Episode 24 - Dua Vs Tiga



Suara langkah-langkah kaki mereka terdengar semakin jauh dan terpencar, namun baik aku dan Shinta sama sekali tak beranjak dari tempat kami bersembunyi. Kami sama-sama tahu, bukan tidak mungkin orang-orang Perserikatan Tiga Racun itu sengaja menjauh dengan maksud memancing kami berdua keluar dari tempat persembunyian. 

“Terima kasih,” bisik Shinta begitu merasa orang-orang Perserikatan Tiga Racun berjarak cukup jauh dari tempat persembunyian kami.

“Siapa Perserikatan Tiga Racun? Apa kalian bermusuhan dengan mereka?” 

Shinta menggelengkan kepalanya, “Sebenarnya kami tidak bermusuhan dengan mereka, Perserikatan Tiga Racun adalah bawahan Lembah Racun Akhirat yang bermarkas di Jakarta. Sejak beberapa bulan terakhir mereka sangat aktif beraktivitas di wilayah ini. Karena itu Kelompok Daun Biru menugaskanku mengawasi mereka.”

“Hah? Bawahan Lembah Racun Akhirat?”

Aku tertegun mendengar penjelasan Shinta. Bukankah itu berarti kami telah memprovokasi Lembah Racun Akhirat, salah satu dari enam kelompok terkuat di dunia persilatan. Tapi, bukankah mereka adalah kunci menemukan kembali Kinasih? Sudah tiga bulan kami tak bertemu, dan aku sudah merindukannya…

“Apa yang mereka lakukan disini?” Meskipun aku sudah memiliki dugaan mengenai alasan mereka beraktivitas di wilayah ini, tapi aku tetap menanyakannya pada Shinta. 

Shinta tampak terdiam sambil menatapku lekat-lekat, lalu sambil menghela nafasnya, dia berkata. 

“Kau tahu tentang Sekte Pulau Arwah?”

“Ya. Sekte Pulau Arwah dihancurkan sekitar tiga bulan yang lalu.” Aku memberitahukan apa yang kutahu pada Shinta. 

“Kudengar mereka mencari sisa-sisa anggota Sekte Pulau Arwah, tapi kami curiga itu hanya kedok saja, ada hal lain yang sedang mereka rencanakan.”

“Apa yang sedang mereka rencanakan?”

“Kami juga belum tahu.”

Tiba-tiba, aku kembali mendengar suara langkah kaki yang mendekati kami. Kali ini langkahnya mengarah langsung ke tempat kami. 

“Masih belum pada datang Shin?” Aku kembali membisikkan tanya pada Shinta.

Shinta hanya menggelengkan kepalanya. Memang belum sampai lima menit kami bersembunyi di tempat ini, wajar saja jika bantuan dari Kelompok Daun Biru masih belum sampai kemari. Namun langkah kaki itu semakin mendekati kami, hanya soal waktu sebelum dia menyadari posisi kami. 

Kondisi saat itu sungguh menegangkan, kurasakan jantungku berdegup cepat dan keringat dingin mulai mengalir dipunggungku. Aku tahu Shinta juga merasakan hal yang sama denganku, karena kulihat jari-jari tangannya sedikit gemetar dan nafasnya sedikit tersengal-sengal. 

Kami memang pendekar dengan kemampuan pengolahan tenaga dalam, namun kami juga manusia biasa yang memiliki rasa takut pada kematian, wajar jika saat ini kami merasakan ketegangan yang luar biasa. Tapi aku sadar, berdiam diri dalam ketakutan tidak akan membantu mengatasi situasi yang kualami saat ini. Aku segera memperlambat tarikan dan hembusan nafasku sekaligus memfokuskan pikiranku. Aku belajar metode ini secara tak sengaja saat diculik Sadewo, sejak saat itu, aku mampu mempertahankan logika dan akal sehatku pada situasi-situasi genting. Ternyata kemampuan ini sangat berguna di dunia persilatan, setidaknya sudah dua kali aku menggunakannya hingga saat ini. Yang pertama adalah saat Sarwo dan gerombolannya menyergapku, dan yang kedua adalah saat ini. 

Setelah merasa lebih tenang, aku kembali menatap Shinta lekat-lekat, kemudian tanpa peringatan tanganku bergerak cepat menghantam tembok di depan kami. 

Bum!

Aku langsung melesat menuju orang Perserikatan Tiga Racun yang tadi kudengar langkahnya menuju ke arah kami. Dengan sebuah serangan mendadak seperti itu, dia hanya punya sedikit waktu untuk bertahan. Namun jurus iblis sesat memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan ketepatan. Dia hanya bisa sempat mundur setengah langkah sebelum tangan kananku berhasil mencekal lehernya dan mengangkat tubuhnya dengan tangan yang mencekal lehernya itu. 

Ternyata orang yang berjalan menuju tempat persembunyian kami adalah satu-satunya perempuan dalam rombongan Perserikatan Tiga Racun. Perempuan itu berontak dan berusaha melepaskankan cengkraman tanganku dari lehernya. Kedua tangannya memegang lengan kananku dan kakinya bergerak hendak menendang ulu hatiku. Tapi aku segera memperkuat cengkramanku pada tenggorokannya hingga dia kesulitan bernafas dan tak mampu lagi berontak. Wajahnya merah menyala seperti udang rebus, tapi seorang pendekar tahap penyerapan energi tingkat ketiga mampu menahan nafas setidaknya seperempat jam sehingga nyawanya ‘masih belum’ terancam. 

“Rik!” Sambil menjerit, Shinta menyusulku melesat keluar dari tempat persembunyian. 

Tentu dia tidak menyangka aku akan bertindak senekat ini, akan tetapi tetap berdiam diri menunggu persembunyian kami diketahui juga bukan hal yang bijak. Karena itu aku bertindak nekat dengan menangkap salah satu anggota Perserikatan Tiga Racun. Dan menggunakannya sebagai bargain untuk bernegosiasi. Kurasa takkan lama lagi kawan-kawannya akan muncul, mengingat posisi mereka tak terlalu jauh dari kami dan dapat dengan mudah mendengar suara yang kutimbulkan saat menjebol tembok tadi. 

Dan benar saja, tak lama berselang tiga orang dari mereka telah melesat dari tiga sisi dan langsung mengepung kami. Tampaknya orang yang pertama kali kulukai saat membokong mereka masih belum pulih dari lukanya sehingga hanya tiga orang saja yang kembali dan mengepung kami. Wajah ketiganya tampak gusar ketika melihat aku berhasil mencelakai satu lagi kawan mereka. 

“Bangsat! Lepaskan dia!”

Salah satu laki-laki dengan tingkat kesaktian tahap penyerapan energi tingkat keempat membentakku dengan keras. Namun dia sama sekali tidak melakukan tindakan apapun selain menatapku dengan mata nanar, seperti serigala bengis yang hendak menyantap domba sekaligus gembalanya. Aku menyeringai lebar melihat reaksinya, tanpa melepaskan perempuan dalam cengkramanku, aku mulai bernegosiasi.

“Biarkan kami pergi dari sini, dan akan kulepaskan perempuan ini.”

Orang-orang Perserikatan Tiga Racun itu saling pandang satu sama lain. Namun mereka sama sekali tidak menjawabku dan hanya memandangi aku dan Shinta dengan penuh nafsu membunuh.

“Kita tidak memiliki silang sengketa satu sama lain. Dan yang kami lakukan hanya mengintai kalian saja. Kurasa kita tak perlu saling bunuh hanya karena persoalan sepele seperti itu. Benarkan?”

“Eheh...” Laki-laki lain dengan tingkat kesaktian tingkat penyerapan energi tingkat keempat terkekeh pelan mendengar kata-kataku. “Kau melukai salah satu anggota kami dan menyandera seorang lagi, jika kami membiarkan kalian pergi. Orang-orang dunia persilatan akan mengira Perserikatan Tiga Racun bisa diperlakukan sesuka hati.” Lalu orang itu bergerak mendekatiku dan Shinta.

Aku tak lagi mengucapkan apa-apa, namun cengkraman tanganku pada perempuan anggota Perserikatan Tiga Racun semakin kuat. Perempuan itu tersedak dan semakin megap-megap, namun aku tak menghentikan cengkramanku. 

“Tunggu.”

Gerakan orang itu langsung terhenti, begitu pula dengan tanganku. Aku melemaskan kembali cengkraman tanganku. 

“Bagaimana?” 

“Baiklah, kalian boleh pergi dari sini. Sekarang lepaskan dia,” ujar laki-laki itu dengan rahang menggembung. 

Tapi aku tidak mau bertindak bodoh. Apa jaminannya mereka tidak akan segera menyerang kami begitu aku melepaskan perempuan ini? Sangat besar kemungkinannya mereka akan langsung menghabisi kami di tempat, begitu perempuan ini lepas dari tanganku. 

“Biarkan kami pergi dulu, baru akan kami lepaskan perempuan ini.”

“Bocah! Kau tidak mengerti situasi yang sedang kau hadapi rupanya.”  

“Sekarang, lepaskan Maya!” ujar laki-laki yang mendekatiku sekali lagi, rupa-rupanya nama perempuan yang berada dalam cengkramanku ini namanya Maya. 

“Jika kalian menggertakku sekali lagi, perempuan ini akan memiliki tambahan huruf ‘t’ pada namanya. Jadi Maya-t.” Aku tidak ingin berlama-lama dalam negosiasi ini, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Memang bantuan dari Kelompok Daun Biru sedang menuju kemari, tapi bukan tidak mungkin Perserikatan Tiga Racun juga memanggil bantuan. 

“Bocah, kau memang minta mati! Ini peringatan terakhirku, lepaskan dia sekarang!”

Sialan! Cukup sudah, orang-orang ini sedari awal memang sama sekali tidak berniat melepaskan kami. Dengan mengerahkan tenaga dalam, aku meremukkan tulang leher perempuan itu. 

Krak!

Begitu mudahnya tulang leher itu hancur ditanganku, tangan perempuan yang menggapai lemah lenganku langsung terjatuh dan tak bergerak lagi. Ini adalah pertama kalinya aku merenggut nyawa seseorang, kupikir aku akan merasa bersalah dan ketakutan. Tapi semua itu sama sekali tak terjadi, pikiranku tetap tenang dan emosiku stabil, sama sekali tak ada rasa takut dan bersalah. 

Kulemparkan mayat perempuan itu ke arah laki-laki yang barusan mengancam dan mendekati kami. Namun lelaki itu segera melompat kesamping untuk menghindari mayat perempuan itu. Akibatnya, mayat perempuan anggota Perserikatan Tiga Racun jatuh bergedebukan ke lantai. 

“Kalian menggertakku? Aku tak suka di gertak,” ujarku perlahan setelah melemparkan mayat perempuan itu. 

“Bajingan!”

Salah seorang dari mereka dengan tingkat kesaktian yang sama denganku segera menyabetkan golok ke pangkal leherku. Namun dua orang anggota Perserikatan Tiga Racun yang lain juga tidak tinggal diam. Lelaki lain yang juga memegang golok melompat tinggi dan menyabetkan goloknya dari atas kebawah, berusaha membelah dua tubuhku. Sedangkan yang seorang lagi membentuk tangannya seperti orang menunjuk dan mengarahkan jari telunjuknya ke jantungku. 

“Racun Api Kalejengking! Rik hati-hati!”

Aku sempat mendengar peringatan dari Shinta menyebutkan nama jurus pukulan yang dikerahkan orang yang jari telunjuknya mengincar jantungku. Aku segera menghindari serangan-serangan tersebut. Setelah mendorong tubuhku ke belakang demi menghindari sabetan golok ke arah batang leherku, serangan kedua yang sampai adalah sabetan golok dari atas yang hendak membelah tubuhku jadi dua. Dengan susah payah aku memutar tubuhku 180 derajat demi menghindari sabetan golok tersebut, namun aku tidak bisa menghindari serangan ketiga berupa tusukan jari telunjuk yang mengincar jantungku. 

Buk!

Shinta melancarkan tendangan pada lengan laki-laki yang mengarahkan jari telunjuknya ke jantungku. Meskipun tak menyebabkan luka parah pada orang tersebut, namun serangan Shinta berhasil membuat serangannya melenceng dari jantungku. Aku segera berkelit menyelamatkan diri dari tusukan jarinya dengan cara menjatuhkan diri lalu berguling cepat ke belakang. 

Tapi mereka bertiga tak berniat memberi kami ruang untuk bernafas, ketiganya serta merta menerjang aku dan Shinta. Kami segera terlibat dalam pertarungan jarak dekat dengan mereka.

“Rik! Jangan sampai terkena serangan mereka sedikitpun. Setiap serangan mereka mengandung racun.”

Ditengah sengitnya pertempuran, Shinta berusaha memperingatkanku. Aku sendiri sebenarnya juga sudah curiga jika serangan mereka mengandung racun. Mengingat sebelumnya mereka telah melemparkan bola-bola racun, serta nama Perserikatan Tiga Racun, mustahil jika mereka tidak menggunakan racun dalam serangan-serangannya.

Dua orang yang memegang golok menyabetkan golok mereka kearahku dan Shinta. Kami berdua sama-sama menghindari serangan golok itu dengan gerakan se-efisien mungkin. Dalam pertarungan sengit seperti ini, melakukan gerakan besar yang memakan waktu lama adalah sebuah kesalahan fatal. Karena musuh dapat memanfaatkan kesempatan melakukan serangan kedua saat gerakan menghindari kita yang pertama masih belum selesai. 

Entah mungkin karena aku telah melukai satu kawan mereka dan membunuh satu orang lainnya. Dua orang anggota Perserikatan Tiga Racun tahap penyerapan energi tingkat keempat menyerangku dengan membabi buta. Aku segera mengerahkan ‘Langkah Bayangan Iblis’ untuk mengimbangi serangan keduanya. Kedua cakar dan kedua kakiku bergerak lincah berjual beli serangan dengan kedua orang tersebut.

Jari telunjuk yang mengandung jurus sakti ‘Racun Api Kalajengking’ berkali-kali nyaris mengenai bagian-bagian vital tubuhku. Namun sejauh ini aku masih berhasil menghindari semua serangan mereka, bahkan sesekali berhasil melepaskan pukulan ke arah mereka. Pada dasarnya, kecepatan pendekar tahap penyerapan energi tingkat keempat lebih tinggi dariku yang masih berada pada tahap penyerapan energi tingkat ketiga, namun Jurus Iblis Sesat memiliki keunggulan dalam hal kecepatan sehingga rata-rata kecepatan kami tidak jauh berbeda. Bahkan aku merasa gerakanku sedikit lebih cepat dari mereka.