Episode 186 - Petuah Tuan Guru



“Apa maumu!? Mengapa engkau mencari Bintang Tenggara!?” sergah seorang gadis berambut ikal panjang nan mengembang. Spontan ia melangkah maju. Emosi Lamalera tetiba lepas kendali. 

“Heeeei...,” Resi Gentayu berbisik. “Gadis montok itu berada pada Kasta Perak Tingkat 5... sebaiknya dikau lebih berhati-hati.” 

Lamalera tiada mendengar nasehat dari sang Resi. Kesaktian unsur angin dikerahkan di kala ia merangsek maju. Di kedua tangannya, Tempuling Malam diangkat setinggi daun telinga, siap menikam siapa pun juga. 

Embun Kahyangan melangkah gontai. Perlahan, ia mengangkat lengan lalu bergumam pelan... 

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo…”

Kabut berwarna ungu tetiba turun dan menyebar pekat. Lamalera tiada berdaya di kala pandangan mata dirampok dan jalinan mata hati disekap. Di dalam wilayah kabut ini, hanya ahli yang berada pada kasta atau tingkatan yang lebih tinggi dari sang perapal yang dapat mengatasi pengaruh kabut. 

“Angin Monsun Barat, Bentuk Pertama: Menabur Angin Menuai Badai!” 

Angin dingin dan lembab tetiba terasa berhembus. Sebuah dinding yang terbuat dari angin, tetiba mencuat dan membentengi tubuh Lamalera dari jalinan kabut. Tidak hanya sampai di situ, angin juga berputar mengelilingi tubuh Lamlera. Tiada terlalu lama waktu yang diperlukan bagi hembusan angin mengurai dan mendorong pergi kabut pekat di wilayah itu. 

Embun Kahyangan menghentikan langkah. Awalnya ia memandang sebelah mata gadis yang hanya berada pada Kasta Perunggung Tingkat 9 itu. Serangannya tadi pun merupakan sekedar upaya untuk menghentikan gerakan lawan di hadapan. Padahal, biasanya setelah menjebak lawan, dirinya akan melakukan serangan susulan menggunakan senjata rahasia. 

“Angin Monsun Barat, Bentuk Kedua: Angin Berputar, Ombak Bersabung!”

Angin berpilin deras di kedua kaki Lamalera. Langkah larinya berubah menjadi seolah meluncur, dan ia terlihat sedikit melayang di atas permukaan tanah. Sekali gadis itu melangkah, maka setara dengan lima atau enam langkah berlari. Kecepatan memburunya melesat lurus, mirip seekor harimau yang mengejar dan hendak menerkam lawan! 

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Kedua: Kabut Oro-oro Ombo…”

Kabut kembali turun dan menyebar, kali ini tipis adanya. Tak perlu meragu, bahwa memang Embun Kahyangan belum hendak bertarung serius. Dirinya hanya berupaya menjebak lawan di dalam kabut halusinasi. Ia pun kembali melangkah menuju Resi Gentayu. Ahli yang berpenampilan layaknya kakek tua itu, menunjukkan gelagat bahwa dia mengetahui tentang keberadaan Bintang Tenggara. 

Menyaksikan jalinan kabut yang tercipta dari jurus lawan kembali turun, kali ini Lamalera cukup sigap menghindar. Ia segera mengubah lintasan berlari dan melesat ke samping. Kemudian, seketika ujung kakinya menemukan pijakan, Lamalera melenting tinggi ke udara. Tempuling Malam siap menikam!

Embun Kahyangan, meski berada pada Kasta Perak tiada mungkin menerima secara langsung tikaman tempuling. Ia bergeser ke samping, membiarkan Tempuling Malam melesak ke dalam tanah. 

“Srek!” Jeruji pada bilah senjata pusaka pemberian Mayang Tenggara itu mencuat menusuk! 

Embun Kahyangan kembali memilih jalan menghindar. Kali ini, ia bahkan mundur beberapa langkah ke belakang. Dengan kata lain, ia dipaksa menjauh dari tempat Resi Gentayu berdiri di depan sana. 

Merasa berada di atas angin, Lamalera tampil beringas. Sahabat masa kecil Bintang Tenggara itu segera melancarkan serangan susulan. Kesempatan yang terbuka di dalam pertarungan, segera dimanfaatkan sebaik mungkin. Tempuling Malam pun menikam, menebas, mengincar bertubi-tubi.

Embun Kahyangan bertanya-tanya. Lawan kali ini jelas-jelas jauh lebih lemah, akan tetapi dirinya justru merasakan semacam tekanan. Terlepas dari itu, Embun Kahyangan juga menyadari bahwa dirinya baru beberapa saat lalu menerobos ke Kasta Perak. Ia belum memiliki cukup waktu untuk membiasakan diri dengan kekuatan yang diperoleh. 

Sebaliknya, Lamalera tiada mengendorkan serangan. Kelincahan kesaktian unsur angin yang dikombinasikan dengan kepiawaian dalam mengerahkan tempuling, menjadi andalan dalam menekan lawan. Baginya, lawan ini merupakan sebuah ancaman. Apakah itu ancaman terhadap jiwa Bintang Tenggara, ataukah ancaman terhadap hubungan mereka, Lamalera tiada peduli. Nalurinya sebagai seorang perempuan mengisyaratkan sebuah ancaman. Titik!

Raut wajah Embun Kahyangan berubah. Ia mulai kelihatan sebal menghadapi lawan kali ini. Tiada permusuhan di antara mereka, namun mengapa gadis itu demikian getol hendak mencelakai dirinya? 

 “Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo…”

Lamalera segera melesat menghindar dari ruang lingkup kabut yang membatasi indera penglihatan serta indera keenam. Ia sudah dapat membaca pola serangan lawan. Gadis yang mengenakan kembem tipis dan ketat, sehingga menampilkan lekuk tubuh secara berlebihan, tiada banyak bergerak. Mungkin karena khawatir akan kembennya melorot, sehingga serangan sepenuhnya mengandalkan unsur kesaktian kabut dari jarak jauh. 

“Perhatikan pertarungan ini dengan seksama,” gumam Kum Kecho kepada ketiga budaknya. “Apa pandangan kalian?” 

“Gadis kabut itu kurang kreatif. Masa ia hanya menggenakan kemben? Seharusnya ia menambahkan beberapa aksesoris lain…,” tanggap perancang busana Melati Dara. 

Kum Kecho seolah tiada mendengar. Bukanlah soal busana inti dari pertanyaan yang ia ajukan. 

“Diriku merasakan semacam pergolakan batin dari gadis berambut ikal panjang itu. Ini adalah pertarungan nan syahdu...” Giliran Dahlia Tembang menyampaikan pandangan. 

Kum Kecho menyadari bahwa Dahlia Tembang merupakan pribadi yang sangatlah peka. Akan tetapi, bukan itu juga jawaban yang ia harapkan. 

“Salah satu dari mereka akan kalah,” jawab Seruni Bahadur.  

Nah, akhirnya… sedikit mendekati. Ada juga yang benar-benar mengamati pertarungan sebagai sebuah pertarungan. Namun demikian, jawabannya masih terlalu umum. Pastilah ada yang menang dan kalah dalam sebuah pertarungan. Dalam situasi tertentu, mungkin pula akan imbang. 

Kum Kecho menghela napas panjang. Apakah ada yang salah dari cara ia mendidik ketiga muridnya ini…?

Menanggapi kabut nan menggumpal, Lamalera mundur secepat mungkin. Ia menjaga jarak, dan tindakan ini tidaklah susah bagi ahli yang memiliki kesaktian unsur angin. Sepanjang berada di luar jangkauan kabut, maka dirinya merasa paling aman…

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati…”

Lamalera terkejut bukan kepalang ketika arah dimana dirinya melarikan diri, telah menunggu jalinan kabut tipis. Ia tiada menyangka lawan memasang perangkap. Akibat kecepatan unsur angin, dirinya terlambat mengganti arah berlari! 

Seketika memasuki wilayah kabut, Lamalera secepatkan berupaya merapal tembok angin untuk mengusir kabut. Akan tetapi, terlambat sudah. Ia tiada dapat bergerak barang sedikit pun, karena kabut ini berfungsi mengunci gerak tubuh. Selintas bayangan mencuat di dalam ingatan Lamalera. Saat berada di dalam alam bawah sadar yang diciptakan Lintasan Saujana jiwa, dirinya juga terpasung tiada berdaya ketika berhadapan dengan hantu nan ungu. Apakah ini petanda…? 

“Buk!” Tinju lengan kanan Embun Kahyangan mendarat telak di ulu hati. Kekuatan hantaman membuat Lamalera terbatuk dan memuntahkan darah.

Bagaimana mungkin lawan yang masih terpaut jarak cukup jauh dapat muncul seketika di hadapan? Lamalera tak habis pikir. Bukankah gadis berkemben ini hanya bertarung menggunakan kabut-kabut ungu!? Lamalera tiada mengetahui bahwa Embun Kahyangan merupakan seorang pembunuh bayangan. Agaknya, Bintang Tenggara melupakan fakta penting ini, atau Lamalera yang tiada mengingat rincian ceritera. 

Sebagai pembunuh bayangan, Embun Kahyangan terlatih dengan jurus-jurus persilatan yang mengandalkan kecepatan. Jurus-jurus persilatan tersebut memanglah tanpa nama, karena merupakan gerakan-gerakan dasar yang ia peroleh sebagai murid yang tumbuh di Padepokan Kabut. Kecepatan merupakan syarat mutlak bagi pembunuh bayangan untuk dapat menjalankan misi, penting di saat menyerang maupun menghindar. 

Mata melotot menahan rasa sakit dan sebal di hati, Lamalera mulai menyadari bahwa dirinya memang tiada berdaya. Latihan keras yang ia jalani hanya berujung kesia-siaan. Hanya sampai sebatas inikah kemampuan diri ini? Apakah Guru Mayang salah memilih murid? Apakah aku memang ditakdirkan untuk menatap pundak? 

Bagi seorang ahli, kondisi hati yang kalang-kabut, putus asa, merupakan saat yang paling rapuh. Indera keenam menjadi tumpul, dan tubuh menjadi lemah. Lamalera bahkan tiada menyadari bahwa setelah tinju ke ulu hati, lengan kiri Embun Kahyangan yang menggenggam sebilah kerambit, mengincar urat leher… 

Bila telah mengambil keputusan untuk menyerang, maka seorang pembunuh bayangan tiada akan bertindak setengah-setengah! 

“Duar!” 

Sebuah ledakan menghantam bahu Lamalera! Gadis tersebut terpental dan jatuh terjerembab. Luka bakar menyengat perih, dan ia kembali memuntahkan darah… sampai dua kali. Akan tetapi, kini ia terlepas dari ancaman kerambit yang mengincar urat leher. Kedua mata gadis tersebut menatap nanar ke arah sosok hitam yang berada tak terlalu jauh. 

Dua ekor kutu melompat-lompat di tempat. Betapa girang hati mereka menantikan kesempatan untuk meledakkan diri… padahal tindakan tersebut berarti kematian. Apalagi, seekor kutu teman mereka telah berkorban penuh bakti. Pemilik kutu-kutu itu berdiri tenang. Ia menatap balik ke arah Lamalera. 

Lamalera, yang menderita luka dalam sekaligus luka luar, jatuh kehilangan kesadaran. 

“Utangku atas penggunaan Lintasan Saujana Jiwa sudah terbayar lunas!” hardik Kum Kecho di saat menoleh ke arah Airlangga, alias Resi Gentayu. 

Sungguh anak remaja itu mengambil sebuah tindakan yang amat taktis. Kum Kecho tak hendak berurusan dengan Embun Kahyangan, karena tersimpan risiko yang cukup besar bila memupuk permusuhan dengan pemilik salah satu Senjata Pusaka Baginda. Ingatannya masih cukup segar akan kedigdayaan Jenderal Kedua dari Pasukan Bhayangkara. Oleh karena itu, demi menyelamatkan Lamalera, ia justru membokong Lamalera. Di saat yang sama, tindakan menyelamatkan Lamalera, ditujukan untuk menghapus utang budi atas penggunaan Lintasan Saunjana Jiwa kepada Airlangga.

Resi Gentayu membalas tatapan Kum Kecho dalam diam. Sebagai ahli tingkat tinggi, apalagi sebagai Pendiri Perguruan, dirinya tak hendak campur tangan ke dalam pertempuran ahli kasta rendahan. Dirinya tentu saja akan menyelamatkan Lamalera, yang akan dilakukan pada detik-detik terakhir. Tindakan tersebut sangatlah mudah bagi dirinya yang dapat mengerahkan kemampuan Kasta Bumi. Malah, ahli Kasta Emas pun dapat dengan mudah menghentikan Embun Kahyangan. 

Kum Kecho lalu memutar tubuh. Bersama rombongannya, segera ia meninggalkan Lintasan Saujana jiwa. 

“Diriku sedang menjalankan tugas dari Puan Mayang.” Tetiba Embun Kahyangan berujar kepada Resi Gentayu. Ia tiada mempedulikan kepergian Kum Kecho.  

Di lain sisi, Resi Gentayu tadinya hendak menahan kepergian Kum Kecho. Setidaknya ia hendak sekedar bertegur sapa dengan sahabat lama. Apalagi, Elang Wuruk sempat dianggap telah lama mati. Namun demikian, mendengar nama Mayang Tenggara, ia pun bergidik. Daripada nantinya Mayang Tenggara datang bertandang, lebih baik segera mengusir gadis pemilik Selendang Batik Kahyangan itu. 

“Bintang Tenggara telah kembali ke Pulau Dewa,” jawab Resi Gentayu cepat. 


Mentari jelang siang panas membakar. Ombak menghantam sebuah kota pelabuhan, terdengar menggelegar. Aroma laut, keringat dan darah binatang siluman bercampur-baur lalu menyebar. Ribuan ahli berlalu-lalang menjalankan kegiatan, menjadi bagian dari hiruk-pikuk di kota kedua terbesar. 

Empat sosok serba hitam tiada berbaur dengan ahli-ahli kebanyakan. Mereka melangkah menyusuri gang-gang kecil nan gelap dan lembab di Kota Baya-Sura. Sungguh misterius sekali. 

“Saudari Pertama,” tegur Dahlia Tembang. “Mengapa jubah jalinan rambut yang dikau kenakan berwarna hitam… sedangkan rambut di kepalamu kini berwarna putih?”

“Oh… ini?” Melati Dara seolah sedikit melompat centil. “Wahai Saudari Kedua, berkat kemampuan mata hati yang meningkat, diriku dapat lebih leluasa mengelola jalinan rambut. Bukan hanya panjang dan pendek, warnanya pun kini dapat kuubah sekehendak hati.” 

“Benarkah…?” sela Seruni Bahadur. “Bila demikian, maka rambut Saudari Pertama dapat menggantikan benang.” 

“Iyyyaaaa…” Melati Dara semakin centil.

Tetiba sosok yang melangkah paling depan menghentikan langkah. Ia lalu memutar tubuh. Raut wajahnya berang. Ketiga gadis belia menjadi salah tingkah.

“Tujuanku membawa kalian ke dalam Lintasan Saujana Jiwa bukan untuk bermain-main!” sergah Kum Kecho. Sudah cukup lama dirinya menahan diri. Sejak pembahasan celana dalam, lalu pertanyaan yang ditanggapi melantur, dan kini urusan rambut berwarna-warni!

Ketiga gadis langsung terdiam. Bila Tuan Guru Kum Kecho kembali membawa mereka masuk ke dalam dimensi ruang berlatih dengan suasana hati seperti ini, maka tak terbayang penderitaan yang akan mereka alami. Bahkan, penderitaan niscaya berlangsung berkali-kali lipat. 

Usai memberi amaran, Kum Kecho kembali meneruskan langkah…

“Tunggu!” Tetiba terdengar suara memangil dari arah belakang.

Spontan, keempat tokoh serba hitam menoleh ke arah datangnya suara. 

Seorang gadis belia, berambut ikal mengembang, berdiri terengah. Bahu kanannya dibungkus perban, kemungkinan besar akibat luka bakar. Ia menatap tajam ke arah rombongan Kum Kecho. 

“Kau… murid Mayang Tenggara. Aku tak butuh ungkapan terima kasih,” sergah Kum Kecho. 

Lamalera tak tahu atas alasan apa dirinya menyusul rombongan tersebut. Mungkin karena memang hendak menyampaikan ungkapan terima kasih kepada Kum Kecho yang telah menyelamatkan jiwanya… Mungkin pula karena penasaran pada jati diri tokoh yang mengenal Mayang Tenggara dan Resi Gentayu… Mungkin ada alasan lain yang belum dirinya ketahui…

“Perkenankan aku mengikuti kalian…” Tetiba kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Kata-kata tanpa rencana. 

Semalaman Lamalera merenungi keadaan dirinya sendiri. Kalah telak. Disadari bahwa ia sangatlah beruntung menjadi anak didik Mayang Tenggara dan Resi Gentayu. Akan tetapi, perlu diakui bahwa hal tersebut juga merupakan sebuah kekurangan. Dengan kata lain, ia menumbuhkan keahlian di dalam lingkungan perguruan yang aman dan tenteram. Hal ini bertolak belakang dengan Bintang Tenggara yang berpetualang dan terjerumus ke dalam berbagai situasi yang membahayakan jiwa. 

Dari segi teknik, Lamalera jelas lebih unggul. Akan tetapi, pengalaman dan naluri bertarungnya tiada terasah. 

“Kau hendak menjadi budakku…?” 

Lamalera terpana. “Menjadi… budak…?”

“Kami adalah budak dari Tuan Guru!” tegas Melati Dara. 

Lamalera terperangah. Benaknya berpikir keras. Benar bahwa dirinya perlu menyelami jalan berliku dunia keahlian, namun bukan berarti berpetualang sebagai budak. Tidak mungkin! Guru Mayang pastilah murka! 

Batin Lamalera kembali gamang.

“Setiap ahli memiliki jalan mereka masing-masing.” Tetiba Kum Kecho berujar. “Engkau harus menemukan jalan itu.”

“Jalan…?” 

Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha.” Kum Kecho memberi petuah. (1)

Lamalera semakin terpana. Tiada ia mengerti sepatah kata pun dari ucapan Kum Kecho. 

“Menyerbu tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan, kesaktian tanpa ajian, kekayaan tanpa kemewahan,” lanjut Kum Kecho. “Sebagai ahli hendaknya berani meski sebatang kara, teguh hati, percaya diri, serta bersahaja.” 

Lamalera mencerna dalam diam. Kum Kecho bersama rombongannya melangkah pergi. 



Catatan:

(1) Salah satu falsafah Jawa.