Episode 6 - Enam



Bondan kembali terpental cukup jauh akan tetapi Ubandhana yang bernafsu membunuhnya terus berupaya untuk mengirimkan gempuran bertubi-tubi.

“Ubandhana, awas!” muncul diantara jilatan lidah api sebatang panah yang meluncur deras sedang mengarah ke punggung Ubandhana. Seruan Ki Cendhala Geni menghindarkan ancaman bahaya itu dari Ubandhana yang segera menghindar ke samping. 

Tak lama kemudian, tiba-tiba kobaran api berkibar-kibar tertiup angin kencang layaknya seekor kobra yang akan mematuk Ubandhana. Dari balik nyala api yang cukup besar seorang lelaki muda memutar pedangnya hingga angin yang keluar dari pedangnya sanggup menghempaskan jilatan api ke Ubandhana. Gumilang Prakoso melayang deras dari balik kobaran api lalu menghujani Ubandhana dengan tusukan pedang yang bertubi-tubi. Dilanjutkan dengan gerakan memutar pedangnya, Gumilang menghujani Ubandhana dengan tendangan demi tendangan yang susul menyusul secara beruntun. Serangan yang sangat berbahaya ini mampu melenyapkan nyawa Ubandhana dalam sekejap saja jika dia tidak segera memutar tombaknya untuk menutupi dirinya bak perisai besi.

Di bagian sayap yang lain terdengar gemuruh bala bantuan dari Trowulan yang bersamaan dengan masuknya Gumilang Prakoso ke medan yang telah dibasahi darah. 

Prajurit yang baru memasuki arena pertempuran itu seperti rajawali yang menyambar mangsanya. Kuda-kuda mereka berkelebat seperti bayangan hantu yang menebar kematian. Tak berapa lama kemudian keseimbangan pertempuran mulai dirasakan oleh para pengawal Ki Guritno. Robohnya Ranggawesi dan Ki Lurah Guritno sangat mengganggu semangat mereka dalam bertempur. Namun kehadiran seorang anak muda yang tidak mereka kenal telah membakar harapan mereka untuk bangkit melawan tekanan para penyamun. Sekalipun mereka belum mengenal tetapi mereka tahu bahwa anak muda itu bertempur di sisi mereka. Bantuan pasukan berkuda yang datang itu akhirnya dapat mengangkat kembali ketenangan dan kematangan para prajurit Majapahit dalam bertempur. Sehingga para pengawal yang nyaris saja kalah kini justru mampu meredam perlawanan dari jiwa-jiwa yang kalap dan putus asa dari para penyamun. Perlahan namun pasti para prajurit ini mulai mendesak penyamun. 

Malam semakin larut tetapi tak juga menuntaskan setiap tetesan darah yang terus menerus mengalir membasahi tanah. Aroma amis segera merebak memenuhi udara malam bercampur dengan bau hangus yang berasal dari mayat yang terbakar dan bara api pada setiap kayu semakin menyesakkan dada. Beberapa orang dari kawanan penyamun yang memilih untuk bunuh diri daripada mati dibunuh oleh prajurit Majapahit menjadi pemandangan mengerikan dan menggetarkan jantung. Para penyamun yang diselimuti rasa malu jika tertangkap hidup-hidup semakin menjadikan hawa maut berkuasa mencengkeram malam.

Sementara di sisi yang lain, Ken Banawa segera menghantam Ki Cendhala Geni dengan busurnya. Kecepatan perwira ini memang mengundang decak kagum. Betapa dia segera melesat seolah berlomba dengan anak panah yang dilontarkan ke Ubandhana. Dan langsung menyerang Ki Cendhala Geni. Tak ingin membuang waktu, segera Ken Banawa menghunus pedangnya dan melakukan serangan gencar ke arah Ki Cendhala Geni. 

Ki Cendhala Geni memutar-mutar kapaknya untuk menghadapi seorang perwira Majapahit mempunyai kemampuan hampir berimbang dengannya. Melihat situasi yang sudah tidak menguntungkan dirinya karena bala bantuan dari Trowulan juga sudah mulai menghukum mati para penyamun, Ki Cendhala Geni dengan cepat melayang ringan mendekati sebuah gubuk yang seperti bukit berapi. 

Ken Banawa yang tak ingin lawannya yang selama ini telah menebar ketakutan dapat lolos dari penyerbuan ini pun segera mengejarnya. Namun Ki Cendhala Geni dengan cerdik memanfaatkan panasnya api dan bara api yang berserakan sebagai tameng bagi dirinya. Dia memutar-mutar kapak dan serpihan bara api berterbangan berlomba-lomba mencapai Ken Banawa. Hujan api itu sangat merepotkan perwira wreda ini yang lekas-lekas memusingkan pedangnya seperti kitiran. Beberapa saat lamanya Ken Banawa kerepotan dengan hujan api dan Ki Cendhala Geni memanfaatkan kesempatan itu untuk menyisih dari laga dan segera menghilang di balik api yang menjilat-jilat tak tentu arah

Ubandhana yang melihat Gumilang Prakoso bertarung dalam kecemasan karena luka parah yang diderita Bondan, segera menarik seorang prajurit dan dilemparkan ke arah Gumilang Prakoso. Gumilang Prakoso cepat menghentikan serangan dan menangkap tubuh prajurit yang melayang deras ke arahnya. Kesempatan ini dimanfaatkan Ubandhana untuk melompati kobaran api dan menghilang di kegelapan hutan sebelah selatan Sumur Welut.

Melihat lawannya telah kabur, Gumilang segera mengangkat tubuh Bondan keluar dari arena pertempuran dan mencoba untuk merawat sekedarnya. Kemudian dibantu oleh seorang prajurit maka tubuh Bondan sudah berada diatas kuda. Dua ekor kuda segera menghilang dalam gelapnya malam.

Kaburnya Ki Cendhala Geni dan Ubandhana, membuat para penyamun bertarung dengan kesetanan. Mereka sudah meyakini akan dijemput maut bila mereka menyerah kepada Majapahit. Nampaknya penyamun ini lebih memilih mati dengan bertarung. Para penyamun yang kini sudah tak bertuan lagi semakin kejam dan ganas membabatkan senjata ke arah prajurit Majapahit. Tidak membutuhkan waktu lama bagi laskar Majapahit ini untuk menumpas habis kawanan penyamun yang sangat meresahkan Kademangan Sumur Welut. 

Sementara itu Gumilang berkuda nyaris tanpa henti menuju padepokan Mpu Gandamanik di Gunung Semar yang sebenarnya merupakan sebuah bukit kecil di sebelah aliran Sungai Brantas. 

Mpu Gandamanik mempunyai nama besar sebagai satu-satunya orang yang pernah mengalahkan Ki Cendhala Geni ketika mereka berdua masih berusia muda. Dan pertarungan itu hanya terjadi sekali dalam sepak terjang mereka selama malang melintang dalam pengembaraan. 

Ufuk timur mulai menampakkan kemerahan ketika Gumilang tiba di depan pintu padepokan.

“Bondan menderita luka yang cukup parah, Gumilang. Bagus untuknya karena engkau telah menutup jalan darah yang menuju telinga kirinya,” sambut Mpu Gandamanik sambil menatap tubuh yang tergeletak lemas di pembaringan. Ia bergeser maju dan meraba pergelangan tangan Bondan, Mpu Gandamanik segera tahu bahwa Bondan menderita luka-luka dalam yang cukup parah. Beberapa pembuluh darah Bondan mengalami gangguan hingga menyebabkan urat halus pendengarannya terganggu.

Sementara penyelesaian bagi para penyamun yang tersisa di Kademangan Sumur Welut dituntaskan oleh Ra Caksana, maka untuk kemudian Ken Banawa segera menyusul ke Gunung Semar. 

“Gumilang, aku hanya semalam menemanimu. Paman akan segera kembali ke Trowulan dan akan paman sampaikan tentang keadaan Bondan,“ Ken Banawa berkata sambil menuangkan air ke mangkuknya. 

“Bondan benar-benar melakukan ini tanpa perhitungan yang mapan. Dia belum tahu siapa itu Ki Cendhala Geni. Dan bagaimanapun juga, Bondan memang tangguh. Sedikit pertarungan yang dia jalani namun mampu mengimbangi Ki Cendhala Geni,” ujar Ken Banawa sembari menggelengkan kepala. Dia memejamkan mata sambil menikmati secangkir air hangat yang telah dicampur dengan rempah-rempah. Sungguhpun dia menganggap perbuatan Bondan itu sangat nekad tetapi dia juga bersyukur bahwa seandainya tidak ada Bondan mungkin saja prajurit Majapahit yang dipimpin Ki Guritno akan dihabisi tanpa menyisakan satupun yang hidup. Kenekadan Bondan ternyata membawa arti tersendiri seperti pertolongan bagi prajurit yang menjadi bawahan Ki Guritno. Kehadiran Bondan dan perlawanan yang dia lakukan terhadap Ki Cendhala Geni dan Ubandhana tanpa disadari telah mengulur waktu.

“Bukankah memang itu watak Bondan, paman? Dia semenjak kecil selalu ingin tahu dan selalu ingin mengalami sendiri suatu kejadian. Sekalipun itu mengancam keselamatannya sendiri. Dan aku kira watak itu ada sedikit berubah setelah menginjak usia seperti ini tapi ternyata Bondan masih seperti saat dia masih kecil,” Gumilang memandang tubuh lemas Bondan dan menggelengkan kepala.

Ken Banawa melewatkan malam yang dinginnya hingga menusuk tulang dengan bersemedi. Di usianya yang menjelang senja itu, seorang Ken Banawa sudah merasakan banyak pahit getir dan kebahagiaan dalam hidupnya. Sepanjang hidupnya yang dia tahu hanyalah sebuah pengabdian. Pengabdian untuk raja, untuk kerajaan dan rakyat yang dilindunginya. Ken Banawa hanya merasakan kebahagiaan yang tak terkira ketika dia berhasil menunaikan satu pengabdian. Malam itu terbayang dalam benaknya semua peristiwa-peristiwa di masa lalu, tentang pertumpahan darah, perselisihan dan segala masalah yang pernah dia hadapi. Dalam semedinya, dia hanya ingin merasakan bahwa dia tak pernah ada. 

Di bilik yang lain, Gumilang masih terheran dengan tindakan Bondan di Sumur Welut. Betapa dia seorang diri dan tidak mengenal satu orang pun namun berani mengambil keputusan yang terbilang nekad untuk memasuki sarang penyamun yang dipimpin seorang tokoh terkemuka olah kanuragan.

Hampir setiap hari selama beberapa waktu, Mpu Gandamanik pergi ke hutan mencari akar dan dedaunan yang dapat dijadikan ramuan untuk pengobatan Bondan. Dan setiap kali pula Mpu Gandamanik banyak memberi wejangan kepada Bondan. Betapa suatu ketenangan hampir selalu memberi hasil yang berbeda. Karena ketenangan itu hanya diperoleh dan hanya dimiliki oleh seseorang yang mampu menaklukkan bukit emosi dalam dirinya. Balas dendam yang didasari oleh kebenaran pun sering kali justru menemui kegagalan. Namun di sisi lain, sebuah kejahatan yang dilakukan dengan tenang malah banyak menuai hasil kemenangan. Marah, balas dendam atau karena harga diri sering membutakan mata hati seseorang. Sehingga orang itu tidak dapat lagi melihat kenyataan di sekitar dirinya. Dia juga tak akan mampu mengukur ketinggian sebatang pohon kelapa meskipun sudah dibekali kemampuan serta alat untuk pekerjaan itu. 

Mpu Gandamanik yang sudah mengenal Bondan sejak kecil merasa sangat sayang pada lelaki muda ini. Banyak wejangan dan pandangan hidup diajarkan padanya dan di sela-sela kesibukannya merawat luka-luka Bondan. Bahkan Mpu Gandamanik juga mengajarkan beberapa pengetahuan kanuragan yang belum pernah dilihat Bondan ketika bersama dengan Resi Gajahyana. Dalam beberapa pertarungan yang dia alami dan menyaksikan laga di beberapa sayembara pun juga tidak pernah dia melihat jurus yang mirip dengan apa yang diajarkan oleh Mpu Gandamanik. 

Dua pekan berlalu dan Gumilang yang setia menemani Bondan pun mulai mengajaknya untuk kembali melenturkan otot-otot yang mulai enggan untuk bergerak. Mpu Gandamanik merasa bahagia melihat kemajuan yang dicapai Bondan. Dia pun sudah merasa cukup untuk merawat Bondan.

“Bondan, sudah saatnya engkau pergi dari sini. Eyang sudah melihat dirimu sehat seperti semula hanya beberapa latihan lagi engkau akan seperti sedia kala,” tutur Mpu Gandamanik dengan lembut kepada lelaki yang sudah dianggapnya seperti cucunya sendiri.

“Eyang, sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disini,” ujar Bondan dengan kepala tertunduk. Dia mulai merasa akan kehilangan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya setelah Resi Gajahyana dan bibinya.

“Tidak Bondan. Semakin engkau lama bersamaku, engkau akan menyesali keputusanmu itu,” Mpu Gandamanik mengusap kepala Bondan sambil berkata lembut.

“Disini aku merasakan ketenangan, eyang. Ketenangan yang belum pernah aku rasakan sejak meninggalkan Pajang. Ijinkanlah satu purnama lagi,” pinta Bondan mencium tangan Mpu Gandamanik.

“Justru itulah aku akan merasa bersalah kepada saudaraku, Resi Gajahyana. Lihatlah dirimu sekarang, engkau berusia muda dengan pengetahuan yang hampir menyamai seorang resi dan kemampuan yang sebanding dengan beberapa orang sakti. Tidak! Kamu belum saatnya untuk bertempat di sini,” senyum Mpu Gandamanik benar-benar meluluhkan hati Bondan yang tadinya sudah berniat kuat untuk lebih lama lagi di lereng Gunung Semar. 

Seringkali perpisahan menjadi hal yang dapat menunda sebuah kebahagiaan. Atau bahkan juga sebuah perpisahan seringkali menjadi awal kebahagiaan. Namun bagi Bondan yang semasa kecil pernah merasakan limpahan kasih sayang dari Mpu Gandamanik kini seolah mengulang lagi peristiwa belasan tahun yang lalu. 

Di usia yang masih sangat muda itu Bondan belum memahami arti penting dari sebuah perpisahan. Kali ini dia merasakan kehampaan dalam hidupnya untuk kedua kali. Gumilang seolah merasakan kegelisahan hati Bondan pun segera bangkit mengajak Bondan untuk meninggalkan Mpu Gandamanik. Sekalipun dalam hati Gumilang ingin mengajak serta tabib yang rendah hati ini ke Trowulan tetapi dia tahu bahwa eyang sakti ini akan menolak ajakannya.

Tak berapa lama kemudian, Bondan serta Gumilang mohon pamit untuk kembali ke Trowulan kepada Mpu Gandamanik.

“Eyang, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.” Bondan menundukkan kepala.

“Tataplah ke depan, ngger. Aku tahu engkau akan mengalami penempaan luar biasa,” sahut Mpu Gandamanik kemudian.

Setelah itu kedua anak muda ini memacu kuda perlahan menuju Trowulan. 

Beberapa lama setibanya di Trowulan, Bondan melakukan meditasi dalam bilik gelap yang dibangun untuknya oleh Nyi Retno Ayu Indrawati di sebelah utara Candi Brahu. Dia sedang menjalani tahap terakhir penyembuhan dirinya yang terluka yang didapatnya dalam pertarungan di Sumur Welut. Untuk itulah dia berlatih dalam ruang gelap supaya daya ketajaman pendengarannya segera pulih. Terkadang dia berlatih di bawah gemericik air terjun kecil yang dibuatnya sendiri. Tak jarang pula dia berlatih tanding dengan Gumilang Prakoso dalam keadaan mata tertutup diiringi tabuhan-tabuhan yang berisik.

Dalam lengang di sekitar candi terdengar teriak Bondan kesakitan dari dalam bilik gelapnya.

“Ada apa, Bondan?” seru Sela Anggara yang segera menerobos masuk bilik yang berdinding batu itu. Sela Anggara segera merengkuh tubuh Bondan dan dibawanya keluar.

“Jangan engkau paksakan dirimu, Bondan. Harusnya engkau sedikit bersabar. Semakin engkau paksa dirimu, luka-luka itu akan semakin susah untuk sembuh,” kata Sela Anggara yang terkejut melihat darah yang keluar dari telinga Bondan.

“Iya. Aku sedikit memaksa kali ini. Aku pikir kurang sedikit lagi,” ujar Bondan sambil memberi isyarat mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya.

“Mari aku bantu,” Sela Anggara segera melakukan beberapa pijatan pada leher dan punggung Bondan untuk membebaskan Bondan dari rasa sakit untuk sementara waktu.

Matahari yang menyibak malam dengan kelembutan sinar berwarna keemasan mentari merambat lembut di setiap benda yang dia menyapanya. Embun pun tak lagi malu untuk bergulir lembut. Menetes dari ujung daun dan dahan, perlahan dan penuh kehati-hatian. Kemilau bulir embun nampak seperti berlian yang sangat menawan setiap mata yang memandangnya.

Beberapa hari kemudian di sisi selatan sebuah candi terlihat dua orang lelaki muda sedang berlatih tanding. Telah lewat satu purnama sejak peristiwa penyergapan di Alas Cangkring, Bondan tampak mulai pulih dan itu tersirat dari gerakannya kala menyerang atau menangkis serangan Gumilang Prakoso. Sekalipun belum menyamai kecepatan seperti kala sebelum terluka parah namun Bondan sedang berusaha keras mengembalikan ketahanan dan kekuatan seperti sedia kala. Usaha yang sangat keras tercermin pada semakin berlipatnya tenaga dalam dan kemampuannya membaca pergerakan Gumilang Prakoso yang sedang berlatih bersama dengannya.

Tak jauh dari keduanya berlatih bersama, di sebuah barak prajurit, seorang lelaki yang hampir seusia Ken Banawa sedang duduk berhadapan dengan tiga orang lainnya. Raut muka tegang tampak jelas sekali terlihat dari mereka.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit lagi sebuah perbuatan yang telah terjadi.Akan tetapi suara dari dalam hatiku selalu mendesak untuk menyatakan yang sebenarnya,” kata orang tua itu.

“Dari kelompok mereka akan dapat mengatakan tentang apa saja, Ki Nagapati. Dan sebenarnya aku sendiri mengkhawatirkan satu kata yang akan keluar dari mulut mereka. Sebuah pembelaan. Kata pembelaan ini akan dapat menghantam kita kapan saja dan akan dapat menjadi alasan Sri Jayanegara menghukum mati kita semua yang ada di barak ini,” seorang yang berambut putih seperti perak berkata dengan suara parau.

“Aku mendengarkan,” pendek Ki Nagapati berkata. Tatap matanya memancarkan wibawa yang sangat besar akan tetapi ia tidak dapat menutupi hatinya yang pilu.

“Ki Nagapati, di lereng bukit sebelah utara dinding kotaraja telah kita siapkan sejumlah orang untuk persoalan ini. Dan mereka memang telah bersedia melakukannya demi sebuah kebenaran. Apalagi keluarga kakang Lembu Sora dan kakang Gajah Biru telah memberikan apa saja yang kita butuhkan,” kata orang berambut putih. Kemudian ia melanjutkan,”jadi sebenarnya bagi kita menduduki kotaraja adalah hal yang dapat dilakukan tanpa harus mengotori jalanan dengan tubuh yang berserakan. Kakang dapat memerintahkan prajurit dari kesatuan lain untuk membuka pintu benteng dari dalam, kemudian membiarkan pengikut kita dari bukit memasuki kotaraja. Bersamaan dengan itu, kita dapat menundukkan mereka yang berada di balik benteng keraton.”

“Bukan. Aku tidak bermaksud untuk menduduki kotaraja. Aku dan mungkin keluarga kakang Lembu Sora serta Gajah Biru pun tidak akan pernah setuju untuk merebut kotaraja,” Ki Nagapati sedikit menjelaskan.

“Lalu, apa arti dari usaha kita selama ini? Melatih mereka seperti melatih prajurit, persiapan-persiapan gelar perang? Kemudian tiba-tiba Ki Nagapati merubah tujuan kita semula?” orang berambut putih mengerutkan alisnya. 

Mendengar pertanyaan dari kawannya, Ki Nagapati bangkit lalu berkata,”sejak awal aku katakan pada kalian bahwa tujuan kita adalah sebuah pengampunan dari Sri Jayanegara. Kita bersiap untuk gerakan besar ini bukan untuk menggantikan penguasa yang sekarang, tetapi pemulihan nama baik dan hak-hak bagi keluarga kakang Lembu Sora dan Gajah Biru. Kalian bisa lihat keluarga mereka. Hanya karena kebaikan Patih Mpu Nambi yang akhirnya tanah palungguh itu dapat dipertahankan.”

“Jadi kegiatan kita selama ini dan apa yang Ki Nagapati tanam selama belasan tahun tidak berhubungan sama sekali dengan apa yang aku dengar di ujung timur?” bertanya seorang yang duduk di ujung meja. Ia menutupi tubuhnya dengan lembaran kain berwarna jingga. Rambut panjangnya sudah bercampur dengan warna putih.

“Tidak ada hubungannya, Mpu Lenggana. Mereka mempunyai tujuan yang berbeda dengan tujuan kita. Tapi aku membuka pintu bagi mereka yang akan bergabung dengan mereka di ujung timur. Dan mungkin jika memang sudah tiba waktunya, kita akan berhadapan sebagai lawan. Mereka yang berada di ujung timur tidak akan pernah memperbaiki kerajaan ini, mereka justru akan membawa petaka. Dan aku sudah siapkan diriku bila peperangan itu terjadi,” berkata Ki Nagapati dengan kilat mata yang menyambar setiap jantung orang yang berada di bilik itu.

“Akan tetapi, aku tetap sarankan, Ki Nagapati harus berbuat seolah akan menduduki kotaraja,” kata orang berambut putih keperakan. 

“Aku pikirkan itu,” tutup Ki Nagapati pendek. Selang beberapa waktu kemudian mereka membubarkan diri meninggalkan Ki Nagapati yang termenung seorang diri di dalam bilik.

“Jika Sri Jayanegara kembali menolak permintaanku, kemana aku akan mencari pertolongan agar ia mau membuka diri?” gumam Ki Nagapati perlahan.

Memang sebenarnya Ki Nagapati telah bertahun-tahun menggunakan waktunya untuk mengumpulkan kekuatan. Selain kedudukannya sendiri sebagai panglima pasukan berkuda, ia juga seorang putra dari demang di sebelah utara kotaraja. Pada banyak kesempatan ia berusaha membersihkan nama Lembu Sora dan Gajah Biru. Bagi Ki Nagapati, sosok Lembu Sora adalah seorang guru dan seperti keluarganya sendiri. Lembu Sora banyak mengajarinya tentang ketinggian martabat seorang panglima dan sering mengajaknya berbicara tentang kecintaan pada negerinya. Sedangkan Gajah Biru bagi Ki Nagapati adalah orang yang besar jasanya bagi perkembangan bidang keprajuritan dengan menyusun latihan-latihan bagi prajurit yang disiapkan menjadi pasukan khusus. Dan secara keseluruhan kedua orang itu mempunyai peran sangat penting bagi berdirinya suatu negeri yang sangat ia banggakan. Majapahit.

Oleh karenanya, pada suatu ketika, ia pernah berkata di halaman barak pasukan berkuda,”Jika orang-orang dari timur itu akan merebut kotaraja, maka aku dan kalian akan menjadi benteng pertama yang akan membenamkan mereka ke dalam lautan api!” Gemuruh suara ratusan prajuritnya menyambut kata-kata yang diucapkannya saat mereka mengakhiri satu latihan gelar perang.

Pertanyaan dari kawannya yang berambut putih keperakan masih terngiang di telinganya.

“Untuk apa aku menyusun kekuatan sedemikian besarnya?” ia bertanya pada hatinya sendiri. Ki Nagapati menarik nafas panjang lalu beranjak keluar dari biliknya dan meninggalkan barak prajurit. Ia telah menentukan keputusan. Ia mempunyai sikap dan pendirian yang kuat. Dan kini ia akan berjalan menuju apa yang telah ia yakini sebagai kebenaran.