Episode 1 - Satu


Pagi-pagi sekali Bu Retno terbangun mendengar pintu depan diketuk berkali-kali. Bu Retno turun dari tempat tidur lalu memakai sweaternya. Ia pergi ke depan kemudian membuka pintu. Seorang wanita muda berdiri sambil menggendong bayi yang sedang tertidur dengan kepala bersandar di bahunya.

“Ada perlu apa ya, pagi-pagi begini?” tanya Bu Retno.

“Saya mau minta tolong,” jawab wanita itu dengan suara lirih. “Tolong ambil anak saya.”

Bu Retno memandang wanita di hadapannya sambil menghela napas. Bukan hanya sekali ini ia kedatangan tamu yang memintanya untuk merawat anaknya. Bahkan tidak sedikit pula yang meninggalkan anak mereka di dalam kardus di depan pintu rumahnya dengan hanya beralaskan selimut, tanpa pesan.

Bu Retno tersenyum. “Masuk ke dalam dulu, yuk.”

“Tidak bisa langsung diambil saja anaknya, Bu?” tanya wanita itu.

Bu Retno kembali tersenyum. “Kamu sudah repot-repot ke sini, sekalian saja minum teh dulu.”

Tak lama kemudian Bu Retno sudah duduk di ruang tamu dengan dua cangkir teh dan sepiring pisang goreng di meja. Ia mengamati wanita yang sedang menimang-nimang bayinya yang sempat terbangun. Padahal kelihatannya wanita ini merawat bayinya dengan baik. Kenapa ia mau menyerahkannya?

“Berapa umurnya?” tanya Bu Retno saat akhirnya wanita itu duduk di depannya.

“Dua minggu lagi setahun, Bu,” jawab wanita itu.

“Bukankah umur segitu sudah bisa mengenali ibunya?” tanya Bu Retno lagi.

“Iya, Bu,” jawab wanita itu. “Tadinya saya ingin memberikannya lebih cepat. Tapi—banyak yang harus saya pertimbangkan.”

Sejak kedatangannya, wanita itu tidak pernah melihat ke arah Bu Retno setiap kali berbicara. Ia terus menepuk-nepuk punggung bayinya dengan lembut. Sesekali kepalanya disandarkan ke kepala bayinya yang tetap tertidur.

“Kalau memang sayang, kenapa diberikan ke saya?” tanya Bu Retno.

Tangis wanita itu akhirnya pecah. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan agar isakannya tidak membangunkan bayinya. Mengalirlah cerita mengenai keluarganya yang membuangnya setelah tahu ia hamil walaupun sudah menikah siri, namun ia terpaksa meninggalkan suaminya setelah mengetahui ternyata pria yang dinikahinya sudah beristri, dan terpaksa melahirkan dan merawat anaknya seorang diri.

“Saya tidak mau jadi duri bagi wanita lain,” isak wanita itu. “Ternyata semua ini terlalu berat untuk saya sendirian. Sudah berkali-kali saya berniat datang ke sini, tapi setelah hampir setahun bersama putri saya, saya tidak tega untuk menyerahkannya ke orang lain.”

“Kalau begitu dibawa pulang saja lagi,” kata Bu Retno dengan sabar.

“Tidak, tidak. Kalau anak ini bersama saya, dia akan lebih menderita.” Wanita itu akhirnya mendongak. Ia memandang Bu Retno dalam-dalam. “Bu, saya sudah memutuskan. Saya hanya akan menitipkannya sebentar. Saya akan pergi mencari kerja untuk mengumpulkan uang supaya saya bisa memberi penghidupan yang layak untuk anak saya. Setelah itu saya akan menjemputnya. Saya akan tinggal dengannya dan membesarkannya.”

Bu Retno berpikir sebentar. Kemudian ia menghela napas. “Baiklah. Tunggu di sini sebentar.”

Bu Retno bangkit dari kursi kemudian pergi ke kamarnya. Ia kembali dengan membawa beberapa lembar kertas dan pulpen lalu memberikannya pada wanita itu.

“Tolong diisi, ya. Ini formulir berisi data-data bayi dan ibunya,” jawab Bu Retno.

Wanita itu mengamati kertas di tangannya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengisi formulir itu. Kemudian ia seperti teringat sesuatu dan mengeluarkan sebuah amplop dari tas yang dibawanya lalu memberikannya kepada Bu Retno.

“Ini, Bu. Tolong diberikan ke anak saya kalau dia sudah bisa membaca,” kata wanita itu.

Bu Retno menerima amplop yang diberikan sementara wanita itu kembali mengisi formulir di meja. “Oh iya. Siapa nama bayinya?”

Wanita itu mendongak. “Andarra.”

***

Darra membuka matanya lalu menguap. Badannya terasa sakit karena terus duduk di dalam mobil. Ia melihat ke jendela. Hari sudah gelap saat akhirnya Darra tiba di Jakarta setelah menempuh dua belas jam perjalanan. Mobil memasuki sebuah perumahan lalu berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang berada di persimpangan jalan. Di halaman depan terdapat sebuah pohon besar dan pot-pot berisi bermacam-macam bunga yang berjejer di atas tembok pagar.

“Tunggu di sini,” kata Pak Dimas, pria yang menjemput Darra tadi. Ia mematikan mesin mobil dimatikan kemudian turun dan pergi menuju rumah itu sementara Darra tetap menunggu di dalam mobil. Darra mengawasi dari jendela saat seorang wanita yang memakai gaun tidur keluar dari rumah dan berbicara dengan Pak Dimas.

Wanita itu pasti pemilik rumah, pikir Darra. Kelihatannya masih muda. Apa dia tinggal di rumah itu sendirian? Seperti apa orangnya? Bisakah Darra tinggal bersamanya? Tapi kelihatannya orangnya dingin. Apa dia galak?

Mereka bicara cukup lama sebelum akhirnya wanita itu masuk ke dalam rumah sementara Pak Dimas kembali ke mobil dan membuka pintu mobil untuk Darra.

“Silakan turun,” katanya. Darra turun dari mobil sementara Pak Dimas membuka bagasi dan mengeluarkan tas Darra. 

“Sini, Pak. Biar saya bawa sendiri,” kata Darra begitu melihat Pak Dimas menenteng tasnya.

“Enggak apa-apa. Sini, ikut saya,” kata Pak Dimas. Ia berjalan duluan kemudian menurunkan tas Darra di depan pintu. “Saya antar sampai sini saja, ya. Nanti Non Darra langsung saja ketemu sama Bu Aline.”

Setelah Darra menggumamkan terima kasih, Pak Dimas mengangguk ke arahnya kemudian kembali ke mobil dan pergi dari rumah itu.

Darra berdiri mematung di depan pintu. Apa yang harus dia lakukan? Wanita itu bahkan tidak terlihat lagi. Darra melongokkan kepalanya ke dalam rumah. Ia melompat kaget ketika tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam.

“Mundur! Buka sepatu kamu sebelum masuk ke dalam!”

Wanita yang disebut oleh Pak Dimas sebagai Bu Aline tadi sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Darra menurutinya dan buru-buru melepas sepatunya sementara Aline memberi isyarat dengan tidak sabar agar Darra mengikutinya. Ia membawa Darra ke lantai dua lalu berhenti di sebuah kamar berukuran kecil di samping tangga. Aline mengeluarkan sebuah kunci lalu membuka pintu kamar itu.

“Ini tempat tidur kamu selama di sini,” kata Aline sambil mencabut kunci tadi.

“Terima kasih,” kata Darra gugup. Aline hanya mendengus kemudian berjalan melewati Darra. Ia kembali menuruni tangga sebelum Darra sempat mengucapkan salam atau memperkenalkan diri. Darra hanya mengangkat bahunya. Ia bersyukur tidak perlu berbasa-basi dengan wanita itu. Darra membuka pintu ruangan itu lalu menyalakan lampunya. Ia tercengang.

Ruangan itu bukanlah kamar tidur seperti dugaannya. Tempatnya berdebu dan dipenuhi dus yang bertumpuk di sana-sini. Bahkan terlihat beberapa sarang laba-laba di sudut ruangan.

Darra mengerenyitkan dahi. “Kok begini?” gumamnya. “Apa Bu Aline enggak hapal rumahnya sendiri? Masa enggak tahu yang mana kamar, yang mana gudang?” Ia bergegas turun dan menemui Aline yang sedang membuat minuman di dapur.

“Maaf, Bu” kata Darra canggung karena bingung harus memanggil wanita itu dengan panggilan apa. Aline tidak menoleh terus mengaduk tehnya. “Kayaknya ada yang salah. Ruangan yang Ibu tunjukin tadi itu gudang, bukan kamar.”

“Terus?” tanya Aline sambil membawa cangkir tehnya ke meja makan tanpa mempedulikan kehadiran Darra.

“Maksud saya—gimana saya bisa tidur di sana?” tanya Darra gugup.

“Masa begitu saja masih nanya, sih? Ya dibersihin dulu, dong. Itu ada sapu disitu,” jawab Aline sambil mengedikkan kepalanya ke arah sapu di dekat pintu.

Darra tidak bergerak dari tempatnya. Ia tercengang. Apakah dia hanya main-main?

“Kenapa masih diam disini? Memangnya kamu mau nyuruh saya yang bersihin tempat itu untuk kamu? Iya? Atau kamu berharap saya ngasih kamu kamar yang bagus, begitu?” tukas Aline. “Jangan mimpi, ya. Kamu disini tuh cuma numpang. Mestinya kamu bersyukur saya masih kasih kamu tempat untuk tidur. Dan satu lagi, panggil saya Tante Aline. Jangan pernah panggil saya Ibu, apalagi Mama. Saya nggak sudi punya anak kayak kamu.”

Darra tersentak dengan ucapan Aline barusan. Ia memandangi Aline tanpa bisa mengucapkan sepatah kata. Aline meliriknya.

“Malah melototin saya, lagi. Kenapa? Kamu nggak suka dengan omongan saya?” bentak Aline.

“Ng—nggak,” jawab Darra sambil menunduk.

“Ya udah sana pergi! Ngapain masih berdiri di sini?”

Darra buru-buru mengambil sapu yang ditunjukkan Aline tadi dan kembali ke gudang. Ia menghela napas. Darra sudah begitu lelah dan sekarang ia harus membersihkan tempat ini. Tapi kalau ia tidak melakukannya, ia tidak akan bisa tidur malam ini. Jadi Darra mengeluarkan dus itu satu persatu dan meletakkannya di depan ruangan. Bukan pekerjaan mudah karena ada beberapa dus yang sangat berat dan Darra harus berhati-hati karena ia tidak tahu apa isi dus-dus tersebut. Kemudian Darra membersihkan sarang laba-laba dan tembok yang berdebu lalu menyapu dan mengepel lantainya. Setelah lantainya kering, Darra mengembalikan dus-dus tadi dan menyusunnya agar ada ruang untuk ia tidur.

Setelah semua tersusun rapi, Darra kembali bingung. Lalu di mana dia tidur? Aline tidak menyebutkan mengenai kasur atau semacamnya. Tapi Darra tidak mau membuat keributan lagi. Jadi ia mengambil sebuah karpet berukuran kecil yang digulung dan dibungkus plastik lalu menggelarnya. Lantai di rumah ini terbuat dari vinyl, jadi sepertinya tidak akan terlalu dingin di malam hari. Setelah itu Darra turun untuk mengembalikan sapu ke dapur. Lantai bawah sudah gelap. Mungkin Aline juga sudah pergi tidur. Darra melihat jam di dinding dapur. Pukul setengah satu malam. Darra mengambil air minum kemudian kembali ke gudang. Tidak lupa ia mematikan lampu di lantai atas.

Darra mengambil tasnya kemudian mengeluarkan pakaian ganti. Perhatiannya teralih pada sebuah buku harian di dalam tasnya. Darra mengeluarkan buku itu lalu membukanya. Darra sudah tidak pernah menulisnya sejak kelas enam SD. Ia mengeluarkan sebuah kertas yang sudah lusuh yang diselipkan di salah satu halaman buku itu kemudian membukanya.

Darra sayang,

Saat membaca surat ini, pasti kamu sudah besar. Kamu sudah bisa membaca dan ibu melewatkannya. Maafkan Ibu, Nak. Ibu menitipkan kamu bukan karena Ibu membencimu. Ibu ingin yang terbaik untuk kamu, jadi Ibu terpaksa pergi untuk mencari uang. Nanti Ibu akan membeli rumah, baju, dan makanan untuk kamu. Lalu Ibu akan menjemput kamu, dan kita bisa tinggal bersama lagi seperti waktu kamu masih kecil. Ibu akan selalu bersama kamu sampai kamu besar nanti. Doakan Ibu supaya Ibu berhasil. Ibu sayang Darra.

Mata Darra mulai berkaca-kaca. Ia memandangi foto seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Foto itu berada di amplop yang sama dengan surat yang setiap hari dibaca oleh Darra sejak ia berusia lima tahun. Empat belas tahun berlalu sejak ibunya menitipkannya kepada Ibu Retno, dan akhirnya sekarang Darra berhenti menunggunya.

“Aku baik-baik aja, Bu,” bisik Darra sambil tersenyum. “Aku udah di sini, di tempat Papa. Ibu jangan marah, ya?”

Darra menyimpan surat dan foto itu kembali ke bukunya kemudian berganti pakaian. Ia merebahkan diri dengan tasnya sebagai bantal lalu menguap. Malam pertamanya sangat melelahkan. Ia berharap bisa beristirahat sebelum mulai masuk sekolah lusa nanti.

***

“Mbak.”

Darra menggeliat.

“Mbak Darra. Bangun, Mbak.”

Darra membuka matanya setelah ada yang mengguncang-guncang badannya berkali-kali. Ia memicingkan matanya melihat seorang wanita paruh baya sedang berlutut di sebelahnya.

“Bangun, Mbak. Sudah siang,” kata wanita tadi.

Darra mengucek-ngucek matanya. “Ibu siapa ya?” tanyanya dengan suara parau.

“Saya Atun, pembantunya Bu Aline,” jawab wanita tadi. “Saya disuruh sama Ibu bangunin Mbak Darra untuk bantu bersih-bersih rumah.”

Darra mengerenyitkan dahi. Pembantu? Kenapa Darra tidak melihat ibu ini semalam? Lagipula kalau sudah ada pembantu, kenapa Darra masih disuruh ikut bersih-bersih rumah?

“Jangan lama-lama ya, Mbak. Nanti Ibu marah,” kata Bi Atun sambil keluar lalu menutup pintu gudang kembali.

Darra menguap lalu melihat jam di ponselnya. Astaga, masih jam empat pagi. Darra menggeliat sebelum akhirnya bangkit dan keluar dari gudang. Ia sempat celingukan sebentar mencari kamar mandi yang ternyata berada di sisi tangga satunya. Darra pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu turun ke dapur. Bi Atun sedang mencuci beras di wastafel.

“Maaf ya, Mbak,” kata Bi Atun begitu Darra mendekat. “Biasanya saya juga datangnya habis subuh. Tapi kata Ibu karena Mbak sekolah, jadi Mbak harus bangun lebih pagi.”

“Emangnya Bi Atun nggak tinggal di sini?” tanya Darra.

“Nggak. Saya datang pagi, pulang sore. Yang penting rumah sudah rapi, makanan sudah siap,” jawab Bi Atun sambil mematikan keran air. “Saya masak nasi dulu. Mbak Darra tolong sapu lantai, ya.”

Darra mengambil sapu kemudian pergi ke depan. Semalam Darra tidak begitu memperhatikan bentuk rumah ini ketika baru datang. Dari pintu masuk terdapat ruang tamu dengan dua sofa besar. Di sana ada satu kamar utama yang ditempati oleh Aline, satu kamar tamu yang berukuran lebih kecil dan kamar mandi. Kemudian ada pintu kaca menuju ke belakang yang berisi dapur beserta ruang makan dan tangga menuju lantai atas. Menurut Darra rumah ini cukup sederhana untuk seorang pemilik perusahaan di beberapa kota besar.

Setelah selesai menyapu dan mengepel lantai atas dan bawah, Darra membantu Bi Atun membuat sarapan. Menurut Bi Atun, Aline tidak makan berat di pagi hari. Dia juga jarang berada di rumah siang hari, jadi biasanya Bi Atun baru masak lagi untuk makan malam.

Pukul delapan pagi Aline baru keluar dari kamarnya. Rambutnya sudah disanggul, wajahnya penuh make up. Sepertinya dia akan pergi.

“Bi, baju yang kemarin saya suruh gosok mana, ya?” tanya Aline sambil mengaduk tehnya.

“Sudah di atas, Bu,” jawab Bi Atun sambil mengeringkan tangannya. “Sebentar saya ambilkan.”

“Nggak usah,” kata Aline cepat. “Suruh dia aja yang ambil.”

“Maaf ya, Mbak,” kata Bi Atun pelan.

“Nggak apa-apa, Bi,” balas Darra. “Di mana bajunya?”

“Blus putih di tempat setrika baju,” jawab Bi Atun. “Yang di depan gud—tempat Mbak tidur semalam. Bajunya digantung.”

Darra langsung naik ke lantai dua lalu pergi ke tempat setrikaan. Ia mengambil blus berwarna putih dan rok pink selutut yang digantung lalu membawanya turun.

“Taruh di kamar saya,” kata Aline sambil mengutik-ngutik ponselnya. “Awas, jangan ngutil.” Tambahnya.

Darra pergi ke kamar Aline lalu meletakkan pakaiannya di kasur dengan hati-hati. Ia memandang berkeliling. Darra belum pernah memasuki kamar yang luas sekali seperti ini, dengan satu tempat tidur besar yang empuk dan nyaman. Semua yang ada di kamar ini tampaknya mahal. Bahkan di situ terdapat satu ruangan lagiyang berisi pakaian, sepatu, tas, dan sebuah meja rias dengan deretan botol make up dan minyak wangi di atasnya.

“Lagi liatin barang yang mau dicuri ya?” bentak Aline mengagetkan Darra. “Keluar!”

Darra buru-buru keluar dari kamar Aline lalu pergi ke dapur. Setelah itu ia harus menunggu di dapur sampai Aline selesai makan, Bi Atun yang mengajarkan.

“Saya kasih tahu, ya,” kata Aline setelah ia meneguk air putihnya. “Selama di sini, kamu nggak boleh melewati pintu kaca ini kecuali untuk bebenah. Kamu cuma boleh keluar-masuk lewat pintu samping. Kamu juga nggak boleh pakai kamar mandi bawah. Semua urusan kamu ada di lantai atas. Selebihnya nanti Bi Atun yang ajarin kamu.”

“Iya, Tante,” jawab Darra.

“Oh iya, di atas juga ada kamar anak saya. Kamu nggak boleh dekat-dekat kamarnya, kecuali untuk beres-beres. Jangan sampai kamu jadi seperti ibumu, tukang goda laki-laki,” tambah Aline. Darra menunduk mendengarnya. “Kapan pun, di mana pun kamu ketemu saya atau anak saya, nggak usah sok kenal. Saya nggak mau berhubungan sama kamu. Kalo ada yang tanya, bilang aja kamu tinggal di sini untuk kerja. Ngerti?”

Darra mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa. Aline bangkit lalu pergi ke kamarnya. Darra merapikan piring bekas makan Aline kemudian mencucinya. Setelah itu ia pergi ke lantai dua untuk mencuci pakaian.

Darra lebih suka di lantai dua, tidak terlalu terasa menyesakkan. Mungkin karena ia tidak berada di ruangan yang sama dengan Aline. Di lantai dua ada dua kamar, salah satunya kamar anaknya Aline. Di depan kamar itu terdapat karpet besar di tengah ruangan dan meja menempel di tembok dengan televisi di atasnya. Sementara di depan gudang tempat Darra tidur terdapat satu meja seterika dengan keranjang-keranjang berisi pakaian kering di dalamnya. Kemudian ada pintu keluar ke tempat mencuci pakaian dengan teras dan balkon untuk menjemur pakaian.

Setelah Aline pergi, Bi Atun menyusul Darra ke lantai dua untuk mengajarinya cara menggunakan mesin cuci. Ia juga menunjukkan tempat-tempat untuk mengambil pakaian kotor. Sementara menunggu mesin mencuci pakaian, Bi Atun menyebutkan apa-apa saja yang harus Darra kerjakan sehari-hari sementara Darra mencatatnya.

Aline punya satu anak laki-laki yang setahun lebih tua dari Darra. Dia juga jarang di rumah, jadi Darra tidak perlu mencemaskan akan bermasalah dengan Aline karenanya. Ternyata Aline juga memiliki apartemen yang dekat dengan kantor pusat papanya, dan lebih sering menghabiskan waktu di sana karena ia juga sering bolak-balik ke kantor Papa, terutama jika Papa sedang keluar kota. Aline hanya menempati rumah ini karena jaraknya dekat dengan sekolah putranya.

“Jadi Ibu minta saya untuk mengurus apartemen selama Mbak Darra di sini,” kata Bi Atun.

Darra membaca ulang catatan di tangannya. Sebenarnya tugasnya tidak terlalu banyak, hanya saja ia harus menyesuaikan dengan jam sekolah dan jam belajarnya. Mestinya sih tidak susah.

“Oh iya. Ini tadi saya lihat ini di kamar kosong di sebelah kamar si Mas. Mestinya sih ini buat Mbak Darra.” Bi Atun menyodorkan tiga buah paper bag kepada Darra. “Sebentar saya lihat mesin cucinya dulu, ya. Mbak istirahat aja dulu di sini.”

Bi Atun keluar dari gudang sementara Darra mengintip isi dari paper bag itu. Yang pertama berisi tiga pasang seragam sekolah dan sepasang baju olahraga beserta dasi, topi, dan name tag bertuliskan ANDARRA Y.A. Paper bag kedua berisi beberapa pak buku tulis, tempat pensil, dan alat-alat tulis beserta sampul bukunya.

Ketika Darra mengeluarkan sebuah tas ransel berwarna biru cerah dari paper bag ketiga, ia merasakan tas itu sedikit berat. Jadi Darra membuka resletingnya dan menemukan tas tenteng yang ukurannya lebih kecil dari ransel itu, kelihatannya sepaket dengan tas itu. Mungkin untuk membawa pakaian olahraganya nanti. Namun perhatian Darra teralih pada kotak kecil putih di dalam ransel itu. Darra mengeluarkannya dan mendapati secarik post-it tertempel di kotak itu.

Supaya kita lebih sering berkomunikasi. -Papa-

Darra membuka kotak itu. Sebuah smartphone keluaran terbaru. Namun Darra tidak yakin mau memakainya. Papa pernah memberikan ponsel Nokia E63 untuk Darra waktu Darra kelas 3 SMP, dan Darra masih memakainya.

Darra membuka tas tenteng tadi. Ia menemukan beberapa amplop putih di dalamnya. Masing-masing amplop ada tulisannya : iuran sekolah untuk satu semester, untuk membeli buku pelajaran, dan uang jajan. Darra membuka amplop terakhir dan tercengang melihat uang seratus ribuan yang cukup banyak di dalamnya. Mau tidak mau Darra tersenyum.