Episode 10 - Sepuluh


Arum Sari masih membisu. Terasa baginya semua perkataan Patraman tak lebih dari tusukan-tusukan pedang yang menghunjam jantungnya.

“Pengkhianat!” tiba-tiba Arum Sari berteriak sekuatnya hingga orang-orang di sekitar Patraman terkejut karenanya. “Kau tidak berani berhadapan dengan ayahku. Engkau lebih suka membicarakan keburukan ayahku di depan demang-demang yang lain dan bahkan engkau juga bicara tentang kelemahan ayahku di depan para utusan Trowulan. Tetapi, apakah engkau pernah berbicara terus terang tentang kelemahan ayahku di hadapannya? Sekarang engkau berani berbicara seperti itu karena aku jauh dari rumah. Sungguh engkau benar-benar penjilat busuk!” 

Laksa Jaya dan Ubandhana yang mendengar percakapan itu tanpa sengaja pun mengernyitkan kening dan tanpa sadar keduanya saling berpandangan. Ubandhana benar-benar tak menyangka jika seorang gadis yang terlihat lemah selama beberapa hari bersamanya justru kini menunjukkan sikap kerasnya.

“Benar-benar pemberani. Dan Patraman harus segera disingkirkan,” gumam Ubandhana.

“Patraman, aku tahu engkau tak akan berani melakukan pekerjaan ini sendirian. Aku bahkan menduga bahwa sebetulnya engkau merencanakan ini dengan Laksa Jaya,” kata Arum Sari dalam isak tangisnya kemudian dia melanjutkan,”aku tahu betul siapa Laksa Jaya itu. Sayang, seorang anak muda yang berpandangan luas seperti dirinya justru berkawan erat denganmu. Engkau benar-benar racun mematikan bagi Laksa Jaya!”

“Tutup mulutmu!” Patraman membentak keras. 

Mendapat bentakan seperti itu justru Arum Sari tertawa meskipun itu dalam kesedihan. Kemudian dia berkata “Apakah engkau takut Laksa Jaya akan berkhianat? Atau justru engkau telah mengancam Laksa Jaya dengan menghabisi seluruh keluarganya?”

Laksa Jaya tak menduga bahwa pemikiran gadis itu telah menjangkau kemungkinan hubungannya dengan Patraman. Kini Laksa Jaya merasa cemas jika pada akhirnya Arum Sari dapat selamat dari penculikan ini.

“Ubandhana, apakah tak sebaiknya engkau bunuh gadis itu?” tanya Laksa Jaya dengan nada cemas.

“Hidup atau mati gadis itu sebenarnya bukanlah urusanku. Karena ikatan kita hanya membawa gadis itu hidup-hidup ke tempat ini. Bahkan engkau dan kawanmu itu belum memberikan apapun kepada kami,” jawab Ubandhana penuh kegeraman.

“Sudah lebih dari beberapa malam ternyata pengawalmu belum kelihatan juga. Mereka dan prajurit Majapahit yang engkau banggakan itu sama sekali tidak berbuat apapun untuk keselamatan dirimu. Jadi, terimalah keadaan ini bahwa engkau akan aman bersamaku. Engkau akan dikenang sebagai nyai seorang senopati pilih tanding dan berkepandaian tinggi. Para pengawalmu sebenarnya tak lebih dari sebuah kumpulan kerbau. Rajapaksi pun tak lebih dari anak ingusan yang tak tahu apa-apa. Dia akan kebingungan kemana mencarimu, terlebih lagi dia tak akan mampu bertahan hidup bila sudah berhadapan denganku,” terlihat seringai Patraman dan tatap matanya semakin nanar menyala. 

“Omong kosong!” sahut Arum Sari,“engkau mengambil kesempatan ketika mendapat kepercayaan lebih besar. Sedangkan dahulu engkau hanya prajurit rendahan yang takut pedang.” 

Patraman semakin memuncak amarahnya tetapi Laksa Jaya berhasil menahannya agar tak berbuat lebih jauh lagi. “Sudahlah Patraman. Jangan engkau layani gadis itu. Malam masih panjang sedangkan perjalanan kita belumlah selesai,” seru Laksa Jaya. Patraman menyadari bahwa gadis yang berada di hadapannya itu cukup cerdas mengamati keadaan yang terjadi. 

Arum Sari hampir saja melontarkan kata-kata tetapi dia urungkan ketika melihat Patraman bergeser menjauhi tempatnya. 

“Tetaplah disitu sampai ada perubahan,” terdengar kata-kata dari Patraman.

Beberapa saat Arum Sari terhempas dalam perasaan yang tidak menentu. Tetapi dia tidak ingin berteriak ataupun menangis. Dia tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang lemah saat itu. Dadanya serasa sesak menahan gejolak perasaannya. 

“Lebih baik aku mati daripada disentuh pengkhianat itu,” gumamnya dalam hati. Matanya pun segera melihat sekelilingnya mencari sesuatu yang dapat dia gunakan untuk membunuh dirinya sendiri. Namun dia terhempas kembali ketika menyadari keadaan dirinya yang terikat kuat. 

Malam berlalu semakin mencekam rawa-rawa di pesisir pantai, kembali ditelan kesunyian. Setiap orang terlarut dalam kenangan dan gelora masing-masing. Arum Sari sedang menuju jurang gelap yang hampir tidak dapat dilampaui. 

“Tetapi aku tak boleh kalah,” desahnya sambil meraba kemungkinan yang akan menimpa dirinya. 

Tiba-tiba dalam kegelapan malam itu sebuah bayangan berkelebat cepat mendekati Arum Sari.

Ubandhana bergerak cepat mendahului dan menghadang pergerakan bayangan itu.

“Jangan macam-macam atau aku robek perutmu!” bentak Ubandhana.

“Jangan halangi aku! Aku akan mengambil bagianku!” seru Patraman.

“Engkau belum mengeluarkan sepeserpun! Tidak ada bagianmu disini!” sahut Ubandhana.

“Pekerjaan ini belum selesai,” kata Patraman dengan gusar.

“Ya, karena belum selesai maka engkau jangan bertingkah!” Ubandhana dan Patraman saling bertatap mata dengan tajam. Keduanya sudah siap saling bunuh.

“Tahan, Patraman! Engkau bisa lakukan itu esok hari. Simpan tenaga kalian!” seru Laksa Jaya.

Ketiga lelaki ini pun saling menahan diri dan memilih tempat untuk mengistirahatkan diri. Malam semakin larut, angin yang datang dari laut berhembus semilir membelai setiap benda yang dilaluinya. Ketiga lelaki ini tidak benar-benar beristirahat sekalipun mata mereka terpejam dan nafas yang teratur. Kesunyian kembali menghampiri tempat itu, hanya Ubandhana yang sesekali bergerak untuk menjaga nyala api unggun.

Mereka bersila dengan mata terpejam. Mengatur jalan darah dan mengendurkan otot-otot yang penat seharian. Sekilas mereka seperti orang yang sedang tidur tetapi syaraf pendengaran dan beberapa simpul syaraf kewaspadaan tetap bekerja dengan baik. Jantung yang tak henti berdetak seolah menjadi tanda bergulirnya waktu. Mengiringi kerlip bintang yang semakin lemah dan rembulan pun tahu diri jika waktu untuknya hampir tiba untuk bergantian dengan mentari.

“Apa yang kalian tunggu?” sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan yang menyelubungi mereka bertiga. Kedatangan Ki Cendhala Geni sama sekali tidak mereka ketahui.

Bahkan ketika Ki Cendhala Geni melangkah diantara mereka sedangkan syaraf terlatih mereka juga dalam keadaan waspada. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Ubandhana, Laksa jaya dan Patraman hanya mampu membuka mulut tanpa kata-kata.

Laksa Jaya bersuit nyaring. Seketika itu belasan orang melompat keluar dari semak-semak di sekitar mereka. Mereka berlari dengan menyalakan obor kecil kemudian membentuk lingkaran yang mengitari Laksa Jaya, Patraman, Ubandhana dan Ki Cendhala Geni. 

“Setan kecil! Kalian menjebakku!” Ki Cendhala Geni menatap nanar ke Laksa Jaya dan Patraman bagai seekor serigala kelaparan.

“Jangan salah paham, Kiai. Mereka adalah pengawal yang akan menyertai kami ke Wringin Anom. Kapal akan segera tiba dan menepi jika mereka melihat sekumpulan obor ini” kata Laksa Jaya sambil mengarahkan telunjuknya ke sekelilingnya.

“Hebat! Engkau sungguh benar-benar cerdik, Laksa Jaya,” bisik Patraman.

“Awas serangan!” seru Ki Cendhala Geni sambil memutar kapaknya yang bertangkai panjang. 

Ubandhana cukup waspada menangkap serangan yang ditujukan pada dirinya. Sebuah anak panah yang membidik leher Ubandhana berhasil digagalkan dengan satu kibasan tombaknya.

Mata Ki Cendhala Geni menangkap sebuah bayangan yang melesat cepat ke arahnya dan segera memutar kapaknya untuk menyambutnya. Kapak panjang milik Ki Cendhala Geni dengan sigap menangkal serangan pedang Ken Banawa. Dua orang tua yang pilih tanding dan berbeda aliran kini saling berhadapan. 

Serangan yang susul menyusul ini belum terhenti dengan adanya serangan dari Bondan yang tubuhnya berputar-putar seperti anak panah meluncur deras memasuki gelanggang dengan keris terhunus. Ubandhana yang belum mengenali tubuh yang melayang ini segera menyambutnya dengan ayunan tombak. Dentang senjata beradu segera terdengar cukup keras. Tombak Ubandhana tertolak keris Bondan kemudian kaki Bondan menyeruak menerobos masuk ke dada Ubandhana dengan kecepatan yang sukar diperhitungkan, lengan Ubadhana segera menutup dada yang terbuka. Ubandhana terdorong ke belakang beberapa langkah sekalipun dirinya berhasil melindungi dadanya dari kaki Bondan.

“Oh engkau rupanya. Masih hidup ternyata” desis Ubandhana ketika wajah Bondan sedikit terlihat jelas oleh cahaya obor.

“Ya, aku disini sekarang. Aku harus menuntut balas kematian Ranggawesi dan Ki Lurah” sahut Bondan penuh amarah.

“Bukankah justru kedatanganmu kemari adalah untuk menjemput kematian mereka berdua?” derai tawa Ubandhana nyaring menghina Bondan Lelana.

“Tutup mulutmu! Aku disini tidak untuk berbincang.” Satu serangan telah disiapkan Bondan dan dirinya menerjang Ubandhana dengan lecutan ikat kepala yang tiap lecutannya menimbulkan suara ledakan-ledakan dahsyat. Tampaknya Bondan segera bertarung dengan puncak kekuatan.

Di sebelah mereka berdua tampak Laksa Jaya dan Patraman terperangah dengan kecepatan serangan yang mendadak dari kelompok yang belum sempat mereka kenali. Laksa Jaya sangat terkejut melihat sosok Ken Banawa turun tangan dalam pencarian Arum Sari. Ia masih ternganga dengan kehadiran Ken Banawa segera disadarkan oleh serangan sangat dahsyat dari Gumilang Prakoso. Bertubi-tubi anak panah membidik kedua orang ini bergantian. Lekas-lekas Laksa Jaya dan Patraman memutar pedangnya untuk menangkis hujan anak panah Gumilang Prakoso.

Ki Cendhala Geni yang mempunyai julukan Banaspati Gunung Kidul, Ubandhana, Laksa Jaya dan Patraman kini menghadapi serangan nyata dari pengawal setia Majapahit. Para pengawal yang belum merasa lelah untuk mengejar setiap orang menganggu ketenangan. Di samping itu mereka juga bangga hati karena bertempur bersama Ken Banawa, seorang perwira wreda yang disegani kawan maupun lawan. 

Layaknya seekor elang yang sedang memojokkan mangsanya. Bondan mengurung dari setiap penjuru angin. Bondan nampaknya mulai mampu mengendapkan gejolak hatinya yang sempat meluap ketika melihat Ubandhana, sedangkan Gumilang Prakoso dengan gagah mulai menyerang Laksa Jaya dan Patraman.

Sementara itu di tempat yang tidak jauh dari lingkaran pertarungan yang lain, Ki Cendhala Geni melirik sekilas ke Laksa Jaya. Dengan penuh keheranan dia berpikir betapa Ken Banawa bisa mengetahui posisi mereka. Namun keheranan itu segera berakhir karena satu bentakan Ken Banawa disusul sabetan-sabetan pedang Ken Banawa yang sangat cepat terlihat seperti cahaya putih yang hendak menelan tubuh Ki Cendhala Geni. Tak mau dirinya menjadi sasaran empuk Ken Banawa, maka Ki Cendhala Geni segera membalas serangan dengan kapak bergagang panjang miliknya. Kedua orang ini segera terlibat dalam saling serang dengan dahsyat dan cepat. Mereka bertarung dalam jarak dekat dan saling memburu ketika salah satu diantara mereka melompat ke belakang atau ke samping.

Bagi Ken Banawa, pertarungan ini adalah kesempatan terakhir yang dia miliki. Seperti itulah dia memandang satu peperangan. Dia tidak mempunyai pilihan selain memberikan hadiah yang terbaik selama pengabdiannya. Kepercayaan penuh yang dia dapat sejak padamnya pemberontakan Ranggalawe membuat dirinya semakin yakin pada nilai-nilai kebenaran yang dianut selama ini. Setia mengawal kerajaan dan memberikan rasa aman pada rakyat yang diayomi. Kesetiaan dan keteguhan hatinya membela kerajaan inilah yang menjadikan Ken Banawa sangat dihormati kawan dan lawan. Patih Mpu Nambi pun memberinya kewenangan penuh dalam memutuskan setiap tindakan, meski begitu Ken Banawa tetap menempatkan Empu Sawajnyana sebagai atasan yang wajib dihormati

Di sisi lain, pertarungan ini adalah pertarungan hidup mati bagi seorang Ki Cendhala Geni. Menyadari kehebatan Bondan Lelana yang pernah dia hadapi sebelumnya sedikit banyak mempengaruhi perhitungannya untuk mampu lolos dari hadangan anak muda ini dan sejumlah prajurit Majapahit. Oleh karena itu, Ki Cendhala Geni alias Ki Cendhala Geni ini bertarung dengan sepenuh tenaga. Kapak panjangnya tiada henti mengeluarkan suara dengungan yang menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya. Getaran tenaga yang keluar dari kapaknya terasa memukul gendang telinga. Begitu mengerikan!! 

Percikan-percikan api kerap terlihat ketika terjadi benturan antara kapaknya dengan pedang Ken Banawa.

Nyaris tiada celah dapat dilihat dari pertarungan kedua tokoh yang telah kenyang dalam pertarungan ini. Kematangan bertarung yang diperoleh dari sekian banyak pertarungan telah menjadikan keduanya seperti sosok yang tidak akan pernah kalah. Tekad kuat untuk dapat lolos dari bidikan Ken Banawa ini menyebabkan Ki Cendhala Geni segera memiringkan tubuhnya dan berputar sangat cepat untuk menghantamkan kapaknya ke tubuh dan kepala Ken Banawa. Perputaran ini sebenarnya menjadi celah bagi Ken Banawa untuk dengan cepat menusukkan pedangnya namun ternyata kapak Ki Cendhala Geni sangat cepat berpindah tangan. Satu ketika tangan kanannya yang memegang kapak ini menghantam pedang musuhnya, dalam keadaan tubuh masih berputar, Ki Cendhala Geni segera memindahkan ke tangan kirinya. Secara beruntun dan semakin cepat Ken Banawa kerepotan membendung serangan kapak ini. 

Ken Banawa segera merubah cara bertahan. Kini dia membiarkan pedangnya terbentur lalu dengan keluwesan tingkat tinggi pedangnya pun menyusur cepat menuju pergelangan tangan Ki Cendhala Geni. Terkejut dengan perubahan mendadak itu, Ki Cendhala Geni segera memutar balik tubuhnya agar nadinya dapat terhindar dari ujung pedang Ken Banawa.

Ujung pedang itu masih sempat menggores lengan dan menimbulkan luka panjang namun tak seberapa dalam. Ki Cendhala Geni tidak menghentikan serangan walaupun lengan kanannya tergores pedang. Dia menyabetkan kapaknya dengan cepat ke arah Ken Banawa kemudian memutar kapaknya dengan tangan kanan namun segera berpindah ke tangan kiri mengikuti ayunan bagian terberat dari kapaknya. 

Cara menyerang seperti ini menjadikan Ken Banawa terkesima betapa lawannya mempunyai kekuatan yang sama antara tangan kiri dan kanan. Ken Banawa nampak lebih berhati-hati dan menjaga jarak dari Ki Cendhala Geni. Melihat hal itu, Ki Cendhala Geni merasa mendapat kesempatan baik karena pertarungan dalam jarak yang sedikit lebih jauh akan menguntungkan dirinya. Gagang panjang kapak akan memberinya keuntungan agar dapat melepaskan serangan dari tendangan yang tidak terduga oleh Ken Banawa. Ken Banawa yang mulai merasa terdesak karena perubahan gerak lawannya, sekarang mencoba untuk mencari jalan keluar dari kepungan Ki Cendhala Geni. Pedangnya segera diputar dan berposisi sejajar dengan lengannya. Setiap kali dia menangkis serangan kapak, itu berarti dirinya semakin dekat dengan Ki Cendhala Geni. 

Sedangkan di bagian lain, Gumilang Prakoso berkelebat cepat di tengah kepungan Laksa Jaya dan Patraman. Pertempuran diantara ketiga lelaki muda dan mempunyai kedudukan di lingkungan masing-masing ini sangat mendebarkan. Betapa hujan panah yang dilepaskan oleh Gumilang Prakoso mampu dihadang oleh Laksa Jaya serta Patraman. Gendewa Gumilang berputar-putar menyambar Laksa Jaya dan pedang di tangan kanannya telah terhunus dan berkelebat cepat menyerang Patraman. Kemudian Gumilang meloncat ke atas dan mencoba melepaskan kedua tendangan pada dua sisi yang berbeda. Kedua lawannya mampu menangkis tendangan itu lalu tubuh Gumilang berjungkir-balik di udara dan bagaikan seekor rajawali, kini tubuhnya meluncur ke bawah, menyerang Patraman dengan pedang di tangan kanan, sedangkan tangan kiri memutar gendewa menghantam ke arah Laksa Jaya.

Gendewa Gumilang tertahan pedang Laksa Jaya dan pedangnya juga gagal menemui sasaran karena tertangkis oleh pedang Patraman. Kedua orang ini merasakan sedikit jerih pada lengannya. Pedang dan gendewa yang dihantamkan oleh Gumilang telah teraliri tenaga dalam serta ditambah bobot tubuhnya saat meluncur ke bawah menimbulkan sedikit keperihan pada kedua lengan musuhnya. 

Laksa Jaya dengan sedikit nekat menerjang Gumilang Prakoso yang baru saja menginjakkan kakinya di tanah sambil mengayunkan pedangnya. Ayunan pedang Laksa Jaya berhasil ditangkis Gumilang, dan dengan cepat Gumilang melepaskan tendangan memutar dan mengenai bahu kiri Laksa Jaya. Patraman menyaksikan itu dengan decak kagum. Betapa seseorang yang menurut perkiraannya belum mampu memulihkan keseimbangan dengan sempurna ternyata mampu melakukan gerakan tendangan memutar secara sempurna. Kini Laksa Jaya terguling-guling di tanah dan Gumilang merangsek dengan gendewanya.

Suara mendengung yang dihasilkan gendewa itu menimbulkan rasa jerih pada hati Laksa Jaya. Kini dia terdesak, melihat hal itu Patraman segera melompat ke arah Gumilang Prakoso sembari memutar pedangnya. Merasakan adanya angin serangan dari arah punggungnya, Gumilang segera memutar tubuhnya dan menyambut serangan Patraman dengan pedangnya yang berwarna merah dan berukir naga pada gagangnya. 

Bondan dengan sangat cepat merangsek maju sambil melakukan tendangan memutar untuk memecah barisan anak buah Laksa Jaya yang bergerak menuju Arum Sari. Gerakan yang memukau seperti ekor naga yang meliuk-liuk menghempaskan daun kering, seperti itulah keris Bondan yang mempunyai sembilan lekuk terlihat oleh mata. Kecepatan keris memberikan pemandangan luar biasa karena cahaya yang menimpa badan keris memperlihatkan warna hijau yang berkilauan. Tendangan memutar susul menyusul serta sabetan keris Bondan mengecilkan nyali kawanan Laksa Jaya yang akan membawa Arum Sari menuju kapal yang berada di pesisir sebelah selatan rawa-rawa. Bayangan upah besar yang akan diterima segera musnah dalam benak mereka. Belasan prajurit Majapahit yang awalnya berpencar kini telah bersatu dan segera menyusun gelar kecil untuk pertempuran ini.

Serangan demi serangan layaknya di medan pertempuran mulai digencarkan prajurit yang memiliki kesetiaan tanpa batas kepada kerajaan. Perlahan mulai mendesak pengikut Laksa Jaya dan mulai menguasai keadaan. Anak buah Laksa Jaya pun tertahan dan kini mereka harus mampu menyelamatkan diri masing-masing. 

Kehebatan tempur prajurit ditambah kekuatan Bondan menjadikan kawanan Laksa Jaya mulai terpojok.

Ubandhana berdecak kagum dengan Bondan yang begitu cepat memulihkan dirinya. Ubandhana memperkirakan waktu yang lebih lama bagi Bondan untuk sembuh dari luka dalam saat pertarungan di Sumur Welut. Bentakan keras Ubandhana menjadi awal terjangannya menghadang Bondan. Tangan Ubandhana yang memegang tombak segera menuju dada Bondan dan siap merobek-robek kulit Bondan seperti singa merobek kulit mang-sanya. Satu tusukan yang sangat cepat segera mematuk dada Bondan. Suara mendesis keluar ketika tombak Ubandhana melayang di udara. Desiran angin dan hawa panas yang keluar dari tombak itu dirasakan Bondan. Merasa ada bahaya yang mengancam nyawanya, segera Bondan melepaskan ikat kepalanya dan menangkis serangan tombak Ubandhana. Sehelai kain yang mempunyai panjang kira-kira seukuran kaki orang dewasa ini tiba-tiba berubah menjadi garang ketika menyentuh bagian samping ujung tombak Ubandhana.

Bondan segera mengalihkan perhatiannya untuk mencecar Ubandhana dengan sabetan keris bergantian dengan ikat kepalanya sebagai senjata. 

Keduanya pernah saling berhadapan di Sumur Welut, meski begitu pada pertarungan saat itu kemampuan kedua orang muda ini belum sepenuhnya dikeluarkan. Ubandhana sempat menyesali kegagalannya menghabisi Bondan. Dia memperkirakan bahwa pemuda berpostur sedang ini bukan orang biasa. Bahkan Ubandhana sudah meyakini bahwa dia akan menemui Bondan dalam pertarungan yang lain. Dan tidak disangka-sangka, justru pada saat dirinya akan memperoleh imbalan terbesar dalam hidupnya malah dirinya dihadapkan dalam pertarungan antara hidup dan mati.