Episode 198 - Parasit



“Badak!” 

Dentuman menggelegar memecah keheningan di tengah hamparan rawa, ketika kecepatan supersonik menghasilkan sebuah gelombang kejut. Sungguh hentakan sebuah jurus maha digdaya yang dilepaskan melalui tinju lengan kanan Bintang Tenggara. 

Sebelumnya, anak remaja itu melenting-lenting tinggi memanfaatkan sepuluh Segel Penempatan yang telah disebar. Tepat di saat Tempuling Raja Naga hendak bersentuhan dengan Kampak Keadilan, Bintang Tenggara segera melakukan teleportasi jarak dekat untuk tiba tepat di depan tubuh Laskar Segantang. Tanpa membuang waktu barang sedetik, ia melepas jurus andalannya itu. 

Bintang Tenggara terpental lebih dari dua puluh meter ke belakang. Dari sudut bibirnya, darah merah mengalir. Ia merasakan hendakan balik dari jurusnya sendiri, karena dirapal terhadap ahli yang jauh lebih perkasa. 

Di sisi lain, Laskar Segantang terdorong belasan meter ke belakang. Di saat-saat akhir tadi, nalurinya menggerakkan lengan kiri nan besar yang telah dibungkus tenaga dalam untuk menepis tinju yang dilepaskan lawan. Sebuah bekas besar berwarna merah kini terlihat di permukaan sisi luar lengan kanan yang mati rasa. Bengkak. 

Sedikit lagi, keluh Bintang Tenggara. Segala daya upaya telah ia kerahkan untuk mencuri satu serangan tadi. Akan tetapi, hasilnya jauh dari harapan. Ia memanglah mengincar ulu hati lawan, akan tetapi menyadari bahwa terlalu muluk baginya untuk dapat menyarangkan tinju. Anak remaja tersebut sesungguhnya hanya berharap bahwa Laskar Segantang menahan tinju tersebut. 

Bila ditahan, maka Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwa Tinju Super Saktinya dapat mematahkan lengan lawan. Akan tetapi, apa mau di kata, naluri lawan justru menepis, bukan menahan hantaman tinju tersebut. 

“Jurus apakah itu gerangan…?” gumam Laskar Segantang sambil mengusap bagian yang bengkak dan memerah. 

Lelaki dewasa muda itu merasakan aura yang demikian digdaya, serta kekuatan yang tiada terkira. Andai saja tinju tersebut mendarat di ulu hati, dirinya kemungkinan akan kehilangan nyawa. Ia pun menyadari bahwa bila tadi ditahan, maka tulang lengannya pastilah patah. Tidak, kemungkinan besar tulang lengannya akan remuk bak butir-buti pasir…

Siapakah anak remaja ini sesungguhnya!? Jurang pemisah antara Kasta Perak Tingkat 5 dengan Kasta Perunggu Tingkat 9, seolah sama sekali tidak ada. Selain terhadap sang adik Panglima Segantang, Laskar Segantang belum pernah bertemu dan bertarung menghadapi ahli lain dengan kekuatan tempur yang sedemikian besar. Tidak pada usia yang semuda ini. 

“Mari kita sudahi pertarungan ini!” sergah Bintang Tenggara. Ia berharap agar lawan mulai melunak dan menyadari kenyataan yang sebenarnya. 

Laskar Segantang menatap tajam. Ia membatin untuk beberapa saat. 

“Sungguh bakat nan luar biasa. Akan tetapi, bila anak remaja dengan kepribadian seperti engkau dibiarkan begitu saja, maka suatu hari nanti Negeri Dua Samudera akan porak-poranda!” 

“Kepribadian siapa!? Dikau bahkan tidak mengenal diriku!” 

“Kejahatan-kejahatan hari ini, telah membuktikan isi di hati…”

“Kejahatan apa!? Isi hati siapa!?” Bintang Tenggara hampir dibuat gila oleh kata-kata lawan yang tak berdasar. 

“Nak Bintang, bawa bertenang.” Tetiba Ginseng Perkasa menyela.

“Hmph…”

“Sungguh tiada ramuan yang dapat mengobati penyakit seperti ini…” 

“Penyakit apakah itu, Kakek Gin?”

“Sama seperti gurumu… penyakit bebal!” 

“Hei! Jangan bawa-bawa aku!” 

“Kampak Naga, Gerakan Kedua: Tanduk Menikam Gunung!” 

Bintang Tenggara terpana. Ia menyaksikan bahwa selain bilah kampak yang sudah membesar akibat tenaga dalam murni, kini dari sisi atas Kampak Keadilan mencuat sebilah panjang tenaga dalam murni yang sama. Panjang dan tajam. Kampak itu berubah menjadi kampak dan tombak secara bersamaan!

“Srash!” 

Bersamaan dengan Daun Selancar, yaitu sejenis kendaraan untuk bergerak cepat di atas rawa-rawa, Laskar Segantang merangsek deras. Bila dalam pertarungan sebelumnya tak terlalu sulit menebak tebasan kampak, maka kini akan lebih sulit lagi karena lawan itu juga akan bergerak menusuk!

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting!

Tusukan Kampak Keadilan hanya menembus bayangan tubuh Bintang Tenggara. Anak tersebut telah bergeser posisinya ke samping. Namun demikian, tebasan kampak besar yang sama langsung menyusul. Bintang Tenggara hanya bisa berkelit dan terus berkelit. 

“Cepat atau lambat kau akan kena!” sergah Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara juga sudah menyadari hal yang sama. Keadaan seperti ini lebih berat dibandingkan ketika berlatih tarung melawan Panglima Segantang saat di Perguruan Gunung Agung, atau Asep saat berada di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Bahkan, pertarungan kali ini seperti berhadapan dengan Panglima Segantang dan Asep secara bersamaan. Panglima Segantang menggunakan parang besar, Asep mengerahkan tombak. 

Meski, perlu diakui bahwa berkat terbiasa berlatih tarung dengan Panglima Segantang dan Asep, maka Bintang Tenggara dapat bertahan sejauh ini menghadapi seorang ahli yang berada pada kasta dan tingkat yang jauh lebih tinggi.  

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!

Bintang Tenggara menggandakan kecepatan. Di saat menghindar dari tebasan dan tusukan, ia terus berupaya mencari celah. Akibat dirinya tadi sempat berteleportasi dan melepaskan Tinju Super Sakti, celah yang terbuka sangatlah langka. Lawan sangat waspada terhadap perubahan serangan secara mendadak!

“Jurus itu!?” Laskar Segantang melotot. Kemungkinan besar ia sangat mengenal jurus yang Bintang Tenggara kerahkan saat ini. “Dari mana engkau pelajari jurus itu!?”

Bintang Tenggara sudah tidak dalam suasana hati yang baik untuk beramah-tamah. Ia merasa bahwa menjawab pun pertanyaan itu hasilnya akan percuma saja. Malahan, kemungkinan besar nanti dirinya dituduh sebagai penyontek jurus yang dikuasai Panglima Segantang. Jadi, abaikan saja!

“Jawab pertanyaanku!” sergah Laskar Segantang berang. 

Bintang Tenggara terus bergerak mencari celah. 

“Kampak Naga, Gerakan Ketiga: Taring Mencabik Lautan!”

Kapak besar di lengan kanan Laskar Segantang tadinya hanya memiliki satu mata bilah saja. Kemudian, mencuat bilah tombak dari sisi atasnya. Akan tetapi, kini satu lagi bilah besar, terbuat dari tenaga dalam murni yang mengeras, bertambah di sisi belakang bilah kampak yang sudah ada. Dengan kata lain, kampak besar yang dijuluki Kampak Keadilan itu, kini berubah menjadi kampak dengan bilah besar pada kedua sisinya! 

Laskar Segantang lalu memegang gagang kampak dengan kedua tangan. Hawa membunuh menyibak perlahan dari tubuh kekar, yang tak mengenakan atasan. Ia sudah benar-benar serius untuk menjagal anak remaja di hadapannya! 

Kecepatan melarikan diri dibatasi oleh medan rawa-rawa yang menyulitkan bagi anak remaja itu. Benda pusaka Daun Selancar yang berada di bawah kaki lawan pun terlalu cepat, sehingga tiada mungkin diungguli. Di lain sisi, menangkis dengan mengandalkan Perisai Tunggul Waja dan Sisik Raja Naga pun sudah bukan pilihan lagi. Tebasan lawan di kala menggunakan kedua belah tangan kekar itu pasti memiliki bobot yang sangat berat. 

Bintang Tenggara menarik napas panjang. Di atas melayang tinggi Ibukota Negeri Dua Samudera, Rajyakarta. Sungguh pemandangan yang megah, sebuah simbol kejayaan negeri. Memandang sekeliling, hanyalah rawa-rawa berlumpur dengan berbagai jenis tumbuhan. Seorang anak remaja mengeluarkan senjata pusaka, yaitu sebilah tempuling. Dalam situasi terdesak seperti ini, hanya ada satu pilihan…

“Pantang mundur!” sergah Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara mengencangkan genggaman pada bilah tempuling. Ia kemudian mengambil inisiatif menyerang! Hampir bersamaan, di hadapannya melesat deras mendekat adalah Laskar Segantang! 

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!” 

Sangat jarang bagi Bintang Tenggara merapal jurus sambil meneriakkan namanya. Akan tetapi, mungkin karena membutuhkan semangat tambahan, teriakannya membahana di seantero wilayah rawa-rawa. Berbekal kekuatan dan kecepatan yang berlipat ganda di saat yang bersamaan, anak remaja itu merangsek maju tanpa ragu. 

Tidak hanya sampai disitu, setelah berpijak pada rangkaian Segel Penempatan, kemudian Bintang Tenggara melenting-lenting dengan membalut kedua kaki dengan unsur kesaktian petir dari jurus Asana Vajra. Bobot Tempuling Raja Naga pun ditambah sampai ke ambang batas tertinggi! 

Ini adalah kondisi terkuat Bintang Tenggara saat melancarkan serangan!

Kampak Keadilan dan Tempuling Raja Naga sebentar lagi bertemu. Gerakan pamungkas Laskar Segantang berbeda dengan Panglima Segantang. Panglima Segantang menebas parang secara diagonal dari arah kanan bawah menuju ke kiri atas. Sebaliknya, Laskar Segantang menebas diagonal dari arah kanan atas ke kiri bawah. 

Di lain sisi, Bintang Tenggara si Lamafa Muda, menikam deras!

“Duar!”

Sebuah ledakan terdengar membahana. Gelombang kekuatan yang tercipta dari bagi pusat pertemuan dua senjata menyebabkan angin terdorong keras ke semerata penjuru. Air berlumpur dan tetumbuhan rawa beriak. 

Laskar Segantang terkejut bukan kepalang ketika dirinya terlontar puluhan langkah ke belakang. Daun Selancar sigap menyambut tubuhnya yang terhuyung. Kedua lengan besar nan berotot bergetar keras. Ia membatukkan darah! 

Kedua mata Laskar Segantang menatap nanar ke arah depan.

“Crash!” 

Di kejauhan, tubuh Bintang Tenggara melesat jatuh tiada berdaya ke dalam rawa-rawa, ibarat sebuah meteor yang jatuh dari langit. Akibat kecepatan jatuhnya tersebut, air berlumpur dan tetumbuhan rawa menyibak tinggi ke udara. 


“Komodo Nagaradja!” sergah Ginseng Perkasa. “Mustika tenaga dalamnya meretak!” 

“Mungkin hanya sebatas ini saja kemampuan yang ia miliki…” Komodo Nagaradja terdengar ragu. 

“Tidakkah dikau dapat menghubungkan benang merah ini!?” 

“Benang merah apa!? Jangan bermain teka-teki!” 

“Kakak Tuah membekali diriku dengan pengetahuan akan Jalan Keahlian Laksamana. Ia menitipkan Akar Bahar Laksamana kepadamu. Kemudian, Nak Bintang menguasai Pencak Laksamana Laut!”

“Lalu…?” 

“Semua ini bukanlah sebuah kebetulan belaka!” Ginseng Perkasa mulai tak sabar. “Gunakan otakmu! Jangan terus-menerus bebal!” 

“Kau menghinaku!?” 

“Bukan persoalan dikau! Anak didikmu berada dalam bahaya!” 

“Bahaya lebih besar akan mengincar jiwanya di masa depan… bilamana kita bertindak gegabah!” 

“Itulah gunanya kehadiran kita! Kau dan aku. Kita akan mendampinginya selama meniti jalan keahlian ini!” Bayangan tubuh Ginseng Perkasa berteriak sampai seolah menyemburkan ludah. 

Komodo Nagaradja menganggapi dengan diam. Sepertinya ia sedang berpikir keras.

“Sekarang! Atau tidak sama sekali!”

“Hmph!” Komodo Nagaradja mendengus, sebuah kotak kayu di dalam ruang penyimpanan mustika retak miliknya terbuka. Isi di dalamnya menggeliat! 


Bintang Tenggara berada di antara sadar dan tidak. Tubuhnya tiada bisa bergerak. Dirinya merasakan terperosok demikian dalam di rawa-rawa. Perih. 

Ingatan-ingatan masa lalu berkelebat di dalam benak anak remaja itu. Senyuman Bunda Mayang… Bayangan wajah Ayahanda Balaputera yang memudar… Lamalera… Super Guru… Embun Kahyangan… Panglima Segantang… puluhan sosok berkelebat cepat secara bergantian di dalam benak. Lintang Tenggara… Kum Kecho… bayangan di dalam benaknya berubah acak.

“Sret…” 

Tetiba ia merasakan sesuatu merangsek paksa ke mustika tenaga dalam di ulu hati. Rasanya tak nyaman… Seolah menggerogoti… Meski demikian, Bintang Tenggara tiada kuasa untuk mengusir pergi. 

“Duk!” 

Bintang Tenggara merasakan kepalanya membentur sesuatu. Kesadarannya yang tinggal sedikit lagi sontak mencoba mencari tahu… Apakah ini…? Sebongkah batu di dalam rawa…?


Di atas rawa-rawa, seorang lelaki dewasa muda melayang ringan. Ia mengamati dengan seksama tempat di mana Bintang Tenggara terjatuh. Tiada dapat ia merasakan keberadaan mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 9. Sekeras apa pun ia mencoba menebar mata hati, usaha tersebut terbukti sia-sia belaka.

“Mungkingkah anak remaja tersebut adalah benar-benar Bintang Tenggara…?” Laskar Segantang terdengar ragu. Raut wajahnya kusut karena baru saja menyadari akan kemungkinan buruk. Ia telah mencabut nyawa ahli yang salah, sekaligus sahabat karib adiknya sendiri. 

Lelaki dewasa muda itu lalu mengeluarkan sebuah lencana keemasan. Segera ia mengirim pesan kepada anggota regu yang lain.


Sebuah titik kecil terombang-ambing di permukaan samudera nan luas. Tidak hanya satu, namun terdapat dua samudera yang luasnya seolah tak berbatas. Jikalau mendekat dan mencermati titik itu, maka akan kelihatan sesosok tubuh anak remaja tiada berdaya. Kerdil sekali dirinya di tempat itu. Tiada apa yang dapat ia perbuat selain memasrahkan diri. 

Jauh tinggi di atas dua samudera, langit merekah berwarna jingga.

Terkadang ia hanyut ke samudera yang berwarna kekuningan, dimana airnya terasa demikian hangat layaknya kasih sayang seorang ibunda kepada sang anak. Kini ia terbawa ombak ke samudera nan kebiruan, sejuk dan teduh. Perasaan ini sangat didamba dari seorang ayah, yang mana memberikan perlindungan serta ketenangan jiwa dan raga. 

Anak remaja itu tak dapat memutuskan. Samudera manakah yang lebih ia senangi. Oleh karena itu, ia lepaskan saja tubuhnya terbuai ayunan ombak. 

Waktu terus berlalu, namun tiada diketahui berapa lama. Si anak remaja mulai bosan. Ia kemudian berupaya menggerakkan tubuh. Tiada berdaya. Tubuhnya enggan menerima perintah, selayaknya mati rasa. Lumpuh. 

Hari demi hari berlalu. Hanya bermodalkan kesadaran, ia menebar mata hati. Akan tetapi, tiada pula dapat menjangkau menembus samudera. Ke arah mana pun itu, sunggguh tiada menemukan hasil. Tentu dikarenakan kedua samudera tersebut teramat sangat luas. 

Lelah mencoba, ia mengirim pantauan mata hati ke dalam. Perlahan ia mendapati mustika di ulu hati. Akan tetapi, sungguh pelik tiada terperi. Terdapat retakan kecil di dalam mustika itu. Apakah itu mustika tenaga dalam milikku? Jikalau benar, bukankah hal ini berarti mustika tersebut retak dan aku tiada dapat menumbuhkan keahlian dengan sempurna…?

Keresahan dan kegelisahan merambat pelan. Dimanakah ini? Bagaimana diriku sampai kepada keadaan ini? Ia membatin. Mencari-cari jawaban yang tak satu pun memberikan kepastian.  

Tetiba ia merasakan kejanggalan pada dirinya. Sedikit ragu, ia kembali menebar jalinan mata hati ke arah mustika tenaga dalam. Ia telah menerima kenyataan bahwa mustika tersebut retak, bahwa keahlian tiada dapat tumbuh dengan sempurna. Akan tetapi, betapa terkejutnya anak remaja itu ketika menyaksikan bahwa sesuatu telah tumbuh di kristal mustika di ulu hati. Warnanya hitam dengan beberapa bagian kemerahan, bentuknya mirip jalinan akar.

Sesuatu itu merambat… menggeliat… berdenyut! 

“Apakah ini!?” 

“Nak Bintang… tenanglah sejenak.” Ginseng Perkasa berujar lembut. 

Di saat yang sama, sesosok tubuh berpenampilan serba putih mengemuka. Tepat di sampingnya, satu lagi sosok yang lebih besar berwarna kemerahan menatap dalam diam. Sepertinya telah sedari lama mereka mengamati, namun sengaja tiada menampilkan keberadaan.

“Kakek Gin… Super Guru… Apa yang terjadi kepada mustika tenaga dalamku? Benarkah ia retak? Apakah ini yang tumbuh merambat!?”

Ginseng Perkasa, atau yang biasa dipuja sebagai Maha Maha Tabib Surgawi, menghela napas panjang. Raut wajahnya serius sekali. 

“Tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana, merupakan tumbuhan siluman yang memiliki sifat layaknya… parasit.”