Episode 9 - Delapan

Rajah Cakra Bisma (1)


Dharmadipa terus berjalan menunggangi kudanya menuju ke Padepokan Sirna Raga, beberapa hari kemudian sampailah ia ke padepokan. Awalnya ia merasa segan untuk masuk ke padepokan dan memutuskan untuk duduk sejenak dibawah rindangnya pepohonan di hutan dekat padepokan. Setelah diam sejenak untuk menimbang-nimbang perasaanya, ia pun masuk kedalam padepokan, beberapa murid yang berpapasan dengan dirinya menatap Dharmadipa dengan tatapan aneh yang membuat pemuda ini merasa tidak nyaman.

Dharmadipa turun dari kudanya, ia terus masuk ke padepokan, hingga Jaka yang melihat kepulangan dirinya menghampirinya, Dharmadipa menatap Jaka dengan perasaan aneh dan bersalah, tapi Jaka malah menyapanya seperti biasa seolah tidak ada masalah yang terjadi diantara mereka “Kakang Dharmadipa, Kakang sudah pulang… Kakang baik-baik saja?” tanyanya dengan ramah.

Sikap Jaka yang seperti itu membuat Dharmadipa merasa kagok dan tidak nyaman, ia merasa bersalah sekali pada adik seperguruannya ini, tapi ia juga merasa gengsi untuk minta maaf terlebih dahulu, maka ia pun mengalihkan pembicaraan “Guru ada dimana Jaka?”

“Guru sedang beristirahat di kamarnya Kakang, Kakang sebaiknya menunggu Guru di Balairiung saja, aku akan memberi tahu guru kalau Kakang sudah pulang” jawab Jaka.

“Tidak usah, sebaiknya aku langsung saja ke kamar guru” sela Dharmadipa.

“Maaf Kakang, Kakang ‘kan baru pulang setelah meninggalkan padepokan ini cukup lama, jadi guru berpesan padaku kalau Kakang pulang, Kakang disuruh langsung menunggu guru di balairiung” jawab Jaka.

Dharmadipa pun terpaksa mengangguk “Baiklah kalau begitu”

Jaka pun langsung menemui Kyai Pamenang di kamarnya “Guru, Kakang Dharmadipa sudah pulang”

Kyai Pamenang menghela nafas lalu menangguk “Bagus, kumpulkan seluruh murid putra dan putri di Balairiung, ada suatu hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semua.”

“Baik, Guru.” Jaka pun melakukan apa yang gurunya perintahkan.

Dharmadipa menunggu di balairiung dengan perasaan tidak enak, apalagi ketika dilihatnya seluruh murid-murid putra dan putri berkumpul di balairiung. Dengan perasaan gelisah ia pun menunggu, hingga akhirnya Kyai Pamenang beserta Nyai Mantili masuk ke ruang Balairiung, Dharmadipa pun menatap wajah ayah dan ibu angkatnya dengan perasaan tidak enak dan canggung.

Kyai Pamenang menatap wajah anak angkatnya dengan tatapan tajam, dia lalu memanggilnya “Dharmadipa, kemarilah!”

Dharmadipa pun menghampirinya dan duduk di bawah dihadapan Kyai Pamenang, Kyai Pamenang pun membuka mulutnya sambil menunjuk wajah Dharmadipa, Sang Kyai yang biasanyanya berucap lemah lembut ini kini berusara tegas “Sebelum berangkat ke Banten aku sudah berpesan pada kamu Dharmadipa dan pada Jaka Lelana juga Kadir untuk menjaga keamanan dan ketertiban padepokan ini, dan khusus kepada Kadir sebagai murid tertua disini untuk mewakili aku, tapi setelah aku kembali menginjakan kaki di bukit Tagok Apu ini, aku malah mendapatkan hal-hal yang memalukan!”

Sebenarnya ucapan dari Kyai yang telah sepuh ini bukan hanya untuk Dharmadipa saja, tapi juga untuk Jaka terutama Kadir sebagai murid tertua, mereka berdua menundukan kepalanya, matanya lekat-lekat menatap ke lantai karena merasa bersalah dengan teguran gurunya ini, tapi bagi Dharmadipa yang angkuh juga harga dirinya tinggi, ia malah merasa malu dan tersinggung, ia merasa dipermalukan dihadapan seluruh murid-murid padepokan ini. Ia tidak menundukan kepalanya, ia malah berani menatap wajah Gurunya itu.

Kyai Pamenang lalu menatap Dharmadipa lagi, ia marah melihat Dharmadipa berani menatap wajahnya “Dharmadipa!” ucapnya dengan suara tinggi.

“Ya, Ayah…,” sahut Dharmadipa.

Kini meledaklah amarah Kyai Pamenang “Jangan Panggil aku ayah! Diantara saudara-saudarimu di padepokan ini, aku gurumu! Panggil aku Guru!”

Dharmadipa pun menangguk “Iya, Guru”

Kyai Pamenang menghela nafasnya lalu bertanya, “Darimana saja kamu? Apa yang sebenarnya kamu inginkan?”

Dharmadipa terdiam, ia bingung harus menjawab apa, “Dharmadipa!” panggil Kyai Pamenang lagi.

Akhirnya Dharmadipa pun menjawab juga “Ampun Guru, semua yang saya lakukan tentu ada sebabnya”.

Kyai Pamenang menatap Dharmadipa dengan tatapan setajam mata elang “Apa?”

Dharmadipa lalu memelototi Jaka “Adi Jaka telah mencampuri urusan saya terlalu jauh! Ia telah membuat saya jengkel!”

Kyai Pamenang menggeleng-gelengkan kepalanya “Itu karena Jaka sayang padamu! Bukankah kau sangat dekat dengan Jaka sedari kecil? Adikmu ini adalah sahabatmu juga bukan? Dia adalah saudaramu yang tidak ingin kau mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, dia ingin kau selamat!”

Dharmadipa melotot pada Jaka, lagi-lagi harga dirinya yang tinggi membuat ia merasa diremehkan “Tapi dia tidak usah melakukan hal itu! Saya dapat menjaga diri saya sendiri tanpa bantuan Jaka guru!”

Kyai Pamenang berdecak mendengar ucapan muridnya ini, “Takabur! Bacalah Istigfar Dharmadipa! Kau tidak selamanya mampu menjaga dirimu sendiri, suatu saat kau bisa lengah, bisa alpha! Untuk itu, kau membutuhkan teguran dari orang lain, kau membutuhkan peringatan dari orang lain, entah itu dari aku, dari Nyai Guru, dari saudara dan saudarimu, atau dari siapa saja yang peduli padamu! Sebab kau tidak bisa melihat kelemahan dirimu sendiri!”

Jari Kyai Pamenang menunjuk Jaka “Apa yang telah kau lakukan pada Jaka Lelana adikmu?”

Dharmadipa lalu menatap Jaka yang masih menundukan kepalanya, ia lalu menjawab sejujurnya “Kami berkelahi Guru…”

Kyai Pamenang menunjuk Jaka “Kau bermaksud membunuh Jaka Lelana dengan Aji Pukulan Sirna Raga?”

Dharmadipa merasa semakin tersudutkan, emosinya pun terus tersulut, ia mulai kembali berani menatap wajah Gurunya “Ampun, Guru. Saya terima salah, saya terlalu bernafsu, saya mohon maaf guru, saya juga minta maaf padamu Adi Jaka!”

Kyai Pamenang mengangguk “Aku menghargai kesedianmu meminta maaf, tapi yang penting kau harus mampu merubah watakmu sendiri, berulang kali aku menasehatimu, sebut nama Allah sebelum kau melakukan segala sesuatu, beristigfarlah kalau sedang marah, bila perlu ambilah wudhu dan laksanakanlah Shalat!”

Dharmadipa menngagguk “Baik, Guru”

Kyai Pamenang lalu menatap ke barisan duduk murid-murid putri “Selama ini yang aku dengar, kau keluyuran mencari Mega Sari setelah ia keluar dari padepokan ini?”

Dharmadipa menelan ludahnya “Iya, Guru”

Kembali tatapan tajam Kyai Pamenang seolah menusuk dada Dharmadipa “Kau pikir apa kau yang lakukan itu benar?”

Kali ini Dharmadipa benar-benar merasa terusik ketika Gurunya mengungkit soal Mega Sari “Guru… Kalau ini salah, dimana letak kesalahannya?!”

Hampir saja Kyai Pamenang berdiri dari duduknya mendengar pertanyaan Dharmadipa tersebut yang seolah menantangnya “Banyak! Pertama dengan keluyuran mengejarnya menunjukan bahwa kau bersikap sebagai seorang pria yang tak tahu malu dan tak tahu adat! Agama dan adat kita mengajarkan bahwa bukan begitu caranya kau mendekati seorang perempuan! Kedua, meskipun kalian telah bersaudara selama di padepokan ini, tapi kau belum tahu pribadinya, apakah ia cocok dengan pribadimu atau tidak! Ketiga, kau tentu tahu asal-usul Mega Sari bukan? Ia adalah putri dari Prabu Kertapati, raja dari negeri Mega Mendung yang wilayahnya sampai diatas tanah yang kita pijak ini! Ditambah sang Prabu tidak mempunyai anak laki-laki, maka suami Mega Sari lah yang kelak akan menjadi pengganti beliau menjadi penguasa diatas bumi Mega Mendung ini! Sekarang coba pikirkan apakah kau pantas menjadi pendamping Mega Sari?!”

Ucapan Kyai Pamenang yang terakhir ini sungguh menyinggung Dharmadipa yang harga dirinya tinggi, dadanya mulai sesak, namun ia mencoba masih menahan amarahnya sementara nasihat dari Kyai Pamenang meluncur lagi “Kau sedang berdiri di tepi jurang yang terjal, jika kau lengah kau akan tergelincir jatuh, dan tidak ada seorang pun yang bisa menolongmu!”

“Maaf Guru, saya mencintai gadis itu, setiap orang berhak untuk mencintai seorang lawan jenisnya!” sela Dharmadipa.

Mendengar pembatahan Dharmadipa, Kyai Pamenang berdiri dari duduknya “Astagfirullah… Dharmadipa mulai sekarang kau tidak kuizinkan meninggalkan padepokan ini! Lupakan gadis yang bernama Mega Sari itu!”

Dharmadipa memelototi gurunya mendengarnya, kini ia benar tidak bisa menahan dirinya lagi, Kyai Pamenang marah bukan main melihat Dharmadipa memelototi wajahnya “Dharmadipa tundukkan kepalamu! Tidak pantas kau memandangku dengan cara seperti itu!” bentaknya.

Dharmadipa tidak mengindahkannya, ia malah berbicara dengan suara lantang “Kali ini saya tidak bisa mengikuti perintahmu ayah Pamenang!”

Betapa kagetnya sang Kyai mendapati kelakuan anak angkatnya ini “Tunduk kataku!” bentaknya lagi.

“Tidak! Saya adalah Putra dari Prabu Wangsadipa dan Ratu Sekar Ningsih dari Parakan Muncang! Meskipun Negeri itu sudah hancur belasan tahun silam namun saya tetaplah seorang Pangeran! Jadi saya berhak untuk menikahi Mega Sari dan saya berhak untuk menolak tunduk padamu!” hardik Dharmadipa.

Kali ini Kyai Pamenang tidak bisa lagi menahan amarahnya, dia mememukul wajah Dharmadipa hingga bibir Dharmadipa sobek berdarah. Dharmadipa langsung berdiri di hadapan Kyai Pamenang “Kali ini saya tidak mau tunduk! Maaf Ayah Pamenang, bila Ayah menanggap saya salah mencintai Mega Sari, saya bersedia meninggalkan padepokan ini! Lagipula ayah sudah pilih kasih, ayah menurunkan jurus Menggoncang Langit Menjungkir Awan hanya pada Jaka, ayah tidak menurunkannya padaku! Permisi, saya akan pergi saat ini juga!”

Dharmadipa pun meninggalkan ruangan itu, pintu ruangan itu dibanting oleh Dharmadipa hingga jebol. Kyai Pamenang berkali-kali berisitigfar sambil meneglus dadanya “Astagfirullah… Dharmadipa…”

“Kakang, nampaknya Dharmadipa bersungguh-sungguh, aku belum pernah melihatnya berani melawan kita seperti ini” ujar Nyai Mantili dengan sedih.

Kyai Pamenang menoleh pada istrinya dengan tatapan kuyu “Persoalannya adalah sikap Dharmadipa, dan sinar matanya… Sinar matanya itu yang selalu aku cemaskan sejak ia kecil, pancaran yang berkobar-kobar bagaikan api, pancaran yang tidak mudah ditenangkan dan dipadamkan. Ia juga memiliki tanda rajah Cakra Bisma di keningnya, orang yang memiliki rajah itu sangat cepat marah, selalu mudah dikuasai hawa nafsu, kekuatannya menjadi sangat besar saat ia dikuasai hawa nafsu! Hhhhh… Dharmadipa kau tidak pernah tahu kalau bahaya besar sedang mengancammu didepanmu, kau tidak mampu melihatnya karena kau selalu diebelenggu hawa nafsu”. (Cakra Bisma adalah tanda bulat merah di kening yang akan muncul pada saat orang tersebut marah, menurut kepercayaan orang Sunda, orang yang memiliki tanda rajah ini adalah orang yang mudah sekali marah dan pendendam, bahkan apabila marah orang ini bisa lupa segalanya dan akan mempunyai kekuatan yang luar biasa bagaikan orang kesurupan, menurut legenda, yang memiliki rajah ini adalah Prabu Sanjaya dan Pangeran Amuk Marugul).

Dharmadipa memacu kudanya bagaikan kesetanan, meninggalkan padepokan Sirna Raga, matanya melotot menyala-nyala, nafasnya tersenggal-senggal, tanda lingkaran merah di keningnya terlihat jelas, dadanya sesak, hatinya panas membara, ia berkuda meninggalkan padepokan tanpa tujuan dengan pikiran yang kosong dan mata gelap, seluruh tubuhnya hanya digerakan oleh hawa nafsunya saja yang memberinya kekuatan tapi tak bisa ia kendalikan.

Tiba-tiba ia menghentikan kudanya ketika di hadapannya telah berdiri seorang tua berpakaian dan bersorban putih. Rambut, kumis, janggut, dan alisnya yang panjang lebat telah memutih semuanya, orang tua itu tak lain adalah ayah angkat sekaligus Gurunya sendiri yakni Kyai Pamenang. “Mau ke mana Dharmadipa?” tanyanya dengan suara pelan dan halus, orang tua itu menatap muridnya dengan tatapan yang lebut tidak seperti di balairiung tadi.

Dharmadipa terkejut bukan main bagaikan melihat hantu mendapati sosok ayah angkatnya tiba-tiba sudah berada di hadapannya! Tapi pemuda berambut gondrong yang bentuk tulang alisnya menonjol dan tulang rahang kokoh itu segera menindih rasa kagetnya. Rasa kagetnya berganti menjadi amarah yang meluap-luap membuat seluruh tubuhnya panas, “Saya hanya tidak ingin kebebasan saya direnggut oleh siapa saja, termasuk kebebasan saya mencintai Mega Sari! Saya punya hak untuk memperoleh sesuatu yang saya inginkan!”

Kyai Pamenang menatap lembut Dharmadipa dengan penuh kasih sayang “Dharmadipa kamu tersesat! Kembalilah sebagai murid yang benar dan anak yang berbakti! Ingatlah pada Gusti Allah anakku, Istighfarlah! Percayalah pada orang tua dan gurumu ini, tindakanmu hanya akan menyengsarakan dirimu sendiri, akan membawamu ke lobang yang gelap, ketika kau menyadarinya kau hanya bisa menyesali semua telah terjadi tanpa bisa meminta tolong pada siapapun termasuk aku, ibumu, dan saudara-saudarimu!” tegurnya dengan lembut. 

Dharmadipa malah menatap gurunya dengan tatapan yang menantangnya “Saya akan tanggung sendiri segala akibatnya! Saya tidak butuh siapapun termasuk Guru! Saya hanya membutuhkan Mega Sari!”

Entah untuk keberapa kalinya semenjak ia menghadapi Dharmadipa, Kyai Pamenang membaca Istighfar, kesabarannya benar-benar telah diuji oleh sikap anak angkatnya yang sangat keras kepala dan pemberang tersebut “Dharmadipa… Baiklah, kalau kau berani membantah, kau akan berhadapan dengan gurumu, dengan ayahmu ini!”

“Saya tidak mau kembali! Saya tidak mau dibelenggu seperti seekor kuda yang hanya harus patuh pada majikannya! Selama ini saya selalu diatur! Saya tidak pernah menjadi seorang Dharmadipa! Saya melihat kebaikan atau keburukan hanya dari pandangan Guru! Walaupun guru selalu berdalih bahwa apa yang guru lakukan semuanya berdasarkan agama! Berdasarkan Kitab Suci! Tapi ini sungguh tidak adil karena saya tidak diizinkan untuk menentukan benar dan salah menurut saya sendiri! Padahal saya adalah seorang Pangeran yang seharusnya kelak menjadi seorang raja yang dapat mengatur sebuah negeri berdasarkan cara pandangnya sendiri! Sekarang saya tuntut hak saya, kebebasan saya! Untuk melihat apa saja berdasarkan pendapat saya sendiri! Untuk menentukan langkah saya sendiri!” ceorocos Dharmadipa dengan nada memaki gurunya.

“Astagfirullah…” Kyai Pamenang menggeleng-gelengkan kepalanya mendapati penolakan dan makian dari muridnya, dari anak angkatnya sendiri yang sangat ia kasihi, hanya bisa menghela nafas, sungguh sedih hatinya mendapati perlakuan durhaka dari anak angkatnya ini. 

Dharmadipa malah makin berani, dia menunjuk dengan jari telunjuknya pada wajah gurunya “Kenapa Ayah selalu memaksakan pandangan ayah kepada saya?!”

Kyai Pamenang menghela nafas berat, helahaan nafasnya yang berat terdengar jelas “Karena aku yang lebih dulu melihat dunia ini dengan segala kebusukannya daripada kamu, adalah kewajibanku sebagai orang tua, dan gurumu, bahkan sebagai orang yang lebih tua untuk menunjukan mana jalan yang baik ditempuh dan mana yang tidak, hal ini aku lakukan semata-mata karena aku menyayangimu Dharmadipa…”

Mendengar itu, Dharmadipa malah mencibir gurunya “Huuhhh! Guru sering mengajariku tentang sifat takabur, tapi tanpa disadari guru telah melakukan sendiri ketakaburan itu! Merasa paling tahu tentang hidup! Itu juga takabur!”

Dharmadipa lalu membusungkan dadanya, giginya bergemulutakan menahan amarahnya, matanya melotot “Saya akan tetap mencari Mega Sari, saya akan tetap mengucapkan rasa suka saya padanya, saya akan tetap mengejar cintanya! Apapun akibatnya! Kalau saya terjerumus kedalam sumur gelap yang paling dalam sekalipun, saya puas! Karena telah melakukan sebuah pilihan sendiri! Tanpa paksaan orang lain!”