Episode 187 - Celaka!


Hah!” Betapa terkejutnya Sayu ketika menyaksikan Bintang Tenggara yang telah berada di luar dimensi ruang persembunyian Silek Linsang Halimun. Padahal, gadis tersebut berniat mengurung lawan. 

“Bagaimana kau bisa keluar dari dalam sana!? Siapakah engkau sebenarnya!?” 

“Sayu, diriku mengetahui bahwa dikau menguasai Silek Linsang Halimun. Percayalah, bahwa jurus tersebut tiada akan mempan terhadap diriku,” ujar Bintang Tenggara. 

Pembawaan anak remaja itu sangat tenang. Meski mengetahui bahwa Sayu tak lain adalah si Penyamun Halimun, ia pun menyadari bahwa Sayu bukanlah pribadi yang buruk budi pekertinya. Setelah menghabiskan beberapa hari terakhir mengamati kegiatan harian Sayu, Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwa gadis belia tersebut justru berhati mulia. Siapa yang rela hidup di panti jompo dan merawat orang-orang tua dengan cuma-cuma…?

“Tiada permusuhan di antara kita… mengapa dikau hendak mencelakai kami!?” hardik Sayu. Kedua bola matanya menatap tajam.

“Ini hanyalah kesalahpaman,” tanggap Bintang Tenggara. “Dikau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sebaliknya… adalah persahabatan yang telah terbangun di antara kita. Diriku akan selalu mengingat bahwa dikaulah yang menyelamatkan di saat hilang kesadaran di tengah hutan jati ini.” 

Bintang Tenggara berupaya memberikan penjelasan, meluruskan kesalahpaman yang terjadi. 

“Omong kosong…,” umpat Sayu. “Kau hanya berpura-pura cedera! Siapa yang mengutusmu!?”

“Namaku sebenarnya adalah Bintang Tenggara, Murid Utama di Perguruan Gunung Agung,” ujar anak remaja itu membuka jati diri. “Sungguh diriku sangat berterima kasih atas pertolongan di hari itu… Mungkin ada baiknya bila diriku mengungkapkan runtutan kejadian yang sebenarnya…” 

Bintang Tenggara lalu membuka ceritera tentang dirinya yang datang ke Kerajaan Parang Batu untuk mengikuti kegiatan Lelang Akbar. Diketahui bahwa salah satu daya tarik dari kegiatan lelang tahun ini adalah keberadaan daun Kelor Keris yang memiki banyak manfaat. Akan tetapi, di saat lelang berlangsung, dua lembar daun tumbuhan siluman nan langka tersebut justru dicuri oleh Sayu, si Penyamun Halimun. 

“Demikian…,” ujar Bintang Tenggara. “Diriku membuntuti dikau. Malangnya, saat memasuki lorong dimensi ruang yang sedang menutup, terjadi sesuatu sehingga berakhir menjadi kecelakaan. Kejadian setelah itu adalah sebagaimana yang kita jalani bersama.” 

“Daun Kelor Keris telah kujual…” 

“Untuk membeli perbekalan panji jompo,” sela Bintang Tenggara. Sampai pada tahap ini, dirinya sudah dapat mencerna motif Sayu sebagai sang penyamun. 

“Betul!” tanggap Sayu cepat. “Bila kau sudah tahu, segera angkat kaki dari tempat ini!”

“Mengapa dikau merawat gerombolan yang dahulu membunuh kedua orang tua lalu menculik dirimu…?” Bintang Tenggara sangat penasaran. 

“Lancang!” tetiba emosi Sayu memuncak. “Apa yang engkau ketahui tentang diriku?!”

“Tiada banyak,” tanggap Bintang Tenggara. Pembawaannya setenang air telaga nan jernih. “Maka dari itulah diriku bertanya.” 

“Pasangan saudagar yang mati kala itu bukanlah orang tuaku!” hardik Sayu. “Sebaliknya, mereka hendak menjualku sebagai budak ke kota! Gerombolan penyamun justru menyelamatkan aku!” 

“Oh…?” Bintang Tenggara mulai dapat menjalin benang merah atas kesetiaan Sayu mengurus para lelaki tua di panti jompo. 

“Ketua gerombolan penyamun mengetahui akan hal tersebut, lalu membawaku ke sarang penyamun. Ia membesarkan aku, mengajarkan keahlian, mewariskan Silek Linsang Halimun…” Raut wajah Sayu sejenak berubah haru. 

“Hm…” Bintang Tenggara akhirnya memperoleh gambaran lengkap. 

“Kau sudah mengetahui bahwa barang yang kau cari sudah tiada lagi,” lanjut Sayu. “Pergilah dari tempat ini!”

Bintang Tenggara mengangguk. Ia lalu mengeluarkan sebuah buntelan kain seukuran satu kepal tangan dari dalam cincin batu Biduri Dimensi. “Keping-keping emas yang kumiliki tiada banyak. Ambillah. Kuharap dikau tiada lagi melakukan kegiatan mencuri.” 

Keping-keping emas yang Bintang Tenggara miliki merupakan hasil dari kejuaran-kejuaraan yang ia jalani, baik saat di Pulau Dewa maupun Kota Ahli. Jumlahnya sekitar belasan keping emas. Awalnya, ia berniat memberikan harta tabungan tersebut kepada Bunda Mayang. Keping-keping emas pastilah sangat berarti bagi Dusun Peledang paus.

“Aku tak butuh belas kasihan!” 

“Anggap saja sebagai bantuan dari seorang kawan,” tanggap Bintang Tenggara. Ia lalu melempar buntelan kain tersebut ke arah Sayu. “Gunakanlah untuk membeli beberapa ekor binatang siluman. Dikau bersama kakek-kakek dapat mulai beternak.”

Sayu hanya diam. Tentu cara mencari penghasilan telah sering ia renungkan. Akan tetapi, kemampuan yang mereka miliki adalah mencuri saja. Tak terbayangkan bilamana mereka harus beternak binatang siluman. Bukan pekerjaan yang gampang karena mereka tiada memiliki pengetahuan yang memadai. 

“Bila dikau memaksa, maka diriku akan segera angkat kaki. Akan tetapi, diriku dapat tinggal untuk mengajarkan cara beternak yang benar,” sambung peternak unggul Bintang Tenggara. 

“Enyahlah!” Sayu tak mudah berubah pikiran. Baginya, mencuri jauh lebih mudah daripada memulai sesuatu hal yang baru. 

“Diriku akan pergi dari tempat ini. Dan janganlah khawatir, karena diriku pun tiada akan membocorkan rahasia tentang keberadaan tempat ini.”

Bintang Tenggara menyadari bahwa tak akan mudah mengubah mereka yang telah terbiasa dengan mencuri. Di saat yang sama, dirinya juga sudah dapat menyimpulkan alasan mengapa panti jompo tersebut sangatlah terasing, bahkan tersembunyi walau berada di wilayah Partai Iblis sekalipun. Sesungguhnya tempat tersebut merupakan bekas sarang penyamun, dan para lelaki tua di sana merupakan mantan penyamun. Walau sudah bertahun-tahun pensiun, pastilah banyak yang masih memburu keberadaan mereka, entah itu demi menegakkan keadilan, atau mungkin karena hendak menuntut balas akan dendam kesumat. 

 …

 

Matahari bersinar terik. Panasnya seolah-olah dapat menguapkan cairan otak, sehingga seorang ahli akan mudah naik darah. Seorang anak remaja melangkah membelah padang rumput nan luas. Ia sedang menuju kota terdekat. Harapannya, dari kota tersebut, ia dapat menemukan dan menggunakan gerbang dimensi ruang. 

Diketahui bahwa dirinya kini berada di dalam wilayah Partai Iblis, lebih tepatnya Pulau Tiga Bengis. Bintang Tenggara tiada memiliki seorang pun kenalan di pulau ini. Oleh karena itu, dirinya berpikir untuk menumpang gerbang dimensi ruang menuju Pulau Dua Pongah. Dari sana, ia akan bertemu dengan penguasa pulau, yang merupakan ayahanda Lampir Marapi. Tentunya kembali ke wilayah Negeri Dua Samudera akan menjadi lebih mudah. 

Di kejauhan, terlihat gerbang menuju ke dalam kota. Bintang Tenggara mempercepat langkah, karena teriknya mentari demikian menyiksa. 

Kota tersebut rupanya merupakan pusat perdagangan. Berbagai macam gerai berjajar menjual berbagai jenis kebutuhan. Bintang Tenggara menyapu pandang. Di salah satu sudut, ia mendapati sesuatu yang tak bisa. Segera ia melangkah menghampiri…

“Pengemis Utara…,” sapa Bintang Tenggara ringan. 

Si pengemis, yang tak lain adalah saudagar antar pulau Panggalih Rantau, mendongak. Tetiba wajahnya berubah haru, sekaligus riang. Ia pun segera berdiri dan menarik lengan Bintang Tenggara. 

“Adik Bintang! Sungguh yang Maha Kuasa maha pemurah. Tiada kuduga kita akan bersua.” Kegembiraan Paggalih Rantau tiada disembunyikan.

Lelaki dewasa muda tersebut lalu menjabarkan kisahnya. Di malam itu, kala ia melompat ke dalam gerbang dimensi ruang untuk menyusul Penyamun Halimun, terjadi penyimpangan arah. Bintang Tenggara sudah mengetahui akan hal ini. Janganlah sekali-kali mengerahkan teleportasi saat masuk ke dalam gerbang dimensi, karena dipastikan akan menyimpang arah. Panggalih Rantau masih beruntung, bagaimana jika misalnya penyimpangan arah membawa ke kawah gunung berapi…?

Panggalih Rantau rupanya sangat menjiwai penyamaran sebagai pengemis. Di saat membuntuti Penyamun Halimun di ibukota Kerajaan Parang Batu, ia tiada membawa harta benda sama sekali. Ia hanyalah bermodalkan pakaian rombeng yang dikenakan. Sungguh sebuah dedikasi dalam penyamaran. 

Walhasil, ketika mencapai kota ini, Panggalih Rantau tiada memiliki harta benda berharga barang sepeser pun. Tanpa identitas sebagai anggota Partai Iblis, dirinya pun berisiko ditangkap. Demikian, terpaksalah ia benar-benar menekuni profesi sebagai pengemis. Kasihan sekali.

“Kakak Panggalih, mari kita membeli pakaian yang layak.” Bintang Tenggara masih memiliki beberapa keping perunggu dan perak. 

“Adik Bintang, di kala mengemis, diriku mendengar selentingan kabar yang sangat bermanfaat,” ujar Panggalih Rantau. Ia kini mengenakan pakaian serba baru. Sungguh berwibawa seorang saudagar di kala bergaya. 

“Apakah gerangan…?”

“Penyamun Halimun telah menjual selembar daun Kelor Keris!” 

“Selembar…?” Bintang Tenggara terlihat keheranan. Bukankah Sayu mengatakan bahwasanya telah menjual kedua lembar daun tersebut…? Ia membatin.

“Kemudian, daun tersebut akan dilelang di pasar gelap.” Panggalih Rantau berbisik pelan… “Malam ini!” 

“Akan tetapi, kita tiada memiliki keping-keping emas untuk ikut serta dalam kegiatan lelang…”

“Kita akan mencurinya!” sergah Panggalih Rantau. 

“Tidak!” tegas Bintang Tenggara. Apa guna dirinya menasehati Sayu agar tak lagi mencuri, bilamana dirinya malah akan mencuri. 

“Kita berada di wilayah Partai Iblis. Siapa yang dapat memperkirakan apa yang akan dilakukan oleh anggota Partai Iblis yang memiliki daun Kelor Keris?” 

Bintang Tenggara menggelengkan kepala. Bersikukuh untuk tak beranjak dari keputusannya.

“Bagaimana bila daun itu nantinya dijadikan bahan dasar racun pemusnah massal…? Bagaimana bila racun tersebut digunakan untuk menyerang Negeri Dua Samudera…? Berapa banyak nyawa orang-orang tak berdosa akan menjadi korban…?” 

Panggalih Rantau membujuk ibarat hendak menjual barang dagangan yang sudah lama tak laku. Segenap daya upaya ia kerahkan. Pengalaman memang tak bisa dibohongi.

Raut wajah Bintang Tenggara sedikit berubah. Kata-kata Panggalih Rantau sulit untuk didebat. 

“Mencuri daun Kelor Keris dari tangan anggota Partai Iblis sama dengan menegakkan kewajiban kita sebagai warga Negeri Dua Samudera yang bertanggung jawab!” Panggalih Rantau mengangkat dagu. Penampilannya ibarat seorang pahlawan yang baru saja memenangkan perang besar. 

“Bagaimana cara kita mencuri daun tersebut…?” Bintang Tenggara luluh. 

“Tentu saja dengan memanfaatkan Silek Linsang Halimun!” Bilamana Penyamun Halimun dapat melakukannya, maka kita pun pastilah bisa.” 

Bintang Tenggara masih sedikit bimbang. Akan tetapi, dirinya tiada pula menolak rencana Panggalih Rantau. 

“Adik Bintang tiada perlu meragu. Diriku yang akan mencuri, sedangkan Adik Bintang mengawasi saja.”

“Akan tetapi, terdapat satu permasalahan. Hanya warga Partai Iblis yang diperkenankan mengikuti lelang tersebut. Selain itu, kegiatan lelang di pasar gelap terbatas hanya pada anggota tertentu sahaja.”

“Kakak Panggalih janganlah khawatir.”


“Tunjukkan jati diri kalian!” tegas seorang penjaga bertubuh besar. 

Tabir malam baru saja turun. Suasana yang ia sajikan bertolak belakang dengan siang hari tadi. Di malam hari, hembusan angin malam terasa dingin. Hamparan bintang-bintang yang menggantung di langit semakin menyejukkan suasana. 

Dua orang ahli terlihat berdiri menghadap membelakangi sepasang pintu kayu. Suasana remang-remang hanya diterangi oleh beberapa bongkah batu kuarsa. Pasar gelap adalah sesuai namanya. Gelap.

Bintang Tenggara mengeluarkan sebuah lencana dari dalam cincin batu Biduri Dimensi. Ia lalu menyodorkan lencana tersebut kepada si penjaga. 

“Hah!” si penjaga terperangah. Ia sedang mencermati lencana yang berwarna keemasan itu. 

Dari rangkaian koleksi lencana milik Bintang Tenggara, lencana yang satu ini merupakan salah dari isi cincin batu Biduri Dimensi yang diberikan kepada dirinya. Adalah Lampir Marapi yang memberikan sebagai hadiah sesaat anak remaja itu meninggalkan Pulau Dua pongah menuju Kota Ahli. Bersamaan dengan lencana tersebut, Bintang Tenggara memperoleh paket Sirih Reka Tubuh, sejumlah ramuan serta makanan ringan. Ada pula beberapa lembar baju dan celana remaja lelaki yang sedang tren, yang sempat beberapa kali dikenakan. 

“Maafkan kelancangan hamba.” Pembawaan si penjaga berubah drastis. “Sudi kiranya perwakilan dari Istana Gubernur Pulau Dua Pongah duduk di bangku kehormatan.” 

Keduanya melangkah masuk dan menemukan beberapa meja nan bundar yang dikelilingi oleh enam sampai delapan bangku. Di ujung terdapat sebuah panggung kecil. Sejumlah ahli terlihat menunggu dengan sabar. Tak sulit untuk menebak bahwa mereka menantikan kesempatan untuk menawar daun Kelor Keris sebaik mungkin. 

Tak lama berselang, semakin banyak ahli yang menghadiri lelang tersebut. “Tuan dan Puan, sekalian, terima kasih telah datang pada malam hari ini. Tanpa membuang-buang waktu, maka kami persembahkan Daun Kelor Keris!” 

Sesi pembukan dan pengenalan berlangsung cepat. Pembawa acara sigap menaikkan harga sesuai dengan nilai yang diajukan oleh para hadirin. “Daun Kelor Keris ini…,” akhirnya si pembawa acara akan menyimpulkan. “Kini menjadi hak milik Bupati Selatan Pusau Lima Dendam!”  

“Eh?” Bintang Tenggara terpana di kala dari meja lain, seorang lelaki dewasa muda bangkit berdiri! 

“Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!” Panggalih Rantau merapal jurus. Sesuai rencana, lelaki tersebut akan merampas daun Kelor Keris. 

“Tunggu!” sergah Bintang Tenggara. 

“Syuut!” Tetiba Panggalih Rantau berkelebat tepat ke arah selembar daun kelor keris di atas panggung. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya ditutupi oleh kain berwarna putih. 

“Maafkan diriku, wahai hadirin sekalian,” Panggalih Rantau berujar santun, tangannya pun bergerak cepat. “Daun Kelor Keris ini, telah menjadi hak milik… Penyamun Halimun!” 

Panggalih Rantau mengulang kata-kata Penyamun Halimun di kala beraksi di Balai Lelang. Sepertinya ia hendak menjadikan pencuri tersebut sebagai kambing hitam atas hilangnya daun Kelor Keris kali ini. Setelah itu, segera ia hendak melarikan diri…

“Daya Tarik Bumi, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan!” 

Belum sempat merapal teleportasi jarak dekat kedua. Tubuh Panggalih Rantau terkunci di tempat. Sebuah kekuatan berwujud genggaman tangan raksasa serta merta menggenggam tubuhnya.  

“Celaka!” umpat Bintang Tenggara.