Episode 20 - Auman Kemenangan


“Tidurlah untuk selamanya!”

Teriak Solas dengan keras, sambil menghunuskan pedang yang telah dia tempa dari kepingan pedang Gram yang telah hancur. Wajahnya yang biasa penuh dengan ketenangan sudah tidak ada lagi. Kini dia adalah gagak yang penuh hasrat untuk membunuh.

Mendengar teriakan itu, Fafnir meresponnya dengan sangat cepat. Dia segera terbang ke langit untuk menghindarinya, meskipun dia tidak takut terluka oleh serangan para iblis yang ia anggap lemah, tapi untuk serangan kali ini, dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Instingnya mengatakan bahwa ia harus menghindarinya.

Hunusan pedang menabrak udara kosong. Solas terperangah melihat kecepatan dari Fafnir, sambil memegang pedang baru yang ia beri nama Lotus, ia mendongakan kepalanya ke langit. 

Dengan latar belakang langit malam, Solas menyaksikan Fafnir yang terbang dengan perkasa. Namun, pandangannya semakin kabur, dan akhirnya dia terjatuh. Ini adalah batasnya, dan akhir dari hidupnya. Lagi, Devil heart merenggut satu nyawa.

Lerajie menangkap Solas tepat sebelum menghantam tanah. Kemudian dia meletakan tubuh tak bernyawa dengan perlahan. Tidak ada air mata yang mengantar kepergiannya, karena seorang pejuang hidup dalam genangan darah.

“Haha, dasar iblis lemah. Menyerahlah dan serahkan takdirmu padaku, dan mungkin aku akan mengampunimu.”

Suara penuh kesombongan bergema di langit.

Lerajie mengambil pedang Lotus. Dia memegangnya dengan erat lalu mendongak ke langit. Tidak ada kata yang dia ucapkkan, akan tetapi sorot matanya sudah cukup untuk mewakili apa yang ingin dia katakan. 

Matilah.

Sepasang sayap indah membentang di pundak tipis Lerajie. Meskipun dia adalah seorang wanita, tapi dia juga adalah salah satu dari dua belas pemimpin pasukan iblis. Dengan perlahan, dia mengangkat pedang itu dan mengarahkannya ke langit.

Ini adalah tekadnya.

Di tempat yang jauh, Vaberian dan Sorcas menyaksikan semua kejadian yang terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa. Bukan, tidak ada yang bisa mereka berdua lakukan. Karena, rasa takut kini telah meneror dan membuat mereka bahkan tidak berani untuk menatap Fafnir.

Tapi, ketika Vaberian dan Sorcas melihat Lerajie yang dengan perkasa memegang pedang lotus, berdiri menantang Fafnir. Wajah mereka seperti ditampar dengan keras. Jika seorang pemimpin takut pada musuh, maka hancurlah pasukannya.

Vaberian dan Sorcas saling menoleh satu sama lain, mata mereka bertemu dan dengan sebuah anggukan, mereka terbang menuju tempat di mana Lerajie berdiri.

Di tempat lain, Idos yang sedang bersembunyi terpatung melihat semua rangkaian kejadian yang telah terjadi. Andai saja dia tidak memanfaatkan momen ketika Fafnir dan Focarol sedang bertarung di gudang senjata, mungkin saja dia akan terluka. 

Meskipun dia adalah iblis berbentuk singa, yang adalah simbol dari raja rimba, tapi dia dengan pengecut meringkuk dan bersembunyi di tempat yang jauh. Rasa malu yang dia rasakan karena melakukan hal seperti itu membuat Idos berpikir bahwa dia adalah yang terburuk dari yang terburuk. Namun, selama dia masih hidup, dia akan mampu untuk menebus semua dosanya. Begitulah yang Idos pikirkan.

Dengan pelan, sambil memejamkan matanya, Idos berkata.

“Maaf.”

Vaberian dan Sorcas sampai di tempat Lerajie berdiri. 

“Akhirnya kalian sampai juga.” Masih berdiri sambil mengangkat pedang ke langit, Lerajie berkata dengan tenang.

“Maaf membuatmu menunggu.” Vaberian dan Sorcas membalas secara bersamaan.

“Aku butuh bantuan kalian berdua.” 

“Baiklah, ceritakan rencanamu.” 

“Yang saat ini aku pegang adalah pedang yang Solas tempa menggunakan kepingan pedang Gram. Jadi, dengan pedang ini, kita bisa menyegelnya kembali. Aku ingin kalian membuka jalan bagiku, dan dengan begitu, kita dapat memenangkan pertarungan ini.”

Jelas Lerajie pada mereka berduua. Setelah melihat Fafnir yang dengan mudahnya menghindari serangan dari Solas, ia sadar, bahwa dengan dirinya sendiri, tidak mungkin dia bisa melakukannya. 

 “Baiklah!” Ucap mereka berdua.

Di langit yang luas, Fafnir terbang sambil menatap Lerajie yang tanpa bersuara mengarahkan pedang padanya. Dia merasa geram dengan kalakuan para iblis yang tidak pernah menghiraukan perintahnya, dan malah terus mencoba untuk melawan, meskipun tidak mungkin mereka bisa menang.

“Aku hormati keputusan kalian. Tapi, ini artinya kalian akan mati hari ini.” Mengawasi dari langit, Fafnir memuji tekad mereka bertiga yang masih berani berdiri dan menantangnya. 

“Mari kita mulai.”

Tanpa mempedulikan apa yang Fafnir katakan, Lerajie memulai rencana sederhana yang telah mereka setujui. Vaberian dan Sorcas segera terbang ke langit diikuti Lerajie yang tepat di belakang mereka.

Banyak luka kecil pada tubuh Vaberian dan Sorcas, akan tetapi hal itu tidak mereka hiraukan.

Pantang menyerah, mereka memegang erat kalimat itu.

Meskipun kemungkinan menang tidak pernah terbayang dalam benak mereka, tapi mereka akan terus berjuang. Demi sumpah setia pada raja iblis untuk melindungi tanah neraka. Demi melindungi teman-teman. Juga demi harga diri sebagai pemimpin pasukan iblis.

“Aku akan menyerang dari kanan, kau serang sisi sebaliknya!” ucap Vaberian pada Sorcas.

“Baiklah.” Balas Sorcas dengan cepat.

Fafnir menoleh ke arah Vaberian, menciptakan sebuah bola api dan menembakannya. Bola api terbang menuju arah Vaberian, akan tetapi seolah bola api itu tidak ada, ia terus terbang menuju arah Fafnir. 

Saat seorang pejuang telah memutuskan untuk bertarung, mereka tidak akan mundur.

Namun, bagi Fafnir, apa yang Vaberian lakukan terlihat sangat bodoh, karena sebelum pejuang melindungi yang lain, ia harus melindungi dirinya sendiri. 

Tepat sebelum bola api mengenai Vaberian, ia membungkus dirinya dengan api miliknya, dan setelah mengenainya, tiba-tiba saja bola api itu menghilang, seperti tidak pernah ada sebelumnya.

Bola api itu sebenarnya tidak menghilang, akan tetapi diserap oleh Vaberian, dan di dalam tubuhnya saat ini, ia mencoba untuk menjinakan api tersebut.

Sementara itu, di sisi lainnya, Sorcas terus melesat menuju arah Fafnir. Kemudian dia membungkus tinjunya dengan api dan menghantamkannya. Pada perang besar sebelumnya, dengan pukulannya ini ia mampu membunuh banyak musuh.

Tapi tentu saja, Fafnir adalah pengecualian.

Pukulan itu mengenai Fafnir, tapi itu sama seperti memukul gerbang Helx, tidak ada gunanya. Pada akhirnya, Sorcas, lah, yang mengalami luka.

“Waarggghh.”

Fafnir menoleh ke arah Sorcas dan membuat sebuah bola api, kemudian dia dengan cepat menembakannya. Dari jarak yang sangat dekat, mustahil bagi Sorcas untus menghindar. Terkena serangan itu, tubuhnya hangus terbakar, dan akhirnya ia jatuh dari langit.

Vaberian berusaha mengontrol bola api itu, dan akhirnya dia mampu melakukannya. Dari dalam tubuhnya, bola api itu keluar, di tambah dengan energinya sendiri, kini bola api itu sedikit kebih besar dari sebelumnya.

Usaha untuk mengontrol bola api itu menguras banyak energi Vaberian, akan tetapi dia masih mampu untuk berdiri, paling tidak sampai saat ini. Kemudian, dia melempar bola api itu menuju arah Fafnir.

“Matilah!” 

Vaberian berteriak, lalu tidak lama kemudian dia juga ikut menyusul Sorcas yang telah terjatuh lebih dulu.

“Sisanya aku serahkan padamu.” Gumam Vaberian.

Bola api itu melucur dengan cepat menuju arah Fafnir. melihat itu, Fafnir membuat sebuah bola api lagi dan menembakkannya. Dua bola api bertabrakan dan meledak di dekat Fafnir. Menerobos api hasil ledakan, Lerajie menghunuskan Lotus pada dahi Fafnir.

Namun, ternyata tusukan itu kurang kuat, hingga tidak mampu menembus sisik Fafnir yang sangat tangguh. Fafnir kembali membuat sebuah bola api, kemudian tanpa basa-basi dia segera menembakannya pada Lerajie.

Terkena serangan itu, tubuh Lerajie hangus terbakar, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi dan henya bisa berkata.

“Mus-mutahil.”

Tubuhnya terjun bebas dari atas langit. Air mata mengalir pada kedua pipinya, dalam keadaan tidak berdaya, dia hanya dapat bergumam, “Padahal, hanya tinggal sedikit lagi.”

Sementara itu, di suatu tempat, Idos masih meringkuk sambil menyaksikan satu persatu pemimpin pasukan tumbang. Tidak ada luka yang ia derita, akan tetapi dia seperti merasakan sakit yang mereka rasakan. 

Sial! Sial! Sial!

Idos tidak tahan lagi. Dia tahu, jika dia muncul dan mencoba menyerang Fafnir kemungkinan besar dia akan mati, akan tetapi dia tetap melesat menuju arah naga itu.

Seperti sebuah peluru, Idos terus maju menuju Fafnir yang masih berada di langit. Tanpa seorang pun sadari, malam yang panjang hampir usai. 

“Haha, ternyata masih ada satu iblis rendahan yang bersembunyi. Datang kemari, dan matilah!”

Menyadari Idos yang mendekat ke arahnya, Fafnir menembakan bola api untuk membunuhnya. Namun, tanpa mengubah lintasan terbang, Idos terus menembus bola api itu. 

melihat hal ini, Fafnir kembali menciptakan bola api dan menembakannya lagi pada Idos, “Mari kita lihat, sejauh apa kau bisa bertahan.” Gumam Fafnir.

Namun, bola api berikutnya tidak menggoyahkan tubuh Idos yang masih terus melesat menuju Fafnir yang berada di langit.

Lagi dan lagi, Fafnir terus menembakan bola api, akan tetapi Idos mampu melewatinya. Tapi tentu saja, kini kondisinya sangat parah. Darah menetes dari semua lubang pada tubuhnya, jangankan pakaian, bahkan kulitnya kini telah tiada, dan sosok singa perkasa sudah tidak tampak lagi. Kini dia lebih pantas disebut sebagai mayat hidup.

Namun, ada satu hal yang berbeda, saat ini matanya berwarna merah darah. Ternyata entah sejak kapan, dia telah mengaktifkan Devil Heart. Jadi itu alasan dia masih mampu untuk terus bergerak, meskipun berada dalam kondisi sangat menyedihkan seperti itu.

Karena ketika seorang pemimpin pasukan iblis menggunakan Devil heart, mereka akan mendapatkan sebuah kekuatan dan kemampuan untuk pulih dari luka apapun. Tapi, tentu saja ada bayarannya, yaitu jiwa mereka sendiri.

Idos mengumpulkan energinya pada kepelan tangan kanannya. Ini adalah satu-satunya usaha putus asa yang dapat dia lakukan.

Fafnir melihat Idos dengan rasa hormat. Itu adalah pandangan penuh pengakuan. Jadi, untuk menghormati tekad miliknya, Fafnir akan bertarung lebih serius. 

Sebuah bola api raksasa tercipta. Fafnir melihat sekilas pada Idos, kemudian dengan perlahan, dia mengarahkannya pada Idos.

Tanpa sadar tubuh Idos bergetar setelah melihat itu, pandangannya di penuhi dengan rasa putus asa. Tidak mungkin dia dapat bertahan. Dia pasti akan terbakar habis, bahkan sebelum bisa menembus serangan itu.

“Terus maju!”

Teriakan keras bergema dari arah bawah. Itu adalah suara dari Focalor. Dia sudah sadar kembali dan saat ini, dengan kecepatan yang sangat luar biasa, dia melesat menuju bola api raksasa itu.

Dengan tubuh yang di selimuti oleh api, Focalor mendorong bola api raksasa itu. Dengan ukuran yang lebih besar, bola api itu tidak secepat sebelumnya. Dan dia berhasil untuk merubah jalur lintasannya, sehingga membuat Idos dapat terus melesat menuju Fafnir.

“Untuk yang lainnya, juga untukku sendiri, rasakan kemarahanku ini!”

Seraya berteriak, Idos menghantamkan pukulannya pada pedang Lotus yang masih menancap pada sisi luar sisik Fafnir. Dengan serangannya itu, akhirnya pedang itu berhasil menembus sisik tangguh tersebut.

Faafnir tersentak, dia tidak mampu bergerak. Semua energi yang ada pada tubuhnya terserap menuju pedang Lotus. Sekali lagi, dia kehilangan kebebasannnya. Pada saat terakhirnya, dia melihat gambaran dari Idos. Dengan tubuhnya yang terlihat sangat menyedihkan, bersamaan dengan tenggelamnya bulan berwarna biru dari langit yang gelap, kini matahari berwarna hitam mulai menampakan diri pada langit yang berwarna merah, Idos mengepalkan tangan dan menaikannya ke udara, sambil mengaum dengan sangat keras.

Itu adalah auman dari sang singa.

Untuk menandakan kemenangannya.