Episode 25 - Keganjilan


Neil menghela. Setelah selesai berbicara dengan Navi dan Reina, ia bisa sedikit merasa jauh lebih santai. Tubuhnya tidak terlalu merasakan sakit, pusing, atau pun panas, tapi juga belum bisa bergerak secara bebas seutuhnya.

Ketika kedua anggota timnya itu keluar, Rem masuk dan duduk di kursi besi yang masih menyimpan sedikit kehangatan akibat digunakan oleh Navi. Ia menaruh satu kaki di atas kaki lainnya, kemudian bersandar pada kursi. Suasana sedikit menegang ditambah dengan meningkatnya suhu. Mungkin karena ventilasi udara yang sangat terbatas. Sebenarnya itu adalah ruangan ber-AC, tapi dengan keadaan listrik yang sangat terbatas, ventilasi kecil diciptakan. Bukan hanya untuk lubang udara, tapi juga mengintip. Banyak ruangan seperti ini di gedung-gedung lainnya.

“Neil… kau pulih terlalu cepat.” Meski sebuah kabar bagus bagi semua orang, Rem mengatakannya dengan nada sedikit kecewa. Banyak alasan kenapa dia bertingkah seperti itu.

“White dan Reina mengatakan hal yang sama.” Neil sadar tentang hal itu, tapi bukankah itu berarti hal yang bagus? Ia tidak mengerti. Dalam kondisi seperti ini, besok mungkin Neil sudah bisa berlari, atau bisa juga nanti malam.

“…” Rem terdiam. Tujuan utamanya datang menemui Neil adalah untuk menjelaskan bagaimana ia membuat janji dengan White untuk menghabisi Sky Chaser. Karena Neil terlibat, Rem berkewajiban untuk menceritakan apa yang terjadi. Bahkan hal ini juga belum diberitahu pada Noxa.

“Dari yang kudengar, kau berusaha sangat keras untuk menyelamatkanku.” Neil melihat Rem dengan wajah tanpa ekspresi. 

Rem tertegun mendengarnya. “Ada seseorang yang jauh lebih khawatir dari pada aku mengenai kondisimu saat ini. Yang kulakukan hanya memperhatikan dari kejauhan dan sedikit berpikir.”

“Sebelum aku berterima kasih, aku ingin kau menjelaskan apa yang terjadi padaku. Kau harusnya tahu lebih banyak dariku atau Noxa. Aku selalu penasaran kenapa kau bisa ikut ke dalam misi ini dari awal.”

Rem tersenyum kecil meski Neil meragukan dirinya. “Kau mengatakan hal yang sama dengan Noxa. Tapi, sejak awal aku tidak pernah berniat menyembunyikannya darimu atau Noxa.”

“Noxa yang paling bertanggung jawab dalam misi ini. Aku yang terluka paling parah. Lalu, ada kau…” Neil menyudutkan kedua alis. “yang bertindak paling banyak.” 

Neil melepas pandangannya dari Rem. Tubuhnya terasa sangat lelah. Saking lelahnya sampai-sampai ia ingin sekali tidur kembali untuk beberapa jam ke depan dan melupakan semua yang terjadi dalam waktu seminggu belakangan ini. Ucapan Navi mengenai kondisi tubuhnya yang melewati batas sepertinya sangat benar. Ia menghela.

Dengan ekspresi seolah Neil tidak peduli, ia kembali membuka mulutnya tanpa memandang Rem. “Kau hampir membunuh Noxa, kau tahu itu, ‘kan?”

Sekali lagi, kalimat Neil membuat Rem terdiam. 

Rem tidak berpikir kalau dirinya akan ketahuan. Namun, menyembunyikan hal sebesar ini dari seseorang yang bisa berlari meyelamatkan temannya bahkan sebelum adanya bahaya yang terjadi, sepertinya mustahil. Semua perkataan Neil benar, karena itu ia tidak bisa menggelengkan kepala dan menyanggah.

“Jika kau membunuh Noxa, Faye akan membunuhmu.” 

Melihat seberapa dekat hubungan Noxa dan Faye, kemungkinannya sangatlah besar. Neil bisa mengerti karena, seandainya ada seseorang yang melakukan hal itu pada Navi, Neil akan memburunya bahkan sampai ke ujung dunia sekali pun.

“Seandainya Baron yang melakukan itu semua, Faye akan mengejar Baron yang merupakan bagian dari anggota timnya. Dibandingkan itu, akan lebih baik jika Faye mengejarku.” Rem memberi jeda. “Tapi, Neil… kau harusnya tahu kalau itu tidak akan terjadi.” Rem menggunakan nada santai untuk kalimat terakhirnya.

Keahlian Rem bukan hanya menggunakan sniper untuk menembak target dengan 100% ketepatan. Berpikir, menghitung, dan menyusun rencana juga adalah salah satu keahliannya. Bahkan lebih hebat dari Faye, yang merupakan tangan kanan Noxa, juga Sheila anggota tim satu dari Sleeping Lion. Meski Rem terlihat sangat santai, perhitungannya hampir tidak pernah salah. Justru karena ini juga Neil bisa menebak siapa dalang di balik ledakan jembatan itu.

“Hanya untuk memastikan, kau ini sebenarnya ada di pihak siapa?”

“Aku bukan seperti Rico yang suka seenaknya sendiri. Aku juga bukan Noxa, yang suka bertingkah layaknya pemimpin yang hebat dan bertanggung jawab. Aku juga bukan kau yang suka bertindak seperti pahlawan, mengorbankan diri sendiri untuk menyelamatkan orang lain. Aku ada di pihak siapa? Setidaknya aku bisa mengatakan kalau aku bukanlah musuhmu.” Ekspresi Rem tidak senang. “Tapi, Neil… Baron berkhianat itu adalah kenyataan. Kau seharusnya mengerti. Dan Kazu juga mungkin seperti itu.”

Kazu juga? Neil berpikir. Meski tidak yakin, Rem benar-benar mengatakannya.

Neil memikirkan beberapa fakta yang ada. Ada berapa banyak pihak yang memiliki tujuan berbeda-beda di luar sana? Yang selalu dilakukannya hanyalah menjalankan misi membasmi Outsiders yang diberikan, tapi tindakan Baron menjelaskan beberapa hal serius yang sedang terjadi pada hidup Neil saat ini.

“Bagaimana jika Baron berhasil meledakkan tasnya sebelum kau yang melakukannya?” tanya Neil. 

“Meski Baron mencoba meledakkan tasnya dari jauh, bomnya tidak akan meledak karena pemicu yang aktif hanya ada padaku saja.”

Rem menyembunyikan sebagian fakta bahwa perhitungannya sedikit salah di awal dan di akhir. 

Kejadian yang sebenarnya harus terjadi adalah, Setelah meletakkan tasnya di bawah menara jembatan dan menunggu Sky Chaser untuk turun, Noxa mencoba mengaktifkan bomnya dan gagal. Selagi Noxa kembali untuk mengambil tas berisi penuh dengan bom, Neil, Navi, dan Baron akan menarik perhatian Sky Chaser untuk memberikan Noxa sebuah jalan. Di saat semua perhatian tertuju pada Sky Chaser, Baron akan menggunakan pemicu cadangan untuk meledakkan tasnya. Di bagian sini, Rem akan meledakkan pemicunya dan saat itu juga Neil akan melakukan hal yang sama, berlari untuk menyelamatkan Noxa. 

Sedikit berisiko karena ada kemungkinan bahwa Neil bisa saja tidak datang untuk menyelematkan Noxa, sebagai gantinya Noxa yang akan menerima semua luka itu, bukan Neil. Tujuannya ada dua. Yang pertama, adalah menghindari agar Noxa tidak mati. Seandainya Baron melakukannya dengan tepat waktu, maka Noxa atau Neil akan mati. Dengan Rem yang memegang kendali, ia bisa menghindari hal itu dengan membuat ledakannya sedikit terulur. Yang kedua adalah agar Baron terbukti bersalah.

Akan tetapi, Noxa yang tiba-tiba lupa mengubah susunan rencana Rem, meski berakhir sama.

“Neil, apa Noxa itu tipe pelupa?” tanya Rem mendinginkan suasana.

Kesalahan terakhir Rem ada pada tindakan Neil di mana ia memaksakan tubuhnya untuk menjatuhkan Sky Chaser hanya dengan pisau. Kesampingkan bagaimana cara Rem menyusun rencana. Cara Neil merobek sayap Sky Chaser justru jauh lebih tidak masuk akal.

“Ngomong-ngomong, Neil dari mana kau tahu kalau aku yang melakukannya? Jangan bilang kalau semua itu hanya insting.”

Neil berpikir. Ia membuka ingatannya melihat masa lalu apa yang terjadi di jembatan.

Awalnya tentu saja ia berpikir kalau itu semua hanyalah sebuah kebetulan. Tetapi, melihat bentuk luka yang ia dapat, sepertinya tidak begitu. Lukanya cukup parah, tapi tidak akan sampai membuat seseorang mati karenanya tanpa diobati selama beberapa hari. 

Neil tahu, di mata Rem dunia ini bergerak sangat lambat. Di sisi lain, otak Rem akan berpikir jauh lebih cepat dari orang normal. Memasukkan hal itu ke dalam tragedy yang sudah terjadi, tidak aneh jika Rem adalah orang di balik semua ini. Termasuk seberapa besar ledakan yang akan dihasilkan, begitu juga dengan luka bakar yang tercipta akibat seberapa jauh jarak ledakannya.

“Itu tidak penting,” jawab Neil yang malas menjelaskan. “Kau masih belum menjawab pertanyaanku yang paling pertama.” 

Alasan kenapa Rem bisa ada di sini. Dengan tindakan Baron dan menyatukan semua hal yang sudah terjadi, bagi Neil ini semua tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Seolah-olah, Rem dikirim ke sini untuk mencegah kematian Noxa. 

Rem terdiam sejenak ketika ia melihat mata Neil yang penuh dengan berbagai macam pikiran. “Maaf mengecewakanmu, tapi semuanya hanyalah kebetulan.”

“Haah…?” Mulut Neil terbuka kecil. Ia kehabisan kata-kata. Bahkan sampai tidak bisa menelan ludah.

Apa yang sedang terjadi? Otak Neil berhenti berpikir. Mukanya membuat ekspresi bahwa semua itu terlihat sangat mustahil.

“Rem… kau?” Neil heran. “Kenapa kau berbohong?”

“Aku tidak bohong.” Rem menegaskan kalimatnya. “Aku ikut misi ini secara kebetulan.”

Sekali lagi Neil termenung. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Kalau benar Rem ikut misi ini adalah ketidaksengajaan, kalau begitu dari mana dia tahu kalau Baron akan berkhianat?

“Yah, walaupun aku bilang begitu, memang ada orang yang ingin aku ikut ke dalam misi ini.”

“S-Siapa…?” Neil sedikit gugup. Pandangannya mulai tak yakin.

“Anggota timmu sendiri, Nadia.” Rem memberi jeda. “Dia meminta tolong padaku secara pribadi. Karena penanggung jawab timmu tidak keberatan, aku diperbolehkan untuk ikut.”

“Hmm…” Neil masih melakukan proses di dalam otaknya. Seperti dia terlewatkan sesuatu yang sangat penting. “Kenapa Nadia mengirimmu?” gumam Neil pelan. Rem yang mendengarnya, hanya diam tak bisa menjawab. Karena saat itu mereka berdua berbicara menggunakan telepon, Rem tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Nadia.

“Berhenti berpikir dan beristirahatlah. Aku tidak seharusnya memberitahu hal ini, tapi Nadia memintaku untuk menjagamu, jadi prioritas utamaku adalah kau.”

Mendengar itu, hanya memberikan pikiran Neil beban lebih. Permintaan Nadia terdengar sangat aneh. 

“Rem, kau terlalu berlebihan.” ucap Neil dengan lemas. Terlalu banyak yang terjadi sampai membuat ia jadi sedikit pusing. “Karena korbannya hanya aku saja, aku rasa tidak ada masalah.”

Dibandingkan Neil, Rem jauh lebih cerdas. Tidak mungkin hanya Neil seorang diri saja yang memikirkan hal itu. Karena itu, ia memutuskan untuk berhenti bertanya. Entah dirinya akan mendapat kesempatan untuk mendengarkan penjelasan dari Nadia juga atau sama seperti yang dikatakan Rem sebelumnya. Semuanya hanya berupa kebetulan.

Mata Neil terarah ke bawah dipenuhi dengan berbagai macam pikiran. 

“Kau terlalu baik, Neil! Jika Baron tidak mencoba berkhianat, ini semua tidak akan terjadi.” Rem menjelaskan. Melihat dari ekspresi Neil yang tidak peduli, Rem menggaruk kepala. Kali ini adalah gilirannya. “Ngomong-ngomong, aku ingin memberitahmu sesuatu.”

“Hmm…” Neil mengangkat kepala. Ekspresi kembali normal. Karena terlalu banyak hal yang kurang jelas, Ia memutuskan untuk berhenti memikirkannya sementara waktu.

“Karena kau terlibat di dalamnya, kurasa aku juga harus memberitahumu hal ini.” Rem menarik napas perlahan. “Demi bisa membawamu kemari, aku berjanji pada White bahwa kau akan membunuh Sky Chaser.”

Mendengarnya, Neil mendesah pelan kelelahan.

“Tidak mungkin aku bisa mengalahkan Sky Chaser sendirian. Kau seharusnya memperhatikan apa yang terjadi di jembatan, kan? Makhluk itu juga bisa terbang. Kenapa kau bisa berjanji seperti itu?” Walaupun Neil tidak terlalu menyukainya, sebisa mungkin pertanyaannya dibuat agar tidak menyudutkan Rem.

“Maaf soal itu. Melihat kondisimu, aku pikir ini adalah pilihan yang terbaik. Selain itu, bukan berarti kau harus melawannya seorang diri.”

Neil mengabaikan Rem. Ia melihat kondisi tubuhnya. Paling cepat kondisinya pulih adalah besok, itu pun tidak dalam keadaan seratus persen. Sangat merepotkan jika ia harus memaksakan tubuhnya lagi. Sejak awal misi utamanya adalah untuk membunuh Sky Chaser, jadi jika dipikir ia memang tidak bisa lari.

“Bagaimana dengan Noxa? Apa dia tahu?”

“Dia tidak tahu. Aku berniat memberitahumu terlebih dahulu sebelum memberitahu Noxa.”

“Maaf, tapi bisa kau panggilkan Noxa?”

Rem segera bangkit. Ia berjalan ke pintu tanpa mengucapkan apa pun.

“Rem,” Neil yang memanggilnya tiba-tiba menghentikkan langkah Rem. “Kau masih tidak percaya padaku, ya?”

Insting Neil mengatakan kalau masih ada yang disembunyikan lagi dari Rem,tapi…

“Tenang saja, Neil. Ini tidak ada hubungannya denganmu.” Rem pergi.