Episode 36 - Alzen Has a Fan?


"Oh, disini kau rupanya?"

“Huh!?” Leena langsung waspada, “Siapa disana!” pedangnya ia genggam erat-erat untuk bertindak secepat mungkin bila ada serangan datang. 

"Nicholas!?” Leena tak habis pikir. “Kenapa kamu disini?" 

"Hoo... memangnya tak boleh ya?" jawab Nicholas dengan sikap masa bodoh sambil mengangkat bahunya. "Sebenarnya, aku kesini untuk bicara denganmu sebentar. Tapi tolong, wajahmu tak usah seserius itu. Seolah-olah aku ini bandit di matamu."

"Kalau aku lengah sedikit saja, bisa-bisa kau meng-cast Dream Catcher padaku saat ini juga." tatap Leena dengan kuda-kuda pedangnya. Ia sangat berhati-hati sekali. "Seperti yang kau lakukan pada anak Ignis itu. Dan buruknya, aku tak bisa lepas dari sihir-mu itu, karena aku disini seorang diri saja."

"Yang benar saja? Kau berbeda dengan cewek lemah itu.” balas Nicholas dengan mengibas-ibas tangannya. ”Meski kondisinya sudah pas sekalipun. Kau ini Leena, tingkatanmu jauh berbeda dengan wanita rambut merah yang tadi siang."

Tak menggubris basa-basinya, Leena langsung membalas to the point, "Kenapa? Kau mendapat sanksi kan? Apa sanksi-nya?"

"Hehehe... kau betul-betul peka terhadap detail ya," jawab Nicholas sambil tertawa pelan. "Tidak ada... tidak ada sanksi sama sekali buatku."

"Pembohong!" sangkal Leena. "Sihir-mu di banned kan? Kau tak boleh menggunakan sihir itu pada siapapun kecuali kriminal kan?"

"Wow!" Nicholas terpukau sambil tepuk tangan.

Prok! Prok! Prok!

Nicholas berjalan mendekati Leena perlahan-lahan. "Prediksi-mu benar semuanya... aku heran, intuisi-mu kuat sekali ya?"

"Jangan mendekat, pria bermuka dua."

"Cih, tidak sopan sekali kau memanggilku begitu," Nicholas seketika geram karena tersinggung. "Aku dari keluarga terpandang, menentukan persepsi orang terhadapku itu penting."

"Tak berlaku bagiku, yang dari kecil. Satu sekolah denganmu."

"Ya... memang merepotkan sih,” Nicholas geleng-geleng kepala dan mengangkat bahu. “Sejak kecil kita sudah saling bersaing menjadi yang nomor 1."

"Hmph!" senyum Leena dengan menyindir. "Tapi seringnya aku yang menang."

"Diam kau..." katanya dengan suara pelan namun nadanya kesal, tatapan Nicholas seketika berubah menjadi serius, dibalik kacamatanya yang mengkilap, bagaikan ada amarah yang ditahan. "Pastikan kau jangan sampai kalah dengan anak kampungan itu. Biar di final nanti, aku yang habisi kamu saat itu juga."

"Haa? Kau sehat?" sindir Leena. "Kau tahu betul kan? Kalau Elemen Cahaya, lebih kuat 3 kali lipat melawan Elemen Kegelapan. Aku tak akan-"

"Wanita sialan..." geram Nicholas dengan hati panas dan kertakan gigi. "Kutunggu kau di final nanti."

"Hee... kau yakin bisa menang melawan Lio terlebih dahulu?" sindir Leena lebih dalam lagi, kewaspadaannya hilang. Ia lebih menikmati memanas-manasi Nicholas.

"Tentu saja!" amarah Nicholas sudah tak terbendung lagi, ia lampiaskan dengan nada yang meledak-ledak. "Kau akan menyesal telah berkata begitu!"

"Baik, kutunggu kau di Final nanti." Leena tersenyum menyindir, menerima tantangan.

"Awas, jangan sampai kau kalah dengan anak miskin dan kampungan dari West Greenhill itu."

"Hoo... tidak disangka-sangka, tahu darimana kamu tentang asal-usul Alzen? Ahh... jangan-jangan..." sindir Leena yang makin menjadi-jadi, tapi sebetulnya Leena semakin menikmatinya.

"Kau ini cari mati ya!" marah Nicholas dengan urat di kepalanya dan tangan yang sudah terbungkus kobaran api berwarna hitam pekat.

"Hahahaha..." Leena tertawa dengan senang sekali, "Haha, aduh... Anak ini, mudah sekali dibuat marah."

"Brengsek!" Bentak Nicholas. "Kau sengaja ya!"

Kresek! Kresek!

"Grrr..."

"Hei, kau dengar sesuatu?" tanya Leena, memastikan apa yang ia dengar barusan, didengar juga oleh Nicholas.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kita bertarung saja disini, saat ini juga!"

"GRRR..." terdengar suara serigala datang mendekat, yang suaranya semakin lama, semakin jelas.

"Sesuatu mendekat, jangan-jangan..."

Lalu muncul sesosok serigala setinggi 5 meter, dengan eyepatch di mata kiri-nya. Keluar dari balik gelapnya malam. Diikuti 8 serigala normal lainnya yang berjalan di belakang pemimpinnya ini.

"Ternyata benar," tukas Leena. "Alpha Wolf yang dicari-cari itu, ternyata ada disini." kemudian, tanya Leena sambil terus waspada dengan gerak-gerik Alpha Wolf itu. "Nicholas, bisa kau bantu aku?"

"Aku tak peduli denganmu, aku cuma peduli dengan keselamatanku sendiri."

"Terserahlah! Kalau kau mau selamat, tak ada cara lain selain melawan. Lari adalah ide buruk, jika lawannya adalah Alpha Wolf."

"Haha! Siapa yang mau lari? Kau saja sana, kau kan cepat. Cepat untuk melarikan diri."

"Ohh, kau menyindir?" tatap Leena dengan ekspresi menyebalkan.

"Sebetulnya, ini kesempatan untuk aku mengetes," kata Nicholas dengan senyum jahat. "Apa sihir ini, berlaku juga untuk seekor monster sebesar ini?"

“Haa? Jangan bilang-“

“Hahahaha! Biar kucoba disini!” Nicholas mengulurkan tangannya ke depan, dan...

"DREAM CATCHER !!"

Auuuuu... uuuuu... uuu...

***

Pagi hari, Alzen baru saja siuman.

"Adududuh..." Alzen bangun dari tempat tidurnya dan merasa letih sekali, hingga seluruh tubuhnya menjadi sulit digerakkan. Rasanya seperti nyeri akibat olahraga berlebihan. Hal-hal demikian adalah yang tak bisa disembuhkan healer pada umumnya.

"Pak Lasius, Pak Lasius!" sahut suster keluar, seketika melihat Alzen terbangun. "Anak didikmu sudah siuman."

"Benarkah!?" Lasius langsung buru-buru masuk dengan perasaan lega. "Alzen!? Syukurlah." Lasius langsung memeluknya saat itu juga.

"Adududuh... sakit pak, jangan dipeluk keras-keras."

"Bodoh!" tepuk Lasius dengan keras.

"Aww! Sakit tahu pak."

"Kami sudah menunggumu sampai pagi, kau tak tahu betapa senangnya kami ketika mendengar kau sudah sadar."

"Kami? Memangnya...?"

"Hai Alzen, akhirnya sadar juga kamu!" sahut Chandra yang muncul dari belakang Lasius. "Kalau gak sadar-sadar juga, aku pukul kau!"

"Hehe... terima kasih Chan,” Alzen tertawa kecil. “Tapi kau jangan memukulku ya. Karena aku sudah sadar."

"Begitu? Begitu saja reaksimu?" Chandra seolah tak terima jawaban dari Alzen, ia menghampirinya dan bertatap muka dari dekat untuk bicara langsung. "Kau habis dipukul Joran sampai koma kemarin, dan takut kalau aku pukul? Kau benar-benar sudah gi-"

"Bu-bu-bukan begitu, bukan begitu maksudku. Adududuh! Badanku masih sakit semua nih." jawab Alzen canggung. "Pukulan apapun jadi 3 kali lebih sakit dari seharusnya."

Lalu sahut para anak-anak Ignis lainnya, yang tidak ikut bertanding di turnamen.

"Hai Alzen! Syukurlah kau sudah siuman."

"Hai Alzen! Kami sudah menunggu dari malam sampai pagi loh..."

"Alzen! Kau sudah buat kami khawatir semalam suntuk tahu!"

"Haha... terima kasih teman-teman. Maaf telah merepotkan kalian." jawab Alzen mengapresiasi perhatian mereka padanya. Meski dalam hati, jujur saja Alzen merasa canggung. Karena ia biasanya tak pernah dikerumuni orang sebanyak saat ini, yang mendukung dan memberikan semangat padanya. "Ohh iya!? Lio dan Ranni mana? Mereka tidak disini?"

"Tak perlu kau pikirkan, mereka baik-baik saja." jawab Lasius yang terpaksa berbohong. "Sebentar lagi kau akan bertanding. Akan dimulai 3 jam lagi, Kau masih sanggup bertanding atau tidak?"

"3 jam lagi? Sanggup kok, sanggup." jawab Alzen sambil mengangguk. "Kalau begitu, aku mau keluar sebentar dulu. Coba gerak-gerakin badan."

"Alzen, tak perlu memaksakan diri. Kau boleh tidak bertarung kok."

"Maaf pak, tapi aku masih sanggup." Alzen berdiri dan dengan berjalan seperti orang pincang.

"Alzen, tolong pertimbangkan baik-baik keputusanmu." Lasius mencoba mengubah keputusan Alzen. Raut wajahnya sedih, takut-takut kalau Alzen terluka, lebih parah lagi.

"Baik pak-"

"...?" Mendengar itu, Lasius dibuat terkejut. Raut wajah putus asanya tadi, memiliki harapan kembali.

"Kalau aku tak bisa gerakkan badanku dengan sepenuhnya. Aku tak akan bertanding. Tapi kalau masih bisa. Aku akan tetap bertanding." katanya sambil berjalan keluar ruang rawatnya.

Lasius menepuk dahinya setelah Alzen keluar dari ruang perawatannya.

"Hai Alzen!" sahut gerombolan anak muda seketika Alzen keluar dari ruangannya.

"Haa?" Alzen dibuat bingung, melihat banyak sekali orang menunggunya untuk sembuh. "Ka-kalian siapa?" pertanyaan itu, Alzen lontarkan karena selain wajah mereka asing baginya. Tak satupun dari mereka yang mengenakan jubah pelajar Vheins.

"Kami fans kamu Alzen!"

“Benar! Kami adalah Zeniac! Fans setiamu!”

"F-Fans? Zeniac? Haa?” Alzen bertanya dalam keadaan tidak tahu apa-apa. "HAA!? FANS!!?” Alzen terkejut sekali sekalipun agak terlambat. “Fans apa?! Sejak kapan aku..."

"Kami menjadi fans kamu Alzen, karena waktu melawan wanita besar berotot itu. Kamu bertarung dengan sangat hebat dan keren! Sejak saat itu, kami jadi nge-fans sama kamu!"

"Iya... Alzen! Kami fans-mu."

"Haa? Apa?" Alzen tak sanggup menerima popularitas tiba-tibanya ini. Ia mengusap-usap mata, mencubit pipinya keras-keras untuk meyakinkan bahwa yang dialaminya ini adalah nyata.

"Alzen tanda tangan dong!"

"Alzen lihat sini dong!"

"Alzen sini dong!"

"Tunggu-tunggu..." Alzen canggung dan langsung melarikan diri. "Hwaa! Beri aku waktu untuk berpikir!"

"Yah... kok dia pergi."

"Alzen tunggu aku!"

Mereka kemudian mengejar Alzen beramai-ramai.

Sementara itu, Chandra mendengar semua teriakan anak-anak muda itu dengan hati panas. "Anjir... Alzen langsung nge-top banget. Malah fans ceweknya cakep-cakep lagi. Aku kan juga mau..." katanya dalam hati.

"Haduh... aku sudah minta mereka untuk pulang," kata Lasius dengan menghela nafas. "Tapi mereka terus saja memaksa, dan malah mengolok-olok aku, ketika aku suruh pulang."

Namun ada satu yang terlupa, sebuah buku catatan kecil diatas meja. Masih tetap di posisi yang sama. Buku titipan Hael ke Alzen, tak sampai pada orangnya.

***

Alzen berlari keluar menuju lapangan kelas, yang biasa digunakan anak Ignis untuk berlatih. Pilihan tepat, karena di lapangan ini, tak ada yang boleh masuk jika bukan pelajar Vheins atau memiliki kepentingan tertentu.

"Hosh... hosh... aduh capek." Alzen berhenti dengan nafas tersengal-sengal dengan masih mengenakan baju rawatnya. "Oke... oke... hosh...hosh...” Alzen menenangkan diri sejenak sambil berkata dalam hati. “Maaf ya... bukannya aku tak menghargai antusiasme mereka. Tapi aku tak pernah dikerumuni orang sebanyak itu sebelumnya. Aku tak siap dan kaget sekali."

Alzen menarik nafas sejenak. "Oke! Sekarang aku setidaknya bisa fokus pemanasan. Mungkin aku tidak harus menang. Tapi aku tak mau menyerah sebelum bertanding." ucap Alzen pada dirinya sendiri dengan hati teguh. “Secara tidak langsung, gara-gara mereka juga aku jadi tahu, aku masih kuat lari sekalipun badanku sakit semua.” 

Alzen mencoba meng-cast sihir dari semua elemennya, sambil menggerak-gerakan tubuhnya. Ketika menggerakkan tubuhnya, Alzen bersikeras menahan rasa sakit ketika ia bergerak. Ia lakukan terus menerus hingga terbiasa dan lupa akan rasa sakitnya, sekalipun ia tetap merasakannya.

"Seingatku, aku babak belur dibentur ke lantai arena deh. Tapi, tak ada darah maupun luka sedikitpun di seluruh tubuhku. Lecet-lecet mungkin masih ada. Tapi benar-benar jauh dari apa yang kupikirkan. Ini karena apa ya? Aku tanya pak Lasius nanti saja, aku cuma punya waktu kurang dari 3 jam nih."

Alzen kembali fokus meninju, melompat, menendang dengan gaya bertarung sihir tiga elemennya. Bagaikan berakrobat di tengah lapangan luas yang sering digunakan Lasius untuk melatih anak-anak Ignis secara fisik.

***

Waktu pertandingan turnamen-pun, akhirnya tiba. MC membuka dengan memberikan sambutan meriah,

"Selamat datang, di turnamen Semi-Final... VHEINS BATTLE ARENA !! MANA SUARANYA?!!"

"WOOOO !!"

***