Episode 22 - White


Neil sendirian bisa mengalahkan Sky Chaser, itu yang dikataan Rem. Namun, gadis berambut putih itu tentu saja tidak percaya. Karena itu, Rem memaksa untuk mencari jalan keluar dengan mencari penawaran lain yang lebih cocok agar kedua belah pihak bisa setuju.

“Kalian bisa memanggilku White.” Gadis berambut putih itu memperkenalkan diri. 

Entah kata ‘White’ itu diambil dari nama rambutnya atau bukan, atau apa itu nama asli atau hanya nama kodenya saja, mengingat kondisi Neil yang parah, tidak seorang pun mempertanyakan masalah itu.

White menuntun mereka semua ke sisi sebrang. Hanya sekitar tiga ratus meter dari jembatan, mereka sampai. Tidak ada yang spesial dari daerah itu, tapi ada setidaknya listrik, makanan, senjata, dan persedian lainnya seperti obat-obatan. Tempat mereka tinggal tidak berbeda jauh dengan yang dihadapai Noxa dan kawan-kawan sebelumnya, di gedung-gedung kosong sekitar yang sewaktu-waktu bisa roboh kapan saja. Hanya saja, jauh terlihat lebih bersih dan nyaman.  

Noxa melihat sekitar. Tidak ada seorang pun. Terlalu sepi. Tidak mungkin White hidup sendirian di tempat ini. Selain rasa khawatir, Noxa hanya bisa memasang peringatan untuk selalu waswas setiap saat.

“White…?”

Suara lemah dari seorang gadis terdengar. Muncul dari salah satu bangunan yang ada di dekat mereka. Mengenakan dress putih panjang menutupi seluruh kaki. Topi lebar yang dikenakan menghalangi sinar matahari agar tidak terkena kepala dan juga rambut panjang pirangnya. Gadis itu berjalan perlahan sambil menggunakan tongkat sebagai alat pemandu.

Noxa berjalan sampai di sebelah White. “Dia… buta?”

“W-White…?” Sekali lagi dia membuka mulut, tapi kali ini ada sedikit rasa takut di suaranya.

White menghela. Gadis yang menyambutnya saat ini tidak seharusnya berjalan sendirian di kota yang penuh dengan Outsiders. Jika Rank C sudah bisa membunuh orang biasa, maka membunuh orang yang tidak bisa melihat akan jauh lebih mudah lagi. Untuk sesaat, White berniat membentak gadis itu agar tidak pergi sendirian lagi, tapi ia menahan diri.

“Ini daerahku.” White mulai berbicara. “Tidak banyak orang-orangku yang tinggal di sini, jadi kalian bisa istirahat di sini. Aku punya urusan yang harus diselesaikan. Aku akan kembali lagi nanti.”

Tanpa menunggu jawaban, White segera pergi dan menarik gadis itu menggunakan sedikit paksaan dengan tangannya.

“Elli, come with me!” 

Noxa tidak tahu apa yang terjadi, tapi itu bukanlah sesuatu yang penting walaupun sebenarnya ia sedikit penasaran. Semua orang punya bebannya masing-masing. Terlebih lagi, beban yang ia tanggung sebagai pemimpin sudah membuatnya repot.

Noxa membalikkan tubuh untuk melihat semua orang. Sky Chaser yang tenggelam ke laut memberikan mereka semua sedikit waktu luang. Ini kesempatan yang bagus untuk mencari tahu keadaan.

“Kalian semua boleh istirahat, tapi… ini masih daerah liar. Jangan sampai lengah jika ada Outsiders yang muncul. Jangan melawan mereka sendirian atau berdua. Meski Rank C, segera beritahu semua orang!” Dengan rasa lelahnya, Noxa memaksakan diri untuk berteriak dan membuat suara tegas.

Noxa melihat kelompok Flame Lily. “Sampai White kembali, jaga Neil! Kazu, aku ingin kau mengurus Baron. Lalu, Fay… maaf, tapi aku minta tolong padamu untuk mengurus semuanya.”

Tanpa menunggu balasan, Noxa membalikkan tubuh dan segera berjalan, berniat mengejar White. Setelah dipikir-pikir, tidak mungkin rasanya ia bisa mengabaikan masalah seperti ini. Ada beberapa hal yang harus ia ketahui tentang apa yang terjadi pada kota ini. Memikirkan Outsiders Rank S yang sudah menghancurkan kota dan menghilang bukan hanya masalah satu Negara saja. Selain itu, Noxa merasa tidak sepenuhnya dipercayai oleh OFD Indonesia.

Ini mungkin hanya perasaannya saja, tapi seperti terlalu banyak informasi yang ditutupi darinya meski dia merupakan tim peringkat kedua. Setelah ia hampir dibunuh oleh anggota timnya sendiri, ia sadar bahwa dirinya terlihat hanya seperti tumbal saja. Semua itu cukup membuatnya keal hingga ingin sekali rasanya membalas semua perbuatan yang telah mereka lakukan.

Siapa pun yang membuat Baron seperti itu, tidak akan pernah kumaafkan!

 Semua orang butuh alasan yang kuat untuk berkhianat pada seseorang yang sudah baik kepada dirinya. Di antara semua anggota Aster Glass, hanya Baron saja yang mempunyai keluarga. Rasanya aneh jika Noxa yang merupakan ketua tim, tidak tahu alasan kenapa Baron melakukan itu. Meski begitu, itu masih dugaan saja. Namun, seandainya dugaan Noxa benar, maka… mengancam sampai akan membunuh keluarganya sangatlah keterlaluan.

“Tunggu sebentar, Noxa!”

Selagi pikiran Noxa dipenuhi dengan amarah, ia tidak menyadari kalau seseorang sudah menahan pundaknya.

“Rem…? Apa yang kau lakukan? Lepaskan!” Noxa memberontak, saat itu juga Rem melepas tangannya. “Kau menggangu, Rem!” 

“Setidaknya, dinginkan dulu kepalamu,” ucap rem dengan suara tenang. “Kau yang paling lelah di sini. Kau tidak perlu terburu-buru seperti itu.” 

“Hmm… Rem, ini semua bukan urusanmu.” Suara Noxa terdengar lebih lemas. “Memangnya apa yang kau tahu? Rem, kenapa tidak kau urus saja Neil? Aku sedikit menyesal menyerahkan semuanya pada Navi.”

“Ini semua tidak ada hubungannya dengan White.”

“Rem..” Noxa tersenyum, tapi tidak ada yang bagus dari itu. Matanya tajam mengarah pada Rem yang mengambil beberapa langka mundur. “Dari awal aku selalu bertanya-tanya. Saat kau berbicara dengan Neil di helikopter. Saat kau menembak Baron tanpa ragu. Atau saat kau berbicara dengan White. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?”

Rem terdiam. Jika harus jujur, Ia sendiri tak terlalu mengerti maksud dari pertanyaan Noxa. Meski matanya bisa melihat benda yang sangat kecil dari kejauhan atau sesuatu yang bergerak sangat cepat, ia tetap tidak bisa membaca pikiran dengan kedua matanya yang pernah disebut spesial oleh Neil.

Faktanya, pada saat Neil memanggil namanya, ia tidak terlalu mengerti apa yang terjadi. Rem hanya memaksa kerja otaknya untuk bisa berpikir secepat akselerasi matanya yang bisa melihat sampai lima ribu frame per detik. 

Melihat ekspresi tak mengerti milik Rem, Noxa segera menghilangkan senyum di wajahnya yang tampak aneh. “Aku tidak peduli jika mereka tidak mempercayaiku, tapi… sepertinya kau tahu jauh lebih banyak dariku. Rem… untuk apa kau ada di sini?”

Sebelum mereka berangkat, Rem yang merupakan tim Rank tiga tiba-tiba muncul entah dari mana dan ikut ke dalam misi, tentu saja membawa pertanyaan pada Noxa.

Merasa tidak punya pilihan, Rem akhirnya memutuskan untuk menjawab. “Aku datang ke sini untuk memastikan kalau Neil selamat dan bisa pulang.”

“Hah?! Apa-apaan itu?” Noxa kehabisan kata-kata. Mendengar Rem mendengar itu rasanya benar-benar aneh dan tidak masuk akal. “Kenapa baru sekarang?”

Beberapa hari yang lalu, Neil pernah melawan Rank A untuk pertama kalinya dan dia bisa saja mati. Lalu, ada juga kejadian di bawah tanah di mana dua orang mati dan satu orang kabur karena ulah Neil. Di saat itu juga, ada kemungkinan bahwa Neil bisa saja mati. Lalu, kenapa baru sekarang mereka berniat mengawasi Neil?

“Siapa yang mengirimmu ke sini Rem? Para atasan? Rico? Arbi?”

Noxa bisa membayangkannya. Neil adalah aset yang terlalu berharga. Mereka tidak ingin Neil mati, tapi mereka juga tidak bisa mengurungnya, karena itu mereka mengirim seseorang untuk mengawasi Neil. Semuanya terdengar masuk akal bagi Noxa jika itu terjadi. Namun, itu tidak menjelaskan kenapa Baron melakukan hal itu? Akan tetapi, Rem ada di sini yang berarti sejak awal memang diduga-duga akan terjadi sesuatu.

“Maaf mengecewakanmu, tapi semua dugaanmu itu salah, Noxa.”

“Hah?” Noxa terkejut. Jika bukan salah satu dari mereka semua, lalu siapa? Ia tidak bisa memirkan jawaban yang lain. Sampai mengirim seseorang agar bisa selalu memperhatikan Neil. Noxa tidak bisa berpaling dari jawaban yang sudah ia pikirkan.

“Aku mendapat ini dari permintaan pribadi seseorang. Jadi, kurasa ini bukan misi resmi. Tapi, seseorang yang memintaku untuk melakukan ini adala anggota timnya sendiri.”

“Maksudmu Nadia?” Noxa semakin kehilangan akal. Kesampingkan masalah Nadia hanyalah seorang agen pelathan, bagaimana caranya dia meminta pada Rem untuk bisa ikut masuk ke dalam misi ini? Jika mendengar dari penjelasan Rem, mereka berdua sepertinya sudah saling mengenal satu sama lain. “Kalian berdua saling mengenal?”    

“Semenjak Nadia ikut Flame Lily, dia memintaku untuk mengajarkannya menggunakan senjata jarak jauh. Neil benar-benar memilih seseorang yang sangat hebat.”

Jika ingatan Noxa tidak salah, seharusnya sudah sekitar sebulan lebih Nadia berada di bawah naungan Neil. Bagi Rem yang merupakan seorang pemalas di mata Noxa dan suka telat, menjadi guru tidaklah cocok.

Semakin pertanyaan Noxa terjawab, semakin tidak masuk akal rasanya kalau semua yang sudah terjadi adalah hasil rencana seseorang. Nadia adalah orang yang seharusnya mendapat tanggung jawab untuk mengawasi Neil, tapi karena tidak masuk Navi harus menggantikkannya. Lalu, bagaimana dengan Baron? Haruskan Noxa terus bertanya? Selain itu, bagaimana ia bisa tahu kalau Rem tidak berbohong?

“Aku tidak peduli jika kau percaya padaku atau tidak, tapi bagus kalau kau sudah lebih tenang saat ini.” Rem berbicara santai.

“Hmm…” Noxa melemaskan kedua pundak yang dari tadi ia rasa sedikit tegang. 

Kalau diingat-ingat, Rico pernah bilang seandainya Neil benar-benar serius, Neil bisa mengalahkan Sky Chaser sendirian. Jika diartikan, seolah-olah sejak awal memang tidak perlu ditakutkan bahwa Neil benar-benar akan mati. Dari mana rasa yakinnya itu berasal? Memangnya dia pikir Neil itu abadi? Tentu saja tidak seperti itu.

Akhirnya, Noxa tidak mendapatkan jawaban apa pun mengenai Baron yang tiba-tiba mencoba membunuhnya. Ada kemungkinan juga kalau para atasan yang melakukannya. Setiap kali Noxa memikirkannya, ada sesuatu yang mengganjal dan membuatnya tidak enak.

“Aku sudah bilang, tidak perlu terburu-buru.” Rem sekali lagi berbicara. 

Bagi Rem, kondisi Noxa yang memburuk bukanlah hal yang menguntunkan. Seandainya situasi yang sama terjadi, Neil pasti akan berlari sekali lagi dan mengorbankan dirinya lagi. Itu bukan situasi yang ia inginkan. 

Saat Rem memikirkan bagaimana cara menepati janjinya pada Nadia, di saat yang sama ia juga harus mengawasi semua orang di sekitar Neil untuk mencegah hal yang buruk terjadi. Bahkan bagi seseorang yang cukup percaya diri dengan matanya, tugas itu terlalu merepotkan untuk dijalani dan beginilah hasilnya. Neil terluka. Karena itu, Rem sebisa mungkin mencoba mendapatkan rasa percaya pada Noxa.

“Jika kau benar-benar ingin tahu kenapa Baron sampai melakukan hal itu, kenapa tidak langsung bertanya padanya saja? Itu jauh lebih cepat.”

“Neil terluka karena Baron. Sebelum berbicara dengan Baron, aku akan menunggu Neil sadar dan membicarakkannya bersama-sama.”

Hanya untuk memastikan agar Noxa tidak benar-benar mengambil langkah yang salah, Rem sekali lagi memberikan peringatan terakhir. “Bersabarlah sedikit.”

Lima ribu frame per detik. Dibandingkan dengan orang lain, Rem melihat seluruh dunia bergerak begitu lambat. Kesabaran adalah salah satu keahliannya, walaupun ia tidak terlalu menyukainya.