Episode 204 - Maha Tabib Banyu Alam



“Ketua! Ketua!” 

“Ada apakah gerangan, wahai Ogan Rawas?”

Seorang lelaki setengah baya terengah-engah. Sepertinya ia baru saja melesat secepat mungkin. Kini ia berdiri di hadapan seorang lelaki tua. Mereka berada di dalam bagunan nan megah. Pada bagian depan, sebuah papan nama besar memampangkan tulisan ‘Serikat Peramu’.

“Lihatlah apa yang kubawa!” 

“Sebuah pil…?”

“Mohon diperhatikan dengan seksama…,” Pejabat Harian Serikat Peramu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu menyodorkan sebutir pil. Ukuran dan warnanya mirip tahi kambing, bulat kecil dan hitam. 

“Ini…” Wajah lelaki tua yang dipanggil sebagi Ketua terlihat berubah takjub. “Dari manakah dikau memperoleh pil ini!? Pil apakah ini!?”

“Pil ini bernama Pil Cakar Bima. Seorang anak remaja yang meramukannya!” 

“Pil Cakar Bima? Seorang anak remaja katamu…? Mustahil!” 

“Diriku melihat dengan mata kepala sendiri. Seorang anak remaja yang meramu pil ini!”

“Sepanjang pengalamanku menjabat sebagai Ketua Serikat Peramu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang… Tidak… Bahkan sepanjang hayatku sebagai peramu, baru kali ini diriku menyaksikan ramuan dengan taraf kemanjuran setinggi ini!”

Berdasarkan pengetahuan umum para peramu-peramu besar di seantero negeri, ramuan yang dihasilkan oleh seorang peramu memiliki taraf kemanjuran yang berbeda-beda. Angka 90% adalah taraf kemanjuran tertinggi. Hal ini berarti bahwa setiap bahan dasar di dalam ramuan tersebut berperan maksimal, dan percampuran di antara bahan-bahan dasar tersebut berlangsung hampir sempurna. Hanya peramu kelas atas yang dapat meramu sampai ke angka 90% taraf kemanjuran. 

“Apa bahan dasar dan bagaimana teknik meramunya…?” Ketua Serikat Peramu semakin penasaran. Perlahan, ia meletakkan pil hasil ramuan Bintang Tenggara di atas meja yang bersih.  

Ogan Rawas menyodorkan secarik kertas yang memuat bahan dasar serta petunjuk meramu. 

“Pelayan, siapkan air dan beberapa ikat Pakis Kadal Hijau!” perintah sang Ketua Serikat Peramu usai membaca isi kertas tersebut. Ia lalu mengibaskan tangan, dimana sebuah lesung batu mengemuka dari dalam batu Biduri Dimensi. Bentuknya demikian indah, dengan berbagai ukiran halus dan rinci. 

Seorang pelayan perempuan kembali dengan bahan dasar meramu yang diminta. Berdasarkan keterangan yang sudah digariskan di atas kertas, orang tua itu lalu mulai meramu. 

“Kita coba petunjuk ini bersama-sama,” ujar si Ketua. 

Ogan Rawas mengangguk cepat. Segera ia mengeluarkan sebuah lesung batu yang tak kalah indahnya. Bersama-sama, kedua ahli dengan keterampilan khusus tingkat tinggi itu mulai meramu. 

Menggunakan jalinan mata hati, keduanya mengurai dan memisahkan daun dari serbuk spora tumbuhan siluman pakis. Lalu, setetes air dimasukkan ke dalam lesung batu. Perlahan-lahan, serbuk spora Pakis Kadal Hijau melayang turun ke dalam lesung batu. Sesaat sebelum serbuk spora pakis mencapai permukaan lesung, mereka pun menguapkan setetes air yang telah terlebih dahulu berada di dalam lesung. 

Seluruh urutan bahan dasar dan langkah-langkah yang mereka lakukan persis sama dengan yang dilakukan oleh Bintang Tenggara. 

Tindakan mereka menghasilkan reaksi meramu, dimana serbuk spora berubah menjadi adonan kecil. Kemudian, dengan mengalirkan sedikit tenaga dalam, adonan pun mengeras. Bentuknya hitam dan bulat, lagi-lagi mirip sebutir kotoran kambing. 

Proses meramu ini sangatlah sederhana bagi kedua ahli. Tiada yang spesial. Biasa-biasa saja. Waktu yang dibutuhkan pun sangatlah singkat.

“Bagaimana…?” Ketua Serikat Peramu penasaran. 

“Pil Cakar Bima yang diriku hasilkan memiliki taraf kemanjuran sebesar 75%,” Ogan Rawas menjawab cepat. 

“Pil yang diriku ramu, memiliki taraf kemanjuran sebesar 80%,” sahut sang Ketua. “Akan tetapi, bilamana dilakukan beberapa kali lagi, maka diriku yakin dan percaya dapat mencapai taraf kemanjuran setinggi 85%.”

Kedua ahli itu terdiam. Saling pandang. Lalu menoleh ke arah sebutir pil Cakar Bima yang tergeletak di atas meja. Keduanya menyadari bahwa meskipun suatu ramuan memiliki bahan dasar dan menjalani proses meramu yang sama, kemanjuran ramuan sangat bergantung kepada bakat dan pengalaman peramunya. 

“Bagaimana mungkin seorang anak remaja dapat menghasilkan sebutir pil dengan taraf kemanjuran sampai setinggi 99%...?” gumam sang Ketua Serikat Peramu pelan. Kedua matanya tak lepas dari Pil Cakar Bima di atas meja.


“Saudaraku Malin Kumbang, kudengar bahwa dikau mengunjungi Kadatuan Kesembilan…”

“Sungguh tembok di dalam wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang dapat berbicara,” sindir lelaki tambun berkepala gundul itu.

“Apakah gerangan yang dikau lakukan di sana…?”

“Wahai Yang Dipertuan Datu Kadatuan Keempat, Saudaraku, sengketa antara para Kadatuan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang bukanlah bagian dari kepentingan diriku sebagai seorang saudagar.” Ia menyibak senyum tipis.

“Malin Kumbang…” Sang Datu dari Kadatuan Keempat menggeretakkan gigi. Sebagai seorang lelaki dewasa, wajahnya terlihat sangat tampan, dengan bentuk hidung nan mancung. 

“Diriku baru saja membeli hak cipta atas ramuan yang dinamakan sebagai Pil Cakar Bima. Kuperoleh dari seorang remaja yang kebetulan merupakan tamu di Kadatuan Kesembilan.”

“Apakah gerangan kelebihan pil tersebut…?”

“Sebuah pil yang bermanfaat dalam menjaga daya tahan tubuh. Sebutir saja diminum pada malam hari, maka akan memulihkan stamina bagi mereka yang kelelahan. Kemampuan pil ini sudah dibuktikan oleh sejumlah petani dan murid-murid perguruan.” 

“Benarkah…?”

“Bayangkan bilamana ramuan pil ini diberikan kepada para prajurit perang, bukankah dapat menjadi sebuah senjata rahasia…?” 

“Hm…? Dikau membeli hak ciptanya…?”

“Hahaha…,” gelak Malin Kumbang puas, di kala membayangkan seberapa besar keuntungan yang akan ia peroleh ketika menjual pil tersebut nantinya. “Sekarang diriku hanya perlu mencari pasokan Pakis Kadal Hijau dalam jumlah besar!

“Pakis Kadal Hijau…?” 

Sang Datu dari Kadatuan Keempat segera dapat membaca situasi. Salah satu alasan keterpurukan Kadatuan Kesembilan adalah karena sebagian besar lahan di bawah kekuasaan mereka ditumbuhi sejenis gulma nan langka. Hal ini menyebabkan kesulitan besar dalam kegiatan bercocok tanam. Musibah yang telah berlangsung selama puluhan tahun, merupakan pengetahuan umum di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Akan tetapi, bilamana Pakis Kadal Hijau menjadi komoditas, bukankah yang paling diuntungkan nantinya adalah Kadatuan Kesembilan…? Apakah kejadian ini merupakan kebetulan semata…?

“Seperti apakah tanggapan dari Datu di Kadatuan Kesembilan…?” Lelaki dewasa di hadapan Saudagar Senjata Malin Kumbang itu memicingkan mata.

“Hahaha… Datu di Kadatuan Kesembilan menolak bertemu muka. Sepertinya sedang tergolek mabuk.”

“Hm…?”

“Saudaraku, kedatanganku malam hari ini bukanlah hendak membahas tentang intrik politik di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” gelak Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Ada hal yang lebih mustahak dari itu… perihal langkah kita sebagai Kekuatan Ketiga.” 

Datu dari Kadatuan Keempat bersandar pada kursi singasana nan megah. Ia menyadari kebenaran dari kata-kata lawan bicaranya itu.

“Raja Angkara Durhaka berada di Pulau Belantara Pusat. Raja Angkara Durkarsa di perairan sekitar Pulau Mutiara Timur,” papar Saudagar Senjata Malin Kumbang cepat. 

“Hanya itukah…?”

“Diriku berhadapan langsung dengan Raja Angkara Durjana di Partai Iblis…” Nada suara Malin Kumbang mulai terdengar sedikit ragu. 

“Ada apakah gerangan…?” Datu dari Kadatuan Keempat mencondongkan tubuh. Sepertinya ia menyadari gelagat berbeda dari teman seperjuangannya itu.

“Menurut hematku… berbeda dengan Raja Angkara Durhaka dan Raja Angkara Durkarsa yang sedang memulihkan kekuatan, Raja Angkara Durjana masih berada dalam keadaan puncak sebagaimana dahulu saat Perang Jagat.” 

“Dengan kata lain, akan sangat sulit bagi kita mengendalikan Raja Angkara Durjana…,” simpul Datu dari Kadatuan Keempat.

“Benar.” 

Keduanya lalu terdiam. Mereka larut dalam pemikiran mendalam. 

“Bagaimana upaya di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang…” Saudagar Senjata Malin Kumbang menetas keheningan. 

“Saat ini, sulit bagi kita bergerak bebas. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang…”

“Apakah beliau mengendus pergerakan kita…?”

“Tidak.” Sang Datu menjawab cepat. “Akan tetapi, beliau sedang mengamati kesembilan Kadatuan dengan seksama. Atas perseteruan yang memanas, beliau tetap bersikap netral. Perhatian yang diberikan ini kemungkinan karena hajatan akbar itu akan segera digelar.” 

“Jadi, apakah rencana kita…?”

“Pada hajatan akbar Kemaharajaan Cahaya Gemilang, di kala seluruh perhatian terpusat pada satu titik, kita akan bertindak!” sergah pria dewasa nan tampan itu.

“Waktu dimana Kekuatan Ketiga membebaskan satu lagi dari Lima Raja Angkara semakin mendekat!” Saudagar Senjata Malin Kumbang terdengar sangat bersemangat.


===


“Huehuehue…” Ginseng Perkasa terdengar puas. “Andai saja diriku dahulu memanfaatkan kepintaran sebagai saudagar…”

“Kepintaran dengkulmu! Kau hanya membisiki muridku agar berjualan ramuan!” 

“Dan ia mengembangkan dengan baik sekali. Sesuai harapan…” 

“Harapan jidatmu! Sudah beberapa hari ini ia lalai berlatih. Kaulah penyebabnya!”

Bintang Tenggara sedang mendatangi Balai Ramuan milik Kadatuan Kesembilan. Ia telah memiliki Kembang Tujuh Rupa dalam jumlah yang lebih dari memadai berkat menjual hak cipta Pil Cakar Bima. Terkait penjualan hak cipta, maka tiada yang perlu dikhawatirkan. Pil Cakar Bima yang dirinya hasilkan memiliki taraf kemanjuran setinggi 99% dan hanya dapat dicapai bilamana meramu dengan meminjam keterampilan khusus milik Ginseng Perkasa. Dengan kata lain, Pil Cakar Bima dengan kualitas terbaik, masih di bawah kendalinya. 

Terlepas dari kecabulan akan ketiak, sang Maha Maha Tabib Surgawi memanglah digdaya adanya.

Selain itu, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa dirinya telah membuka peluang bagi Kadatuan Kesembilan untuk meraih keuntungan besar. Sebentar lagi, pastilah banyak pihak yang berdatangan untuk membeli Pakis Kadal Hijau yang tumbuh liar dan mewabah di lahan pertanian milik Kadatuan terakhir ini. Mereka tentunya membutuhkan bahan dasar dari Pil Cakar Bima dalam jumlah besar. 

Hm…? Mengapakah banyak sekali biji-bijian di dalam Balai Ramuan ini…? batin Bintang Tenggara. Meskipun demikian, ia tiada hendak ambil pusing. Setelah mengumpulkan bahan dasar selain Kembang Tujuh Rupa, ia segera berpamitan kepada kakek tua yang menjaga Balai Ramuan. 

Sebuah ramuan penawar racun bagi Ibunda Samara akan segera dipersiapkan. Malam itu, Bintang Tenggara kembali meramu sampai larut.


Pagi-pagi sekali, Bintang Tenggara membawa sebuah larutan dalam botol kecil. Bersama Wara, ia mendatangi kediaman Ibunda Samara. 

“Masuklah…,” terdengar suara memanggil ramah. 

Di balik meja, terlihat Ibunda Samara duduk bersandar. Wajahnya pucat, namun ia menyibak senyuman nan ramah. Berbeda dengan hari sebelumnya, di seberang meja, seorang lelaki tua berpakaian serba putih duduk memainkan janggut yang memutih pula. Senyum tipis menghias sudut bibirnya. Pembawaanya pun sangatlah berwibawa, mengingatkan pada seorang ahli dengan dua keterampilan khusus. 

“Yang Terhormat Maha Tabib Banyu Alam, bagaimanakah kesehatan Ibunda Samara belakangan ini?” sapa Wara penuh hormat.

“Oh… Yang Dipertuan Muda, kesehatan tubuh Ibundamu semakin membaik.” 

Wara mengangguk, lalu menoleh ke arah Ibunda Samara. “Ibunda, Bintang sahabatku telah menyiapkan ramuan khusus…”

“Hmph…” Maha Tabib Banyu Alam mendengus. “Yang Dipertuan Muda, sebaiknya tiada mudah percaya kepada sembarang ahli.” Ia lalu mengamati Bintang Tenggara dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Apalagi kepada seorang anak dusun entah dari mana…” 

“Bintang, beliau ini adalah Yang Terhormat Maha Tabib Banyu Alam, tabib terkemuka di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Atas kemurahan hati, selama beberapa tahun belakangan ini beliau memberikan pengobatan kepada Ibunda Samara dengan cuma-cuma.” Wara memberikan penjelasan agar Bintang Tenggara tiada tersinggung atas kata-kata tabib tersebut.

Bintang Tenggara menundukkan kepala sebagai rasa hormat. Ia lalu meletakkan botol kecil ramuan di atas meja. 

“Ramuan apakah ini…?” cibir Maha Tabib Banyu Alam. 

“Ramuan yang terbuat dari Kembang Tujuh Rupa serta beberapa bahan lain,” jawab Bintang Tenggara cepat. 

“Hmph! Kembang Tujuh Rupa bermanfaat untuk meningkatkan daya serap tenaga alam... apakah kau pikir Puan Samara hendak berlatih persilatan dan kesaktian!?” sergah Maha Tabib Banyu Alam. 

Bintang Tenggara mengerutkan dahi. Akan tetapi, ia tak hendak menjawab karena khawatir akan menyinggung perasaan sang Maha Tabib. 

“Maha Tabib Banyu Alam, anak remaja ini adalah teman dari Wara. Oleh karena itu, diriku tiada berkeberatan mencoba ramuan yang telah ia siapkan.” Ibunda Samara berupaya menengahi. Di saat yang sama, ia tiada hendak menyinggung perasaan kedua belah pihak. 

“Hmph… Apakah gerangan yang dapat seorang anak dusun lakukan…?” 

Tiga kali. Bintang Tenggara telah menghitung bahwa sudah sebanyak tiga kali Maha Tabib Banyu Alam ini mendengus ke arah dirinya. Super Guru Komodo Nagaradja pun suka mendengus, akan tetapi dengusan tersebut adalah dengusan ketidakpuasan. Sebuah tindakan yang lazim dari seorang Super Guru terhadap sang Super Murid. 

Akan tetapi, siapakah Maha Tabib ini yang demikian kurang ajar!? Dengusannya itu sangat merendahkan. Menghina!

“Yang Terhormat Ibunda Samara, ramuan ini terbuat dari kelopak Kembang Tujuh Rupa, spora Pakis Kadal Hijau, serta hati Rusa Tanduk Perunggu. Gabungan spora Pakis Kadal Hijau dan hati Rusa Tanduk Perunggu bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh serta menjernihkan racun. Sedangkan kelopak Kembang Tujuh Rupa, membantu penyerapan tenaga alam agar tubuh memperoleh dukungan tambahan. Demikian, ramuan ini bermanfaat membantu penyembuhan dari dalam dan luar tubuh,” papar Bintang Tenggara lantang.

“Hanya sebatas teori! Tiada siapa yang dapat mencampurkan spora Pakis Kadal Hijau dengan hati Rusa Tanduk Perunggu ke dalam sebuah ramuan. Jikalau pun mampu, maka manfaatnya menjadi tiada berarti!” 

“Hal ini tergantung kepada teknik meramu. Agar penggabungan dua bahan tersebut dapat bermanfaat, maka hati Rusa Tanduk Perunggu harus dikeringkan terlebih dahulu dan digiling menjadi bubuk. Bubuk hati Rusa Tanduk Perunggu dan bubuk spora Pakis Kadal Hijau akan menyatu bilamana sifat dan takaran keduanya setara.” 

“Apa!?”

“Sungguh pemahaman tabib terkemuka di Kemaharajaan Cahaya Gemilang tertinggal jauh,” sindir Bintang Tenggara. 

“Lancang!” Maha Tabib Banyu Alam bangkit berdiri. “Kau tahu siapakah diriku ini!? Aku adalah murid dari Maha Maha Tabib Surgawi!” Ia menepuk dada keras-keras. 

“Omong kosong!” sergah kesadaran sang Maha Maha Tabib Surgawi. “Diriku tiada pernah menerima murid lelaki! Sungguh tuduhan nan keji!” 

“Benar!” Komodo Nagaradja mengamini. 

“Hmph!” Giliran Bintang Tenggara mendengus. “Tiada catatan yang pernah menyebutkan bahwa sang Maha Maha Tabib Surgawi bersedia menerima murid lelaki. Kesemua murid beliau adalah perempuan, karena diperlukan ketelatenan dan kelembutan dalam meramu.” 

Bintang Tenggara mulai meninggikan nada suaranya. Padahal, bagian ‘ketelatenan dan kelembutan’ hanyalah karangan semata. 

“Mohon Tuan Maha Tabib Banyu Alam tiada mengarang ceritera kosong,” sambung anak remaja itu. 

“Yang Terhormat Dipertuan Tengah, Puan Samara, hamba tiada dapat menerima penghinaan ini! Mohon putuskan, apakah hamba yang angkat kaki dari Kadatuan Kesembilan… atau dia!” Ia menunjuk lurus ke batang hitung Bintang Tenggara. 

Ibunda Samara tersenyum ringan. Ia sepenuhnya menyadari bahwa perilaku merendahkan dari Maha Tabib Banyu Alam yang memulai perdebatan ini. Di saat yang sama, dirinya menyadari bahwa selama bertahun-tahun dirawat oleh tabib terkemuka itu, tubuhnya tiada merasakan penyembuhan sama sekali. Bahkan, ia merasa semakin hari semakin lemah.

“Tuan Maha Tabib Banyu Alam, diriku ingin mencoba ramuan yang disiapkan oleh remaja ini.” Perempuan itu berujar ringan, namun terdengar ketegasan dari nada bicaranya. 

Tanpa kata-kata, Maha Tabib Banyu Alam memutar tubuh dan melengos pergi meninggalkan kediaman Ibunda Samara.

“Fyuh…” Wara menghembuskan napas panjang. Keringat bercucuran di kedua pelipisnya. Dari kesemua yang berada di dalam ruangan itu, ia adalah yang paling tegang. Jangankan bersuara, bernapas saja ia kesulitan. 

Tanpa ragu, Ibunda Samara menenggak habis isi botol ramuan yang telah diletakkan oleh Bintang Tenggara di atas meja. Ia terdiam sejenak. Wajahnya lalu memerah, dan bulir-bulir keringat mulai terlihat dari kening dan pelipisnya. 

“Ibunda…” Wara terlihat khawatir. 

“Ibunda Samara, ijinkan diriku memeriksa sejenak.” 

Ibunda Samara hanya mengangguk. Ia masih meresapi perasaan hangat yang berawal dari ulu hati, merambat ke tulang belakang, lalu menjalar ke seluruh tubuh. Sungguh reaksi ramuan muncul seketika itu juga. 

Seperti sebelumnya, Bintang Tenggara memeriksa dengan cara menggerakkan punggung tangan sepanjang tulang belakang perempuan dewasa itu. 

Tetiba kedua mata Bintang Tenggara melotot. “Ibunda Samara, Wara, ijinkan diriku undur diri sejenak. 

Bintang Tenggara segera meninggalkan kediaman perempuan dewasa itu. Wajahnya berubah kecut. Di kala memeriksa Ibunda Samara tadi, ia menyadari sesuatu yang janggal. Kemungkinan besar, racun yang mendera tubuh, diberikan secara rutin selama belasan tahun lamanya. Selain itu, diketahui bahwa racun masih ditakarkan pada pagi hari tadi!