Episode 192 - Kemaharajaan...


Seorang gadis belia berdiri di tengah-tengah aula nan luas. Pilar-pilar terlihat menjulang tinggi, sampai tak terlihat batas atasnya karena langit-langit tiada mendapat pencahayaan. Menempel ada setiap pilar, hanya menyala lentera yang menyibak cahaya temaram. Hembusan semilir angin terhadap lentera sehingga membuat bayangan sang gadis seolah menari dalam irama yang mengalun-alun sendu. 

Gadis belia itu menarik napas panjang. Aroma dupa bercampur bunga-bunga yang merebak di udara, membuat hatinya sedikit lega sekaligus tenteram. Ini adalah waktu yang ia nanti-nanti… Akan tetapi, perasaan gugup memang sulit diusir pergi. 

“Canting Emas…,” tetiba terdengar suara lantang, yang datang dari seorang perempuan dewasa. Ia melayang masuk penuh percaya diri. Setiap gerak-geriknya menujukkan keahlian tiada tara. “Apakah dikau sudah siap?”

“Sudah, Ibunda…” Gadis itu menjawab cepat. 

“Hmph…”

“Canting Emas sudah siap jiwa dan raga, wahai Yang Terhormat Maha Guru Kesatu,” ulangnya sigap. 

“Kita akan memulai. Persiapkan diri sesuai petunjuk yang telah aku gariskan.” 

Lantai batu tempat dimana kedua kakinya berpijak, terasa kokoh namun dingin. Entah mengapa, hubungan antara kedua perempuan, ibu dan anak, sangat erat, namun di saat yang sama terpisah jarak. Dari kecil, Canting Emas tumbuh di bawah bimbingan sang kakek, yang merupakan salah satu sesepuh di Perguruan Gunung Agung. 

Canting Emas duduk bersila. Posisi tubuh tegak, dada membusung, serta diikuti dengan kepala yang sedikit mengangkat. Kedua tangannya kemudian diletakkan di atas lutut. Telapak tangan lalu membuka dan menghadap ke atas, dengan jemari yang saling menempel. Gadis tersebut menekuk perlahan jari manis, dan menekan ruas jari tersebut dengan ibu jari. Di dalam yoga, posisi jemari ini dikenal sebagai ‘Surya Mudra’. 

Surya Mudra secara khusus merupakan posisi meditasi untuk meningkatkan unsur kesaktian api. 

Canting Emas lalu menarik napas dalam-dalam melalui lubang hidung. Ia merasakan diafragma bergerak ke bawah, membiarkan paru-paru dan perut mengembang. Kemudian, ia resapi dada mengembang sehingga tulang selangka bergerak naik. 

Gadis itu lalu membuang napas dengan cepat melalui lubang hidung. Ia merasakan tulang selangka bergerak turun, dada dan perut kembali datar karena paru-paru kembali mengempis. Proses membuang napas ini memang harus lebih cepat daripada proses menarik nafas.Teknik pernapasan ini dikenal sebagai Bhastrika Pranayama. 

Bagi para ahli baca, selama melakukan ternik pernapasan ini, dianjurkan untuk secara perlahan meningkatkan kecepatan pernapasan. Lakukanlah selama lima menit setiap pagi, niscaya akan bermanfaat dalam mengatasi tekanan pikiran, serta kecemasan dan depresi.

Di kala Canting Emas mengendalikan pernapasan, Cawan Arang sang ibunda mendekat sampai sekira dua atau tiga langkah di hadapannya. Perempuan dewasa tersebut juga duduk bersila, menempatkan jemari pada posisi Surya Mudra, dan mengatur napas secara Bhastrika Pranayama. Ritme napas keduanya lalu menyatu.

Canting Emas kemudian menebar mata hati sampai ke ulu hati. Ia berkonsentrasi pada kristal mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 9. Perlahan, ia memaksa mustika tersebut bergetar… Untuk melakukan tindakan yang sangat sederhana ini, sesungguhnya Canting Emas harus mengerahkan segenap daya upaya. 

Semakin lama, getaran mustika di ulu hati terasa semakin deras. Bulir-bulir keringat mulai mengalir di dahi, melewati pipi tirus, dan tiba di dagu nan ramping, sebelum jatuh ke dadanya sendiri. 

“Krak!” Sebuah retakan terjadi terhadap mustika. Canting Emas terus menggetarkan mustika tersebut. Retakan perlahan menjalar dan merekah. Bilamana dibiarkan lebih lanjut, maka mustika tersebut akan pecah, dan tubuh Canting Emas akan meledak. 

Di detik-detik akhir sebelum mustika hendak pecah, Canting Emas tetiba merasakan kehangatan. Api bernuansa lembayung biru, merangsek masuk ke dalam ulu hatinya. Ia mengetahui bahwa api ini berasal dari Ibunda Cawan Arang. Bilamana tingkatan panas api Ahli Kasta Perunggu berwarna kuning, lalu Kasta Perak bernuansa jingga dan merah, maka api ahli Kasta Emas berwarna biru. 

Api lembayung biru melingkupi mustika di ulu hati Canting Emas. Gadis belia tersebut membiarkan proses yang sedang berlangsung terhadap mustika di ulu hati. Raut wajahnya berubah tenang, tiada setitik pun keraguan yang berkutat di dalam hatinya. 

“Bersiaplah…,” bisik Maha Guru Kesatu, Cawan Arang. 

“Duar!” Mustika di ulu hati pecah, dan tenaga dalam yang melesak keluar meledak, dan menyalakan api berwarna kuning. Kobaran api berpilin membumbung tinggi. Ruang dalam aula yang tadinya temaram, segera menyala terang dan benderang.  

Proses pembakaran tenaga dalam berlangsung tak kurang dari satu jam lamanya. 

Samar-samar, di pusat kobaran api, seorang gadis masih duduk bersila. Di ulu hatinya, sebuah mustika baru mulai membentuk. Proses pembentukan ini tentunya mendapat dukungan dari api lembayung biru. Api tersebut tak hanya berperan dalam membantu memperlancar pembentukan mustika baru agar merangkai sempurna, namun turut memberikan pasokan tenaga dalam sesuai kebutuhan. 

Seketika mustika di ulu hati rampung, cairan kental yang mulai terisi tak lagi berwarna perunggu. Warnanya terang, mengkilap dan cemerlang. Canting Emas yang sebelumnya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, kini sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1! 

“Selamat!” sergah Cawan Arang. 

“Canting Emas menghaturkan sebesar-besarnya rasa terima kasih kepada Yang Terhormat Maha Guru Kesatu, yang telah bersedia membantu murid menerobos ke Kasta Perak.” 

“Tiada perlu berbasa-basi!” hardik sang ibunda. “Aku melakukan apa yang wajib aku lakukan. Pertumbuhanmu sebagai seorang ahli merupakan tanggung jawabmu sendiri.” 

Canting Emas kemudian menatap bayangan sang ibunda yang melayang pergi meninggalkan aula nan luas. Suasana di dalam kembali bersinar temaram, sunyi dan sepi. 


Sebuah kolam nan luas, bentuknya persegi dan berundak. Pada setiap undakan, terdapat sekira delapan deret patung naga geni yang terbuat dari batu. Dari mulut naga-naga tersebut, mengucur air panas alami nan jernih, yang datang dari Gunung Istana Dewa. Sebagaimana diketahui, gunung tersebutlah yang dikelilingi oleh empat kota Perguruan Gunung Agung. 

Meski kolam pemandian tersebut luas adanya, hanya terdapat dua gadis belia yang datang berendam. Kemungkinan besar, keadaan sepi dikarenakan belum banyak murid yang telah kembali ke perguruan. 

Gadis pertama berkulit sawo matang, demikian langsing perawakannya. “Kau juga sudah berada pada Kasta Perak rupanya,” ujar Canting Emas. Ia berendam untuk melepas lelah setelah menerobos ke Kasta Perak. 

Gadis kedua, kulitnya putih selembut dan sebersih kapas. Perawakannya lebih berisi, namun dari posisi ia berendam, dapat dipastikan bahwa posturnya lebih mungil. 

“Ayahandaku melakukan upacara kenaikan kasta. Beberapa orang dewasa dalam suku secara bersama-sama membantu diriku demi menerobos ke Kasta Perak,” tanggap Kuau Kakimerah ringan. 

Kuau Kakimerah baru saja kembali ke Perguruan Gunung Agung dari kampung halamannya di pedalaman Pulau Belantara Pusat. Ia memang tiba lebih awal, karena atas satu dan lain hal, ayahnya justru memaksa agar tak berlama-lama berada di sana. Salah satu alasannya adalah karena gadis tersebut akan lebih aman bila berada di luar pulau. 

“Aku dapat mengerti bilamana engkau pun telah berhasil menerobos ke Kasta Perak,” ucap Canting Emas lirih. “Namun, ramuan apa yang kau makan selama di Pulau Belantara Pusat sana…?”

“Ramuan…?” Kuau Kakimerah terlihat sedikit bingung. 

“Iya… ramuan apa yang dapat membuat ukuran buah dadamu tumbuh pesat!?” 

Sesungguhnya ukuran payudara Kuau Kakimerah masih wajar-wajar saja. Gadis tersebut terbiasa mengenakan pakaian nan longgar, sehingga lekuk tubuhnya tak terlalu kentara. Selama berada di Perguruan Gunung Agung, Kuau Kakimerah memang banyak makan, sehingga terlihat lebih berisi dibandingkan lawan bicaranya itu. 

Pertanyaan Canting Emas, sebenarnya diajukan kepada diri sendiri. Mengapa pertumbuhan dirinya demikian lambat…?

“Splash!” Tetiba sesosok tubuh melangkah masuk, membelah air hangat di dekat kedua gadis. 

Canting Emas dan Kuau Kakimerah spontan menoleh waspada. Kedua mata mereka lalu menangkap sesosok tubuh nan aduhai bohai. Tiada mengenakan seutas benang pun, terpampang pinggulnya melenggok dan payudaranya berguncang... 

“Hei!” hardik Canting Emas. “Apa yang kau lakukan di tempat ini!?” 

“Mandi air panas,” jawab seorang gadis belia santai. Tubuhnya telah terendam sampai batas pusar.

Pembawaan Canting Emas tetiba panas, lebih panas dari air kolam. Ia hendak bangkit berdiri, akan tetapi terpaksa menahan diri. Di hadapan sepasang raksasa itu, ia merasa demikian kerdil. 

“Maksudku, apa yang kau lakukan di Perguruan Gunung Agung!?” 

Canting Emas mengenal betul akan gadis tersebut. Ia pernah ikut bertarung di dalam dimensi ruang berlatih Perguruan Gunung Agung demi menyelamatkan Bintang Tenggara. Pada Kejuaraan Antar Ahli, ia adalah lawan pada partai akhir.

“Menanti Bintang Tenggara,” jawab Embun Kahyangan ringan. 

“Cih! Lalu mengapa engkau berendam di sini!? Kolam pemandian ini khusus bagi murid-murid perempuan Perguruan Gunung Agung!” 

“Maha Guru Kesatu menyarankan untuk menemui kalian.” 

“Bukan berarti kau diperkenankan ikut berendam! Lagipula, siapa yang mau berendam bersamamu!?” 

“Pijatan…,” gumam Embun Kahyangan. 

“Apa!? Bicaralah dengan jelas!” 

“Diriku bisa mengajarkan teknik memijat payudara…”

“Tidak perlu!” hardik Canting Emas berang. “Bintang Tenggara sedang pulang ke Pulau Paus. Pergilah engkau ke sana!” Bagi Canting Emas, berada di kolam yang sama dengan Embun Kahyangan, ibarat bertemu dengan malaikat dari neraka payudara. 


 ===


Bintang Tenggara baru saja turun dari perahu dan menjejakkan kaki di Pulau Parang. Beberapa hari yang lalu, diketahui dari Lencana Pasukan Telik Sandi bahwasanya Panggalih Rantau sedang pulang ke kampungnya di wilayah barat Pulau Barisan Barat. Bintang Tenggara terpaksa menempuh perjalan darat dan laut untuk kembali ke Pulau Dewa. 

Demikian, Bintang Tenggara akan semakin terlambat tiba di Perguruan Gunung Agung. 

Karena sudah berada di Pulau Parang, maka tak ada salahnya bila ia singgah barang sejenak ke Istana Utama Kerajaan Parang Batu. Akan tetapi, saat menghitung langkah, tetiba Bintang Tenggara mengingat akan satu hal. Anak remaja tersebut mengingat akan seorang kakek tua dengan wajah mengantuk yang menjabat sebagai Kepala Pengawal Istana Keempat. 

Diperkirakan, kemungkinan besar kakek tersebut mengenal ayahanda Balaputera. Hampir setahun yang lalu, kakek itu pernah berujar tentang ‘sampaikan salam’ dan ‘beban berat’. Bintang Tenggara yakin bahwa ia tak salah dengar di kala menerima pesan menggunakan jalinan mata hati dari kakek tua itu.

Walhasil, Bintang Tenggara mengubah arah, dan memutuskan untuk mengunjungi Istana Keempat saja. Ada beberapa hal yang ingin ia ajukan seputar sang ayahanda kepada si kakek tua.

“Hai!” terdengar suara menyapa di kala Bintang Tenggara tiba di gerbang besar Istana Keempat Kerajaan Parang Batu. 

“Eh…?” Bintang Tenggara terperangah. 

“Murid Utama Bintang Tenggara… bukankah dikau seharusnya sudah berada di perguruan? Tahun ajaran baru telah dimulai sejak beberapa hari lalu.”

“Guru Muda Khandra!?” Lagi-lagi Bintang Tenggara bertemu muka dengan sosok yang kehadirannya tiada pernah terbaca. 

“Apa yang hendak dikau lakukan di tempat ini…?” 

Bintang Tenggara hanya diam. Mungkin, sesekali, lebih baik dirinya yang memulai bertanya. Mengapa ia selalu bertemu Guru Muda Khandra dalam situasi yang tiada terduga seperti ini…?

“Diriku hendak bersua Kepala Pengawal Istana Keempat.” Akhirnya Bintang Tenggara menanggapi pertanyaan. 

“Oh…? Kakek itu sedang menjalani kunjungan dinas ke wilayah selatan Pulau Barisan Barat.” 

“wilayah selatan? Pulau Barisan Barat ? Perjalanan dinas…?” 

“Benar,” tanggap Guru Muda Khandra. “Beliau sedang menjalani tugas sebagai utusan dari Kerajaan Parang Batu untuk mengunjungi kerajaan sahabat. Hal ini merupakan sebuah kegiatan tahunan dan rutin. Kunjungan dilakukan dalam rangka menjaga hubungan baik.”

“Oh…?”

“Apa yang hendak dikau lakukan bilamana bertemu dengan Kepala Pengawal Istana Keempat?” 

“Hm…?” Bintang Tenggara merasa sedikit risih. Guru Muda Khandra sangat banyak bertanya. Namun demikian, anak remaja itu sepenuhnya menyadari bahwa pertanyaan tersebut masih cukup wajar bila diajukan oleh seorang Guru Muda terhadap seorang murid. Apalagi, murid tersebut saat ini seharusnya berada di dalam perguruan. 

“Diriku kebetulan melintas, sebelum berangkat menuju Pulau Dewa. Kebetulan pula, ada yang hendak diriku tanyakan kepada beliau.” 

“Apakah tentang sesuatu hal yang bersifat pribadi? Apakah penting?” Tanya jawab berubah menjadi interogasi.

“Sesuatu yang sangat pribadi. Pun cukup penting.” 

“Hm…” Guru Muda Khandra terlihat menimbang-nimbang. 

“Guru Muda Khandra, apakah ada formasi segel yang menekankan pada pertahanan…?” 

Bintang Tenggara mengalihkan pembicaraan. Diketahui, bahwa lelaki dewasa muda itu merupakan Guru Muda di Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel di Perguruan Gunung Agung. 

“Sangat banyak. Formasi segel pertahanan terbagi dalam tingkatan dan luas wilayah cakupannya.”

“Setibanya di perguruan nanti, diriku hendak mendalami formasi segel.” Si anak remaja ingin menutupi kekurangan dirinya dalam hal bertahan. Kemampuan yang saat ini ia miliki, adalah menyerang dan melarikan diri. 

“Izinkan diriku berterus terang,” ujar Guru Muda Khandra. 

Bintang Tenggara mengamati perubahan pada raut wajah lelaki dewasa muda tersebut. Yang tadinya tenang, kini ia tetiba berubah serius. 

“Diriku mendatangi Istana Keempat ini juga karena hendak bersua dengan sang Kepala Pengawal. Ada sebuah pesan penting dari salah seorang tetua di Perguruan Gunung Agung teruntuk kepada beliau. Pesan ini harus segera disampaikan langsung.” 

Guru Muda Khandra mengeluarkan selembar gulungan naskah berukuran sedang. “Dalam keadaan normal, diriku akan menyusul Kepala Pengawal Istana Keempat kemana pun ia pergi. Akan tetapi, tahun ajaran baru telah dimulai, sehingga diriku memiliki sejumlah tanggung jawab di perguruan yang perlu dilaksanakan.” 

Bintang Tenggara segera mencium gelagat tak sedap. Nalurinya mengatakan bahwa akan ada seorang Guru Muda yang hendak meminta bantuan. Padahal, bertemu dengan Kepala Pengawal itu bukanlah sesuatu yang terlalu mendesak bagi dirinya.

“Oleh karena itu, apakah mungkin diriku dapat meminta kesediaan Murid Bintang Tenggara untuk mewakili, demi menyampaikan gulungan naskah ini kepada Kepala Pengawal Istana Keempat…?”

Bintang Tenggara menanggapi dengan diam, bahkan dirinya tiada menyembunyikan roman keragu-raguan. Meskipun demikian, sebagai seorang murid perguruan, tidak mungkin bagi dirinya menolak mentah-mentah penugasan dari seorang guru, walau itu hanya seseorang yang baru menjabat sebagai Guru Muda.. 

“Diriku akan membuatkan Surat Jalan, dan melapor kepada pihak-pihak terkait di dalam perguruan tentang penugasanmu ini,” sambung Guru Muda Khandra. ?“Lagipula, waktu yang diperlukan tiada terlalu lama. Kemungkinan hanya sepekan saja.”

“Hm…” 

Bintang Tenggara merasa terjebak. Seharusnya tadi ia berkunjung ke Istana Utama saja. Bila Lombok Cakranegara meminta bantuan, dirinya justru bisa berkelit dengan dalih harus segera kembali ke Perguruan Gunung Agung. Sungguh situasi yang tiada nyaman. 

Bintang Tenggara pasrah. 

“Selain itu, kuyakinkan bahwa dikau nantinya akan mengetahui lebih jauh tentang sosok ayahanda.” Guru Muda Khandra menyibak senyum penuh makna.

“Eh!?” Bintang Tenggara terpana. Ia tak pernah barang sekali pun mengangkat perihal sang ayahanda. Bagaimana mungkin seseorang dapat menebak sampai sedemikian jitu!?

“Dimanakah Kepala Pengawal Istana Keempat?” ujar Bintang Tenggara cepat. Rasa penasaran berkutat di dalam benaknya.

“Saat ini, Kepala Pengawal Istana Keempat dari Kerajaan Parang Batu, sedang melaksanakan tugas sebagai utusan di…”

“Di mana?”

“Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” 



Catatan:

‘Kemenangan yang gilang-gemilang’ merupakan arti dari… ‘Sriwijaya’.