Episode 23 - Sepotong Ingatan


Setelah Navi membawa Neil ke salah satu ruangan untuk membaringkannya di ranjang, ia menyuruh Reina untuk menjaganya sebentar selagi ia pergi mencari Noxa. Namun, bukan hanya pemimpinnya, tapi semua anggota Aster Glass tidak terlihat di mana pun. Setelah mengalami kejadian seperti itu, Navi sedikit mengerti.

Istirahat, itulah yang dikatakan oleh Noxa. Namun, ketika Navi berkeliling memperhatikan suasana, ada perasaan aneh yang mengganggunya. Kelompok sniper seharian ini tidak melakukan apa pun, selain memperhatikan dan menunggu, tapi wajah mereka begitu jelas terlihat kelelahan. Kenapa bisa seperti itu? 

Saat tim Monochrome dan Harpy Eagle sedang makan sambil menghangatkan diri bersama dengan api unggun, semua orang terlihat tampak sangat khawatir akan sesuatu. Meski ada cahaya lampu dalam jumlah terbatas, tidak ada penghangat atau sesuatu yang berguna untuk melindungi mereka di malam hari. Selagi memperhatikan sekitar, Navi menemukan Rem sedang berdiri di satu titik seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu.

“Rem, apa yang kau lakukan di sini?” Navi menghampiri. 

Rem menengok untuk melihat siapa yang memanggilnya. “Kau tidak menjaga Neil? Apa yang kau inginkan?” Nada bicaranya dingin, seperti orang yang tidak mengharapkan untuk didatangi.

“Eh, aah… a-aku sebenarnya sedang mencari Noxa. Reina sedang bersama Neil, jadi aku yakin semuanya akan baik-baik saja.”

“Ooh, optimis sekali kau ini. Kata-katamu itu sangat menjengkelkan.” Rem mendekap. Kelelahan bisa terdengar dari caranya bernapas. 

“Mau bagaimana lagi? Semua orang rasanya khawatir terhadap sesuatu. Semua anggota tim dua juga ikut menghilang. Dalam situasi seperti ini, yang bisa kulakukan hanya berpikir positif.”

“Meski Neil dalam kondisi kritis?” Rem membalas dengan cepat.

“Aku percaya kalau Neil akan baik-baik saja.” Walaupun seperti itu, sebagai sahabat dan teman masa kecilnya, Navi yang paling khawatir terhadap kondisi Neil. 

“Yah, aku tidak keberatan kau menunjukkan sifat optimism itu di hadapanku, tapi jangan sampai kau mengatakan itu di depan semua orang. Terutama saat auranya sedang gelap seperti ini.”

“Meski disuruh untuk istirahat, mereka semua nampak khawatir.” Pandangan Navi terarah pada semua orang yang sedang berkumpul di dekat api unggun.

“Mereka semua takut.” Pandangan Rem berganti, memperhatikan apa yang saat ini sedang diperhatikan oleh Navi.

“Takut?” Navi tidak mengerti. Outsider yang berkeliaran? Sky Chaser yang terbang? Atau karena alasan lain?

“Beberapa orang melihat apa yang terjadi siang ini. Semua orang tidak bisa percaya dengan White, lalu Noxa yang saat ini sepenuhnya tidak bisa diandalkan membuat mereka semua bingung. Tidak biasanya mereka menjalani misi sampai berhari-hari seperti ini. Tidak aneh jika mereka takut.”

Menjadi pemimpin yang selalu bisa diandalkan dan penuh tanggung jawab rasanya sangat berat. Navi tiba-tiba bisa memahami Noxa sedikit.

“Memangnya di mana Noxa saat ini? Aku ingin berbicara dengannya.”

“Aku menyuruhnya untuk istirahat. Dia yang paling lelah di antara kita semua. Akan lebih baik jika kau tidak mengganggunya.”

“Begitu, ya,” ucap Navi rendah.

Rem melihat Navi sekilas, “kau bilang kau ingin berbicara pada Noxa? Tentang masalah apa?”

“Tentang Baron.”

“Hmm, maksudmu masalah siang ini? Memangnya apa yang kau tahu tentang Baron?” Rem melanjutkan topik.

“Yah, hanya saja sepertinya Baron sedikit aneh. Selain itu, dia juga bukan orang yang meledakkan bomnya. Karena aku ada di tempat kejadian dan berhadapan dengannya langsung, aku bisa mengatakannya dengan pasti. Setelah memikirkannya sedikit, bahkan meski diancam sekalipun, bukankah akan jauh lebih masuk akal jika Baron juga menjadi salah satu korban yang ada. Rem, kau memperhatikan kami berdua, kan? Jadi seharusnya kau pun menyadari hal itu.”

“Itu tidak mengubah fakta tentang apa yang sudah terjadi.” Rem berniat menutup topic permbicaraan. “Apa hanya itu saja?”

“Eeh… ah, t-tunggu sebentar. M-masih ada lagi.” Navi berpikir. Ia tidak yakin untuk mengatakannya, tapi… “Tingkahmu juga sedikit aneh.”

Rem sedikit tersinggung. “Aku? Aneh? Jelaskan padaku, kenapa kau bisa mengatakan itu seolah-olah kau mengenalku cukup baik!” Setiap kata-katanya terdengar cukup tajam.

Navi mengangkat tangan, menenangkan Rem. Ekspresinya sedikit menyesal. “Aah, yah… jangan mudah tersinggung seperti itu.” Navi melanjutkan. “Neil memang memanggilmu, tapi dari jarak sejauh itu seharusnya suara Neil tidak terdengar. Selain itu, kau bisa-bisanya menembak Baron tanpa ragu. Dipikir bagaimanapun juga itu sangat aneh.”

Itu terjadi karena ia menggunakan mata daripada telinganya. Namun, Rem sebisa mungkin berniat menyembunyikan kemampuan matanya dari umum. Punya mata seperti itu, sangatlah melelahkan jika Rem sendiri harus mengeluarkan pendapatnya.

“Kalau begitu, bagaimana jika aku diam dan hanya memperhatikan saja? Apa membiarkan Baron menekan tombolnya dan membiarkan membunuh Noxa jauh lebih baik?”

Jika saat itu Rem tidak menghentikkan Baron, kemungkinan Neil akan terluka akan menjadi nol. Sebagai gantinya, ledakkan akan jauh lebih cepat terjadi dan membunuh Noxa. Setelah itu, apa yang akan terjadi pada tim dua? Navi tidak menggapai kesimpulan seperti itu, tapi Rem dan Neil sedikit bisa membayangkan apa yang terjadi.

“Yah, bukan itu maksudku. Yang kumau hanyalah, mencari siapa dalang di balik semua ini. Tidak mungkin Baron melakukan itu semua dengan keinginannya sendiri.”

Kata-kata Navi baru saja sedikit memicu amarah Rem. Cara kerja dunia, tidak semudah itu. Menemukan siapa orang yang mengancam Baron atau yang telah melukai Neil, tidak akan menyelesaikan keadaan sedikit pun. Sesuatu yang jauh lebih rumit sedang terjadi dan tidak mungkin orang bodoh seperti Navi bisa membayangkannya. Itulah yang dipikirkan Rem. Karena itu…

“Karena itulah… Neil tidak percaya padamu.”

“Huh?! A-apa yang kau katakan? Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?!” Navi kesal.

“Maaf jika kat-kataku sedikit kasar, tapi faktanya memang seperti itu. Saat di jembatan, menurutmu kenapa dia memanggilku yang berada sangat jauh darinya dan tidak memanggilmu meski kau ada di tempat kejadian?”  

Rem sebenarnya tidak ingin mengatakan itu, tapi cara berpikirnya yang terlalu positif itu sangat mengganggu. 

“I-itu…” Navi bingung ingin membalasnya dengan apa. 

“Berhenti memikirkan hal ini Navi! Ini masalah tim dua, biarkan Noxa yang mengurusnya. Akan lebih baik jika kau pergi dan menjaga Neil. Ini semua tidak ada hubungannya denganmu.”

“Apa-apaan dengan tingkahmu?! Neil terluka karena Baron! Aku adalah sahabat Neil, jadi jika ada apa-apa dengan Neil, tentu saja itu berhubungan langsung denganku!”

“Sekarang, kau ingin menyalahkan Baron?”

“Huh... B-bukan itu maksudku.” Navi salah tingkah. “Daripada itu, kenapa kau sangat menentang tindakankanku? Aku hanya ingin membantu!”

Rem yang tidak ingin melanjutkan perdebatan ini, memutuskan untuk berhenti. “Sudah cukup.” Ia menghela. “Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan, tapi setidaknya jangan mengganggu Noxa. Aku masih ada urusan. Pergi dan jaga Neil.”

“Uuh, tingkahmu menyebalkan! Memangnya siapa kau, berani mengaturku seenaknya?” 

“Navi, tidak ada seorang pun yang ingin melihatmu bekerja keras sendirian.” Rem pergi menjauh. Kalimat terakhirnya membuat Navi sangat kesal. Gadis itu tiba-tiba teringat. Ini adalah alasan, kenapa mereka berdua tidak pernah bisa akrab, bahkan saat Navi berusaha untuk mencoba mendekatinya.

***

Merah. Terang. Hangat… tidak, panas. Api di mana-mana membakar semuanya. Teriakan dengan penuh rasa sakit terdengar. Semuanya terbakar hangus. Semua orang lari saling menyelamatkan diri mereka masing-masing. Namun, tidak semuanya. Seorang gadis kecil berdiri di hadapannya, dengan kedua tangan yang melebar, mencoba melindungi seseorang.

Keringat bercucuran, kemudian menjadi uap karena suhu tinggi. Putaran itu terus terjadi.

“L-Lari… H-Hanna!” Suara dan tubuhnya gemetaran. Meski tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, rasa ketakutan bisa terasa jelas. 

Panti asuhan yang mereka tinggali sudah terbakar. Entah ada yang masih hidup atau tidak, tapi melihat kondisi separah ini, gadis yang sedang terbaring di tanah itu—Hanna, mencoba bangkit. Kakinya yang penuh dengan darah menghilangkan semua harapannya untuk berdiri. Napasnya mulai tak teratur karena putus asa bersama dengan kurangnya oksigen yang didapat. 

Outsiders yang jaraknya hanya beberapa meter itu mendatangi mereka berdua.

Setiap langkah kakinya menciptakan suara suara besi yang saling bertubrukan. Gerakannya patah-patah seperti sebuah robot. Makhluk yang entah datangnya dari mana itu baru saja menghancurkan seisi kota. Melihat sekitarnya, Hanna yang umurnya masih sepuluh tahun itu memeluk syalnya dengan sangat erat.

“B-berhenti!!” teriak gadis kecil itu melawan rasa takut. “T-tidak akan kubiarkan!” Gadis yang masih polos itu mulai menangis.

Melihatnya bertindak sekeras itu, membuat Hanna sadar akan sesuatu. 

***

Neil membuka mata perlahan. 

Ini bukan yang pertama kali atau yang kesepuluh kalinya, mungkin jauh lebih banyak sampai-sampai gadis yang baru sadar itu tidak merasakan apa pun. Kenangan masa lalu yang penuh penderitaan seperti itu bahkan tidak memberinya trauma atau dendam sedikit pun. Setiap kali ingatannya muncul sebagai mimpi, ia tidak merasakan apa-apa. Namun, justru karena itulah seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya. 

“Sudah bangun?”

Suara seorang gadis yang logatnya sedikit aneh bisa ia dengar. Nada bicaranya mencoba menjelaskan bahwa gadis berambut putih itu mencoba menjaga jarak dari Neil.

“Hmm…”

Neil mengatur pola napas. Selain suara yang baru saja ia dengar, hanya ada cahaya kecil dari lilin yang menerangi ruangan. Kasur yang Neil tempati sangat keras sampai-sampai kedua punggungnya sedikit terasa kaku. Tidak berbeda dengan lehernya yang sedikit pegal.

Neil duduk di atas ranjang keras. Selimut yang menutupi badannya disingkirkan. Yang pertama kali ia lihat adalah tubuhnya yang tidak mengenakan apa pun. Hanya perban putih yang menutupi sedikit bagian dada sampai perutnya akibat luka bakar yang ia terima.

“Terlalu cepat!” ucapnya jutek. “Tubuhmu pulih memang lebih cepat, tapi tidak seharusnya kau sudah sadar!”

Neil memutar kepala. Gadis itu—White, berdiri sambil bersandar pada tembok. Memakai dress putih pendek sepaha dengan celana jeans panjang ketat. Rambut putih panjangnya yang terkibas menarik perhatian Neil. Hanya dengan melihat, ia tahu itu adalah warna alami, bukan cat.

“Jam berapa se—Aagh…!” Neil menahan teriak. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit, seperti terbelah menjadi dua. Napasnya tak beraturan. Keringat dingin mulai keluar. Giginya menggigit bibir hingga darah keluar. “S-syalnya…? D-di… mana? ” 

“Ini menjelaskan seberapa berbedanya dirimu dengan orang lain,” ucap White merasa prihatin terhadap kondisi Neil. Ia berjalan mendekati meja yang ada di sudut ruangan untuk mengambil syal merah milik Neil. “Orang normal tidak akan berkata seperti itu saat mereka baru sadar!”

Gadis itu menjulurkan tangan, memberikan syalnya kepada Neil. Di saat Neil ingin mengambilnya, jangkauannya kembali menjauh. 

“Ugh…?! Haah?” 

Gadis itu mengelak. Ia mundur satu langkah menjauh dari Neil. “Kalau kau benar-benar menginginkannya, coba bangun dan ambil sendiri!”

Neil mengepalkan kedua tangan. Perutnya ikut terasa sakit. Mungkin karena belum makan, tapi itu tidak mengalahkan rasa sakit di kepalanya. Dengan stamina yang terbatas, Neil mendorong dirinya keluar dari ranjang. Kakinya yang bergetar dan tak berdaya membuatnya terjatuh di lantai. Tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak atau berjalan.

Menggunakan kedua tangan untuk menopang tubuhnya saja sudah menghabiskan semua tenaganya. Neil seperti ikan yang sedang berada di darat. Tidak bisa melakukan apa pun selain membuka mulut dan merintih kesakitan.

“Lebih buruk dari yang kuduga.” White menatap Neil rendah dengan kecewa. “Coba latihan untuk mengendalikan nafsumu itu,” ucapnya dengan nada sedikit kesal.

“K—kembalikaan!!” tangan Neil menggenggam kaki White cukup kuat.

“Mengecewakan.” Gadis itu melepaskan syalnya di atas tubuh Neil begitu saja. “Aku sudah mengembalikkannya. Berhentilah mengeluh! Terdengar sangat menjijikkan!”

Kepalanya yang merasakan kelembutan syal miliknya itu membuat Neil sedikit jauh lebih tenang. Ia membenarkan posisinya menjadi duduk bersandar pada ranjang, kemudian mengenakan syalnya yang mengalami perubahan warna karena sudah terbakar akibat ledakan. Meski begitu, baunya yang selalu menenangkan bagi Neil masih bisa dirasakkan.

“W—White…” 

Ini pertama kalinya mereka berdua bertemu. Neil sendiri belum pernah melihat foto atau gambar White sebelumnya, lalu dari mana dia tahu?

“Hmm… biar aku tebak. Rico, yang memberitahumu, kan?” Ketika nama Rico disebutkan, ekspresi White terlihat sedikit kesal. Saat ia pergi sebelumnya, White mencari tahu sedikit tentang Neil dan inilah yang ia dapat. “Yah, tidak terlalu penting. Apa yang ingin kau katakan?”

“Terima kasih…”

“Hmm…” Menahan rasa terkejutnya, White mulai membungkuk. Baginya, tingkah Neil sangat tidak masuk akal. “Jika teman-temanmu tahu, mereka bisa membunuhku.” White menawarkan pundaknya untuk membantu Neil berdiri dan mengembalikkannya ke tempat semula. Neil tidak memberontak sedikit pun.

“Sekarang jam dua pagi. Masih terlalu cepat bagimu untuk bangun. Aku tidak akan memaksamu untuk tidur lagi, tapi aku tidak akan memberitahu temanmu kalau kau sudah sadar.” White berjalan ke arah pintu. “Kau pasti lapar. Aku akan membawa makanan. Tunggu sebentar!”

Mereka berdua sama? White berpikir. Namun, kondisi Neil jauh lebih buruk jika dilihat dari mana pun. Entah apa yang membuatnya seperti itu. 

White meninggalkan Neil sendirian.