Episode 23 - Situasi Genting


Aku masih belum tahu siapa yang tengah dibuntuti Shinta, namun kuat dugaanku orang-orang yang itu juga berasal dari dunia persilatan. Karena Shinta tampak begitu waspada saat membuntuti mereka. Sayangnya, jarak antara diriku dengan orang yang dibuntuti oleh Shinta terlalu jauh. Sehingga aku tidak bisa mengetahui siapa adanya mereka. 

Sebenarnya perasaanku semakin tidak enak mengingat kami pergi menuju daerah yang semakin terpencil. Jika aku jadi Shinta, tentu sudah kuhentikan aksi pengintaian ini. Tapi dia justru semakin bersemangat membuntuti orang-orang tersebut semakin dekat. Meskipun aku menyadari bahaya yang mengintai, tapi aku sama sekali tak berniat meninggalkan gadis itu sendirian. 

“Nekat banget nih cewek…,” batinku sambil terus membuntuti Shinta dengan menjaga jarak. 

Karena jarak antara Shinta dengan orang yang dia buntuti semakin dekat, akhirnya aku juga bisa melihat orang-orang yang dibuntuti oleh Shinta dari tempat persembunyianku. Jumlahnya ada lima orang, empat laki-laki dan satu perempuan. Mereka tampak tak menyadari Shinta dan meneruskan perjalanan mereka hingga sampai di sebuah kompleks bangunan yang terbengkalai. Sepertinya kompleks bangunan ini adalah kompleks pabrik yang sudah lama tak digunakan lagi. Area yang sebelumnya menjadi tempat parkir dan jalan sudah ditumbuhi oleh ilalang dan cat di bangunan sudah banyak yang terkelupas. Saat memperhatikan sekelilingku, sama sekali tak kutemukan seorangpun di wilayah itu selain aku, Shinta, dan lima orang yang Shinta buntuti. 

Tiba-tiba saja kulihat kelima orang itu berhenti dan membalikkan badan mereka.

“Keluarlah, tunjukkan dirimu!” Salah satu laki-laki yang dibuntuti oleh Shinta berteriak keras secara tiba-tiba. 

Sial! Ternyata mereka sudah menyadari selama ini telah dibuntuti oleh Shinta. Dan mereka sengaja menuju ke tempat terbengkalai ini untuk memancing Shinta! Aku segera mengedarkan pandangan kesekelilingku dan meningkatkan kewaspadaan hingga titik maksimal. Khawatir kalau-kalau ada kawan mereka yang diam-diam juga mengawasiku dari belakang. Mengingat mereka sudah menyadari keberadaan Shinta, bukan tidak mungkin mereka juga menyadari keberadaanku. 

Shinta sendiri tampaknya juga menyadari kalau dirinya sudah ketahuan menguntit mereka. Dia langsung membalikkan badannya dan bersiap melesat pergi dari tempat itu. Namun gerakannya kalah cepat, salah satu pria yang tadi dia buntuti telah melesat dan berhasil menghadangnya.

Sialan! Orang yang menghadang Shinta jelas memiliki kesaktian diatas kami berdua. Selama ini aku tidak menyadarinya karena selain berada terlalu jauh dari mereka. Selain itu, kami para pendekar dengan kesaktian rendah baru bisa mengetahui tingkat kesaktian lawan setelah mereka mensirkulasikan tenaga dalamnya. 

Jantungku berdetak semakin cepat lagi saking tegangnya, untungnya aku berhasil menjaga kepalaku tetap dingin. Sehingga tidak mengambil tindakan gegabah dan tetap mengintai mereka dari jarak aman. Jika aku ditanya kenapa tidak melarikan diri saja? Alasannya adalah karena aku berniat membantu Shinta.

Memang secara logika, harusnya aku pergi saja dan meninggalkan Shinta daripada ikut campur dalam masalah mereka dan menanggung resiko kehilangan nyawa. Tapi bukankah murid Perguruan Gagak Putih dan murid Perguruan Lembu Ireng harus saling bantu? Lagipula, hatiku masih belum benar-benar mati hingga tega meninggalkan perempuan yang kukenal menghadapi malapetaka sendirian. 

“Gadis kecil, katakan darimana asalmu dan apa alasanmu mengikuti kami?” 

Lelaki yang menghadang Shinta bertanya dengan suara membentak. Dari sini, bisa kulihat ekspresi wajah Shinta yang tampak sangat tegang. Namun dia berusaha tetap tegar dan memasang kuda-kuda. 

“Hmm… kau dari Kelompok Daun Biru?”

Tanpa menunggu jawaban Shinta, lelaki itu kembali bicara, tatapan matanya mengarah ke bagian dada Shinta. Disitu, Shinta memang mengenakan bros berbentuk daun berwarna biru dengan tepian dan tulang daun dilapisi emas. Tampaknya bros itu adalah simbol Kelompok Daun Biru. 

“Cih, Kelompok Daun Biru sudah punya nyali rupanya. Berani-beraninya kelompok kecil ini ikut campur dalam urusan kita.” Satu perempuan yang ada di rombongan mereka ikut bicara.  

“Kalian berada di wilayah kami, wajar saja jika kami dari Kelompok Daun Biru ingin tahu apa yang kalian lakukan disini,” ujar Shinta menjawab pertanyaan mereka.

“Humph… kalian Kelompok Daun Biru harusnya tahu, rasa ingin tahu yang berlebihan dapat membunuh!” 

Laki-laki yang menghadang Shinta langsung melesat menyerang Shinta. Kedua tangannya digerakkan membentuk seperti orang yang sedang menunjuk dengan jari telunjuknya, dia menusukkan kedua jari telunju ke tubuh Shinta.

Tentu Shinta tak tinggal diam, dia segera bersalto ke belakang dan kembali berusaha melarikan diri dari laki-laki tersebut. Tampaknya Shinta menyadari, berusaha melawan serangan tersebut adalah perbuatan yang ceroboh. Jika lawannya hanya satu orang, mungkin Shinta masih memiliki kesempatan menang. Masalahnya, jika dia nekat melawan dan tidak melarikan diri, lawannya tidak hanya satu orang, tapi lima orang sekaligus. 

“Mau kabur?” 

Kawan-kawan lelaki yang baru saja menyerang Shinta juga tak tinggal diam, mereka melesat dan segera menghadang laju lari Shinta. Kini Shinta terkurung dari lima arah, rasanya mustahil bagi dia bisa melarikan diri dari kepungan mereka.

Shinta segera melancarkan pukulan pada mereka dan terlibat dalam pertarungan jarak dekat. Dari pertarungan itu aku dapat mengetahui tingkat kesaktian mereka semua, selain laki-laki yang pertama menghadang Shinta, satu orang lagi juga berada pada tahap penyerapan energi tingkat keempat dan sisanya masih berada pada tahap penyerapan energi tingkat ketiga. Aku tidak yakin Shinta akan dapat bertahan lama melawan mereka. Sepuluh jurus? Mungkin lima jurus? Atau bisa jadi lebih cepat. 

Aku segera berdiri dan keluar dari tempat persembunyianku. Tanpa menunda waktu berlama-lama, aku melesat cepat membokong ke laki-laki pengepung Shinta yang posisinya paling dekat denganku. Untungnya laki-laki itu adalah yang tingkat kesaktiannya sama denganku, tahap penyerapan energi tingkat ketiga. 

“Awas!”

Laki-laki pertama menyadari kedatanganku dan segera memberi ingat kawannya. Namun gerakanku sedikit lebih cepat, aku berhasil menangkap punggung laki-laki itu dan mencabiknya dengan cakaran tanganku. Lalu aku segera berpindah menuju si perempuan, sayangnya dia berhasil menghindari seranganku setipis helaian rambut. Tapi hal itu sudah cukup untuk memberi kesempatan bagi Shinta untuk melarikan diri. 

“Lari!” teriakku pada Shinta

Meskipun tampak sedikit terkejut melihatku, dia segera melesat ke arahku dan melarikan diri dari kepungan orang-orang itu. Aku segera ikut berlari di samping Shinta lalu melompat ke atap bangunan-bangunan kumuh terbengkalai. 

“Bangsat! Jangan harap kalian bisa lari!” 

Orang-orang itu segera mengejar kami, kecuali orang yang tadi berhasil kulukai punggungnya. Aku sempat melihat dia menelan sesuatu dan duduk bersila dengan muka mengerenyit menahan sakit. 

“Lewat sini Shin.” Aku menarik lengan Shinta dan mengajaknya berlari menuju keluar kompleks terbengkalai itu menuju wilayah yang lebih ramai oleh orang-orang awam. 

Namun belum jauh kami lari, orang di belakang kami melemparkan bola-bola hitam sebesar kelereng ke arah kami. 

“Awas!” teriak Shinta lalu menarikku turun dan berbelok ke arah kanan. 

Bola-bola hitam itu meletup bersamaan dan mengeluarkan asap berwarna kehitaman. Aku sempat melihat dedaunan yang tersentuh asap itu langsung layu dan mengering. 

“Racun…” Tengkukku terasa dingin melihat pemandangan itu. Kalau saja Shinta tidak menarikku tepat waktu, mungkin nasibku akan sama keringnya dengan dedaunan itu. 

Shinta segera mendobrak pintu salah satu bangunan kumuh dan masuk ke dalamnya, aku segera ikut menyusulnya masuk ke bangunan tersebut. Namun kami tidak berhenti di dalam bangunan tersebut, kami segera melompat keluar bangunan tersebut melalui salah satu jendela, lalu berbelok masuk menuju bangunan kumuh lainnya. Shinta menggunakan taktik ini untuk mengecoh para pengejar kami, meskipun hingga saat ini usahanya masih belum terlalu sukses.

“Siapa mereka?” Sambil terus berusaha kabur dari orang-orang yang mengejar kami, aku menyempatkan diri bertanya pada Shinta. 

“Perserikatan Tiga Racun,” jawab Shinta sambil melompat ke atap salah satu bangunan. Aku segera mengikutinya. 

Saat melihat ke belakang, aku dapat melihat dua orang dari mereka telah mengeluarkan golok dari balik pakaiannya. 

“Sialan!” makiku melihat golok tersebut. 

Melawan mereka dengan tangan kosong saja sudah tidak mudah, sekarang ditambah lagi mereka memakai senjata. Apalagi mereka beberapa kali melemparkan bola-bola hitam sebesar kelereng ke arah kami. Benar-benar sialan!

Tiba-tiba saja aku mendapat ide, asap hitam tersebut meskipun tidak terlalu pekat namun cukup untuk menghalangi pandangan. Jika kami bisa menggunakannya untuk menutupi pandangan para pengejar kami, mungkin kami bisa mengulur waktu dan bersembunyi dari mereka.

“Shin, kita gunakan asap hitam itu untuk menghalangi pandangan mereka supaya bisa sembunyi.” Aku segera mengutarakan ideku pada Shinta. 

“Nggak bisa, racunnya nggak cuma lewat pernafasan. Tapi juga lewat sentuhan melalui kulit,” jawab Shinta sambil menggelengkan kepalanya. 

Tapi dia tampaknya setuju dengan ideku, hanya saja dengan cara lain.  

“Tinju Pelebur Gunung!”

Dia segera mengarahkan tinjunya ke arah bangunan kumuh nan terbengkalai. Bersamaan dengan itu, bangunan yang telah rapuh itu langsung berhamburan kemana-mana. Hal itu menimbulkan kekacauan yang menghalangi pandangan para pengejar kami. Shinta melakukannya berkali-kali, aku juga turut membantunya meskipun efek yang dihasilkan tidak sedahsyat Shinta. 

Dalam satu kesempatan, kami segera menyelinap ke dalam celah sempit di dalam salah satu bangunan. Aku dan Shinta sama sekali tak bergerak dan bernafas dengan sangat perlahan karena saking khawatirnya persembunyian kami ketahuan. 

“Sialan! Kemana mereka? Apa kau lihat kemana mereka pergi?”

“Pandanganku terhalang debu. Tapi mereka tidak mungkin pergi jauh, periksa bangunan ini satu persatu. Mereka tak mungkin sembunyi selama-lamanya disini, temukan mereka sampai dapat!”

“Siap!” 

Aku dapat mendengar suara langkah-langkah kaki merekatak jauh dari tempat kami bersembunyi. Suara tersebut benar-benar telah menerorku dan Shinta, kami sama sekali tak berani bergerak.

“Sekarang bagaimana?” tanyaku pada Shinta hanya dengan menggunakan gerakan mulut, tanpa mengeluarkan suara bisik sekalipun.

Shinta tampaknya mengerti apa yang kutanyakan, dia segera mengeluarkan sebuah alat elektronik kecil dan menekan tombolnya berkali-kali. “Kita menunggu,” jawab Shinta dengan gerakan mulutnya, tak mengeluarkan suara sedikitpun sama sepertiku. 

Aku segera paham apa yang Shinta lakukan, sepertinya alat elektronik itu adalah alat pelacak. Dan dia baru saja menekan tombol yang akan menyampaikan sinyal tanda bahaya pada Kelompok Daun Biru sekaligus menginformasikan posisi kami. Tapi, berapa lama orang-orang Kelompok Daun Biru akan sampai kemari? Apakah mereka akan sampai sebelum orang-orang Perserikatan Tiga Racun menemukan kami?