Episode 37 - Semi-Final Round


Lalu sahut sorak-sorai pendukung yang suaranya berdengung lebih keras. Bangku penonton-pun terisi penuh.

"Alzen! Alzen!"

"Nico! Nico!"

"Leena! Leena!"

"Sepertinya aku yang paling minim popularitas disini." reaksi Lio dari bangku yang berjejer khusus untuk tamu kehormatan, di bawah ruang panitia. Di tengah-tengah Arena. Jumlah bangkunya ada 5. Urutan dari kiri ke kanan, ada Alzen, Leena, Vlaudenxius, Lio dan Nicholas.

"Jangan berkecil hati," tepuk Vlaudenxius pada Lio, menyemangatinya untuk tetap percaya diri. "Popularitas kadang menipu, kalian berempat yang sudah sampai disini, juga sudah hebat-hebat kok."

"Tapi... baru aku sadar sekarang, selain aku. Tiga orang lainnya adalah murid terbaik sewaktu ujian tes beasiswa. Bisa apa aku ini!!?" Lio mulai panik dan serangan rasa tidak percaya diri tak bisa terelakkan. "Tes beasiswa-ku saja cuma ranking lima ratusan keatas. Aku bukan apa-apa di antara monster-monster ini." Lio tertunduk lemas.

"Daripada berisik seperti bayi. Kau bisa menyerah saja, toh hasilnya tetap sama saja." sindir Nicholas disampingnya. "Tak perlu repot-repot melawanku yang pasti menang ini."

"Meremehkan musuh, adalah strategi terbaik untuk kalah dengan memalukan." sambung Vlaudenxius dengan melipat tangan tanpa memalingkan muka.

"Iya pak," tunduk Nicholas meski dalam hati, "Dasar kakek tua sialan! Aku tahu dia bisa 7 elemen, jadi bicaranya bisa sok bijak begitu. Lagian aku tak mungkin macam-macam sama dia disini. Nyebelinnya, dia orang dekat-nya papa lagi. Sekalipun aku memang pasti menang. Kalau salah ngomong, bisa repot nantinya."

"Hari ini, adalah pertarungan terakhir kita! Semi-Final dan Final dilakukan dalam hari yang sama. Pada hari ini juga!" sahut MC yang berdiri di tengah-tengah arena yang masih kosong melompong ini. "Secara kasat mata, dapat dilihat. Penonton kali ini membludak drastis! Jumlahnya mencapai 2 kali lipat penonton pertandingan sebelumnya! Dan sekali lagi... MANA SUARANYA ?!!"

"WOOOOO !!"

Sahut seluruh penonton keras sekali, dan masing-masing menyoraki jagoannya.

"Alzen! Alzen!"

"Nico! Nico!"

"Leena! Leena!"

"Mantap!" kata MC. "Yang beda dari pertandingan kali ini adalah... keempat peserta yang sudah sampai sejauh ini, tak lagi mewakili nama kelasnya. Melainkan nama mereka masing-masing. Tentu hal ini bukan kehendak panitia melainkan kehendak penonton sendiri. Tidak setiap tahun kita punya murid-murid sehebat angkatan tahun ini. Tapi biar bagaimanapun. Hanya ada satu pemenang!"

"Boleh aku dengar suara pendukung Alzen!"

"HWOOO !! ALZEN !! ALZEN !!" dahut pendukung Alzen yang mayoritas anak muda berusia 18 tahun kebawah.

"Dia anak yang diceritakan kemarin itu kan? Yang bisa menang melawan seorang raksasa?"

"Iya... aku nonton pertandingannya kemarin, si raksasa itu disetrum sampai hangus, gila deh pokoknya! Aku mau lihat dia lagi."

"Ya... karena kalian yang bilang begitu, makanya aku ikut nonton. Mudah-mudahan seseru yang kuharapkan"

"Boleh aku dengar suara pendukung... Leena!" 

"KYAA !! Leena! Leena!" sahut pendukung Leena yang mayoritas wanita dan teman-teman kelasnya.

“Jelas aku jagoin dia, di atas kertas. Cewek putih itu yang terbaik di angkatan ini.”

“Tak heran, pedangnya saja dibuat dari material kuat dan langka. Jelas dia yang akan menang.”

“Kalian lihat yang kemarin tidak, dia itu cepet banget! Sampai bingung nontonnya.”

"Kemudian, mana suara pendukung... Lio!"

"Lio! Lio! Lio!" sahut pendukung Lio yang sumbernya hanya dari teman-teman sekelasnya, suara pendukung paling kecil dibanding yang lainnya.

"Maaf Lio, aku malu bersuara keras-keras." pikir Fia canggung, selagi menonton di bangku Liquidum. Ia mau mendukung Lio tapi hanya sedikit dari Liquidum yang ikut mendukungnya. Jadinya ia tidak berani jadi heboh sendiri disana.

"Terima kasih teman-teman." ucapnya dengan tangis haru, sekaligus malu. "Kalian tetap pengertian olehku yang fans-nya sedikit ini."

"Dan terakhir, pendukung Nicholas! Mana suaranya!"

"HWRROO !! Nico! Nico!" sahut para pendukung Nicholas yang mayoritas didukung semua penyihir elemen kegelapan. Di tambah kelas Terra yang ikut-ikutan mendukungnya.

Jika di persentaskan, 28% anak-anak muda yang menonton mendukung Alzen. 33% mendukung Leena karena label siswa terbaik tahun ini. 31% mendukung Nicholas karena reputasi keluarganya. Dan hanya 3% yang mendukung Lio, sebagian besar dari Ignis, tapi itu juga tidak banyak. 5% sisanya tidak menjagokan siapapun atau malah menjagokan semuanya.

***

"Biar aku mengingatkan sedikit soal peraturan yang harus di sepakati." sahut MC. "Peraturannya masih tetap sama dengan babak sebelumnya. Barang siapa yang tercebur di kolam lebih dulu, akan dinyatakan kalah. Juga tidak boleh membunuh lawan, apapun alasannya dan pernyataan aku menyerah. Tidak lagi berlaku! Apapun kondisinya. Khusus untuk peserta Alzen yang memiliki tiga elemen, hanya boleh menggunakan satu dari tiga elemen yang dipilihnya untuk digunakan. Ini untuk sportifitas dan seimbangnya pertandingan. Kalian mengerti?"

"YA!! Kami mengerti!" jawab keempat peserta serentak.

"Terima kasih, sebelum pertandingan dimulai, sebentar lagi. Namun sebelum itu, izinkan kepala sekolah, sekaligus gubernur Vheins. Vladenxius Albertus, memberikan sambutan.”

Vlaudenxius berdiri dari bangkunya dan mulai bicara. "Ehem... para penonton sekalian yang saya hormati, Aku mengerti kalian tak mau menunggu lama-lama karena aku terus-terusan bicara, jadi biar aku persingkat dan langsung pada intinya. Dengan penonton membludak seperti hari ini, maka hadiah untuk para pemenang kita ini, akan kami tingkatkan... 10 kali lipat."

"Wooo...!?"

"Sepuluh kali lipat!?" Alzen terkejut.

"Lumayan juga... jadi 1 Juta Rez." reaksi Leena, melipat tangan dengan tenang sambil tersenyum yang seolah berkata boleh juga.

"Buset!? Bisa beli bakso satu desa itu!?" reaksi Lio dengan mulut menyembur.

"Masih terlalu kecil..." reaksi Nicholas yang tak bergeming sama sekali. "Aku gak perlu duitnya, ini cuma masalah aktualisasi diri."

"Juara pertama akan mendapat uang sebesar 1 Juta Rez. Juara kedua, mendapat 500 Ribu Rez. Juara ketiga, 250 Ribu Rez. Dan Juara harapan mendapat 100 Ribu Rez. Hal ini kami lakukan sebagai bentuk timbal balik kami kepada para peserta yang sudah bertanding sekuat tenaga, menampilkan yang terbaik untuk turnamen tahun ini. Cukup sekian dan terima kasih." Vlaudenxius mempersilahkan, dan kembali duduk di kursinya.

"Terima kasih pak Vlaudenxius." sahut MC memberi hormat. "Baiklah, langsung saja kita mulai..."

Lalu tugas diambil alih komentator di ruang tinggi di tengah-tengah Arena.

"Pertandingan pertama hari ini !!" sahut Komentator. "Alzen dari Ignis Vs Leena dari Lumen !!"

***

Kembali ke beberapa waktu lalu, saat Alzen pemanasan seorang diri di lapangan kelas.

"Sudah kuduga, kau disini rupanya." sapa Lasius pada Alzen yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya. "Memang pilihan bagus untuk kesini."

"Pak Lasius!?" Alzen tak menyangka akan kedatangannya kemari. "Pak bagaimana nih? Badanku sakit semua ketika digerakkan, seperti saraf-sarah di tubuhku kelelahan sekali. Tapi aku harus-"

"Makanya sudah kubilang. Kalau mau tidak bertanding, tidak apa kok."

"Tapi aku mau bertanding pak!" tegasnya. 

"Kenapa kau sengotot itu?" tanya Lasius. "Apa karena lawanmu Leena? Makanya..."

"Haa? Leena?" Alzen menatap dengan perasaan tidak percaya. "Lawanku Leena?” Alzen masih tidak percaya. “Beneran!?"

"Ahh iya..." Lasius garuk-garuk kepala. "Kau tidak menonton pertandingan setelah dirimu tak sadarkan diri ya? Benar! Lawanmu kali ini adalah Leena. Tak perlu kuberitahu kan? Dia pemilik nilai terbaik di ujian beasiswa kemarin."

"Aku tahu kok, tapi..." Alzen tertunduk dan terlihat kesulitan memikirkan sesuatu.

"Jadi bagaimana? Berhenti saja ya? Kesehatan dan nyawamu lebih penting dari kompetisi ini."

"Tidak mau!" sahut Alzen tak terima. "Masa aku menyerah sebelum bertanding. Kalau belum dicoba, mana aku tahu."

"Oke-oke..." Lasius tak mencoba membujuknya lagi. Lalu pikirnya, "Memang semangat anak muda, selalu jadi orang yang naïf."

"Kalau lawanku adalah orang sekuat Leena. Apa guru tahu sesuatu tentang kemampuan sihir Leena?"

"Hmm... tidak terlalu sih," jawab Lasius sambil memegang dagu.

“Yah... guru.” Alzen kecewa.

"Ya gimana? Masakan aku harus mengenal semua murid dari setiap kelas. Kelas Ignis saja sudah berjumlah ratusan orang banyaknya."

"Tapi, Leena kan terkenal? Masa tidak tahu sesuatu sih?" Alzen terus bersikeras.

"Benar, aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Lunea juga jarang cerita padaku. Dan memang kami tidak terlalu akrab sih. Dia terlalu mudah marah, tidak bisa diajak bercanda."

"Lunea?"

"Ituloh, yang pada waktu Leena melawan Luiz dari Fragor. Instruktur wanita yang pakai baju putih, turun melindungi Leena dari niat membunuh Luiz."

"A... aku tidak terlalu ingat." Alzen terus mencoba mengingat-ingat. "Ahh betul deh. Aku tidak ingat."

"Kau menonton tidak sih?" Lasius heran.

"Ahh... aku ada ide, begini saja." Alzen kepikiran sesuatu. "Aku pernah satu party dengan Leena waktu menjalankan misi Rank B yang salah ambil waktu itu."

"Oke, yang itu ya. Lalu?"

"Jadi, aku tahu sedikit tentang kemampuan Leena. Dari situ, bapak bantu aku menyusun strategi yang tepat untuk melawannya. Bisa kan?"

"Begitukah? Boleh juga." Lasius terlihat tertarik dengan ide Alzen. "Kalau begitu, kita mulai darimana?"

"Kemampuan Leena yang pertama adalah..."

***

Kembali ke Arena,

"Alzen," sahut Leena dari sisi berseberangan. "Aku benar-benar tak mengira, akan melawanmu di Arena ini."

"A-aku juga kok." jawab Alzen canggung.

"Aku mengerti kondisimu belum pulih sepenuhnya. Tapi kenapa kau tetap bersikeras bertanding?" tanya Leena dengan tegas.

"Karena aku tidak mau menyerah sebelum mencoba. Lagian kapan lagi kita akan bertanding disini?"

"Haa? Kamu pikir bisa mengalahkanku dengan kondisimu saat ini?"

"Aku tak tahu, tapi aku punya segudang ide untuk mengalahkanmu."

"Hmmph..." Leena tersenyum seolah dirinya separuh disindir. "Kau pikir yang datang kesini dengan strategi, cuma dirimu seorang? Kita lihat saja Alzen. Kejutan apa yang akan kau bawa sekarang?" pikir Leena.

"Oke peserta Alzen," sahut Komentator dari ruangannya, yang ada di tengah-tengah arena, diatas kursi para finalis. "Kamu tercatat bisa menggunakan 3 elemen. Jadi, elemen apa yang akan kau gunakan saat ini?"

"Aku sudah pikirkan semua kemungkinan sejak kemarin," pikir Leena dalam hati. "Elemen apapun yang kamu pilih, tak jadi masalah buatku. Karena strategi-ku, memperhitungkan kemungkinan cara melawannya."

"Aku pilih elemen air!" sahut Alzen sambil mengangkat tangan dengan cepat tanpa ragu-ragu berpikir.

"Air? Kenapa?" tanya Leena. "Air itukan elemen yang paling lemah untuk bertarung. Ada alasan dibalik itu semua?"

"Alasannya? Hmm..." Alzen berpikir sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "Karena aku tak mau melukaimu." jawab Alzen dengan senyum.

"Hmmph..." Leena tersenyum senang. "Dasar kau ini. Terlalu meremehkan lawanmu."

Alzen panik, merasa dirinya salah ngomong. "Bu-bukan meremehkan kok." Alzen berusaha membetulkan maksudnya.

"Kau sama saja bilang, kamu bisa menang tanpa harus melukaiku?" Leena langsung memasang kuda-kuda pedangnya,

"Baik!" sahut Komentator. "Peserta Alzen telah memutuskan pilihannya. Dan pertandingan... DIMULAI !!"

“Yang benar saja.” Leena meng-cast sihir pertamanya.

"Speedy Flash Move !!"

Leena langsung melesat cepat untuk menyerang Alzen secara tiba-tiba.

"Cepatnya!?"

***

Kembali ke 2 jam lalu, saat pertandingan belum dimulai.

"Kemampuan Leena yang pertama, namanya Speedy Flash Move. Leena bisa bergerak secepat kilat dengan sihir itu." Alzen menjelaskan pada Lasius.

"Ohh... sihir itu." Lasius mengangguk. "Itu skill dasar bagi pengguna elemen cahaya yang fokus dalam peran bertarung, bukan peran penyembuh.”

Alzen mengangguk-angguk.

“Flash Move, membuat penggunanya jadi bisa bergerak sangat cepat untuk beberapa saat ke depan. Biasa dipadukan dengan senjata jarak dekat atau sesekali dengan busur sekalipun lebih sulit membidiknya.”

“Leena menggunakan pedang satu tangan.” Alzen memberitahu. “Tapi untuk seorang Leena. Sepertinya ia bisa bergerak lebih cepat dari rata-rata. Jadi? Ada ide untuk meng-counter serangan itu, guru?"

Klik!

"Gampang," jawab Lasius sambil memetikkan jari. "Tapi syaratnya kau harus siap, kapanpun Leena mulai meng-cast sihirnya."

"Haa? Beneran bisa?" Alzen tak menduga akan jawaban yang ia terima dari Lasius. "Bagaimana caranya? Pakai elemen apa?

"Karena sangat cepat, timing yang tepat juga sangat dibutuhkan. Kau mau coba?"

"Ya!"

***