Episode 19 - Tidurlah Untuk Selamanya


Focarol merasa sangat putus asa, serangan terkuatnya bahkan tidak mampu untuk menggores sisik dari Fafnir. Dia terdiam membatu sambil menyaksikan kepingan pedang yang telah ia gunakan untuk menyerang jatuh berserakan. 

Focarol tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan Fafnir. Dia dihempaskan oleh kenyataan bahwa dia memang lebih lemah dari naga perkasa itu. Dia melihat naga itu membuka rahangnya, banyak gigi-gigi tajam berbaris dengan rapi, dan dalam sekejap, dia tertelan dalam tubuh Fafnir.

Apa yang dia lihat di dalamnnya adalah kegelapan total, tidak ada setitik pun sinar yang dapat dia tangkap. Namun, setidaknya dia masih hidup. Dia bangkit.

Masih ada harapan.

Dia berjalan dan meraba sekitar, apa yang dapat dia sentuh hanyalah sebuah tembok daging yang penuh dengan cairan kental yang setiap kali dia sentuh dapat membuat tubuhnya meleleh. Namun, berkat devil heart yang masih dia aktifkan, dia mampu untuk bertahan. Akan tetapi tidak untuk pakaiannya.

Dia masih berjalan tanpa arah, mencoba mencari jalan keluar. Kedua ujung bibirnya terangkat pada wajahnya yang menahan rasa sakit. 

Di tengah mencari harapan, senyum muncul.

Memang hanya sesaat, tapi pengalaman ketika dia menghindari hujan bola api dari Fafnir masih terekam dengan jelas dalam benaknya. Pengalaman ini juga menyadarkannya tentang cara hidup di dunia ini.

Dengan memiliki kekuatan yang luar biasa, kau dapat memiliki segalanya.

Dia masih menelusuri bagian dalam tubuh Fafnir yang dan menyadari sesuatu, di sini tidak ada sisik yang melindunginya. Dia memiliki sebuah pemikiran gila, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Dengan sangat cepat, dia menggigit daging Fafnir. Mengunyahnya mentah-mentah, lalu menelannya. Aliran energi membanjiri tubuh Focarol, dan membuat dia merasa sangat bersemangat. Namun, karena banyaknya energi itu, tubuh Focarol tidak mampu menahannya dan membuat dia terluka. Darah keluar dari semua lubang di tubuhnya.

Akan tetapi, dengan devil heart yang masih aktif, luka itu langsung sembuh.

Dalam kesakitan dan kepuasan karena energi yang melimpah, tubuh Focarol menjadi lebih kuat dan tangguh ketimbang sebelumnya. Sementara dia masih terus mengunyah dan menyerap energi itu, tubuhnya kini dilapisi dengan darah. Dia kini terlihat seperti iblis sungguhan.

Setelah lama Focarol melakukan hal itu, kini dia merasa sangat kenyang. Oleh daging Fafnir dan energinya. Dia mengepalkan tangan lalu menghantamkannya. Tubuh Fafnir terguncang dengan serangan yang datang dari dalam tubuhnya, dia mengaum dengan sangat ganas sambil menembakan bola api. 

Namun, Focarol yang berada di dalam tubuh Fafnir masih terus menyerang Fafnir.

“Ini akibatnya, jika makanan yang kau makan, tidak kau kunyah dengan baik.” Ucap Focarol sambil terus memukulkan tinjunya pada Fafnir.

Tubuh Fafnir berguncang hebat setiap kali pukulan Focarol mendarat dan membuat dia menjadi semakin marah. 

Setelah lama menyerang, akhirnya dia melihat sebuah titik cahaya dari bagian atas. Focarol membentangkan sayapnya dan melesat pergi. Ketika dia keluar, dia melihat seisi ruangan yang telah hancur karena dibombardir oleh serangan dari Fafnir.

Dia menoleh ke arah tertentu dan melihat pemimpin pasukan lainnya, Vaberian, sedang terbaring di tanah dan terluka cukup parah. Sebuah bola api mengarah padanya, kemungkinan besar jika dia terkena serangan itu, dia pasti akan langsung binasa.

Dengan sangat gesit, Focarol mengepakan sayapnya dan tidak butuh waktu lama, dia mendahului bola api itu dan berdiri di hadapan Vaberian. Dengan sebuah pukulan, dia menghancurkan bola api itu hingga hancur tanpa tersisa.

Saat melakukan itu, Focarol tampak sangat perkasa dan hebat, tapi sayang, karena dia tidak memakai sehelai pun pakaian, dia malah tampak seperti orang mesum yang sedang narsis.

Sorcas yang melihat ini tampak terkejut, tidak pernah dalam benaknya berpikir bahwa Focarol akan selamat setelah di telan oleh Fafnir, “Bagaimana caranya kau masih bisa hidup?”

“Haha, bagaimana mungkin aku akan kalah oleh kadal raksasa in? Aku memang sengaja ditelan olehnya, agar aku bisa menyerangnya dari dalam.” Jawab Focarol yang masih telanjang.

Fafnir melihat Focarol yang dapat bertahan hidup setelah ditelannya, dia merasa sangat murka dan berang, “Dasar iblis rendahan, kau benar-benar licik.” 

“Tentu saja, lagi pula aku ini adalah iblis.” Sahut Focarol lalu terbang menuju Fafnir sambil mengepalkan tinjunya.

Fafnir melihat Focarol yang akan menyerangnya dengan tangan kosong, menyaksikan ini, dia merasa apa yang dilakukannya sangat lucu dan kemudian berkata, “Haha, dasar ibliss rendahan, seranganmu tidak akan mempan padaku.”

Sudah terbukti dalam banyak pertarungannya, selain pedang gram, tidak ada yang dapat menggores sisik tangguh milik Fafnir. Jadi Fafnir merasa apa yang ingin dilakukan oleh Focarol sangat menggelikan. Menyerang dengan tangan kosong? Dasar iblis bodoh.

Namun, kenyataan berbicara lain. Saat pukulan Focarol mendarat pada tubuh Fafnir yang dilindungi oleh sisik yang tangguh, tidak seperti apa yang Fafnir bayangkan sebelumnya, serangan itu ternyata berhasil melukai sisiknya dan membuat dia sedikit kesakitan.

Kedua ujung bibir Focarol mengembang, lalu dia dengan semangat terus menghantamkan kepalan tangannya pada tubuh Fafnir. Kali ini, serangannya dapat membuat Fafnir kerepotan, karena dia tidak seperti yang sebelumnya lagi. Dengan melahap daging Fafnir yang penuh dengan energi melimpah, kini kekuatannya menjadi lebih dahsyat.

Sorcas dan Vaberian melihat pemandangan ini dengan takjub. Sang naga perkasa, Fafnir, yang sebelumnya telah diserang bahkan dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mampu melukainya sedikit pun. Sedangkan Focarol yang hanya bermodalkan tangan kosong, ternyata mampu melukainya.

Ini sangat tidak masuk akal. 

Menggelikan.

Yang mereka tidak ketahui adalah, saat ini, meskipun tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya Focarol menahan sakit yang amat sangat karena menahan energi yang sangat berlimpah setelah melahap daging Fafnir. Tubuhnya terus menerus beregenerasi karena devil heart yang bahkan sampai saat ini masih dia aktifkan.

Namun, jiwanya sedikit demi sedikit mulai lenyap.

Selalu ada akibat dari setiap tindakan.

Meskipun begitu, Focarol tahu, mungkin saja setelah pertarungan ini selesai, dia akan menghilang. Tapi dia tidak peduli, karena setidaknya dia sudah menyelamatkan banyak jiwa yang lain dengan mengorbankan jiwanya sendiri.

Fafnir yang terluka karena serangan Focarol merasa sangat berang, sebelumnya tidak ada yang dapat melukainya, harga dirinya yang terus berkata bahwa dia adalah mahluk terkuat menderita rasa malu, dia dengan marah meraung sembari mengibaskan sayapnya, mencoba untuk membuat Focarol menjauh.

Focarol terkena serangan angin dari kibasan sayap Fafnir, tapi kali ini dia tidak menerima luka apapun. Saat ini tubuhnya menjadi lebih tangguh ketimbang sebelumnya, meskipun dia telanjang.

Hasrat membunuh Fafnir berada pada puncaknya, rasa malu yang dia dapatkan karena terluka oleh serangan Focarol terlalu berat untuk dia tanggung, dia akan melakukan apa saja untuk membuatnya merasakan akibat dari perbuatannya itu.

Dengan perlahan, Fafnir menciptakan sebuah bola api. Pada awalnya bola api itu sama seperti bola api yang sebelumnya dia ciptakan. Namun, lama kelamaan bola api itu menjadi lebih besar dan panas, hingga menjadi tiga kali dari ukuran semula. Warnanya yang awalnya merah mulai menjadi biru.

Sorcas dan Vaberian tidak bisa tidak merasa ngeri setelah melihat bola api raksasa yang diciptakan oleh Fafnir. Tubuh mereka bergidik dan tidak mampu untuk bergerak, rasa takut akibat bola api raksasa itu membuat nyali mereka berdua menjadi ciut.

Namun, tidak untuk Focarol. Meski dia juga merasa ngeri, tapi dia tetap berdiri dengan tegak dan gagah, meskipun dia telanjang. Dia sudah pernah merasakan saat-saat di mana tenggelam dalam rasa putus asa yang lebih besar dari ini, itu adalah saat dia berada dalam tubuh Fafnir.

Melalui semua usaha yang keras, akhirnya Focarol dapat bebas dari sana, bahkan menjadi lebih kuat setelah memakan daging Fafnir. Jadi, jika sebelumnya dia dapat melalui itu, kenapa sekarang tidak?

Fafnir memutar bola matanya dan melihat sosok Focarol yang tidak bergeming bahkan setelah melihat bola api raksasa yang dia ciptakan. Tidak ada sedikit pun putus asa yang terlihat dari matanya.

“Dasar iblis rendahan, bahkan setelah maut sudah di depan mata, kau masih mencoba untuk terlihat keren.” Ujar Fafnir.

Focarol mendengus lalu berkata, “Aku sudah keren bahkan sebelum aku dilahirkan, jadi apa salahnya aku berlagak keren saat ini.”

“Dasar pembual, memangnya kau pernah melihat rupamu sebelum dilahirkan?” ucap Fafnir.

“Haha, memangnya kenapa kalau aku pembual? Tidak ada salahnya, lagi pula aku ini adalah iblis.” Balas Focarol.

Sorcas dan Vaberian yang melihat semua ini tidak tahu harus tertawa atau menangis. Bukannya ini adalah puncak dari pertarungan kalian berdua? Kenapa kalian malah mengobrol. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu. Tapi yang bersangkutan tidak peduli dengan apa yang Sorcas dan Vaberian pikirkan. 

“Hentikan semua omong kosong ini, dan matilah sekarang juga!” teriak Fafnir sembari menembakan bola api raksasa yang dia ciptakan.

“Aku tidak akan kalah!” teriak Focarol sembari mengepakan sayapnya dan melesat. Dia mengepalkan tangannya dan memukul bola api raksasa itu. Ledakan spektakuler tercipta setelah pukulan Focarol menghantamnya. Gelombang energi menghancurkan seluruh bangunan dan menghempaksan Vaberian dan Sorcas jauh.

Debu hasil ledakan masih berhamburan di udara. Sorcas dan Vaberian yang terlempar mulai bangkit dan melihat gudang senjata yang hancur berantakan. Karena debu itu, mereka tidak bisa melihat sosok Focarol mau pun Fafnir.

Setelah lama berlalu, debu yang membubung tinggi mulai jatuh berserakan, siluet Fafnir mulai jelas terlihat. Namun, tidak untuk Focarol. 

Saat ini, Focarol berada di bawah timbunan puing-puing bangunan yang hancur, jangankan untuk membebaskan diri, bahkan untuk berteriak saja dia sudah tidak mampu. Meski tubuhnya sekarang lebih tangguh ketimbang sebelumnya, akan tetapi serangan dari Fafnir lebih kuat.

Pemulihan lukanya juga lebih lambat dari sebelumnya, karena dia tidak memiliki energi yang cukup untuk memaksimalkan devil heart. Sedangkan di sisi yang lain, Fafnir berdiri dengan kokoh sambil memandang sekeliling. 

Setelah sekian lama tidak merasakan udara bebas, dia menjadi sangat bergairah untuk meluapkan emosinya. Dengan perlahan, dia menciptakan banyak bola api dan bersiap untuk mengulangi apa yang pernah dia lakukan pada masa lalu.

Namun, belum sempat dia melancarkan serangan, dari arah belakang, Solas yang terluka menghunuskan pedang sambil berteriak, “Tidurlah untuk selamanya!”