pada Ki Nagapati. Justru aku akan memberi rajamu sebuah pengampunan.” Ia kembali tertawa keras lalu melompat turun ke halaman.

Pagawal melihat sekelilingnya yang telah dipenuhi para prajurit Majapahit yang setia pada Sri Jayanegara. Untuk sesaat ia sempat berpikir,”Ki Srengganan adalah orang yang membantu Dyah Wijaya memulai semua ini selain pengikut dan kawan-kawan yang lain. Akan tetapi kekecewaannya pada peguasa sekarang justru menjadikannya sebagai orang yang hanya mengejar kesenangan. Maka dengan begitu ia mudah menerima ajakan dari mendung hitam di kotaraja untuk bergerak melawan arah.” Ia menghela nafas panjang, lalu,”lalu apa artinya semua ini, Ki Srengganan? Bukankah kau tidak memperoleh perkembangan yang berarti? Setidaknya kau sendiri tidak tahu apa yang akan kau perbuat esok untuk rakyatmu di Kahuripan.”

“Tidak perlu kau berbicara sepanjang itu, KI Pawagal. Dahulu kita adalah kawan dekat yang sama-sama berjuang untuk membentuk kerajaan ini. Akan tetapi, malam ini kita harus melupakan itu semua.” Ki Srengganan merendahkan lututnya dan diam-diam menghimpun tenaga. Melihat itu, Gajah Mada mendekati KI Pawagal,”kiai, harap bergeser sejenak. Biarkan aku yang muda ini menghadapi Ki Srengganan.” 

Ra Pawagal menggelengkan kepala,”biarkan aku yang mengurusnya. Kau dapat meringkus pembantunya.” Selepas itu, Ki Ra Pawagal merundukkan tombak yang telah terlepas dari selongsongnya. Gajah Mada pun akhirnya mengikuti kemauan KI Pawagal yang memang berwatak keras. Ia menyadari jika ia semakin memaksa orang tua pengikut Dyah Wijaya, maka justru akan terjadi benturan antara dirinya dengan Ki Pawagal. Kini Gajah Mada berdiri lurus menghadapi pembantu Ki Srengganan yang melangkah setapak demi setapak memutar ke arahnya.

Mata yang tajam memandang lurus kedua lawannya tidak mengurangi rasa jerih yang tertulis dalam hati Ki Srengganan, meskipun begitu, untuk terakhir kali ia berkata lantang,”kalian berdua tidak datang sebagai orang yang akan mengadili aku. Akan tetapi kedatangan kalian tak lebih dari pejabat Kahuripan lainnya yang hanya hidup dari belas kasihan penjudi seperti aku. Terutama kau, KI Pawagal! Kau masih saja berusaha membela orang lemah sedangkan ia tidak mau mengerti sedikitpun kebaikan yang pernah kau berikan untuk ayahnya!” Ia maju setapak. Tenaga yang telah terhimpun di kedua lengannya semakin kuat, kini lengannya tergetar halus. KI Pawagal tidak mau kehilangan kewaspadaan, ia pun kini maju setapak.

“Ambillah kerismu, orang tua! Agar aku dapat mengakhiri hidupmu dengan wajah tegak,” desis Ki Srengganan.

“Aku akan menangkapmu hidup-hidup!” Ki Pawagal meluncur cepat dengan diiringi gelegar suaranya yang mampu menembus rongga jantung lawannya. Ia tidak ingin kata-kata Ki Srengganan terdengar oleh prajurit yang meulai berdatangan mengepung tempat itu. Menurut Ki Pawagal, semakin banyak yang dikatakan oleh Ki Srengganan itu sama artinya dengan mencoreng nama baik Ki Srengganan sendiri.

Ki Srengganan menyambut serangan lawannya dengan kekuatan yang menggetarkan. Saat itu Ki Pawagal harus menarik kerisnya dengan cepat karena tombak Ki Srengganan yang berputar dalam genggamnya tiba-tiba meluncur deras seolah dilemparkan. Terdengar suara nyaring ketika keris bertemu ujung tombak dan percikan api segera berhamburan. Sekejap kemudian nampak sinar putih bergulung-gulung ketika Ki Srengganan mengalirkan serangan dengan sabetan yang ganas sekaligus menutup tubuhnya dari tusukan-tusukan Ki Pawagal yang berkelebat seperti kilat menyambar.