Episode 8 - Tujuh

Misteri Gunung Patuha


Dharmadipa terus berjalan menunggangi kudanya meninggalkan padepokan Sirna Raga dan kawasan Tagok Apu, wajahnya kelam membesi memerah pertanda ia masih diliputi hawa amarahnya, hingga di suatu tepian sungai ia menghentikan kudanya, ia lalu minum dan membasuh wajahnya sambil memberi kudanya minum, seketika itu juga ia teringat pada Jaka adik seperguruannya sekaligus sahabatnya yang ia celakai tadi dengan pukulan sirna raga, ia lalu menatap tangan kanannya yang tadi pagi melepaskan pukulan Sirna Raga pada Jaka.

 “Jaka… Oh…” desahnya ketika mengingat wajah Jaka yang kesakitan ketika pinggangnya terkena pukulan Sirna Raga, kini barulah ia menyesali mengapa ia tidak bisa menahan dirinya sampai ia mencelakai Jaka dengan pukulan pamungkasnya yang seharusnya tak boleh ia gunakan sembarangan. 

Perlahan penyesalan itu berubah menjadi rasa sakit yang mendera hatinya, air mata penyesalannya mulai menetes “Oh guru… Mengapa aku selalu tak bisa menahan diri hingga selalu berbuat sesuatu yang kusesali kemudian?!” ratapnya, sekonyong-konyong ia terbangun, menaiki kudanya dan memacunya bagaikan kesetanan menuju ke selatan, mulutnya tak henti-hentinya meratap menyesali perbuatannya tadi, di pelupuk matanya terbayang hubungan persaudaraan mereka berdua yang sudah terjalin sejak kecil.

Dia terus berkuda ke arah selatan menuju ke gunung Patuha, hutan demi hutan ia masuki, sungai demi sungai ia lewati, desa demi desa ia lalui untuk mencari jalan ke gunung Patuha demi bisa bertemu dengan Mega Sari, namun karena ia tidak pernah pergi jauh dari padepokan, maka agak sulit baginya untuk menemukan jalan ke Gunung patuha, tak terhitung ia beberapa kali harus tersesat.

Hingga pada suatu hari ia melewati pesawahan yang berada di suatu mulut desa, Dharmadipa melihat ada beberapa orang petani sedang menggarap sawahnya, ia pun segera menghampiri petani itu “Punten” sapanya, para petani itu pun menoleh pada Dharmadipa “Punten bade tumaros, apa nama desa ini?” tanyanya. (Permisi mau Tanya).

“Ini desa Ciwaas Ki Dulur” jawab salah satu petani itu. 

Dharmadipa lalu menatap jalan setapak yang lurus terus masuk ke desa sampai ke luar desa, “Jalan ini kalau terus menuju ke mana?” Tanya pemuda itu lagi. 

Para petani di sana saling pandang lalu menatap Dharmadipa seolah menyelidik pemuda itu yang membuat Dharmadipa menjadi kurang nyaman, “Kaditu katonggoh, ke lereng gunung Patuha” jawab petani itu. (Kaditu Ka ltonggoh = Kesana keatas).

Dharmadipa memperhatikan lagi jalan setapak lurus itu “Apa masih ada desa di sana?”

Seorang petani yang nampaknya paling tua di antara mereka menghampiri Dharmadipa sambil membuka topi capingnya, sepasang mata tuanya memandang Dharmadipa tanpa berkesip “Tidak ada, desa inilah yang terakhir yang paling ujung di kaki gunung Patuha ini… Punten, kalau boleh tahu Ki Dulur mau ke mana?”

“Hatur nuhun Bapak semuanya” pungkas DHarmadipa yang tak mau menjawab pertanyaan petani tua tadi, dia langsung menggebrak kudanya, memacu dengan cepat kudanya melewati jalan setapak tersebut. 

Para petani yang ada di sana saling pandang dengan rasa penuh penasaran “Selama ini tidak ada orang yang mau ke gunung Patuha selain untuk menempuh jalan hidup sesat dan ilmu hitam” ucap salah satu dari mereka.

“Ya aku pun ingat ketika melihat satu kereta hitam yang melintas dengan cepat melewati desa kita menuju ke Gunung Patuha beberapa bulan yang lalu” sahut kawannya.

“Sudah kita jangan mengurusi urusan orang lain, sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan kita dan selalu memohon kepada Gusti Allah agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan!” pungkas si petani tua.

Menjelang tengah hari, Dharmadipa sudah melewati batas desa ciwaas, jalan setapak tersebut lama kelamaan menghilang menjadi jalanan yang penuh semak belukar, para penduduk desa Ciwaas yang melihatnya nampak ketakutan melihat Dharmadipa yang memacu kudanya ke arah lereng Gunung Patuha namun pemuda ini tidak memperdulikannya, dan akhirnya ia memasuki sebuah hutan perawan yang cukup lebat, dia menghentikan kudanya sejenak dan memandang berkeliling mencari jalan, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar suara orang yang sedang membelah atau memotong kayu, dia pun mengikuti suara itu.

Ternyata suara itu membawanya ke bagian hutan yang lebih lebat, kuda yang yang tumpangi menjadi gelisah, ia sendiri ikut gelisah melihat kerapatan hutan ini, ditambah bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri, untunglah ia melihat seorang kakek dan nenek yang sedang memotong kayu bakar beberapa meter dihadapannya, ia pun segera menghampirinya.

“Punten, apa aki dan nini tahu daerah ini?” tanyanya.

Kedua kakek nenek itu menatap DHarmadipa dengan keheranan tapi juga dengan menyelidik, “Punten, Asep ini siapa?” Tanya si Kakek. 

“Saya dari padepokan Sirna Raga, aku ingin tahu apa disekitar gunung Patuha ini ada rumah tempat tinggal atau semacamnya?” sahut Dharmadipa. 

Si Kakek dan Nenek itu melongo mendengar pertanyaan Dharmadipa “Jangankan ada orang yang tinggal di sana, tidak ada seorang pun yang berani menapakan kakinya kesana Den, bahkan untuk sampai ke tempat ini saja sudah banyak yang tidak berani” jawab si Kakek dengan suara bergetar.

Dharmadipa keheranan dengan jawaban si Kakek “Mengapa? Mengapa tidak ada yang berani?”

Kini wajah si Kakek dan Nenek itu berubah ketakutan “Tidak… kami tidak berani mengatakannya” ucap si Nenek bergidik.

Dhramadipa semakin keheranan juga penasaran, si Kakek pun menjadi penasaran dengan Dharmadipa “Apakah Asep mencari seseorang?”

Dharmmadipa mengangguk “Iya, apakah Aki dan Nini melihat sebuah kereta berwarna hitam menuju ke Gunung Patuha?”

Si Kakek dan Nenek itu tampak terkejut di tengah ketakutannya, “Tidak, kami tidak pernah melihat” jawab si Kakek. 

Dharmadipa menatap kedua orang berusia lanjut ini dengan penuh selidik “Aku tahu Aki dan Nini merahasiakan sesuatu” pikirnya, ia lalu turun dari kudanya “Aku tidak mempunyai maksud buruk datang ke tempat ini, aku hanya ingin bertemu dengan orang yang menaiki kereta itu!”

Mendengar ucapan Dharmadipa, kedua orang tua itu malah mengkerut semakin ketakutan, penasaran Dharmadipa pun mendekati mereka “Kenapa? Kenapa Aki dan Nini seperti ketakutan?”

Si Kakek nyengir menyembunyikan ekspresi dan gestur tubuhnya “Oh tidak, saya memang pernah mendengar orang-orang di desa-desa sekitar sini menceritakan tentang seorang gadis muda yang masih belia yang mengenakan kereta hitam menuju jalan ini, melewati lereng Gunung menuju ke puncak gunung Patuha, tapi tidak ada seorang pun yang mengenalnya”.

Dharmadipa mengangguk-ngangguk “Hmm… Kalau begitu pasti diatas sana ada tempat tinggal seseorang, saya dengar gadis itu berguru pada seseorang yang berdiam di puncak Patuha sana, tidak mungkin gadis itu pergi kesana kalau tidak ada orang yang mau ditemuinya”. 

Mendengar itu, si Nenek menarik-narik baju si Kakek, si Kakek itu paham dengan maksud si Nenek segera mengambil seluruh kayu bakarnya “Maaf Sep, kami tidak berani mengatakan apa-apa lagi pada Asep, selamat tinggal” Kakek dan Nenek itupun meninggalkan Dharmadipa.

“Tolonglah, aku hanya ingin penjelasan kalian!” pinta Dharmadipa.

Kedua orang tua membalikan tubuhnya “Saya sarankan Asep membatalkan niat asep, ada sesuatu yang tidak bisa asep atasi diatas sana, sesuatu yang diliputi misteri yang sangat rahasia, bahkan orang-orang desa disekitar gunung ini tidak ada yang tahu persis ada apa sebenarnya di puncak gunung Patuha ini, punten asep, kami duluan!” setelah berkata begitu kedua orang tua itu langsung berlalu tanpa menoleh lagi. 

Dharmadipa semakin keheranan dan penasaran “Ada apa sebenarnya dengan Gunung Patuha ini?” tanyanya pada diri sendiri sambil memandang berkeliling hutan perawan yang lebat dan ditumbuhi pohon-pohon besar itu.

Dengan semakin diliputi keheranan dan rasa penasaran, Dharmadipa melangkah melepaskan tali kudanya, tiba-tiba kuda itu itu menjadi binal dan meringkik-ringkik, Dharmadipa pun dengan susah payah menenangkan hewan itu, kemudian dengan kira-kira saja ia melanjutkan perjalanannya mengikuti arah angin. 

Hutan yang ia masuki semakin lebat membuat pemandangan disekitarnya menjadi gelap, padahal waktu masih tengah hari! Ia terus masuk ke hutan itu namun nampaklah suatu keanehan, ia malah kembali ke tempat tadi ia bertemu dengan aki dan nini yang sedang mencari kayu bakar “Aneh, kenapa aku bisa berada disini lagi?” pikirnya.

Dia lalu kembali masuk kedalam hutan yang lebat yang tadi ia masuki, tapi lagi lagi ia kembali ke tempat tadi, “Apa tadi seharusnya aku mengambil jalan yang kekanan? Aneh… Mustahil aku bisa nyasar! Aku kan biasa tinggal di pegunungan”. Dengan rasa penasaran yang semakin besar, ia kembali memasuki hutan yang gelap tersebut, di bawah sebuah pohon beringin besar, kuda yang tumpangi menjadi semakin binal sampai Dharmadipa terjatuh dari kudanya, lalu kuda itu kabur berlari meninggalkannya.

Dharmadipa segera bangun dan menguasai dirinya lagi, ia lalu duduk bersila menatap pohon beringin raksasa ini, dia lalu bersidekap mengheningkan cipta sambil mengerahkan tenaga dalamnya “Punten, maafkan saya apabila Eyang disini kurang berkenan wilayahnya dimasuki oleh saya, tapi saya minta izin untuk lewat jalan ini, saya hendak menuju ke puncak gunung Patuha”.

Selesai ia berkata seperti itu tiba-tiba angin berseoran menggoyankan ranting-ranting pohon disekitar sana, daun-daun pun berguguran sehingga menambah seram suasana di hutan lebat nan gelap itu. Dharmadipa lalu bangun dan dengan nekat ia melanjutkan langkahnya, sekonyong-konyong tempat itu dipenuhi kabut putih pekat yang mengalangi pandangan Dharmadipa, ia pun mendengar suara gamelan yang disertai suara rebab dan seruling khas Sunda memainkan lagu yang menyayat hati, untuk kesekian kalinya bulu kuduk pemuda ini berdiri, karena ia merasa tidak ada pilihan, ia pun terus melangkah menembus kabut pekat itu sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk bersiap-siap.

Beberapa saat kemudian kabut itu pun mulai menipis, semakin menipis hingga akhirnya lenyap, tapi Dharmadipa terkejut dan keheranan ketika melihat tempat ia berada sekarang, ia seperti berada di sebuah bukit cadas, ke manapun mata memandang hanya nampak bongkahan cadas-cadas saja, tidak ada pohon maupun tumbuhan lainnya seperti hutan tempat ia berada tadi, dan yang paling aneh adalah hari telah malam ketika ia berada di bukit cadas itu, padahal ketika berada di hutan tadi hari masih siang, bahkan saat Ashar pun belum! Di tengah rasa anehnya, Dharmadipa terus berjalan berkeliling, tiba-tiba… Srookkkk!!! Ia jatuh ke jurang padahal di matanya didepannya tidak ada jurang! “Aaaahhh Guru!!!” jeritnya.

Di tajug Padepokan Sirna Raga, Kyai Pamenang sedang berzikir sambil menunggu saat shalat Ashar tiba, tiba-tiba ia seperti mendengar suara Dharmadipa murid sekaligus anak angkatnya yang terkasih berteriak memanggil namanya, Kyai Pamenang pun terkejut lalu membuka matanya, ia menatap berkeliling “Dharmadipa… Dimana kamu?” bisiknya. 

Setelah menghela nafasnya beberapa kali sambil mengusap wajahnya, sang Kyai lalu menutup kedua mantanya dan membaca doa untuk Dharmadipa “Allahuakbar… Laillahaillallah… Gusti Allah yang maha mendengar lagi maha melihat, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penolong, hamba mohon tolonglah anak hamba, murid hamba Dharmadipa… Sesungguhnya ENGKAU Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hanya kepadaMU lah hamba memohon”.


***


Dharmadipa membuka matanya, ketika itu pula seluruh nyeri dari luka di tubuhnya terasa, ia mengerang kesakitan, setelah kesadarannya pulih, ia melihat kalau ia sedang berada di sebuah gubug reyot, hari pun telah malam. Dengan matanya yang berkunang-kunang ia melihat ada dua sosok orang yang mendekatinya, ternyata mereka adalah si Aki dan Nini yang ia temui di hutan.

Mereka berdua menghampiri Dharmadipa “Aki dan Nini siapa? Dimana aku sekarang?” Tanya pemuda ini.

“Tenanglah sep, Asep jangan banyak bergerak dulu, sekarang Asep ada di rumah kami” jawab si Kakek, sementara si Nenek mengolesi luka-luka di tubuh Dharmadipa dengan semacam parem.


“Alhamdulillah Asep telah selamat, suami saya menemukan tubuh Asep tergeletak didasar jurang” sambung si Nini. 

Dengan kepala yang masih pusing, Dharmadipa mengingat-ngingat apa yang telah terjadi pada dirinya, “Ya aku ingat sekarang, saat melewati sebuah pohon beringin besar tiba-tiba seluruh hutan dipenuhi kabut yang pekat, dan saat kabut menghilang aku berada diatas bukit cadas dan hari telah malam, saat kebingungan sambil mencari jalan, tiba-tiba aku jatuh masuk kedalam jurang, padahal saat itu dihadapanku tidak ada jurang” ceritanya.

“Untunglah Tubuh Asep tertahan semak belukar, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Asep, bersyukurlah pada Tuhan Sep” sahut si Kakek.

Dharmadipa seakan baru teringat pada Tuhannya, selama ia meninggalkan padepokannya ia seolah terlupa pada agamanya “Alhamdulillah…” ucapnya dengan penuh rasa lega, “Hatur nuhun Aki dan Nini sudah menolong saya”.

“Sama-sama, kami hanya kebetulan lewat ke Jurang, rupanya Gusti Allah masih sayang pada Asep dan menuntun kami untuk menemukan Asep” ucap si Aki.

“Dan kami sudah memperingatkan Asep, tidak semua orang bisa masuk ke kawasan Gunung Patuha, tapi nampaknya Asep bersikeras pergi kesana” sambung si Nini.

“Aahhh…” Dharmadipa mengerang sambil bangun untuk duduk “Ya sekarang saya baru yakin, Gunung Patuha memang penuh rahasia seperti yang dikatakan oleh semua orang yang saya tanyai ketika menuju kesini”, pemuda yang mempunyai bentuk rahang yang kokoh ini menghela nafasnya.

“Saya seperti orang bodoh, tiba-tiba seperti orang kebingungan, dan tersesat jalan, bahkan seluruh panca indraku seolah tidak berfungsi sebagaimana mestinya!”

Si Aki lalu memijit pundak Dharmadipa “Banyak yang mengalami nasib seperti Asep, dan sebagian besar kurang mujur, mereka tewas jatuh kedalam jurang”. 

Dharmadipa mengangguk-ngangguk “Ada apa sebenarnya di sana Ki?”

Si Aki menghela nafas “Entahlah sep, penduduk desa Ciwaas maupun penduduk desa lainnya disekitar gunung ini tidak ada yang berani kesana, bahkan ke tempat asep bertemu kami kemarin siang pun mereka tidak berani, tapi keanehan gunung yang selalu ditutupi kabut putih ini pun sering kami rasakan”.

“Kemarin siang? Berarti saya sudah pingsan cukup lama?” Tanya Dharmadipa yang kaget.

“Benar Asep” jawab si Nini.

Dharmadipa pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, “Lalu bagaimana dengan gadis belia yang menaiki kereta hitam yang saya tanyakan?” Tanya lagi Dharmadipa dengan penuh penasaran.

“Oh ya… Gadis belia yang menaiki kereta hitam yang melintasi jalanan di pinggir hutan ini… Kalau ingatanku tidak salah, sejak kecil ia sering bolak-balik kemari, hingga sekitar empat tahun yang lalu kami tidak pernah melihatnya lagi, tapi tiba-tiba beberapa bulan yang lalu kami melihatnya lagi melintasi hutan ini” ucap si Kakek.

“Jadi dulu sewaktu ia masih kecil pun sering melintasi jalan ini menuju ke puncak Patuha?” Tanya Dharmadipa.

“Benar, ia tidak pernah mau untuk singgah di desa, ia selalu singgah di sungai sebelah sana untuk mandi dan minum… Tapi sebenarnya kami tidak ada yang tahu pasti siapa sebenarnya dia, entah apa yang ia lakukan di atas puncak gunung sana… Oya Kuda Asep kami temukan dalam hutan, dia berlari-lari tapi hanya berputar-putar saja, ia seperti ketakutan tapi tidak bisa meninggalkan hutan ini”.

“Ya terimakasih… Tapi dimakah ini sebenarnya Ki? Kalau ini di desa mengapa tempat ini terasa sunyi dan sepi sekali?”.

Si Aki menghela nafas “Gubug ini berada di luar desa Ciwaas, tepat di mulut hutan menuju ke lereng Gunung Patuha, kami memlih hidup disini untuk menyepi”.

Si Nini lalu menepuk bahu Dharmadipa “Sebaiknya Asep istirahat dulu agar asep lekas sembuh, hari sudah larut… Menginaplah dulu di gubug kami ini sampai luka-luka Asep sembuh”.

Dharmadipa mengangguk sambil tersenyum pada si Aki dan Nini “Terimakasih…”

Di Tajug Padepokan Sirna Raga, Tak henti-hentinya Kyai Pamenang mengirim doanya untuk Dharmadipa, setelah sholat Tahajud dan membaca doa-doa, dia memanggil Dharmadipa “Dharmadipa… Pulanglah, kamu masih memerlukan aku, kamu masih harus banyak belajar, banyak yang belum kau ketahui tentang hidup, pulanglah…”.

Dharmadipa yang tertidur di gubug sepasang Aki dan Nini tidak dikenal tiba-tiba terbangun, ia seperti mendengar suara Kyai Pamenang memanggil-manggil namanya, ia pun teringat pada ayah dan ibu angkatnya, air matanya pun mulai mengucur “Ayah… Ibu… Maafkan aku…” semalam itu pun ia tidak bisa tidur dan terus menangis terisak-isak.


***


Di sebuah hutan dekat Padepokan Sirna Raga, Jaka terus melatih pukulan Sirna Raga yang baru saja ia kuasai batu-batu kapur yang besar menjadi sasaran dari pukulan sakti milik Jaka, akan tetapi pukulan sakti yang dimilikinya tersebut masih belum sehebat milik Dharmadipa sebab tenaga dalam Dharmadipa lebih unggul setingkat darinya. 

Kyai Pamenang yang melihat latihan Jaka menghampirinya “Bagaimana Jaka?” tanyanya.

Jaka segera menghentikan latihannya, ia langsung menjura hormat pada gurunya “Alhamdulillah murid sudah mulai bisa menguasainya guru”.

Kyai Pamenang menepuk-nepuk bahu Jaka dengan bangga, hanya dalam tempo beberapa hari, Jaka sudah dapat menguasai ajian pamungkas yang ia ciptakan “Bagus Jaka, kau harus terus menyempurnakan pukulan itu, tapi jangan terlalu memaksakan diri, lukamu belum sepenuhnya sembuh… Bagaimana keadaan lukamu?”

“Sudah tidak apa-apa guru, hanya bekas luka bakar di pinggang saya terkadang masih terasa nyeri” jawab Jaka.

“Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa kita, karena hakekatnya IA jualah yang memberikan kesembuhan, aku Cuma alat, obat hanya lantaran, ingatlah itu baik-baik Jaka, semua yang terjadi di alam semesta ini adalah kehendak Gusti Allah” ucap Kyai Pamenang.

“Baik Guru, murid akan mengingatnya” sahut Jaka.

“Tapi maaf Guru kalau murid lancang… Saya menyesal telah gagal menahan kepergian Kakang Dharmadipa, malah murid meladeni tantangannya” ucap Jaka.

Kyai Pamenang tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Jaka “Orang beriman tidak akan menyesali apa yang sudah terjadi, yang penting ia membuatnya kesalahannya di masa lalu untuk mengingatkan dirinya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa datang”.

Jaka tersenyum mendengar petuah dari gurunya yang bijak itu, “Ternyata saya sama saja dengan Kakang Dharmadipa, masih menjadi budak hawa nafsu”.

Kyai Pamenang tertawa kecil mendengar ucapan murid terkasihnya tersebut “Hehehe… Tipu daya iblis itu memang licik muridku, dia paling gampang masuk lewat harga diri, orang selalu merasa tidak bersalah kalau melakukan apa saja demi harga diri hingga ia tidak sadar sudah terperangkap dalam sikap sombong, angkuh, dan takabur! Padahal antara Harga diri, kesombongan, takabur dan keangkuhan, sulit dibedakan… Maka dari itu pandai-pandailah merendahkan dirimu, bukan untuk menjual harga dirimu, tapi ingatlah bahwa kita semua tidak ada apa-apanya dimata Gusti Allah, dimataNYA kita semua sama, tidak pandang kaya atau miskin, tidak pandang rakyat atau priyayi” jelas Kyai Pamenang sambil tersenyum yang rasanya sangat menyejukan hati Jaka, petuah itu ia resapi dalam-dalam.

Kyai Pamenang lalu melangkah, matanya menatap menerawang keatas langit biru yang cerah tanpa awan “Kau adalah muridku yang paling dekat dengan Dharmadipa Jaka, jangan bosan-bosan memberi nasehat dan pengertian-pengertian padanya, kau harus membatu aku mendidiknya Jaka”. 

Jaka menangguk “Iya guru, saya akan menjalankan pesan guru”.


***


Pada suatu pagi, Dharmadipa yang sudah sembuh keluar dari gubug si Aki dan Nini yang sampai saat ini pun tidak ia ketahui namanya, ia lalu berjalan mengambil tali kekang kudanya “Sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk Aki dan Nini yang sudah merawat saya sampai sembuh” ucapnya. 

Si Aki dan Nini tersenyum “Sama-sama Asep, Asep juga boleh berkunjung lagi kemari kapanpun Asep mau” jawab si Aki.

Dharmadipa pun mengangguk sambil tersenyum, lalu setelah ia mengucapkan salam, ia mulai menjalankan kudanya, tujuh langkah kemudian, sebuah angin besar yang deras bertiup, Dharmadipa melindungi matanya, setelah angin itu reda, ia membuka kembali matanya, alangkah terkejutnya ia ketika melihat tempat dimana ia berada, ia berada di tempat ketika pertama kali bertemu dengan si Aki dan si Nini beberapa hari yang lalu sebelum ia jatuh ke jurang, dengan penuh rasa penasaran, ia menoleh ke belakang, bukan main terkejutnya ia, ternyata ia tidak melihat rumah gubuk si Aki dan Nini yang beberapa hari kemarin ia tempati, ia malah melihat pohon beringin besar yang tempo hari ia lihat didalam hutan yang lebat nan gelap.

Seketika itu juga bulu kuduknya berdiri, tanpa pikir panjang ia memacu kudanya keluar dari hutan itu, untunglah kali ini ia tidak “Disesatkan” atau “Dipermainkan” lagi, ia dapat melihat jalan setapak yang ia lalui beberapa hari yang lalu, ia terus memasuki kudanya memasuki desa Ciwaas, ia kemudian berhenti sejenak di warung makan untuk mengisi perutnya, menurut keterangan pemilik warung, dulu memang ada sepasang kakek nenek yang hidup didalam hutan di sana, tapi mereka sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu! Pemuda yang cepat naik darah inipun berusaha menindih keterkejutannya, setelah selesai makan ia langsung memacu kudanya pulang ke Padepokan Sirna Raga.