Episode 183 - Pengemis


Matahari berbagi kehangatan. Ombak lauk berayun damai. Seorang lelaki dewasa menikmati sensasi yang menerpa wajah. Hembusan angin laut bermain-main dengan rambut nan panjang dan acak-acakan. Kumis dan janggutnya, pun tak lepas dari geliat angin. Meskipun demikian, angin tak dapat mengalihkan pemikiran yang sedang berkutat cepat di dalam benaknya. 

Ia menatap jauh. Jauh sekali ke arah barat. Tetiba, sebuah senyum menghias sudut bibirnya. 

“Siteppa Teppangeng…” Ammandar Wewang menegur santun. “Kami telah menyelesaikan tugas ronda di wilayah perairan ini.”

Lelaki dewasa itu menoleh pelan. Ia mengangguk, lalu tersenyum ramah. Aura kebapakan yang ramah mencuat dari dirinya. Namun demikian, ia belum menjawab pertanyaan. Ada sesuatu yang sepertinya perlu pertimbangan matang-matang.

“Apakah Siteppa Teppangeng hendak berkunjung ke suatu tempat…? Bila berkenan, sudi kiranya kami menghantarkan sampai ke tempat tujuan,” lanjut Ammandar Wewang, wajahnya terlihat amat serius. 

“Hei, Balaputera! Bukankah tujuan kita selanjutnya adalah berkunjung ke Pulau Bunga?” Suara nyaring Si Kancil terdengar melengking.

“Pulau Bunga? Dimanakah gerangan itu…?” Keumala Hayath yang mencuri dengar terlihat penasaran. 

“Pulau… yang… tersegel…,” gumam Atje Pesut dari arah haluan perahu. 

“Wahai Ammandar Wewang, dikau pernah menyinggung bahwasanya sempat bertemu dengan Bintang Tenggara…” Balaputara lalu berujar, tetapi mengalihkan topik pembicaraan. Sesungguhnya, ia bertanya bukan karena disengaja, melainkan karena tetiba perihal tersebut melintas di dalam benaknya. 

“Huahahaha…,” gelak Ammandar Wewang. Meski, tetiba ia menahan tawa… “Maafkanlah kelancangan diriku….” 

“Sesepuh Balaputera, Ammandar dikalahkan dalam pertarungan satu lawan satu saat menghadapi Bintang Tenggara…,” sahut Keumala Hayath. 

“Benarkah demikian…?” Balaputera tetiba menjadi sangat penasaran. 

“Benar.” Ammandar Wewang mengaku. 

“Apakah ia merapal formasi segel?”

“Ia merapal formasi segel nan sederhana, walau hanya mampu sedikit membiaskan ombak deras Dayung Penakluk Samudera.” Ammandar Wewang berujar polos.

“Apakah ia menggunakan tempuling?” Balaputera sangat ingin tahu. 

“Menurut Atje, putra kedua Sesepuh Balaputera memiliki senjata pusaka berupa sebilah tempuling… yang berasal dari tulang siluman sempurna,” tanggap Keumala Hayath.  

“Tempuling yang berasal dari tulang siluman sempurna…?” Balaputera terdengar heran. “Bukan tempuling yang terbuat dari logam…? Berwarna hitam…?” Ia hendak memastikan.

“Tempuling berwarna putih bersih dengan guratan bermotif seperti jalinan tulang belakang… pengamatanku tak mungkin keliru,” tegas Keumala Hayath. 

“Hm…?” Balaputera kembali menatap laut… jauh ke arah barat. Dalam benak, ia menduga-duga. Bilamana istrinya memutuskan untuk menurunkan kemampuan sebagai lamafa kepada putra kedua mereka, bukankah selayaknya mewariskan Tempuling Malam? 

“Hei, Balaputera! Kita jadi bertolak ke Pulau Bunga atau tidak!?” hardik Si Kancil. 

“Pulau Bunga…?” Reflek Balaputera menoleh ke arah tenggara. “Mungkinkah sesuatu terjadi di Pulau Bunga…?” gumamnya pelan. 

Balaputera kembali merenung, mengira-ngira, menimbang-nimbang, mencoba mengaitkan satu dengan hal lain. Pada akhirnya, benaknya sampai kepada sebuah kesimpulan. Walhasil, ia belum kunjung menjawab pertanyaan Si Kancil. Binatang siluman yang pandai berbicara itu terlihat sebal. Ia lalu melangkah pergi sambil berkomat-kamit entah apa. 

“Sepertinya saat ini sudah tiada perlu diriku menyambangi Pulau Bunga…,” gumam Balaputera. Kedua matanya kembali beralih menatap ke arah barat. “Ammandar, kemanakah tujuan selanjutnya Phinisi Penakluk Samudera ini?”

“Rencananya kami akan berlayar ke arah utara,” sahut Ammandar Wewang cepat. “Akan tetapi, bilamana Siteppa Teppangeng hendak bepergian ke suatu tempat, kami dengan senang hati bersedia mengantarkan.” 

“Kebetulan diriku memerlukan sedikit istirahat. Bilamana diperkenankan, izinkan diriku menumpang lebih lama lagi….”


=== 


“Kakak Panggalih... Kemanakah tujuan kita...?”

“Menelusuri pencuri dua lembar daun Kelor Keris yang tadi diembat dari Balai Lelang!” sahut Panggalih Rantau setengah berbisik, kemudian mempercepat langkah.

“Bukanlah tugas kita untuk menangkap seorang penyamun...,” gerutu Bintang Tenggara.

Suasana di ibukota Kerajaan Parang Batu ramai. Prajurit istana terlihat sibuk hilir-mudik. Gerbang dan jalur keluar-masuk ibukota ditutup rapat, lalu dijaga ketat. Sesiapa pun yang hendak keluar-masuk wajib menjalani pemeriksaan tanpa terkecuali. Mereka yang menunjukkan gelagat mencurigakan, segera dikarantina. 

Di setiap sudut ibukota, terdengar bisik-bisik, bahkan ungkapan ketakjuban. Segenap ahli mengangkat ceritera nan hangat tentang seorang penyamun yang berani mencuri di Balai Lelang pada tengah hari bolong. 

Para saksi mata ramai dikerubungi. Mereka menjadi sumber referensi terpercaya. Walau, versi ceritera dari satu saksi mata dengan saksi mata lainnya berbeda-beda. Ada yang menggambarkan sosok Penyamun Halimun sebagai tak kasat mata, siluman sempurna, lelaki tampan, bahkan anggota keluarga kerajaan yang mendendam karena diasingkan. Tentunya sudah banyak bumbu-bumbu yang ditambah-kurangkan ke dalam setiap kisah. 

Lombok Cakranegara terlihat paling sibuk. Sebagai Kepala Pengawal Istana Utama, ia bertanggung jawab penuh dalam memimpin upaya pencarian si penyamun. Interogasi yang ia lakukan terhadap sejumlah saksi mata, semakin membuat kepalanya pusing tujuh keliling.

Dua dari saksi mata yang telah sigap menyelinap keluar, tetiba menghentikan langkah. Bintang Tenggara menoleh ke arah sebatang pohon beringin berukuran sedang. Perasaan janggal, namun tak asing, mengusik jalinan mata hati. 

“Jangan menoleh! Teruslah melangkah!” bisik Panggalih Rantau. “Agaknya perasaan tak asing yang kita rasakan karena si Penyamun Halimun sedang bersembunyi dengan memanfaatkan Bentuk Pertama dari Silek Linsang Halimun.”

Bintang Tenggara pun menyimpulkan hal senada. Perasaan janggal yang dimaksud adalah persis dengan yang dirasa kala melewati lorong gelap di antara dua gedung saat menuju Balai Lelang. Tak diragukan lagi, perasaan tersebut adalah dikarenakan seorang ahli sedang mengerahkan jurus persilatan Silek Linsang Halimun. 

Kejanggalan yang sama kini datang dari bawah bayangan pohon beringin itu. 

“Sebaiknya kita segera melapor kepada Kakak Lombok,” ajak Bintang Tenggara. 

“Adik Bintang, saat berada di Balai Lelang... dikau terlihat sangat tertarik pada daun Kelor Keris...” tahan Panggalih Rantau.

Bintang Tenggara memutar tubuh. Ia berupaya mencerna makna di balik kata-kata Panggalih Rantau. 

“Apakah dikau memiliki cukup banyak keping-keping emas untuk membeli tanaman siluman nan langka itu...?”

“Maksud Kakak Panggalih...?”

“Bagaimana bila kita mencuri kembali dua helai daun Kelor Keris tersebut...?”

“Lalu kita kembalikan kepada Kakak Lombok!” sahut Bintang Tenggara.

“Begini... begini...” Panggalih Rantau menarik napas. “Penyamun Halimun mencuri dua helai daun Kelor Keris dari Balai Lelang. Demikian, daun Kelor Keris tersebut kini menjadi milik si Penyamun Halimun itu.”

Bintang Tenggara segera teringat bahwa Panggalih Rantau, juga memiliki kemampuan mencuri gulungan naskah milik Partai Iblis. 

“Lalu... bila kita mencuri dari Penyamun Halimun, maka kedua helai daun tersebut menjadi milik kita... Selembar untukmu, dan selembar lagi untukku” 

Sungguh logika yang aneh, batin Bintang Tenggara. Akan tetapi, mengingat harga bahan ramuan langka tersebut teramat mahal, nuraninya sedikit goyah. 

“Sungguh jernih pemikiran anak muda ini!” tetiba Ginseng Perkasa berujar. 

“Akan tetapi, bagaimana halnya dengan Kakak Lombok...?” Bintang Tenggara masih merasa tak nyaman. Sebagai sesama anggota Pasukan Telik Sandi, dirinya merasa berkewajiban untuk membantu Lombok Cakranegara. Solidaritas. 

Panggalih Rantau mengangkat sebelah alis. Raut wajahnya justru yang seolah mempertanyakan pemikiran anak remaja di hadapannya itu. 

Bintang Tenggara pun tersadar. Lombok Cakranegara tentu tak akan terancam bahaya bila tak dapat menangkap si Penyamun Halimun. Ia pun teringat bahwa Kepala Pengawal Istana Utama itu sangatlah piawai sekali dalam merumuskan tipu muslihat. Pastilah ia mampu berkelit dari permasalahan yang tak seberapa ini. Lagipula, biar saja sesekali Lombok Cakranegara terkena getah dari peristiwa ini. 

...


“Kakak Panggalih... sampai kapan kita berpakaian seperti ini dan menunggu di tempat ini...?” 

“Adik Bintang, sungguh dikau masih bau kencur....” Panggalih Rantau beringsut mendekat. “Aturan pertama dalam penyamaran, adalah ‘penampilan’.” 

Bintang Tenggara merasa tak nyaman. Atas anjuran Panggalih Rantau, ia kini mengenakan pakaian compang-camping. Di tangan kanan, sebuah tempurung dibelah dua. Beberapa keping perunggu tergeletak di dalam tempurung tersebut. Di sebelahnya, juga berpenampilan sebagai pengemis, adalah Panggalih Rantau si saudagar antar pulau. 

“Aturan kedua, adalah ‘panggilan’. Artinya, jangan menyapa teman sepenyamaran dengan nama asli,” lajut Panggalih Rantau. “Panggil diriku sebagai Pengemis Utara, dan Adik Bintang adalah Pengemis Cilik.” (1)

Demikian, Pengemis Utara dan Pengemis Cilik duduk bersila di jalan setapak tak jauh dari pohon beringin nan rindang. Keduanya masih dapat merasakan keberadaan ahli yang merapal jurus persilatan Silek Linsang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar. 

Pengemis Cilik mulai terlihat gelisah. Sebentar lagi malam tiba, sedangkan dirinya baru tiba di Pulau Parang pada pagi hari tadi. Ia sangat mengharapkan kesempatan beristirahat. Seburuk-buruknya siasat Lombok Cakranegara, tokoh tersebut tetap memiliki kediaman untuk ditumpangi. 

Pengemis Cilik mulai menyesali tindakannya mengikuti Panggalih Rantau. Akan tetapi, apa mau dikata, dirinya sangat memerlukan selembar daun Kelor Keris sebagai salah satu bahan membuatkan tubuh baru bagi Ginseng Perkasa. 

“Setidaknya... raut wajah Pengemis Cilik sudah sejalan dengan penyamaran kita,” puji Pengemis Utara. “Aturan ketiga, dan yang paling penting, adalah kesabaran.” 

“Srek!” Tetiba sesosok tubuh melompat keluar dari balik bayangan pohon beringin. Ia mengenakan pakaian serba hitan, dan topeng berwarna putih. 

“Kakak Pang...” Pengemis Cilik terdiam sejenak... “Kakak Pengemis Utara... kini adalah kesempatan kita.”

“Sabar,” tanggap Pengemis Utara. Ia lalu memberi kode dengan mengayunkan lengan dan segera bangkit. Langkah kakinya sempoyongan. 

Pengemis Utara dan Pengemis Cilik kemudian membuntuti si Penyamun Halimun. Tiada dinyana, sosok tersebut menuju ke arah sebuah rumah yang megah. Berbagai jenis ornamen dan ukiran nan halus menghiasi sisi luar dan sisi dalam dari rumah nan mewah mewah. 

“Mungkinkah ia merupakan anggota keluarga kaya yang mencari kesenangan dengan menyamun...? Ataukah ia merupakan orang suruhan dari seorang tuan yang menumpuk kekayaan dari mencuri...?” Pegemis Utara menduga-duga. 

Kedua pengemis lalu memutuskan untuk menunggu. Kembali mereka duduk sabar menanti di hadapan kediaman nan mewah. 

Tak lama, si Penyamun Halimun melangkah keluar dari kediaman mewah tersebut, Ia lalu mengunjungi beberapa kediaman mewah lain. Segera dapat disimpulkan, bahwa ia menggondol harta benda dari orang-orang kaya. 

Di balik gelapnya malam, Pengemis Utara dan Pengemis Cilik terus membuntuti Penyamun Halimun. Anehnya, sosok tersebut kembali ke Balai Lelang. Karena kejadian pada siang hari tadi, Balai Lelang malah dalam keadaan sepi sekali. 

Penyamun Halimun bergerak ke belakang bangunan megah tersebut. Ia menyibak semak belukar. Sebuah prasasti batu berukuran sedang berdiam di sana. Sosok tersebut lalu mengeluarkan sebuah lencana. 

“Ia hendak meninggalkan ibukota menggunakan lorong dimensi...,” bisik Pengemis Utara.

Sebuah lorong dimensi ruang terbuka. Penyamun Halimun memerhatikan sepintas wilayah sekeliling. Kemudian, ia melompat masuk. 

“Cepat, sebelum lorong dimensi itu tertutup!” Pengemis Utara bergegas menyusul. Ia tak hendak kehilangan jejak Penyamun Halimun

“Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!” Pengemis Utara menggunakan teleportasi jarak dekat. 

“Tunggu!” Pengemis Cilik hendak memberi peringatan. Akan tetapi, kejadian di hadapan matanya berlangsung cepat. Demikian, ia terlambat menyampaikan bahwa bila memaksa masuk ke dalam lorong dimensi ruang menggunakan teleportasi jarak dekat, maka dapat menyebabkan penyimpangan arah. Dirinya pernah terdampar di Pulau Dua Pongah akibat tindakan serupa. 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana! 

Menggeretakkan gigi, Pengemis Cilik melesat dengan kedua kaki berbalut unsur kesaktian petir. Di detik-detik terakhir sebelum lorong dimensi tertutup, Pengemis Cilik pun melompat. Hampir saja ia tak berhasil melangkah ke dalam. 

...


“Brak!” Suara mirip tabrakan terdengar keras. Sebatang pohon jati nan besar bergegar layaknya terkena hantaman deras. 

Seorang gadis remaja, yang kebetulan sedang melintas, terkejut bukan kepalang. Ia pun segera mendatangi lokasi pohon nan besar. Betapa terkejutnya ia mendapati bahwa pada pangkal pohon, seorang anak remaja sepantaran yang berpakaian kumal dan kotor, tergeletak tak sadarkan diri. 



Catatan:

(1) Di dalam novel silat ‘Legenda Pemanah Rajawali’ karya Jin Yong, Si Pengemis Utara atau Ang Cit Kong merupakan ketua Partai Pengemis. Walaupun tampak rakus karena suka makanan enak, ia adalah ahli dalam ilmu silat dan selalu membela orang kecil. Ia berada dalam jajaran Lima Pendekar Terhebat (Racun Barat, Kaisar Selatan, Raja Tengah, Pengemis Utara dan Sesat Timur).