Episode 25 - Iblis Penghisap Darah



Disisi lain, pertarungan Shinta diselingi oleh suara dentuman-dentuman berasal dari pukulan yang dilepaskan Shinta. Entah jurus apa yang dia gunakan, tapi setiap serangannya mengandung energi yang besar dan meledak-ledak. Lawannya harus berjumpalitan kesana-kemari hanya untuk menghindar agar tak terkena pukulan Shinta. Bahkan golok yang terhunus ditangannya tidak terlalu banyak berguna untuknya. Beberapa kali musuhnya terdorong kebelakang meskipun telah menangkis pukulan Shinta dengan goloknya. 

Aku baru tahu kalau dalam pertarungan satu lawan satu melawan pendekar dengan tingkat kesaktian yang sama, Shinta bisa begitu dominan terhadap lawannya. Padahal saat bertarung denganku, sepertinya serangan-serangan yang dia keluarkan tidak sedahsyat itu. Sepertinya waktu itu dia masih menahan sebagian besar kemampuannya. 

Dan tampaknya pertarungan Shinta juga menyebabkan dua lawanku sedikit teralihkan perhatiannya. Aku segera memanfaatkan kesempatan tersebut dan mengeluarkan serangan ‘Iblis Sesat Mencabik Langit’ pada lawanku yang menggunakan golok. Tapi saat kupikir seranganku akan mendarat mulus pada lawan, tiba-tiba saja dari samping datang tusukan jari mengarah pada iga kananku. 

“Sialan!” makiku dalam hati. Aku segera menarik seranganku dan menjatuhkan tubuh kesamping demi menghindari serangan tersebut, lalu menggulingkannya menjauh dari kedua pengeroyokku. Tapi jari telunjuk itu tak berhenti memburuku, dia menggerakkan tangannya seperti cangcorang dan kembali menusukkan jari telunjuknya ke tubuhku. Aku segera memukulkan cakarku ke lantai hingga menembus tanah. Lalu menarik tubuhku ke samping menghindari serangan susulan tersebut. Jari-jari maut itu langsung amblas ke dalam tanah hingga ke pangkalnya setelah kembali gagal menembus tubuhku. 

Jantungku mencelos karena menyadari baru saja berhasil menghindari serangan fatal lawan. Aku telah berlaku lengah, kupikir mereka yang perhatiannya teralihkan, pada kenyataannya justru akulah yang telah teralihkan perhatiannya. Meskipun serangan itu hanya berupa tusukan jari telunjuk, namun kekuatan yang terkandung didalamnya begitu dahsyat. Jika tanah keras saja dapat dengan mudah ditembus seperti itu, apalagi jika jari-jari itu mengenai tubuhku. Tapi yang paling berbahaya bukan kekuatan tusukan jari itu, melainkan racun yang terkandung didalamnya. Tanah di sekitaran jari-jari itu langsung hangus menghitam dan mengeluarkan bau tak sedap. Jadi itu pukulan “Racun Api Kalajengking” yang begitu ditakuti Shinta. 

“Jurus Iblis Sesat! Darimana kau mempelajarinya?” 

Tiba-tiba lelaki yang tusukan jari telunjuknya gagal bersarang ditubuhku berseru tegang. Aku sendiri tertegun sesaat mendengar lelaki itu mengetahui jurus yang kugunakan. Namun aku segera kembali menguasai diriku, sehingga tidak larut dalam keterpanaanku terlalu lama. 

“Darimana aku mempelajari Jurus Iblis Sesat bukan urusanmu!” jawabku sembari mengatur kuda-kuda, bersiap menghadapi pertarungan lanjutan. 

“Humph!”

Mereka kembali menerjangku dari dua arah. Kali ini aku bersikap lebih hati-hati dan cenderung bertahan. Apalagi setelah melihat sendiri ganasnya serangan mereka, lebih baik aku mencari cara agar bisa kembali melarikan diri. 

“Amarah Dewa Pemusnah!”

Bum! Bum! Bum!

Rentetan suara dentuman dahsyat menggema ke seantero tempat itu bersamaan dengan Shinta saling memukulkan kedua tangannya. 

Tampaknya pertarungan antara Shinta dan lawannya telah mencapai klimaks, begitu cepat serangan golok lawan Shinta hingga bayangannya membentuk jaring. Serangan itu telah mengunci Shinta hingga tak mampu lagi meloloskan diri. Dalam kondisi terdesak itulah Shinta saling memukulkan kedua tinjunya, menyebabkan rentetan ledakan pada area satu meter disekeliling Shinta. 

Pukulan Shinta itu berfungsi sebagai pertahanan sekaligus menyerang. Jaring bayangan golok lawannya langsung buyar seketika. Disaat yang sama, lawannya terpental mundur akibat ledakan-ledakan tersebut. 

“Enam Jalan Penghancur?!” ujar pria yang tadi juga mengenali Jurus Iblis Sesat milikku. 

Tampaknya pengetahuan pria ini terhadap jurus-jurus silat cukup tinggi. Dia dapat dengan mudah mengenali jurus-jurus yang aku dan Shinta keluarkan. 

“Kelompok Daun Biru ternyata tak selemah kelihatannya…,” gumam pria itu dengan muka tegang. 

Dia segera menatap kawannya yang juga tengah mengeroyokku, kemudian menganggukkan kepalanya seakan memberi isyarat pada sesuatu. Bersamaan dengan itu, kawannya segera mengambil kuda-kuda dan menusukkan goloknya ke arahku dengan cepat. Aku dapat melihat golok itu sedikit berpendar kemerahan seperti habis dipanggang api. 

Namun yang aku herankan, jarak antara diriku dan dia masih cukup jauh, tusukan golok itu mustahil sampai ke tubuhku kecuali tangan orang itu bisa memanjang. Karena itu aku tidak berusaha mundur atau melesat kesamping untuk menghindarinya, tapi justru disitulah kesalahan utamaku. Karena pengalamanku di dunia persilatan masih sangat minim, aku masih menilai kemampuan yang dimiliki orang-orang dunia persilatan dengan logika orang biasa. Sehingga mengira serangan dari jarak sekian jauh tidak akan sampai ke tubuhku. 

Golok dan tangan orang itu memang tidak memanjang, tapi aura panas menjulur cepat mengincar dadaku. Meskipun aku segera menyadari kekeliruanku dan berusaha menghindari serangan itu dengan menggeser tubuh kesamping kiri, tapi gerakanku sudah terlambat. Aura panas itu menusuk dada kananku dekat dengan ketiak, rasanya seperti ditusuk dengan besi panas. Rasa panas dan sakit merambati sekujur tubuhku hingga ke ujung kaki, aku langsung jatuh berlutut sambil mengerenyit kesakitan. 

“Hehe, bocah tolol ini belum pernah tahu jurus ‘Pedang Ular Api’ tampaknya…”

Lelaki yang barusan menyerangku dengan goloknya menyeringai puas melihat kondisiku. Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali menyabetkan goloknya ke batok kepalaku. Serangan susulan orang itu datang terlalu cepat, aku yang masih belum pulih dari rasa sakit tidak dapat berbuat banyak selain menunggu golok itu membelah dua batok kepalaku. 

Tepat pada saat itulah Shinta melompat ke dekatku dan kembali saling meninju kedua tangannya. “Amarah Dewa Pemusnah!” teriaknya keras saat dia saling meninjukan kedua tangannya. Seakan meneriakkan nama jurus yang dia keluarkan akan menambahkan kekuatannya. 

Bum! Bum! Bum!

Kembali rentetan dentuman menggema di tempat itu. Akibatnya, serangan golok yang mengarah ke batok kepalaku melenceng dari sasarannya. Aku juga memanfaatkan kesempatan itu untuk berguling menjauh. Aneh, dalam pertarungan sengit dimana nyawa menjadi taruhannya, aku telah kehilangan rasa takut. Otakku terlalu sibuk menganalisa semua gerakan hingga ke detil terkecil sampai melupakan segala perasaan. Baru setelah berhasil lepas dari maut yang jaraknya hanya tinggal seujung kuku saja, luapan emosi memenuhi diriku dan membuat tangan dan kakiku gemetaran. Ternyata aku masih benar-benar hijau dalam urusan pertarungan hidup dan mati di dunia persilatan. 

Segera setelah Shinta mengeluarkan jurus ‘Amarah Dewa Pemusnah’ dan berhasil menyelamatkanku. Orang yang sejak tadi mengandalkan jari telunjuknya untuk bertarung menyusup dari sisi kiri dan menusukkan jarinya yang mengandung jurus ‘Racun Api Kalajengking’ ke iga Shinta. Berbeda dengan Jurus Iblis Sesat yang memiliki kecepatan tingkat tinggi, kuperhatikan jurus Enam Jalan Penghancur milik Shinta fokus pada kekuatan. Akibatnya, Shinta tak cukup cepat menghindari serangan susulan itu dan menderita tusukan jari beracun pada iga kirinya. 

“Shinta!” Aku berteriak panik melihat Shinta terhuyung mundur sambil mengerenyit kesakitan. 

Tiba-tiba saja ada kekuatan tambahan dalam diriku yang membuatku mampu melesat secepat angin dan menyambut jatuhnya tubuh Shinta dengan kedua tanganku. Efek racun dari jurus ‘Racun Api Kalajengking’ langsung menjalar dalam tubuh Shinta, menyebabkan kulitnya berwarna kehitaman dan suhu tubuhnya meningkat tajam. Selain itu, nafasnya berat dan tersengal-sengal. 

“Hehehe… Mampus!” Pria yang baru saja menusukkan jarinya ke iga Shinta menyeringai puas.

Dua orang yang memegang golok bergerak mendekati kami untuk memberikan serangan penghabisan. 

Sialan! Aku harus segera melakukan sesuatu. Tapi apa? bahkan untuk berdiri saja aku kesulitan. Tiba-tiba saja aku ingat masih memiliki senjata rahasia yang belum kugunakan. Tenaga dalam Sadewo! Tapi tenaga dalam itu tidak mengalir dalam pembuluh energi murni, melainkan telah menyatu dengan aliran darahku. Aku bahkan tidak pernah menggunakannya lagi semenjak mampu menguasai pengolahan tenaga dalam tiga bulan lalu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku menggunakannya sekarang…

Arghh! Perduli setan! Yang penting sekarang adalah mengalahkan orang-orang dari Perserikatan Tiga Racun dulu. Masalah efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan tenaga itu urusan belakangan. 

Aku segera mensirkulasikan tenaga dalam Sadewo pada aliran darahku. Dalam sekejap dapat kurasakan darah dalam nadiku bergejolak dan mengental seperti merkuri, pada saat yang sama, detak jantungku menjadi sangat cepat dan keras. Bahkan suara detaknya dapat kudengar melalui telingaku. 

“Arrrrrgghhhhh……!” Sambil berteriak keras, aku menerjang tiga orang anggota Perserikatan Tiga Racun itu dengan kedua cakarku.

“Apa?! Bagaimana mungkin?!” Ketiganya tampak terkejut mengetahui ternyata aku masih bisa melakukan serangan setelah terkena racun ‘Pedang Ular Api’. Mereka segera berjumpalitan menghindari seranganku. 

Namun aku segera menyusul dengan serangan kedua dan berhasil mencabik tangan kiri salah satu dari mereka, darah pekat segera menyembur dari luka cabikan itu. Dan diluar dugaan, darah yang menyembur itu berubah menjadi kabut merah dan tersedot masuk dalam tubuhku melalui mulut dan lubang hidung secara terus menerus. Hanya dalam sekejap saja, tangan orang itu langsung kering keriput seperti tangan mummi. 

Bersamaan dengan itu, aku merasa tubuhku yang sudah kepayahan menjadi lebih bugar. Selain itu, aku juga merasa fisikku menjadi lebih kuat dan kokoh. 

“Gyaaaa… Bangsaaat! Anjing! Aaaaaaaargghhhh…..”

Orang itu menjerit dan memaki-maki demi melihat tangannya menjadi kering sedemikian rupa. 

“Bajingan! Jurus setan apa yang kau gunakan!” 

Pria yang menggunakan jari telunjuk sebagai senjatanya segera melancarkan serangan padaku, begitu juga dengan pria satu lain yang menggenggam sebatang golok. Keduanya tanpa ragu mengeluarkan jurus utama mereka, ‘Pedang Ular Api’ dan “Racun Api Kalajengking’. 

Humph!

Aku segera menyambut serangan mereka dengan kedua cakarku. Kali ini seranganku jauh lebih dahsyat dari sebelumnya, baik dari segi kecepatan maupun dari segi kekuatan. Aku dapat dengan mudah menangkis serangan mereka dan berusaha mencabik bagian tubuh mereka. 

“Awas!” 

Keduanya berloncatan demi menghindari seranganku, mereka segera menjaga jarak dariku sambil mengawasi kedua cakarku. Tampaknya mereka masih merasa ngeri melihat ganasnya serangan terakhirku pada teman mereka. Melihat sikap mereka, mulutku menyeringai perlahan bersama dengan nafasku yang mendengus-dengus.