Episode 189 - Menjagal


Tak kurang dari sembilan peledang, perahu kayu khas wilayah tenggara, bergerak seolah barada dalam satu komando. Ukuran nan ramping, membuat peledang-peledang tersebut merangsek cepat. Jika dicermati, maka perbedaan yang tak terlalu kentara akan mengungkapkan bawa kesembilan peledang berasal dari tiga dusun yang terdapat di pesisir Pulau Paus. Selayaknya, mereka datang dari tiga arah secara bersamaan. 

Seorang lamudi, juru kemudi, yang duduk di buritan setiap peledang meneriakkan aba-aba sambil mengarahkan kendali peledang. Suara mereka terdengar lantang. Gelombang suara kemudian beradu dengan ombak laut, dan tiada akan mudah ditaklukkan. 

Para matros, pendayung, memamerkan geliat otot-otot punggung ketika lengan-lengan kekar mereka merengkuh dayung. Raut wajah setiap satu dari mereka menunjukkan semangat juang nan tinggi. Gerakan mereka padu, bergelora semakin laju. 

Pada haluan setiap peledang, berdiri seorang lamafa, sang penikam paus. Hampir kesemuanya merupakan lelaki dewasa muda. Reflek tubuh mereka bermain-main dengan irama laut. Tatapan mata lurus menatap jauh ke depan, deru angin dan desir air tiada mampu mengganggu konsentrasi. Di tangan masing-masing dari mereka, sebilah tempuling nan panjang tegar menantang langit. 

Setiap peledang memancarkan aura nan menyibak perkasa. Sesungguhnya, aura tersebut bukanlah keluar dari peledang itu sendiri, melainkan hasil penggabungan setiap ahli di dalam peledang. Pemandangan seperti ini tiada akan mengemuka setahun lalu. Kala itu, suasana di Pulau Paus secara umum adalah biasa-biasa saja, bahkan cenderung suram adanya. 

“Nama besar lamafa akan hidup selamanya!” 

Teriakan tersebut datang membahana dari pesisir pantai. Adalah seorang lelaki tua berdiri perkasa. Rambut ikalnya sudah memutih, namun sorot matanya nan tajam, tak akan lekang dimakan usia. Bila saja kejadian ini berlangsung belasan tahun silam, maka tak diragukan lagi bahwa ia akan berdiri di garis depan. 

“Malam ini kita akan menyantap paus!” lanjut Kepala Dusun Peledang Paus, Lembata Keraf. Meski tiada turun dalam perburuan, sebilah tempuling digenggam erat. 

Sejak kepergian Bintang Tenggara sekira setahun lalu, Kepala Dusun Lembata Keraf rutin melatih remaja-remaja di Pulau Paus akan teknik berburu paus. Memanglah kemampuannya dalam berburu tiada seberapa, bahkan dirinya belum merasa layak untuk mengaku sebagai seorang lamafa sejati. Akan tetapi, bilamana disuguhi bakat-bakat muda belia nan penuh semangat, maka dirinya akan berupaya sebisa mungkin membangun kemampuan mereka. Selama setahun terakhir ia terus menggodok generasi muda di Pulau Paus, beberapa dari mereka bahkan telah membuka mustika tenaga dalam!

Kepergian Bintang Tenggara banyak mengubah situasi di dusun tersebut.  

Tak perlu diungkapkan lagi, bahwa saat ini sedang terjadi perburuan paus. Bersama dengan Lembata Keraf, hampir seluruh anggota dusun berdiri di pesisir pantai. Tua dan muda berkerumun menghadap laut. Mereka berteriak memberi semangat. Tiada rasa cemas dari diri mereka, sebaliknya wajah-wajah ceria menantikan pesta yang akan berlangsung nanti malam. 

Sekira lima ratu meter dari pesisir pantai, ke arah laut, samar-samar terlihat bayangan hitam. Gerakannya lambat namun mengalir, timbul dan tenggelam bak naga yang sedang bermain di sela-sela awan sejuk di atas langit. Sesekali bayangan hitam tersebut menghembuskan air tegak lurus tinggi ke atas. Hembusan air lalu pecah disapu angin. 

Tiada diragukan lagi... Paus Surai Naga!

Angin yang bertiup menganggat bulir-bulir air, yang lalu terburai saling berbenturan. Kesembilan peledang yang semakin mendekati paus membangun formasi setengah melingkar. Para matros berkonsentrasi mengikuti aba-aba lamudi, dan siaga bilamana memperoleh perintah yang datang mendadak. Para Lamafa bersiap mengambil ancang-ancang untuk menikam. 

“Hya!” Lamafa muda pertama yang terdekat dari paus melompat tinggi. Ia lalu menghunuskan tempuling bambu dengan ujung mata besi! 

“Padahal lompatannya nyaris sempurna… sayang sekali….” 

Tetiba terdengar suara berkomentar di antara penonton di pesisir pantai. Akan tetapi, suara ini tenggelam di dalam riuh-rendah teriakan dukungan penonton.

“Srek!” Tikaman lamafa tersebut meleset dan hanya menggores punggung paus. 

Incaran tempuling adalah posisi ketiak, yang bila ditembus akan mengantar tempuling ke jantung Paus Surai Naga. Kesempatan emas mengincar jantung terletak di tikaman tempuling pertama. Karena bila meleset, paus akan waspada dan menggeliat berupaya melarikan diri. 

“Jangan longgarkan kepungan!” teriak Lembata Keraf. Betisnya telah berada di dalam air. Sungguh tak kuasa ia menahan diri untuk berada sedekat mungkin dari perburuan. 

Dalam keterkejutan, paus yang panjangnya hampir limapuluh meter menggeliat membabi buta, atau lebih tepatnya memaus buta. Ia menghempaskan ekornya berkali-kali. Meskipun demikian, para lamudi telah membaca kemungkinan tersebut, sehingga sudah terlebih dahulu memerintahkan pada matros mendayung mundur. Tak satu pun peledang yang terbalik atau pecah terkena sapuan ekor paus. 

Dua orang lamafa dari sisi kiri dan kanan melompat bersamaan…

“Lagi-lagi lompatan yang bagus… Sayangnya momentum tikaman masih kurang pas….” 

Lagi-Lagi terdengar celoteh kurang enak dari sisi belakang kerumunan penonton. Untungnya, suara tersebut masih tersamar saru di antara sorak-sorai penonton cukup keras. Di dunia persilatan dan kesaktian, celoteh seperti ini dapat dengan mudahnya menyulut kesalahpahaman. 

Benar saja. Kedua lamafa yang menikam pun mengalami kesulitan menikam dengan tepat. Gerakan meronta paus mengacaukan momentum tikaman. Atau lebih tepatnya, kedua lamafa itu kehilangan momentum. 

Tiga lamafa telah terjatuh ke laut. Segera mereka berenang kembali ke peledang masing-masing. Berlama-lama di air hanya akan membahayakan jiwa. 

Enam peledang masih mengejar paus yang justru berenang lambat mendekati pesisir pantai. Arah renang paus ini merupakan hasil dari formasi peledang yang menutup arah paus melarikan diri ke laut lepas. Dari segi pergerakan peledang, yang dipandu oleh lamudi dan dikayuh oleh para matros, sudah sangat baik adanya. 

“Kesempatan baik!” Kakek tua di pesisir pantai tiada peduli pakaiannya basah. Bagian bawah tubuhnya telah terendam di laut ketika ia berteriak sekuat tenaga. 

Kini, secara bersamaan, dua lamafa muda melompat berbarengan. Kemudian, disusul oleh dua lagi. Empat lamafa dari berbagai arah mengincar ketiak paus di kiri dan kanan. Salah satu dari mereka harus dapat menyarangkan tempuling dengan tepat. Harus, karena ini adalah kesempatan terakhir!

Sebagian besar penonton menahan napas. Lembata Keraf pun sama. Dirinya menyadari betul bahwa sekarang atau tidak sama sekali. Kegagalan perburuan berarti latihan selama setahun terakhir berujung kekecewaan. Moral anak-anak muda itu kemungkinan akan anjlok. Dirinya pun akan dinilai gagal membangun lamafa-lamafa muda. 

Oh, andai saja Mayang Tenggara tak membawa Lamalera pergi bersamanya… Pikiran Lembata Keraf mulai melayang jauh. 

“Hm…? Terlalu terburu-buru…” 

Suara yang sama masih saja melontar kritik. Kali ini, beberapa warga mulai menyadari adanya celoteh-celoteh tak sedap. Siapa yang berani-beraninya berkomentar lancang pada perburuan sakral para lamafa!? 

Meleset! Tikaman pertama, kedua dan ketiga meleset. Lamafa muda keempat, meskipun demikian, berhasil menyarangkan tempuling tepat di ketiak Paus Surai Naga. Akan tetapi, tikamannya dangkal. Akibat terburu melompat, tikaman terakhir ini tiada bertenaga. 

Empat lamafa hanya bisa pasrah ketika tercebur ke laut. Para lamafa itu hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3 dan 4. Masih terpaut jauh dari binatang siluman yang setara dengan Kasta Perunggu Tingkat 9 itu.

“Hei, kau! Siapakah engkau yang berujar lancang!?” hardik seorang warga di deretan paling belakang penonton. Ia melototo ke arah sosok yang sedari tadi berkomentar tak sedap. Penonton ini agaknya berasal dari dusun sebelah. Sejumlah penonton lain pun memutar tubuh. 

“Bahaya!” Tetiba tokoh tak dikenal yang sedang ditanya jati dirinya berujar. Ia menyadari ada yang tak kena. 

Di laut sana, sekira dua ratus meter dari pesisir pantai, tetiba Paus Surai Naga memutar arah! Kemungkinan besar sang paus telah sadar bahwa sedang digiring ke arah pantai, sehingga secara naluriah memutar tubuh. Empat lamafa muda masih berenang di perairan di dekat paus. Mereka tak akan sempat menghindar dari kibasan ekor paus. 

Lembata Keraf membuka mulut, namun tiada dapat mengeluarkan napas. Menyaksikan geliat paus, seluruh tubuhnya tetiba lemas… Upaya bersama dari tiga dusun, malah akan berakhir nahas!

Di kala harapan hampir menguap sirna, di saat itu pulalah sudut matanya tak sengaja menangkap keberadaan rangkaian formasi segel. Ukuran masing-masingnya sedikit lebih besar daripada piring dan mulai berjajar rapi di udara. Sepuluh jumlahnya, dimana masing-masing terpaut jarak sekira duapuluh meter. 

Seketika itu juga sesosok tubuh terlihat melenting-lenting. Kilatan listrik menari-nari dan sambung-menyambung dari satu formasi segel ke formasi segel berikutnya. Lintasan yang tercipta seolah badai halilintar akan datang berlabuh, padahal petang itu langit bersih tanpa cela.  

Lembata Keraf mendongak… kedua matanya terbelalak…. Bibirnya bergemeretak… 

“Itu…” Suara kakek tua itu tertahan di kerongkongan nan kering.

Secepat kilat sosok tersebut tiba di dekat paus yang sedang memutar arah. Tetiba sesuatu berbentuk spiral muncul entah dari mana, lalu menegang lurus. Selanjutnya, hanya dalam satu kedipan mata, tempuling panjang berwarna putih bersih bersarang tepat di jantung Paus Surai Naga. 

Bintang Tenggara telah kembali! 


===


“Duar! Duar! Duar!”

Empat ahli berpenampilan serba hitam terlontar mundur. Darah mengalir dari sudut bibir tiga di antara mereka. 

“Cih!” seorang ahli Kasta Emas mendengus. “Mahesa Jayanagara sungguh berlebihan. Masa ia sampai meminta aku untuk sekedar membasmi empat kecoa Kasta Perak!?” 

“Kau berasal dari Persaudaraan Batara Wijaya…!?” hardik Kum Kecho. “Apakah salah seorang Maha Guru…!?”

“Heh… Dahulu diriku hanyalah Murid Purwa. Jabatan sebagai Maha Guru pun tiada sejalan dengan pilihan hidupku.” Lelaki dewasa yang melayang tinggi di udara menjawab. “Aku lebih senang hidup di luar lingkungan perguruan.”

Kum Kecho bersama rombongannya telah berada di luar wilayah Kota Baya-Sura. Akan tetapi, nasib kurang mujur mendera mereka. Seorang ahli Kasta Emas Tingkat 1 mencegat, lalu menyerang dengan tujuan membunuh. Siapa mengira mereka yang mengincar jiwanya di dalam Persaudaraan Batara Wijaya, sampai meminta ahli yang berada di luar perguruan untuk mengejar. 

“Tiada permusuhan di antara kita,” ucap Kum Kecho. 

“Benar. Akan tetapi, imbalan yang dijanjikan atas kepala kalian sungguh sulit ditolak.” 

“Aku akan membayar dua kali lipatnya,” ujar Kum Kecho menawar. Ia mendapat sedikit celah. 

“Sayang sekali… diriku tak hendak dicap sebagai penghianat perguruan, lalu diburu oleh algojo-algojo Persaudaraan Batara Wijaya.” 

“Kakak Seperguruan, kami juga adalah murid-murid dari Persaudaraan Batara Wijaya.” Kum Kecho berupaya mengulur-ulur waktu. 

“Kalian sepertinya telah menyinggung keluarga-keluarga besar di dalam perguruan. Tak ada pihak yang patut dipersalahkan kecuali diri kalian sendiri.” 

“Yang perlu dikau lakukan hanyalah menutup mata akan keberadaan kami. Biarkan kami pergi, maka dikau akan memperoleh keuntungan,” sahut Kum Kecho, terus melakukan tawar-menawar

Tokoh tersebut terdiam. Sogok-menyogok adalah hal lumrah dalam dunia persilatan dan kesaktian. Mudah baginya membiarkan mereka pergi, lalu mendapat bayaran dua kali lipat daripada yang dijanjikan oleh Maha Guru Mahesa Jayanegara. Atau… terima sogokan, lalu tetap mencabut nyawa murid-murid Kasta Perak ini. Demikian, imbalan yang akan ia terima menjadi tiga kali lipat banyaknya!

“Bagaimana…?” Kum Kecho menanti jawaban. 

Lawan melayang turun. Menghadapi ahli-ahli Kasta Perak Tingkat 1, tak perlulah ia terlalu waspada. Jangankan empat, sepuluh ahli Kasta Perak pun tiada akan menjadi ancaman. Di saat yang sama, terlihat jelas bahwa ia sedang menimbang-nimbang langkah selanjutnya. 

Kini, mereka berdiri saling berhadap-hadapan. Terpaut jarak sekira sepuluh langkah. 

“Aku dijanjikan lima puluh keping emas,” ujarnya sambil memerhatikan gelagat anak remaja di hadapan, lalu ke arah gadis-gadis belia yang berdiri tak jauh.  

Padahal, Mahaesa Jayanegara hanya menjanjikan duapuluh lima keping Emas untuk mencabut nyawa keempat murid tersebut. Upah yang cukup tinggi untuk pekerjaan yang demikian mudah. Di saat yang sama, ketika mengamati ketiga gadis belia, terbersit di dalam benaknya untuk sedikit memaksakan kesenangan kepada mereka. Malah, bilamana ketiga gadis cukup memuaskan, maka bukankah lebih baik bila disimpan terlebih dahulu untuk dibawa bersenang-senang lebih lama…?

“Seratus keping emas akan kuberikan,” jawab Kum Kecho melipatgandakan penawaran. 

“Apakah kau membawa keping-keping emas bersamamu…?” Sebuah simpul senyum menghias sudut bibir tokoh Kasta Emas tersebut. Imbahan harta, sekaligus kesempatan memuaskan nafsu birahi…. Sungguh kesempatan yang tak layak disia-siakan!

Kum Kecho lalu mengeluarkan kantong berukuran sedang dari dalam cincin batu Biduri Dimensi. Ia terlihat sedikit ragu, seolah enggan berpisah dengan kantong tersebut. Namun demikian, dengan berat hati ia lemparkan juga kantong itu ke arah lawan. 

Lelaki dewasa itu menangkap kantong dengan sebelah tangan. Tanpa curiga, ia pun membuka dan melongok ke dalam… Akan tetapi, betapa terkejutnya ia di kala seekor lintah melompat keluar dari dalam kantong, dan segera menempel lengket di wajah. Berlendir, merekat erat, serta perlahan menyedot tenaga dalam. Lintah Intai Sergap!

“Tapak Cahaya Suci!” 

Spontan lawan menggapai dan berupaya melepas lintah yang demikian licin berlendir sekaligus menjijikkan dari wajahnya. Di saat yang sama, berpendar seberkas cahaya terang menyilaukan mata. Kum Kecho pun menghantamkan telapak tangan kanan yang menyala itu ke ulu hati lawan. Cahaya yang merebak seolah meresap ke dalam mustika di ulu hati, lalu sedikit mengacaukan aliran tenaga dalam.

Kum Kecho terbatuk memuntahkan darah! Ia merapal bauran jurus terhadap lawan yang jauh lebih tangguh. Hentakan balik jurus demikian berat mendera tubuh. Akan tetapi, ia tetap menghantam denhgan kekuatan penuh! 

Di saat yang sama, Melati Dara melompat maju sambil menebar jalinan rambut. Ia hanya memiliki satu tujuan, yaitu membungkus kedua lengan dan kaki lawan. “Dayang Kuntum, Bentuk Kedua: Bunga Kembang Berbalik Kuncup!” 

“Kidung Lingsir Wengi, Bentuk Pertama: Jangan Bangun Dari Peraduan!” Unsur kesaktian gelombang suara seolah membangun tirai selimut tebal yang memasung sekujur tubuh lawan!

“Mega Pahat, Gerakan Pertama: Besar Pasak Dari Tiang!” Seruni Bahadur berputar ke belakang. Ia kemudian menghantamkan tinju jurus persilatan yang berwujud paku besar dan membungkus kedua lengan. Bertubi-tubi ke belakang punggung, seakan tiada akan berhenti!

Ketiga gadis turut memuntahkan darah. Hentakan balik dari jurus masing-masing karena dikerahkan terhadap ahli nan berada pada kasta yang lebih tinggi, tak dapat dibendung. Meski demikian, tak terlihat sedikit pun keraguan dari sorot mata mereka. Sebaliknya, upaya mereka semakin menjadi berkali-kali lebih keras. 

Lawan nan lengah tiada dapat berbuat banyak. Sesungguhnya sangatlah mudah bagi ahli Kasta Emas seperti dirinya melepaskan diri dari pengeroyokan ahli Kasta Perak. Ia hanya perlu menghentakkan tenaga dalam, dan keempat ahli Kasta Perak tersebut akan terpental jauh. Akan tetapi, lintah nan menjijikkan membuat ia terlambat bertindak. Walau hanya sepersekian detik, cahaya yang merasuk ke ulu hati menyebabkan mustika tenaga dalam tiada dapat berfungsi. Kaki dan tubuh pun dihambat, dan pukulan demi pukulan dari belakang pundak memecah konsentrasi. 

Kini, di kala baru dapat mengakses tenaga dalam dari mustika di ulu hati, lelaki dewasa itu tetiba merasakan rambutnya dijambak ke depan. Belum sempat terkejut lebih lanjut, ia lalu merasakan perih menyengat di… sisi leher!

Kum Kecho telah menusukkan jemari ke batang leher lawan! Ia lalu merenggut dan mencabik urat leher keluar. Darah terburai muncrat ke semerata penjuru. 

Ibarat ayam yang sedang disembelih…. Tangan dan kaki yang terikat dan tubuh terpasung, ahli Kasta Emas yang bahkan namanya tiada diketahui, jatuh tertelungkup dan menggelepar. Menggelepar beberapa kali menanti darah habis mengalir keluar, sebelum akhirnya diam meregang nyawa. 

Lawan, meski secara teknis jauh lebih kuat, dibuat lengah sebelum dijagal dengan demikian dingin.



Catatan: 

Akhirnya tayang juga…