Episode 34 - Gone


“UAAAAGGGHHH !!” teriak Lio keras sekali. “Sakit! Sakit! Sakit sekali!” sambil badannya tumbang, mengusap-usap tubuhnya di lantai untuk mengurangi rasa sakitnya. 

"Tidak! Ini tidak benar! Aku tak mau menang dengan cara begini." Hael tersungkur jatuh, memenganggi kepalanya yang sakit sekali rasanya dan seperti ada konflik batin dengan dirinya sendiri. "Ini semakin membuktikan kalau aku lemah dan tidak bisa apa-apa! Berhentilah menggangguku, biar aku berusaha sendiri. Biar aku bertarung dengan kemampuanku sendiri."

"Dasar orang-orang seperti ini." kata Lio dengan geramnya yang tergeletak jatuh dengan seluruh sisi depannya yang berdarah-darah. "Tak tahu caranya menikmati kemenangan ya?"

Lio bangkit kembali meski sakit sekali yang ia rasakan. "Adududuh! Darah semua... seluruh tubuhku." ucapnya ketika melihat telapak tangannya dilumuri darah dari dahinya.

"Begini ya! Kalau kamu tak mau menang..." Lio masih kuat berlari ke arah lawannya, meski mulai melambat gerakkannya, karena perih di seluruh tubuh bagian depannya, sungguh menyiksa. "Yasudah! Kau kalah saja!"

DUSSSZZZ !!

"Barrier ini lagi!” kesal Lio, serangan yang ia lancarkan dengan susah payah. Tertahan dengan mudah. “Bukan, ini Grim Reapernya."

"Aku hanya ingin bertarung dengan kemampuanku sendiri." kata Hael dengan rasa bersalah.

"Memangnya summon-mu ini kemampuan siapa?!"

DUSSSZZZ !!

Lio menyerang kembali, meski tertahan lagi.

"Aku tak mau beritahu kamu." hawabnya.

DUSSSZZZ !!

"Grr! Kau membuatku jengkel!"

"Ma-maaf, tapi aku..."

DUSSSZZZ !!

"Ingin bertarung dengan kemampuanmu sendiri? Kalau begitu lepaskan barrier ini, biar aku bisa tinju kamu keras-keras!"

"Tapi, dia...” ucap Hael dengan wajah murung. “Tak mau mendengarkanku." 

"Hyaaa!"

DUSSSZZZ !!

"Ohhogg!!" Hael langsung tertinju begitu saja, seketika Barriernya tak muncul lagi.

"Sial! Kenapa enak sekali meninjumu ya?!" Lio mulai kesal pada Hael. "Kemungkinan aku berhasil menembus Grim Reaper-mu tadi juga bukan karena seranganku yang kuat, tapi kau yang mengcancel dengan sengaja."

"Sejak awal kubilang, aku tidak ingin gunakan ini." kata Hael sambil mengusap-usap pipinya yang panas.

"Kamu betul-betul membuat kepalaku pusing!" Lio menghampirinya lagi lalu...

BUAGHHH !!

Meninjunya sekali lagi tanpa ampun, hingga akhirnya terjatuh di kolam. Di saat Hael terjatuh, sebelum bersentuhan dengan air. Hael terlihat mengeluarkan air mata, menyesali betapa tak bergunanya ia, betapa lemahnya dirinya sampai akhirnya ia tenggelam di kolam itu dengan ratapan.

"Hah... hah... akhirnya, aku menang juga." Lio merasa lega.

HWAARRRR !!

Lalu Grim Reaper itu muncul kembali dengan tiba-tiba dan suara yang seram, keras dan begitu tiba-tiba.

"HUWAAAA !!" Lio langsung terkaget-kaget hingga pingsan, tersungkur jatuh dan tak sadarkan diri.

Hael kembali ke atas arena, dengan perasaan sesal. Ia bangkit melihat ke bangku penonton mencari tahu, apa Alzen melihatnya. Namun Alzen tidak disana, menonton dia. Makin kecewalah Hael. Meski biar bagaimanapun, pemenangnya sudah diputuskan. Lio berhasil maju ke babak selanjutnya. Menang dari Hael yang pemurung itu.

"Apa yang bisa diharapkan dari orang seperti itu?" komentar Nicholas. "Dia punya kemampuan mengerikan di dalam dirinya, tapi malah ditahan-tahan dan belagak ingin memakai kemampuannya sendiri. Padahal summon miliknya, jelas-jelas kemampuannya sendiri."

"Tidak,” sela Volric. “Kamu mungkin tidak tahu Nico."

"Tidak tahu? Apa maksud guru?"

"Di dunia ini ada macam-macam orang. Kemampuan Hael ini, mungkin salah satu yang ter-langka juga."

"Langka?"

"Ya, karena Aura tipe Summon milikinya, punya kepribadiannya sendiri."

"Jadi maksudmu? Dia berkomunikasi dengan Summon-nya tadi?"

"Iya... aku pernah dengar suaranya, Grim Reaper itu bicara seperti bisikan."

"Benar-benar absurd." Nicholas sukar mempercayainya. "Kau tidak sedang mengada-ada kan?"

"Aku bicara yang sebenarnya, 3 tahun mendidik anak bodoh itu adalah pengalaman menyakitkan sekaligus unik. Hael ini betul-betul bodoh kalau boleh jujur. Tak punya masa depan, tak bisa diajari. Tapi keunikannya inilah yang membuat aku tertarik padanya. Summonnya semakin kuat ketika..."

"Hei!" tepuk Velizar. "Bicara apa sih, serius banget?"

"Haduh... Velizar, ngagetin saja."

"Pertarungannya sudah selesai? Aku kelewat dong?" ucap Velizar datar.

"Guru, coba lanjut jelaskan."

"Begini..."

***

Hael berjalan keluar dari Stadium itu, menjauhi bangku penonton dan turnamen itu sekali untuk selamanya. Dengan perasaan sedih karena tak bisa menang, ia terus menerus menangis sambil berjalan.

"Nah, dengan begini sudah selesai." ucap Hael tersenyum bersamaan dengan air mata yang membekas di wajahnya. "Karena ternyata aku tak bisa sampai final, jadi... aku akan pergi dari sini lebih awal. Tapi sebelum itu, aku harus berpamitan dengan Alzen. Aku ingin tanya kenapa dia tidak menonton pertandinganku? Tapi... dimana dia sekarang?"

Setelah itu Hael bertanya ke orang-orang sekitar sana dan kembali lagi ke arena, tapi setelah ia mempertimbangkannya kembali. Ia tidak jadi menemui Alzen, meski sudah tahu ia berada dimana. Semata karena ia tak mau kembali ke Arena tersebut lebih jauh lagi dan tak enak hati untuk mengganggu Alzen.

Hael berjalan menulis di sebuah buku kecil sebagai salam perpisahan darinya. Ia terus menulis sembari berjalan ke dorm untuk segera berkemas. Hael yang pemurung itu sempat-sempatnya tersenyum dan cengar-cengir selama menulisnya. Buku kecil yang kosong itu tanpa terasa sudah separuhnya ditulis olehnya selama berjalan. Banyak sekali yang ia tulis, yang kemudian dititipkan ke petugas untuk diberikan ke Alzen nantinya.

Hael berjalan pergi, melewati jalan-jalan di berbagai Distrik Vheins, hingga akhirnya ia menuju gerbang portal keluar kota Vheins ini. Dan sejak saat itu, 

“Aku bersumpah.” kata Hael sambil memandang kota Vheins yang ada jauh di seberang The Abyss. “Aku tak akan kembali lagi ke tempat ini.

Begitu, janjinya. Ia tak akan pernah kembali lagi. Tak akan pernah kembali ke sekolah sihir terbaik yang anak-anak dan guru disana membully dirinya, atau kembali ke rumah mewah yang penuh dengan derita di dalamnya. Tanpa ada yang peduli dan tahu bahwa,

Hael telah pergi...

***

Beberapa puluh menit kemudian, setelah kepergian Hael. Lasius, Ranni dan beberapa anak Ignis lain masih menunggu di ruang tempat Alzen dirawat.

Tak lama setelahnya, seseorang staff sekolah yang datang menghampiri. "Uhm... Permisi."

"Ada apa?" jawab Lasius. "Kau tidak lihat? Anak didikku sedang dirawat."

"Mohon maaf pak Lasius. Seseorang menitipkan ini padaku untuk disampaikan ke Alzen."

"Apa ini?" Lasius mengambil sebuah buku kecil. "Buku? Dari siapa?"

"Entah, aku tak mengenalnya, sepertinya peserta turnamen juga. Tadi dia juga pesan, jangan ada yang baca selain Alzen."

"Baik, nanti saya berikan." Lasius masuk sebentar dan menaruh buku kecil itu di meja dekat Alzen tertidur.

***

Lio seusai bertanding, berakhir dengan luka-luka di seluruh sisi depan tubuhnya. Mulai dari wajah, sampai ke kaki. Sebelum di tangani para Healer untuk disembuhkan, Chandra merangkulnya dan sedikit-sedikit menyembuhkannya dengan kemampuan elemen air yang ia bisa.

"Turnamen ini selalu diakhiri dengan darah, ini sebenarnya pertandingan sihir atau apa sih?" ucap Chandra kesal.

"Sebenarnya tidak begitu, Cough!"

"Sudah... Jangan ngomong dulu, bicaranya nanti saja."

"Aku dengar-dengar, beberapa senior disini. Mereka juga mengalami turnamen seperti ini pada masanya. Dan memang begini juga. Pertumpahan darah, tapi merekapun mengakui, bahwa angkatan kita ini. Salah satu angkatan terbaik yang penuh penyihir muda dengan kemampuan tinggi. Cough!"

"Sudah dibilang jangan ngomong dulu. Ya, meski aku sebenarnya ingin dengar. Tapi nanti saja setelah kau sembuh."

"Ahh, maaf. Tubuhku rasanya seperti tertusuk jarum yang masih menempel. Sakit sekali. Adudududuh, terutama bagian mata."

"Sini, biar aku bantu." Chandra merangkul Lio ke ruang penyembuhan.

"Maaf Chan, jadi merepotkan gini. Cough!"

"Hei sudah kubilang, jangan ngomong lagi!"

Setelah pertarungan usai. Lio yang teluka parah dirawat oleh para Healer dan tak bisa menonton pertarungan selanjutnya.

***

Lasius dan Ranni duduk berdua di luar ruang tempat Alzen di rawat.

"Peserta tahun ini memang hebat semua... aku saja merinding menontonnya. Bukan merinding karena seru, aku merinding kalau kalian kenapa-napa nantinya," kata Lasius ke Ranni di sampingnya. "Kau bagaimana Ranni? Pertandingan Lio sudah selesai, sebentar lagi giliranmu."

"Guru..." tanya Ranni ragu-ragu. "Haruskah aku bertarung lawan anak kelas Umbra itu?"

"Kenapa kau tanya begitu?" ucap Lasius.

"Karena lawanku... dia itu loh. Pria rambut hitam berkacamata itu." jawab Ranni dengan kepala tertunduk.

"Nicholas Obsidus ya... kamu harus hati-hati dengannya."

"Iya," jawab Ranni sambil menghela nafas. "Belum bertanding saja, aku sudah merasa tertekan oleh kehadirannya."

"Jadi kamu mau menyerah?"

"T-tidak! Tidak mau! Keluargaku melarang untuk menyerah sebelum bertarung."

"Hahaha! Bagus! Bertarunglah sekuat yang kamu bisa. Ingat! Kamu tak harus menang, tapi... berikan yang terbaik!"

Angguk Ranni dengan wajah berseri. "Ya!"

***

"Pertarungan selanjutnya, "Ranni dari kelas Ignis Vs Nicholas dari kelas Umbra."

Mereka berdua memasuki arena dari jalan masuk yang berlawan dan bersiap untuk bertarung.

"Ignis! Ignis!"

"Umbra! Umbra!"

Sahut-sahutan antar kedua pendukung terjadi lagi.

"Hoo... lawanku perempuan rupanya." ucap Nicholas. "Ya... lagi-lagi perempuan."

"Aku harus serius dari awal. Aku tahu kamu berbahaya. Mungkin yang paling berbahaya diantara semuanya." balas Ranni dengan gelisah dan ragu tapi ditutupi dengan tatapan tajam pada Nicholas.

"Aku tahu... aku tahu." jawab Nicholas, seperti menggampangkan. "Memang sebaiknya kita serius dari awal. Karena keluarga Obsidus, tak pernah meremehkan musuh."

Nicholas mengeluarkan Buku Grimoire miliknya dan langsung meng-cast salah satu sihir kegelapannya.

"Dark Force !!"

Ranni menahannya dengan dinding api di depannya, di cast dengan tongkatnya.

"Aku mengerti kemampuan elemen kegelapan sejak dulu. Elemen yang bisa dibilang terkuat untuk melawan elemen lainnya. Terutama Elemen Mainstream seperti api." Pikir Ranni, menganalisa selagi menangkis serangan Nicholas.

"Hoo... kau terlihat serius sekali." ucap Nicholas yang tak nyaman di tatapan judes Ranni.

"Kau bilang, kau tak akan meremehkan musuh," balas Ranni dengan kuda-kuda senjatanya. "Tapi daritadi, kau hanya melancarkan serangan payah!"

"HYAAA!" Ranni berlari mendekat, dengan ayunan tongkatnya yang telah berselimut kobaran api. Ranni datang dengan serangan sekuat mungkin yang ia bisa, ia lakukan hingga urat-urat kepalanya timbul secara jelas.

"Black Barrier !!"

DZZZZSSSTTT !!

"Cih, Barrier sialan!" serangan Ranni tertahan mentah-mentah oleh lapisan transparan seperti kaca berwarna hitam.

"Kau sungguh berpikir yang tadi itu sudah mode seriusku? Tenang saja, yang barusan masih sekadar hidangan pembuka!" Nicholas melayangkan buku sihirnya, lalu dengan mengerahkan tangan kanan lurus ke depan, ia meng-cast sihir kegelapan yang lainnya.

"Nightmare Terror !!"

Ranni terjerat oleh sebuah akar berduri yang berwarna hitam melilit seluruh tubuhnya. Dan buruknya... yang terkena jeratan tersebut akan berhalusinasi akan hal-hal terburuk dalam hidupnya.

"HUWAAA !!" Ranni berteriak ketakutan, seketika ingatan terburuknya di bangkitkan kembali. Memori-memori lamanya tentang suatu tempat penuh dengan api, muncul sekilas, namun terus menerus.

***

"Si Nicholas ini sudah kelewatan." ucap Volric dari bangku penonton. "Dia tak pernah mengurangi tenaganya pada siapapun lawannya."

"Ya... kau kenal dia kan guru?" balas Velizar. "Seluruh keluarganya kan memang di didik seperti itu."

***

"Ya... begitu, begitu terus! Teriaklah! Teriaklah terus! Teriak! Hahaha!" Nicholas terlihat dengan gembira sekali, matanya terbuka lebar-lebar, senyum jahatnya terpampang jelas dan pupil matanya mengecil di tengah, menyaksikan Ranni yang berada selangkah di depannya, disiksa secara mental.

"HUWAAAAA !!" teriak Ranni lebih keras lagi. Ingatan-ingatannya diputar secara cepat, sepotong-sepotong dan diulang terus menerus. “Tolong hentikan, kumohon.” kata Ranni tak berdaya, sambil terlihat air mata mengalir di pipinya.

"Wahahaha! Tadinya aku ingin menguji sihir ini pada Fhonia, tapi dia terlalu main dari jarak jauh. Dan dari sikapnya, ia terlalu ceria untuk disiksa oleh masa lalu. Tapi kau hebat juga! Masih bisa tahan sampai selama ini... jadi," tangan Nicholas kini diselimuti sebuah asap hitam. "Biar kutambah lagi!"

"Dream Catcher !!"

***