Episode 26 - Mengakui Kesalahan Itu Berat


 Sore itu, Riny sedang berjalan di atas trotoar sambil membawa keranjang berisi bunga untuk seseorang yang sudah hilang dari hidupnya. Matanya sedikit berembun ketika Riny mengingat kejadian beberapa tahun lalu, saat ibunya tiada.

 Flasback on

 Kala itu, Riny dan Ibunya baru saja pulang berbelanja. Keduanya berjalan di pinggir jalan sambil menenteng kantong plastik hasil belanjaan. Ibunya Riny bersemangat hari ini karena bisa mengajak anaknya berbelanja bersama. Hal pertama yang ingin beliau ajarkan kepada Riny sebelum memasak, adalah memilih-milih bahan untuk dimasak. 

 “Riny, cepat dong jalannya!” teriak Ibunya Riny yang sudah berjalan terlebih dahulu di hadapannya.

 “Iya, sabar. Bunda mah enak engga bawa apa-apa, lihat nih Riny bawa belanjaan sepuluh kantong!” 

 Entah kenapa saat itu Riny seakan melihat langkah ibunya semakin menjauh. Hal yang tak biasa dia rasakan saat berjalan bersama Bundanya. Perasaan tak enak menyentuh pundak Riny dan benar saja kejadian itu begitu cepat. Sebuah mobil melaju cepat, berjalan berkelok-kelok tanpa kendali menabrak Bunda Riny yang berjalan di trotoar.

 “Gawat! Apa yang sudah gue lakukan?!” tanya panik seorang pria yang menyetir mobil tersebut.

 Tanpa pikir panjang si pria itu lalu kabur bersama mobilnya meninggalkan seseorang yang tergeletak bersimpuh darah.

 Kantong belanjaan yang tadi dipegang Riny pun jatuh … ke atas.

 Flasback off

 Air mata sedikit membasahi sekitar matanya Riny apabila dia mengingat kejadian itu tepat di depannya. Perlahan, Riny mengusap matanya dengan tangan.

 Tiit tiiit

 Sebuah klakson menyapa Riny yang sedang berjalan menuju makan bundanya. Riny menoleh arah suara itu dari belakang.

 “Kamu?” Riny terkejut melihat sosok pria di dalam mobil.

 “Woy, Riny.” Seorang pria menongolkan kepalanya di jendela mobil.

 “Bram.”

 “Kamu, mau kemana, Rin?”

 “Ke TPU Apel Purut.”

 “Wah, kebetulan, aku juga mau ke sana. Bareng yuk.”

 “Wah, engga usah repot-repot. Ayo bareng, aku duduk di depan ya.” Seketika Riny langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di depan bersama Bram.

 Setelah sekian lama tidak bertemu dengan sosok Bram, akhirnya Riny bertemu juga dengan teman masa SMAnya itu. Mereka berdua pun saling mengobrol membahas tentang bagaimana Bram bisa kembali lagi ke kota ini.

 “Kamu kemana aja, Brem?”

 “Nama aku tuh Bram bukan Brem. Hahaha, aku sibuk jadi CEO tampan, tahu sendiri kan sekarang CEO tampan lagi laku.”

 “Wah iya, betul tuh Brom. CEO tampan sama badboy emang lagi laku. Emang cerita ini engga laku-laku, hahaha.”

 “Nama aku tuh Bram bukan Brom, seenak-enaknya aja ganti nama orang.”

 Kalian pasti penasaran sama si Bram dan Riny di masa SMAnya dulu. Baiklah, kali ini kita akan bercerita tentang Bram dan Riny di masa lalu sambil menunggu keduanya sampai di tempat tujuan.

 Bram itu merupakan badboy di sekolahnya. Tiap hari dia masuk terlambat, biasanya dia masuk 5 menit sebelum bel pulang sekolah. Seperti cerita anak sekolahan pada umumnya yang diawali dengan keterlambatan si karakter utama gara-gara bangunnya kesiangan. Pagi itu, si Bram lagi asik-asiknya tidur, tiba-tiba dia melihat jam di hapenya.

 “Wah, baru jam sepuluh pagi, entar aja ah berangkatnya,” kata Bram yang masih selimutan.

 ***

 Sesampainya Bram di sekolah, gerbangnya sudah ditutup oleh Pak Satpam. 

 “Pak, bukain dong gerbangnya!” teriak Bram dari jendela mobilnya.

 “Hey lihat ini jam berapa?!” teriak pak satpam.

 “Ya elah, masih pagi juga. Mau engga nih, atau gue tabrak gerbangnya!”

 “Tabrak aja kalau bisa.”

 Bram lalu memakirkan mobilnya jauh dari area depan gerbang sekolah. Dia sudah menyewa bulldozer untuk merobohkan gerbang sekolah. Setelah diberi aba-aba, bulldozer itu lalu merobohkan gerbang sekolah. Setelah kejadian ini, Bram dipanggil kepala sekolah untuk dimintai keterangan.

 “Kamu ini, Bram….”

 “Hoaaam, ngantuk nih, Pak. Saya mau ke kelas dulu ya. Bye.”

 Tidak mau mendengarkan ocehan kepala sekolah, Bram langsung meninggalkan ruangan kepala sekolah menuju kelasnya.

 Bram berjalan menuju kelasnya sendirian, tanpa ada perasaan takut sedikit pun di dalam hatinya. 

 “Woy, Brooom!” teriak seorang cewek dari belakang Bram.

 Bram pun menoleh ke arah suara itu.

 “Rinyyyy!” teriak Bram.

 Keduanya pun saling tos.

 “Lo terlambat juga?” tanya Riny.

 “Ah biasa itu mah. Kalau elo?”

 “Hahaha, gue baru aja bobol tembok berlin sekolah, hush capek juga ya.”

 “Mau gue pijitin?”

 Baru saja Bram menawarkan diri, dia langsung mental ke langit.

 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” teriak Bram.

 “Siapa suruh lo tawarin diri buat mijit gue.”

 Setelah Bram kembali lagi, keduanya sudah sampai di depan pintu kelas. Perlu diketahui, keduanya masih menginjak di kelas sepuluh. Kelas sepuluh saja sudah buat masalah, apalagi kelas tiga belas. Tanpa mengetuk pintu dan menyapa gurunya, Riny dan Bram langsung masuk dan duduk di tempatnya masing-masing.

 “Hey, kalian berdua kalau masuk ketuk pintu dulu! Jam berapa ini?!” seru Pak guru yang bernama Rizal Erizatael.

 “Woy, ke kantin yuuuk!” seru Bram ajak teman-teman sekelasnya.

 “Ayooo!”

 Bram dan teman-teman sekelasnya langsung meluncur ke luar kelas menuju kantin tanpa pedulikan Pak Rizal yang sedang mengajar Biologi. Setelah itu Pak Rizal langsung mengundurkan diri dari sekolah tersebut.

 Yap itulah sekilas tentang Bram dan Riny semasa SMA.

 ***

 Tak lama kemudian, Riny dan Bram sudah sampai di TPU Apel Purut. Di TPU itu, Riny sengaja datang untuk menemui makam bundanya. Kini dia duduk di samping makam bundanya sambil menebarkan bunga dan di dalam hati berdoa untuk ketenangan beliau yang sudah ada di sana. Tiada kata yang tersiratkan Bram saat ikut menemani Riny sore itu. Hanya ketenangan dan kesunyian yang menemani mereka. Makam ini mengingatkan seseorang bahwa kau tak hidup abadi di dunia ini. Semua kan kembali. Selama memanjatkan doa untuk sang bunda tercinta, Riny mencoba menahan airmatanya. Menangisi orang yang pergi meninggalkannya hanya membuat yang pergi tak kan tenang, biarlah yang pergi itu tenang, berikan doa untuk menerangi tempatnya di sana, jika kau tak bisa membuat seseorang bahagia semasa hidupnya, berikanlah yang telah pergi itu dengan barisan doa, itulah yang dilakukan Riny. Pasti kau takkan bisa membalas semua jasa bundamu selagi hidup, setidaknya buatlah dia bahagia selagi hidup. Jika kau tak bisa mewujudkan impianmu di hadapan bundamu, janganlah kau jadi anak nakal, cukup jadi anak yang berbakti padanya, walau itu jauh dari harapan, tapi setidaknya kau tak membuat bundamu kecewa.

 Usai melantunkan doa, Riny dan Bram bersiap-siap untuk pulang. 

 “Bram, terimakasih ya sudah mau mengantarkan aku ke sini.”

 “Engga apa-apa kok, aku hanya ingin buat kamu bahagia.”

 “Maksudnya?” tanya Riny dengan pipi merahnya.

 “Eh, bukan apa-apa kok.”

 Namun di balik itu, ada sosok mantannya Riny yang sedang mengawasi dari kejauhan sambil bersandar di pohon jengkol, yap siapa lagi kalau bukan Vanila. Vanila baru saja keluar dari masa hukumannya seusai berbuat keonaran di sekolahnya Coklat dahulu. 

 “Bram, berani-beraninya lo deketin Riny setelah apa yang lo lakuin ke dia. Sayangnya, dia enggak tahu apa yang lo lakukan.”

 Bught!

 Vanila kesal sampai memukul pohon jengkol tempatnya bersandar barusan. Enggak terima, si pohon jengkol membalas memukul Vanila.

 Bught!

 Vanila terkapar tak berdaya.

 “Sukurin lo, lagian siapa suruh mukul gue,” kata tuh pohon jengkol.

 Sebulan kemudian, pohon jengkol itu menjadi petinju nomor satu dunia versi WBF. Si pohon jengkol sudah melakukan 16 pertandingan kelas berat dan 16 pertandingan itu dilaluinya dengan menang KO. Dua minggu lagi, rencananya pohon jengkol tersebut akan melawan juara bertahan Mayweather. Nah bagi yang belum beli tiket pertandingan tinju kelas berat pohon jengkol VS Mayweather buruan beli, kapan lagi Anda nonton tinju orang lawan pohon. Buruan beli tiketnya sebelum kehabisan.

 ***

 Coklat baru saja membeli pembersih muka di minimarket. Ada penyesalan di dalam hati Coklat ketika dia melihat sebuah CCTV menempel di dinding. Kini dia bersiap membayar hasil belanjaannya tersebut di kasir.

 “Sudah ini saja, Kakak? Enggak ada yang lain?” tanya kasir berjenis kelamin laki-laki

 Sebuah ketidakberuntungan bagi seorang Coklat, padahal dia berharap yang jadi kasirnya itu seorang perempuan. Seperti saat dia pertama kali masuk ke minimarket yang selalu disapa oleh pegawai perempuan. Disapa pegawai perempuan dengan ucapan selamat pagi, siang atau malam dan dibumbui dengan senyuman adalah hal bahagia yang dirasakan para jomblo, itulah yang dirasakan Coklat.

 “Iya udah, ini aja.”

 “Mau pulsanya sekalian?”

 “Wah boleh, Mas, gratis ya?”

 “Bayar atuh, Mas, masa gratis.”

 “Dih kalau bayar, kenapa nawarin? Teman saya tuh, Mas, kalau nawarin makanan ke saya, enggak bayar, masa ini bayar. Bagaimana sih?”

 “Iya maaf, Mas.”

 “Hmm, ya sudah deh boleh. Kebetulan pulsa saya lagi kosong.”

 “Boleh minta nomornya, Mas?”

 “Dih, minta nomor. Saya masih normal, Mas. Enggak orang sembarangan yang boleh minta nomor saya, kecuali cewek-cewek.”

 “Eh, Mas, kalau enggak disebutin gitu bagaimana pulsanya mau masuk?!” ucap kesal si kasir.

 “Sudah tahu mau beli pulsa malah diomelin, enggak jadi dah gue beli.” Coklat langsung melangkahkan kakinya sambil membawa pembersih muka yang dibelinya.

 “Nih anak emaknya ngidam apa ya, perasaan gue salah mulu!”

 ***

 Sementara itu, Riny dan Bram yang baru saja pulang dari makam dihalang oleh seseorang yang mengendarai sepeda motor. Yap, sepeda motor itu tepat berhenti di depan mobil yang dikendarai Bram. Untung saja, Bram mampu mengerem dengan sempuran hingga tak jadi tabrakan. Seusai berhasil menghalang laju mobil, pengendara sepeda motor yang diketahui Vanila itu langsung turun dan berjalan mendekati kaca depan mobil yang ditumpangi Bram.

 Brugh brugh brugh

 Vanila mengetuk keras kaca mobil Bram.

 “Keluar lo!” seru Vanila.

 Bram yang tahu itu adalah sosok Vanila, langsung keluar menuruti permintaan orang yang dia kenalnya itu. Saat Bram keluar, sebuah bogem langsung mendarat di pipi kanannya hingga tersungkur di aspal.


 “Apa-apaan nih?!” tanya Bram.

 Melihat Bram yang terjatuh, Vanila tak membuang kesempatan untuk menarik kerah baju milik Bram.

 “Jangan sekali-kali lo deketin si Riny, setelah apa yang lo perbuat ke dia!”

 Melihat kejadian yang tak terduga itu, Riny langsung keluar dari mobil, mencoba melerai pertengkaran yang sudah terlanjur terjadi.

 “Berhenti!” teriak Riny di belakang Vanila.

 “Apa maksud semua ini, Van?” tanya Riny.

 “Rin, asal kamu tahu ya, orang yang sudah menabrak ibu kamu itu ... Bram!” lantang Vanila sambil menoleh ke arah Riny.

 Riny sontak terdiam mendengar ucapan Vanila, tak dikira orang terdekatnya lah yang sudah membuat bundanya pergi.

 “Rin, aku enggak sengaja atas kejadian itu. Dan alasan kenapa aku deketin kamu, aku ingin hidup bersama kamu membahagiakan kamu, menggantikan peran ibu kamu yang sudah tiada.”

 “Bulshit!” teriak Vanila dibarengi dengan satu hantaman lagi ke arah wajah Bram.

 “Van, cukup!” lantang Riny.

 Dan hujan pun turun mengguyur ketiganya dalam keadaan emosi yang menyulut perasaan mereka. Bram yang masih terjatuh mencoba berdiri kembali. Kata orang, hujan itu satu persen air dan sisanya adalah kenangan. Yap, itu terasa menjadi firman manusia yang tepat di kala perasaan mereka menangis mengingat kenangan yang sudah berlalu sambil melihat keadaan dingin disertai perasaan ingin kembali. Itulah yang dirasakan Bram menyesali satu rahasia yang sudah ketahui oleh Riny, namun perasaan terhadap Riny yang membuatnya takut untuk mengucapkan kebenaran yang terjadi. Bram takut Riny membencinya lalu menjauhinya.

 “Rin, aku sudah lama menunggu kamu, menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan aku. Aku sudah lama memiliki perasaan dengan kamu, di saat kita masih berseragam putih abu-abu. Namun perasaan itu selalu aku simpan. Di saat kita lulus, itu lah yang aku takutkan. Kamu tahu, sejak lulus kita tidak pernah berjumpa dalam kurun waktu empat tahun. Aku kuliah di negeri orang, jika aku mengungkapkannya dari dulu, aku takut dan aku tak bisa jauh-jauh dari kamu. Karena alasan itu pula, aku kembali lagi ke sini hanya untuk menemui kamu. Dan saat aku kembali, kejadian itu pun terjadi. Aku mabuk memikirkan kamu hingga tak bisa mengendalikan mobilku. Saat aku tahu yang jadi korban adalah ibu kamu, aku langsung pergi. Aku takut kamu membenci aku. Namun aku sadar, setelah kamu tahu pasti kamu akan membenci diriku. Tak ada yang melegakan perasaan aku jika bertemu dengan kamu selain kamu tahu betapa aku menyayangimu."

 Riny tak kuasa menahan airmatanya, di sela-sela tangisan kecilnya, Riny mencoba berkata-kata.

 “Tentang bundaku, itu sudah takdirnya, namun tentang perasaan yang aku miliki ... maaf, Bram, aku tak bisa menolak kamu.”

 Sontak saja, hal itu membuat Vanila terkejut. Dia seolah tak percaya jika Riny memiliki perasaan kepada Bram. Namun belajar dari yang sudah lalu, Vanila coba mengikhlaskannya menginngat Riny memang sudah tidak menyayanginya lagi.

 “Selamat ya, Bram. Semoga lo bisa jaga dia sepenuhnya.”

 Vanila pun pergi berjalan meninggalkan keduanya. 

 ***

 Keesokan harinya, Coklat mengembalikan pembersih muka yang dia beli kemarin.

 “Mas, mau tipu saya ya?” tanya Coklat kepada kasir yang kemarin dia temui.

 “Tipu bagaimana, Mas?”

 “Lah ini kan pembersih muka, eh pas saya pakai, muka saya enggak bersih. Nih lihat, masih ada hidung, mata, bibir sama alisnya!”

 “Mas, yang dibersihkan itu kotorannya bukan bagian-bagian muka.”

 “Lah, kalau kotoran itu di bagian bokong, Mas, bukan di muka. Bagaimana sih?!”

 “Eh, Mas, gelut aja yuk di jalanan. Dari kemarin, ngeselin banget nih orang!”

 “Saya enggak mau, saya maunya uang saya dikembalikan. Saya merasa tertipu.”

 “Enggak bisa, Mas, barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan.”

 “Dih, saya kan cuma tukar barang yang saya beli sama uang saya yang kemarin bukan balikin nih barang. Makanya, Mas, jangan salah sangka dulu.”

 “Oh ditukar sama uang, bilang dong.”

 “Nah gitu, Mas.”

 Akhirnya Coklat dapat kembali uang yang dia belanjakan kemarin. Dia pun pulang dengan senyum sentosa di wajahnya.