Episode 27 - Rumah Sakit Osadhi Medika



Arman membawa Shinta menuju sebuah mobil SUV hitam yang terparkir di depan lokasi kompleks bangunan terbengkalai. Seorang perempuan tampak berjaga di dekat mobil itu, wajahnya langsung terlihat panik begitu melihat kondisi Shinta dalam gendongan Arman. 

“Shinta kenapa Man? Yang lain mana?” tanya perempuan itu sambil buru-buru membukakan pintu samping mobil.

“Shinta terkena pukulan Racun Api Kalajengking,” Arman hanya menjawab soal Shinta, mungkin karena dalam kondisi terburu-buru dan dia tak merasa punya waktu untuk menjelaskan soal dua temannya yang lain. 

“Yang lain?” 

“Mereka baik-baik saja.” 

“Siapa dia, Man?” 

“Murid Perguruan Gagak Putih.” 

Arman segera menidurkan Shinta di jok tengah mobil, lalu menuju ke kursi kemudi. Setelah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya, perempuan itu tak lagi bicara, dia segera masuk ke jok tengah guna menjaga Shinta. 

“Masuk Rik,” Arman membukakan pintu depan mobil dan menyuruhku ikut masuk ke mobil, akupun segera masuk ke mobil dan duduk di kursi depan. Begitu aku masuk ke dalam mobil, tanpa basa-basi Arman segera meng-gas kendaraan dengan kecepatan tinggi. 

“Tadi aku menemukan pil-pil ini di tubuh orang-orang Perserikatan Tiga Racun, mungkin salah satunya obat penawar Racun Api Kalajengking.”

Tanpa bermaksud mengganggu Arman yang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi, aku mengeluarkan pil-pil yang kutemukan dari tubuh keempat mayat anggota Perserikatan Tiga Racun. Mungkin saja Arman dan perempuan itu mengetahui yang mana pil penawar Racun Api Kalajengking. Tapi Arman hanya melirik pil-pil ditanganku sekilas, kemudian kembali fokus mengemudi. 

“Aku juga tidak tahu yang mana obat penawarnya,” ujar Arman sambil menggelengkan kepalanya. 

Sedangkan perempuan yang duduk di jok tengah juga tak mengatakan apa-apa. Tampaknya dia juga sama tidak tahunya dengan Arman perihal obat penawar Racun Api Kalajengking. 

“Orang yang menyerang Shinta tampaknya memiliki kesaktian lebih tinggi dari dia, seharusnya Shinta sudah….” Arman tak menyelesaikan kalimatnya, tapi tentu saja aku mengerti apa yang dia maksud. “Kamu nggak memberikan pil itu padanya?” Arman mengakhiri kata-katanya dengan sebuah pertanyaan. 

“Saya mentranfusikan darah saya ke Shinta.” Aku sama sekali tidak berniat menyembunyikan caraku menyelamatkan Shinta. Toh mereka juga bagian dari Kelompok Daun Biru yang menaungi Perguruan Gagak Putih, bisa dibilang kami berada di kapal yang sama.

“Darah?”

Aku hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. 

“Darahmu bisa menetralisir racun?” Perempuan yang memangku kepala Shinta di jok tengah ikut bicara.

“Aku juga terkena pukulan Pedang Ular Api, tapi racunnya hanya mempengaruhi tubuhku sedikit saja.”

Aku tidak berani mengatakan darahku benar-benar bisa menetralisir racun, tapi memang pengaruh racun Pedang Ular Api tidak terlalu besar efeknya terhadap tubuhku. Apalagi setelah aku menggunakan tenaga dalam Sadewo yang menyatu dalam darahku, efeknya hampir tak terasa lagi. 

“Semoga saja darahmu benar-benar manjur, tapi kita tetap harus membawa Shinta ke rumah sakit, kau juga perlu di obati Rik,” balas Arman.

“Apa? rumah sakit?” 

Aku agak terkejut mendengar rencana Arman akan membawa kami ke rumah sakit. Luka dan racun dalam tubuhku dan Shinta berasal dari pertarungan dunia persilatan. Dokter yang memeriksa kami tentu akan bertanya-tanya bagaimana kami bisa mendapatkan luka sedemikian rupa, belum lagi racun dalam tubuh kami. 

“Tenang saja, rumah sakitnya agak berbeda,” jawab Arman singkat, seakan mengetahui isi hatiku.

Setelah itu, kami lebih banyak meneruskan perjalanan dalam diam. Kami baru sampai ke rumah sakit Osadhi Medika hampir setengah jam kemudian, cukup ajaib sebenarnya kami bisa sampai secepat itu mengingat tingginya tingkat kemacetan di kota Jakarta. Mungkin karena sekarang masih masa liburan sekolah sehingga tingkat kemacetannya sedikit berkurang. 

Sesampainya di rumah sakit, Shinta langsung di rujuk ke ruang gawat darurat bersama denganku. Anehnya, Arman menjelaskan apa yang menimpa kami berdua secara detil pada dokter di rumah sakit tersebut, termasuk soal racun dari pukulan Racun Api Kalajengking yang bersemayam di tubuh Shinta dan racun Pedang Ular Api di dalam tubuhku. Dan yang lebih anehnya lagi, dokter itu bersikap seolah mengerti penjelasan Arman.

Begitu mendengar aku dan Shinta terkena pukulan racun tersebut, muka dokter tersebut tampak sedikit pucat dan segera mengintruksikan para perawat melakukan perawatan darurat terhadap Shinta dan padaku. 

Dari situ aku menduga kalau rumah sakit ini juga ada hubungannya dengan dunia persilatan. Tapi aku masih belum tahu pasti hubungan seperti apa yang dimiliki rumah sakit ini. Apakah mereka sebenarnya hanya rumah sakit biasa yang kebetulan memperkerjakan dokter yang juga mengerti pengolahan tenaga dalam, ataukah rumah sakit ini juga merupakan bagian dari Kelompok Daun Biru, atau jangan-jangan rumah sakit ini sendiri adalah salah satu kelompok dalam dunia persilatan? Namun untuk saat ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya kusimpan saja dalam hati. Mungkin nanti aku akan menanyakannya pada Arman. 

Sesaat kemudian datang dokter lain yang langsung memeriksa kondisi Shinta dan segera membawa Shinta menuju ruangan lain. Sedangkan dokter yang tadi segera memeriksa kondisiku, terutama pemeriksaan luar dan luka di bagian dadaku. Kuperhatikan dahi dokter itu sedikit berkerut setelah melakukan pemeriksaan pada tubuhku. 

“Kamu benar terkena pukulan Pedang Ular Api?” tanya dokter itu sambil terus memeriksa luka di bagian dadaku. 

Aku mengangguk. 

“Luka menghangus di dadamu memang ciri-ciri luka akibat Pedang Ular Api, tapi lukanya masih belum membusuk. Harusnya luka dari Pedang Ular Api sangat cepat membusuk karena racunnya,” gumam si dokter seolah tengah berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian dia melakukan pemeriksaan mata dan mulut padaku, bahkan dia juga memeriksa lubang hidung dan telingaku. 

“Sepertinya semua normal…” Dokter itu kembali bergumam. “Tolong ambil sampel darahnya,” ujar Dokter itu pada perawat yang disebelahnya kemudian.

“Nggak perlu ngambil sampel darah dok.” Tentu saja aku menolak ketika mereka mencoba mengambil sampel darahku, karena bukan tidak mungkin rahasia tenaga dalam Sadewo di dalam darahku terbongkar oleh mereka. 

“Nggak papa Rik, rumah sakit ini milik sekte Osadhi. Mereka telah disumpah melindungi rahasia para pasiennya.” Seakan memahami isi hatiku, Arman mencoba menjelaskan secara singkat perihal rumah sakit ini. Aku mengerti sekarang, rumah sakit ini adalah kelompok lain dalam dunia persilatan. 

Perawat yang hendak mengambil sampel darahku hanya tersenyum tipis mengiyakan perkataan Arman. Akhirnya, meskipun masih ragu-ragu, aku merelakan mereka mengambil sampel darahku.

“Kamu belum pernah ke rumah sakit milik sekte Osadhi ya?” Perawat itu bertanya sambil menusukkan jarum ke pangkal lenganku, senyum simpul membuat wajahnya terlihat lebih manis. Dan aku hanya tersenyum kecut sebagai jawabannya. 

Mungkin karena setelah pemeriksaan luar dokter melihat kondisiku tubuhku terlihat baik-baik saja, pihak rumah sakit hanya memberi penanganan pada luka di dadaku. Itupun dilakukan oleh mereka sambil merawat pasien yang lain. 

“Makasi ya Rik udah nolongin Shinta,” ujar Arman setelah dokter selesai menangani luka di dadaku. 

“Sama-sama,” jawabku singkat.

“Ngomong-ngomong, yang membunuh orang-orang Perserikatan Tiga Racun itu… kamu?”

Tadi saat dokter memeriksa dan merawat lukaku sempat kulihat Arman menerima telepon. Mungkin telepon itu berasal dari dua orang yang dia tugaskan memeriksa tempat pertarungan antara aku dan Shinta melawan orang-orang Perserikatan Tiga Racun.

Aku tak memberikan jawaban pada Arman, tapi kurasa dia sudah tahu jawabannya. 

Setelah perawatan terhadapku selesai, kami segera keluar dari ruang gawat darurat dan menuju ruangan tempat Shinta dirawat. Ruangan tersebut tampak seperti ruangan ICU di rumah sakit pada umumnya. Namun dapat kurasakan adanya fluktuasi energi murni di sekitar ruangan tersebut. 

Di depan ruangan tersebut, kulihat perempuan yang tadi naik mobil bersama dengan kami tengah berdiri memandangi Shinta dari jendela. 

“Bagaimana kondisinya?” Arman langsung menanyakan kondisi Shinta begitu kami sampai di dekat perempuan tersebut. 

“Kata dokter, racunnya telah menyebar di pembuluh darah Shinta. Tapi ada semacam energi murni dalam darahnya yang menahan racun tersebut sehingga tidak sampai mematikan. Mereka mengalirkan energi murni melalui dua belas titik pembuluh energi murni untuk membantu menetralisir racun, selain memberikan ramuan penawar.” Perempuan itu melirik ke arahku sebentar, kemudian kembali bicara, “Mereka bilang metode penangkalan racun dengan energi murni hanya bisa dilakukan oleh pendekar tahap Pemusatan Tenaga Dalam keatas.”

Arman langsung ikut melirikku, namun dia juga tidak menanyakan apa-apa padaku. Di sisi lain, aku juga tidak berniat memberikan penjelasan apapun pada mereka. 

“Jika semua lancar, kemungkinan Shinta akan sembuh,” tutup perempuan itu. 

“Sayangnya kita tidak menemukan satu orang Perserikatan Tiga Racun yang masih selamat. Mungkin sekarang dia sudah kembali ke Perserikatan Tiga Racun dan melaporkan kejadian ini.” Arman menghela nafasnya dengan lesu. 

“Kau sudah melapor pada ketua Yanuar?” 

“Sudah.”

“Tapi mereka juga sedang terlibat konflik dengan beberapa kelompok lain. Kemungkinan mereka tidak akan melakukan apa-apa pada kelompok kita sementara ini.”

“Mereka baru saja kehilangan empat orang anggota, tidak mungkin mereka hanya tinggal diam. Kita harus bersiap terhadap kemungkinan terburuk.”

Arman kembali mengalihkan pandangannya padaku

“Rik, untuk sementara sebaiknya kau tetap bersama kami.”

“Maksudnya?” Aku merasa agak bingung dengan kata-kata Arman barusan. 

“Jangan pulang dulu, aku khawatir orang-orang Perserikatan Tiga Racun akan melacak keberadaanmu dan menyerangmu. Kalau kau pulang… bukan tidak mungkin keluargamu juga akan terkena imbasnya.”

Deg!

Aku baru menyadarinya, apa yang dikatakan Arman sama sekali tidak salah. Aku hanya akan melibatkan keluargaku dalam persoalan dunia persilatan ini jika aku kembali pulang sekarang. Lagipula, apa yang baru saja kulakukan? Membunuh empat orang! Bagaimana bisa aku akan pulang ke rumah dengan santai seakan hanya melakukan kenakalan biasa. Tapi, apakah ini berarti aku tidak akan bisa pulang ke rumahku lagi?