Episode 21 - Kelompok Daun Biru (3)



“Shinta?”

Aku terbengong-bengong melihat Shinta, aku memang sama sekali tidak berfikir tiba-tiba dia akan bersikap seramah ini padaku. Tidak setelah pertarungan kami semalam. Namun disinilah dia, menepuk bahuku dengan begitu kerasnya sambil tersenyum akrab seolah aku ini teman satu geng-nya. 

“Kenapa?” tanya Shinta sambil tetap nyengir kuda. Seolah tidak ada yang aneh dengan sikapnya.

Bisa kulihat teman-temanku sesama murid Perguruan Gagak Putih melihat ke arah kami berdua dengan pandangan terpana. Well, aku bisa memaklumi kenapa mereka sampai seperti itu, mengingat aku dan Shinta sejatinya tidak saling mengenal. Satu-satunya interaksi kami dimata kawan-kawanku adalah saat aku menyelamatkan Rahman dari serangannya di tengah arena. Jadi memang terlihat aneh jika sekarang Shinta bersikap seolah dia telah kenal lama denganku. 

“Nggak papa,” jawabku refleks sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Hai.”

“Hei.”

“Halo.”

Shinta menebar senyum saling bertegur sapa dengan kawan-kawanku yang tertegun bak seorang selebriti yang menyapa para penggemarnya. Namun setelah itu tak ada satupun kawanku yang mencoba berbincang-bincang dengannya. Kawan-kawanku juga terlihat agak canggung dengan sikap friendly Shinta.

“Menurut lu siapa yang bakal menang?” tanya Shinta padaku sambil mengalihkan pandangannya ke tengah arena dan memulai percakapan denganku tanpa memperdulikan kecanggungan kami. 

Di tengah arena, baru saja dimulai pertarungan antara murid Perguruan Lembu Ireng bernama Nanda melawan murid dari Perguruan Kelelawar Merah bernama Johan. Kulihat gaya bertarung Nanda sangat sistematis, tidak ada gerakannya yang sia-sia. Setiap pukulan dan tendangannya dilakukan secara efisien.

Sedangkan gaya bertarung Johan cepat dan terkesan brutal. Serangannya seringkali disertai dengan teriakan-teriakan seperti dalam film-film. Selain itu, Johan kerap kali mengincar bagian-bagian tubuh yang mematikan seperti pada tenggorokan, ulu hati, dada bagian jantung, bahkan kepala bagian belakang. 

Sepengamatanku, rata-rata gaya bertarung murid Perguruan Kelelawar Merah memang seperti itu. Beruntung hingga saat ini tidak ada pertarungan yang berakibat terlalu fatal. Tapi aku cukup heran kenapa para guru dan ketua perguruan tetap membiarkan gaya bertarung se-brutal itu. Bahkan instingku sebagai seorang praktisi pengolahan tenaga dalam mengatakan para murid Perguruan Kelelawar Merah jauh lebih ahli lagi dalam pertarungan menggunakan senjata. 

Setelah terdiam memperhatikan pertarungan di tengah arena selama beberapa saat, akhirnya aku menggelengkan kepala. 

“Nggak tau,” Aku menjawab pertanyaan Shinta secara singkat. Meskipun pertarungan keduanya cukup sengit, tapi jika aku mau benar-benar mengamati pertarungan tersebut, sebenarnya tidak sulit-sulit amat mengetahui siapa yang akan menang. Tapi aku terlalu malas melakukan itu hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan Shinta.

“Kalau menurut gue, yang menang nanti si Johan,” ucap Shinta sambil tersenyum tipis menatap tengah arena. 

“Kenapa?” 

“Meskipun kemampuan Nanda terbilang tinggi, tapi Johan punya satu keunggulan yang nggak dimiliki Nanda.”

“Apa itu?” Kali ini aku benar-benar penasaran dengan analisa Shinta. 

“Johan…” Shinta melirik tepat ke arahku hingga pandangan kami berdua saling berbenturan, lalu sambil tersenyum kecil dia melanjutkan kata-katanya. “Dia telah melewati pertarungan hidup dan mati…”

Nafasku sempat tertahan sebentar, jawaban Shinta jelas diluar dugaanku. Aku segera kembali mengalihkan pandanganku ke tengah arena dan memperhatikan Johan baik-baik. Secara umum, kemampuan teknik Nanda ada diatas Johan, serangan-serangan Nanda jelas lebih terarah dan lebih efektif ketimbang Johan. Tapi Johan selalu berhasil menghindar dan selalu fokus, dia hanya melakukan serangan jika memang benar-benar yakin dapat menyarangkan pukulan pada musuhnya. 

“Lu sendiri gimana Rik? Pernah melewati pertarungan hidup dan mati?”

Deg! 

“Apa maksudnya?”

Pertanyaan Shinta meluncur begitu saja tanpa dapat ku antisipasi. 

“Ya, pertarungan hidup dan mati?” tanya Shinta lagi dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu. 

Pertarungan hidup dan mati? Apa aku pernah melaluinya? Mungkin saja, jika penyergapan yang dilakukan Sarwo dapat dihitung sebagai pertarungan hidup dan mati. Mengingat saat itu Sarwo berniat membunuhku dan aku berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri. Jikalau itu tidak dapat disebut pertarungan hidup dan mati, setidaknya aku pernah melihat pertarungan hidup dan mati antara Sarwo dan Kinasih. 

“Lu sudah pernah melewatinya kan?” 

Belum sempat aku menjawab, Shinta telah menyimpulkan sendiri jawabannya. 

“Kata siapa?” 

“Semalam, serangan-seranganmu penuh nafsu membunuh dilakukan tanpa ada keraguan sedikitpun. Jadi gue rasa lu udah pernah mengalami pertarungan hidup dan mati kan?”

“Apa maumu?” 

Meskipun aku sendiri tak yakin apakah aku bisa disebut benar-benar pernah melewati pertarungan hidup dan mati, tapi arah pembicaraan Shinta telah membuatku merasa tak nyaman. Sehingga kupikir aku perlu segera menanyakan apa yang dia inginkan sebenarnya. 

“Nggak ada apa-apa, cuma nanya biasa aja?” jawabnya santai. 

“Oh…” 

Merasa tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan dari Shinta, aku memilih diam dan bergerak sedikit menjauh. Namun tiba-tiba Shinta kembali bergerak mendekatiku. 

“Ngomong-ngomong, ceritain dong gimana lu bisa masuk ke Perguruan Gagak Putih?”

“Hah? Cari tahu aja sendiri,” ujarku asal-asalan. 

“Ini gue lagi cari tahu.” 

“Eh…” 

Benar juga apa yang dikatakan Shinta… tapi aku memutuskan tak lagi menanggapinya dan kembali menonton pertarungan di tengah arena. Hanya dalam waktu singkat percakapanku dan Shinta, pertarungan di tengah arena telah berakhir dengan kemenangan Johan. Tampaknya serangan-serangan Johan telah membuat Nanda merasa gentar dan kehilangan fokusnya. Akibatnya, dua kali pukulan beruntun Johan bersarang di ulu hati dan dadanya hingga membuat dia tak mampu bangkit melanjutkan pertarungan. 

“Rik, lu tinggal dimana?”

Shinta kembali memburuku dengan pertanyaan tanpa memperdulikan hasil pertarungan di tengah lapangan yang sesuai dengan prediksinya. 

“Jakarta,” jawabku sesingkat-singkatnya.

“Jakarta mana?” tanyanya lagi

“Jakarta.”

Mulut Shinta manyun mendengar jawabanku, tapi dia sama sekali tidak berhenti memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Bahkan setelah aku berusaha menjauhinya dengan berpura-pura mengurusi kebutuhan kelompokku, dia tak berhenti membuntutiku dan mengajukan berbagai macam pertanyaan. Kupikir sikap Shinta hanya akan berlangsung sebentar saja, lalu dia akan bosan dan meninggalkanku. Tapi ternyata dugaanku salah, Shinta sama sekali tidak berhenti membuntutiku. Pertanyaan-pertanyaannya pun mulai ngalor-ngidul, bahkan dia mulai menanyakan apa aku sudah punya pacar dan apakah aku lebih suka gunung atau laut? 

Hal itu terjadi selama kompetisi berlangsung, sampai-sampai semua kawan kelompokku mengira hati Shinta telah kepincut padaku dan justru bergerak agak menjauh dariku dengan maksud memberikan ruang pada kami berdua. Oh My God…

Pada akhirnya, kompetisi berakhir pada hari ketiga dan kami segera bersiap-siap pulang pagi hari. Aku bersama dengan kawan-kawan sesama murid Perguruan Gagak Putih pergi meninggalkan Perguruan Lembu Ireng menggunakan bus yang sama yang kami gunakan saat datang ke sini dua hari yang lalu. Diam-diam aku merasa lega akhirnya kompetisi tiga perguruan ini berakhir, karena itu artinya aku tidak akan bertemu Shinta dan harus melayani pertanyaan-pertanyaan konyolnya itu. 


***


Seperti saat berangkat dua hari lalu, kepulangan kami ke Jakarta juga memerlukan waktu berjam-jam. Namun kali ini kami menyempatkan diri mampir sebentar untuk makan siang bersama di sebuah restoran pinggir jalan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan kembali sampai markas Perguruan Gagak Putih. Sesampainya di markas Perguruan Gagak Putih, kami dipersilahkan pulang ke rumah masing-masing.

“Rik,” Bang Ardi mendekatiku tak lama setelah kami turun dari bus.

“Ya bang?” 

“Sini sebentar.” 

Bang Ardi mengisyaratkan dengan kepalanya agar aku mengikutinya, lalu segera berjalan menuju rumah utama di markas Perguruan Gagak Putih. 

“Ada apa bang?” tanyaku sambil mengikuti bang Ardi

“Ketua perguruan ingin menemuimu,” 

“Ketua… Guru Arya?”

Bang Ardi menganggukkan kepalanya. 

Kami berdua berjalan memasuki rumah utama Perguruan Gagak Putih. Di ruang tengah telah berdiri menunggu ketua Perguruan Gagak Putih, Arya Wiratama. 

“Kamu boleh pergi Ardi,” ujar ketua Arya begitu kami memasuki ruang tengah. Ardi segera menunduk hormat dan melangkah meninggalkanku berdua dengan sang ketua perguruan. 

“Silahkan duduk.” Begitu Ardi meninggalkan ruangan tersebut, ketua Arya segera tersenyum ramah padaku dan mempersilahkanku duduk sementara dia sendiri tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

“Terima kasih.”

Aku segera duduk di kursi yang ditunjuk oleh ketua Arya sambil bertanya-tanya dalam hati apa gerangan alasan ketua Arya ingin menemuiku. Mungkinkah perihal pertarungan singkatku dengan Shinta? Memang waktu itu sempat kulihat ketua Arya bersama dengan ketua perguruan yang lain segera pergi menyusul Shinta seusai pertarungan singkat kami berdua di tengah arena. Apakah mungkin ketua Arya juga merupakan bagian dunia persilatan?

Belum selesai aku mengira-ngira, perhatianku telah tersita oleh masuknya tiga orang lelaki ke dalam ruang tengah, dua lelaki muda dan seorang pria paruh baya. Aku segera mengenali salah satu dari lelaki muda itu, Arie! Sedangkan lelaki muda yang seorang lagi dan si pria paruh baya sama sekali tak kukenali. 

Mereka bertiga langsung duduk di kursi yang ada dihadapanku. Baru setelah ketiganya duduk, ketua Arya ikut duduk di kursi. 

“Namamu Riki kan? Salam kenal, saya Yanuar. Ini Arman, sedangkan Arie dan Arya Wiratama kau pasti sudah mengenalnya.” Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya dan orang-orang yang duduk bersamanya. 

“Salam kenal.” Aku menganggukkan kepala pelan. Tapi diam-diam aku mulai mersirkulasikan tenaga dalam di tubuhku. Mengingat Arie adalah seorang pendekar dunia persilatan, maka sudah dapat dipastikan kedua orang lainnya juga pendekar dunia persilatan. Meskipun aku masih belum tahu pasti niat mereka bertemu denganku, tapi tak ada salahnya bersikap waspada. 

“Tak perlu khawatir, kami hanya ingin berbincang-bincang saja denganmu,” ujar pria paruh baya bernama Yanuar sambil tersenyum tipis. Sepertinya dia tahu aku tengah mensirkulasikan tenaga dalamku secara diam-diam. Ya, sepertinya dia memang mengetahuinya.

“Apa yang mau kalian bicarakan?” 

“Pertama, bisakah kau jelaskan kenapa seorang pendekar dunia persilatan sepertimu belajar ilmu silat di Perguruan Gagak Putih? Apakah kau tidak tahu Perguruan Gagak Putih adalah bagian Kelompok Daun Biru?”