Episode 7 - Enam

Dharmadipa


Mega Sari tersenyum sambil mengangguk “Tentu saja, Kakang berdua boleh menemuiku, datanglah ke Rajamandala, kalau Kakang berdua mengabdi pada Rama Prabu dan Mega Mendung, tentu saja Kakang berdua bisa menemuiku!”, Dharmadipa tersenyum senang karena diberi harapan seperti itu, sedangkan Jaka masih tetap menundukan kepalanya tidak berani menatap wajah Mega Sari walaupun harapan di hatinya tumbuh juga.

Melihat gelagat sepertinya Mega Sari sangat berat untuk berpisah dengan kedua pemuda tersebut, Emak Inah menghampiri Mega Sari “Gusti Putri, maaf, hari sudah mulai siang, perjalanan ke Gunung Patuha masih jauh lagi penuh rintangan”.

Dengan kepala yang terasa sangat berat, Mega Sari mengangguk perlahan, dia lalu menatap Dharmadipa dan Jaka bergantian sambil senyum terpaksa, air matanya kembali meleleh “Kakang, maaf aku harus segera pergi… Aku sangat menantikan pertemuan kita bertiga selanjutnya, aku harap kita bisa bertemu lagi Rajamandala suatu saat nanti…”

Jaka dan Dharmadipa terdiam mendengar ucapan tersebut, dengan berat kedua pemuda murid kesayangan Kyai Pamenang tersebut memakasan diri untuk menatap wajah Mega Sari, gadis yang kini menguasai hati dan pikirannya, yang singgah di sanubarinya setiap waktu, yang seolah selalu menari-nari di pelupuk matanya, dan membuatnya sulit tidur, bahkan pada saat tidur pun gadis itu seolah selalu hadir didalam mimpinya.

Kembali suara sesegukan terdengar dari Mega Sari, tubuhnya terasa sangat lemas bagaikan tak bertulang, Emak Inah pun merangkulnya dan menuntunnya berjalan menuju ke kereta kudanya, Dharmadipa menguatkan hatinya lalu ia berteriak lantang “Mega Sari, aku pasti akan menemuimu! Kami berdua pasti akan ke Rajamandala dan mengabdi pada Gusti Prabu Kertapati! Tunggulah kami Mega!” 

Mega Sari membalikan kepalanya, ia lalu melempar satu senyuman manis namun pilu kepada Jaka dan Dharmadipa untuk yang terakhir kalinya, lalu ia masuk kedalam kereta dan melanjutkan perjalannya, Jaka dan Dharmadipa menatap kepergian kereta kuda itu sampai hilang dari pandangan mata mereka dengan perasaan mengambang.

Di dalam kereta saat melanjutkan perjalanannya, Mega Sari terus menangis “Mak, sungguh berat hatiku untuk meninggalkan mereka berdua, aku telah terlanjur menjatuhkan segenap perhatianku pada mereka berdua sejak pertama kali aku datang ke padepokan, terutama pada Kang Jaka!”

“Jaka? Bukankah ia yang mengatakan bahwa identitasnya sendiri tidak jelas? Aduh Gusti Putri, dalam memilih jodoh bibit bebet bobot itu sangat penting, apalagi Gusti adalah seorang putri dari seorang Prabu!” sahut Emak Inah. 

“Benar Mak, dari penampilan dan auranya sepertinya ia bukan orang biasa, meskipun ia memiliki bekas luka di kening sebelah kanannya tak mengurangi ketampanan dan kegagahannya, sikapnya juga sangat baik dan terpuji, perangainya sangat halus, tutur kata dan tindak-tanduknya penuh tata karma, malah aku merasa sepertinya Jaka bukan orang dari kalangan biasa, ia lebih seperti dari golongan priyayi atau keraton”.

“Emak paham betul dengan perasaan Gusti Putri, dan Emak juga memang mempunyai firasat seperti itu ketika melihat pemuda yang bernama Jaka Lelana itu, tapi tetap saja kita harus melihat bibit bebet bobot orang yang kita sukai Gusti Putri” ucap Emak Inah dengan lembut sambil mengelus-elus punggung Mega Sari.

“Tapi bukankah pemuda yang bernama Dharmadipa tadi mengatakan bahwa ia adalah seorang Pangeran dari Parakan Muncang meskipun negeri itu telah hancur belasan tahun silam? Kalau benar dia seorang pangeran meskipun negerinya telah hancur, Emak pikir dia lebih memiliki peluang untuk dapat bersama dengan Gusti Putri” lanjut Emak Inah.

“Emak benar, Kakang Dharmadipa juga tampan lagi gagah, namun aku lebih menyukai Jaka yang perangainya lembut” desah Mega Sari.

“Sudahlah Gusti Putri, kita sudahi dulu pembicaraan tentang mereka, mereka berdua memang pemuda yang tampan dan gagah, saat ini Dharmadipa yang lebih mempunyai peluang, tapi mungkin saja Jaka juga bisa mempunyai peluang kalau ia menepati janjinya untuk mengabdi di Mega Mendung dan bisa menarik hati Gusti Prabu… Dan seperti yang Emak katakan kemarin, kalau Gusti Putri bisa menyelesaikan tugas Gusti dengan baik, bukan tidak mungkin Gusti Prabu akan mengabulkan keinginan Gusti Putri”.

Mega Sari pun mengangguk lemah, “Semoga saja Emak… Semoga…”.


***


Di sebuah taman bunga yang luas, Jaka mengenakan pakaian seorang raja berwarna biru tua lengkap dengan topi mahkotanya yang bertahta emas dan kain samping batik berwarna cokelat bermotif sama dengan ikat kepalanya yang selalu ia pakai, berjalan perlahan mengikuti Mega Sari yang mengenakan baju kebaya berwarna biru tua, rambut gadis ini digelung dan diikat oleh untaian melati lengkap dengan perhiasaan yang terbuat dari emas murni juga berlian serta mengenakan kain samping batik berwarna cokelat bermotif sama dengan yang Jaka kenakan, ia bersenandung riang sambil memetik bunga-bunga di taman bunga itu.

Alangkah bahagianya hati Jaka melihat Mega Sari yang bersenandung gembira seperti itu, tapi tiba-tiba Mega Sari menjerit dan memeluk Jaka dengan erat, taman bunga itu tiba-tiba dipenuhi ular-ular kobra, burung-burung gagak berterbangan di angkasa, lapat-lapat suara anjing srigala terdengar! 

Belum habis keterkejutan mereka berdua, tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar hebat, kemudian bumi terbelah, lalu entah darimana tiba-tiba tempat itu dipenuhi kobaran api, Mega Sari menjerit berteriak-teriak ketakutan sementara Jaka hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa, sekonyong-konyong pemandangan itu bergetar dan semakin pudar, sosok Mega Sari pun menghilang.

Jaka pun terbangun, dalam keadaan masih setengah sadar dan jantung berdebar kencang ia memandang keadaan disekitarnya, ternyata ia berada di kamarnya sendiri di padepokan, berkali-kali ia beristighfar, lalu ia menyeka keringat yang membasahi wajahnya “Astagfirullah! Mimpi apa itu tadi?” tanyanya pada diri sendiri.

Ia lalu merebahkan dirinya lagi, matanya menatap langit-langit kamarnya “Mega Sari… Pertanda apakah mimpi tadi? Apakah itu memang suatu pertanda bahwa aku memang tidak berjodoh dengan Mega Sari?” lama Jaka terdiam merenungi mimpinya, ia meyakini mimpi itu memang pertanda sesuatu sebab saat itu hari sudah hamper subuh, menurut kepercayaan orang tua mimpi pada saat menjelang subuh adalah suatu pertanda atau peringatan, maka Jaka pun bangun lalu duduk, ia pun kembali mengucap istighfar berkali-kali untuk menenangkan hatinya.


***


Di sebuah halaman keraton yang megah dan luas, Dharmadipa mengenakan pakaian seorang ponggawa berlari mengejar Mega Sari yang mengenakan pakaian seorang ratu, Dharmadipa terus berlari mengejar hingga akhirnya ia berhasil mendekati Mega Sari, ia lalu melompat menerkam Mega Sari hingga mereka jatuh berguling-guling di hamparan bunga-bunga yang berwarna-warni serta menebar bau yang sangat harum sambil tertawa-tawa.

Kedua pemuda-pemudi tersebut lalu bangun dan Mega Sari meminta Dharmadipa untuk mengganti pakaiannya, Dharmadipa pun mengganti pakaian Ponggawa itu dengan pakaian seorang raja, mereka lalu mengobrol dan saling tersenyum sambil saling berangkulan mengelilingi taman bunga di keraton itu. Pada saat mereka sampai di sebuah kolam air mancur, mereka berhenti, mereka lalu saling bertatapan, mereka mendekatkan wajahnya masing-masing.

Saat bibir mereka hendak bertemu, tiba-tiba mata Dharmadipa terbuka, dilihatnya keadaan disekitarnya, ternyata ia sedang berada di kamarnya sendiri, pria ini pun menghela nafas “Ah indahnya mimpi tadi… Sayang itu hanya sebatas mimpi” gumamnya.

Ia lalu teringat pada Mega Sari, perih sekali rasanya, dadanya terasa sangat sesak ketika mengingat sosok Mega Sari “Mega Sari… Ah hatiku sakit sekali setiap kali aku teringat kamu… Aku sangat merindukanmu Mega Sari… Aku yakin seseorang yang sering dipertemukan dalam mimpi adalah jodoh yang sejati untuk kemudian hidup bersama!” desahnya.



***


Hari berganti hari, malam berganti malam, waktu terus berputar hingga tak terasa sudah tiga bulan Mega Sari meninggalkan padepokan Sirna Raga, tapi waktu yang diyakini bisa menyembuhkan luka di hati itu ternyata tak bisa mengobati luka di hati Jaka dan Dharmadipa. 

Jaka selalu berusaha menahan dirinya ketika setiap kali ia teringat pada Mega Sari, ia selalu beristighfar dan membaca doa agar dirinya tidak tergoda oleh rasa rindunya pada Mega Sari, akan tetapi tidak dengan Dharmadipa, ia tidak dapat menahan dirinya setiap kali teringat pada Mega Sari, ia sangat tersiksa dengan rasa rindunya pada Mega Sari, setiap malam ia bermimpi berjumpa dengan Mega Sari, hingga pada suatu saat ia nekat untuk pergi ke gunung Patuha saat Kyai Pamenang dan Nyai Mantili pergi ke Banten untuk pentasbihan Panembahan Yusuf sebagai Sultan Banten menggantikan Sultan Hassanudin.

“Kakang ingat pesan guru kita yang sedang berangkat ke Banten, jangan pergi dulu setidaknya sampai guru pulang!” ucap Jaka yang mencoba mencegah kepergian Dharmadipa. 

“Diam kau Jaka! Jangan halangi aku! Katakan pada guru kalau aku pergi ke gunung Patuha untuk menemui Mega Sari!” bentak Dharmadipa yang melangkah menuju ke istal kuda.

Jaka lalu menoleh kepada Kadir, murid tertua padepokan Sirna Raga “Kang Kadir, Kakang murid tertua di padepokan ini, tolong ingatkan Kakang Dharmadipa!” pinta Jaka, tapi Kadir hanya terdiam dengan wajah kebingungan, sepertinya ia ragu untuk mengambil tindakan sebab Dharmadipa adalah murid sekaligus anak angkat Kyai Pamenang yang sangat dimanja dan diistimewakan oleh sang Kyai dan istrinya.

Kecewa pada Kadir yang tidak bisa mengambil sikap, Jaka kembali mencegah kepergian Dharmadipa dengan merebut tali kekang kuda Dharmadipa “Kakang! Aku mohon sekali ini saja untuk mendengarkan aku! Guru berpesan agar kita tidak pergi kemana-mana dari pedepokan ini sebab ada suatu hal penting yang ingin beliau sampaikan sepulangnya dari Banten! Bersabarlah untuk menunggu guru kembali Kakang, baru Kakang pergi ke Patuha!”

“Diam kau Jaka! Biasanya kau selalu ikut denganku! Kenapa kau sekarang malah menghalangi aku?!” bentak Dharmadipa.

“Sebab kali ini perbuatan Kakang besar sekali kesalahannya, selama ini aku selalu mengikuti Kakang walaupun melakukan perbuatan yang salah! Sekarang aku mohon Kakang yang mendengarkan aku!”

Dharmadipa mendengus kesal, ia turun dari kudanya lalu memelototi Jaka “Jadi selama ini aku salah?! Atau kau mencegah aku pergi karena cemburu padaku? Kau cemburu padaku sebab kau yang hanya rakyat jelata tidak bisa mendapatkan cintanya Mega Sari?!”


Jaka tersentak mendengar ucapan Kakangnya yang sudah keterlaluan itu, emosinya pun mulai terpancing “Kakang, jaga bicaramu! Aku tidak ada maksud apapun menghalangimu pergi! Aku hanya melakukan apa yang guru pesankan pada kita semua!” bentaknya.

Sekonyong-konyong Dharmadipa menendang ke arah wajah Jaka, Jaka segera melompat menghindar kebelakang, Dharmadipa lalu tertawa sambil berkacak pinggang “Hahaha… Berani juga kau melawanku Jaka! Kang Kadir saja tidak berani melawanku! Sekarang terimalah akibatnya!”

Jaka terkejut dengan tantangan dari Dharmadia. “Kakang tahanlah emosimu! Kita tidak perlu bertengkar lagi!”.

“Diam kau! Seatttt!!!” Dharmadipa melompat mengirimkan satu tendangan pada Jaka, Jaka pun segera menghindarinya, Dharmadipa lalu mengirimkan beberapa serangan beruntun, Jaka tidak melawannya hanya terus menghindarinya “Jaka apa kau Cuma becus menghindar memarkan ilmu meringankan tubuhmu?” ejek Dharmadipa yang memperhebat serangan-serangannya yang mengarah ke titik-titik berbahaya di tubuh Jaka, Jaka pun mulai kelabakan hingga ia terpaksa meladeni serangan-serangan Kakangnya dengan balas menyerang dan sesekali menangkisnya.

Beberapa belas jurus berlalu dengan cepat, kaki dan tangan mereka berdua menyapu kian kemari dalam kecepatan yang sukar ditangkap oleh mata, semua murid-murid yang berada di sana berdecak kagum melihat pertarungan dua saudara seperguruan itu, jika dilihat dari gerakan-gerakan silatnya tentulah mereka berdua telah memiliki ilmu silat tingkat tinggi dan termasuk murid-murid yang paling unggul di padepokan sirna raga, hal tersebut dapat dimaklumi sebab mereka berdua adalah murid kesayangan dari Kyai Pamenang.

Memasuki jurus kedua puluh, Dharmadipa melompat kebelakang, dia mulai mengerahkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua tangannya lalu memasang kuda-kudanya, setiap gerakan yang ditimbulkannya menimbulkan angin yang sangat deras laksana topan serta setiap langkahnya menggetarkan bumi di sekitar padepokan! Jaka terkejut melihat kuda-kuda yang dipasang oleh Dharmadipa “Kakang, mengapa engkau sampai mengeluarkan ajian Liman Sewu? Apakah engkau ingin mencelakaiku?”

Dharmadipa menyeringai “Tentu saja! Ini bukan latihan dungu!” makinya, maka dengan terpaksa Jaka pun mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, Ajian Liman Sewu adalah ajian yang dapat membuat pemiliknya memiliki tenaga seperti seekor gajah dan mempunyai daya hancur yang dahsyat, maka tak ayal ia mengeluarkan ajian yang sama yakni ajian Liman Sewu untuk melindungi dirinya. 

“Bagaimanapun tenaga dalam Kakang Dharmadipa unggul satu tingkat dariku, sebisa mungkin aku harus menghindari bentrokan tenaga dalam dengannya!” pikir Jaka.

Dengan teriakan dahsyat Dharmadipa melompat menyerang Jaka dengan sebuah pukulan… Bruakkk! Pohon besar yang berada di belakang roboh terkena pukulan Dharmadipa. Dharmadipa menggeram marah karena Jaka berhasil menghindari pukulannya, kemudian dengan secepat kilat ia memutarkan tubuhnya, kedua tangannya dipukulkan ke muka, dua rangkum angin topan prahara menggempur ke arah sasaran di muka sana yaitu tubuh Jaka Lelana!

Jaka segera menjejakan dirinya keatas tanah, dia lalu melompat kesamping, kedua tangannya mencabut sebuah pohon besar, dia lalu melemparkan pohon itu ke arah angin pukulan Dharmadipa dengan diiringi tenaga dalamnya, bila angin-angin topan pukulan itu beserta pohon besar sama bertemu di udara maka terdengarlah suara berdentum yang menyenging liang telinga, debu dan pasir beterbangan, daun-daun pohon berguguran bahkan ranting-ranting kering patah-patah dan berjatuhan! Seluruh Padepokan bergetar. Langit seperti mau terbelah oleh dentuman itu!

Jaka Lelana melihat bagaimana kedua kaki saudaranya amblas ke dalam tanah sedalam sepuluh senti. Muka pemuda itu penuh keringat dan matanya menyipit. Namun bila ditelitinya pula keadaan dirinya maka didapatinya kedua kakinya tenggelam ke dalam tanah sampai sebatas betis, sedangkan tubuhnya yang memercikkan keringat dingin itu terasa masih bergetar gontai akibat adu tanding tenaga dalam yang luar biasa tadi! Jantungnya berdebar kecang dan mulutnya terasa asin, itulah pertanda tenaga dalamnya masih kalah oleh Dharmadipa!

"Bagus Jaka, bagus sekali! Kau berani menangkis pukulanku dengan tenaga dalammu!" terdengar Dharmadia. Meski memuji namun dari mukanya bukan menunjukkan pujian, sebaliknya muka yang berkerut-kerut itu semakin memancarkan kengerian. 

"Sekarang aku tidak akan bermain-main lagi!”, tubuh Dharmadipa bergetar hebat, ia melipat gandakan tenaga dalamnya, lalu dengan teriakan setinggi langit ia kembali menerjang Jaka dengan jurus “Burung Elang Menerjang Mangsa”!

Jaka tahu ia akan terluka parah kalau berani mengadu tenaga dalam lagi, maka ia tidak menggunakan ajian Liman Sewu lagi, ia pun membuka jurus simpanannya, jurus paling hebat yang diturunkan Kyai Pamenang pada dirinya yang tidak diturunkan pada Dharmadipa sehingga membuat Dharmadipa iri pada Jaka, dengan mengerahkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya, Jaka membuka jurus “Menggocang Langit, Menjungkir Awan”! 

Tangan dan kaki Jaka berkelebat kian kemari hampir tidak kelihatan karena cepatnya. Angin deras bersiuran mengibar-ngibarkan pakaian Dharmadipa. Angin deras ini bukan sembarang angin karena bila menyambar kulit maka kulit itu perih bukan main, seperti lecet! Dalam sekejap saja Dharmadipa segera terbungkus sambaran-sambaran serangan Jaka Lelana! 

Dharmadipa menggeram marah melihat kehebatan jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan milik Jaka. Dalam sekejap saja pemuda itu terdesak hebat. Lengah atau ayal sedikit saja pastilah pinggang, atau perut atau dada atau tenggorokannya akan kena disambar serangan Jaka yang menyambar-nyambar secepat kilat itu. Berkali-kali Dharmadipa melepaskan pukulan-pukulan tenaga dalam yang dahsyat. Namun angin pukulannya terbendung bahkan dihantam buyar oleh angin tajam yang menderu yang keluar dari serangan Jaka!

"Jurus edan!" maki Dharmadipa. 

Tiba-tiba dijatuhkannya tubuhnya ke bawah. Serentak dengan itu tangan kanannya dengan jari-jari ditekuk kedalam meluncur ke arah sambungan siku Jaka, Jaka segera menghindar ke samping lalu balas mengirimkan satu tendangan dahsyat ke arah kepala Dharmadipa, Dharmadipa melompat mundur, Jaka memutarkan kakinya kini ganti kaki kirinya menderu dahsyat yang bersarang tepat di pelipis Dharmadipa! Dharmadipa jatuh sempoyongan, kepalanya pusing dan mulutnya terasa asin, ternyata darah telah mengucur dari mulutnya yang sobek, “Kakang sebaiknya kita hentikan sampai disini!” ucap Jaka.

“Setan! Jangan sombong karena guru mewariskan jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan! Kini kau akan mampus dengan ini!” Dharmadipa merapatkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam, dia mengumpulkan panas dari perutnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, lalu menngangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas sambil mengepal, tulang-tulangnya berteroktokan berbunyi dan giginya bergemelutuk, tanda ia akan segera melepaskan pukulan pamungkasnya yang juga merupakan pukulan pamungkas padepokan ini, yang tak lain adalah pukulan “Sirna Raga”!

Kini Jaka terkejut setengah mati dan merasa panik melihat kuda-kuda yang dipasang Kakaknya, pukulan pamungkas itu memang sangat berbahaya dan sangat dahsyat, tidak semua murid di padepokan ini mendapatkannya, pukulan itu hanya diberikan kepada murid-murid tertentu saja seperti Handaka murid pertama Kyai Pamenang yang kini menjadi Adipati di Kuningan, Kadir murid kedua di padepokan ini yang kini menjadi murid tertua, dan Dharmadipa yang merupakan anak angkat Kyai Pamenang. Jaka sendiri tidak mewarisi pukulan sakti ini, sebagai gantinya Jaka mendapat jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan yang merupakan jurus silat terhebat Kyai Pamenang, maka tak heran kalau Jaka menjadi gentar dan panik melihat Kakangnya yang pemarah itu mengeluarkan pukulan sakti pamungkas ini “Kakang kau hendak membunuhku dengan pukulan Sirna Raga itu?” teriaknya.

“Kau memang harus mampus agar tidak sombong lagi Jaka!” balas Dharmadipa yang tersinggung ketika ia terkena tendangan Jaka dalam jurus Mengoncang Langit, Menjungkir Awan tadi. Jaka yang tidak punya pukulan sakti yang mumpuni untuk meladeni Pukulan Sirna Raga itu segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya.

“Hiaaatttt!!!” Dharmadipa berteriak mendorongkan tangan kanannya ke muka, lidah api disertai gelombang angin panas menggebu mengarah Jaka! Jaka segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, ia melompat keatas! Blarrr!!! Tanah yang dipijak Jaka meledak dan terbakar oleh kobaran api dahsyat, Jaka melompat-lompat keatas seolah melayang di udara.

“Setan! Pengecut! Cuma becus menghindar! Rasakan ini!” maki Dharmadipa, kembali ia menembakan lidah api yang disertai gelombang angin panas ke atas pada Jaka! Tubuh Jaka berputar menghindari pukulan sakti itu, Jaka berhasil menghindari pukulan maut itu namun lidah api yang disertai gelombang angin panas itu membeset pinggangnya! Blarr!!! Pohon dibelakang Jaka terkena pukulan maut itu hancur berantakan! Jaka pun jatuh ke tanah dengan luka parah di pinggangnya!

Jaka muntah darah lalu mengerang-ngerang kesakitan dan akhirnya pingsan, semua murid-murid padepokan yang berada di sana segera menolong Jaka, Kadir segera menotok daerah sekitar luka dan peredaran darah Jaka agar racun jahat pukulan Sirna Raga tidak merembes merasuki jantungnya! Dharmadipa yang melihat Jaka terluka parah itu hanya mendengus lalu melompat menaiki kudanya dan memacunya meninggalkan padepokan.


***


Satu minggu kemudian, Kyai Pamenang dan Nyai Mantili pulang ke padepokan, ketika mendapati Jaka yang masih terluka parah akibat pukulan Sirna Raga, kedua orang tua itu pun terkejut bukan main! “Siapa yang melakukan ini pada Jaka?!” Tanya Kyai Pamenang pada Kadir.

“Adi Dharmadipa yang melakukannya Guru,” jawab Kadir.

“Apa?! Dharmadipa?! Kenapa ia bisa melakukan ini pada Jaka?!” tanya lagi Kyai Pamenang, Kadir pun lalu menceritakan peristiwa bertarungnya Jaka dengan Dharmadipa, dari mulai Jaka mencegah Dharmadipa untuk pergi sampai Jaka terluka parah akibat pukulan Sirna Raga.

“Kenapa harmadipa sampai ingin pergi dari padepokan ini dan melukaimu Jaka?!” Tanya Kyai Pamenang pada Jaka.

“Kakang Dharmadipa telah lama menaruh hati pada Mega Sari, ia sangat tergila-gila pada Gadis itu sampai setiap malam selalu memimpikannya sejak kepergiannya, karena tidak kuat menahan siksaan asmara dan kerinduannya pada Mega Sari, ia ingin pergi menyusul Mega Sari ke Gunung Patuha, saya melarangnya pergi sesuai pesan guru, tapi ia malah menyerang saya, dan akhirnya kami bertarung sampai Kakang Dharmadipa menggunakan jurus pukulan Sirna Raga yang tak sanggup saya hadapi” jelas Jaka.

Raut kekecewaan tampak jelas pada Kyai Pamenang dan NYai Mantili, Kyai Pamenang mengerang menahan marah membayangkan perbuatan Dharmadia “Dharmadipa… Ia memang memiliki sifat mudah marah dan kurang terpuji, tapi aku tidak menyangka kalau ia sampai tega melukai Jaka, adik seperguruannya sendiri yang juga sahabat baiknya!”.

Nyai Mantili segera menenangkan suaminya “Mungkin itu juga kesalahan kita Kakang, kita tidak awas dengan perkembangan Dharmadipa yang sudah beranjak dewasa, selama ini juga hidupnya terkurung di padepokan ini, ia belum pernah melihat dunia luar”


Kyai Pamenang mengangguk “Kamu benar Nyai, kita kurang awas kalau Dharmadipa sudah dewasa dan sudah mengenal yang namanya cinta, itu juga yang membuat kita belum mendidiknya cara menata hati dalam persoalan nafsu syahwat dan juga cinta” keluh Kyai Pamenang.

Kyai itu lalu menoleh pada Kadir, “Kamu sudah memeberikan obat untuk luka bakar di pinggangnya?”

Kadir mengangguk “Sudah Guru, tapi sepertinya kami belum sanggup untuk mengobati luka dalamnya Jaka”. 

Kyai Pamenang lalu dudk bertafakur, berdoa sejenak pada Allah SWT “Ya Allah hamba tidak berani mendahului kehendakmu, tak ada sesuatu di muka bumi ini terjadi tanpa kehendakMU, hamba tak pernah bisa menyembuhkan sakit seseorang tanpa kehendakMU, kalau memang Engkau izinkan Jaka Lelana pasti akan sembuh dari lukanya ini”.

Kyai Pamenang mendudukan Jaka “Duduklah, tahan aliran tenaga dalammu, aku akan mencoba mengalirkan tenaga dalamku untuk mengobati luka dalammu!”

Kyai lalu menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Jaka lalu perlahan mengalirkan tenaga dalamnya selama kurang lebih satu jam. Setelah selesai Kyai Pamenang Nampak bermandikan keringat dia lalu menepuk punggung Jaka, “Jaka luka dalammu sudah agak mendingan, kau tinggal meminum obat ramuanku nanti dan beristirahat yang cukup, dan luka bakar itu Insyaallah akan segera hilang”.

Jaka pun kembali berbaring. “Terimakasih guru” ucap Jaka.

Setelah Jaka sembuh benar seminggu kemudian, karena Kyai Pamenang merasa bersalah pada Jaka, ia pun menurunkan ilmu Ajian Pukulan Sirna Raga pada Jaka dengan pesan ia hanya boleh mengeluarkan pukulan ini pada saat kepepet saja dan tidak boleh dipakai untuk berbuat kejahatan.