Episode 33 - Darkness Flame


10 menit berlalu dan pertandingan masih juga belum dimulai. Lio berdiri di Arena seorang diri menunggu kehadiran lawannya yang belum kelihatan.

Di saat yang sama, penonton saling bersahut-sahutan menjelekkan satu sama lain.

Sahut pendukung Ignis,

"HUUUU !! Anak itu takut kali, takut kalah sama Ignis!"

"Ignis yang terbaik! Umbra cemen! Cuma bisa menyerah atau kabur." ucap penonton sambil memberi jempol terbalik.

"Umbra pasti sudah tahu, Ignis yang akan menang! Makanya takut kemari!"

Lalu balas pendukung Umbra,

"HUUUUU !! Ignis bodoh! Tidak tahu apa... Kelas Umbra pemenang tahun lalu!"

"Ignis cuma hoki saja bisa sampai sini! Dua tahun lalu mah Ignis bukan apa-apa!"

"Yah... baru sampai sini saja sudah banyak gaya! Ignis pasti kalah! Umbra yang akhirnya menang! Umbra yang terbaik!Kita masih punya Nicholas Obsidus."

Sementara Chandra, yang berada di kursi penonton hanya bisa menutup telinganya, menahan bising dari olok-olok kedua penonton yang saling bersebrangan tempatnya.

"Aduh... Berhenti trashtalk-nya dong. Berisik!"

"Dasar orang-orang bodoh." ucap Nicholas di kursi peserta Umbra, dengan tangan terlipat. "Mereka membangga-banggakan kemenangan tahun lalu yang sebenarnya tak ada pengaruhnya dengan pertandingan tahun ini. Semua pesertanya beda, kemampuan mereka juga berbeda-beda. Bodoh sekali jika membangga-banggakan masa lalu begitu."

"Hei! Jangan ngomong keras-keras, mereka supporter kita tahu. Nanti mereka dengar, Ssstt!" bisik Sinus. 

Kemudian Sinus berdiri dan mengangkat semangat mereka. “Ayo! Ayo! Lebih keras lagi!”

"Hah! Mereka terlalu sibuk menghina orang lain yang tak sependapat dengannya.” kata Nicholas dengan nada sombong. “Mana mungkin mereka dengar. Atau setidaknya, mau mendengar."

"Haa... ah. Aku paling malas tempat berisik dan ramai-ramai begini." ucap Velizar mengorek-orek telingatnya dengan muka malas, sambil memeluk pedangnya. "Aku turun dulu ya, aku tidak suka keramaian."

"Vel, kau mau kemana?" tanya Sinus.

"Tempat sepi, toilet namanya.” katanya sambil berjalan turun. “Aku mau muntah."

Penonton semakin riuh, tapi mereka tetap harus dengan sabar menunggu. Karena saat ini, Hael belum juga hadir untuk bertanding.

"Duh! Gimana sih?!" ucap ketua panitia dari backstage sambil menepuk dahinya dengan rasa gelisah, berjalan mondar-mandir. "Peserta tahun ini kenapa sih?! Tidak sadar mereka sudah berada di babak yang penting apa? Malah telat datang begini lagi."

Balas panitia yang lain. "Apa tidak bisa diundur dulu? Soalnya habis ini kan..."

"Tidak, tidak bisa! Cepat, cepat... lacak dimana peserta Hael ini. Sudah lebih dari 10 menit tidak ada tanda-tanda dia berada disini, atau fix! Dia didiskualifikasi."

"Ta, tapi... tidak adil dong."

"Kita undur saja... pertandingan berikutnya juga Ignis melawan Umbra."

"Oke, oke! Terserah, terserah..." balas ketua panitia. "Yang penting dimana peserta Hael ini? Cepat cari dia! Kita mana bisa bikin penonton menunggu lebih lama lagi."

"Nah! Itu dia!" sahut komentator. “Hael dari Umbra!”

Lalu semua pertengkaran sesaat terhenti, menfokuskan diri melihat ke Arena. Tapi tetap hanya ada Lio disana.

"Maaf cuma bercanda... Hahaha..."

Suasana hening sejenak, semua terdiam kecuali komentator dengan pengeras suara, tertawa seorang diri. Di saat semua menatapnya kesal.

"HUUU!! Komentator bodoh! Turun kamu!"

"Pecat aja, pecat!"

"Dasar bodoh!" Ketua panitia memukul kepala komentator. "Situasi lagi panas malah dibercandain lagi."

“Waduh, mau penonton, panitia, peserta. Semua pada tidak asik nih.”

Tap! Tap! Tap!

"Hosh... hosh... hosh..." Hael datang dengan berlari dan telah memasuki Arena. "Maaf aku terlambat dan membuat kalian gaduh."

"Akhirnya dia datang juga..." Lio langsung menatapnya penuh waspada.

"Oke!! Peserta dari Umbra sudah tiba! Mari mulai pertandingannya! Lio dari kelas Ignis Vs Hael dari kelas Umbra !!"

Kegaduhan sebelumnya, kembali berubah jadi kemeriahan yang seharusnya.

"Ignis pasti menang!"

"Umbra pasti menang!"

"Ignis pasti menang!"

"Umbra pasti menang!"

Dan pertandingan, dimulai...

***

Lio menimbang-nimbang kemungkinan yang terjadi. "Memang kalau dilihat dari dekat. Lawanku ini masih seperti anak kecil pemurung yang kurang tidur. Tapi aku ingat dengan jelas. Bartell, si biksu berbadan besar itu. Bisa dikalahkan dia dalam sekali serangan fatal saja... Aku harus hati-hati kalau tidak mau kalah dan berakhir dengan luka parah."

"Tidak, tidak... kamu jangan keluar dulu!" ucap Hael, memegangi kepalanya sambil geleng-geleng seperti ada yang mengganggu pikirannya. "Biar aku bertarung dengan kemampuanku sendiri. Aku sudah berlatih keras sejak bertemu Alzen kemarin."

“Haa? Alzen? Dia kenapa? Bicara dengan siapa?” pikir Lio, lalu balasnya. "Oke! Kalau kamu sudah berlatih keras, begitupun aku!"

"Fire Stance !!"

Lio meng-cast sihir apinya, menyelimuti dirinya dengan kobaran api di sekelilingnya.

“Tidak ada kata meremehkan lawan untukku!”

"T-tunggu dulu! A-aku belum si-si... D-Dark Force..." Hael melakukan sihirnya dengan ragu-ragu dan yang keluar ada sihir dengan kekuatan yang tak seberapa.

Lio dengan mudah mengelaknya. "Apa ini? Sihirnya lambat dan lemah sekali?"

Lalu Lio yang sudah tepat berada di depan Hael, langsung menyerangnya dengan kobaran api di tangannya.

"Flare Stomp !!"

Lio meninju Hael keras-keras dan dari hentakannya menimbulkan kobaran api yang menyebar ke segala arah.

"Apa ini akan berhasil?" Lio bertanya-tanya sampai kobaran apinya berhenti menghalangi pandangannya. "Benda hitam apa ini!? Sebuah dinding? Barrier?"

Lalu Lio mundur selangkah untuk menganalisa. "Memang dari tampangnya dia ini lemah, tapi seranganku tak melukainya sedikitpun. Berbahaya sekali." pikir Lio.

"Sudah kubilang! Jangan membantuku! Aku bisa bertarung dengan kekuatanku sendiri." sahut Hael yang bersikap aneh. "Tidak! Aku tidak lemah! Akan kubuktikan kalau aku bisa menang tanpa kamu!"

"D-dia ini kenapa sih? Ngomong sama siapa coba?" Lio keheranan.

"Yang tadi karena aku gugup saja, yang aslinya begini kan?" Hael mengulurkan tangan kanannya ke depan dengan telapak terbuka.

"...!?"

"Dark Force !!"

BWUUUUUUSSSHHHH !!

Sebuah tekanan aura hitam menghujam secara kuat dan cepat ke arah Lio. Lio yang tak siap, terhempas jauh oleh tekanan udara hitam di depannya. Dengan berbagai cara, Lio menahan tekanan itu dengan api di kakinya. Apapun dilakukan selama tak keluar arena dan tercebur di kolam.

"Cih! Aku benar-benar tak mengerti pola pikir lawanku ini. Dia ini sebenarnya kuat atau lemah sih? Sebentar dia sangat lemah, sebentar lagi dia sangat berbahaya. Benar-benar membingungkan."

"Thorn of Darkness !!"

Hael meng-cast sihir yang membuat sebuah duri-duri tajam, melayang-layang di belakangnya. Lalu dengan perintah tangannya, duri-duri itu melesat dengan cepat ke arah Lio.

"Lambat!" Lio berlari kesamping, menjauhi jalur tembak duri-duri itu. Tanpa tanpa ia ketahui, duri-duri itu terbang mengincar dirinya, hingga membuat Lio dalam posisi terdesak. "Celaka!? ..."

"Explosion !!"

Lio menargetkan serangannya ke tanah, membuat tanah di arena naik ke atas seolah menjadi tameng besar bagi dirinya. "Phew... Syukurlah."

"Aduh, gimana nih. Lawanku cerdas dan kuat lagi. Aku bisa kalah." Hael dibuat pesimis. "Diam! Aku tetap tak perlu bantuanmu!"

"Lagi-lagi dia ngomong sendiri." Lio berlari untuk balas menyerang. "Harus cepat dikalahkan, mumpung ia masih kebingungan."

"Fiery Fire Strike !!"

Tinju Lio dengan kobaran api besar yang difokuskan ke tangan kanannya.

"Sial! Barrier ungu hitam yang sama lagi."

Lio mundur selangkah lalu...

"Dragon Breath !!"

Lio menghembuskan api skala besar dari mulutnya. Namun Hael tetap terlindungi.

"Hah... hah... tidak mempan juga!? Kalau begini..." Lio kembali menyerang.

"Fire Burst... IMPACT !!"

DUARRRR !!

.

.

.

.

.

"Hosh... Hosh..." Lio sudah habis-habisan mencoba menembus pertahanan lawan. Setelah asap kabut yang ditimbulkan api Lio mulai memudar, barulah Lio dapat melihat hasil serangan dengan tingkat kerusakan tertinggi miliknya.

"T-tidak mungkin!? Lecet sedikitpun tidak. Bagaimana melawannya ini? Aku tak tahu lagi." dengkul Lio terjatuh dengan tubuhnya yang hilang semangat. Sambil menatap ke depan lalu perlahan keatas.

"Tunggu dulu... barrier seharusnya berbentuk setengah bola yang membungkus penggunanya. Tapi yang melindunginya ini..."

Sebuah sosok Grim Reaper dengan tinggi tiga kali manusia dewasa, atau sekitar 6 meter. melayang di atas Hael dan membungkus dirinya di dalam sosok Grim Reaper berwarna ungu hitam itu.

"Aku mengerti... jadi inilah kemampuan yang ia gunakan sewaktu melawan Bartell waktu itu. Gulp..." Lio berkeringat dan menelan ludah. Ia takut sekali, sebuah monster tengkorak raksasa yang jadi lawannya.

***

Teriak penonton protes...

"Hei! Memangnya boleh pakai kemampuan seperti itu?"

"HUUU !! Curang! Curang!"

"Hei komentator. Apa cara itu diperbolehkan?"

Di bangku penonton. Volric, Instruktur Umbra memberi komentar. "Hael itu, Sebetulnya payah betul-betul payah, bisa dibilang dia tak punya masa depan. Tapi kupilih dia karena ketika Aura tipe Summonnya itu keluar dari dirinya. Dia jadi orang yang paling berbahaya di kelas, bahkan Leenapun bukan apa-apa baginya. Dan juga, bisa-bisa dia melebihi kamu, Nicholas."

"Memang berbahaya. Tapi jelas, aku bisa mengatasinya." balas Nicholas. “Aku ini Obsidus.”

"Waduh, kalau tahu Hael memendam iblis seperti itu, jadi takut juga aku membully dia." Sinus keringat dingin melihatnya. “Hahaha! Tapi selama aku bercandain dia, dia benar-benar Hael yang lemah. Hahaha!”

"Sayang kemampuan sebagus itu ada di tubuh siswa lemah, bodoh dan pesimis seperti Hael. Ia tak bisa mengendalikannya dengan baik. Sudah kuajari dari 2 tahun lalu, masih saja tak bisa-bisa mengendalikan iblis itu dengan baik. Dia anak berbakat dengan masa depan suram."

***

Kembali ke pertarungan. Para penonton, terutama penonton Ignis. Terus menyoraki kata curang-curang, pada Hael.

"DIAM !!" teriak Lio tegas, karena dari dalam dirinya, ia ingin sekali mencoba melawan sosok monster itu. "Dia tidak curang dan jangan banyak komentar lagi! Kalian semua cukup lihat dan saksikan saja!" bentaknya.

Mendengar itu Hael terkejut, karena jarang sekali ada orang yang mau membelanya.

"Nah kau si anak murung. Kerahkan seluruh kemampuanmu, karena aku..." Lio berancang-ancang. "Tak akan main-main denganmu!"

Lio menembakan tinju api dari segala sudut dan menyerang Hael bertubi-tubi. Tapi Grim Reaper-nya total melindunginya dari arah manapun.

"Benar-benar kemampuan yang mengerikan."

Hael dengan rasa terpaksa, menggerakkan Summon Grim Reaper-nya dengan perintah dari gerakkan tangannya. Hael bersiap menebas Lio dengan Scythe besar yang jadi senjata khas Grim Reaper. Meski ia dari awal tak ingin menggunakannya.

Lio dengan cepat melompat tinggi menghindarinya.

"Aku agak sedikit menyesal, harusnya tadi aku tak usah menyemangati dia. Soalnya... " ucap Lio di udara. "Lawanku ini...” pikir Lio. “Terlalu kuat!"

"Fire-" 

Lio berancang-ancang melakukan serangan dari udara.

"Reaper Chain !!" 

Balas Hael dengan meng-cast sihir untuk mengikat Lio dengan sebuah rantai dari elemen darkness. Dan membuat Lio tak bisa bergerak, tertahan oleh rantai itu.

"Gawat! Saat begini aku malah lengah,"

Grim Reaper itu sekali lagi akan menebas Lio. Dan dengan kondisi sangat kepepet, Lio yang terikat tangan dan badannya dengan reflek cepat, ia segera berdiri lalu melompat tinggi lagi dengan bantuan apinya. Karena kakinya tak tertahan geraknya, oleh rantai itu.

Sampai terbang melayang di udara dan mendarat dengan menyerang Grim Reaper yang besar itu dengan hantaman kaki apinya.

Grim Reaper itu bisa ditembusnya dengan tidak ia duga-duga. Seperti adegan heroik dimana sang aktor menembus kaca jendela dan merusak kaca itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Hingga Lio berhasil masuk, menghadap Hael, yang terbungkus Grim Reaper itu.

"Kena kau!" Lio langsung bergegas menyerang Hael dengan kepalan tinju apinya.

"TIDAK !!" teriak Hael keras-keras.

BUUUUZZZZZHHHTTTT !!

"UGHHH !!?" Lio langsung terhempas tekanan Dark Force yang memancar dengan kuat ke semua arah. 

Namun Dark Force yang ini berbeda, seperti dalam tekanan angin badai yang menyesakkan, bersamaan dengan jarum-jarum tajam yang melintas ke tubuh lewat tekanan tersebut. Hingga dari wajah sampai ke kaki di sisi depan tubuh Lio, terasa sakit sekali.

“UAAAAGGGHHH !!” teriak Lio keras sekali. “Sakit! Sakit! Sakit sekali!”

***