Episode 22 - Menguntit


Jelas sudah, orang-orang ini memang berasal dari dunia persilatan. Sama sekali tak terlintas dalam pikiranku, keputusan bergabung dengan Perguruan Gagak Putih adalah pintu gerbang menuju dunia persilatan. Kupikir Perguruan Gagak Putih hanyalah perguruan silat yang didirikan dan dikelola sepenuhnya oleh orang-orang awam dan tak memiliki hubungan dengan dunia persilatan, siapa sangka perguruan ini justru merupakan bagian dunia persilatan. 

Aku hanya bisa menghela nafas dengan kebetulan yang tidak lagi mengagetkan ini. Lalu sambil melirik orang-orang dihadapanku satu persatu, aku menjawab pertanyaan mereka. 

“Alasanku bergabung dengan Perguruan Gagak Putih adalah berlatih jurus-jurus silat, tidak lebih tidak kurang. Sedangkan tentang hubungan antara Perguruan Gagak Putih dengan Kelompok Daun Biru….” Aku mengangkat kedua bahuku, mengisyaratkan kalau aku tidak tahu-menahu tentang itu. Aku memperhatikan ekspresi mereka satu persatu, tapi ternyata tidak banyak yang bisa dibaca dari reaksi mereka, tampaknya mereka sudah menduga jawaban yang kuberikan sehingga reaksinya biasa saja saat mendengar jawabanku. 

Yanuar menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu sambil tersenyum tipis dia kembali berbicara. 

“Sebenarnya, kami berharap kau bisa bergabung dengan Kelompok Daun Biru.” 

Eh…

“Maksudnya?” Aku sama sekali tak mengantisipasi kata-kata Yanuar, kupikir mereka akan mengusirku atau bahkan berusaha menangkapku. Tapi aku sama sekali tidak menduga mereka memintaku bergabung dengan Kelompok Daun Biru.

“Kami mengundangmu bergabung bersama kami, Kelompok Daun Biru. Lagipula, menjadi murid Perguruan Gagak Putih sama artinya bergabung dengan Kelompok Daun Biru. Perguruan Gagak Putih, Perguruan Kelelawar Merah, dan Perguruan Lembu Ireng sendiri adalah bagian dari Kelompok Daun Biru.” 

“Kalian mengundangku bergabung?” tanyaku memastikan perkataan mereka.

Yanuar mengangguk, sedangkan Arman, Arie, dan ketua Arya hanya mematung sambil menatap tak berkedip ke arahku. 

Aku sama sekali tidak tahu tentang Kelompok Daun Biru, darimana mereka berasal, siapa saja anggotanya, apakah mereka termasuk dalam golongan orang baik-baik atau sekumpulan orang jahat? Meskipun selama bergabung dengan Perguruan Gagak Putih aku sama sekali tidak menemukan hal yang aneh-aneh, tapi bukan berarti Kelompok Daun Biru baik-baik saja. 

“Aku… perlu waktu untuk memikirkan tawaran kalian.” 

Kupikir setidaknya aku perlu tahu dulu latar belakang Kelompok Daun Biru, karena itu aku tidak langsung menerima pinangan mereka. 

Yanuar terdiam mendengar jawabanku, “Baiklah kalau begitu, kurasa memang kau perlu memikirkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan.”

“Terima kasih.” Aku mengangguk pelan.

“Oh ya, bagaimana menurutmu Perguruan Gagak Putih?”

“Eh… cukup menyenangkan, murid-murid disana…..” Merasa Yanuar berusaha bersikap santai, aku juga berusaha melepas keteganganku dan menjawab pertanyaannya dengan santai. 

Yanuar mengalihkan pembicaraan kami dengan tanya jawab soal remeh-temeh. Setelah berbincang-bincang sebentar, mereka mempersilahkanku pamit pulang. Aku segera beranjak dari rumah besar di markas Perguruan Gagak Putih setelah sebelumnya mengucap salam pada mereka. 

Yanuar juga sempat mengingatkanku jika memutuskan bergabung dengan Kelompok Daun Biru, cukup menghubungi mereka melalui ketua Perguruan Gagak Putih, Arya Wiratama. 


***


“Apa ketua yakin mengajaknya bergabung dengan Kelompok Daun Biru? Maksudku, kita masih belum tahu benar latar belakangnya.”

Dengan raut muka penuh tanda tanya, ketua Arya segera mempertanyakan undangan Yanuar terhadap Riki untuk bergabung dengan Kelompok Daun Biru begitu Riki meninggalkan markas Perguruan Gagak Putih. 

“Arie telah melakukan investigasi terhadap Riki, meskipun hasilnya belum terlalu mendetail, tapi kurasa informasi yang kita dapat terkait anak itu cukup positif,” ucap Yanuar menjawab keraguan ketua Arya.

“Keluarganya berasal dari kalangan orang awam, sama sekali tidak ada hubungan dengan dunia persilatan. Saat ini dia sekolah di SMU Mitra Harapan dan menjalani kehidupan sebagaimana manusia awam. Seluruh latar belakangnya tidak ada yang menunjukkan hubungan dengan pendekar dunia persilatan.” Arie menjelaskan rangkuman hasil investigasinya pada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. “Tapi dia sempat menghilang selama satu bulan beberapa waktu yang lalu, meskipun laporan yang kudapat mengatakan dia menjadi korban penculikan, namun aku masih belum dapat memastikannya.”

Dengan jaringan dan sumber daya yang dimiliki oleh Kelompok Daun Biru, mudah saja bagi mereka menginvestigasi latar belakang Riki. Hanya dalam satu hari, Arie telah mengetahui begitu banyak informasi penting mengenai Riki. 

“Mungkin dia murid pendekar pengelana, dan menghilangnya dia selama sebulan adalah untuk melakukan latihan intensif bersama gurunya.” Arman menanggapi penjelasan Arie. 

“Bisa jadi, saat ini dia telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat tiga. Rata-rata seorang pendekar dengan bakat yang cukup butuh waktu dua belas sampai tiga belas tahun untuk mencapai tingkatan itu. Kemungkinan dia telah belajar pengolahan tenaga dalam semenjak usia lima atau enam tahun,” tambah Arie. Memang, umumnya seorang pendekar baru mencapai tahap penyerapan energi tingkat ketiga pada usia delapan belas sampai dua puluh tahun jika dia belajar pengolahan tenaga dalam sejak usia lima sampai enam tahun. 

“Tapi, dengan informasi aneh semacam itu… bukankah semestinya kita semakin mewaspadainya. Maksudku, latar belakangnya jadi terlalu misterius. Serta siapa yang menjadi gurunya?” Ketua Arya kembali mengungkapkan kekhawatirannya. 

“Huff… situasi dunia persilatan saat ini sangat tidak stabil. Kita membutuhkan semua sumber daya yang bisa kita gunakan untuk melewati situasi ini. Kemampuan yang dimiliki Riki akan sangat berguna buat kita. Lagipula, tingkat kesaktiannya masih dalam taraf yang masih bisa kita kendalikan. Sementara itu, segera kabari kami jika dia telah memutuskan untuk bergabung,” ujar Yanuar.

“Baik ketua,” jawab ketua Arya segera.


***


Beberapa hari setelah kompetisi tiga perguruan, aku masih belum memberikan jawaban mengenai bergabung atau tidaknya diriku ke Kelompok Daun Biru. Namun mereka juga tidak mendesakku agar segera memberikan jawaban, bahkan aku sempat dua kali bertemu ketua Arya di perguruan namun dia sama sekali tidak menyinggung soal Kelompok Daun Biru. 

Sebenarnya, aku ingin bergabung dengan Kelompok Daun Biru. Bukankah dengan bergabung bersama Kelompok Daun Biru aku bisa masuk ke dalam dunia persilatan? Sayangnya aku masih benar-benar buta tentang dunia persilatan itu sendiri, sehingga tidak mengetahui posisi Kelompok Daun Biru dalam dunia persilatan. Sedangkan untuk mencari informasi mengenai kelompok tersebut, aku tidak tahu harus memulai darimana. Memang sempat terpikir untuk menanyakannya pada ketua Arya, tapi aku tak yakin dia akan berbaik hati memberitahuku segalanya mengenai Kelompok Daun Biru. Pada akhirnya, aku hanya bisa menggantung jawaban untuk sementara waktu.

“Gue kesel banget sama cowoknya, bego banget! Kenapa dia nggak nyusul si cewek kalo emang beneran suka. Panteslah kalo akhirnya ceweknya nikah sama orang lain.”

“Ya… lagian kan sikap ceweknya dingin gitu, ya wajar kalo cowoknya ngira cintanya bertepuk sebelah tangan.”

“Rata-rata cowok emang nggak peka!”

“Cuma film aja diributin. Kayak Riki dong, selow…”

Kawan-kawanku serentak mengalihkan pandangannya padaku, membuyarkan lamunanku tentang Kelompok Daun Biru. 

“Lu banyak diemnya sekarang Rik?” tanya salah seorang kawan perempuanku.

“Gue males ngomongin filmnya, nggak seru,” jawabku ogah-ogahan. 

“Owh…” 

Kawan-kawanku memandangku dengan ekspresi sedikit prihatin, kemudian kembali saling berbincang tentang film drama percintaan yang baru kami tonton bersama sambil berjalan menyusuri koridor mall, kali ini tanpa melibatkanku dalam pembicaraan mereka. Aku sendiri berjalan di posisi paling pinggir dengan kedua tangan di kantong celana sambil memandangi jejeran toko di dalam mall. 

Berhubung masa liburan semester sekolahku masih belum usai, hari ini aku bersama teman-teman sekolahku janjian nonton bareng film drama terbaru di bioskop. Kami bertujuh, empat laki-laki dan tiga orang perempuan, sepasang pacaran sedangkan yang dua pasang lagi sedang PDKT. Hanya aku seorang yang berjalan tanpa pasangan, wajar saja jika tadi mereka memandangku dengan sedikit prihatin. 

Sebetulnya yang janjian nonton bareng ada enam belas orang, dan sebagian besarnya masih menjomblo. Tapi entah kenapa, satu per satu membatalkan acaranya hingga tinggal kami bertujuh yang tersisa dengan enam orang saling berpasang-pasangan dan aku satu-satunya yang sendiri.

Pada saat itulah pandangan mataku membentur pada sosok tubuh yang tengah berdiri di sudut agak jauh dari tempat kami berjalan. Sosok itu tampak sedang serius mengamati sesuatu hingga tak menyadari diriku sama sekali. Kenapa aku tertarik dengan sosok itu? Karena dia adalah Shinta! Apa yang sedang dia lakukan disini? Apakah aku harus menyapanya atau membiarkan saja berpura-pura tak saling mengenal? Pada saat aku tengah menimbang-nimbang, tiba-tiba saja Shinta berjalan cepat menuju eksalator. 

Inilah kesempatanku mengetahui lebih jauh tentang Kelompok Daun Biru. Karena itu, menyadari Shinta beranjak pergi dari mall, aku segera berjalan mengikutinya.

“Eh, gue ada perlu. Gue duluan ya,” ujarku pada kawan-kawanku, lalu pergi mengikuti Shinta tanpa menunggu jawaban mereka. 

Shinta keluar dari mall dan berjalan cepat menyusuri jalanan. Aku terus membuntutinya sambil tetap menjaga jarak cukup jauh. Kali ini aku telah menggunakan kemampuan tenaga dalamku untuk memastikan Shinta tak dapat mendeteksi keberadaanku. Namun, semakin aku mengikutinya, semakin aku merasa ada yang aneh. Gaya berjalan Shinta kurang lebih sama sepertiku, seperti orang yang tengah membuntuti sesuatu!

Setelah menyadari keanehan tersebut, jantungku berdegup lebih kencang. Tapi aku tak berniat menghentikan kegiatanku membuntutinya. Aku terus mengikuti Shinta hingga menuju daerah gang sempit di tengah perkampungan kumuh. Mulai dari sini, dia tak lagi berjalan seperti biasa, melainkan melompat ke atap rumah dan bersembunyi dibalik tembok rumah sambil terus mengawasi sesuatu. 

Jelas aku tidak lagi dapat mengikutinya dengan cara biasa di tempat ini. Dengan kemampuan yang kumiliki, aku juga melompat menuju atap salah satu rumah dan ikut bersembunyi sambil terus membuntuti Shinta. 

Tapi jika kalian berfikir aku membuntutinya dari jarak yang cukup dekat, kalian salah besar. Dengan memanfaatkan kemampuan seorang pendekar tahap penyerapan energi tingkat ketiga yang meningkatkan kepekaan panca indera seseorang, aku bisa mengikuti Shinta dari jarak hampir lima ratus jauhnya. Entah apakah Shinta juga menyadarinya, tapi aku merasa semakin lama kami menuju ke wilayah yang makin terpencil di tengah kota Jakarta ini.