Episode 201 - Minangga Tamwan



Beberapa hari berlalu sejak Bintang Tenggara meninggalkan goa tempat ia memulihkan tubuh. Kemudian, tak kurang dari tiga hari dan tiga malam ia menjelajah hutan tanpa arah tujuan nan pasti. Di saat kebingungan mencari arah, samar-samar telinganya menangkap suara-suara manusia tak begitu jauh dari tempat dimana ia berada. 

Segera ia mendatangi sumber suara. Di saat itulah, tetiba sebuah buntelan kain terjatuh persis di depan kakinya. 

“Anak dusun! Serahkan buntelan itu sekarang juga.”

“Kembalikan padaku… Kumohon,” rintih anak remaja berwajah tirus sambil bangkit berdiri. 

Bintang Tenggara mengamati perangai mereka. Demikian mudahnya menerka apa yang sesungguhnya sedang berlangsung. Kemungkinan kegiatan perisakan oleh sekelompok remaja di sana terhadap remaja berpakaian kotor itu. Lalu, buntelan kain ini menjadi semacam piala yang akan menentukan kemenangan para perisak. Sudah biasa keadaan seperti ini menimpa mereka yang lemah, atau yang kalah jumlah. 

“Srek!” 

Belum sempat memutuskan tindakan apa yang akan diambil, Bintang Tenggara sontak melompat mundur. Hal ini ia lakukan karena menyadari gelagat aneh dari salah satu remaja di dalam kelompok perisak. Di saat yang sama, ia pun menyaksikan sebuah formasi segel berpendar di hadapan. Unik sekali aura formasi segel tersebut, dimana sesuatu berbentuk persegi panjang tetiba muncul dan merangsek ke arahnya. Mirip sebuah balok kayu besar yang biasa dilemparkan. 

“Hm…? Naluri yang cukup baik…,” ujar remaja perisak yang lain. Di saat yang sama, pun ia terlihat merapal formasi segel. 

Sejumlah formasi segel lalu berpendar di udara dan melayang mengelilingi tubuh Bintang Tenggara. Belasan jumlahnya, dan berbentuk seperti kubus-kubus semi transparan yang berukuran sebesar buah kelapa. Ia terkepung. 

“Swush!” 

Formasi segel berbentuk kubus tetiba melesat deras ke arah Bintang Tenggara. Datangnya dari segala penjuru. Akan tetapi, kubus-kubus tersebut hanya menghantam permukaan tanah, karena sasaran telah memanfaatkan teleportasi jarak dekat untuk menghindar ke belakang. 

“Kelima remaja perisak terkesima menyaksikan anak remaja itu menghilang dengan mudahnya lalu muncul di tempat lain. Pada serangan pertama, mungkin hanyalah kebetulan saja. Sedangkan serangan kedua datang dari berbagai arah. Tambahan lagi, anak remaja itu diketahui hanya berada pada Kasta Perunggu!

“Mengapa kalian menyerang diriku…?” Bintang Tenggara mengulur waktu. “Tiada permusuhan di antara kita…”

“Cih, anak dusun! Serahkan buntelan itu dan enyah dari sini!” Seorang remaja perisak bertubuh paling besar dan berwajah gahar melangkah garang ke arah Bintang Tenggara. 

Seketika tiba di hadapan Bintang Tenggara, lengannya menjulur dan hendak merampas buntelan. Akan tetapi, dengan mudahnya Bintang Tenggara menarik lengan yang memegang buntelan, sehingga remaja tersebut terhuyung kehilangan keseimbangan. 

“Bangsat!” Wajahnya memerah berang. Ia merasa dipermainkan oleh entah siapa itu.

“Hahaha….” Gelak tawa terdengar nyaring dari dalam kereta kuda nan mewah di belakang sana. “Hanya menghadapi seorang bocah dusun yang berada pada Kasta Perunggu saja kalian kepayahan…”

Bintang Tenggara baru tersadar setelah mencermati dengan lebih seksama, bahwa kelima perisak itu sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Sesungguhnya bukan karena dirinya tiada menyadari… sebaliknya, ia merasa bahwa keberadaan mereka biasa-biasa saja, sehingga merasa tiada perlu mencermati kasta dan tingkat keahlian mereka. 

Mungkinkah perasaan lebih perkasa ini disebabkan oleh Akar Bahar Laksamana? Bintang Tenggara membatin. Mungkin saja.

“Kumohon kembalikan buntelan itu…,” seorang remaja berwajah tirus melangkah pelan mendekati Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara sesungguhnya tiada hendak mencampuri urusan mereka. Ia bukanlah Panglima Segantang atau Canting Emas. Bilamana ia kembalikan buntelan tersebut dan melangkah pergi, maka tiada perlu ia memupuk permasalahan di masa depan… 

Akan tetapi, entah mengapa, di kala menatap remaja berwajah tirus itu perasaan di hati berubah iba. Sosok remaja berwajah tirus itu mungkin berusia dua atau tiga tahun lebih tua, dan anehnya, seolah tak asing. Semoga semangat membela kebenaran ini bukan merupakan dampak samping dari Akar Bahar Laksamana.

“Bukankah lebih baik bila diriku yang membawa buntelan ini untuk sementara waktu…?” Bintang Tenggara berujar ramah. 

Remaja lelaki berwajah tirus tiada dapat menyembunyikan keterkejutannya. Meski demikian, ia mengangguk pelan. Betapa ia percaya kepada tokoh yang baru saja ditemui. Kenal saja tidak. 

“Adalah bijak bagi dirimu bilamana tiada mencampuri urusan orang lain…” Tetiba seorang gadis belia melompat keluar dari dalam kereta kuda nan mewah. 

“Raya…,” gumam remaja lelaki berwajah tirus, sambil beringsut mundur. Padahal, ia pun sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1!

Bintang Tenggara menyaksikan seorang gadis nan cantik jelita. Sungguh hidungnya demikian mancung. Kali ini aura yang ia tampilkan terasa setara. Kasta Perak Tingkat 3!

Gadis itu mendarat sekira delapan langkah di hadapan Bintang Tenggara. Ia membuka telapak tangan, dimana formasi segel segera berpendar. Aneh sekali, formasi segel yang tersusun demikian berbeda dari yang selama ini Bintang Tenggara pahami. Terdapat berbagai bentuk simbol -- ada yang melingkar, segitiga, persegi, bahkan berbentuk tak beraturan – yang kemudian merangkai. Betapa takjubnya si anak dusun itu ketika menyaksikan bahwa formasi segel yang tercipta perlahan mengambil wujud layaknya seekor burung, yang berukuran satu kepalan tangan. Seekor burung murai lebih tepatnya! (1)

Lima remaja perisak segera melompat mundur demi membuka jalan. Sepertinya mereka mengetahui bahwa pimpinan mereka itu sedang merapal jurus nan digdaya. 

“Sebaiknya kita segera menyingkir,” bisik remaja lelaki berwajah tirus kepada Bintang Tenggara. Ia menyadari tentang bahaya yang mengancam.

Akan tetapi, Bintang Tenggara sudah terlanjur penasaran. Bahkan sangat penasaran sekali di kala menyaksikan formasi segel yang dapat mengambil wujud. Oleh karena itu, ia menantikan apakah yang selanjutnya akan dilakukan oleh gadis tersebut. Apa kelebihan dari formasi segel nan berwujud binatang itu…? 

Gadis berhidung mancung mengibaskan jemari tangan dengan gemulai. Gerakan tersebut menerbangkan formasi segel yang berwujud burung murai ke arah Bintang Tenggara. Formasi segel tersebut menukik cepat. Hanya dalam beberapa kedip mata, ia telah tiba persis di hadapan sasarannya. 

Di detik-detik akhir, Bintang Tenggara melompat ke samping karena merasakan bahaya nan mengacam… Terlambat! 

Formasi segel berwujud burung murai mendarat di bahu kiri anak remaja itu. Seketika ia menempel, Bintang Tenggara merasakan bahu kanannya seolah-olah dicakar kuku-kuku nan tajam. Sontak ia berusaha menepis dan mengusir pergi burung murai tersebut. Akan tetapi, tiada membuahkan hasil karena pada dasarnya, burung murai bukanlah sungguhan… melainkan sebuah formasi segel yang tersusun dari berbagai simbol. 

Darah mengucur ketika goresan-goresan luka kecil terus-menerus membeset di permukaan kulit. Seolah diiris-iris mengggunakan belati nan tajam. Perihnya bukan kepalang!

Bintang Tenggara mulai terlihat panik. Ia menyadari bahwa untuk melepaskan diri dari derita ini, ia harus mengurai formasi segel tersebut. Di saat yang sama, simbol-simbol di dalam formasi segel berwujud burung murai itu demikian rumit dan bertumpang tindih. Dirinya bahkan tiada mengetahui harus memulai dari mana… 

“Segel Syailendra: Belida…” Tetiba Bintang Tenggara mendengar bisikan tepat dari samping tubuhnya.  

Di kala menoleh, ia mendapati remaja lelaki berwajah tirus sedang merapal formasi segel. Anehnya, formasi segel yang dirapal juga mengambil wujud binatang. Kali ini, seekor ikan. Atau lebih tepatnya seekor ikan belida. Ikan belida adalah ikan air tawar yang biasa hidup di sungai. Bentuk badannya pipih dan berkepala kecil dengan cekungan di bagian punggung. Ukurannya tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa. Sepintas, ikan ini terlihat seperti ikan yang bungkuk. 

Rahang ikan belida sedikit mancung ke depan, dimana mulut kecilnya mulai menggerogoti dan mengurai wujud burung murai. Bintang Tenggara meringis sambil terkesima. Pertama, kini ada dua formasi segel yang berwujud binatang. Kedua, formasi segel berwujud ikan belida mengurai formasi segel berwujud burung murai. 

Siapakah remaja-remaja ini!? Bagaimana mungkin pemahaman mereka tentang formasi segel demikian tinggi!? Bintang Tenggara semakin penasaran. 

Tak lama, formasi segel berwujud burung murai pun terurai. Bintang Tenggara terlepas dari rasa perih yang demikian mendera. 

“Wara! Apa yang kau lakukan!?” sergah gadis belia berhidung mancung. 

“Raya, kumohon… Ibundaku sedang sakit. Lepaskanlah aku kali ini…” 

“Cih!” Gadis berhidung mancung yang kini diketahui bernama Raya, melotot berang. Akan tetapi, segera ia memutar tubuh dan melompat kembali ke dalam kereta kuda nan mewah. 

“Ayo kembali! Tak ada gunanya menghabiskan waktu bermain dengan seorang pecundang!” 


“Terima kasih,” ujar Bintang Tenggara 

Anak remaja berwajah tirus baru saja membantu membalutkan perban ke bahu kanannya. Luka yang dialami hanyalah goresan-goresan tipis ke permukaan kulit. Akan tetapi, andai saja serangan lawan tiada dihentikan, maka tak terbayang betapa menyakitkannya bila daging yang dicabik-cabik oleh formasi segel nan berwujud burung murai. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding.

“Namaku Wara,” ujar remaja berwajah tirus. “Diriku yang sepatutnya mengucapkan terima kasih atas kesediaan dikau membantu.” 

“Kakak Wara…” 

“Panggil saja Wara. Usia kita tak terpaut jauh.”  

Bintang Tenggara membatin. Ia agak kurang pasti akan usianya sendiri. Saat pertama tiba di Perguruan Gunung Agung, ia telah berusia 13 tahun. Lebih dari satu tahun waktu berlalu sejak saat itu. Kemudian, jangan melupakan waktu selama 1,5 tahun yang dihabiskan di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani. Oleh karena itu, secara umum kini Bintang Tenggara berusia sekitar 16 tahun. Sedangkan remaja di dekatnya ini kemungkinan berusia 18 atau 19 tahun.  

“Namaku, Bintang,” sahutnya cepat. 

“Bintang, sekali lagi kuucapkan terima kasih.” 

“Wara, dimanakah tempat ini?”

“Kita berada di wilayah selatan Pulau Barisan Barat.”

“Hah!?” Lagi-lagi Bintang Tenggara terkejut. Sungguh, hari ini dipenuhi dengan berbagai kejutan.

“Kemanakah arah menuju Rimba Candi?” Bintang Tenggara tak hendak membuang-buang waktu lebih lama lagi. Ada titipan gulungan naskah yang harus ia sampaikan. 

“Oh, dikau hendak menuju Rimba Candi?” Wara bangkit berdiri. “Kebetulan sekali, tujuan kita senada.” 


Di hadapan Bintang Tenggara, berdiri perkasa sembilan candi besar yang menjulang dan membentang. Setiap satu candi terpisah jarak hampir satu kilometer. 

Hampir di hadapan setiap candi, terdapat antrian yang panjang. Bahkan, terlihat sampai ratusan jumlah ahli yang berdiri sabar menanti giliran masuk. Dari pembawaan mereka, sebagian besar pastilah utusan dagang dan para saudagar, yang membawa peti-peti kemas berbagai ukuran. Sebagian lagi berasal dari semerata kalangan, mulai dari pelajar, pendekar, sampai bangsawan, tua dan muda. 

Di antara mereka, terlihat para prajurit yang bertugas di depan candi. Sibuk mereka menata dan mengawasi baris antrian. Sedikit saja terjadi keanehan, maka tak sungkan mereka menegur tegas. Di saat yang sama, terlihat pula sekelompok prajurit yang berpatroli mengawasi wilayah di luar antrian.

“Kita telah tiba di Rimba Candi,” ujar Wara pelan. 

“Ada sembilan candi…” Bintang Tenggara hampir tak berkedip menyaksikan kemegahan setiap candi. 

Kedua remaja melangkah mendekati wilayah candi. Di dalam perjalanan, beberapa kali mereka berpapasan dengan regu prajurit patroli. Para prajurit itu menunduk sebentar, lalu mendengus pergi. Hal ini terjadi setiap kali. Bintang Tenggara menangkap kesan yang tak ramah. Bahwasanya para prajurit itu seolah diwajibkan memberi hormat, padahal sebenarnya mereka sangat enggan berlaku sopan. 

“Bintang, apakah dikau memiliki Sijil Syailendra?” Wara berbisik, mengabaikan perlakuan satu regu prajurit patroli yang baru saja melintas. 

“Sijil Syailendra…? Apakah itu…?” Bintang Tenggara benar-benar tiada mengetahui. 

“Kesembilan candi yang berdiri megah berjajar itu berfungsi sebagai gapura menuju ke dalam wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” ungkap Wara. 

“Kemaharajaan Cahaya Gemilang berada di balik candi-candi itu…?”

“Untuk lebih tepatnya, di dalam kesembilan candi, terdapat gerbang dimensi ruang menuju Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

“Oh…? Apakah Kemaharajaan Cahaya Gemilang berada di dimensi ruang khusus…?” aju Bintang Tenggara. 

“Benar,” sahut Wara cepat. “Nah, untuk menggunakan gerbang dimensi ruang di dalam candi, diperlukan Sijil Syailendra. Ia adalah surat izin yang hanya diterbitkan oleh keluarga-keluarga bangsawan yang dikenal dengan gelar Wangsa Syailendra. Terdapat sembilan candi, karena mewakili setiap keluarga Wangsa Syailendra.” 

Di saat yang sama, sudut mata Bintang Tenggara menangkap keberadaan kereta kuda nan mewah yang dikawal oleh remaja-remaja perisak. Kereta kuda itu memasuki candi keempat. Ia memotong antrian, dan para prajurit jaga menundukkan kepala demi memberi hormat.  

“Gadis di dalam kereta kuda itu adalah salah seorang putri dari keluarga keempat,” bisik Wara, yang menyadari bahwa perhatian teman barunya itu tersita sejenak. 

Bintang Tenggara mengangguk. “Jadi, untuk sampai di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, perlu memanfaatkan gerbang dimensi ruang di dalam candi. Bagaimanakah caranya memperoleh Sijil Syailendra itu…?”

“Biasanya, seseorang mengajukan permohohan kepada Juru Kunci di dalam candi. Juru Kuncilah yang akan memberi penilaian dan menerbitkan Sijil Syalendra mewakili keluarga Wangsa Syailendra. Karena banyaknya permohonan yang masuk, maka proses penerbitan sijil dapat memakan waktu sampai sekira sebulan.” 

“Sebulan!?” Bintang Tenggara tiada dapat menyembunyikan keterkejutannya. Semakin lama waktu yang ia butuhkan hanya untuk mengantarkan sebuah gulungan naskah. 

“Hehe… Janganlah khawatir…” Wara tersenyum ramah. 

“Maksudmu…?”

Tanpa Bintang Tenggara sadari, di saat berbincang-bincang, teman barunya itu membawa dirinya melewati kedelapan candi nan megah, beserta antrian panjang masing-masing. Sekira lima ratus meter di hadapan, terlihat candi terakhir, yaitu candi kesembilan. 

“Hm…?” Bintang Tenggara merasa jangggal. 

Tiada antrian yang mengular di depan candi kesembilan itu. Tiada prajurit yang berjaga dengan wajah garang. Sebaliknya, candi terakhir malah bernuansa sepi, kusam dan kotor. Ilalang dan rumput liar tumbuh di semerata tempat. Sungguh bertolak belakang dengan candi-candi yang lain.

Wara melangkah masuk ke dalam candi. Sungguh luas wilayah di dalamnya. Akan tetapi, tiada terawat dengan baik. 

Di atas sebuah panggung, kedua mata Bintang Tenggara lalu menangkap keberadaan seorang lelaki tua dan renta sedang duduk bersila. Ia larut dalam keheningan tapa. Sungguh tenang dan damai pembawaannya. Aura yang ia pancarkan sangat sulit dipahami. (2)

“Wahai, Kakek Juru Kunci… mohon dibukakan gerbang dimensi…” pinta Wara dengan santun. 

Sang Juru Kunci membuka mata. Ia lalu terpana. Segera ia melompat turun dari atas panggung, lalu membungkukkan tubuh dalam-dalam.

“Kakek Juru Kunci, mengapakah dikau demikian berlebihan…?” Wara terlihat tak terlalu senang mendapat penghormatan yang sedemikian. Namun, tak terdengar jawaban dari si kakek. 

“Wara… mungkinkah dikau juga merupakan anggota keluarga dari Wangsa Syailendra…?” Betapa mudahnya bagi Bintang Tenggara untuk dapat mengambil kesimpulan. 

Wara hanya mengangguk, “Kakek Juru Kunci ini tuna wicara, jadi maafkan bila ia tiada dapat berbasa-basi. Sijil Syailendra nantinya akan beliau siapkan untuk dirimu,” ujarnya pasti. 

Di saat yang sama, sebuah gerbang dimensi ruang berpendar karena telah dibukakan oleh si kakek tua yang masih saja membungkukkan tubuh. Wara dan Bintang Tenggara pun melompat bersamaan ke dalamnya. 

Seperginya Wara dan Bintang Tenggara, kakek Juru Kunci kembali berdiri tegak. Ia memutar tubuh dan memandangi lorong dimensi ruang yang sedang menutup. Betapa deras air mata yang berlinang di kedua belah matanya. 


Tak lama berselang, Bintang Tenggara dan Wara melompat keluar dari dalam sebuah gerbang dimensi. Mereka tiba di dalam candi yang serupa dengan yang sebelumnya. Serupa tapi tak sama. 

Sungguh pelik, pikir anak remaja itu. Mengapakah diperlukan seorang Juru Kunci bila sekadar untuk mengendalikan sebuah gerbang dimensi? Selain itu, aura yang ditampilkan tempat ini pun sangatlah berbeda. Meskipun demikian, Bintang Tenggara tak hendak berpikir terlalu jauh. Segera ia melangkah keluar dari dalam candi. Letak candi tersebut rupanya berada di atas wilayah perbukitan. Sebagaimana sebelumnya, deretan delapan candi lain terlihat berjajar terpisah jarak. Segenap ahli pun terlihat berbaris melangkah keluar. 

Menebar pandang, anak remaja yang tumbuh di dusun terpana. Jauh di bawah sana, sebuah kota nan besar terbentang seluas mata memandang. Di tengahnya, mengalir sebuah sungai nan lebar. Bangunan tinggi-tinggi dan luas-luas terlihat megah dari kejauhan. Kesemuanya tertata rapi bak simbol-simbol yang membangun sebuah formasi segel maha besar. 

Sungguh pemandangan ini menunjukkan keberadaan sebuah peradaban yang kuno, sekaligus maju.

Wara menyusul di samping. “Bintang, selamat datang di ibukota Kemaharajaan Cahaya Gemilang… Minangga Tamwan!” 



Catatan: 

(1) Dalam Episode 87, seorang ahli juga pernah membuat seekor burung menggunakan formasi segel. 

(2) Tokoh ini pernah muncul dalam Episode 177.