Episode 8 - Delapan


Hampir seharian Laksa Jaya menunggu di gardu jaga, akan tetapi sepenuhnya ia dilayani dengan baik oleh prajurit-prajurit yang berada di sekitarnya. Ia merasakan ada yang perubahan besar yang terjadi di Kahuripan. Bahkan ia sempat melihat seorang pencuri yang pernah ditangkapnya berjalan beriringan dengan satu dua prajurit yang meronda.

“Perubahan seperti apa yang terjadi di kota ini?” ia bertanya-tanya dengan pandang mata yang ia lepaskan dari balik jendela. Laksa Jaya benar-benar digelayuti pertanyaan yang besar karena perubahan yang terjadi di balik dinding kota memang tidak seperti ketika ia menemui seorang kerabatnya beberapa pekan yang telah lewat. Ia melihat seorang prajurit dengan seenaknya berkata-kata tidak sepatutnya ketika serombongan orang melewati gardu jaga. Di tempat lain ia menyaksikan seseorang melakukan perampasan tetapi hanya dilihat saja oleh prajurit peronda. Kekacauan benar-benar terjadi di Kahuripan sepeninggal Bhre Kahuripan.

Sementara itu ia mendengar langkah orang yang mendekatinya. Seorang lelaki yang bertubuh gemuk segera menyapa lalu berkata,”aku melihat tanda di pakaianmu, Ki Sanak. Sebentar lagi aku akan mengantarmu menemui Ki Cendhala Geni.”

Laksa Jaya semakin terkejut mendengar nama Ki Cendhala Geni disebut oleh prajurit yang gemuk itu. Agaknya prajurit itu menyadari bahwa orang yang sedang duduk di depannya tidak mengerti perkembangan yang terjadi di dalam kota.

“Apa yang menjadikanmu terkejut, Ki Sanak?”

“Kau sebut nama Ki Cendhala Geni, bukankah ia orang yang masih dalam pencarian Ki Rangga Ken Banawa?”

“Tentu saja kau tidak mengerti,” kata orang gemuk itu lalu berjalan mendekati Laksa Jaya,” terjadi perubahan dalam pemerintahan Kahuripan. Ki Cendhala Geni kini adalah seorang patih yang berdampingan dengan Ki Srengganan.”

“Kapan itu terjadi? Aku tidak melihat bekas peperangan di dalam kota,” Laksa Jaya mengerutkan kening. 

“Tidak ada peperangan yang terjadi. Semua terjadi dalam waktu yang sangat singkat,” lelaki gemuk itu menarik nafas panjang. Lantas ia melanjutkan,”sementara Bhre Kahuripan menuju kotaraja, Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni segera mengambil alih kedudukan.”

“Dan kalian tidak melawan?”

“Untuk apa aku melawan mereka berdua? Apalagi kini aku adalah seorang lurah prajurit. Aku naik selapis setelah belasan tahun menjadi prajurit rendahan sepertimu!” kata lelaki gemuk itu dengan membusungkan dada. Ia meneruskan,”sudah sepantasnya orang itu diganti dengan mereka yang berwawasan luas. Bhre Kahuripan sama sekali tidak berbuat apapun untuk kota ini.” Lelaki gemuk itu mencibir pemimpin sebelumnya. Lalu ia mengajak Laksa Jaya untuk segera menemui Ki Cendhala Geni.

Laksa Jaya cepat menguasai diri saat berhadapan dengan kenyataan yang tidak ia perkirakan sebelumnya. “Perubahan ini akan menjadi kebaikan bagiku dan Patraman.” Ia tersenyum sendiri dan mempercepat langkahnya mengikuti lelaki gemuk yang berada di depannya.

Setelah melewati beberapa penjagaan dan menjawab satu dua pertanyaan, Laksa Jaya berdiri tegak berhadapan dengan seorang lelaki yang masih terlihat segar meski usianya lebih dari setengah abad.

“Ki Cendhala Geni, kiranya sangat tersanjung dapat bertemu dengan Anda,” Laksa Jaya membungkukkan tubuh dengan tangan menjura ke arah Ki Cendhala Geni.

“Siapakah engkau Ki Sanak? Seorang Majapahit datang kemari tentu dia telah memiliki puluhan nyawa. Dan pastinya engkau adalah orang hebat sehingga mampu menemukanku,” Ki Cendhala Geni memuji Laksa Jaya. Dalam hatinya dia menduga bahwa orang yang berada di depannya ini tak ubahnya seorang pecundang sebagaimana pejabat lainnya di Kahuripan.

“Ki, bukanlah kehebatanku tetapi nama Ki Cendhala Geni mampu menembus sekat-sekat yang ada,” Laksa Jaya berkata sambil tersenyum.

“Baiklah. Apa keperluanmu kemari, anak muda? Aku seorang patih di kota ini!”

“Aku kemari untuk membantumu menuntaskan perhitungan dengan Ken Banawa.”

“Jangan menjadi gila dengan perintah semacam itu! Kau seorang lurah prajurit yang tidak mengerti keprajuritan. Sekali lagi aku katakan padamu, aku seorang patih di kota ini dan nyawamu saat ini ada berada di ujung jariku,” Ki Cendhala Geni membentak marah karena merasa diremehkan oleh Laksa Jaya.

“Tidak, Ki Patih,” sesal Laksa Jaya yang segera menyadari kesalahannya. Lalu,” ini sama sekali bukan kegilaan. Aku datang kemari dengan kerja sama yang saling menguntungkan. Aku akan membawa Kademangan Wringin Anom untuk tunduk padamu dengan satu persyaratan.”

“Kau benar-benar tidak tahu diri, anak muda!” kata Ki Cendhala Geni lalu tawanya berderai. Kemudian,”sebutkan syaratnya?”

“Aku meminta pertukaran dengan Arum Sari. Engkau membawa Arum Sari, aku berikan Kademangan Wringin Anom padamu.”

“Siapakah dia?”

“Ia adalah anak perempuan Ki Demang Wringin Anom. Dan prajurit yang di sana telah berada dalam satu perintah. Bukankah seperti ini yang kau inginkan?” berkata Laksa Jaya.

“Siapa lurah di sana?”

“Patraman,” tegas Laksa Jaya menjawab. Sementara Ki Cendhala Geni menganggukkan kepala karena sebelumnya telah didatangi oleh orang yang juga menemui Patraman. Meskipun rencana itu tidak sepenuhnya disetujui oleh Ki Srengganan akan tetapi ia lebih memilih untuk diam.

 “Engkau benar-benar dungu! Maka dengan begitu Patih Mpu Nambi akan datang dengan melibas kita semua. Terutama setelah aku terbunuh maka engkau akan mendapat kepangkatan lebih tinggi,” derai tawa Ki Cendhala Geni membahana memenuhi ruangan yang luas itu. 

“Tidak! Majapahit tidak akan berani melakukan itu. Sri Jayanegara terlalu lemah untuk pekerjaan berat seperti itu. Sementara aku akan meminta bantuan kepada teman-temanku di kotaraja untuk mengalihkan perhatian mereka,“ Laksa Jaya pun melanjutkan,” perampokan yang dilakukan gerombolanmu itu berbeda dengan apa yang akan kita lakukan ini.”

“Aku dengarkan pendapatmu,” kata Ki Cendhala Geni sungguh-sungguh.

“Ki Cendhala Geni, aku menawarkan kepadamu pasukan berkuda sejumlah kekuatan Ki Nagapati. Namun sebelumnya aku meminta kepadamu untuk menculik Arum Sari, putri dari Ki Demang Wringin Anom. Setelah itu bawalah dia ke sebuah rawa di utara hutan bambu di Ujung Galuh. Aku dan Patraman akan menunggumu disana.” Laksa Jaya mencoba untuk memberi paparan singkat tentang kemungkinan pengejaran yang akan dilakukan Ken Banawa. “Selain itu,” lanjut Laksa Jaya,” Ki Patih Mpu Nambi tidak akan gegabah mengirimkan puluhan pasukan berkuda jika dia tahu Arum Sari ada di tanganmu. Kawanku di kotaraja dapat mengambil alih pengejaran ini dan meminta Ki Patih menugaskan Ki Banawa, maka dengan begitu beberapa orang yang engkau pilih dapat menuntaskan Ken Banawa.”

“Anak ini berkata benar. Memang seperti itulah rencana yang akan dijalankan,” Ki Cendhala Geni mendesis sambil menatap tajam Laksa Jaya. 

“Ubandhana,” ia menoleh ke arah Ubandhana yang berdiri di sebelahnya,”apa engkau bisa lakukan itu untukku?” tanya Ki Cendhala Geni dengan sedikit dagu terangkat.

“Serahkan padaku, Ki Patih. Percayalah mana mungkin aku mengkhianati kiai. Tentu aku tidak akan mengecewakanmu.”

“Baiklah,” Ki Cendhala Geni kemudian meminta kedua lelaki muda itu untuk lebih mendekat. Laksa Jaya lantas membeberkan rencana selanjutnya termasuk jalur yang harus dilewati oleh Ubandhana untuk sampai di sebuah rawa yang berada di utara Ujung Galuh.  

Sementara di tempat lain seorang perwira berpangkat rendah yang menyelinap keluar dari lingkungan kota Kahuripan, akhirnya tiba di kotaraja sesaat sebelum fajar berpendar. Tanpa banyak kesulitan ia memasuki gerbang kotaraja. Para prajurit yang berjaga sudah banyak mengenalnya sebagai seorang perwira yang dipercaya Dyah Witarja. Perwira bertubuh gempal dan agak tinggi ini segera menuju ke sebuah rumah yang biasa ditempati oleh Bhre Kahuripan jika sedang berkunjung ke kotaraja.

Pengawal yang berada di regol halaman segera mengantarnya masuk menemui Bhre Kahuripan.

“Ada apa kau pagi-pagi telah menyusulku kemari, kakang?” bertanya Dyah Gitarja dengan tatap mata penuh selidik.

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam, sejenak ia membenahi letak duduknya lalu,”aku kemari karena Kahuripan telah dikuasai oleh Ki Srengganan dan kawanan Ki Cendhala Geni. Tidak banyak yang dapat aku lakukan selain menggeser pasukan yang masih setia kepadamu.”

Dyah Gitarja yang masih berdiri tegak menggeram marah. Wajahnya memerah akan tetapi ia masih dapat menahan diri. Kemudian kata Bhre Kahuripan,”kemana kau menggeser pasukan itu, kakang?”

“Mereka masih di dalam kota, Sri Batara. Aku meminta mereka untuk tunduk pada Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni,” jawab orang yang dipanggil kakang.

“Kau sama sekali tidak melakukan perlawanan? Lalu bagaimana aku dapat kembali ke Kahuripan?” Dyah Gitarja hampir-hampir tidak dapat menahan diri untuk berteriak. Dyah Gitarja kemudian menghempaskan tubuhnya ke sebuah lincak bambu yang berada di sebelah sebuah guci besar.

“Katakan padaku, kakang Gajah Mada. Katakan jika kau sebenarnya memang memiliki rencana untuk menghalau mereka keluar?” Bhre Kahuripan bertanya kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

“Aku memang sengaja membiarkan mereka menguasai kota dan keraton. Beberapa prajurit telah bersiap sebelum ada Pasowan Agung di Paseban,” Gajah Mada menunggu Bhre Kahuripan mengucapkan kata-kata. Setelah beberapa saat, ia meneruskan,”kabar mengenai Ki Srengganan yang berencana menguasai kota sebenarnya telah aku dengar sepekan sebelumnya. Akan tetapi, maafkan aku, aku tidak memberitahumu.” Gajah Mada menatap lurus wajah Bhre Kahuripan. Gajah Mada mendesah dalam hatinya,”aku terpaksa melakukan itu karena hampir di setiap jenjang keprajuritan dan pelayan telah berisi orang-orang Ki Srengganan.”

“Apakah itu berarti kau telah tidak percaya kepadaku,kakang?“ datar Dyah Gitarja bertanya. Kemudian,”tetapi baiklah. Tentu saja kita harus bertemu dengan Sri Jayanegara dan Ki Patih Mpu Nambi terutama mengenai Kahuripan,” kata Dyah Gitarja. Lalu ia melanjutkan,”sebaiknya kakang katakan rencana itu di nanti saat kita bertemu Sri Jayanegara dan Ki Patih Nambi. Sementara kakang dapat beristirahat dulu di gandok kanan. Kakang tentu lelah berjalan sepanjang malam.” Dyah Gitarja juga melihat Gajah Mada mengalami kelelahan jiwa yang luar biasa. Betapa Gajah Mada memendam rahasia beberapa lama mengenai Ki Srengganan yang sebelumnya seorang Patih Kahuripan telah berencana menyingkirkan Dyah Gitarja sebagai penguasa yang sah. “Tentu ia merasa bersalah. Aku tahu bagaimana perasaan kakang Gajah Mada mengenai pembangkangan ini.” Dyah Gitarja bergumam dalam hatinya sambil mengantarkan Gajah Mada menuju biliknya.

Matahari yang bersinar cerah menerangi bumi kotaraja akan tetapi tidak mampu mengusir bayangan gelap yang menggelayut dalam benak Gajah Mada. Bhre Kahuripan, Gajah Mada dan beberapa pengawal berjalan beriringan menuju keraton untuk bertemu dengan Sri Jayanegara dan Ki Patih Mpu Nambi.

Tak lama kemudian mereka telah duduk melingkar di dalam ruangan yang aroma wanginya memenuhi setiap bagian. Sri Jayanegara yang masih berusia sangat muda terlihat tenang saat membuka pertemuan yang sangat penting itu. Di sebelahnya seorang lelaki dengan pakaian berwarna merah dengan sulaman benang emas menebar pandang menatap satu per satu orang yang di sekelilingnya. Ki Patih Mpu Nambi terlihat sangat gagah dan wibawa besar memancar keluar dari sorot matannya. Dyah Gitarja dan Gajah Mada duduk berhadapan dengan kedua orang tertinggi di Majapahit. 

“Berita apa yang kau bawa kemari, Dyah Gitarja?” Sri Jayanegara bertanya setelah sepatah dua patah ia ucapkan untuk mengawali pertemuan.

Perempuan yang usianya sudah menjelang dewasa itu menoleh sesaat pada Gajah Mada, lalu menarik nafas panjang. Kemudian bibirnya bergerak,”kakang Gajah Mada yang membawa berita dari Kahuripan.”

“Bukankah aku mendengar jika sebenarnya kau ingin aku mengirim tambahan prajurit untuk menambah keamanan di kotamu?” Sri Jayanegara bertanya dengan alis sedikit terangkat. Bergantian ia memandang kedua tamunya.

“Yang kau dengar adalah keinginanku sebelum kedatangan kakang Gajah Mada tadi pagi.”

Kini Ki Patih Mpu Nambi lurus melihat wajah Gajah Mada yang terlihat tegang. Bibirnya terkatup rapat sementara wajah Gajah Mada sedikit menghadap ke meja.

“Ada apa di Kahuripan, Gajah Mada?” bertanya Ki Patih.

Nafas Gajah Mada terdengar panjang dilepaskan. Ia mencoba menata dirinya sebelum menyampaikan keadaan Kahuripan di depan kedua penguasa Majapahit. Ia bergeser mundur sejengkal. Lalu dengan dada tegak ia berkata,”Ki Srengganan telah menguasai pemerintahan Kahuripan sepeninggal Bhre Kahuripan.” Singkat Gajah Mada menyampaikan berita akan tetapi Sri Jayanegara terlihat pucat dan menatap wajah Gajah Mada dengan mulut ternganga.

Sri Jayanegara dengan nafas sedikit memburu lalu melirik Ki Patih dan bertanya,”lalu apa yang harus aku lakukan, paman? Sementara saat ini Ki Nagapati telah memusatkan perhatiannya ke kotaraja.” Tiba-tiba ia berdiri,”aku tidak akan pernah memberi apa yang diinginkan Ki Nagapati!” Suara Sri Jayanegara cukup lantang terdengar dan cukup mengagetkan tiga orang yang duduk di sekelilingnya. Kemudian ia menghadap Ki Patih,”katakan paman, aku harus berbuat apa?” Ia menghentak-hentakkan kakinya dan keresahan sangat jelas terpancar dari raut wajahnya.

Mata yang menyorotkan wibawa dan ketenangan itu menyapu pandangan sekelilingnya. Ia bangkit lalu berkata,”Gajah Mada, kau harus kembali ke Kahuripan dan susun pasukan yang berada di balik dinding kota. Dan aku akan perintahkan Ki Rangga Ken Banawa pergi mencari Ki Nagapati, akan tetapi jika pembicaraan itu gagal maka aku sendiri yang menghadapi Ki Nagapati. Dan pada saat itu terjadi Ki Banawa harus membawa pasukannya menuju Kahuripan.” 

Sri Jayanegara merasa dadanya menjadi lapang mendengar rencana singkat Ki Patih Mpu Nambi. Ia menyandarkan punggungnya dan berkata,”aku akan panggil Ki Rangga datang ke ruangan ini.” Lalu ia meminta seorang penjaga untuk memanggil Ken Banawa dan memintanya untuk datang secepatnya. 

“Masuklah, paman Banawa!” kata Dyah Gitarja setelah seorang penjaga melaporkan kedatangan Ki Rangga Ken Banawa, senapati tangguh yang selalu menolak anugerah jabatan karena merasa pengabdiannya yang masih belum sempurna, yang datang bersama Bondan. Penjaga pun mengatakan pada empat orang yang ada di dalam ruangan itu jika Ki Rangga Ken Banawa tidak datang seorang diri.

“Seorang anak muda bernama Bondan?” alis Sri Jayanegara sedikit mengkerut seperti mengingat sesuatu. Ia tidak melepaskan pandang matanya dari sosok Bondan yang berjalan di belakang Ken Banawa. “Usia anak muda yang bernama Bondan mungkin tidak terpaut jauh denganku. Tetapi siapakah dia? Sementara paman Patih Nambi seperti sudah mengenalnya.” Sri Jayanegara masih bertanya-tanya dalam hatinya. Pada saat itu kemudian Ki Rangga Ken Banawa duduk berdampingan dengan Bondan dan diapit oleh Dyah Gitarja serta Gajah Mada. 

“Baiklah, kita semua telah lengkap,” kata Ki Patih Mpu Nambi ketika melihat orang-orang telah mengatur diri mereka masing-masing. Ia terdiam sesaat, lalu katanya,”kakang Ken Banawa, aku akan katakan singkat mengenai kehadiran Bhre Kahuripan dan Gajah Mada di ruangan ini.” Lalu ia menceritakan semua yang telah dilaporkan oleh Gajah Mada. Sementara Ki Rangga Ken Banawa dan Bondan sesekali menganggukkan kepala. 

“Dan sekarang aku bertanya padamu, kakang,” Ki Patih Mpu Nambi memandang Ken Banawa yang masih belum bersuara.”Apakah kakang mempunyai gambaran singkat tentang rencana yang akan dilakukan jika aku serahkan pemecahan persoalan ini pada kakang?”

Tiba-tiba Sri Jayanegara berseru,”aku ingat sekarang!” Lalu ia bertanya kepada Bondan tentang kedua orang tua dan keadaan di Pajang. Mendengar seruan Sri Jayanegara, Bondan hanya tersenyum lalu menjawab semua pertanyaan raja Majapahit yang berusia lebih muda sedikit darinya. Setelah mendengar jawaban Bondan, wajah Sri Jayanegara terlihat berseri-seri lalu ia berkata,”dengan demikian, bertambah satu kekuatan lagi untuk kerajaan kita. Baiklah, aku serahkan kembali ke paman Patih Nambi.” Sri Jayanegara mempersilahkan Ki Patih untuk kembali ke pokok persoalan. Ki Patih Mpu Nambi mengangkat tangannya pada Ken Banawa.

“Gambaran singkat tentang kekuatan prajurit yang diuraikan Ki Lurah Gajah Mada masih tersimpan di balik dinding kota, aku kira sudah cukup untuk melumpuhkan Ki Srengganan dari dalam. Dan aku sendiri akan mencoba untuk memutuskan semua jalur yang menghubungkan Kahuripan dengan daerah yang lain,” tegas Ken Banawa.

Gajah Mada pun kemudian menyatakan pendapatnya dan rencana yang ia pikirkan ternyata membuat kagum setiap orang yang mendengarnya. Sebuah keyakinan atas kemampuan yang ia miliki ditambah kepercayaan pada dukungan pasukan Ken Banawa menjadikan Gajah Mada berani menempuh resiko dengan menangkap secara langsung Ki Srengganan di dalam keraton.

“Sebuah langkah yang berbahaya, akan tetapi mungkin itu juga akan menjadi satu-satunya jalan menghindari pertumpahan darah yang sia-sia,” kata Sri Jayanegara lalu menyetujui semua pendapat orang-orang dan meminta Ki patih Mpu Nambu untuk segera merangkai semua rencana-rencana yang disepakati.

Demikianlah yang terjadi di pusat kotaraja ketika Laksa Jaya sedang menemui Ki Cendhala Geni di balairung keraton Kahuripan. Laksa Jaya telah mengutarakan semua rincian rencana di depan Ki Cendhala Geni dan Ubandhana. Ki Cendhala Geni pun meminta Ubandhana segera bersiap berangkat pada malam hari sehingga pekerjaan itu dapat dimulai besok ketika pagi telah tiba. Ubandhana tidak keberatan dengan permintaan itu. Laksa Jaya pun segera meminta diri dan kembali menuju barak prajurit Majapahit di Wringin Anom.

Keesokan harinya. Setelah memperoleh keterangan dari seorang penduduk yang dia jumpai di jalan, Ubandhana yang disertai oleh Ibhakara segera berjalan dengan cepat menuju rumah ki demang di Wringin Anom. Dari jarak sekitar sepuluh langkah, dua orang penjaga berhasil dilumpuhkan tanpa suara dengan senjata rahasia Ibhakara yaitu mata tombak berukuran jari kelingking orang dewasa. Secepat kilat kedua orang ini melintasi jalan dan melayang dengan cepat memasuki rumah ki demang. Mereka segera menuju bilik pustaka sesuai keterangan yang diberikan oleh Laksa Jaya. Arum Sari segera roboh pingsan sebelum menuntaskan pertanyaannya pada tamu tak diundang karena satu jari Ibhakara yang bergerak cepat menotok jalan darahnya. Tanpa kesulitan, kedua orang ini membawa keluar sang putri dari bilik pustaka.

“Hei! Berhenti!” Seorang prajurit yang sedang meronda memergoki sesaat mereka keluar dari pintu bilik. Dua mata tombak kecil menembus tenggorokan dan prajurit pun roboh. Ubandhana melayang melewati tembok yang menjadi dinding halaman rumah ki demang. Begitu ringan dan cepat sekalipun Arum Sari berada di pundaknya. Mereka berdua berlari cepat melintasi padang rumput yang tak begitu luas dan menghilang di lembah kecil tempat mereka menambatkan kuda. Dari situ mereka menyusuri jalan kecil menuju Ujung Galuh. 

Kejadian yang begitu cepat ini tetap tidak sesuai harapan Ubandhana karena satu teriakan seorang perempuan seolah mengguncangkan seisi bangunan. Seorang pelayan yang tengah berjalan menuju bilik pustaka terkejut mendapati seorang pengawal tergeletak bersimbah darah. Teriakan-teriakan segera bersahutan dan Patraman pun segera berlari cepat menuju bilik pustaka.

“Ki Lurah! Arum Sari telah diculik!”

“Suruh beberapa orang untuk mengawasi jalan utama. Yang lain segera laporkan Rajapaksi agar menutup jalan ke barat. Kita paksa mereka menuju Trowulan. Jangan biarkan mereka lolos!” Patraman segera memacu kuda ke arah yang ditunjukkan seorang pengawal. Patraman melakukan pengejaran beserta empat orang pengawal yang juga menguasai ilmu yang sebanding dengan sepuluh orang. 

Setelah melintasi perbatasan Kademangan Wringin Anom, Patraman memerintahkan mereka untuk menyebar ke beberapa pedukuhan kecil yang berada di sekitar kademangan. Patraman sendiri membelokkan arah menuju pendapa kademangan. Menjelang senja Patraman terlihat memasuki halaman pendapa kademangan. Beberapa orang terlihat olehnya sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Ketika dirinya sudah berada di pendapa maka terlihat olehnya Rajapaksi, Ki Demang, Ki Jayabaya dan beberapa pemimpin pengawal serta beberapa pemimpin dari padukuhan di sekitar Wringin Anom.

Ki Demang segera menggelar pertemuan dengan beberapa pemimpin pasukan. Sejumlah rencana pencarian untuk menyelamatkan Arum Sari terus dibicarakan hingga menjelang malam. Setelah merasa cukup dengan keterangan yang diperolehnya dari Rajapaksi, Patraman pun segera mohon diri untuk mengatur pengejaran. “Bagaimanapun penculikan ini adalah tanggung jawabku sebagai pimpinan tertinggi pasukan Majapahit di Wringin Anom ini. Tentu aku tidak akan menyerah begitu saja tetapi akan aku kerahkan bantuan dari Trowulan, Ki Demang.”

“Memang sebaiknya begitu, Ki Lurah Patraman. Meskipun begitu kejadian ini bukanlah harapan setiap orang yang ada di pendapa ini. Dan semestinyalah kita meningkatkan penjagaan serta pengawasan yang lebih ketat di kademangan,” demikian kata Ki Demang sambil menutup pertemuan.