Episode 194 - Perlombaan (2)


Bintang Tenggara berlari dari pengejaran seekor Harimau Jumawa. Harimau tersebut adalah harimau dewasa, dan tak diragukan lagi setara dengan ahli yang berada pada Kasta Perak tingkat menengah. Kecepatan Harimau Jumawa yang diketahui memiliki kesaktin unsur angin, pun tiada dapat di pandang sebelah mata. 

Akan tetapi, bukan Bintang Tenggara namanya bilamana tak dapat menjaga jarak dengan binatang siluman itu. Tak terlalu sulit baginya bergerak tiada beraturan memanfaatkan kesaktian unsur petir. Di kala sedang berlari itulah ia menemukan jalan setapak, lalu menyaksikan sekumpulan remaja muda-mudi berkerumun di hadapan. Usia mereka beberapa tahun di atas, mungkin 18-19 tahunan. Sebagaimana dirinya, kesemua remaja tersebut berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. 

Sekali lihat saja dapat diketahui bahwa mereka sedang bersitegang. 

“Menyingkir!” seru anak remaja itu sambil mengibaskan lengan berkali-kali. 

Bintang Tenggara lalu membelah kerumunan remaja yang sedang bertarung. Di belakangnya, seekor Harimau Jumawa menyusul ketat. 

Kerumunan remaja terbengong-bengong. Kemudian mereka tercengang menyaksikan harimau besar di belakang. Segera mereka menyingkir sejauh mungkin. Beruntung pula bagi mereka, bahwasanya sang harimau telah mengendus bau Bintang Tenggara sebagai buruan. Walhasil, sang harimau tersebut mengabaikan muda-mudi yang telah membuka jalan. 

Bintang Tenggara sedikit lega. Hampir saja dirinya membawa celaka kepada ahli lain. Biarlah harimau itu terus mengekor di belakang. Toh, dirinya hanya menunggu waktu yang paling tepat untuk mengecoh lalu menghilang dari kejaran harimau. Bentuk Pertama dari Silek Linsang Halimun bersiaga, karena di dalam wilayah hutan lebat lereng gunung, banyak sekali bayangan yang tersedia. 

Tetiba, sesuatu di hadapan menarik perhatian Bintang Tenggara. Pada sebatang pohon besar, menempel sebuah perisai perang. Bentuknya melingkar, sedikit lebih kecil dari roda pedati. Pada bagian tengahnya, terdapat sebuah benjolan bulat mirip sebuah bola yang setengah bagiannya tertanam pada permukaan perisai. Sepertinya perisai tersebut terbuat dari logam dan, yang paling penting, benda pusaka tersebut menyibak aura Kasta Perak. 

Siapakah gerangan yang meninggalkan senjata pusaka di tempat ini…? batin Bintang Tenggara. 

“Ambil perisai itu!” sergah Komodo Nagaradja.

Mendapat kepastian bahwa barang pusaka tersebut merupakan perisai, Bintang Tenggara segera memacu langkah. Dirinya tiada memiliki senjata pusaka bertahan selain Sisik Raja Naga. Tentu kesempatan langka ini tiada mungkin akan dilepaskan. 

Lima Segel Penempatan berjajar ketika Bintang Tenggara melenting-lenting tinggi di udara. Sebuah perisai segera ia sabet dari batang pohon besar. Perisai itu segera menyoren di belakang pundak. Anak remaja tersebut pun kembali memacu langkah, karena sang harimau rasanya belum hendak berhenti mengejar.

“Hei!” hardik salah seorang remaja di belakang. 

“Itu adalah Perisai Tunggul Waja yang ditawarkan dari Perguruan Panji Manunggal”

“Ia mengambil imbalan kita!” 

Betapa berang kesepuluh remaja ketika menyaksikan benda pusaka pertama yang tersedia di lintasan lomba, malah diambil oleh entah siapa! Gerakan Bintang Tenggara terlalu cepat dan mendadak sehingga sulit bagi mereka untuk mengamati wajah anak remaja tersebut. Bila diberi waktu mencermati lebih lama, kemungkinan besar mereka akan menyadari bahwa anak remaja tersebut merupakan murid yang bersinar pada Kejuaraan Antar Ahli beberapa bulan lalu. 

Sontak mereka mengejar remaja yang dikejar harimau. 


“Hmph!” Empu Wacana mendengus, mata melotot. 

Lelaki tua itu sebal karena ada yang lancang mencuri pusaka perguruan yang dijadikan taruhan. Akan tetapi, dirinya tadi sempat terlepas kata-kata bahwa pusaka perguruan tersedia bagi siapa pun yang beruntung. 

“Bagaimana…?” Maha Guru Sanata setengah mencibir. 

“Oh…? Kau tiada percaya pada kemampuan murid-murid pilihanmu sendiri…? Aku yakin dan percaya bahwa sebelum akhir lintasan, murid-muridku akan berhasil mengambil kembali pusaka tersebut.” Empu Wacana berupaya mengembalikan harga diri. 

“Janganlah sesumbar. Justru murid-muridku yang akan merampas pusaka perguruanmu,” tanggap Maha Guru Sanata. “Bila demikian, apakah kita sepakat membiarkan bocah pendatang baru itu ikut dalam perlombaan?” 

“Anggap saja sebagai halang rintang tambahan. Dunia persilatan dan kesaktian dipenuhi oleh kejutan-kejutan. Keadaan ini justru akan banyak mengajarkan pengalaman baru kepada murid-murid.” Empu Wacana terlihat amat bijak. Semoga nantinya ia tiada akan menyesali keputusan ini.


“Super Guru, sepertinya pusaka ini adalah milik mereka…” 

“Tiada urusan! Siapa ahli yang piawai, maka dialah pemiliknya!” bentak Komodo Nagaradja. 

Sebagai ahli yang sudah malang melintang di dunia persilatan dan kesaktian, tentu Komodo Nagaradja mengetahui persis apa yang sedang berlangsung. Sepuluh murid-murid tersebut sedang ikut serta dalam semacam perlombaan. Tujuan mereka adalah mencapai garis akhir secepat mungkin, namun di sepanjang lintasan lomba akan tersedia pula berbagai pusaka sebagai hadiah hiburan. 

“Ooo… jadi begini caranya dikau sampai memiliki demikian banyak harta benda di dalam ruang penyimpanan di dalam goa itu…,” sindir Ginseng Perkasa. 

“Bukan urusanmu!” hardik si Super Guru, yang bersemangat mengajarkan anak didiknya perilaku nan tak patut. “Muridku, terus ikuti jalan setapak ini. Kuyakin masih tersedia benda-benda pusaka lain yang dapat kita sikat!” 

Demikian, Bintang Tenggara terus memacu langkah. Di belakangnya, seekor binatang siluman Harimau Jumawa masih mengejar. Di belakang lagi, sepuluh murid-murid dari dua perguruan yang berseteru menjaga jarak. Mereka tiada berani mengambil langkah gegabah, karena bisa saja menjadi mangsa harimau. 

Hari beranjak malam. 


“Haha… malam hari telah tiba.” Empu Wacana dari Perguruan Panji Manunggal berujar dari atas tebing nan tinggi. 

“Sungguh purnama bersinar cemerlang, langit pun terlihat bersih. Pergerakan seperti apakah yang akan diambil oleh murid-murid itu?” tanggap Maha Guru Sanata dari Perguruan Duta Guntur.

“Hm… Kemanakah perginya bocah yang tadi mengambil Perisai Tunggul Waja…?”

“Jangan berpura-pura polos… anak itu bersembunyi di balik bayangan. Sepertinya ia memiliki senjata simpanan…” Di saat yang sama, Maha Guru Sanata menggenggam sebuah lencana. 

“Dan kau berpikir dapat berbuat curang di depan batang hidungku!?” hardik Empu Wacana. 

“Aku tiada memahami kata-katamu…”

“Kau kira aku tiada menyadari bahwa kau sengaja menggengam lencana perguruanmu saat kita berbincang-bincang!? Lencana itu tentunya terhubung dengan murid-muridmu! Kau hendak memberitahu situasi melalui pembicaraan kita!”

“Omong kosong!” bentak Maha Guru Sanata. “Aku baru hendak mengirimkan pesan kepada perguruan tentang perkembangan perlombaan!” 

“Bangsat! Kau kira aku bocah kemarin sore!?” 

“Kau menantangku!?” gertak Maha Guru Sanata. 

Perseteruan keduanya kembali memanas. Akan tetapi, hanya dalam kata-kata saja. Mereka telah sepakat untuk tak bertarung. Lagipula, keduanya menyadari bahwa di dekat murid-murid, sangatlah utama menjaga martabat sebagai sesama tetua perguruan. 


Bintang Tenggara, di lain sisi, bersembunyi memanfaatkan Bentuk Pertama dari Silek Linsang Halimun di bawah bayangan pohon yang disinari rembulan. Malangnya, sang harimau tetap menyadari keberadaannya dan menanti di dekat bayangan. 

Murid-murid dari kedua perguruan pun bukanlah ahli-ahli muda nan bodoh. Mereka merupakan Putra dan Putri Perguruan. Meski tiada secara persis mengetahui keberadaan Bintang Tenggara, mereka menyadari bahwa tokoh tersebut bersembunyi tak jauh dari sang Harimau Jumawa. Demikian, mereka membangun dua kubu yang terpisah jarak. Bergantian mereka memantau situasi dan beristirahat. 

Sebaliknya, Bintang Tenggara tiada dapat beristirahat pulas. Ia harus tetap menjaga kesadaran agar Bentuk Pertama dari Silek Linsang Halimun dapat terus-menerus dirapal. Bilamana tertidur, maka ia akan terlontar keluar dari dalam dimensi ruang persembunyian. 

“Muridku…”

“Super Guru…”

“Masihkah kau ingat Taktik Tempur No. 50?”

“Akan tetapi… Guru…” 

“Kau tiada bisa beristirahat. Esok hari akan berat bagimu. Sekarang, gunakan isi kepalamu itu!” 



“Beletak!” Sebuah batu mendarat tepat di kepala salah satu murid Perguruan Duta Guntur! 

“Bangsat! Kau mencari perkara!” Terdengar suara meradang. 

“Mencari perkara!? Janganlah suka mengada-ada!” Suara ini tentunya berasal dari salah seorang murid Perguruan Panji Manunggal di kubu seberang.

“Jangan banyak bacot! Aku menantangmu dalam pertarungan satu lawan satu!” 

Tiada perlu waktu lama. Di tengah gelap malam bersinar purnama, terdengar teriakan jurus demi jurus, yang disusul ledakan demi ledakan. 

Bintang Tenggara bersungut. Sungguh dirinya tiada ingin melancarkan Taktik Tempur No. 50: Mengadu Domba. Akan tetapi, apa yang diutarakan Super Guru benar adanya. Bilamana dirinya tiada dapat melelapkan mata, mengapa murid-murid di luar sana bisa memperoleh hak istimewa? Mari bersama-sama kita tidak tidur sepanjang malam ini. 


Di saat subuh, Bintang Tenggara kembali berlari. Kini larinya berjingkat layaknya lari Babi Taring Hutan. Sebagaimana diketahui, gaya berlari ini sangatlah menghemat tenaga dalam. Di belakangnya, Harimau Jumawa masih mengekor. Akan tetapi, binatang siluman tersebut hanya berlari santai. Sepertinya, sejak awal ia hanya ingin mendapat teman bermain saja. 

Hanya delapan murid peserta lomba yang mengintai di belakang. Kedua remaja yang bertarung semalam, sama-sama menderita cedera yang tak ringan. Walhasil, keduanya tiada dapat melanjutkan keikutsertaan dalam perlombaan. 

Mata memerah, sungguh mereka gerah. Kedelapan murid ini kemungkinan besar telah menyadari bahwa adalah remaja itu yang menyulut pertikaian di antara teman mereka. Walaupun, kesemuanya tiada memiliki bukti atau melihat langsung bahwa anak remaja tersebut yang melempar batu. 

“Apakah itu…?” gumam Bintang Tenggara. Sebuah kotak tergeletak tak jauh di hadapan.

“Abaikan!” sergah Komodo Nagaradja. 

“Lho… mengapa?” Ginseng Perkasa tiada percaya. 


“Hm…? Bocah itu mengabaikan kotak itu!” 

“Apakah ia mengetahui tentang…” 

Kedua ahli perkasa di atas tebing, sudah sangat menantikan saat dimana sang bocah mendapati keberadaan kotak, kemudian mengambil. Akan tetapi… 

“Duar!” Sebuah ledakan melontarkan sepasang anak remaja di belakang sana. Mereka tadinya berebutan mencapai kotak. Siapa nyana, bahwa kotak tersebut merupakan perangkap yang memang disiapkan oleh kedua tetua penyelenggara perlombaan. 

“Hehehe… Tipuan konyol seperti itu tak akan dapat mengelabui naluriku,” cibir Komodo Nagaradja. 

Luar biasa! Bintang Tenggara tiada dapat mengurai kekagumannya terhadap sang Super Guru. Dirinya mulai menikmati perlombaan ini.

Meskipun ledakan yang terjadi telah dibuat sedemikian rupa untuk tak merenggut nyawa murid Kasta Perunggu, dampak ledakan cukup untuk membuat mereka jatuh pingsan. Kini, hanya tinggal enam murid yang mengejar, tiga dari Perguruan Duta Guntur dan tiga lagi dari Perguruan Panji Manunggal

Hari jelang siang. 

“Apalagi itu…?” Terlihat sebuah kotak yang tergeletak di jalan setapak. 

 “Ambil!” tanggap Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara memungut kotak. Sambil berlari, ia membuka tutupnya dan menemukan sebuah gulungan naskah. Sepintas, dirinya mendapati tulisan ‘Jurus Guntur Menggelegar’. Dari namanya, kemungkinan besar adalah sebuah jurus kesaktian unsur petir. Kebetulan sekali. 

“Itu adalah gulungan naskah jurus Guntur Menggelegar!” 

“Bangsat! Itu adalah salah satu jurus andalan perguruan kita!” 

“Hei! Kembalikan!” 

Bintang Tenggara mengabaikan teriakan demi teriakan di belakang sana. Dirinya lebih khawatir pada perut yang sudah melilit. Bekal perjalanan yang ia miliki telah habis disantap semalam. Ia kini menebar pantauan mata hati sejauh mungkin. Pastinya ada pepohonan buah-buahan yang hidup disekitar lintasan. 

Tetiba Bintang Tenggara mengubah arah. Ia berbelok tajam, lalu melancarkan teleportasi jarak dekat yang diikuti dengan langkah petir. Tindakan ini semakin memperlebar jarak dengan sang harimau. 

Harimau Jumawa berhenti di tempat. Nalurinya mengatakan bahwa ia telah berlari terlalu jauh dari sarang. Ia pun sudah lupa atas alasan apa sesungguhnya ia mengejar anak remaja di depan. 

Keenam remaja di belakang menghentikan langkah. Mereka waspada ketika sang harimau memutar langkah dan berlari ke arah mereka. Kocar-kacir keenam murid perguruan itu dibuatnya. Walau, tiada sang harimau mengincar mereka. 

Bintang Tenggara, di lain sisi sedang menyantap beberapa buah pisang. Ia pun sempat mengisi perbekalan air di aliran sungai kecil. Sungguh ia heran sekaligus lega, mengapakah sang harimau tiada mengemuka? Mungkin sudah bosan mengejar, pikirnya ringan.

Walhasil, ketika kembali ke jalan setapak yang merupakan lintasan lomba, Bintang Tenggara segera menyadari bahwa tiada lagi pembatas antara dirinya dengan keenam remaja. Mereka mengerahkan kemampuan penuh dalam mengejar. Empat tepat belakang, sisa dua tergopoh-gopoh berupaya menyusul. Kemungkinan dua paling belakang itu memiliki kesaktian unsur tanah sehingga tiada dapat membanggakan kecepatan mengejar. 

Mengapa murid dengan unsur kesaktian tanah diikutsertakan dalam sebuah perlombaan yang menguji kecepatan? Bintang Tenggara mengira-ngira. Pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa di dalam perlombaan ini, pertarungan tiada mungkin terelakkan. Para murid tersebut terdiri dari dua kubu, sehingga kemungkinan mengikuti lomba karena hendak menyelesaikan semacam pertikaian antar perguruan. Pantas saja mereka sangat mudah diadu domba semalam. 

Tabir malam kembali membentang. Empat ahli di belakang telah menemukan musuh bersama. Mereka tiada lagi saling menjegal, sebaliknya berupaya sekuat mungkin untuk menyusul, lalu membungkam siapa pun itu. Dari sasaran mereka, nantinya dua pusaka perguruan dapat dirampas kembali. 

Bagi Bintang Tenggara, sebaliknya, tingkatan berlari mereka sangatlah rendah. Jauh lebih rendah dari dirinya. Perlombaan lari ini ibarat berhadapan dengan bocah taman kanak-kanak saja. Bagaimana tidak, peserta perlombaan ini kesemuanya berada pada Kasta Perungggu Tingkat 9, sebagaimana dirinya.

Oleh karena itu, terkadang Bintang Tenggara sengaja memperlambat langkah. Tindakan ini dilakukan hanya untuk membuka harapan menyusul kepada para pengejar itu. Sungguh harapan palsu.


“Cih! Siapakah bocah itu!? Ia mempermainkan murid-murid kita!” 

“Entah dimana… sepertinya aku pernah melihat perawakan bocah itu.” 

Meski tiada diungkapkan, sungguh kedua penyelenggara itu kecewa pada kemampuan Putra dan Putri Perguruan yang ikut serta dalam perlombaan. Padahal, murid-murid tersebut merupakan murid-murid pilihan yang mereka tunjuk langsung demi mewakili perguruan. Mengapakah sampai sejauh itu jurang pemisah di antara sesama ahli Kasta Perunggu Tingkat 9? 

Di saat yang bersamaan, keduanya pun tiada rela menjadi yang pertama angkat suara untuk menyingkirkan bocah dimaksud. Harga diri melarang mereka, sehingga saling menunggu pihak lawan yang menyarankan kemungkinan tersebut. 


Bintang Tenggara tiada hendak beristirahat. Di dalam gelapnya malam, ia terus memacu langkah. Kelelahan mendera mereka yang mengejar. Tenaga dalam mulai terkuras. Beberapa dari mereka terlihat telah menenggak beberapa botol ramuan penguat raga dan/atau penambah tenaga dalam. Sungguh besar pengorbanan, karena ramuan yang sedemikian pastilah mahal harganya. 

“Hampa…” gumam Bintang Tenggara, setelah sebelumnya melesat jauh ke depan sehingga berada pada jarak yang sangat aman. 

Sebagai tanggapan, alam raya seolah bersimpati, dimana tenaga alam melesak melalui pori-pori kulit untuk berubah menjadi tenaga dalam yang mengisi mustika di ulu hati. 

“Ini…” Ginseng Perkasa terpana. 

“Huehuehue…” Komodo Nagaraja terkekeh-kekeh. “Hanya guru yang pantaslah yang dapat memberikan tunjuk ajar yang tiada tara.” 

“Kalian berhasil mengurai teka-teki gulungan naskah daun lontar itu…” 

“Huehuehue…” 

“Apakah ini teknik menyerap tenaga alam dari jurus… Delapan Penjuru Mata Angin!?”  

“Huehuehue…” Komodo Nagaradja terlihat puas. Padahal, bukanlah dirinya yang mengajarkan, melainkan sang Super Murid yang menemukan pendekatan dalam membuka jurus tersebut. 

Mengisi penuh tenaga dalam menggunakan jurus Delapan Penjuru Mata Angin berlangsung sangatlah cepat. Usia memenuhi mustika tengara dalam, Bintang Tenggara segera memacu langkah menembus gelapnya malam. 

“Apakah itu…?” Bintang Tenggara bertanya-tanya. 

Jauh tinggi di udara, terlihat melayang sebuah kristal seukuran sekepalan tangan orang dewasa. Warnanya keemasa, sehingga terlihat mencolok sekali di kala malam. 

“Ambil!” tetiba Ginseng Perkasa berteriak menggunakan jalinan mata hati. Bintang Tenggara samapi dibuat terkejut sekali. 

“Heh… ke mana perginya nilai-nilai keadilan yang tadi engkau usung…?” cibir Komodo Nagaradja. 

“Ambil! Ambil! Ambil!” rengek Ginseng Perkasa. 

“Kakek Gin, apakah itu…?”

“Mustika binatang siluman Kasta Emas!” 

“Bukankah diperlukan mustika siluman sempurna untuk membuatkan tubuh baru…?” 

“Diriku bosan menetap di dalam botol kecil ini. Bilamana jiwa dan kesadaranku dapat berpindah ke dalam mustika itu, diriku bisa mengumpulkan dan menampung sedikit tenaga dalam,” urai Ginseng Perkasa. 

“Siap!”