Episode 13 - Dua Belas

Pelet Sang Putri


Kembali tatapan sang Kyai menyapu seluruh muridnya “Ini memang sulit, bukannya aku tidak menyukai pemerintahan Mega Mendung yang merupakan tanah air kita, bukannya aku bermaksud menghianati negeri ini… Tapi sebagai seorang muslim yang berkewajiban menjaga persatuan umat, maka dengan terpaksa aku akan memihak Banten atau siapapun yang membela kaum muslimin!”

Jaka Lelana yang cerdas dan pemahaman agamanya sudah cukup dalam pun bertanya pada gurunya “Guru mengapa perang harus terjadi di Bumi Pasundan ini, padahal Islam adalah agama yang membawa kedamaian bagi semua umatnya maupun umat lain? Kalau ini terjadi maka sejarah akan mencatat kalau Islam adalah Agama yang suka perang.”

Kyai Pamenang tersenyum mendapati pertanyaan dari muridnya yang paling cerdas ini “Jaka yang harus kamu ingat, kalian semua ingat, dan para penerus kita pahami adalah latar belakang perang ini bukanlah agama, melainkan politik perebutan kekuasaan sebagai penerus kejayaan Padjadjaran di tanah pasundan ini yang sah! Baik Prabu Kertapati, Panembahan Yusuf, Prabu Ragamulya Suryakencana dari Padjadjaran, bahkan orang-orang Cirebon dan Sumedanglarang yang saat ini sedang berkembang adalah keturunan dari Sang Manahrasa yang bergelar Sri Baduga Maharaja sang penguasa Padjadjaran. Mereka semua ingin menguasai seluruh bumi pasundan ini di bawah pemerintahannya.

Selain itu, keinginan Demak Bintoro bersama Cirebon dan Banten untuk mengusir orang-orang Portugis dari pelabuhan Sunda Kelapa dan pengaruhnya di Bumi Pasundan ini yang dilindungi oleh Kerajaan Padjadjaran, jadi bukan demi Islam atau agama yang lainnya… Aku menyarankan kalian membela pihak-pihak yang mengatas namakan Islam bukan karena untuk ikut kedalam politik kekuasaan, melainkan kewajiban kalian sebagai orang muslim”.

Jaka beserta seluruh murid-murid menangguk-ngangguk mengiyakan pendapat sang Kyai, mereka semua sependapat dengan Sang Kyai, hanya Dharmadipa yang nampaknya kurang setuju, ia merasa sangat kecewa sebab walaupun kini ia adalah seorang muslim, namun dendam kesumatnya pada kerajaan-kerajaan Islam yang telah menghancurkan negerinya dan membunuh kedua orang tuanya masih begitu melangit meskipun tadi siang Gurunya telah memberi petuah padanya, ia hanya belum bisa meghapus dendam itu dari dasar sanubarinya, apalagi kalau ia teringat pada Mega Sari, entah mengapa tiba-tiba ia mendapat firasat buruk, ia khawatir keadaan Mega Sari terancam oleh rencana Gurunya.

Setelah pertemuan itu bubar, Dharmadipa yang keadaanya sudah membaik tertidur di balairiung itu, tiba-tiba ia seolah mendengar suara Mega Sari memanggil-manggil namanya. Dharmadipa pun terbangun, ia menutup telinganya, berguling kesana kemari, namun suara Mega Sari malah semakin kecang terngiang di telinganya “Mega Sari jangan ganggu aku lagi… Aku ingin tenang!” ratapnya.

“Dharmadipa… Kakang Dharmadipa… Apa kau membenciku?” Tanya suara tak berwujud itu. 

“Tidak! Hanya jangan ganggu aku!” pinta Dharmadipa, akhirnya suara itupun lenyap dan Dharmadipa bisa kembali tidur.


***


Di sebuah padang rumput yang luas dan dipenuhi bunga-bunga, Mega Sari mengenakan pakaian kerajaan berwarna biru cerah, dia berjalan menghampiri Dharmadipa yang berdiri di bawah pohon dengan mengenakan pakaian bak seorang pangeran berwarna kuning khas Parakan Muncang. 

“Kakang Dharmadipa” sapa Mega Sari sambil tersenyum memainkan rambutnya yang indah, “Mega Sari?” kejut Dharmadipa ketika melihat siapa yang mendatanginya itu, senyum pun langsung mengembang di wajahnya yang congkak.

“Aku mau menagih janji Kakang Dharmadipa, bukankah kau mempunyai janji padaku? Kenapa kau menjauhi aku?” Tanya Mega Sari dengan raut wajah penuh kekecewaan.

Dharmadipa nampak kebingungan untuk menjawabnya, “Apa Kakang tidak mencintaiku lagi? Kau tidak mau lagi berkorban untukku? Ingatkah ketika kakang dulu sering menemuiku diam-diam saat aku masih di padepokan?” cecar Mega Sari. 

Dharmadipa menghela nafasnya “Aku sangat merindukanmu Mega Sari, tetapi mengapa engkau selalu datang untuk kemudian meninggalkan aku dalam sepi?”

Mega Sari tertawa, suara tawanya yang berderai indah bagaikan buluh perindu, bagaikan untaian mutiara yang berjatuhan ke bumi “Sebab aku telah mengetahui bahwa engkaulah jodohku Kakang Dharmadipa, kita bahkan sudah menjadi suami-istri sebelum kita dilahirkan ke bumi ini… Sekarang peluklah aku Kakang” pinta Mega Sari dengan tersenyum manis namun sangat menggoda.

Sesaat Dharmadipa memelototi sekujur tubuh Mega Sari, apalagi ketika dilihatnya bagian belahan dadanya yang terlihat sebab kemben gadis cantik itu sedikit melorot! Bagaikan terhipnotis, pemuda pemberang itu memeluk Mega Sari dengan penuh nafsu birahi, tiba-tiba tempat itu berubah mendung sangat gelap, petir menyambar menggelegar berkali-kali, dan entah mengapa Dharmadipa melihat tempat sekeliling mereka berubah, mereka menjadi berada didalam sebuah goa dengan sebatang anak sungai mengalir didalamnya, tapi goa itu nampak sangat terang, tanpa ada api ataupun sumber penerangan lainnya, cahaya merah memancar dari seluruh bebatuan didalam gua itu membuat anak sungai yang mengalir didalamnya bagaikan berwarna merah, tombak, panah, pedang, perisai, serta peralatan perang lainnya nampak tergelatak dimana-mana, pakaian mereka pun berganti menjadi pakaian sepasang pengantin khas Sunda berwarna merah-merah, sayup-sayup suara gamelan kecapi suling mengalun merdu namun terdengar sangat menakutkan dengan memainkan irama yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Mega Sari, dimana ini? aku merasa sangat asing disini!” Tanya Dharmadipa dengan keheranan dan ketakutan.

“Kita berada disebuah tempat yang tidak akan pernah berubah Kakang Dharmadipa, tempat inilah yang dinamakan alam halus!” jawab Mega Sari dengan santainya.

Dharmadipa terkejut mendengarnya “Alam halus? Tidak! Aku tidak mau berada disini! Aku takut Mega Sari!”

Mega Sari tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapih, putih dan indah “Kenapa engkau takut Kakang? Kita dijodohkan dari alam mimpi sampai ke alam ini! Saatnya sudah sangat dekat dimana kita akan bertemu di alam nyata!”

Mega Sari pun berpaling dan berjalan meninggalkan Dharmadipa menuju kebagian goa yang lebih dalam dan gelap. Dharmadipa pun segera berlari mengejarnya sambil berteriak memanggil-manggil nama Mega Sari, tapi sungguh aneh, Mega Sari yang hanya berjalan lenggak-lenggok itu tak bisa dikejar oleh Dharmadipa.

Dharmadipa pun terbangun dari tidurnya, kembali ia menangis sesegukan “Mega Sari… Oh Gusti apa yang harus hamba lakukan? Tak cukupkah engkau menyiksaku?” ratapnya yang seolah menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada dirinya, dia lalu bangun dengan mengumpulkan seluruh tenaganya, Dharmadipa mengambil secarik kertas dan mulai menulis sesuatu, setelah selesai menulis ia pergi keluar dari ruangan itu, mengambil seekor kuda lalu dan meninggalkan padepokan sekaligus rumahnya itu.

Di sebuah kamar penginapan yang tercium bau kemenyan dan kembang tujuh rupa, Mega Sari bangun dari tapanya, tubuhnya bermandikan peluh, ia lalu mengambil kain yang disodorkan oleh Emak Inah padanya dan menyeka keringat di keingnya “Aku berhasil memasuki alam bawah sadar Kakang Dharmadipa, namun aku tidak berhasil masuk ke alam bawah sadar Kang Jaka” ucapnya dengan nafas yang masih terengah-engah seolah baru berlari.

“Kenapa Gusti tidak bisa masuk kealam sadar pemuda yang bernama Jaka itu sementara Gusti sering bermimpi akan pemuda itu?” Tanya Emak Inah.

Mega Sari menggelengkan kepalanya “Entahlah Emak… Seperti ada suatu tabir yang menghalangi aku, tabir itu melindungi alam bawah sadarnya, tabir itu terasa sangat panas bagaikan sebuah dinding yang terbuat dari bara api, aku tak sanggup menembusnya!”

Emak Inah mengambil sepotong kain lagi lalu membantu menyeka keringat Mega Sari “Mungkin karena pemuda itu memang bukan pemuda sembarangan Gusti, ketika Emak melihatnya di padepokan beberapa bulan silam, Emak memang melihat ada yang aneh didalam dirinya, terutama dari sorot matanya yang nampak selalu teduh tapi bagaikan menyimpan seribu misteri tersebut… Jadi sebaiknya kita cukupkan pada berharap saja kalau Jaka mau datang ke Rajamandala untuk mengabdi pada Mega Mendung, kita tidak usah mempermainkan alam bawah sadarnya seperti Dharmadipa”.

Mega Sari mengangguk “Iya, mungkin Emak memang benar”, Mega Sari lalu mendesah sambil menatap langit-langit kamarnya “Kang Jaka…”.

Di padepokan Sirna Raga, Jaka yang sedang berada di kamarnya menghentikan dzikirnya, dia memang terbiasa berdzikir setelah shalat Tahajud, tadi saat berdzikir, sekilas ia seperti mendengar suara Mega Sari memanggil-manggil namanya “Apa itu tadi? Aku seperti mendengar suara Mega Sari memanggilku?” tanyanya pada diri sendiri, ia lalu celingukan melihat sekeliling kamarnya.

Tadi berbarengan dengan suara Mega Sari memanggilnya ia seperti mencium bau kemenyan dan kembang tujuh rupa yang dibakar, bulu kuduknya pun berdiri, ia lalu teringat pada nasihat gurunya, setiap kali ia merasa ketakutan atau merasa ada yang ganjil, ia disarankan untuk membaca surat-surat yang ada didalam Al-Quran serta berdzikir, maka ia pun segera membaca Al-Quran dan berdzikir untuk menenangkan hatinya sampai datangnya waktu untuk Shalat Subuh.


***


Pagi harinya terjadilah kehebohan di padepokan itu, Dharmadipa yang masih lemas dan belum sembuh benar telah menghilang, di banjar balairiung itu hanya ada sepucuk surat, Jaka yang pertama kali menemukan surat tersebut pun memberikan surat tersebut pada gurunya dan Nyai Mantili, isi surat tersebut adalah : 

“Maaf saya telah membuat ayah dan Ibu kecewa kecewa, saya tahu apa yang saya lakukan ini pasti sangat mengecewakan hati ayah dan ibu, saya mengaku salah, tapi saya tidak berdaya melawan satu kekuatan yang menarik dan menyeret saya untuk meninggalkan padepokan ini, saya menyerah, karena saya sudah terlanjur kepalang basah… 

Saya harus dapat bersanding menjadi teman hidup Mega Sari, dan suatu saat nanti saya akan membawanya menghadap ayah dan ibu, saya harap ayah dan ibu sudi menerimanya sebagai menantu, perkawinan kami juga pasti akan menakan pamor padepokan ini sebab Mega Sari adalah putri seorang Raja, dan siapapun yang menikahinya kelak akan menjadi Raja dari Negeri Mega Mendung tanah air kita ini. 

Ayah dan Ibu yang saya cintai, guru yang saya hormati, terimakasih atas segala kebaikan ayah dan ibu selama ini, merawat saya, menuntun saya melihat dunia, saya tidak tahu bagaimana saya bisa membalas kebaikan budi ayah dan ibu, meskipun hubungan kita bukan hubungan darah namun kasih sayang ayah dan ibu senantiasa selalu berlimpah pada saya, dan saya tahu tidak akan pernah bisa membalasnya, sebenarnya saya tidak sampai hati meninggalkan ayah dan ibu serta padepokan Sirna Raga ini, tempat ini sudah sangat melekat di hati saya. 

Setelah saya berhasil mempersunting Mega Sari, saya pasti akan segera kembali, dan saya akan berusaha menuruti semua nasihat maupun perintah ayah dan ibu, akhir kata, sekali lagi saya mohon maaf, mudah-mudahan keselamatan selalu diberikan Yang Maha Kuasa untuk kita semua”.

Selesai membacakan surat itu Kyai Pamenang terunduk lemas, kesedihan nampak terpancar jelas di wajahnya, Nyai Mantili pun menangis “Kakang… Anak kita…”

Kyai Pamenang membelai bahu istrinya. “Dia telah memilih jalan hidupnya sendiri…”

Nyai Mantili mendekap bahu suaminya. “Kira-kira ke mana perginya dia Kakang?”

Kyai Pamenang menatap jauh ke atas langit. “Gadis itu benar-benar telah menjerat hatinya, kini dia pergi hanya untuk mengejar nafsunya saja, mudah-mudahan perjalanannya diajuhkan dari segala macam bencana”.

Kyai Pamenang lalu menoleh pada Jaka yang sedari tadi menundukan kepalanya, ditatapnya sekujur tubuh muridnya itu, entah mengapa saat itu ia merasa selain harus ikhlas melepas Dharmadipa, ia juga harus ikhlas melepas Jaka, muridnya yang paling ia kasihi itu, kesedihannya menyeruak dari lubuk hatinya menyelimuti seluruh pikiran dan perasaan orang tua ini, air matanya menetes saat ia menatap Jaka, Jaka heran melihat gurunya menitikan air matanya ketika menatapnya, tapi ia tidak berani berkata apa-apa, hingga gurunya membuka suaranya “Jaka aku minta kau mencari Dharmadipa untuk memberikan surat yang akan aku tulis untuknya, tunggulah disini sebentar, aku akan menulisnya dulu”, Jaka pun mengangguk.

Sekitar sepeminum teh kemudian, Kyai Pamenang keluar dengan membawa dua pucuk surat, yang satu yang baru saja ia tulis, yang satu lagi terlihat sudah menguning dimakan usia.

“Jaka, carilah Dharmadipa dan berikan surat ini untuknya, setelah kau memberikan surat ini padanya katakan ia tidak perlu pulang, semuanya terserah dia, biarkan dia memilih dengan berbagai sebab-akibatnya… Dan surat ini adalah surat yang diberikan orang tuamu pada kami, simpanlah baik-baik!”

Jaka mengangguk sambil memebri hormat pada Gurunya “Baik Guru murid akan segera berangkat.”

Kyai Pamenang menepuk bahu Jaka, “Dan kemasi juga barang-barangmu Jaka, setelah memberikan surat ini pada Dharmadipa kau tidak perlu kembali lagi ke padepokan ini”.

Bagaikan ada halilintar meledak diatas kepalanya, Jaka terkejut setengah mati mendengar ucapan gurunya itu “Maksud guru? Guru hendak mengusir murid dari sini?”

Kyai Pamenang menoleh pada Nyai Mantili yang menangis menatap mereka, ia lalu menatap Jaka sambil menangis tapi dengan tatapan penuh rasa bangga “Bukan begitu Jaka, aku tidak mengusirmu, tetapi saudah saatnya engkau melihat dan mengenal dunia luar, sudah saatnya kau mencari arti serta tujuan hidupmu… Bekal yang kau dapat disini sudah cukup Jaka, gunakanlah untuk mencari ilmu yang lain dan mengarungi sungai kehidupanmu, kehidupan ini tidak sebatas padepokan ini Jaka”.

Amat sedihlah hati Jaka, sampai sepeminum teh yang lalu ia tidak tahu kalau ia akan pergi meninggalkan padepokan ini, air matanya pun mengucur mengingat semua peristiwa yang ia lalui di padepokan ini, terutama saat-saat bersama Kyai Pamenang Gurunya yang sangat ia hormati itu, “Jaka jangan salah kira, kau adalah murid yang paling aku kasihi di padepokan ini, suatu saat kalau kau rindu kau boleh pulang ke padepokan ini”.

“Akan tetapi murid masih bingung menentukan tujuan guru, murid tidak tahu ke mana kaki ini akan dibawa untuk melangkah, murid juga masih membutuhkan bimbingan guru” jawab Jaka.

“Jaka saat kakimu meninggalkan padepokan ini, berdoalah pada Gusti Allah, mintalah agar ia menunjukan jalan untuk kau tempuh, niscaya IA akan menunjukan jalanNYA yang terbaik untuk kau tempuh, dan bekalmu juga sudah cukup, Insyaallah dengan bekal itu kau akan sanggup mengarungi jalan hidup ini, akan tetapi jangan lupa untuk selalu mencari ilmu yang lain selama ilmu itu tidak bertentangan dengan agamamu. Satu pesanku, meskipun kau sudah khatam berkali-kali tapi jangan malas untuk selalu memabaca Al Quran, resapi dan renungkan makna-makna yang ada dalam didalamnya, Insyaallah kau akan terhindar dari jalan yang sesat selama kau berpegang teguh pada Al Quran” jelas Kyai Pamenang. 

Jaka lalu sungkem pada Kyai Pamenang dan Nyai Mantili, Nyai Mantili lalu mengingatkan sesuatu pada Kyai Pamenang, Sang Kyai pun berucap lagi “Jaka satu hal lagi, bukalah dulu kain batik ikat kepalamu itu!”

Jaka pun membuka kain ikat kepalanya “Jaka kain ini adalah salah satu kain yang menyelimutimu sewaktu kau bayi yang diantarkan oleh almarhum ayahmu, lihatlah, ada tulisan sebuah nama disini”.

Jaka menangguk, di bagian dalam kain itu memang tertulis sebuah nama yang dijahit, di sana tertulis “Jaya Laksana” yang artinya tidak diketahui oleh Jaka, “Kami juga tidak ada yang tahu siapa itu Jaya Laksana sebab menurut pengakuannya ayahmu bernama Jayadi sedangkan dalam surat itu namamu adalah Jaka Lelana, Jaka carilah siapa itu Jaya Laksana, mungkin itu ada hubungannya dengan identitasmu yang sebenarnya sebab kain itu ada bersamamu saat kamu bayi”.

Jaka pun menangguk, setelah memberi salam untuk terakhir kalinya Jaka pun pergi meninggalkan padepokan menggunakan kudanya, Kyai Pamenang dan Nyai Mantili terus melihat Jaka sampai Jaka menghilang di kejauhan.