Episode 25 - Untuk Apa Kau Pamer? Semua Hanya Titipan


 Seminggu telah berlalu, selama seminggu itu Coklat telah melewati hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan kembali ke Senin, lho Minggunya mana? Minggunya dihilangkan, kenapa dihilangkan? Karena sosok malam Minggunya itu adalah malam yang menyeramkan bagi kaum jomblo. Seperti kejadian Coklat saat Sabtu sore. Di depan rumahnya, dia duduk sendiri, tidak tahu sedang memikirkan apa, tiba-tiba teman lamanya, Tiar datang menemui dia.

 “Woy, bengong aja lo?” tanya Tiar.

 “Iya nih.”

 “Orang mah malam Minggu itu jalan sama cewek, ngapel ke rumahnya habis itu ketemu bapaknya, minta izin buat nikah.”

 “Emang ini malam Minggu ya? Aduh gue enggak tahu tuh kalau ini malam Minggu.”

 Jawaban yang seperti itu sudah dipastikan dia adalah seorang jomblo, pura-pura lupa.

 Coba kalau Coklat punya cewek, pasti dia sudah bermalam mingguan ke rumah ceweknya. Ini cerita bayangan kalau Coklat punya cewek. Pas kebetulan malam Minggu, dia datang ke rumah ceweknya sambil bawa martabak telur, sampai di depan rumah ceweknya dia langsung ketuk-ketuk pintu rumah ceweknya itu, tok tok tok. Pintu dibuka, eh pas dilihat ternyata ayah dari si cewek yang keluar. Ayah si cewek itu tampannya seram, botak dan berkumis.

 “Eh kamu, mau apa?”

 “Santinya ada, Om?”

 “Ada, ya sudah kamu duduk dulu.”

 Akhirnya tuh si ayah cewek menyuruh Coklat untuk duduk, dan ayahnya si cewek juga ikut duduk.

 “Eh, Om, kok ikut duduk sih?”

 “Lha ini kan rumah saya.”

 “Oh iya, Om, lupa, hehehehe.”

 “Kamu bawa apa itu?” tanya ayah Santi sambil melihat kantong plastik hitam di tangan Coklat.

 “Martabak, Om, mau?”

 “Ya sudah.”

 Akhirnya martabaknya pun dibuka sama Coklat. Ayah ceweknya Coklat tanpa malu-malu langsung menyomot martabak.

 “Hmmm enak ya?”

 “Iya, enak lho, apalagi kalau gratis,” ucap Coklat dengan kemanyunanan di wajahnya, Haduh, gue malah pacaran sama bapaknya, heh, dalam hati Coklat.

 “Hohoho, tahu saja kamu, Nak.”

 Akhirnya tuh malam Minggu, Coklat malah apel sama ayah ceweknya. Dari pertama datang sampai jam 12 malam mereka akrab duduk di depan rumah.

 ***

 Masa momba sudah Coklat lewati, pagi ini sekarang dia sudah kembali ke kampus untuk belajar seperti biasa. Penampilan Coklat di kampus engga cukup menjanjikan sebagai orang yang dibilang pintar. Dia memakai headset di kedua telinganya, pakai celana jin, karena pakai celana jin, jinnya sekarang enggak pakai celana. Jinnya ngambek, sekarang lagi mojok di pojokan kamar sambil meringis.

 “Sialan celana gue dipakai sama si Coklat, uh uh uh.”

 Mulai cerita yang aneh-aneh. Selain memakai yang dua tadi, dia juga memakai switer dan juga sandal jepit, ya ampun. Melihat penampilan yang seperti itu, apakah dia pintaaar? 

 “Tidaaaaaak.” 

 Coklat, Ival dan Arul sedang duduk-duduk di depan kelas bersama para mahasiswa baru yang lainnya juga. Para mahasiswa cewek yang melihat Coklat berpenampilan seperti itu langsung menaruh rasa ilfeel.

 “Itu siapa? Dia mahasiswa prodi mtk juga? Hadeh-hadeh, enggak salah tuh masuk,” ucap Yuni, seorang mahasiswi berpenampilan solehah memakai jilbab putih.

 “Enggak tahu, Yun, apa dia salah masuk jurusan ya?” ujar teman di sebelahnya yang bernama Fia, dia juga sama kayak Yuni pakai kerudung.

 “Aku juga enggak tahu, Fi, Yun, kayaknya sih iya dia salah jurusan,” ujar Ival yang sama kayak mereka berdua pakai kerudung.

 Hah?! Itu kan Ival, kenapa dia pakai kerudung kayak cewek?

 “Ya, aku sengaja pakai kerudung, biar dianggap cowok solehah.”

 “Iiiiiiih.” Cewek-cewek langsung menjauhkan diri dari Ival.

 ***

 Mereka masih menunggu bel tanda masuk kelas, saat masih menunggu tiba-tiba datanglah seorang cowok ganteng yang berusia 20 tahunan, berpenampilan rapih, memakai kacamata, memakai kemeja lengan panjang, bajunya dimasukkan ke dalam celana, celananya juga celana bahan berwarna hitam, rambutnya cepak-cepak gitu enggak acak-acakan seperti Coklat, Ival dan juga Arul.

 Nama pemuda itu adalah Idik, dari penampilannya yang terlihat kalem dapat dipastikan dia adalah sosok mahasiswa pandai. Dengan senyuman yang membuat para mahasiswi-mahasiswi klepek-klepek, Idik menyapa mereka semua.

 “Hy, boleh aku duduk di sini?” 

 “Boleeeeeh,” serentak para mahasiswi.

 Idik pun duduk di samping Yuni, hal itu membuat iri para mahasiswi lainnya. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan orang ganteng seperti dia, para mahasiswi pun mengerubungi Idik. Saat Idik dikerubungi oleh para mahasiswi kampus, pemandangan berbeda terlihat diketiga cowok amburadul itu sebut saja, ah pasti kalian sudah mengenalinya, jadi enggak perlu lah disebutkan. Muka mereka bertiga tampak layu, ketika cowok yang bernama Idik dikerubungi sama cewek-cewek cantik, mereka malah dikerubungi lalat.

 “Hadeh, kita bertiga sudah kayak apa tahu ya dikerubungin lalat,” keluh Coklat.

 Selang beberapa saat seusai mata kuliah selesai, Coklat sengaja membawa massa untuk berdemo di depan rumah sang penulis karya ini. Mereka semua berorasi menyuarakan suara hati Coklat.

 “Turunkan penulisnya! Tokoh utama seharusnya dapat peran yang enak! Turun turun turun!”

 Saya sebagai penulispun keluar dari rumah dan langsung menantang mereka.

 “Maju lo kalau berani!” teriak saya.

  Dan mereka pun semuanya maju mengeroyok saya. Baght bught baght bught! Saya pun bonyok.

 ***

 Kembali ke jalan cerita yang benar. Siapa Idik? Kenapa para mahasiswi begitu mengaguminya? Apa saja keistimewaan dari seseorang yang bernama Idik? Temukan jawabannya, kalau enggak ketemu jawabannya nanti Anda pasti enggak akan tahu.

 Ketika Idik dikerubungi oleh para mahasiswi kampus ini, ya mulai dari anak kecil yang berusia lima tahun sampai nenek-nenek yang tadinya mau mati tapi enggak jadi, alias menunda dulu. 

 “Oh iya, aku kan masih kecil belum mengerti sama yang namanya cowok ganteng,” kata anak kecil.

 “Lha kalau gue mah boleh deketin brondong kayak begini, Cu,” kata nenek-nenek.

 Ya pokoknya ketika Idik dikerubungi sama cewek-cewek, dia langsung update di facebook, twiter, instragram, line, Whatsap, BBM, solar, bio solar, premium, gas 3 kg dan12 kg.

 “Cowok ganteng dah biasa dikerubungi sama cewek-cewek cantik,” update Idik di medsos.

 Nah pas si Idik update kayak gitu, si nenek-nenek yang juga mengerubungi dia pun langsung klepek-klepek dibilang cantik sama si Idik.

 “Aduh, ini si cucu bilang gue cantik.”

 Enggak berapa lama dalam hitungin detik, Idik langsung meng-edit statusnya di medsos.

 “Cowok ganteng dah biasa dikerubungi sama cewek-cewek cantik. Cewek cantik ya bukan nenek-nenek.”

 Si nenek-nenek itu pun kecewa, dia langsung pergi begitu saja dari kerumunan para cewek yang masih mengerubungi Idik. Saat nenek-nenek itu pergi berlari, si nenek menengok kembali ke arah Idik, berharap Idik memanggil namanya.

 “Yah, dia enggak manggil gue, huft.”

 Ya Idik itu adalah sejenis orang yang suka pamer. Ketika dia mendapat hal-hal yang baru dia selalu pamer dan update di sosmed. Ketika dia mendapatkan sebuah motor baru, dia langsung update di sosmed.

 “Motor baru aku nih....” Padahal ada kelanjutannya, “... boleh nyolong dari dealer untung saja enggak ketahuan sama yang punya dealer.”

 Karena update kayak begitu, keesokan harinya polisi datang ke rumah dia.

 Itu baru motor, nah ini dia update pas dapat laptop baru.

 “Laptop baru nih....” Padahal ada kelanjutannya juga, “... boleh bobol toko elektronik.”

 Keesokan harinya polisi lagi-lagi datang ke rumahnya.

 Nah sekarang dapat cewek baru.

 “Cewek baru nih….” Ada kelanjutannya juga lho, “... baru jadi nenek-nenek.”

 Keesokan harinya, Idik langsung merit sama tuh nenek-nenek. Nah kalau dilihat dari statusnya, sebenarnya dia itu pintar apa keblinger sih?

 ***

 Sekarang Coklat dan para mahasiswa lainnya sudah memasuki kelas, mereka lagi belajar mata kuliah Matematika Dasar. Coklat, Arul dan Ival duduk di belakang, sementara Idik duduk di depan. Ya biasalah, dia kan pintar. Bel masuk sudah berbunyi tadi, dosen yang mengajari mereka pun masuk, masuk kemana? Ke kelas lah. Dosennya yang mengajari mereka itu adalah sosok manusia, ya kenapa sosok manusia? Karena kalau dari sosok jin atau hantu para mahasiswa diyakini akan kabur dari kampus. Sosok dosennya ini lumayan ganteng, dia adalah laki-laki, kenapa laki-laki? Karena dia bukan perempuan. Pak Dosen pun masuk, dan ketika dia masuk, Pak Dosen berarti tidak sedang di luar, kenapa tidak di luar? Karena dia sudah masuk ke dalam. Dari tadi pertanyaan dan jawabannya enggak ada yang berbobot.

 Mereka yang hidup di dalam kelas ini semuanya adalah mahasiswa, jreeeng! Gitar berbunyi, dari tadi enggak ada kalimat yang berbobot! 

 Di dalam kelas para mahasiswa sedang belajar Matematika Dasar. Sebelum memulai pelajaran itu, Pak Dosen bertanya kepada mahasiswanya.

 “Anda tahu apa itu Matematika Dasar?”

 “Wah si Bapak, nuduh kita ini tahu. Bapak ini jangan asal nuduh, bahaya,” sahut Coklat.

 “Saya ini hanya bertanya kepada Anda, saya tidak menuduh.”

 “Lha si Bapak. Bapak saja enggak tahu Matematika Dasar, bagaimana mau mengajari kita, Pak?” lanjut Coklat.

 “Hadeh, Anda ini. Saya itu mengetes kalian, apakah kalian tahu atau tidak?”

 “Lha si Bapak ini aneh-aneh saja, lha kita belum menerima materi sudah main tes-tes saja, bagaimana sih?” 

 “Sabar-sabar,” ucap dosennya sambil mengusap-ngusap dada.

 Untung saja tuh dosen sabar, kalau enggak wah usdah tinggal nama tuh Coklat. Enggak mau berdebat sama mahasiswanya, dosen itu pun memulai materi Matematika Dasar. Dia memegang spidol di tangan kanannya dan langsung saja menulis judul “Matematika Dasar.”

 “Ok mahasiswa, pada pertemuan pertama ini, saya akan membahas apa itu Matematika Dasar. Matematika Dasar itu adalah matematika yang ngeselin. Contohnya seperti ini, ada anak yang lagi belajar mtk terus dia kesal karena soalnya susah, langsung saja dia marah-marah. Matematika dasarrrr! Wkwkwkwkwk,” kata Pak Dosennya sambil ketawa.

 “Wkwkwkwkwk lucu wkwkwkwk!” Mahasiswa di kelas ini pada ngakak.

 “Sudah bercandanya, kita kembali ke matdas, saya akan menerangkan apa itu matdas.”

 “Ummm, Pak,” Coklat tunjuk jari.

 “Iya kenapa?”

 “Ini kan bukannya sudah terang, Pak? Nanti kalau tambah diterangin bakalan silau.”

 “Hadeh kamu lagi, maksud saya itu menjelaskan kepada Anda,” kata dosen itu menundukkan kepala.

 “Wah kalau begitu Bapak menuduh saya enggak bisa dan enggak paham tentang matdas!” Coklat ngotot.

 “Ya ampun susah ya bicara sama kamu.”

 “Lha susah bagaimana? Bapak itu bisa bicara sama saya.”

 Mendengar omongan seorang Coklat membuat Idiq sedikit kesal karena terganggu oleh ocehan-ocehan yang enggak berarti, Idik langsung menyuarakan apa kata hatinya.

 “Hey kamu! Kamu bisa diam enggak?!” kesal Idik.

 “Lha dari tadi saya diam saja kok di tempat duduk ini, enggak kemana-mana suer deh. Kalau enggak percaya tanya saja sama teman-teman, iya enggak?”

 “Iyaaaa,” sahut mahasiswa lainnya.

 “Iiiiiih maksud gue tuh, lo enggak usah komentar yang enggak penting kayak gitu.”

 “Kamu ini menuduh saya berkomentar, saya itu hanya bertanya kepada pak dosen, hadeh-hadeh.”

 “Iya tapi pertanyaan lo itu enggak berbobooot!”

 Akhirnya karena engga sanggup meladeni orang kayak begitu, waktu dipercepat atas permintaan Pak Dosen dan juga Idik. Pak Dosen dan seseorang bernama Idik itu melambaikan tangan ke kamera.

 “Pak, saya sudah enggak kuaaaat!”