Episode 26 - Menyelamatkan Shinta



“Sialan, jurus apa yang digunakan bocah ini?” Anggoro bergumam pada Bayu. 

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala tanpa mengucapkan apa-apa. Namun matanya terus bocah berusia kurang lebih tujuh belas tahun dihadapannya tanpa berkedip. Bayu sendiri tidak tahu jurus apa yang digunakan bocah itu, belum pernah sekalipun dia melihat jurus setan yang mampu menghisap darah lawan sedemikian rupa. Dan lagi, bukan hanya jurusnya yang aneh, ada hal lain yang mengganggu pikiran Bayu. 

“Apa kau tidak menyadarinya? Bukan hanya dia masih sanggup bertarung setelah terkena jurus Pedang Ular Api, tapi kesaktiannya juga meningkat menjadi tahap penyerapan energi tingkat keempat,” balas Bayu.

Kata-kata Bayu membuat Anggoro mengerenyitkan keningnya. Memang benar, meskipun serangan Pedang Ular Api tidak mengenai titik vital bocah itu, tapi racun yang terkandung didalam serangan itu harusnya cukup untuk membuat bocah itu tak berdaya, jika tak membuatnya mampus meregang nyawa. Tapi sekarang, bukan saja bocah itu sanggup berdiri dan bertarung kembali, bahkan kesaktiannya naik satu tingkat hingga sejajar dengan mereka, tahap penyerapan energi tingkat keempat. 

“Kita harus cepat-cepat mengakhiri pertarungan ini. Aku khawatir situasi akan semakin tidak menguntungkan buat kita jika berlama-lama bertarung dengan bocah ini,” ujar Anggoro kemudian

“Huh, kau benar. Dia tak hanya membokong Toto hingga terluka parah, tapi juga telah membunuh Maya dan membuat Yayan kehilangan sebelah tangan. Anak ini jauh lebih berbahaya dari kelihatannya.” Bayu melirik Yayan yang masih meringkuk sambil memegangi tangannya yang mengering. 

“Kenapa kalian hanya diam saja? Apa kalian telah menjadi sekumpulan pengecut? Jika kalian tidak mulai menyerang, biar aku yang menyerang duluan.” seru Riki sambil menerjang mereka berdua dengan cakarnya. 

Bayu dan Anggoro segera melancarkan jurus andalan masing-masing untuk menangkis dan menghindar dari serangan cakar Riki. Keduanya tampak masih menghindari kontak langsung dengan Riki dan lebih memilih mengamati jurus baru yang digunakan Riki. Meskipun tingkat kesaktiannya masih berada pada tahap penyerapan energi tingkat keempat, mereka adalah pendekar silat yang telah lama malang melintang di dunia persilatan, keduanya jelas bukan anak kemarin sore yang dengan mudah termakan provokasi lawan. 

“Gerakan-gerakannya mirip dengan Jurus Iblis Sesat, tapi tenaga dalam yang menyertainya sangat jauh berbeda,” batin Bayu sambil terus mengamati jurus-jurus yang dikeluarkan Riki ditengah pertarungan. Memang, pada dasarnya jurus yang digunakan Riki adalah Jurus Iblis Sesat. Hanya saja saat itu Riki menggabungkannya dengan tenaga dalam unik Sadewo yang mengalir dalam aliran darahnya. Sehingga jurusnya kini mengandung elemen darah. 

Dengan kemampuan baru yang dimilikinya, serangan Riki semakin buas. Tampaknya dia tak perduli lagi jika serangan lawan mengenai tubuhnya. Sambil melesat ke samping, Anggoro menyabetkan goloknya menebas lengan Riki. Sedangkan Bayu menunduk dan menusukkan jari telunjuknya ke perut Riki. Serangan keduanya dilakukan setelah melihat pertahanan Riki terbuka lebar.

Namun dengan kecepatannya yang tinggi, Riki menggerakkan tubuhnya secara aneh dan berhasil menghindari serangan jari telunjuk Bayu. Lalu dengan nekat dia mencengkram golok Anggoro dengan tangan kanannya. Meskipun darah langsung mengalir dari irisan yang diakibatkan sisi tajam golok, namun kekuatan tenaga dalam yang melindungi cakarnya membuat luka yang ditimbulkan tidak terlalu dalam. Pada saat yang sama, tangan kiri Riki melesat ke dada Anggoro. 

Bukk!

Anggoro langsung memuntahkan darah segar begitu tangan kiri Riki mendarat di dadanya. Lagi-lagi, darah segar yang keluar dari mulut Anggoro berubah menjadi kabut merah dan tersedot kedalam tubuh Riki melalui mulut dan hidung. Bersamaan dengan itu, aura yang keluar dari tubuh Riki semakin menguat. Hampir mencapai tahap penyerapan energi tingkat kelima!

“Apa-apan ini?!” seru Bayu tidak percaya. 

Tanpa membuang waktu, Riki melanjutkan serangannya pada Anggoro. Kedua tangannya berhasil mencengkram kedua tangan Anggoro lalu membetotnya sekuat tenaga. Bersamaan dengan jeritan memilukan yang dikeluarkan Anggoro, darah segar menyembur deras dari kedua pangkal bahunya. Seperti yang sudah-sudah, kabut merah terbentuk dari darah itu dan melesat masuk ke dalam tubuh Riki. Setelah menyerap kabut darah yang berasal dari Anggoro, akhirnya tingkat kesaktian Riki mencapai tahap penyerapan energi tingkat kelima. Jelas sudah, jurus aneh yang digunakan Riki mampu meningkatkan kesaktiannya secara drastis.

Diam-diam, rasa gentar menggelayuti hati Bayu, mengingat dari lima orang, hanya tinggal dia sendiri yang masih bisa bertarung dari Perserikatan Tiga Racun. Racun andalan mereka juga terbukti sudah tidak terlalu efektif melawan Riki. Disisi lain, kesaktian Riki semakin meningkat setiap kali dia berhasil menyerap darah lawan. Keadaan sudah sangat tidak menguntungkan bagi mereka, jika situasi ini terus berlanjut, posisi maka mereka akan semakin lemah sementara Riki semakin menguat.

Sempat terbersit keinginan melarikan diri dalam hati Bayu, namun setelah tingkat kesaktian Riki berada pada tahap penyerapan energi tingkat kelima, gerakan Bayu kalah cepat dari Riki. Belum sempat Bayu berbalik badan melarikan diri, jantungnya telah diterkam cakar Riki! Dia hanya mampu memandangi jantungnya yang berdegup cepat di genggaman Riki sebelum pandangannya berkunang-kunang dan berubah gelap. 


***


Segera setelah membunuh laki-laki pengguna pukulan Racun Api Kalajengking, aku menghembuskan nafas lega. Akhirnya, orang-orang Perserikatan Tiga Racun ini bukan lagi ancaman buatku maupun Shinta. Namun pekerjaanku masih belum selesai, aku segera bergerak mendekati kedua lelaki yang masing-masing telah kehilangan satu dan dua tangannya.

“Tunggu… tunggu… kita bicara dulu…” ujar pria yang pertama kali kukeringkan satu tangannya saat aku bergerak mendekatinya. Tapi tentu saja aku sama sekali tak menggubris kata-katanya, dengan cepat kucengkram dan kupatahkan tulang lehernya. Dia hanya bisa membelalakkan matanya serta mengeluarkan suara tercekat saat nyawanya melayang.

Kemudian aku segera mendekati lelaki terakhir yang telah kubuntungi kedua tangannya. Lelaki yang sudah tak berdaya sama sekali itu hanya menatap nanar wajahku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya bisa memejamkan matanya saat kuhabisi. 

Baru setelah itu aku berhenti mensirkulasikan tenaga dalam Sadewo dalam aliran darahku. Bersamaan dengan itu, tubuhku terasa lemas dan gemetaran, seakan tak ada lagi kekuatan yang tersisa. Selain itu, tingkat kesaktianku yang sebelumnya mencapai tahap penyerapan energi tingkat kelima kembali menjadi tahap penyerapan energi tingkat ketiga seperti semula. Mungkin ini efek samping menggunakan tenaga dalam Sadewo.

Dengan terhuyung-huyung, aku segera mendekati Shinta. Dia masih terbaring tepat di tempat kutinggalkan tadi. Kedua matanya tampak terpejam dan nafasnya masih tersengal-sengal, jantungku langsung mencelos saat merasakan suhu tubuh Shinta sangat panas. Aku tidak tahu seberapa ganas racun yang bersemayam dalam tubuh Shinta, tapi yang jelas nyawanya akan terancam jika dia tidak segera menerima pertolongan pertama. 

“Gimana nih…” batinku saat memeriksa suhu tubuh Shinta. “Eh, jangan-jangan…” 

Aku segera mendekati jasad anggota Perserikatan Tiga Racun satu persatu. Tanganku menggerayangi tiap centi tubuh mereka. Tujuanku jelas, mencari sesuatu yang bisa menjadi obat penawar bagi racun yang bersemayam didalam tubuh Shinta. Aku menemukan beberapa kelereng kecil berwarna hitam dari tubuh mereka, sepertinya kelereng ini yang mereka lemparkan pada saat melakukan pengejaran pada kami tadi. Meskipun merasa sedikit heran kenapa mereka tidak menggunakannya saat bertarung denganku dan Shinta barusan, aku memutuskan untuk mengambil kelereng-kelereng itu dan menyimpannya. 

Dari hasil pencarianku, aku memang menemukan empat buah pil bulat, dua berwarna putih, satu berwarna merah, dan satu lagi berwarna hijau. Tapi masalah lain muncul kemudian, aku tak tahu yang mana pil penawar untuk racun di tubuh Shinta. Sayangnya aku telah membunuh semua anggota Perserikatan Tiga Racun di tempat ini, sehingga aku tidak bisa menanyakannya pada mereka. Kecuali satu orang yang pertama kali ku bokong, tapi posisinya terlalu jauh dari sini. Aku khawatir nyawa Shinta sudah melayang sebelum aku sempat menemukan orang itu. 

Namun tak mungkin aku mencoba pil ini satu persatu ke dalam tubuh Shinta, salah-salah yang kuberikan justru racun yang hanya akan memperburuk kondisi Shinta. Apa aku saja yang mencoba pil-pil itu terlebih dahulu? Tapi setelah kupikir lagi, menggunakan diriku sendiri sebagai bahan percobaan adalah tindakan yang kelewat bodoh. 

Aku kembali menatap Shinta, kondisinya tampak semakin memburuk. Padahal belum sampai sepuluh menit semenjak dia terkena pukulan ‘Racun Api Kalajengking’ tadi… Tunggu dulu, bukankah aku juga terkena serangan racun dari ‘Pedang Ular Api’? Kenapa kondisi tubuhku jauh lebih baik dari Shinta, bahkan aku sama sekali tidak merasakan efek racun itu lagi pada tubuhku. Bukankah ini berarti darahku kebal terhadap racun? Mungkin aku bisa menyelamatkan Shinta menggunakan darahku? Tidak ada salahnya kucoba, setidaknya cara ini lebih aman ketimbang memberikan pil yang tidak jelas kegunaannya. 

Aku segera melukai jari-jari tanganku dan mengiris jari-jari tangan Shinta, lalu menempelkan keduanya dan melakukan transfusi darah melalui jari-jari tersebut. Ini juga salah satu kelebihan yang kumiliki semenjak tenaga dalam Sadewo menyatu dengan aliran darahku. Aku mampu memanipulasi darah dalam tubuhku, termasuk memaksanya mengalir masuk ke dalam pembuluh darah Shinta. Meskipun sempat terbersit rasa khawatir mengingat golongan darah Shinta belum tentu sama denganku. Mengingat golongan darah yang berbeda dapat menyebabkan resistensi dari dalam tubuh Shinta terhadap darahku. 

Namun setelah beberapa saat, tidak terjadi resistensi dari tubuh Shinta. Kondisi Shinta juga tak separah tadi, kini nafasnya menjadi lebih tenang dan teratur. Suhu tubuhnya juga sedikit menurun meskipun kulitnya kulihat masih sedikit menghitam. Setelah yakin kondisi Shinta sudah lebih baik, aku segera menggendong tubuhnya di punggungku meninggalkan tempat terbengkalai ini. Tapi karena tubuhku juga dalam kondisi yang payah, maka aku tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk membawa Shinta. 

Butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai aku keluar dari kompleks bangunan terbengkalai itu. Sebenarnya aku sedikit ragu-ragu keluar dari kompleks tersebut, mengingat kondisi kami tampak seperti orang yang baru saja lolos dari kecelakaan besar, penuh luka, darah, dan kotoran disana-sini. Tapi aku juga tidak mungkin menunggu saja disini, meskipun orang-orang Kelompok Daun Biru kemungkinan sedang menuju kemari, tapi aku tidak tahu kapan mereka akan sampai.

Akan tetapi, baru saja aku keluar dari kompleks bangunan tersebut, tiga orang laki-laki berlari mendekatiku dan Shinta. Tampaknya mereka berasal dari Kelompok Daun Biru karena aku mengenali salah satunya, dia pemuda yang menemuiku di markas Perguruan Gagak Putih bersama Yanuar, Arman. 

“Di mana orang-orang Perserikatan Tiga Racun? Apa yang terjadi padanya?” tanya Arman tanpa basa-basi begitu dia berada di dekat kami.

“Dia terkena pukulan Racun Kalajengking Api di iga kirinya. Orang-orang Perserikatan Tiga Racun… Empat mayat mereka masih ada didalam kompleks bangunan, sedangkan satu orang lagi terluka di punggungnya tapi aku tidah tahu kondisinya sekarang bagaimana,” jawabku segera.

Wajah Arman dan kedua orang yang bersamanya tampak terkejut dan pucat seputih kafan begitu mendengar jawabanku. Dia segera merenggut Shinta dari boponganku dan memeriksa kondisi tubuhnya. Kulihat dahinya sedikit mengerenyit, namun tak mengatakan apa-apa. Setelah memastikan kondisi Shinta, Arman segera menggendong Shinta dengan kedua tangannya dan memberi isyarat pada kedua orang yang bersamanya. Keduanya segera masuk ke dalam kompleks bangunan terbengkalai. 

“Ayo,” ujar Arman sambil berjalan cepat. 

Meskipun aku tak tahu Arman mau pergi kemana, tapi aku hanya menganggukkan kepalaku dan berjalan mengikutinya.