Episode 193 - Perlombaan (1)


Bintang Tenggara melangkah ke dalam gerbang dimensi ruang di Istana Utama Kerajaan Parang Batu. Anak remaja tersebut mengabaikan rentetan pertanyaan dari Lombok Cakranegara yang mencecar tentang mengapa tak kembali menuju Perguruan Gunung Agung. Terlebih, tokoh itu juga mempermasalakam tentang tempat tujuan penggunaan gerbang dimensi yang berjarak lebih jauh dari Pulau Dewa. 

Tentunya, Bintang Tenggara menyadari bahwa lelaki dewasa muda itu keberatan dengan keping-keping perak yang harus dihamburkan. Diketahui bahwa cukup banyak sumber daya yang harus dikeluarkan demi menyalakan gerbang dimensi. Semua pengeluaran ini datang dari kantong pribadi Lombok Cakranegara.

“Mahal sekali ini…” Lombok Cakranegara bersungut. 

“Kakak Lombok, diriku akan mengganti keping-keping perak ini di lain waktu…” 

Bintang Tenggara memang tiada memiliki simpanan lagi. Sebagian besar keping-keping emas yang ia miliki telah disumbangkan kepada Sayu si Penyamun Halimun. Sisanya, ia serahkan kepada Kepala Dusun Lembata Keraf untuk membantu pertumbuhan calon-calon lamafa muda di Pulau Paus. 

Padahal, bagi Lembata Keraf, yang paling dibutuhkan adalah tunjuk ajar jalan persilatan dan kesaktian. Akan tetapi, Bintang Tenggara merasa masih jauh dari layak untuk menjadi seorang guru. Lagipula, dirinya terburu-buru kembali ke Pulau Dewa. Siapa nyana, kini jalan yang ditempuh justru bukan ke Pulau Dewa. 

Urusan di Perguruan Gunung Agung akan ditangani oleh Guru Muda Khandra. Ia yang akan menyusulkan surat jalan, serta mengabari Maha Guru Keempat tentang penugasan ini. Ia juga menjanjikan poin yang cukup banyak bilamana menyelesaikan tugas mengantarkan gulungan naskah kepada Kakek Kepala Pengawal Istana Keempat. 

Mengapa tak membekali dengan keping-keping perak saja…?

Sungguh sosok yang sangat misterius. Selain selalu muncul tanpa tanda-tanda, Guru Muda Khandra pun berhasil membujuk Bintang Tenggara. Iming-iming pamungkas yang ditawarkan adalah informasi seputar ayahanda. Meski bukanlah sesuatu yang mendesak, namun keberadaan sang ayahanda selalu menghantui di dalam benak. 

Tentu anak remaja itu tergiur sekali. Kemanakah ayahanda? Selama dirinya menekuni jalan keahlian, tiada pernah ia mendengar kabar berita tentang sosok tersebut. Oh, ada pernah sekali… yaitu tatkala Embun Kahyangan usai menyelamatkan dirinya. Pembunuh Bayangan itu mengaku bahwa kedatangannya merupakan permintaan dari ayahanda. 

Terlepas dari itu, ketika Bintang Tenggara mempertanyakan dari manakah tebakan nan jitu berpunca, si Guru Muda itu malah berbicara berbelit-belit. Sungguh mencurigakan… 

Kembali ke inti ceritera. Untuk mencapai Kemaharajaan Cahaya Gemilang di wilayah selatan Pulau Barisan Barat, Bintang Tenggara harus melewati beberapa kali transit. Pertama menuju Kota Baya-Sura, lalu Kota Ahli, Kemaharajaan Pasundan, barulah suatu tempat yang disebut sebagai Rimba Candi. (1)

Biaya penggunaan lorong dimensi ruang dari Kerajaan Parang Batu menuju Kota Baya-Sura sudah ditanggung penuh. Di Kota Baya-Sura, Bintang Tenggara akan mengunjungi Lamalera. Pertama, dan terpenting, dirinya akan bertanya tentang dimanakah keberadaan Bunda Mayang. Diketahui bahwa sang bunda yang membawa Lamalera meninggalkan Pulau Paus. Kedua, sebagai Putri Perguruan merangkap Putri Angkat dari Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa, tentu Lamalera dapat memintakan penggunaan gerbang dimensi ruang menuju Kota Ahli. 

Di Kota Ahli, nantinya Bintang Tenggara akan mendatangi Maha Guru Segoro Bayu di Perguruan Maha Patih. Secara tak langsung, Maha Guru tersebut berutang karena pernah menghentakkan tenaga dalam ke arah dirinya. Tentu sekedar meminta penggunaan lorong dimensi ruang menuju Kemaharajaan Pasundan, merupakan hal yang sepele. 

Di Kemaharajaan Pasundan nanti, akan lebih mudah lagi. Citra Pitaloka pastilah akan dengan senang hati mengaturkan penggunaan gerbang dimensi ruang. Putri Mahkota tentu dapat berbuat apa saja. 

Hm… apakah sebaiknya mengunjungi Asep dan Raja Bangkong IV barang sejenak…? Nanti saja diputuskan, pikir Bintang Tenggara. 

Perjalanan pulang dan pergi ini, paling lama hanya akan menghabiskan waktu lebih kurang sepuluh hari. Paling lama pun dua pekan… Demikian, rute perjalanan rampung sudah. Setelah dipikir-pikir, cukup banyak pula kenalan yang ia miliki tersebar di Pulau Jumawa Selatan. 


Lima belas menit waktu yang dihabiskan anak remaja tersebut terombang-ambing di dalam lorong nan gelap. Percikan listrik berderak di beberapa sisi lorong, sehingga menghasilkan kerlip cahaya. Sungguh lorong dimensi ruang merupakan penemuan yang sangat bermanfaat. Bahkan, rasa pening di kepala dan mual di perut dapat diabaikan saja, mengingat jarak yang demikian jauh dapat di tempuh dengan cepat. 

“Salam hormat, wahai Putra Perguran Gunung Agung,” sapa seorang remaja seusia. 

“Salam hormat, wahai Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa,” balas Bintang Tenggara. Sungguh ia sudah sepenuh hati menghapal nama perguruan ini, karena tak hendak menyinggung hati anggotanya. 

“Apakah gerangan yang membawa dikau ke Perguruan Anantawikramottunggadewa?”   

“Diriku hendak menjenguk Putri Perguruan, Lamalera.” 

“Hm…?” 

“Mengapa? Apakah tiada memungkinkan?” Bintang Tenggara menangkap keraguan dari lawan bicaranya. 

“Diriku akan menyampaikan kepada Pendiri Perguruan. Silakan beristirahat sejenak.” 

Enam jam berlalu. Tiada Lamalera. Tiada pula Pendiri Perguruan. Tiada sesiapa. Aneh…

“Wahai Putra Perguran Gunung Agung, silakan beristirahat di penginapan. Pendiri Perguruan sedang sibuk, dan akan menerimamu esok pagi.” 


Pagi-pagi sekali, Bintang Tenggara dibawa ke Taman Surgawi, kediaman Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa. 

“Murid Bintang Tenggara… apakah gerangan tujuan kunjungannmu?” 

“Yang Terhormat Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa, diriku hendak bersua Lamalera, serta meminjam gerbang dimensi ruang menuju Kota Ahli.” 

“Hm…?”

“Bilamana diperkenankan…,” lanjut Bintang Tenggara, menyadari seberkas keraguan dari sosok kakek tua itu. 

“Menggunakan gerbang dimensi ruang menuju Kota Ahli adalah perkara mudah. Akan tetapi…” 

Bintang Tenggara menunggu. 

“Putri Angkatku Lamalera… saat ini sedang berkelana mengasah keahlian.” 

“Berkelana…?”

“Benar.” 

“Mengasah keahlian…?”

“Benar.” 

“Seorang diri…?”

“Benar.” 

“Kemana…?”

“Benar… ehm… maksudku… Tiada diketahui!”


Harus diakui bahwa kemampuan Lamalera mengerahkan tempuling berada di atas Bintang Tenggara. Dapat diperkirakan bahwa adalah Bunda Mayang yang mengajarkan kemampuan tersebut. Selain itu, gadis tersebut juga menguasai jurus kesaktian unsur angin. Bilamana terlibat dalam pertarungan tentu Lamalera tak akan mudah kalah. Sedangkan dalam keadaan terdesak, tentu Lamalera masih memiliki kemampuan melarikan diri memanfaatkan kecepatan unsur angin. 

Akan tetapi, terlepas dari itu, Bintang Tenggara menyadari bahwa rimba raya persilatan dan kesaktian tiada sesederhana itu. Bukan sekadar pertempuran demi pertempuran, melainkan tipu muslihat yang keji pun patut diwaspadai. Dirinya sangat beruntung memiliki Super Guru Komodo Nagaradja yang selalu setia mendampingi di dalam suka maupun duka. Terlepas dari kekurangan sang Super Guru, bermodalkan Taktik Tempur saja sudah sangat banyak membantu. Sedangkan Lamalera berkelana seorang diri. Benar-benar seorang diri. 

Dimanakah gerangan Lamalera kini…? Semoga ia baik-baik saja. 

Sedikit kecewa, sekaligus khawatir, Bintang Tenggara telah tiba di Kota Ahli. Hari jelang siang. 

“Kakak Poniman, bagaimana kabar dikau?”

Seorang remaja terlihat berdiri tegar di gerbang besar Perguruan Maha Patih. Poninya menyibak perkasa ketika dimainkan semilir lembut angin sepoi-sepoi. 

“Adik Bintang!” sergah Poniman hampir tak percaya. “Kebetulan sekali!” 

“Kebetulan…?”

“Ikutlah denganku sejenak!” 

“Diriku ada keperluan dengan Maha Guru Segoro Bayu.” 

“Maha Guru Segoro Bayu sedang bepergian sejak sepekan lalu. Ia baru akan kembali esok hari.” 

“Oh…?”

“Sudah. Dikau ikut saja bersamaku.” 

Walhasil, Bintang Tenggara mengikuti Murid Madya dari Perguruan Maha Patih itu. Benar. Poniman telah diangkat sebagai salah seorang Murid Madya oleh Maha Guru Segoro Bayu dan rekan-rekan. Kenaikan status ini karena keteguhan hati dalam menjalankan tugas menjaga gerbang perguruan. Di kala murid-murid Perguruan Maha Patih menyerang Persaudaraan Batara WIjaya, ia bahkan tak bergeming dari kewajibannya itu. 

Sepantasnya Poniman layak diangkat sebagai Murid Utama. Akan tetapi, agar tak menimbulkan kecemburuan, ia diangkat sebagai Murid Madya terlebih dahulu. Pada waktunya nanti, tentu ia akan naik status sebagai Murid Utama. 

Poniman rupanya sedang mengambil tugas dari Balai Bakti. Sebagaimana aturan di Perguruan Gunung Agung, murid-murid di Perguruan Maha Patih pun harus menjalankan tugas-tugas yang tersedia. Poin diperlukan untuk memperoleh imbalan dari perguruan, biasanya dalam bentuk ramuan, senjata, kartu satwa, atau bahkan naskah jurus-jurus persilatan dan kesaktian. 

Tugas yang Poniman ambil sederhana adanya. Ia hanya perlu mengumpulkan tumbuhan siluman. Akan tetapi, tumbuhan siluman dimaksud hanya hidup di lereng gunung nan keramat lagi penuh misteri. Gunung yang yang terletak di wilayah selatan Kota Ahli itu, dikenal dengan sebutan Gunung Candrageni. (2)


===


Sepekan sebelumnya. 

“Huahahaha…” Seorang lelaki tua tertawa terkekeh. 

“Perguruanmu hanyalah perguruan kelas bawah…,” terdengar tanggapan dari lelaki dewasa. 

“Wahai, Empu Wacana dari Perguruan Panji Manunggal… perangaimu sesuai dengan namamu…. Kau sekedar berwacana,” gelak si lelaki tua. “Huahaha…” 

“Wahai Maha Guru Sanata dari Perguruan Duta Guntur, apakah diriku mengendus sebuah tantangan…?” Empu Wacana menggeretakkan gigi. 

“Dikau menjual, diriku pasti membeli!” 

Kedua ahli ini berada pada Kasta Emas. Mereka merupakan pembesar dari perguruan masing-masing. Sebagaimana diketahui, terdapat ratusan perguruan di Kota Ahli. Perguruan Maha Patih adalah yang terbesar dan terbaik. Perguruan Panji Manunggal dan Perguruan Duta Guntur hanyalah perguruan kelas menengah. 

Gesekan antar perguruan dalam menentukan yang lebih baik jamak terjadi, apalagi di Kota Ahli. Karena tidak berada pada tingkatan yang layak mengikuti Kejuaraan Antar Perguruan yang digagas Perguruan Maha Patih, maka perguruan berukuran sedang dan kecil seringkali berupaya untuk saling menakar. Bersaing dengan Perguruan Maha Patih pastilah tiada mampu, namun gengsi di antara mereka kelas menengah perlu dijaga. 

Mata melotot, mereka melayang tinggi di udara. Masing-masing menunggu lawan melancarkan serangan pembuka. 

“Ehem…,” tetiba terdengar suara berdehem, mengusik ketegangan antara kedua ahli. 

“Maha Guru Segoro Bayu!” Sontak mereka menegur. 

Maha Guru Segoro Bayu kebetulan terbang melintas di dekat kedua ahli tersebut. 

“Maha Guru Sanata dari Perguruan Duta Guntur dan Empu Wacana dari Perguruan Panji Manunggal… Apakah kalian hendak bertarung?” Maha Guru Segoro Bayu langsung menerka niat kedua ahli. 

“Maha Guru Segoro Bayu, disisih sebagai antah. Dengan segala rasa hormat, kumohon tiada ikut campur,” tanggap Empu Wacana. 

“Adalah lebih baik bagi Perguruan Maha Patih untuk menghapus arang di muka,” sindir Maha Guru Sanata. Ia mengacu pada kelalaian Perguruan Maha Patih sehingga menyebabkan murid-muridnya menyerang Persaudaraan Batara Wijaya. 

“Menjaring angin, melukis langit,” balas Maha Guru Segoro Bayu, menanggapi kedua ahli yang malah saling mendukung menanggapi kehadiran dirinya. “Pertarungan di antara kalian adalah kesiasiaan belaka. Bukankah lebih baik mendorong murid-murid untuk bersaing secara sehat?” 

Usai menyampaikan pandangannya, Maha Guru Segoro Bayu segera terbang pergi meninggalkan wilayah Kota Ahli. Dirinya tak hendak terpancing amarah atas kata-kata kedua ahli tersebut. Belakangan, tidak sedikit tokoh di Kota Ahli yang gemar menyindir Perguruan Maha Patih. 

Kedua ahli yang ditinggal pergi saling tatap. Tak ayal, kata-kata Maha Guru Segoro Bayu mendarat telak. Pertarungan di antara mereka tiada akan membuktikan keunggulan dari perguruan masing-masing. Sebaliknya, adalah cemooh dari dunia persilatan dan kesaktian yang akan datang mendera. 

“Aku memiliki sebuah gagasan,” Empu Wacana menetas keheningan. “Bagaimana bila lima murid terbaik yang berada pada Kasta Perunggu dari Perguruan Duta Guntur dan Perguruan Panji Manunggal berlomba.” 

“Menjemukan, namun cukup dapat diterima,” ujar Maha Guru Sanata. “Sebagai tambahan, bagaimana bila kita mempertaruhkan pusaka perguruan?” 

“Maksudmu…?”

“Masing-masing dari kita menyerahkan dua pusaka dari perguruan masing-masing. Pusaka perguruan tersebut akan diletakkan pada titik-titik tertentu sepanjang lintasan lomba. Bila murid-murid beruntung menemukan, maka pusaka-pusaka tersebut dapat menjadi hak milik siapa pun itu,” urai Maha Guru Sanata. 

Empu Wacana menanggapi cepat. “Baiklah. Peraturan yang diterapkan sangat sederhana. Mereka diperkenankan saling menghambat lawan, bahkan terlibat dalam pertarungan. Namun, tiada mereka diperkenankan saling membunuh. Selain itu, kecuali perihal ancaman jiwa terhadap murid-murid, kau dan aku tiada diperkenankan turun tangan!” 

“Perlombaan akan berlangsung sepekan dari hari ini, di kaki Gunung Candrageni!”


===


Bintang Tenggara menemani Poniman menjelajah lereng Gunung Candrageni. Tujuan mereka adalah menemukan Kantong Semar Merapi. Tumbuhan siluman ini, untungnya hidup tak terlalu jauh ke pedalaman gunung. Diketahui bahwa banyak berkeliaran binatang siluman buas di wilayah gunung. 

“Hm… apakah ini?” Tetiba Bintang Tenggara menghentikan langkah. 

“Apakah…?” tanggap Poniman bingung. 

“Formasi segel…” 

“Siapakah gerangan yang memasang formasi segel? Apakah ada sesuatu di balik sana? Binatang siluman nan berbahaya mungkin?” 

“Terpaksa kita mencari ke arah lain…,” gumam Bintang Tenggara.

“Itu!” Belum sempat Bintang Tenggara melangkah pergi, tetiba Poniman berseru. “Kantong Semar Merapi!” 

Di dalam wilayah yang dinaungi formasi segel, Poniman melihat ada tumbuhan siluman yang mereka cari. Kantong Semar Merapi merupakan salah satu tumbuhan siluman yang khas dari Gunung Candrageni. Sesuai namanya, bunga dari tumbuhan siluman ini berbentuk mirip kantong, biasa terdiri dari tiga bagian. Karena memiliki unsur api, bunganya dapat dijadikan bahan meramu jamu dalam meningkatkan kesaktian unsur api, atau sekedar menjaga kehangatan logam bagi ahli dengan keterampilan khusus sebagai penempa. 

Hari masih petang. Bila malam tiba, maka mereka harus menuruni gunung dan kembali pada keesokan hari. Kemungkinan esok hari Maha Guru Segoro Bayu akan kembali, sehingga Bintang Tenggara dapat melanjutkan perjalanan ke Sanggar Sarana Sakti di Tanah Pasundan. 

“Mungkin kita bisa masuk ke dalam wilayah segel sejenak,” ujar Bintang Tenggara. Toh, Kantong Semar Merapi sudah berada di hadapan mata, pikirnya. Esok ia tiada dapat menemani kawannya itu. 

“Dapatkah Adik Bintang mengurai formasi segel ini? Bagaimana bila benar ada Binatang Siluman buas di balik sana?” Poniman mengetahui bahwa di hutan, biasanya formasi segel sengaja dirapal oleh ahli sekelas Maha Guru untuk melindungi murid-murid dari ancaman. 

“Hanya sebentar…” Bintang Tenggara mulai mengotak-atik formasi segel. 

“Nanti bila ada binatang siluman bertaring dan berkuku panjang bagaimana…?” Lagi-lagi Poniman merasa tak nyaman. 

Segel membuka perlahan. Bintang Tenggara segera masuk, melangkah cepat, kemudian memetik setangkai bunga Kantong Semar Merapi. 

“Aum….!” Tetiba terdengar raungan perkasa seekor binatang siluman tak jauh dari posisi ia berdiri. 

“Tuh ‘kan!” teriak Poniman sambil melompat di tempat. Tak pernah terpikir bahwa firasatnya akan terbukti benar. 

Seketika itu juga, seekor harimau berukuran sedikit lebih besar dari kuda dewasa melompat cepat dari balik semak belukar. Rupanya, tempat tersebut merupakan sarang binatang siluman tersebut. 

Harimau Jumawa! 

Bintang Tenggara menoleh ke arah Poniman. Sekira sepuluh langkah jarak yang memisahkan merela. Segel yang tadi terbuka, pun sedang menutup perlahan. Bukaannya kini hanya sekitar setengah tubuh manusia. Tanpa pikir panjang, Bintang Tenggara segera melemparkan bunga Kantong Semar Merapi tersebut ke celah segel. 

“Kakak Poniman, kembalilah terlebih dahulu! Jangan khawatir! Diriku akan segera menyusu!” 

Demikian, Bintang Tenggara melesat pergi ke arah nan berlawanan. 


===


“Sungguh maha karya… hampir tiada cela,” gumam seorang lelaki tua. Tangan kanannya menggenggam sebilah keris. 

“Eh…? Siapakah itu…? Apakah ada yang menerobos ke dalam formasi segel yang kurapal sedari pagi…?” ucap Maha Guru Sanata. 

“Ah… Kemungkinan hanya seorang murid entah dari mana… yang sedari subuh berkeliaran di wilayah ini.” Kedua mata Empu Wacana tak lepas dari keris yang sedang ia kagumi. 

Sesuai kesepakatan sepekan nan lalu, kedua tokoh yang bersaing ini menyusun perlombaan untuk mengadu kemampuan murid-murid mereka. Agar tak ada gangguan, Maha Guru Sanata sudah sedari pagi memasang formasi segel untuk mengamankan wilayah perlombaan. 

Walhasil, kedua tokoh menonton perlombaan dari atas tebing nan tinggi. Mereka tiada diperkenankan untuk campur tangan atas jalannya perlombaan. Jauh di bawah lereng, sepuluh murid berlari susul-menyusul. Di antara murid-murid tersebut seringkali saling serang, sehingga langkah lari mereka pun terhambat dikarenakan terpaksa bertahan atau balik menyerang. 

Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa ada tambahan satu murid lagi yang berlari menyusul kerumunan sepuluh murid? Bahkan, kecepatan larinya jauh di atas rata-rata murid Kasta Perunggu Tingkat 9. Selain itu, ada pula seekor Harimau Jumawa mengekor di belakangnya. 

“Lha!?” seru Maha Guru Sanata. “Ia malah mengambil salah satu pusaka perguruan yang kita tempatkan di sepanjang lintasan lomba!” 

Pusaka perguruan tersebut harusnya menjadi hadiah bagi murid-murid yang ikut di dalam perlombaan. 

“Hahaha…,” gelak Empu Wacana. “Sebagaimana kesepakatan, pusaka perguruan yang kita pertaruhkan berhak menjadi siapa pun yang beruntung.” 

Maha Guru Sanata menoleh, dan menatap Empu Wacana yang masih saja terbuai dalam keindahan lekuk keris di tangan. “Murid entah dari mana itu… baru saja mengambil salah satu pusaka dari perguruanmu…” 

“Apa!?” Empu Wacana gelagapan. Hampir saja keris di tangannya terlepas jatuh. 



Catatan:

(1) Mayang Tenggara pernah singgah dan membuat keributan di Rimba Candi. Episode 177. 

(2) Gunung Candrageni adalah nama lain dari Gunung Merapi.