Episode 24 - Kepercayaan


“Uugh… seperti biasa. Kenapa kau harus selalu membuat kami khawatir Neil?” Navi berbicara dengan santai. Senyumnya terlihat dipaksakan. Bagaimana cara ia berjalan dari pintu dan duduk di kursi sedikit menjelaskan rasa gugupnya.

Reina berada di belakang Navi mengikuti. Namun, karena jumlah kursinya cuma satu, hanya Navi saja yang duduk. Reina berdiri di samping Navi. 

Meski matahari sudah terbit, suasana di ruangan itu tidak terlalu berubah drastis sama seperti semalam. Tidak ada jendela, hanya beberapa ventilasi udara saja, membuat cahaya yang masuk sangat terbatas. Jika mencoba membaca buku di tempat itu, mungkin mata akan terasa lelah dan sakit.

“Syukurlah kau baik-baik saja, Neil,” ucap Reina dengan senyum kecil. “Tapi, aku harap lain kali kau bisa sedikit menahan diri. Kau selalu melakukannya sendirian.”

Neil yang duduk di atas ranjang, memberi senyum lemas untuk membuat mereka berdua merasa sedikit jauh lebih lega. Selimut menutupi sebagian kakinya. Ia mengenakan kaos putih yang diberikan oleh White semalam. Syal merah miliknya yang sedikit terbakar melilit leher Neil seperti biasa. “Maaf, sepertinya aku memang sedikit berlebihan. Tapi, mau bagaimana lagi. Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa ada di sini?”

“Eeh…?” Navi membuat muka aneh. Dia membeku. “Ugh, jangan-jangan kepalamu terbentur? Neil, kau yakin kalau kau baik-baik saja?”

“B-Bukan itu. Maksudku, ruangannya sedikit gelap. Selain itu tidak ada apa-apa di sini. Tempat ini terasa seperti penjara. Bahkan tidak ada jendela satu pun.” Neil sedikit kecewa dan bingung. “Aku ingat kalau kau yang membawaku ke sini.”

“K-kalau masalah itu,” Navi memalingkan pandangan, “k-kau tahu, Neil… kau seharusnya bersukur aku bisa membawamu ke sini. Tubuhmu jauh lebih berat dari yang kuduga. Berbeda denganmu yang bisa menggangkat dua orang sekaligus.”

Navi sebenarnya mengatakannya bermaksud bercanda, tapi ucapannya didengar seperti sebuah sindiran bagi Neil. Walaupun, Neil tidak terlalu merasa terganggu karena yang mengatakannya adalah sahabat baiknya.

“Maaf jika kau tidak suka dengan ruangan ini, tapi ini bukan sepenuhnya salahku. Reina tidak mau mencari kamar lain lagi yang jauh lebih bagus.”

“Tolong jangan menyalahkanku setelah aku berlari dan berkeliling untuk membantumu mencarikan ruangan kosong yang bisa digunakan.” Reina nampak kewalahan membalas ucapan Navi. 

“Hmm, seharusnya aku membawakanmu buah, tapi karena di sini tidak ada apa pun, sangat disayangkan kalau buahnya harus menunggu. Pasti sangat bosan ada di sini terus tanpa ada TV atau makanan, kan?” Navi mengangguk, menyetujui ucapannya sendiri. “Karena itu kami akan berada di sini seharian bersamamu!” Tersenyum lebar.

“Navi, kau berlebihan. Aku tidak dirawat di rumah sakit atau semacamnya. Aku juga tidak keberatan dengan ruangannya, hanya saja aku tidak akan tahu apa yang terjadi di luar kalau seperti ini jadinya.”

Navi membalas dengan cepat. “Justru karena itu kami ada di sini. Kau bisa istirahat untuk beberapa hari. Aku akui kasurnya memang tidak senyaman seperti di rumahmu, tapi kau tidak perlu khawatir dengan apa pun. Untuk saat ini, serahkan saja semuanya padaku dan Reina.” 

Entah hanya perasaan Neil saja atau memang sensitifitasnya sedikit menurun. Cara Navi berbicara tidak dipaksakan, begitu juga dengan senyumnya. Namun, bagaimana cara Navi memaksa Neil untuk beristirahat justru malah membuat Neil sedikit khawatir.

“Kau pulih jauh lebih cepat Neil,” ucap Reina datar dengan maksud baik.

“Yah, meski benar seperti itu, akan lebih baik jika Neil tetap beristirahat. Maksudku, setelah terluka cukup parah, akan lebih baik jika kau pulih sampai seratus persen. Bukankah lebih baik seperti itu daripada menyesal?” Navi bertanya pada Reina meminta persetujuannya.

Sekarang Neil yakin. Navi tidak hanya meyimpan rasa khawatir terhadap Neil, tapi juga takut. Untuk membuatnya jauh lebih yakin, Neil sekali lagi membuka mulut.

“Navi, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu berlebihan mengkhawatirkanku sampai seperti itu.”

“Hmm…” Navi terdiam sejenak. Kedua alisnya berubah. Ekspresinya menunjukkan muka tak nyaman. “Neil, apa kau tak percaya pada kami berdua?” Ia terlihat gelisah.

 “Huh…? Dari mana pertanyaan ini berasal?” Rasa khawatir Neil terganti dengan heran. Bukan seperti Navi saja menanyakan sesuatu yang sedalam itu. Beberapa hal menyangkut pikiran Neil, kenapa bisa sampai Navi bertindak seperti ini.

“Semenjak kita melawan Black Horn, kau memaksakan dirimu. Kau diberi tugas untuk mengawasi agen pelatihan,” Navi berhenti, lalu melewat beberapa bagian yang tak seharusnya diungkit. “Sekarang kau terpaksa harus ikut dalam misis berat seperti ini. Apa kau tidak kelelahan, Neil?”

Neil menoleh, menghindari mata Navi. Ia tidak bisa membantah kata-katanya. Jika harus diibaratkan, Neil saat ini sedang kehabisan udara untuk dihirup.

Umumnya, setelah satu tim berhasil menyelesaikan sebuah misi, mereka akan diberikan waktu setidaknya sekitar satu minggu untuk mengambil misi berikutnya. Tentu saja lebih cepat dari itu masih mungkin, tapi hampir tidak ada tim yang mau melakukan itu kecuali benar-benar terpaksa. Dalam waktu kurang dari satu minggu, Neil mendapatkan tiga misi yang tidak mudah. Wajar saja jika Neil sudah kehabisan tenaga dan terkena serangan mental seperti ini.

Akan tetapi, tindakan Neil yang tidak menunjukkan semua hal tersebut semakin membuat Navi takut. Tidak mungkin ada Manusia yang sekuat itu. Selain itu, hanya karena Neil masih bisa melakukannya, bukan berarti itu menjadi kewajiban baginya.

Neil baru menyadari hal itu.

Navi menghela. “Neil, kau membuatku sangat ketakutan.” Ia menunduk. Yang dimaksud adalah saat mereka berdua berada di jembatan.

“Navi,” Reina sedikit mengerti perasaaan Navi, tapi yang barusan itu terdengar kelewatan.

Jika Neil tidak mengatakannya sekarang, mungkin itu akan membuat hati sahabatnya dipenuhi rasa bimbang. Setidaknya, ia tidak ingin sampai hal itu terjadi.

“Aku memang sedikit lelah, tapi masih ada yang harus kulakukan.” Untuk saat ini, Neil sebisa mungkin harus bertahan sedikit lebih lama lagi. “Bukannya aku tidak percaya padamu atau Reina, Ini hanya masalah waktu saja. Akan jauh lebih aneh jika aku tidak percaya pada anggota timku sendiri.”

“Ucapanmu memang benar, tapi kau… kau sepertinya menahan diri untuk meminta tolong pada kami.” Suara Navi sedikit pelan. 

“Navi, siapa yang menggendongku dan membawaku sampai kemari?”

“Ugh… yang barusan itu apa? Pertanyaan jebakan?” Navi ingn sekali menghindari pertanyaannya. Karena suatu alasan, akan aneh rasanya jika ia menjawab pertanyaan itu.

“Bukan hanya kau saja, tapi Reina dan aku yakin Nadia juga. Sebagai anggota tim dan sahabat, aku rasa aku tidak perlu meminta tolong karena kalian akan selalu datrang dan membantuku.” Neil tersenyum 

“Aaah… h-hentikan.” Navi menutup kedua telinga. “Uuuh… aku tidak berniat memancingmu, tapi kenapa tiba-tiba malah mengeluarkan kalimat keren seperti itu? Aku jadi bingung harus membalas apa.”

Reina memotong. “Navi, wajahmu memerah.”

“D-diam!” Tidak tahu kenapa, Navi justru jadi sedikit kesal. 

Neil melanjutkan kalimat. “Saat ini aku sedang kelelahan dan kau memaksaku untuk istirahat. Aku rasa itu sudah cukup untuk dijadikan bukti yang tak terbantahkan.”

“T-tapi… tidak setiap saat aku bisa mengerti kondisi dan situasimu. Akan jauh lebih mudah jika kata minta tolong itu keluar dari mulutmu sendiri.” 

“Saat aku menunjukkan kelemahanku, aku yakin tidak ada orang lain selain dirimu yang akan mengerti. Kita sudah bersama-sama dari kecil, karena itu juga aku percaya padamu.”

Ekspresi Navi bimbang. “Hmm…” Yang diucapkan Neil, entah kenapa tidak bisa ia percayai sepenuhnya. Bukan karena ia tidak ingin percaya, tapi karena akhir-akhir ini seperti ada kejadian besar yang akan menanti mereka berdua. Karena hal itu juga mungkin Neil akan selalu memaksakan dirinya.

“Kalau begitu, bisa aku minta tolong padamu saat ini juga?”

Perhatian Navi dan Reina tertarik pada Neil. “Hmm, a-apa?”

“Aku ingin kalian berdua percaya padaku.”

Navi kembali terpikir. Tidak seperti itu. Bukan berarti ia tidak bisa percaya pada apa yang dikatakan Neil. Mempercayai perkataan Neil sangatlah mudah baginya, tetapi yang tidak bisa ia percaya adalah semua hal yang ada di sekitar Neil. 

“Bukan berarti aku meragukanmu, hanya saja aku ingin kau lebih mengandalkan kami sebagai anggota tim.” Navi mengeluh. “Ngomong-ngomong, sejujurnya saja aku ingin agar kita semua segera kembali tanpa perlu menyelesaikan misi ini.”

Sebelum keinginan Navi terpenuhi, ia harus menemui Noxa terlebih dahulu.

“Apa Noxa baik-baik saja?” tanya Neil. Setelah memikirkan peristiwa yang terjadi di jembatan, tidak heran jika kondisi Noxa terguncang. Karena kondisi Neil tak sadarkan diri, ia tidak bisa mengikuti apa yang terjadi.

“Sejujurnya saja, dari semalam aku belum menemuinya sama sekali.”

“Aku juga,” jawab Reina singkat.

“Dia pasti kelelahan, berikan dia waktu untuk memikirkannya. Kalian berdua akan lebih baik tidak menanyakan apa pun padanya terlebih dahulu.” Neil memberi perintah pada keduanya. “Bagaimana dengan Rem?”

Saat Navi mendengar nama Rem, modnya menurun drastis. Mukanya terlihat jelas berubah.

“N-Navi…?” Kedua mata Neil bertanya.

“Aku sedikit bertengkar dengannya semalam. Padahal aku sudah berusaha untuk mendekatinya pelan-pelan. Entah kenapa dia sangat membenciku.” Navi cemberut. Ia menggembungkan kedua pipi sambil mengingat betapa kesalnya ia.

“Cara berpikir Rem sedikit berbeda dengan orang lain, jangan terlalu dipikirkan.” Neil menenangkan Navi. “Kesampingkan masalah itu, aku ingin berbicara dengan Rem. Bisa kalian berdua panggilkan dia?” Neil meminta bantuan.

“Hmm… kenapa harus dia?” Suara Navi curiga. Namun, Neil tidak terlalu memikirkannya. 

“Reina, bisa kau—Hmm… lupakan,” ucap Neil seolah tidak peduli lagi. Pandangannya lurus terarah pada Navi yang sedang duduk di kursi, tapi Neil sebenarnya tidak sedang melihat Navi.

Navi dan Reina menengok ke belakang. Rem yang sedang dibicarakan baru saja masuk ke dalam.

“White memberitahuku kalau kau sudah sadar, jadi aku datang.” Rem berjalan masuk ke dalam. “Hmm…” Seperti angin dingin yang menusuk kulit, Rem merasa aura penuh ancaman di seluruh ruangan itu.

“Hmm…!!” Matanya tajam. Sensasi yang sama seperti seekor singa yang menemukan mangsa. Navi terlihat sangat menakutkan. Pandangan Navi yang menyengat dan mata Rem yang bosan bertemu.

“Memasang aura negatif seperti itu tidak bagus. Bisa kau hentikan itu?” Rem menghela. Ia tidak menanggapi ancaman Navi dengan serius. “Aku sedikit berlebihan semalam, jadi aku meminta maaf.” Rem menarik harga dirinya.

“Hmm…” Tatapan Navi tidak berubah sedikit pun. 

“Serius, bisa kau hentikan itu? Mata seperti itu bisa membuat anak kecil menangis.” Rem merasa terganggu. “Neil, bisa kau kendalikan sahabat baikmu ini?”

“Neil itu sahabat baikku! Dia ada di pihakku! Kenapa dia mau membantumu?” Navi berbicara dengan sombong. “Dan berhenti berbicara seolah-olah aku ini adalah hewan! Hmm…”

Neil bingung harus menanggapi ucapan Navi dengan cara apa. Namun, hal penting yang harus dibicarakannya dengan Rem tidak bisa menunggu lagi.

“Navi, Reina… maaf, bisa kalian keluar sebentar? Aku ingin berbicara dengan Rem, hanya berdua saja.”

“Kenapa kami berdua harus pergi?” Navi menunjukkan wajah kekesalan. “Memangnya apa yang ingin kalian bicarakan sampai kami berdua tidak boleh ikut?”

Neil menengok pada Reina, “Maaf Reina.” Ia memberi kode singkat.

Reina tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi sebenarnya, tapi mereka sepertinya akan membicarakan sesuatu yang penting. Sama seperti permintaan Neil yang sebelumnya, yang menyuruhtnya untuk saling percaya. Bukan karena perintah dari ketua tim, tapi karena Reina tahu bahwa Neil saat ini merasa bertanggung jawab. Tanpa banyak bertanya, Reina dengan segera menarik tangan Navi dengan paksa. 

“T-tunggu sebentar,” Navi mencoba melawan, tapi tidak bisa. “A-apa yang kau lakukan Reina? L-lepaskan!!” 

Reina menyeret Navi keluar, memberikan ruang luas untuk Navi dan Rem.