Episode 13 - Belum selesai


Seorang pria tampan duduk santai di sudut kelas, sambil membaca buku yang dia pinjam dari temannya. Dia terlihat sangat serius dan seperti tenggelam dalam dimensinya sendiri. Itu bukan karena dia tidak mau bergaul dengan yang lainnya, akan tetapi karena siswa lainnya tidak berani dekat dengan dia.

Benar, pria tampan ini adalah Raku.

Semua yang dia lakukan hanya menimbulkan apa yang sebaliknya dari yang dia inginkan, jadi dia memutuskan untuk tidak melakukan apapun yang mungkin akan membuat dia terlihat lebih buruk lagi.

Dia benar-benar tidak habis pikir. Anak dari yakuza? Playboy dengan tiga pacar? Menghajar siswa hingga masuk rumah sakit? Melakukan pelecehan seksual pada seorang siswi? Semuanya itu omong kosong.

Dia ingin mengklarifikasi semua itu, akan tetapi dia tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana caranya. Akhirnya, dia menyerah.

Semua telah berjalan selama tiga hari, dia selalu kesepian di kelas dan akhirnya menjadi terbiasa. Namun, untungnya tidak semua siswa takut pada dia. Ada juga orang yang mau berbicara dengan dia. Meskipun dia tidak memiliki banyak teman, akan tetapi dia bersyukur orang itu ada.

“Selamat pagi.” Raku menoleh ke arah suara itu dan melihat Danny yang sedang berjalan mendekatinya sambil melambaikan tangan.

“Pagi juga!” Raku membalas sambil menutup buku yang sedang dia baca dan tersenyum melihat Danny.

“Bagaimana? Bukunya bagus, kan?” Danny bertanya sambil menunjuk buku yang dipegang Raku.

“Seru banget!” Raku berkata dengan semangat dan senyum yang lebar.

“Haha, bagus kalau gitu. Oh iya, hari ini kita cari dia lagi?” tanya Danny.

Ekspresi Raku langsung membeku, dia tersenyum pahit dan berkata, “Maaf sudah merepotkan!”

“Tenang saja, ini bukan masalah besar!” jawab Danny.

Yang mereka berdua maksud adalah orang itu, orang yang pertama kali Raku temui saat masuk ke sekolah ini, bukannya apa-apa, dia hanya ingin memastikan apakah memang dia yang menyebarkan rumor palsu tentang diirinya.

Jika itu memang dia, Raku ingin tahu alasannya, lalu untuk yang selanjutnya yang akan dia lakukan, Raku sendiri juga tidak tahu.

“Hei, kalian sedang membicarakan apa?” terdengar suara merdu yang bahkan lebih superior dibandingkan dengan suara loreley yang dapat memikat para nahkoda kapal dan membuatnya tenggelam. 

Dia adalah Alice, sang dewi sekolah.

Alice berjalan menuju Danny dan Raku, suara sepatunya yang menghantam lantai berbunyi dengan keras dan membuat jantung Raku berdetak dengan lebih cepat. 

Namun, Raku langsung menyadari tiga hal. Pertama, gadis cantik ini sedang jatuh cinta dengan satu-satunya teman yang dia punya di sekolah ini. Kedua, dia datang kemari karena ada Danny. Terakhir, meskipun dia tampan, dia tidak percaya diri untuk bisa mendekati dewi ini. Well, dia hanya bisa menyerah bahkan sebelum mencoba.

Dia terlalu takut semuanya akan berbeda dari ekspetasinya.

“Bukan apa-apa!” Raku berkata dengan wajah yang seperti mengatakan, “Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”

Tapi, sayangnya Danny berkata lain, “Kami sedang mencari seseorang!” 

Raku tersenyum pahit setelah mendengar apa yang dikatakan Danny, lalu berpikir, dia tidak bisa membaca suasana.

“Mencari siapa?” Alice bertanya dengan wajah penasaran. Dalam imajinasi Raku, ada tanda tanya berwarnan merah muda yang mengambang di atas kepalanya, membuat dia terlihat lebih imut.

“Orang yang mungkin menyebarkan rumor buruk tentang Raku.” Danny berkata dengan cepat.

“Tidak, itu belum pasti!” Raku menyela ucapan Danny.

“Tapi setidaknya masih ada kemungkinan!” balas Danny.

“Memang bagaimana ciri-cirinya, mungkin aku bisa bantu mencarinya!” Alice berkata sambil tersenyum tipis.

Raku tidak punya pilihan lain, dia menceritakan ciri-ciri orang yang ditemuinya waktu itu sambil mengingat penampilannya, setelah selesai, dia menatap wajah Alice yang seperti mengingat sesuatu.

“Sepertinya aku tahu orang itu!” Alice berkata dengan sedikit ragu.

“Benarkah?” Raku tersentak dan berdiri dari kursinya.

“Iya!” sahut Alice.

“Baguslah kalau begitu!” Danny sambil tersenyum, lalu melanjutkan, “Ayo kita cari!”

“Nanti saja, sekarang sudah mau masuk jam pelajaran!” Alice berkata sambil melihat jam di tangannya.

“Oke!” Danny membalas dengan cepat.

Raku hanya bisa tersenyum pahit, mereka sudah memutuskan bahkan tanpa persetujuan dia. Pelajaran berlangsung seperti biasanya, sebuah hal klise yang selalu terjadi seperti biasa. Saat bel tanda istirahat berbunyi, Danny dan Alice berjalan menghampiri Raku. 

“Oke, ayo kita cari!” Danny berkata dengan semangat, seolah ini adalah hal penting. Tapi hanya dia yang tahu, dia sangat menikmati ini, seperti latihan mengejar seorang penjahat, itulah yang dia rasakan.

“Tunggu, aku mau tanya dulu!” potong Alice.

“Tanya apa?” Danny berkata sambil memandang Alice.

“Kalian sudah mencari kemana saja?” Alice bertanya sambil memikirkan sesuatu.

“Hmm ... semua kelas sepuluh dan sebelas, hanya tinggal kelas dua belas yang belum kami periksa, kan?” Danny memandang Raku untuk mengkonfirmasi jawabannya.

“Benar, hanya tersisa kelas dua belas!” Raku berkata sambil menganggukan kepala.

“Seperti yang aku duga!” Alice bergumam pelan lalu melanjutkan, “Aku mungkin tahu siapa dia!”

Seperti yang diharapkan dari sang dewi sekolah, dia sangat bisa diandalkan, pikir Danny dan Raku. Kemudian mereka bertiga mulai berjalan. Bangunan tempat kelas dua belas terletak di sebelah timur sekolah. sampai di sana, Danny dan Raku mengintip dari jendela.

“Ada?” Danny bertanya dengan pelan. Dia membayangkan ini adalah sebuah investigasi khusus.

“Hmm ... itu dia!” Danny membalas lalu berjalan masuk ke kelas, meninggalkan Danny dan Alice di luar. Danny berpikir mungkin saja sang pelaku akan kabur, jadi dia menjaga satu-satunya jalan keluar, sedangkan Alice tidak peduli, dia hanya ingin bersama Danny.

Dari jendela, Danny memperhatikan Raku yang sedang berbicara dengan orang yang mungkin saja adalah penyebar rumor buruk tentangnya. 

“Memangnya dia siapa?” Danny bertanya pada Alice, dia sama sekali tidak tahu siapa orang itu.

“Dia adalah ketua klub mading. Sebenarnya dia orang yang baik dan ramah saat diajak bicara, akan tetapi dia suka melebih-lebihkan apa yang dia bicarakan!” Alice mengingat kembali saat orang itu mencoba mendekati dirinya, kebohongannya tertulis jelas di wajahnya. Alice berpikir, apa orang di klub mading seperti itu semua? Karena mereka sama-sama penulis berita juga?

“Jadi seperti itu!” Danny bergumam sambil menganggukan kepalanya sedikit.

Tidak lama kemudian, Raku berjalan keluar dari kelas dan menghampiri Danny dan Alice yang menunggu di luar. Kemudian dia menceritakan semuanya pada mereka berdua. Ternyata itu sama seperti yang Alice pikirkan. Orang itu melebih-lebihkan apa yang dia bicarakan.

Karena menurut dia, nama Raku seperti salah satu karakter dalam komik yang menceritakan tentang seorang anak yakuza yang juga memiliki tiga tokoh perempuan yang menyukainya. Namun, dia tidak tahu, ternyata apa yang dia ceritakan kepada teman-temannya ternyata membuat Raku mendapat rumor buruk itu.

Dia sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan. Tapi, apa yang telah terjadi biarlah terjadi, itu yang Raku pikrkan. Setidaknya, dia juga menemukan orang yang tetap mau berteman, meskipun dia memiliki rumor buruk.

Bukan teman, menurutnya, itu adalah sahabat.

**

Nina sangat terpukul dengan apa yang Rito lakukan, ini adalah pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu. Diputuskan dengan cara yang begitu kejam. Kini, orang nomor satu yang paling Nina benci adalah Rito, mantan pacarnya.

Nina duduk sambil memeluk lututnya di atas sofa, matanya sembab karena menangis. Dan bekas air mata masih terliihat jelas di wajahnya. Tiba-tiba, terdengar langkah kaki. Nina menoleh ke arah suara itu. Dia melihat itu adalah kakaknya, Nino.

Nino memiliki perawakan yang kekar dan gagah, tapi itu tidak mengurangi pesona miliknya, bahkan tubuh idealnya itulah yang menjadi jurus jitunya dalam menaklukan lawan jenis. Tidak sedikit kaum hawa yang terpikat karena tubuhnya ini. Wajahnya pun tak kalah mempesona, meskipun tidak tampan banget, setidaknya cukup tampan.

Nino berjalan mendekati Nina lalu duduk di sampingnya. 

“Kamu kenapa?” Nino bertanya dengan cemas. Dia sangat jarang berada di rumah, akan tetapi saat pulang dia melihat adiknya yang sedang sedih, tidak mungkin dia tidak cemas.

Nina perlahan mendekati Nino lalu memeluknya lembut. Yang terakhir masih tidak mengerti kenapa Nina menangis, dia membelai rambut adiknya lembut lalu bertanya, “Jangan sedih, berat, kamu gak akan kuat, biar aku saja!”

 Nino baru saja menonton film Dilan dan dia sangat menyukai kalimat itu, jadi dia mengubahnya sedikit dan menggunakannya. Setelah selesai mengatakan itu, entah kenapa ada sedikit rasa puas di hatinya. Rasanya sangat enak.

Ini seperti saat kau menahan buang air karena tidak menemukan toilet, lalu setelah lama kau berlari sambil menahan diri, akhirnya kau menemukannya juga. Sungguh memuaskan.

Nina berhenti terisak lalu mulai menceritakan semuanya pada Nino, tentang apa yang telah dia-mantan pacar Nina-lakukan. Semakin lama mendengar apa yang adiknya ceritakan, amarah Nino semakin membara.

Dia tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu. Nino meremas tinjunya lalu memukul ke arah meja kaca di depannya. Sebuah retak muncul di meja yang setebal 5cm itu. Ujung tinjunya berwarna merah darah dan akhirnya dia bisa menstabilkan emosi yang dia rasakan. Rasa sakit dari memukul itu sangat amat terasa, Nino menyesal telah bertingkah sok keren.

Dia berdehem kemudian berdiri, menatap adiknya yang terlihat sedikit bingung dengan apa yang dia lakukan lalu berkata, “Beritahu semua tentang dia, aku akan membuat dia menyesal!” untuk sakit yang telah dia berikan pada adiknya, juga pada dirinya sendiri, pikir Nino.

“Apa yang akan kau lakukan?” Nina merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya.

“Aku akan buat dia merasa bahwa kematian adalah hukuman paling ringan!” Nino berkata dengan serius.

“Jangan!” Nina berteriak tanpa sadar.

“Kenapa? Dia pantas mendapatkan hukuman darii apa yanngg dia lakukan!”

“Tapi ... dia ... pokoknya jangan sakiti dia!”

“Aku tidak perduli!” Nino melangkah pergi. Tidak jauh, Nino menghentikan langkahnya, “Kalau tidak salah, mantan pacarmu itu namanya Rizky, kan?”

“Eh?” Nina terkejut dengan pertanyaan kakaknya, lalu memikirkan sesuatu dan berkata, “Bukan, namanya Raku, bukan Rizky!” 

Nina merasa bersalah dengan anak baru itu, akan tetapi entah kenapa, jauh di dasar lubuknya dia tidak mau Rizky terluka. Karena Nina tahu identitas lain dari kakaknya, dia adalah ketua dari salah satu geng terkuat di kota ini.

Untuk Raku, tanpa dia sadari, semua kesialan yang dia alami, ternyata belum selesai.