Episode 185 - Bekal dari Ibunda


“Mengapakah dikau melamun seorang diri di tempat ini…?”

“Oh!” 

Seorang anak remaja lelaki hampir melompat jatuh dari atas batu tempat ia duduk melamun. Tepat di sampingnya, telah mendarat turun seorang perempuan dewasa muda nan cantik jelita. Perempuan itu melangkah mendekat. Setiap langkah yang ia ambil, selaras dengan setiap detak jantung anak remaja itu. 

“Puan…” Suaranya si anak remaja terdengar bergetar. Ia tertangkap basah! Di tengah keterkejutan, meskipun demikian, kedua biji matanya membuka lebar. Ia mencari-cari celah di antara jalinan kabut, yang terkadang menyibak pekat, terkadang mengalun tipis. 

“Apakah dikau lagi-lagi melarikan diri dari latihan…?” 

Kabut berwarna ungu memanglah membungkus sekujur tubuh perempuan itu, yang berawal dari seutas selendang dengan motif batik yang juga berwarna ungu. Siluet tubuh samar-samar telihat dari balik jalinan kabut. Sangatlah mudah untuk membayangkan lekuk sepasang buah dada nan perkasa. Satu bagian payudara itu, tiada cukup ditangkup dengan sebelah telapak tangan. Mau mencoba dari sudut mana pun, pastilah tiada akan membuahkan hasil. 

Pinggang nan ramping, sebaliknya, dapat diukur hanya dengan setengah pelukan sahaja. Kemudian… 

“Eh?!” Si anak remaja lelaki hampir terjatuh lunglai tiada berdaya ketika mendapati sebelah pinggul perempuan itu mencuat keluar dari balik jalinan kabut berwarna ungu. Mulus… Lemas dengkul dibuatnya!

“Puan Tirta Kahyangan!” ratap anak remaja lelaki tersebut. Sebentar lagi air liur menetes dari sudut bibirnya. 

“Kemanakah teman-temanmu…?” Tirta Kahyangan terlihat penasaran. 

“Cecep hampir meregang nyawa, dan kini sedang beristirahat di balai pengobatan. Elang Wuruk dan Mayang Tenggara sedang berlatih tarung…”

“Sebaiknya dikau segera kembali bergabung bersama mereka…,” sela Tirta Kahyangan. “Oh, ya… Izinkan diriku menggunakan Lintasan Saujana Jiwa.” 

Anak remaja tersebut hanya diam. Ia tak hendak kembali berlatih. Bila latihan hanya menimbulkan derita berkepanjangan, maka lebih baik menjadi Juru Kunci saja. Terkait Lintasan Saujana Jiwa, anak remaja tersebut menduga-duga, apakah gunanya tempat ini bagi ahli sekelas Jenderal Kedua Pasukan Bhayangkara? Lintasan Saujana Jiwa hanya bermanfaat bagi ahli Kasta Perunggu dan Kasta Perak. 

“Puan Tirta Kahyangan… Silakan Puan menggunakan Lintasan Saujana Jiwa sekehendak hati,” suara anak remaja tersebut terdengar mantap. “Akan tetapi, diriku memiliki satu pertanyaan nan lancang…”

“Apakah gerakan yang mengganjal di hati…?” Tirta Kahyangan mengangkat sebelah alis. 

“Jikalau berkenan, maka sudikah Puan Tirta memberitahu… apakah rambut di bawah pusar Puan Tirta terjalin lebat ataukah tipis…?” Suara anak remaja tersebut terdengar semakin mantap. Dirinya sangat membutuhkan jawaban atas pertanyaan ini, untuk melengkapi bayangan sempurna di dalam benaknya. 

“Oh?” Tirta Kahyangan terdengar terkejut. Siapa yang tak akan terkejut dengan pertanyaan yang demikian lucah!? 

“Kumohon…?” Anak remaja tersebut kini memelas. 

“Bagaimana bila dikau pastikan dengan mata sendiri…?” Tirta Kahyangan tersenyum ramah. Jalinan kabut berwarna ungu pada tubuh bagian depan mulai berarak pelan dan sebentar lagi menipis. 

“Hei!” 

“Airlangga!” Tetiba terdengar pekik memanggil. 

Anak remaja tersebut spontan menoleh ke samping. Dirinya mendapati sepasang anak remaja perempuan dan lelaki melangkah di kejauhan. Keduanya datang mendekat. Airlangga lalu kembali menoleh ke arah Tirta Kahyangan yang baru saja hendak ‘membuka diri’. Akan tetapi, betapa terkejutnya ia mendapati bahwa ahli nan digdaya tersebut telah berada di mulut goa, lalu menghilang ke dalam Lintasan Saujana Jiwa. 

“Cih! Mayang Tenggara dan Elang Wuruk!” Airlangga meringis. Sebuah kesempatan langka terlepas begitu saja. “Aku kutuk kalian menjadi kodok!” 


===


“Yang Terhormat... Pendiri Perguruan... Ayahanda Angkat...” Nada suara Lamalera mencibir. “Mengapakah dikau mengizinkan orang-orang asing memasuki Lintasan Saujana Jiwa...?”

“Elang Wuruk merupakan sahabat lama...” Airlangga, alias Resi Gentayu, melipat tangan ke belakang pinggang. Bijak sungguh pembawaannya. 

“Bagaimana dengan gadis berjubah ungu yang sebelumnya...?”

“Diriku merasa pernah mengenalnya...” Secara reflek, Resi Gentayu memalingkan wajah. 

“Yang Mulia... Pendiri Perguruan... Ayahanda Angkat...,” nada suara Lamalera semakin mengejek. “Sudi kiranya dikau segera kembali kepada penampilan tua bangka. Wujudmu sebagai sesama anak remaja membuatku merasa sangat tak nyaman...” 


...

Seorang gadis terbangun. Ia mengamati sekeliling dan mendapati dirinya berada di wilayah pegunungan tinggi. Tingkat kelembaban udara teramat tinggi, karena di dalam udara, air terkandung dalam bentuk uap. Sayup-sayup tengar bisik angin bersiul. Pemandangan pegunungan yang tersaji membuat dirinya merasakan semacam kedekatan. 

Embun Kahyangan merasakan kesejukan dan kenyamanan. Segera ia memastikan keadaan tubuhnya sendiri. Barulah ia sadari bahwa perasaan sejuk dan nyaman disebabkan oleh jalinan kabut ungu yang membungkus tubuh dari batas leher sampai ujung kaki. Setelah ia pastikan lagi, hanya kabutlah yang membungkus tubuh, karena di balik kabut tersebut dirinya tiada mengenakan seutas benang barang sehelai pun. 

Sungguh pakaian adalah salah satu beban dunia nan paling berat, simpul Embun Kahyangan. Sensasi bebas lepas seperti ini selalu ia damba, namun sangat jarang ia capai. Etika dunia persilatan dan kesaktian, bahkan dunia fana pada umumnya, mewajibkan manusia mengenakan pakaian. Padahal,anak manusia terlahir dalam keadaan polos. Lalu mengapa kepolosan tersebut harus dinodai oleh pakaian...?

Hati sanubari Embun Kahyangan demikian damai. 

Di manakah tempat ini...? Ingatan terakhir yang tertulis di dalam benaknya adalah sebuah jalan setapak. Pada sisi kanan, terdapat deretan bingkai dengan berbagai jenis lukisan. Tak satu pun lukisan tersebut ia pahami maknanya. Walau, dirinya dapat terus melangkah maju bilamana dapat melihat lukisan satu persatu. Entah berapa langkah telah ia tempuh dan berapa di lukisan yang ia saksikan. Dirinya mengingat bahwa semakin lama, tekanan terhadap mata hati semakin mendera.  

Deraan mata hati pada akhirnya membuat Embun Kahyangan tersadar di tempat ini. Penasaran, ia melangkah pelan. Setiap gerakannya seolah menyatu dengan alam. Tak jauh dari tempat dirinya terbangun, gadis belia itu mendapati sebuah telaga. Airnya jernih dan sejuk, dimana uap air menari-nari dengan lemah gemulai. 

Embun Kahyangan memerhatikan keadaan sekeliling, tiada seorang pun hadir di wilayah ini. Sungguh sebuah kesempatan nan langka. Perlahan, dirinya melangkahkan kaki ke dalam telaga. Kesejukan dan aliran air menyapa telapak kaki, betis lalu pinggul. Ia terus melangkah semakin jauh. Di kala air telaga menyentuh payudara, dua bulir sesuatu meraih sensasi nan tiada tara...

Embun Kahyangan semakin terbuai, sampai dirinya terlupa mencari tahu akan tempat apakah gerangan ini. 

Air beriak perlahan dari tengah telaga. Seperti ia membuat lingkaran yang semakin lama semakin menyebar luas. Menyapa tubuh si gadis ayu, riak air kemudian sirna di tepian telaga. Dua tiga kali kejadian ini berlansung, barulah Embun Kahyangan tersadar. 

Tepat di tengah telaga, melayang sebongkah kristal sebesar satu genggaman tangan orang dewasa. Kristal tersebut bersinar temaram. Namun, bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka terdapat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak di dalamnya. 

Embun Kahyangan yakin betul bahwa tadinya tiada apa pun di tengah telaga. Mungkinkah kristal tersebut merupakan kunci akan tempat ini..? Gadis tersebut lalu lalu berenang gemulai, menikmati setiap sentuhan air nan sejuk. 

“Cring!” Permata Pringgondani berpendar di kala jemari lentur sang gadis menyentuh permukaannya. Semacam layar setengah transparan kemudian mulai menampilkan sesosok tubuh. 

Di saat yang sama, seluruh air telaga tetiba bergemeretak, lalu membeku. Sigap, Embun Kahyangan melompat tinggi, lalu mendarat ringan di atas permukaan es. 

Seorang perempuan dewasa muda nan ayu tampil di permukaan layar. Embun Kahyangan seolah bercermin. Keduanya sama-sama mengenakan Selendang Batik Kahyangan yang melingkari leher, dan kabut berwarna ungu membungkus tubuh. Satu-satunya perbedaan yang kentara antara dirinya dan bayangan perempuan dewasa muda tersebut, adalah pada kelopak mata. Kelopak mata Embun Kahyangan sayu setengah tertutup, sementara kedua mata perempuan tersebut besar dan dipenuhi dengan semangat kehidupan. 

“Bilamana dikau sampai di tempat ini, lalu menerima pesan ini… kemungkinan kita tiada pernah bersua dan… diriku telah lama tiada,” ujar perempuan dewasa muda tersebut. Tatap matanya mencerminkan kepedihan, namun berupaya ia sembunyikan. 

Raut wajah Embun Kahyangan berubah. Ia terlihat sedikit senang, di saat bersamaan tak dapat mengusir haru. 

“Sejak beberapa waktu, diriku mendapat sebuah firasat… akan suatu hari di masa depan… tentang janin yang akan berkembang…” Perempuan dewasa muda itu menyentuh perutnya. Raut wajahnya sedikit berubah. 

Embun Kahyangan memperhatikan dalam diam. 

“Akan tetapi, firasatku juga menyebutkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa pun itu nantinya, kupastikan bahwa cintaku pada dirimu tiada akan lekang dimakan waktu.” Wajah perempuan dewasa muda tersebut terlihat demikian tulus. 

Sebulir air mata mengalir pelan di pipi Embun Kahyangan. Dirinya tiada mengetahui mengapa tubuhnya dapat bereaksi sedemikian rupa. 

 “Namaku adalah…,” perempuan dewasa muda itu berhenti sejenak. “Tirta Kahyangan.” 

Tirta Kahyangan berhenti lagi. Bibirnya sedikit bergetar, namun ia berupaya sebisa mungkin untuk menahan emosi. “Sapalah diriku sebagai Mama Tirta… Oh betapa diriku berharap dapat mendengar suaramu…”

Air mata kini membasahi kedua mata Embun Kahyangan. Akan tetapi, kedua matanya terus menatap ke arah sosok yang tampil pada layar. 

“Selama hidup… selama menumbuhkan keahlian… diriku melakukan demikian banyak perbuatan-perbuatan nan keji. Kemungkinan kejadian yang akan berlangsung di masa depan terhadap diriku, merupakan buah karma yang telah lama kusemai melalui kejahatan demi kejahatan.” 

“Mama Tirta…,” gumam Embun Kahyangan pelan. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya.

“Kusadari bahwa pesan ini tiada akan dapat menebus ketidakmampuan diriku… Akan tetapi, setidaknya ia dapat melegakan sesak yang terus menekan di dada.”

“Mama Tirta…” Suara Embun Kahyangan bergetar. Jauh di dalam lubuk hati, ia menyadari bahwa adalah takdir yang memisahkan mereka. 

“Adalah harapanku agar dikau mewarisi Selendang Batik Kahyangan. Selain itu, melalui Permata Pringgondani ini, diriku akan sedikit membantu…”

Layar di hadapan Embun Kahyangan memudar, namun di saat yang sama, Permata Pringgondani berpendar cemerlang. Cahaya ungu menyatu dengan kabut, kemudian menyebar ke seluruh penjuru telaga yang membeku.  

Sebuah bola kabut ungu nan besar lalu tercipta dan membungkus tubuh Embun Kahyangan. Di pusat bola kabut, gadis tersebut melayang ringan. Selendang Batik Kahyangan yang tadinya melingkari leher, terlepas dan melayang di atas bola kabut. 

Dalam keadaan tanpa mengenakan seutas benang pun, Embun Kahyangan merasakan sensasi yang berbeda. Hangat, di saat yang bersamaan… sejuk. Perlahan, bola kabut ungu lalu melesak ke dalam ulu hatinya. Terus dan terus, sampai tak ada lagi kabut yang tersisa. 

Kristal mustika di ulu hati gadis belia itu pun bergetar deras. Cairan kental berwarna perunggu menggelegak seolah mendidih. Dinding mustika yang berfungsi sebagai wadah tenaga dalam lalu perlahan meretak, dan merekah. Akan tetapi, tiada tenaga dalam yang merembes keluar, karena mustika tersebut telah dilingkupi oleh kabut tipis. 

Embun Kahyangan membiarkan saja proses yang sedang berlangsung terhadap mustika di ulu hati. Raut wajahnya tenang, dan tak ada setitik pun kecurigaan yang berkutat di dalam hatinya. 

“Duar!” Mustika di ulu hati pecah, dan tenaga dalam yang melesak keluar meledak tiada terkendali! 

Keadaan seperti ini biasa terjadi bila seorang ahli memutuskan untuk meledakkan diri di dalam pertarungan yang tak imbang. Dengan demikian, meski tiada dapat memenangkan pertarungan, setidaknya dapat membawa lawan ikut berpindah ke alam baka. 

Tiupan angin menderu. Dampak ledakan menciptakan kawah besar terhadap permukaan telaga yang membeku. Serpihan-serpihan es melesak ke segala penjuru. 

Samar-samar, di tengah kawah, seorang gadis terlihat melayang ringan. Di ulu hatinya, sebuah mustika baru mulai terbentuk. Proses pembentukan ini tentunya mendapat dukungan dari jalinan kabut nan berwarna ungu. Sepertinya, kabut tersebut tak hanya berperan dalam membantu memperlancar pembentukan mustika baru agar merangkai sempurna, namun juga memberikan sedikit pasokan tenaga dalam. 

Seketika mustika di ulu hati rampung, cairan kental yang mulai terisi tak lagi berwarna perunggu. Warnanya bersinar putih, mengkilap dan cemerlang. Embun Kahyangan yang tadinya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, kini sudah berada pada Kasta Perak! 

Selendang Batik Kahyangan lalu melesat kembali dan melilit tubuh sebagai sehelai kemben. Senjata pusaka ini sepertinya memiliki kehendak, dan kehendaknya adalah selalu bersama-sama dengan gadis belia tersebut. 

Embun Kahyangan tentunya merasakan perbedaan kentara atas tubuh dan mustika di ulu hati. Dirinya menebar mata hati dan mulai mencerna. Kasta Perak Tingkat 1…? Bukan. Kasta Perak Tingkat 2? Tidak juga… Embun Kahyangan membatin, dirinya yakin dan percaya bahwa mustika di ulu hati telah melompat ke… Kasta Perak Tingkat 5!

Diketahui bahwa ahli Kasta Perak memiliki usia hidup sekitar 250 tahun. Dengan kata lain, sejak naik ke Kasta Perak, seorang ahli memiliki waktu selama 250 tahun untuk menerobos ke Kasta Emas. Jika tidak, maka ahli tersebut akan meregang nyawa karena dimakan usia. 

Dalam hal ini, berkat bantuan yang diperoleh dari sang ibunda, maka Embun Kahyangan yang kini berada Kasta Perak Tingkat 5, telah menghemat setidaknya jangka waktu 125 tahun. Waktu yang tersedia bagi dirinya untuk nanti menerobos ke Kasta Emas, masih panjang adanya! 

“Buah hatiku…” Sayup-sayup terdengar suara bergema di telaga. “Tak banyak bekal yang dapat kuberikan pada kesempatan ini. Harapanku, adalah dikau dapat menemukan ‘makna’ dari hidupmu....” 

...


Matahari telah condong ke arah barat tatkala Kum Kecho melangkah keluar dari dalam Lintasan Saujana Jiwa. Ia masih berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Wajar saja, karena goa tersebut tiada berfungsi sebagai tempat unyuk meningkatkan kasta keahlian. Ia lalu menebar mata hari ke arah dua sosok yang menanti di luar. 

“Enam… Tujuh… Tidak…,” gumam Resi Gentayu. “Kemampuan mata hati setara Kasta Perak Tingkat 8.”

Lamalera memicingkan mata. Ia mengenal Kum Kecho sebagai musuh di dalam ceritera petualangan Bintang Tenggara. Ia pun merasakan nafsu membunuh yang kental dari tokoh tersebut. Akan tetapi, mengapakah Resi Gentayu membiarkan tokoh yang membahayakan seperti ini meningkatkan kemampuan di dalam Lintasan Saujana Jiwa?

Dahlia Tembang melangkah keluar. Kemampuan mata hatinya meningkat sampai dengan setara Kasta Perak Tingkat 5. Atau dengan kata lain, setara dengan Aji Pamungkas. Perbedaannya adalah, Dahlia Tembang saat ini sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1, sementara Aji Pamungkas masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 8. 

Tak lama berselang, Melati Dara dan Seruni Bahadur hampir keluar di saat yang bersamaan. Kemampuan mata hati keduanya setara dengan Kasta Perak Tingkat 4. Demikian, rombongan Kum Kecho lengkap sudah. 

Kum Kecho dan Resi Gentayu hanya saling bertatapan. Tak satu patah kata pun keluar dari mulut keduanya. 

Seorang gadis belia tetiba melangkah keluar dari goa yang sama. Ia menenteng sebuah jubah berwarna ungu. Seutas selendang batik melekat ketat dari dada sampai ke paha. 

“Itu…?” Lamalera menatap curiga. 

Embun Kahyangan menoleh ke kiri, ke kanan, ke kiri lagi. Sepertinya ia baru menyadari bahwa masih berada di tempat yang sama sebelum melangkah ke dalam goa. Seluruh pandangan mata tertuju padanya. 

Kum Kecho memicingkan mata, dan Resi Gentayu menghela napas panjang. Keduanya tentu menyadari bahwa Embun Kahyangan masih berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9 sebelum melangkah masuk ke dalam Lintasan Saujana Jiwa. Bagaimana mungkin gadis tersebut bisa menerobos kasta, bahkan melompat tingkat, hanya dalam waktu tak lebih dari setengah hari!?

Tiada mempedulikan setiap pandangan mata yang mengarah kepadanya, gadis belia itu lalu melangkah ke arah Resi Gentayu dan Lamalera yang siaga menanti. Sebagaimana diketahui, Embun Kahyangan sedang menjalankan sebuah misi. Demi memperoleh informasi akan keberadaan Paman Balaputra dari calon ibu mertua, maka dirinya mengemban tugas mengambil Lencana Kujang, yang tak lain adalah kunci dari Gerbang Neraka. 

“Katakan dimana diriku dapat bersua Bintang Tenggara…,” ujarnya tanpa basa-basi.