Episode 6 - Lima

Putri Mega Sari (2)


Malam harinya, Mega Sari Nampak sedang termenung seorang diri di kamarnya, dia memegang sepucuk surat, dia lalu membaca surat tersebut untuk kesekian kalinya. Isi suratnya adalah menyuruh Mega Sari untuk keluar dari Padepokan Sirna Raga dengan diantar Emak Inah abdinya yang setia dan Ki Silah kusir kereta sekaligus pengawal pribadinya untuk sowan pada Topeng Setan dan memperdalam ilmu teluhnya pada Nyai Lakbok guru ilmu teluh dan ilmu hitamnya di Gunung Patuha.

Mega Sari terus termenung, teringat ia pada peristiwa beberapa tahun silam saat ia masih berusia tujuh tahun, saat itu ayahnya Prabu Kertapati mengenalkannya kepada seorang nenek-nenek yang sangat menyeramkan bernama Nyai Lakbok. Prabu Kertapati meminta dirinya untuk belajar ilmu hitam dan ilmu teluh dari Nyai Lakbok, ia lalu menceritakan ambisinya untuk dapat mengalahkan seluruh negeri lain di tanah pasundan sehingga ia bisa menguasai seluruh tanah Pasundan di bawah kekuasaan Mega Mendung. 

Untuk mencapai tujuan tersebut, ia meminta Mega Sari untuk mendukung rencananya dengan cara belajar ilmu hitam dan ilmu teluh yang dahsyat pada Nyai Lakbok, maka terpaksa ia menurutinya meskipun saat itu ia sangat ketakutan pada Nyai Lakbok.

Ternyata Mega Sari adalah seorang gadis yang cerdas, dalam tempo singkat ia berhasil menguasai ilmu-ilmu dasar dari ilmu teluh, lambat laun sifat-sifat jahat atau sifat-sifat negatif dalam dirinya terus tumbuh seiring kemajuan ilmu teluhnya. Nampaknya ia mewarisi ambisi dan keserakahan dari ayahnya hingga di usia yang masih kecil, ia sudah memiliki sifat untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Sifat jahatnya tersebut dapat ia sembunyikan dibalik senyum manisnya dan tutur katanya yang lembut. Semua tak lepas dari ajaran gurunya yang berjuluk Iblis Teluh Dari Patuha.

Betapa gembiranya hati Prabu Kertapati melihat kemajuan pesat pelajaran teluh anak gadisnya itu, apalagi setelah mengetahui bahwa Mega Sari adalah seorang gadis yang sangat ambisius dan culas, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya dan mendapatkan apa yang ia inginkan. 

Setelah dirasa cukup bekalnya, Prabu Kertapati mengirim Mega Sari ke Padepokan Sirna Raga sebagai pencitraan bahwa ia menerima Islam dengan sangat terbuka sampai menitipkan putri semata wayangnya ke Padepokan Sirna Raga, juga demi menepis isu bahwa keluarga keraton menganut ilmu hitam.

Kini ayahnya mengirimi surat, menyuruhnya untuk kembali memperdalam ilmu teluhnya pada Nyai Lakbok di gunung Patuha, hatinya terasa berat untuk meninggalkan padepokan ini, sebab di tempat inilah dia mengenal dunia luar, dunia di luar tembok kaputren keraton, dunia manusia biasa bukan dunia yang dipenuhi ilmu-ilmu hitam ghaib seperti di Gunung Patuha, dan yang paling membuatnya berat hati ialah ia harus meninggalkan Jaka Lelana dan Dharmadipa, dua orang pria yang telah mencuri perhatiannya.

Emak Inah yang mengantarkan surat Prabu Kertapati pada Mega Sari mafhum dengan apa yang dirasakan oleh Mega Sari, kegalauan gadis belia itu nampak jelas dari raut wajahnya yang ayu. “Maaf gusti Putri, apakah Gusti Putri keberatan untuk meninggalkan padepokan ini?” Tanya wanita tua itu.

Mega Sari menghela nafas berat “Kalau boleh jujur… Iya Emak, hatiku berat untuk meninggalkan padepokan ini”.

“Emak maklum dengan keberatan hati Gusti Putri, apalagi kalau nanti Gusti harus kembali ke keraton, emak juga memperhatikan Gusti Putri sedari tadi siang sewaktu Emak tiba disini, Gusti sering memperhatikan dua pemuda murid disini bukan?”

Wajah Mega Sari memerah mendengar ucapan Emak Inah tersebut, rupanya wanita tua yang telah mengasuhnya sejak kecil itu sangat awas pada apa yang ia lakukan, maka dengan suara terbata ia mengakuinya “… Benar Mak…”

Emak Inah tersenyum, namun wajahnya kemudian berubah menjadi sendu “Gusti putri maafkan kalau Emak lancang, akan tetapi kalau Emak boleh mengingatkan, ingatlah bahwa Gusti Putri adalah seorang putri raja dari Negeri Mega Mendung yang kini namanya kian disegani di bumi Pasundan ini, itu artinya suami gusti lah yang akan menjadi Raja di Mega Mendung ini… Harap diingat kalau Gusti putri tidak boleh sembarangan menaruh hati pada seorang pria”.

Mega Sari seakan baru teringat bahwa ia adalah seorang tuan putri dari Mega Mendung, kehidupan di Padepokan Sirna Raga yang tidak memandang status dan hanya sesuai dengan norma agama seolah membuatnya lupa akan siapa dirinya, air matanya pun menetes keluar dari kedua bola matanya yang bulat indah mengingat perasaannya pada Jaka dan Dharmadipa “Oh Emak… Aku baru teringat siapa diriku ini, kehidupan di padepokan ini membuat aku terlena…”

Emak Inah ikut bersedih mendengarnya, Mega Sari mulai menangis sesegukan, ia menyandarkan kepalanya ke bahu perempuan tua itu, Emak Inah pun mengelus kepala Mega Sari “Maafkan Emak Gusti Putri, Emak sangat menyesal mengatakan hal tersebut, namun kalau Emak tidak mengatakannya Emak akan lebih salah lagi, Maafkanlah EMak hanya mengingatkan Gusti Putri saja agar tidak salah melangkah”.

“Tidak apa-apa Emak, aku mengerti…” isak Mega Sari. 

Emak Inah pun membesarkan hati gusti putrinya “Akan tetapi ingatlah Gusti Putri, kalau Gusti putri sudah dapat menyempurnakan ilmu yang diajarkan oleh Nyai Lakbok dan dapat menyenangkan hati Gusti Prabu, mungkin Gusti Putri dapat melakukan dan mendapatkan apapun yang Gusti Putri inginkan, maka dari itu Gusti Putri harus bersemangat untuk menyempurnakan ilmu Gusti dan menjalankan tugas dari Gusti Prabu dengan baik”.

Mega Sari mengangkat kepalanya lalu mengusap air matanya, dia lalu menganguk sambil tersenyum “Emak benar, aku tidak boleh menyerah begitu saja”, dia lalu terus menaruh kepalanya di pangkuan Emak Inah sambil menahan sesegukannya, lama-kelamaan ia tertidur karena keleahan.

Tak terasa air mata Emak Inah pun ikut terjatuh melihat Mega Sari yang tertidur di pangkuannya “Gusti… Betapa berat hidup Gusti Mega Sari, betapa berat hidupnya menjadi seorang putri raja, ia tidak bisa melakukan apa yang biasa dilakukan oleh gadis-gadis seusianya, bahkan untuk jatuh hati pada seorang pria saja tidak bisa ia lakukan” bathinnya.


***


Keesokan harinya saat setelah selesai sholat shubuh, Mega Sari berpamitan pada Kyai Pamenang dan Nyai Mantili, kepergiannya yang tiba-tiba sangat mengejutkan seisi padepokan, terutama Jaka Lelana dan Dharmadipa, dengan hati terluka mereka hanya bisa melihat kepergian Mega Sari setelah gadis itu berpamintan dan mengucapkan salam perpisahan pada seluruh murid. 

“Keparat! Kenapa Mega Sari pergi dengan begitu tiba-tiba tanpa mengatakan apa-apa pada kita?! Kemarin pagi kita masih bisa mengobrol dengannya, malah aku yang membawakan keranjang cuciannya!” geram DHarmadipa yang sangat kecewa pada kepergian Mega Sari, sifatnya yang brangasan menambah amarahnya meledak-ledak didada pemuda ini.

“Sudahlah, Kakang… Ingatlah bahwa ia adalah putri dari Prabu Kertapati, mungkin ia mempunyai tugas dari ayahandanya” sahut Jaka yang juga kecewa dengan kepergian gadis yang ia cintai itu.

Dharmadipa melotot pada Jaka lalu menarik kerah bajunya “Apa kau tidak kecewa dengan kepergiannya Jaka?!”

Jaka menangguk perlahan “Tentu saja aku kecewa Kakang, akan tetapi kita bisa apa? Kita tidak bisa mencegah kepergiannya”.

Dharmadipa melepaskan cengkramannya pada Jaka, ia lalu berjalan mondar-mandir “Tapi tetap saja ini terlalu tiba-tiba bagiku! Kalau begitu aku akan menyusulnya! Ia pasti belum jauh!”

Jaka terkejut dengan ucapan Kakak seperguruannya itu “Jangan Kakang, bisa-bisa kita nanti berurusan dengan pihak berwenang kalau berani menganggu Mega Sari!”

Dharmadipa mencibir Jaka dengan congkaknya “Cuih! Kalau kau takut, aku saja sendiri yang akan menyusul Mega Sari!” lalu ia berjalan meninggalkan Jaka menuju ke istal kuda dan langsung memacu kudanya menyusul Mega Sari. Melihat ulah Kakaknya tersebut Jaka jadi ragu, ia lalu menyusul Dharmadipa.

Kereta kuda berwarna hitam yang ditarik oleh dua kuda yang berjalan dengan kecepatan sedang itu bermodel sederhana, tidak ada atribut kerajaan dan tidak nampak seperti kereta kerajaan, dan tidak dikawal oleh pasuka kerajaan, diluar hanya tampak seorang pria tua yang bernama Ki SIlah sebagai sais kereta kuda yang ditumpangi oleh Mega Sari itu, mungkin hal ini dilakukan demi keamanan agar tidak mengundang para begal yang akan menghambat perjalan mereka.

Pada suatu tikungan, tiba-tiba ada dua orang penunggang kuda yang mencegat mereka, Ki SIlah yang berusia cukup lanjut namun matanya masih sangat awas ini segera menghentikan kudanya, dengan sigap ia segera memegang hulu golok sakti senjatanya “Siapa kalian? Mau apa?!” hardiknya.

Dua penunggang kuda yang mencegat mereka tak lain adalah Jaka dan Dharmadipa, seolah tidak mempedulikan Ki Silah, Dharmadipa langsung lantang berteriak “Mega Sari! Ini aku Dharmadia dan Jaka! Kami mohon keluarlah sebentar!”

Mega Sari yang mendengar suara itu sangat terkejut, ia langsung membuka pintu kereta itu dan keluar diikuti oleh Emak Inah, begitu melihat dua sosok pemuda yang telah sejak lama mengambil perhatiannya itu air matanya langsung meleleh “Kang Jaka! Kang Dharma!” jeritnya.

Melihat itu Ki Silah segera melompat turun dari kursi sais kereta kudanya “Kalian murid Padepokan Sirna Raga? Mau apa kalian?” hardiknya.

“Benar, kami saudara seperguruan Mega Sari, tolong izinkanlah kami untuk berbicara sebentar” jawab Dharmadipa.

Ki Silah marah bukan kepalang sebab mereka terus memanggil nama Mega Sari tanpa menyebut Gusti Putri “Jaga mulut kalian! Meskipun kalian saudara seperguruannya, kalian tetap harus memanggil Gusti putri dengan sebutan Gusti Putri! Kaum jelata seperti kalian tidak pantas memanggil namanya!”

Bukan main marahnya Dharmadipa mendengar bentakan dari Ki Silah, keangkuhannya tidak mengizinkannya untuk dipanggil kaum jelata seperti yang Ki Silah sebutkan “Kurang ajar! Jangan menghinaku!” bentaknya.

Sebelum keadaan semakin memanas, Mega Sari segera berlari menghampiri Dharmadipa dan Jaka untuk melerai mereka, melihat Mega Sari menghampiri mereka, Dharmadipa dan Jaka pun turun dari kudanya masing-masing, Jaka segera menjura membungkukan kepala dan badannya untuk memberi hormat pada Mega Sari, sementara Dharmadipa hanya berdiri tegak sebab ia merasa sama-sama dari golongan priyayi maka ia tidak merasa harus untuk memberi hormat pada Mega Sari.

Mega Sari segera membangunkan Jaka yang memberi hormat padanya “Kang Jaka, kenapa Kang Jaka bersujud segala padaku?” tanyanya dengan sedih. 

Jaka pun bangun namun kepalanya tetap menunduk “Mohon ampuni kelancangan hamba Gusti Putri, tapi hamba yang hanya rakyat biasa harus menjaga tata karma dan eweh pakewuh pada Gusti Putri”. (Eweh Pakewuh = Etika)

Alangkah sedihnya Mega Sari mendengar jawaban dari Jaka, sambil menangis ia berkata “Kang Jaka, Mega Sari mohon jangan lakukan ini pada Mega Sari, tolonglah Mega Sari ingin hubungan kita seperti biasa, seperti saat di padepokan!”

“Mega Sari benar Jaka! Jangan rendahkan harga dirimu untuk hal yang konyol seperti ini! Mega Sari adalah saudara kita! Adik kita!” sahut Dharmadipa.

Mendengar ucapan DHarmadipa, Ki Silah tak dapat lagi menahan kesabarannya sebab sikap pemuda satu ini sudah dianggapnya melebih batas, maka ia pun menghampirinya dan menghardik pemuda ini “Kali ini ucapanmu benar-benar keterlaluan! Seluruh tempat ini termasuk kedalam wilayah kekuasaan Mega Mendung! Kau harus menghormati Gusti Putri Mega Sari sebagaimana mestinya!”

Mata Dharmadipa melotot, dia langsung berkacak pinggang dan membusungkan dadanya “Hai aki-aki Sais kereta Mega Sari! Sudah cukup aku dengar penghinaanmu! Dengarlah baik-baik! Aku ini adalah Dharmadipa! Putra dari Prabu Wangsadipa dan Ratu Sekar Ningsih dari Parakan Muncang! Meskipun Negeri itu sudah hancur belasan tahun silam namun aku tetaplah seorang Pangeran! Jadi aku juga adalah seorang Pangeran, setingkat dengan Gusti Putrimu ini!”

Mega Sari terkejut mendengarnya, tetapi Ki Silah nampaknya tidak percaya begitu saja pada Dharmadipa “Apa kau seorang pangeran? Lalu bagaimana kau bisa membuktikannya? Kau tentu tidak bisa membuktikannya dengan bertanya pada orang yang sudah meninggal dan pada negeri yang telah hancur bukan?”

“Kurang ajar! Jangan hina orang tuaku dan negeriku! Kalau perlu bukti kau bisa minta Kyai Pamenang bersumpah bahwa aku adalah putera dari Prabu Wangsadipa dan Ratu Sekar Ningsih dari Parakan Muncang! Atau kalau masih kau ragu juga, bagaimana kalau nyawa tua bangkamu kuakhiri disini sekarang juga!” bentak Dharmadipa sambil memasang kuda-kudanya.

Ki Silah pun bersiap-siap, sementara Jaka ikut bersiap untuk menahan Dharmadipa, tapi Mega Sari segera melerai mereka “Cukup! Hentikan!”, dia lalu menoleh pada Ki Silah “Abah, mohon maafkanlah mereka, bagaimana pun mereka adalah saudara seperguruanku dan kawan-kawan dekatku, sekarang tolong berikan waktu sebentar pada kami!”

Ki Silah segera menjura hormat pada Mega Sari “Baiklah Gusti, Abah mohon maaf”, dia lalu menjauh menuju ke kereta kudanya.

Mega Sari lalu menoleh pada Dharmadipa “Benarkah apa yang kau katakan itu Kakang? Maaf aku bertanya sebab yang aku tahu kau adalah anak dari Kyai Guru dan Nyai Guru”

Dharmadipa mengangguk jumawa “Tentu saja benar Mega, sayangnya negeriku telah hancur diserang oleh pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten, bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat ayahku meninggal terbunuh oleh pasukan mereka ketika melindungi aku dan ibuku di kamar keprabuan, Ibuku juga meninggal terbunuh untuk melindungiku, untunglah Kyai Pamenang melerai pasukan itu lalu menolongku dan menjadikan aku anak angkatnya serta murid di Padepokan Sirna Raga”.

Mega Sari mengangguk-ngangguk, hatinya karena ternyata Dharmadipa juga adalah seorang keturunan priyayi yang membuat batas perbedaan status social di antara mereka menipis, kemudian dia berharap juga kalau Jaka adalah seorang yang sama dengan Dharmadipa, diapun menoleh pada Jaka “Kalau Kang Jaka bagaimana?”

Jaka tertunduk lesu, dengan berat hati ia menjawab “Maafkan hamba Gusti Putri, hamba hanya orang biasa, berbeda dengan Kakang Dharmadipa, identitas hamba tidak jelas, bahkan hamba tidak pernah ingat orang tua hamba, menurut Kyai Guru, ayah hamba meninggal terbunuh ketika menitipkan hamba dipadepokan, sementara hamba tidak tahu tentang ibu hamba” jawabnya pelan dengan suara bergetar menahan gejolak di dadanya.

“Ooohhh…” hanya itulah kata yang terucap dari Mega Sari, namun jelas terdengar kesedihan dan kekecewaan didalamnya, ia sangat kecewa bahwa ternyata Jaka hanya orang biasa, bukan seorang keturunan priyayi seperti Dharmadipa, kembali kesedihan menyelimuti dirinya membuat dua titik air bening jatuh dari mata bulat indahnya yang telah memerah, kembali ia sesegukan sehingga Emak Inah yang maklum dengan perasaan Mega Sari pada dua pemuda ini, menghampirinya dan merangkul putri junjungannya itu.

Jaka hanya terdiam menundukan kepalanya, sementara Dharmadipa merasa tidak enak dan agak tersinggung melihat perubahan sikap Mega Sari setelah mengetahui bahwa Jaka adalah seorang rakyat biasa, kini tahulah ia perasaan Mega Sari pada Jaka yang membuatnya cemburu, namun ia memilih untuk diam menunggu Mega Sari untuk lebih tenang.

Setelah agak tenang dan dapat menguasai dirinya, Mega Sari mengusap air matanya, dia lalu menatap Jaka dan Dharmadipa lekat-lekat, lalu tergambarlah senyum di wajahnya yang dipaksakan, keluarlah kata-kata dari mulutnya “Kakang berdua… Aku minta maaf karena tidak bisa berpamitan pada kalian secara khusus, aku minta maaf karena kepergianku dari padepokan begitu mendadak dan harus meninggalkan kalian secara tiba-tiba, sejujurnya aku pun tidak ingin keluar dari padepokan dan berpisah dengan Kakang berdua, namun apalah dayaku, Rama Prabu menyuruhku untuk memperdalam ilmuku pada seorang guru yang ditunjuk Rama Prabu saat ini juga, maka maafkanlah aku karena aku harus pergi meninggalkan kalian”.

Kata-kata bersuara halus yang keluar dari bibir manis Mega Sari sangat melukai hati kedua pemuda ini, terutama Jaka yang sedari kemarin patah hati sebab dengan status sosialnya ia tidak mungkin akan dapat bersanding dengan Mega Sari. Belum lagi luka itu pulih, Mega Sari kini harus pergi meninggalkannya, tapi sebagai seorang lelaki pantang baginya untuk memperlihatkan air matanya pada seorang wanita, dengan segala daya, ia berusaha agar air matanya tidak tumpah. Dharmadipa juga terluka, hatinya terasa sungguh berat untuk melepas Mega Sari, tapi ia masih sangat penasaran pada Mega Sari “Kalau boleh tahu, ke manakah engkau hendak pergi?”

“Ke gunung Patuha, di sanalah guruku bertapa, aku akan berada di sana selama beberapa bulan” jawab Mega Sari, Dharmadipa mengangguk-ngangguk “Gunung Patuha… Hmmm…” dia lalu kembali menatap mata Mega Sari “Mega Sari, aku sangat berharap bahwa ini bukan perjumpaan kita yang terakhir, ini juga bukan perpisahan untuk selamanya… Apakah engkau akan mengizinkan aku kalau aku hendak berjumpa lagi denganmu?”