Episode 10 - Sembilan

Rajah Cakra Bisma (2)


Kini tatapan mata si orang tua penyabar dan bijak itu berubah, dari yang asalnya memancarkan kelembutan, kini berubah menjadi memancarkan kemarahan “Dharmadipa, kau keliru! Manusia beradab selalu membutuhkan manusia lainnya, mereka selalu merasa wajib untuk memberi petunjuk jalan yang baik pada pada orang lain, apalagi pada orang yang mereka sayangi! Sebab ia pernah merasakan sakitnya melalui jalan buruk, ia pernah merasakan hampanya ketika memalui jalan yang sesat. Manusia beradab selalu berterima kasih dan bersyukur menerima petunjuk itu!”

Dharmadipa sudah merasa sangat jengkel dengan pembicaraan ini, maka ia pun memungkasnya “Saya memang tidak beradab! Karena itu biarkan saya pergi!”

Ia pun mulai melangkah meninggalkan gurunya, tapi tangan Sang Kyai segera memegang pundak pemuda pemarah itu, “Dharmadipa eling… Eling! Istighfar, segera ambil wudhu dan laksanakanlah shalat!”

Dengan menggunakan tenaga dalamnya Dharmadipa menepis tangan gurunya hingga membuat Kyai Pamenang terkejut dengan apa yang dilakukan murid sekaligus anak angkatnya ini, dan lagi-lagi jari telunjuk Dharmadipa menunjuk lurus ke hidung orang tua di hadapannya, tanda lingkaran merah di keningnya semakin memerah jelas, matanya menyala-nyala laksana kobaran api “Pamenang! Selama ini aku selalu bersikap sabar padamu! Aku bersabar ketika kau pilih kasih padaku, kau hanya menurunkan jurus Menggoncang Langit Menjungkir Awan pada Jaka, kau tidak mau menurunkan jurus andalanmu itu padaku! Sekarang pun kau bersikap tidak adil, tidak membiarkan aku untuk mengejar orang yang aku cintai!”

Dharmadipa langsung memasang kuda-kuda jurus silatnya, itu artinya dia hendak menantang gurunya sendiri, dengan ilmu yang ia pelajari dari gurunya sendiri! Kyai Pamenang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika dilihatnya Dharmadipa memasang kuda-kuda jurus “Menjejak Bumi Menggapai Langit”, salah satu jurus andalan Padepokan Sirna Raga.

“Baiklah kalau kau ingin melawanku Dharmadipa, kita lihat seberapa jauh kemampuanmu!”

Mendengar jawaban gurunya, tak ayal lagi tangan dan kaki Dharmadipa segera menyerang bagian-bagian tubuh yang mematikan dari sang Kyai, namun sungguh ajaib! Pukulan-pukulan serta tendangan-tendangan Dharmadipa yang berasarang telak di tubuh Sang Kyai tidak melukai orang tua itu sedikitpun, malahan Dharmadipa serasa memukul tempat hampa yang kosong.

Dharmadipa segera melompat mudur mendapati semua serangannya bagaikan hanya mengenai tempat kosong, “Ajian Mengosongkan Diri! Bagus! Satu lagi ilmu kesaktian yang tidak kau turunkan padaku! Satu lagi bukti bahwa kau memang tidak mengasihiku!” bentak Dharmadipa

“Aku tidak menurunkannya padamu sebab kau tidak akan pernah bisa menguasainya selama kau selalu menjadi budak hawa nafsu Dharmadipa!” jawab Kyai Pamenang dengan tenang.

“Baiklah kalau begitu, sekarang kau terimalah ini!” Dharmadipa mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya dan menyalurkannya pada seluruh tubuhnya, setiap gerakan tubuhnya nampak sangat bertenaga dan menimbulkan angin deras, bumi sekitar tempat itu bergetar setiap kakinya melangkah, tenaganya bagaikan seekor gajah, itulah salah satu ajian andalan Padepokan Sirna Raga yang bernama Ajian “Liman Sewu”. Seluruh serangan-serangan yang mempunyai daya hancur dahsyat menyerang tubuh Kyai Pamenang, namun Kyai Pamenang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, serangan-serangan dahsyat yang mempunyai daya hancur dahsyat itu seolah lewat dari tubuh Kyai Pamenang!

“Kurang ajar! Ilmu pengecut Jahanam!” rutuk Dharmadipa mendapati ajian yang sangat ia andalkan itu tidak mampu berbuat apa-apa pada Kyai Pamenang. Tanda rajah Cakra Bisma di keningnya makin menyala memerah bagaikan api berkobar, dia langsung merapatkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam, dia mengumpulkan panas dari perutnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas sambil mengepal, tulang-tulangnya berteroktokan berbunyi dan giginya bergemelutuk, tangan kanannya mengeluarkan cahaya merah bagaikan bara api membara, hawa disekitarnya menjadi sangat panas, tanda ia akan segera melepaskan pukulan pamungkasnya yang tak lain adalah pukulan “Sirna Raga”!

Kyai Pamenang melotot, ia tidak mengira kalau Dharmadipa akan mengeluarkan pukulan pamungkas dahsyatnya yang ia ciptakan sendiri, “Dharmadipa kau tega membunuh gurumu dengan Aji Pukulan Sirna Raga?!” hardiknya.

“Aku akan membunuh siapapun yang berani menghalangi kemauanku!” hardik Dharmadipa.

“Ya Gusti Allah, maafkanlah kelancangan murid durhaka ini!” bisik Kyai Pamenang, dia mengheningkan cipta, menutup seluruh panca indranya, dalam hatinya ia membaca doa-doa, tangannya bersidekap. 

“Heeeaaaahhhhh!!!” Dharmadipa berteriak dahsyat, tangan kanannya dipukulkan ke muka, semburan lidah api disertai gelombang angin panas bergulung-gulung menyambar Kyai Pamenang! Kali ini pukulan ini lebih dahsyat daripada yang ia lepaskan sewaktu menyerang Jaka, sebab kali ini dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, energinya seolah meluap-luap seiring dengan emosinya yang juga meluap-luap, maka tak terkirakan bagaimana dahsyatnya pukulan Sirna Raga yang menyerang gurunya sendiri!

Kobaran Lidah Api yang disertai gelombang angin panas itu menderu menyambar Kyai Pamenang dengan sangat cepat! Tapi Sang Kyai hanya diam bersidekap dengan mata tertutup, kemudian terjadilah suatu keajaiban yang tak bisa Dharmadipa percayai dengan mata kepalanya sendiri! Kobaran lidah api dan gelombang angin panas itu membalik kepada dirinya ketika mengenai tubuh Kyai Pamenang! Blaarrr! Suatu dentuman ledakan dahsyat terdengar mengguncang bumi disekitar mereka, ketika Dharmadipa terkena oleh pukulannya sendiri! Itulah kehebatan ajian “Wahyu Takwa” yang membentengi tubuh Kyai Pamenang.

Kyai Pamenang membuka matanya, ia sangat kaget ketika melihat keadaan Dharmadipa yang terluka parah, ia segera berlari menghampiri Dharmadipa dan memadamkan api yang membakar dada Dharmadipa, ia segera menotok beberapa titik di tubuh Dharmadipa, “Dharmadipa…” ia menangis sambil memeluk tubuh anak angkatnya yang telah pingsan itu, ia lalu mengalirkan tenaga dalamnya di luka dada Dharmadipa, setelah dirasa cukup, ia segera menggendong tubuh Dharmadipa pulang ke padepokannya.

Di balairiung Padepokan, semua murid-murid belum ada yang meninggalkan ruangan besar itu, mereka masih menunggu Kyai Pamenang, sementara Nyai Mantili terlihat menangis setelah apa yang baru saja terjadi, “Ampun Nyai Guru, saya dapat memaklumi kalau Kyai Guru sangat marah sekali mendapati sikap Adi Dharmadipa, beliau merasa bertanggung jawab atas sikap seluruh murid-muridnya, apalagi Adi Dharmadipa anak angkatnya sendiri dan merupakan salah satu murid unggulan padepokan ini” ucap Kadir pada Nyai Mantili.

Nyai Mantili menangguk lemah “Kamu benar Kadir, saya tidak tega melihat bagaimana terpukulnya perasaan Kakang Kyai ketika Dharmadipa tidak mau menundukan kepalanya dan dengan lancang memanggil namanya”. 

Jaka yang merasa serba salah dan sangat tidak enak ini ikut bicara, “Maaf Nyai Guru, tapi saya khawatir guru menemui kesulitan, sampai sekarang beliau belum kembali”. 

Nyai Mantili menatap Jaka. “Jangan khawatir Jaka, ilmu yang diturunkan pada Dharmadipa belum seberapa dengan ilmu yang Kakang Kyai miliki”.

Baru saja Nyai Mantili menutup mulutnya, Kyai Pamenang datang sambil menggendong Dharmadipa, semua perhatian langsung tertuju pada Sang Kyai, Kadir dan Jaka segera berlari menghampiri gurunya, “Guru…” ucap Jaka, Kyai Pamenang hanya terdiam dengan wajah kusut, matanya tampak kuyu sekali, tanpa berkata apa-apa Kyai Pamenang segera menidurkan tubuh Dharmadipa di banjar balairiung itu. 

Nyai Mantiti langsung membuka baju Dharmadipa dan mengoleskan semacam ramuan pada luka bakar di dada Dharmadipa, kini luka Dharmadipa lebih parah daripada luka yang diderita Jaka akibat pukulan Sirna Raga miliknya sendiri.

Jaka merasa sangat bersalah dan sedih melihat gurunya dan Kakangnya, ia langsung berlutut memegang kaki gurunya “Mohon ampuni murid guru… Ini semua terjadi karena kesalahan murid juga… Sejujurnya sejak Mega Sari berguru di Padepokan ini beberapa tahun yang lalu sampai ia pergi, saya dan Kakang Dharmadipa sering menemuinya secara diam-diam, kalau ini yang menjadi sumber masalahnya, murid mengaku salah dan siap menerima hukuman!”

Kyai Pamenang menatap Jaka yang berlutut sambil memegang kakinya, ia lalu menatap seluruh murid-muridnya “Semuanya keluarlah! Aku hanya minta ditemani oleh Jaka Lelana!”

Setelah semua muridnya keluar, Kyai Pamenang pun membangunkan Jaka “Bangunlah Jaka, yang patut engkau sembah hanya Allah, jangan bersujud kepadaku seperti ini! Aku tidak suka!” tegurnya.

“Maaf guru…,” sahut Jaka dengan suara yang amat pelan mirip berbisik, dia hanya menundukan kepalanya saja. 

“Benarkah apa yang kau katakan tadi Jaka?” tanya Kyai.

“Benar guru” jawab Jaka.

“Bagus kau telah mengakui perbuatanmu, mengapa kau dan Kakangmu ini sering menemui Mega Sari secara diam-diam padahal sudah kularang murid laki-laki untuk berbaur dengan murid perempuan?” selidik sang guru. 

Jaka menelan ludahnya takut untuk menjawabnya, tapi ia memberanikan diri untuk menjawabnya “Itu… Itu Karena… Saya mencintai Mega Sari guru… Saya tidak dapat menahan hasrat untuk bertemu dengannya Guru, hati saya terasa sakit bila tidak melihatnya…”

Kyai Pamenang menepuk bahu Jaka “Jaka… Kau tahu apa namanya itu? Menurutmu apakah itu cinta atau nafsu syahwat?”

Jaka terdiam karena ia tidak mengetahui jawabannya. 

“Kau tidak tahu bukan? Lalu menurutmu mengapa aku sampai memisahkan antara murid laki-laki dangan murid perempuan di padepokan ini? Tahukah kau apa yang akan terjadi kalau manusia yang bukan muhrimnya yang berbeda jenis disatukan?”

Jaka menggelengkan kepalanya, Kyai Pamenang menatap lekat-lekat pada Jaka “Yang terjadi adalah zinah! Dan tahukah kau apa akibat dari perzinahan itu?”

Jaka terdiam tetap menundukan kepalanya, Kyai Pamenang menunjuk pada Dharmadipa yang sedang pingsan dan diobati oleh Nyai Mantili “Apa yang terjadi pada Dharmadipa hanyalah sebagai contoh kecil dari akibat zinah! Dan banyak lagi akibat yang lebih mengerikan lagi pedih dari perbuatan zinah! Kau pasti tahu bahwa agama Islam melarang untuk berbuat zinah!”

Kyai Pamenang mengambil nafas sejenak, berusaha menenangkan dadanya yang sesak. “Jaka, sekarang aku tanya padamu, apa yang membuatmu mencintai Mega Sari? Apakah karena dia seorang putri raja?”

Jaka menggelengkan kepalanya perlahan “Bukan Guru, tidak sekalipun hamba mencintai Mega Sari karena ia seorang putri raja, hamba mencintainya karena ia seorang wanita yang sangat cantik!”

Kyai Pamenang menaikan alisnya “Cantik? Apa itu cantik Jaka? Katakan padaku!”. 

Jaka berpikir sejenak sebab ternyata ia juga tidak mengerti cantik itu apa, tapi ia menjawabnya secara jujur pada gurunya “Maaf Guru, murid menyukai kulitnya yang putih, mulus, dan bersih, rambutnya yang hitam panjang indah, matanya dan seluruh wajahnya yang indah, tubuhnya yang sintal, suaranya yang indah, dan cara bicaranya yang halus lembut”. 

Kyai Pamenang melotot “Jadi semua itu yang engkau sukai dari Mega Sari? Engkau menyukai fisiknya saja dan mengatakan bahwa cantik itu adalah wanita yang mempunyai fisik bagus? Astaghfirulah! Itulah yang disebut dengan nafsu syahwat Jaka!”

Kepala Jaka semakin tertunduk, nasihat dari gurunya terus meluncur “Namun begitu, bukan berarti Cinta adalah hanya merupakan nafsu syahwat, agar manusia tidak terjerumus kedalam zinah, agama dan adat kita mengajarkan apa yang namanya tanggung jawab, salah satu bentuk dari tanggung jawab itu adalah pernikahan atau perkawinan dua orang itu menjadi suami-istri, dari suatu pernikahan akan menimbulkan hak dan kewajiban dari masing-masing pihak! Maka ketika engkau mencintai seorang wanita, kau harus siap bertanggung jawab, kau harus siap untuk menikahinya dan melakukan segala bentuk kewajiban sebagai seorang suami nantinya! Sekarang aku tanya, mengetahui status Mega Sari yang seorang putri raja, apakah kau sanggup untuk menikahinya?!”

Ucapan gurunya kali ini benar-benar menampar Jaka, ia menggelengkan kepalanya dengan lemah, “Tidak mungkin bukan kau yang hanya rakyat biasa menikahi seorang tuan putri anak raja! Lalu bagaimana kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan akibat zinah dari nafsu syahwatmu itu pada Mega Sari kalau kau tidak mungkin untuk menikahinya? Yang pasti kau akan mendapatkan hukuman yang berat dari Prabu Kertapati, belum lagi hukuman menurut syariat dan hukuman di akhirat nanti!” jelas Sang Kyai.

Kyai Pamenang menghela nafasnya, matanya menatap keluar jendela “Jaka, sebenarnya bukan hanya masalah Mega Sari putri seorang raja yang membuatku tidak bisa merestui hubungan kalian, namun suatu sebab lain… Dulu ketika aku diminta memimpin proses akikah Mega Sari, aku melihat ada sebuah tanda pusaran hitam di bawah pusar diatas kemaluannya, menurut orang tua dulu itu adalah tanda bahwa orang tersebut mempunyai sifat yang sangat jahat, dan akan membawa bencana bagi siapa saja yang hidup bersamanya… Walahuallam Wibisawab, aku bukannya suudzon pada Mega Sari, namun aku mempunyai firasat buruk setiap kali melihat wajah Mega Sari, mata bathinku selalu menangkap kengerian yang tak terkirakan dari sorot matanya yang ia sembunyikan dalam senyuman manisanya dan tutur kata serta sikapnya yang lemah lembut, apalagi kalau aku melihat sepak terjang Prabu Kertapati yang senang mengobarkan perang di tanah Pasundan ini membuatku untuk berhati-hati pada keluarga Mega Mendung”.

Kyai Pamenang lalu memegang bahu Jaka “Akan tetapi bagaimanapun kesalahan kalian adalah kesalahanku juga sebagai guru kalian, seperti yang dikatakan istriku, aku telah lalai dan kurang awas pada perkembangan kalian, aku seakan tidak menyadari kalau kalian sudah beranjak dewasa, sudah saatnya mengenal dunia luar, sudah saatnya mengenal nafsu syahwat pada lawan jenis… Maka biarlah ini menjadi peringatan bagi kita semua, biarlah ini menjadi pelajaran bagiku dalam mengawasi kalian, jadikan ini pelajaran berharga bagimu agar jangan mengulangi kesalahan yang sama… Maka aku tidak berhak untuk menghukummu, aku hanya minta bantuanmu untuk mengobati Dharmadipa, dan kelak kalian berdua harus saling mengawasi dan menjaga diri”. 

Jaka pun menjura hormat. “Baik Guru, nasehat guru akan saya ingat dan laksanakan sebaik-baiknya”.