Episode 16 - Akhir


“Ini bukan urusanmu!” teriak Sitri lalu mengepakan sayap griffin pada punggungnya, kemudian dengan cepat melesat menuju Solas.

Solas memblokir serangan Sitri dengan pedangnya, seakan-akan dia sudah tahu ini akan terjadi. Namun, Sitri terus menyerang, mencoba untuk mencari celah di antara pertahanan solidnya. 

“Sitri, sepertinya kau sudah mulai tumpul.”

Solas berkata sambil menahan serangan dengan pedangnya. Beberapa serangan dia tangkis, sementara beberapa lainnya dia hindari dengan sempurna. Sitri berpindah ke sisi lain dan terus menyerang. 

Perpaduan serangan tombak dan pedang yang diperagakan oleh Sitri sangat cepat. Kecepatan serangan itu hampir mustahil untuk dilihat. Solas terus menghindar dan memblokir serangan demi serangan dengan pedangnya dari berbagai sudut, dan sesekali mencoba untuk menyerang balik.

Sitri berhenti dan mundur beberapa langkah, nafasnya masih terengah-engah dengan serangan bertubi-tubi yang dia lakukan. Dia menatap tajam pada Solas dan menyadari sesuatu lalu berkata, “Hebat sekali, demi mengalahkan aku, kau rela menggunakan devil heart!” 

Ternyata mata merahnya bukan karena kelilipan debu, tapi efek karena menggunakan jurus itu.

“Ini bukan harga yang mahal.” Balas Solas dengan remeh.

“Haha, sepertinya kau sudah sangat marah.” Seru Sitri.

 Solas sedari tadi memang sudah menggunakan devil heart, meskipun tanpa membuka segel yang ada di jantungnya. Karena saat ini, emosi negatifnya telah sampai pada puncaknya, sehingga secara otomatis jurus terlarang itu akan aktif.

Oleh sebab itu, Solas mendapatkan kekuatan khususnya, yaitu mampu untuk memprediksi masa depan, sehingga dia dapat dengan mudah memblokir dan menghindari serangan ganas dari Sitri, yang jauh lebih kuat dari dirinya.

Dalam perang besar yang terjadi saat itu, jika Solas tanpa kekuatan khususnya ini, mustahil baginya untuk bisa selamat. Namun, bukan hanya itu, dia juga memiliki kecerdasan yang lebih baik dari pemimpin pasukan yang lainnya, sehingga meskipun tanpa kekuatan yang besar, pasukan yang dia pimpin mampu untuk membunuh lebih banyak musuh ketimbang pemimpin pasukan lainnya.

“Sepertinya aku harus menggunakannya juga.” Ucap Sitri lalu menancapkan pedang dan tombak itu ke tanah. Kemudian dengan cepat dia menusuk jantungnya dan memekik keras, “Devil heart!”. Aura Sitri menjadi lebih kuat dari sebelumnya, dan aliran kekuatan yang sangat besar mengalir deras di setiap bagian tubuhnya.

Tentu saja Sitri juga mendapatkan sebuah kekuatan khusus, akan tetapi kekuatan itu sangat tidak berguna dalam pertarungan. Jadi dia tidak pernah menggunakannya. Karena kekuatannya adalah membuat seseorang menjadi ... bernafsu.

Sitri bisa meniingkatkan hasrat seseorang dan membuat dia menjadi tidak terkendali. Namun, Sitri pasti tidak akan menggunakan kekuatan itu pada Solas. Karena dia tidak mau menjadi korban pelecehan seksual yang mungkin akan Solas lakukan. Toh mereka hanya berdua di sini, jadi kemungkinan itu sangat besar.

Sitri mencengkram pedang gram dan tombak perak di masing-masing tangannya dan berkata, “Waktunya bagimu untuk mati.” 

Wajah Solas yang seperti gagak dan bermata merah darah terlihat sangat menakutkan dalam kegelapan malam, dia mencengkeram pedangnya dengan kedua tangan dan berkata, “Coba saja jika kau bisa.” 

Mereka berdua mengepakkan sayap masing-masing dan melesat maju. Bentrokan antara senjata membuat percikan api terlihat sangat indah dalam irama besi yang tergores. 

Dengan sangat ganas, Sitri melancarkan serangan menggunakan tombak dan pedang pada Solas yang berhasil menangkis dan menghindari tusukan dan sabetan senjata Sitri berkat kekuatan khususnya.

Namun, kekuatan khusus Solas bukan sangat mutlak hingga dapat membuat dia melihat dengan jelas bagaimana serangan Sitri di masa depan. Akan tetapi yang dapat dia lihat hanyalah gambaran buram yang tidak jelas.

Meskipun begitu, dengan banyaknya pertarungan yang telah dia saksikan dan lakukan, ditambah lagi dia juga sering mengamati para pemimpin pasukan lainnya bertarung, dia bisa memprediksi arah serangan Sitri.

Pengalaman memang guru terbaik yang pernah ada.

Jadi, walaupun kemampuan bertarung Solas bisa dibilang lebih lemah dari Sitri, pengalaman dan kemampuannya untuk tetap menggunakan otaknya meskipun dalam kondisi sangat marah sangat membantunya dalam pertarungan ini.

Bukan hanya itu, pedang yang Solas gunakan juga bukan pedang sembarangan, dia menempanya sendiri dengan banyak bahan yang keras dan usaha berulang-ulang hingga jadilah pedang yang sangat luar biasa, yang sedang dia gunakan saat ini.

Namun, Sitri tetaplah pemimpin pasukan yang lebih kuat ketimbang Solas. Meski dia tidak secerdas Solas, akan tetapi dengan kekuatannya saja, sudah cukup untuk membuat Solas terdesak.

Mereka berdua melesat di langit malam, saling silang dan mencoba untuk menjatuhkan satu sama lain. Layaknya penguasa angkasa, Sitri bermanuver cepat menuju Solas. Dia dengan gesit menghujamkan ujung tombaknya pada Solas.

Namun, dengan sangat cerdik Solas mampu merubah arah tusukan dengan sedikit sentuhan pedangnya, kemudian dia dengan cekatan mencambukan kakinya menuju sisi samping Sitri. 

Akibat tendangan Solas, tombak perak sitri terlepas dari genggamannya, dan dia juga terpental beberapa meter di udara. 

Sitri melayang di udara dengan kedua sayap griffin yang terbentang pada punggungnya, dia tidak mengambil kembali tombaknya yang terjatuh, akan tetapi mencengkram pedang gram dengan kedua tangannya seraya menyalurkan energi api birunya. Api yang lebih kuat ketimbang api merah.

Sitri menatap tajam pada Solas lalu berkata, “Sepertinya kau menjadi lebih tangguh.”

Solas juga menyalurkan energi miliknya, dia tidak berkata-apa apa dan hanya mendengus keras, “Hmph!”

Sitri merasa marah karena diabaikan dan berkata, “Kau pikir hanya kau yang bisa mendengus? Hmph, hmph!”

Mendengar dengusan dari Sitri, Solas tidak mau kalah dan kembali mendengus, “Hmph, hmph, hmph!”

Sitri juga tidak mau kalah, jadi dia kembali mendengus dengan lebih keras, “Hmph, hmph, hmph, hmph!”

Namun, Solas juga demikian, dia kembali mendengus, “Hmph, hmph, hmph, hmph, hmph!”

Sitri merasa muak dengan semua ini, lagipula dia juga telah selesai menanamkan energinya pada pedang gram, kini pedang itu diselimuti lapisan tipis api berwarna biru yang terlihat sangat indah pada langit malam yang gelap. Dia menatap Solas seraya berkata, “Hentikan semua omong kosong ini, ayo kita selesaikan sekarang juga, Hmph!”

Meskipun begitu, dia tidak lupa menambahkan dengusan diakhir kalimatnya.

Solas memegang erat pedangnya yang telah di lapisi oleh energi tipis berwarna merah. Dia menatap tajam Sitri dan memikirkan sesuatu.

Sitri dengan cepat terbang menuju Solas, begitu juga sebaliknya. Di langit malam yang gelap gulita, dentuman keras tercipta akibat benturan keras dua buah kekuatan. Pedang gram yang digunakan untuk menyegel Fafnir, sang naga perkasa, bertabrakan dengan pedang hasil tempaan Solas.

Dua pedang saling bersilangan, dua mata saling bertatapan, dan dua harapan yang berlawanan.

Memang benar pedang buatan Solas bukanlah pedang biasa, akan tetapi, pedang gram lebih istimewa. Ditambah lagi pedang gram telah menerima energi api biru dari Sitri, hingga membuat pedang itu lebih kuat dibanding sebelumnya. Pedang Solas hancur berkeping-keping, tebasan dari Sitri berlanjut dan menyayat tubuh Solas. 

Solas terjatuh dan sekarat. Sebuah luka hasil sayatan terlihat jelas melintang di tubuhnya. Kekuatan regenerasi devil heart tidak berguna lagi, karena dia sudah tidak memiliki energi yang tersisa dalam tubuhnya. Dan tidak lama kemudian, dia menutup kedua matanya.

Sitri melayang di langit malam dengan sayap griffin di pundaknya yang membentang dengan megah, sambil terengah-engah setelah menggunakan serangan itu, dia menatap pada sosok Solas yang sekarat dan memejamkan matanya. Lalu sesaat kemudian dia terbang pergi.

Bersamaan dengan sebuah kata yang terdengar pelan, “Maaf.”

Sementara itu, di dalam ruang senjata, Focalor yang sedang berhadapan dengan naga perkasa, Fafnir, sudah sampai di akhir pertarungan. Saat ini mereka berdua sedang mempersiapkan jurus untuk menyelesaikan pertarungan yang dari awal sudah tumpang tindih.

Focalor jauh lebih lemah ketimbang Fafnir. Namun, dengan menggunakan kekuatan regenerasi yang sangat hebat dari jurus devil heart, ia mampu untuk bertarung dengan Fafnir hingga saat ini. Sambil menunggu para pemimpin pasukan lainnya muncul untuk membantu dan Solas yang sedang mengejar Sitri untuk merebut pedang gram.

Karena satu-satunya cara agar dapat menyegel naga itu kembali, hanya dengan menggunakan pedang itu.

Focalor menanamkan energi pada pedang yang dia cengkeram erat. Sedangkan Fafnir sedang membuat banyak bola api dengan mulutnya, semua bola api yang dia ciptakan melayang indah, akan tapi Focalor tidak bisa menikmati keindahan itu, karena dia tahu, jika dia terkena bola api itu, dia pasti akan binasa.

Meskipun dia tercipta dari api, dia dapat dikalahkan dengan api.

Sama seperti manusia yang tercipta dari tanah, tapi tetap bisa mati oleh timbunan tanah.

‘Sepertinya aku akan mati hari ini, aku tidak mungkin bisa lolos dan keluar dari situasi ini. Andai saja Sitri tidak membebaskan dia.’ Pikir Focalor dalam benaknya. Focalor melihat Fafnir dengan saksama kemudian tersenyum pahit, dia memutuskan untuk menyerah, karena dia tidak menemukan cara untuk bertahan hidup. Hampir tidak ada celah pada seluruh tubuh Fafnir yang terlindungi oleh sisik kerasnya. Sekarang yang tampak dalam pandangannya, hanyalah putus asa.

Fafnir menembakan semua bola api yang ia buat menuju Focalor, serangan itu terlihat seperti meteor yang walaupun terlihat indah, akan tetapi siap untuk menghancurkan apa saja yang dia sentuh. Focalor dengan cepat mengepakan sayap griffin di punggungnya menuju Fafnir. Setidaknya, sebelum dia mati, dia ingin mencoba menyerangnya lagi.

Di tengah serangan Fafnir yang ganas, Focalor dengan cekatan menghindar ataupun mengubah arah bola api tersebut. Dengan kekuatan anginnya, kini akselerasi terbangnya menjadi lebih cepat dibanding sebelumnya.

Meskipun Focalor kini dalam situasi yang sangat mengerikan. Namun, entah kenapa pikirannya setenang air. Mungkin ini seperti yang biasa orang katakan, potensi penuh seseorang akan lahir ketika orang tersebut dalam situasi paling kelam.

Dengan usaha yang sangat keras, Focalor akhirnya bisa menghindari semua bola api itu dan meluncur menuju Fafnir, dia menikamkan pedangnya ke dahi naga itu, akan tetapi pedang itu hancur berkeping-keping.

Tidak lama kemudian, pemimpin pasukan lainnya akhirnya sampai ke ruang senjata itu. Namun, mereka terlambat, Focalor yang melayang dengan putus asa setelah melihat serangannya gagal lagi dengan cepat ditelan oleh Fafnir.