Episode 191 - Akar Bahar Laksamana


“Lampir Marapi!” 

Tetiba seorang anak remaja lelaki menyergah garang. Sorot mata menatap tajam. Jemari telunjuk tangan kanan mengacung lurus ke depan. Postur tubuh berdiri tegap. Aura yang dipancarkan demikian digdaya. 

Di hadapan anak remaja tersebut, segerombolan gadis-gadis belia berdiri berkerumun. Mereka lalu menoleh sebagai tanggapan atas panggilan. Pakaian yang mereka kenakan senada, bahkan sama. Di atas kepala mereka, masing-masing mengenakan tingkuluak yang mirip dengan sepasang tanduk kerbau. (1) 

“Serahkan keperawananmu saat ini juga!” teriak anak remaja lelaki tersebut membahana. Jemari yang tadinya menunjuk, berubah menjadi kepalan tinju dengan posisi siku menekuk. 

“Kyaa…” Seorang gadis belia berwajah Lamalera sontak melompat di tempat. 

“Mesuuummm…” Gadis yang berwajah Canting Emas menutup wajah dengan kedua telapak tangan. 

“Aaaahhh…” Kedua tangan gadis berwajah Kuau Kakimerah menutup mulut karena tak kuasa berkata-kata. 

“Ayuh…” Membusungkan dada, gadis berwajah Embun Kahyangan malah menantang maju. 

Di balik keempat gadis belia tersebut, terlihat gadis berparas Citra Pitaloka, Cikartawana, dan Sayu mengintip malu. Tak satu pun dari mereka adalah Lampir Marapi. Hanya pakaian yang dikenakan dan gegalat mereka saja yang mirip dengan si Perawan Putih nan manja. 

Bayangkan, Lamalera melompat genit dan Canting Emas tersipu… Sangat tak mungkin terjadi!

“Eh…?” Bintang Tenggara tetiba terlihat kebingungan. Ia tak tahu mengapa kata-kata tak sopan tadi keluar dari mulutnya, dan mengapa pula ia berdiri dengan pose demikian perkasa… Ia lalu menyadari bahwa pakaiannya berwarna cerah, dan rambutnya belah tengah. Mengapa penampilan diriku mirip Aji Pamungkas!? Bintang Tenggara meringis. 

Akan tetapi, belum sempat anak remaja itu berpikir lebih lanjut… segerombolan gadis-gadis belia berlari ke arahnya. Bintang Tenggara terlambat bereaksi. Entah mengapa tubuhnya tak hendak mengikuti perintah… Jadilah ia diterkam tiada berdaya!

“HUAAAHHH…” Bintang Tengarra tersontak bangun dari mimpinya. Tubuhnya berkeringat deras. Celananya basah… 


Bintang Tenggara belum kembali Pulau Paus. Ia memutuskan untuk menempa raga di Telaga Tiga Pesona. Sebagai ahli yang tiada memiliki kemampuan bertahan yang mumpuni, memperkuat daya tahan tubuh merupakan satu-satunya cara yang dianjurkan oleh Komodo Nagaradja. Pola latihan dasar yang penuh derita sebagaimana yang pernah ia jalani pun diulang. 

Akan tetapi, kini situasinya berbeda. Meski Telaga Merah airnya menggelegak panas, Telaga Biru dingin membeku, serta Telaga Hijau racun menyegat, berkat ramuan yang dibuat sesuai petunjuk Ginseng Perkasa, maka anak remaja tersebut merasa lebih cepat beradaptasi terhadap ketiga telaga. Bintang Tenggara sudah dapat semakin jauh melangkah ke dalam kolam dan juga bertahan jauh lebih lama. 

“Lepaskan kulit dari kacangnya…,” ujar Ginseng Perkasa. 

Pada punggung telapak tangan kanan Bintang Tenggara, berpendar simbol lesung batu dan ular melingkar. Hal ini menandakan bahwa Ginseng Perkasa sedang meminjamkan keterampilan khusus sebagai peramu miliknya. 

Sebiji kacang tanah dengan kulit ari yang masih menempel melayang ringan di depan Bintang Tenggara. Ia sedang melatih kemampuan mata hati untuk dapat memindahkan dan mengendalikan sesuatu benda. Kemampuan ini, menurut Kakek Gin, disebut sebagai telekinesis, dan merupakan andalan bagi ahli yang memiliki keterampilan khusus sebagai peramu. 

Perlahan, kulit ari kacang tanah terlepas. Kini, biji kacang berwarna putih dan kulit ari nan tipis berwarna kecoklatan melayang ringan. 

“Tempatkan kulit ke dalam lesung batu,” lanjut Ginseng Perkasa. 

Kehadiran seorang ahli di Pulau Bunga tiada dapat dipungkiri. Akan tetapi, merupakan keanehan bahwa ruang penyimpanan milik Komodo Nagaradja di balik dinding goa tiada tersentuh. Barang-barang di dalamnya masih lengkap adanya. Bintang Tenggara mengingat betul hal ini, karena dirinyalah dulu yang menata ruang penyimpanan tersebut. 

“Siapa yang menginjinkan kalian menggunakan lesung batu milikku…?” Komodo Nagaradja mendengus. 

“Heh… Dikau pastilah mengutil lesung batu ini dari suatu tempat,” cibir Ginseng Perkasa. 

“Lancang!” sergah Komodo Nagaradja. “Kalianlah pengutil barang milikku! Kembalikan!”

Kegiatan umpat-mengumpat kembali berlangsung hangat. Bintang Tenggara mau tak mau terpaksa berhenti berlatih keterampilan khusus sebagai peramu. Diperlukan konsentrasi dan kesabaran tingkat tinggi dalam mengerahkan mata hati demi mendukung keterampilan khusus ini. Sedangkan saat ini, konsentrasi dan kesabaran adalah dua hal yang tak ia miliki. Siapa yang bisa berkonsentrasi dan bersabar bilamana terdapat kesadaran dua ahli yang berkelahi, serta terhubung dengan kesadarannya sendiri!?

Tidak menjadi gila saja, sudah merupakan sebuah mukjizat!

Sepekan tak terasa sudah berlalu di Pulau Bunga. Bintang Tenggara sengaja tinggal lebih lama guna menelusuri Pulau Bunga. Selain melatih daya tahan raga, ia hendak mencari tanda-tanda siapa pun itu yang pernah datang bertandang. Sekecil apa pun petanda akan jati diri lawan, tiada akan terlepas dari pantauannya. 

“Telapak sepatu ini…,” gumam Bintang Tenggara, “sangatlah kecil.”

“Seukuran anak berusia tujuh atau delapan tahun.” Ginseng Perkasa menyampaikan pandangannya. 

“Mungkinkah anak kecil yang tersasar ke pulau ini? Sebagaimana diriku dulu?” 

“Jangan mudah dikelabui oleh pandangan mata,” sela Komodo Nagaradja. “Ahli Kasta Bumi mana pun dapat mengubah penampilan. Tua atau muda, bukanlah ukuran nan nyata.” 

“Kasta Bumi…?” Bintang Tenggara mengeluarkan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Sudah sangat jarang dirinya tenggelam dalam bacaan. 

“Apa yang membuat dikau menyimpulkan akan keberadaan ahli Kasta Bumi…?” Ginseng Perkasa tedengar serius. 

“Hanya sebuah firasat.” 

“Firasat dikau selalu salah…” 

“Hei!” Komodo Nagaradja kembali naik darah. 

 …


“Dikau memiliki Akar Bahar Laksamana…,” ujar Ginseng Perkasa di saat Bintang Tenggara tertidur pulas karena kelelahan berlatih di ketiga telaga. (2)

“Hmph…” dengus Komodo Nagaradja. 

“Bagi kita yang sudah tua-tua ini, walau pun nantinya kembali memiliki tubuh, tumbuhan siluman tersebut tiada terlalu berguna… Memang dapat menambah kekuatan mustika tenaga dalam… hanya sekedar itu.” 

“Jangan memperlakukan harta bendaku seolah milik bersama,” sergah Komodo Nagaradja

“Akan tetapi, bagi ahli Kasta Perunggu, Akar Bahar Laksamana bisa membuka peluang yang tiada terkira.”

“Kau berujar akan kemayaan…,” tanggap Komodo Nagaradja lirih. 

“Haha… ‘maya’… sesuatu yang ada, sekaligus tiada. Sungguh istilah yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam benakku.” 

“Aku tak tertarik bermain teka-teki...”

“Akar Bahar secara umum merupakan tumbuhan siluman yang hidup di dasar samudera. Dari beberapa jenis yang ada, Akar Bahar Laksamana merupakan jenis yang paling langka. Secara alami, dikatakan bahwa Akar Bahar Laksamana membawa keselamatan dan keberuntungan. Dengan kata lain, memiliki ‘tuah’.” 

Sang Maha Maha Tabib Surgawi sangat lancar bertutur bilamana terkait keahliannya. DI saat yang sama, ia menatap tajam ke arah sosok Komodo Nagaradja. Ia menantikan sebuah jawaban. 

“Sudah kukatakan… Aku tak tertarik bermain teka-teki...” Komodo Nagaradja tak ingin berbincang-bincang panjang lebar dengan Ginseng Perkasa. Akan tetapi, ada sesuatu hal yang mana menarik perhatiannya. 

“Bukanlah suatu kebetulan… Akar Bahar Laksamana memberikan keberuntungan atau tuah. Laksamana Tuah… Hang Tuah…”

“Kau hanya memainkan kata-kata.” 

“Kakak Tuah pernah mengisahkan kepadaku… bahwa di kala memulai jalan keahlian, yaitu pada pelayaran pertamanya meninggalkan kampung halaman, sungguh ia berpapasan dan kemudian bertarung dengan binatang siluman di Selat Tumasik.” Ginseng Perkasa belum pernah terlihat seserius sebagaimana ia saat ini. 

“Cerita khayalan...” Komodo Nagaradja acuh tak acuh.

“Di kala pertarungan berlangsung, Kakak Tua ditarik ke dasar laut dalam. Hampir tiada daya ia meronta… Nyawa diujung tanduk, tanpa sengaja ia menggapai…” Ginseng Perkasa berhenti sejenak, “Akar Bahar Laksamana!” 

“…”

“Pada kesempatan ini, Komodo Nagaradja, sebagai sesama Jenderal Bhayangkara, yang pernah berjuang berdampingan di kala Perang Jagat… diriku, Ginseng Perkasa, ingin mengajukan satu pertanyaan sahaja…” 

“Sejak kapan kau bisa berbicara resmi…?” tanggap Komodo Nagaradja malas. 

“Sudi kiranya mengungkapkan… dari manakah dikau memperoleh Akar Bahar Laksamana tersebut?”

Komodo Nagaradja membuang muka. Ia pun melangkah pergi meninggalkan sosok Ginseng Perkasa. Pemandangan yang terlihat layaknya sepasang kekasih yang memutuskan untuk berpisah arah. 

“Komodo Nagaradja…,” panggil Ginseng Perkasa. 

Tanpa menoleh, Komodo Nagaradja menjawab setengah berbisik… “Kakak Tuah yang menitipkan Akar Bahar Laksamana itu…” 


Tiga pekan berlalu, sedangkan Bintang Tenggara masih berada di Pulau Bunga. Penelusuran lebih mendalam akan jati diri siapa pun itu yang bertandang ke tempat tersebut tiada membuahkan hasil. Walhasil, sebagian harinya hanya dihabiskan dalam menempa raga di Telaga Tiga Pesona. 

Berlatih keterampilan khusus sebagai peramu tak bisa dilakukan karena anak remaja tersebut menghadapi kesulitan dalam berkonsentrasi. Entah mengapa, dalam beberapa pekan belakangan ini, Ginseng Perkasa sepertinya tambah cerewet. Seperti ada sesuatu yang tokoh tersebut inginkan dari Komodo Nagaradja. 

Akan tetapi, dengan cara meminta yang dilakukan Ginseng Perkasa, bahkan Bintang Tenggara merasa sebagai upaya yang sia-sia belaka. Terus-menerus merongrong bukanlah pendekatan yang tepat demi melunakkan hati Komodo Nagaradja. Jangankan diberikan, sebaliknya Komodo Nagaradja malah dibuat meluah, lalu naik darah. (3)

Terlepas dari hubungan Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa yang tiada pernah akur, Bintang Tenggara menyadari bahwa tahun ajaran baru di Perguruan Gunung Agung akan dimulai dalam beberapa hari ke depan. Bilamana dirinya kembali ke Pulau Paus hari ini, maka dengan menumpang Undan Paruh Cokelat pun ia kemungkinan besar akan terlambat tiba di Pulau Dewa. 

“Bukankah sudah waktunya kau kembali ke Pulau Dewa!?” sergah Komodo Nagaradja. 

“Kemungkinan esok… atau lusa…,” tanggap Bintang Tanggara sekenanya. 

“Hei! Aku tak pernah mendidik murid yang tak patuh!” sergah Komodo Nagaradja. “Di dalam dunia persilatan dan kesaktian, ada aturan yang perlu diindahkan!” 

Bintang Tenggara bersungut. Ia belum meninggalkan Pulau Bunga justru karena kekhawatiran terhadap tubuh sang Super Guru. Ahli yang pernah tiba di pulau ini bisa kembali kapan saja, karena telah terbukti bahwa segel yang menaungi pulau tiada berpengaruh. Artinya, ancaman kepada tubuh siluman sempurna di dalam goa bisa terjadi kapan saja. 

“Nak Bintang… diriku tak merasakan niat jahat dari siapa pun itu ahli yang pernah berkunjung ke pulau ini,” sela Ginseng Perkasa. “Diriku lebih mengkhawatirkan barang-barang Komodo Nagaradja yang tersimpan di dalam ruang penyimpanan. Tentu dikau menyadari bahwa permadani terbang miliknya telah dibawa pergi oleh tokoh nan misterius itu.”

Kata-kata Ginseng Perkasa memang berupaya menenangkan hati si anak remaja. Akan tetapi, di saat yang sama, Bintang Tenggara menangkap adanya maksud tersirat dari kata-kata tokoh yang satu ini. Bahwa seolah kata-katanya itu, lebih ditujukan kepada Komodo Nagaradja…

“Baiklah… diriku akan kembali ke Pulau Paus hari ini juga.”

“Bawalah bersamamu kotak kecil berwarna hitam dari dalam ruang penyimpananku,” sergah Komodo Nagaradja

“Ha!” Ginseng Perkasa hampir melompat kegirangan. 

Bintang Tenggara bersiap pulang. Sesuai arahan Komodo Nagaradja, ia mengambil sebuah kotak usang dari dalam ruang penyimpanan. Aura yang melingkupi kotak tersebut sangat sulit dicerna. Tak perlu diragukan bahwa isinya merupakan sesuatu yang amat berharga dan lagi penting adanya. 

Penasaran, Bintang Tenggara menyentuh kotak tersebut. Perlahan ia membuka tutupnya. Di dalam, ia menemukan sesuatu yang melingkar mirip sebuah gelang kayu keramat yang biasa dikenakan oleh orang-orang tua. Bernuansa hitam, dengan warna kemerahan pada bagian-bagian tertentu. Selain itu, terdapat pula jalinan akar tak beraturan pada gelang tersebut. 

Bintang Tenggara menatap tanpa curiga… Apakah gerangan ini? Benaknya bertanya-tanya. 

Di saat hendak menutup kotak, murid kebanggan Komodo Nagaradja itu mendapati bahwa akar-akar pada gelang tersebut bergerak-gerak gemulai seolah dimainkan ombak… kemudian terlihat sedikit memanjang. 

“Srek!” 

Tetiba akar melesat secepat kilat! Mengincar ke arah ulu hati Bintang Tenggara! 

“Brak!” 

Jalinan mata hati Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa secara bersamaan mendorong jalinan akar, kemudian menutup paksa kotak tersebut. Kotak pun terlepas dan jatuh dari tangan Bintang Tenggara. 

“Aku menyuruhmu membawa kotak tersebut… bukan melongo ke dalam isinya!” sergah Komodo Nagaradja berang. 

“Hampir saja…” Ginseng Perkasa menghela napas panjang. “Hampir saja berakhir celaka…”



Catatan:

(1) Ilustrasi pemakai tingkuluak berikut diambil dari akun Instagram @minangkabaupageant 

(2) Ilustrasi akar bahar kebanyakan, sesuai arahan Google. 


(3) meluah /me·lu·ah1 a berasa hendak muntah; meloya; 2 v muntah;


Kutipan ‘sejarah’ tak terkait ceritera: 

“Sejarah Kesultanan Melaka bermula dengan kedatangan Parameswara, salah seorang keturunan raja Sriwijaya dari Palembang. Nama Melaka diambil sempena nama pohon tempat Parameswara berteduh. Pada ketika itu, satu perkara aneh berlaku yang mana seekor ‘kancil putih’ telah menendang anjing-anjing raja. Melihatkan kejadian itu Parameswara merasa kagum dan memerintahkan agar kawasan tersebut dibuka dan dinamakan sebagai Negeri Melaka.”