Episode 11 - Sepuluh

Ilmu Teluh Ngareh Jiwa


Di sebuah goa di tepi danau kawah putih puncak Gunung Patuha yang berupa, seorang gadis belia yang berparas sangat cantik nampak sedang bersemedi dengan sangat khusyuk sampai seorang nenek tua bungkuk berwajah menyeramkan menepuk bahunya “Bangunlah muridku, tapa brata tiga hari tiga malammu sudah cukup dan telah diterima oleh eyang didasar Kawah Putih, sekarang bagunlah!”

Gadis belia berparas sangat cantik yang tak lain adalah Mega Sari itu pun membuka matanya, dia lalu menjura hormat pada gurunya Nyai Lakbok, si Iblis Teluh dari Patuha “Terima kasih, Guru”.

Si Nenek itu tertawa mengkikik menyeramkan tapi Mega Sari tampak biasa saja. “Hihihi… Kau telah berhasil menguasai Ilmu Teluh Ngareh Jiwa muridku, sekarang tinggal satu lagi ujian yang harus kau tempuh, kau harus meneluh Nyai Demang Jayalodra dan seluruh Kademangan Ciwaas yang berada di kaki gunung ini dengan teluh Ngareh Jiwa”.

Mega Sari pun mengangguk mantap mendengar perintah dari gurunya tersebut. “Baik Guru, hamba akan melaksanakannya mulai malam ini juga!”

Sudah sepuluh hari Nyai Demang Jayalodra istri dari Demang Jayalodra yang memrintah di Desa Ciwaas itu sakit keras, tapi sakitnya aneh, kalau malam tiba tiba-tiba wanita cantik yang masih muda ini mengigau tak karuan bagaikan orang yang kesurupan padahal ia belum tidur. Menjelang tengah malam wanita ini selalu muntah darah yang disertai ulat-ulat bulu dan kembang tujuh rupa, dan kalau pagi hari tiba maka tampak jelaslah kalau di lehernya nampak bekas seperti tusukan-tusukan jarum, padahal saat itu Nyai Demang sedang mengandung bayi tujuh bulan, anehnya semua kejadian yang menimpa dirinya ini tidak membuat ia keguguran. 

Satu hal yang sangat aneh setiap kali Nyai Jayalodra kesakitan dan mengigau adalah hawa di kademangan itu mendadak menjadi sangat panas dan gerah, padahal desa Ciwaas yang terletak di kaki Gunung Patuha adalah desa yang mempunyai curah hujan yang sangat tinggi, maka udara di desa ini biasanya terasa dingin apalagi saat malam hari, dinginnya sampai mencucuk ke tulang sumsum, tapi setiap malam udaranya menjadi panas gerah bahkan jauh lebih panas daripada siang hari!

Demang Jayalodra yang juga masih muda yang baru saja menggantikan ayahnya menjadi Demang di desa Ciwaas sangat sedih melihat kondisi istrinya ini, berbagai dukun hingga tabib ia panggil untuk mengobati istrinya yang sangat ia cintai itu, tapi tidak ada yang berhasil mengobatinya, hingga rasa sedihnya berubah menjadi rasa takut dan panik. 

Ia mulai menuduh orang-orang yang ia anggap bersebrangan dengannya lah yang meneluh istrinya, dengan tanpa bukti yang jelas ia membantai orang-orang itu, namun sakitnya Nyai Demang masih saja berlanjut, ia jadi mulai mencurigai wanita-wanita yang iri pada istrinya, tanpa prikemanusiaan ia menjebloskan wanita-wanita yang ia tuduh tanpa bukti menaruh dengki pada istrinya. Keadaan desa Ciwaas yang asalnya tenang dan damai itupun berubah menjadi kacau, masyarakat desa mulai berontak pada demangnya sebab kelalimannya yang bertindak semena-mena menuduh orang-orang desa meneluh istrinya.

Hingga pada suatu sore di hari ke tiga belas, bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, Ki Demang sedang menemani istrinya di kamarnya, dengan wajah lesu ia terus mengusapi kepala istrinya “Kakang Demang…” panggil Nyai Demang dengan lemah.

“Apa, istriku?” sahut Ki Demang. 

“Kakang Demang… Maafkanlah aku, gara-gara aku, suasana di desa ini menjadi kacau…”

Ki Demang membelai wajah lembut istrinya yang tergolek lemah diatas tempat tidurnya itu “Sudahlah istriku, engkau tidak perlu khawatir dengan keadaan di desa ini, kau istirahat saja agar cepat sembuh”.

Nyai Demang pun mulai menangis “Apakah aku masih bisa sembuh? Jangankan agar bisa sembuh, siapa yang meneluh aku saja kita tidak tahu, bagaimana aku bisa sembuh Kakang? Semua Dukun dan Tabib yang kita panggil tidak ada yang bisa menyembuhkan aku!”

Ki Demang menggenggam tangan istrinya dengan penuh rasa iba “Tapi engkau harus yakin bisa sembuh Nyai! Saat ini kita sedang mengusahakan untuk memanggil seorang Ulama dari pesisir utara, aku yakin dengan ilmu Islamnya, ia bisa menyembuhkanmu dan membantuku menata desa ini lagi!” jawab Suaminya membesarkan hati istrinya.

Saat itu matahari mulai terbenam, berbarengan dengan terbenamnya matahari, udara mendadak menjadi sangat panas dan gerah, udara berbau bangkai langsung tercium, sontak kedua pasangan suami istri ini menjadi ketakutan “Kakang, hawa panas dan aroma bangkai ini sudah datang…”

Ki Demang langsung mendekap istrinya. “Tenanglah Nyai, berdoalah pada Gusti yang maha Esa!”

Tapi Nyai Demang malah menggelengkan kepalanya “Kakang, kita telah menerima Islam di desa ini dan masuk Islam, tapi pernahkah kita shalat dan membaca Al-Quran? Bahkan Adzan berkumandang pun tidak pernah aku dengar, kita malah mencampur adukan Islam dengan ajaran-ajaran lama leluhur kita…”

Ki Demang menatap istrinya dengan wajah keheranan, apa yang dikatakan istrinya memang benar tapi ia tidak mengerti mengapa istrinya berkata seperti itu “Maksudmu apa Nyai?”

Nyi Demang tersenyum lemas. “Maksudku kita sebaiknya mengehentikan kebiasaan mencampur adukan paham kepercayaan dan memilih apa kita ikut Islam kepercayaan baru yang dibawa oleh Sunan Gunung Jati ke desa ini atau mengikuti kepercayaan leluhur kita”.

Ki Demang menatap mata istrinya dengan tatapan penuh tanda Tanya “Sebab kalau mengikuti ajaran leluhur kita, menurut hitungan Wedal ku yang jatuh pada hari kamis Wage atau malam jumat Kliwon, aku sangat takut akan meninggal malam ini… Kakang bukankah Wedal kita sama-sama jatuh pada hari kamis Wage atau malam jumat Kliwon?” Tanya istrinya yang nampaknya sudah sangat pasrah. 

Ki Demang seolah baru teringat akan hal yang sangat penting itu “Astaga! Kamu benar Nyai!” 

Ki Demang langsung bangun dan mengambil Keris pusakanya, dia pun memanggil para pengawal Kademangan masuk ke kamarnya “Nyai tidak usah khawatir, aku akan melindungi Nyai apapun yang terjadi!” tegasnya, sambil menyalakan kemenyan dan membakar bunga tujuh rupa, ia memerintahkan pengawalnya untuk menaruh sesajen beserta nasi tumpeng dan satu tusuk bawang merah,bawang putih, dan cabai merah di gapura desa, di gerbang kademangan, dan di kamar Ki Demang sendiri.

Waktu terus berjalan, hari semakin gelap hingga saat tepat tengah malam, hawa semakin panas, aorma bangkai semakin santar tercium, suasana malam menjadi sangat mengerikan, tidak ada seorang warga pun yang berani keluar rumah melongok keluar dari jendela pun mereka tidak berani! 

Sekonyong-konyong kawanan burung gagak hitam berterbangan di atas langit Desa Ciwaas, mereka berkaokan tiada henti, ternak-ternak warga gelisah, bayi-bayi menangis, suara lolongan srigala bersahutan. Yang sangat aneh adalah tiba-tiba datang sekawanan babi hutan masuk desa itu, mereka seolah berpesta pora di alun-alun desa tepat di seberang kademangan, tapi yang paling mengerikan adalah sebuah bola api yang terang benderang bagaikan bintang jatuh melesat dan jatuh pas diatas atap kamar Ki Demang Jayalodra!

Ki Demang beserta seluruh pengawalnya yang berjaga di kamarnya tiba-tiba diserang rasa kantuk yang teramat sangat, hingga akhirnya mereka semua tertidur! Sebaliknya Nyai Demang yang tadinya tertidur tiba-tiba terbangun. Di atas perutnya berdiri seekor mahluk mungil sebesar telapa tangan orang dewasa yang wajahnya bertaring dan kepalanya bertanduk yang sangat mengerikan dan baru pertama kali ia lihat, ia pun menjerit ketakutan dan hendak membangunkan suaminya, namun ia tak kuasa menggerakan tubuhnya, sekonyong-konyong terdengarlah suara tawa seorang wanita yang sangat menakutkan!

“Siapa? Siapa kau?!” jeritnya. 

Tiba-tiba wajah mahluk mungil yang menyeramkan itu berubah menjadi wajah seorang gadis belia yang sangat cantik! Nyai Demang terkejut melihat wajah tersebut, sebab ia mengenalinya, wajah itu adalah wajah seorang gadis yang menaiki kereta kuda hitam yang ia lihat sedang mandi di hulu sungai diluar desa Ciwaas beberapa bulan yang lalu. Ia melihatnya saat ia sendiri hendak mandi di hulu sungai itu, ia mengetahui kalau gadis itu bernama Mega Sari putri Prabu Kertapati dari Mega Mendung yang desa Ciwaas ini termasuk kedalam wilayah Negara yang sedang berkembang pesat ini.

Ia mengingat kalau beberapa tahun yang lalu saat gadis ini masih kecil dan ia sendiri masih gadis, Mega Sari sering bolak-balik melewati desanya untuk ke Gunung Patuha, biasanya sekitar empat puluh hari sekali.

“Kau… Bukankah kau Gusti Putri Mega Sari? Mengapa Gusti melakukan ini padaku?” tanyanya. 

“Hahaha… Benar aku Mega Sari, putri Prabu Kertapati dari Mega Mendung, aku memang sengaja memperlihatkan wujudku pada korban yang hendak aku bunuh!” jawab Mega Sari.

“Mengapa Gusti hendak membunuh hamba? Bukankah Hamba telah bersikap cukup sopan setiap saat kita bertemu di hulu sungai desa Ciwaas ini?”

“Dengar wanita desa dungu! Aku tidak memerlukan alasan untuk membunuh siapapun! Aku seorang putri raja yang menguasai bumi yang kau pijak, dan udara yang kau hirup! Maka aku berhak untuk membunuh siapa saja yang aku suka! Hahaha…” jawab Mega Sari dengan congkak dan kejamnya. 

Nyai Demang pun menangis ketakutan “Tidak! Jangan bunuh hamba! Ampunilah Hamba Gusti Putri!” pinta Nyai Demang. 

Mega Sari tertawa mengejek. “Baik, kalau begitu bagaimana kalau aku bunuh suamimu?” mahluk mungil itu melompat keatas kepala Ki Demang yang terlelap.

“Tidak jangan! Hamba mohon jangan bunuh keluarga kami, Gusti boleh membunuh siapa saja di desa ini, tapi jangan keluarga kami!” mohon Nyai Demang.

“Apa?! Dasar Nyai Demang pengecut! Kau tidak berani berkorban sehingga kau tega mengorbankan rakyatmu!” semprot Mega Sari. 

“Hamba mohon Gusti Putri! Hamba mohon!”

Mega Sari tertawa terbahak-bahak “Baiklah kalau begitu aku tidak akan membunuhmu saja, tapi aku akan mencelakai seluruh desa Ciwaas ini dengan wabah penyakit mematikan!"

Nyai Demang semakin panik dan ketakutan, tapi apa daya tubuhnya tidak mampu bergerak, dia hanya bisa berteriak-teriak minta tolong tanpa ada yang sanggup menolongnya. 

“Tidak! Jangan! Tolong Gusti Putri! Tolooonnnngggggg!!!!”

Wajah Mega Sari menghilang, wajah mahluk itu kembali menjadi wajah iblis bertaring dan bertanduk. Mahluk magis kecil itu kembali melompat keatas perut Nyai Demang yang sedang hamil tujuh bulan. Suara tawa Mega Sari semakin keras melengkin seiring jerit Nyai Demang yang semakin keras menyayat hati, mahluk kecil itu mengangkat kedua tangannya yang ditumbuhi kuku-kuku runcing, lalu Bresss!!! Mahluk itu merobek perut Nyai Demang dan mengeluarkan bakal calon jabang bayi dari dalam perutnya, Nyai Demang pun tewas seketika itu juga. Mahluk magis itu membawa bakal calon jabang bayi menghilang bersamanya. 

Sementara keadaan di luar semakin berisik oleh binatang-binatang aneh yang tiba-tiba muncul di desa itu, babi-babi hutan, gagak-gagak hitam, kodok-kodok, anjing-anjing hutan, ular-ular berbisa seolah berpesta pora di alun-alun Desa Ciwaas yang terletak di depan kademangan.

Setelah makhluk magis mungil itu menghilang, Ki Demang dan seluruh pengawalnya terbangun, dia terkejut melihat istrinya yang telah mati dengan perut robek, ia pun menangis histeris sambil memeluk jasad istrinya. Tapi tiba-tiba ia merasakan perutnya sangat mual, ia muntah seketika itu juga, baru saja ia muntah ia merasakan pantatnya sangat panas dan mengeluarkan cairan, begitupun dengan para pengawal yang ada di sana, mereka semua muntah-muntah dan mencret-mencret saat itu juga.

Keesokan paginya, seluruh Desa Ciwaas terserang wabah penyakit aneh, kulit mereka terasa sangat gatal hingga mereka menggaruknya sampai berdarah, belum lagi mereka mencret-mencret dan muntah-muntah. Banyak yang meninggal saat itu juga termasuk Ki Demang Jayalodra yang masih muda itu. Beberapa penduduk langsung mencoba mengungsi meninggalkan desa itu namun begitu sampai di perbatasan desa, mereka langsung jatuh tergelatak mati! Hingga tiga hari kemudian Desa Ciwaas hanya merupakan desa mati, dimana-mana mayat-mayat bergelatakan, tidak ada seorang pun yang hidup selamat! Itulah kehebatan Ilmu Teluh Ngareh Jiwa!

Di atas Gunung Patuha, Mega Sari beserta Nyai Lakbok memandang ke bawah ke arah desa Ciwaas, Nyai Lakbok tertawa mengkikik menggidikan setelah melihat lewat ilmu melihat jarak jauh, musibah yang sangat mengerikan tersebut sampai seluruh penghuni Desa Ciwaas tewas dengan mengenaskan! “Bagus muridku! Kau telah berhasil menguasai Ilmu Teluh Ngareh Jiwa dengan sempurna!”.

Mega Sari menjura hormat sambil tersenyum senang “Terima kasih Guru”.

Nyai Lakbok menepuk bahu Mega Sari. “Sekarang kau boleh pulang ke Rajamandala, tapi ingatlah, setiap malam 3 bulan purnama kau harus membunuh satu bayi untuk dipersembahkan pada Eyang di alam Arwah, kalau kau lalai sekali saja lupa memberikan kurban, maka ilmu teluh Ngareh Jiwa itu akan lenyap dan meminta korban dari keluargamu sendiri, paham?!” 

Mega Sari mengangguk. “Baik guru, pesan guru akan saya ingat baik-baik!”

Setelah berpamitan, Mega Sari pun menghampiri Emak Inah dan Ki Silah yang telah menunggu di kertea hitamnya, ia pun menaiki kereta hitamnya langsung plang menuju ke Rajamandala dengan hati senang, seketika itu ia teringat pada sosok Jaka pemuda yang telah mencuri perhatiannya di Padepokan Sirna Raga “Kang Jaka… Aku tunggu kau di Rajamandala, kalau aku bisa membuat hati Ramanda Prabu senang, bukan tidak mungkin cinta kita bisa bersatu dalam suatu ikatan pernikahan!” harapnya dalam hati.