Episode 180 - Perapal Segel

 

Bintang Tenggara melangkah menelusuri Kota Tugu. Suasana mulai sepi. Sebagian besar murid-murid sudah mulai meninggalkan perguruan. Tahun ajaran telah usai, dan masa liburan memberi kesempatan untuk kembali ke rumah atau kampung halaman masing-masing. 

Kini, murid Komodo Nagaradja itu berdiri tepat di hadapan Gerai Kesaktian. Terakhir kali ia mengunjungi pusat jual beli ini dikarenakan perintah dari Maha Guru Keempat, yaitu untuk membeli Sirih Kemuning. Di kala itu, pengalaman pahit mendera, dimana kulit dipermukaan tangannya seolah menghilang akibat unsur kesaktian hitam. Sebuah unsur kesaktian yang tiada ia pahami sampai saat ini. 

“Kakek Gin...” Bintang Tenggara menebar indera keenam.

“Nak Bintang...”

“Apakah Kakek Gin mengetahui tentang unsur kesaktian hitam...?”

“Tentu. Sebuah unsur kesaktian yang sangatlah langka. Kebayakan ahli menilai unsur tersebut sebagai tiada berguna.” 

“Kebanyakan ahli...?” lanjut Bintang Tenggara. Ia menangkap akan adanya kejanggalan dari jawaban Ginseng Perkasa. 

“Dunia persilatan dan kesaktian masih banyak memendam rahasia. Bahkan di kala Negeri Dua Samudera berada di puncak kejayaan pun, penelitian seputar keahlian terus berlangsung.” 

“Dengan kata lain, unsur kesaktian hitam belum diketahui manfaatnya...”

“Hanya sebagian kecil sahaja yang telah diketahui...,” tanggap Ginseng Perkasa.

“Apakah Sang Maha Patih berhasil menguak rahasia dari unsur kesaktian tersebut...?”

“Benar. Hanya setelah menyelami dan menguji-coba unsur kesaktian tersebut selama beratus-ratus tahun, dan... tak lain berkat bantuan dari diriku ini, Maha Maha Tabib Surgawi nan bijak.”

“Ehem...” Terdengar suara seolah melegakan tenggorokan. Tentunya datang dari Super Guru Komodo Nagaradja. Tokoh yang satu ini terdengar seolah sangat sebal sekali. Sepertinya ia sedang kecewa akan sesuatu hal. 

“Apa yang Kakek Gin ketahui tentang unsur tersebut...?” Bintang Tenggara sangatlah penasaran. Penjelasan dari Super Guru Komodo Nagaradja pada suatu kesempatan hanya terbatas pada: ‘sebuah ceritera yang diceriterakan oleh seorang sahabat dimana di luar angkasa terdapat banyak eksistensi yang misterius, salah satunya adalah lubang hitam’.

“Hm...?” Ginseng Perkasa terdengar ragu. 

“Lubang hitam...?” pancing Bintang Tenggara. 

“Ya! Lubang hitam!” tegas Ginseng Perkasa. 

“Apakah ada lagi...?”

“Hm... Diriku membuatkan ramuan!” 

“Ramuan apakah gerangan?” 

“Ramuan untuk memperkuat daya tahan tubuh agar tak terkena dampak samping dari lubang hitam...,” sela Komodo Nagaradja. “Percuma kau tanyakan padanya. Ia tiada mengetahui lebih dari itu.”

Bintang Tenggara tiada melanjutkan tanya jawab dengan si Maha Maha Tabib Surgawi atau menanggapi sang Siluman Super Sakti. Bukan karena Ginseng Perkasa sepertinya tak nyaman untuk berbincang-bincang lebih lanjut tentang kesaktian unsur hitam, melainkan karena Bintang Tenggara memahami suasana hati Komodo Nagaradja yang sedang sebal.  

Anak remaja itu kemudian melangkahkan kaki ke dalam Gerai Kesaktian. Sepi sekali hari ini, berbeda dengan saat kunjungan pertama. Hampir tak terlihat seorang murid pun yang berbelanja. 

Seorang perempuan dewasa lalu datang menyambut. Senyumnya ramah, wajahnya sumringah. “Apakah gerangan yang bisa kami bantu?” Perempuan itu menegur. 

Bintang Tenggara menyerahkan secarik kertas yang baru saja ia tulis. “Apakah ada di antara bahan-bahan di dalam daftar tersebut yang tersedia?” aju anak remaja tersebut polos 

Si petugas menerima kertas dan mulai membaca isinya. Ia menyerigai, lalu menatap anak remaja di hadapan. Ia kembali membaca, lalu menatap lagi.... menyeringai lagi. Berkali-kali ia melakukan apa yang ia lakukan tersebut. Kemudian, tanpa basa-basi, ia berlari meninggalkan Bintang Tenggara. 

“Eh...?” Bintang Tenggara sungguh kebingungan. Ia bahkan terdiam sampai beberapa saat. 

Di saat hendak menyusul ke dalam, Bintang Tenggara mendapati seorang lelaki tua yang bergegas datang bersama si penjaga gerai. Wajahnya dipenuhi keriput, bola matanya nanar. 

“Apakah Murid Utama Bintang Tenggara diminta membeli bahan-bahan ramuan oleh Sesepuh Ketujuh...?” Orang tua itu berujar santun. Meski, tak dapat ia sembunyikan keheranan yang demikian mendalam. 

Belum sempat Bintang Tenggara menjawab, ia melanjutkan. “Apakah Sesepuh Ketujuh berniat menguji Gerai Kesaktian ini...?” ujarnya gelisah, sembari mengembalikan kertas. 

Bintang Tenggara terpana di saat menerima daftar bahan-bahan yang ia salin dari secarik kertas lusuh pemberian Ginseng Perkasa. Disalin, karena tak mungkin memberikan daftar asli dimana tertera ‘bagian tubuh asli’.

“Bilamana Gerai Kesaktian ini memiliki salah satu saja dari bahan-bahan langka yang tertera, maka orang tua ini pastinya telah lama pensiun,” ujarnya sambil menyeka keringat di kening. “Setiap satu dari bahan-bahan tersebut hampir tiada ternilai harganya.” 

Bintang Tenggara tersadar. Awalnya ia mengira dapat membeli beberapa bahan dasar ramuan di gerai keahlian. Tak pernah terlintas di dalam benaknya bahwa bahan-bahan tersebut akan demikian sulit ditemukan. Terlebih lagi, kemungkinan besar akan sangat mahal pula harganya. 

“Maafkan, murid....” Anak remaja itu lalu segera memutar tubuh. Ia tak hendak berlama-lama membuat petugas gerai gelisah. Di saat itulah ia mendapati bahwa seseorang sedang berdiri di belakang... 

“Murid Utama Bintang Tenggara...?” 

Berdiri menanti, adalah seorang lelaki dewasa muda. Bintang Tenggara segera mengingat tokoh tersebut sebagai seorang Guru Muda dari Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel di Kota Sanggar. Guru Muda inilah yang dengan mudahnya membantu mengurai segel gulungan berwarna hitam milik Partai Iblis. 

“Salam hormat, Guru Muda Khandra,” sapa Bintang Tenggara cepat. Kali ini ia cukup tenang mendapati kehadiran tokoh tersebut. Walau, masih seperti pada pertemuan pertama, kemunculan Guru Muda ini tiba-tiba dan tiada dapat dirasakan. 

“Maafkan kelancanganku, wahai Murid Utama Bintang Tenggara. Akan tetapi, diriku tadi sempat melihat salah satu bahan yang tertera pada kertas yang dikau bawa.” 

Bintang Tenggara diam mendengarkan. 

“Sekira sepekan yang lalu, diriku menjalankan tugas di Kerajaan Parang Batu,” ujarnya santun. “Diketahui, bahwa di Pulau Parang dalam beberapa hari ke depan akan berlangsung sebuah kegiatan lelang. Salah satu materi lelang nanti adalah daun… Kelor Keris.” 

“Benarkah…?” Bintang Tenggara setengah terkejut. 

“Benar. Kendatipun demikian, karena manfaatnya demikian tak terhingga, daun dari tumbuhan siluman Kelor Keris, pastilah sangat mahal harganya.” 

“Guru Muda Khandra, terima kasih atas kabar berita ini.” Bintang Tenggara menundukkan kepala. Ia hendak segera kembali ke kediamannya. 

“Oh, ya…,” cegat Guru Muda Khandra, “Diriku turut prihatin atas kejadian semalam…” 

“Cih!” Komodo Nagaradja merasa terusik, seolah daun telinganya dihinggapi lalat yang selalu kembali setelah ditepis berkali-kali.  


Sehari sebelumnya, pertarungan Kuau Kakimerah berlangsung singkat.

“Rasakan! Monyong!” hardik seorang pemandu acara. Betapa senang hatinya menyaksikan Bagus si monyong takluk kepada Kuau Kakimerah. 

Hari jelang petang, dan demikian banyak murid-murid yang masih tinggal menunggu pertarungan terakhir. Bintang Tenggara mengamati dalam diam. 128 peserta berarti berlangsung 127 pertarungan untuk menentukan seorang murid yang berhak menjadi penantang terakhir. 

Di atas panggung, Bintang Tenggara menyaksikan seorang gadis bertarung. Wajahnya bulat, dan bentuk tubuhnya tak jauh berbeda dengan Kuau Kakimerah. Gadis ini sepenuhnya bertarung dengan mengandalkan Kartu Satwa. Tak diragukan lagi bahwa ia memiliki keterampilan khusus sebagai pawang binatang siluman. 

Meskipun demikian, Bintang Tenggara merasakan sesuatu yang berbeda dari gadis tersebut. Entah apa itu, dirinya tiada dapat menjelaskan. 

Gadis tersebut bernama Cendhani.* Ia memiliki tiga Kartu Satwa yang masing-masing memuat Rusa Tanduk Perunggu, Elang Laut Dada Merah, serta Biawak Tanah. Ketiga binatang siluman ini memang cukup umum dikalangan ahli dengan keterampilan khusus sebagai pawang. Ketiga binatang siluman tersebut setara dengan Kasta Perunggu Tingkat 8. 

Selintas pandang, tak ada yang aneh dari gadis tersebut. Ditilik dari sudut mana pun, selayaknya seorang gadis kebanyakan yang menekuni keahlian. Akan tetapi, Bintang Tenggara tetap merasakan seolah ada sesuatu yang mengganjal di kala menyaksikan gadis tersebut bertarung. 

“Cendhani memenangkan pertarungan!” pekik si pemandu acara yang sama sekali tak memiliki penantang. Ia segera mendatangi sisi panggung untuk menyambut dengan tangan terbentang lebar.

Pengumuman kemenangan disambut ramai oleh segenap hadirin.

“Sungguh sesuai harapan kakang, wahai gadis manis…” Terlihat seolah si pemandu acara itu telah lama mengenal si gadis mungil. Ia pun melompat-lompat kesenangan. Dari sisi perangai, Bagus masih sedikit lebih baik karena melakukan upaya dengan menantang Kuau Kakimerah, demi sebuah kesempatan untuk berkenalan. 

Bintang Tenggara melangkah santai, lalu melompat ke atas panggung. Menghadapi seorang ahli pawang dalam pertarungan adalah susah-susah gampang. Susah, karena harus bertarung melawan binatang siluman. Gampang, karena seorang pawang tiada bergerak luwes sehingga sering menjadi sasaran empuk. 

Demikian, adalah rencana Bintang Tenggara. Ia akan memanfaatkan kecepatan langkah petir dalam menghindar dari serangan ketiga binatang siluman. Biawak Tanah dapat menggali lalu menyerang mendadak dari bawah panggung. Elang Laut Dada Merah mengincar dari udara, sedangkan Rusa Tanduk Perunggu menyerang dari hadapan. 

Setelah mengamati pertarungan Cendhani, rasanya cukup sederhana, bahkan mudah, dalam menghadapi lawan kali ini. 

Bintang Tenggara menanti dengan sabar di saat Cendhani menjalani pemeriksaan. Gadis tersebut hampir tak pernah bergerak di saat pertarungan, sebagaimana layaknya pawang-pawang kebanyakan, sehingga masih dalam kondisi prima untuk bertarung. Setelah meminum ramuan untuk mengembalikan tenaga dalam yang tadinya terkuras dalam menguatkan jalinan mata hati, Cendhani siap menjalani pertarungan puncak. 

“Telah kita saksikan menanti di atas panggung…,” tetiba si pemandu acara kembali berulah. “Adalah Bintang Tenggara, murid paling lemah di antara lima Putra dan Putri terbaik di Perguruan Gunung Agung!” 

“Huuuu…” hadirin mencemooh ke arah si pemandu acara yang berbicara sesuka hati. 

“Peraturan pertarungan masih sama adanya. Kemenangan diperoleh bilamana lawan menyerah, lawan tak lagi dapat melanjutkan pertarungan… atau lawan terjatuh keluar dari panggung. Dilarang membunuh lawan!” Kemungkinan kali ini adalah satu-satunya kesempatan dimana sang pemandu acara itu berujar benar. 

Bintang Tenggara tak mengindahkan si pemandu acara gadungan. Ia hendak segera menuntaskan pertarungan ini. Di dalam benaknya, sudah terbayang-bayang wajah Bunda Mayang. Setelah upacara penutupan tahun ajaran, setiap murid berkesempatan untuk pulang ke rumah atau kampung halaman masing-masing. Tentu saja hal ini tak berlaku bagi Canting Emas, dimana tempat tinggal keluarganya masih berada di dalam wilayah Perguruan Gunung Agung. 

Bintang Tenggara telah menyusun rencana kepulangan. Pertama dan utama, ia akan segera bersua kembali dengan Bunda Mayang. Setelah bertukar ceritera, nantinya ia akan segera mengunjungi Pulau Bunga. Kakek Gin harus memeriksa langsung tubuh Super Guru. Tak peduli bagaimana nantinya teknik penyembuhan yang diterapkan, karena yang terpenting adalah keberlangsungan hidup Komodo Nagaradja. Hal ini sudah pula disepakati dengan Raja Bangkong IV di Kerajaan Siluman Gunung Perahu.

“Pertarungan dimulai!” 

Bintang Tenggara tersadar dari lamunannya. Berdiri tepat di hadapan, Cendhani telah mengeluarkan ketiga binatang siluman dari dalam Kartu Satwa. Elang terbang mengitar tinggi di udara. Rusa berdiri megah. Biawak Tanah tak terlihat, kemungkinan besar telah menggali ke dalam tanah di bawah panggung. 

Bintang Tenggara segera menyibak kembangan dan menebar mata hati sejauh mungkin. Ia mewaspadai serangan dari berbagai sisi. 

Rusa Tanduk Perunggu menghunuskan sepasang tanduk nan besar bercabang-cabang. Binatang siluman itu segera menyeruduk tangkas ke arah lawan. Kecepatan dan kekuatan dari binatang siluman tersebut demikian tangguh. Satu serudukan saja, ahli Kasta Perunggu akan dibuat jatuh sempoyongan.

Bintang Tenggara segera berkelit ke samping… 

“Srak!” Tetiba tempat dimana murid Komodo Nagaradja tersebut mendarat, longsor ke dalam semacam sumur nan dalam. Serta-merta anak remaja tersebut terperosok. Perangkap! 

Sigap, Bintang Tenggara melempar beberapa Segel Penempatan dan memanfaatkan pijakan yang tersedia untuk melenting keluar dari dalam sumur. 

Perangkap berlapis, pikir Bintang Tenggara dalam hati. Begitu dirinya nanti mencuat keluar dari dalam sumur, maka kemungkinan besar Elang Laut Dada Merah akan segera meyambar. Mangsa yang sangat empuk bagi binatang siluman tersebut!

Walhasil, sedikit lagi akan keluar dari dalam sumur, Bintang Tenggara menancapkan Tempuling Raja Naga pada posisi yang sedemikian rupa. Ia kemudian melempar keluar pakaian cadangan dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi, yang sesuai perkiraan disambar oleh sang elang. 

Dengan demikian, ia tiada segera keluar. Selain elang, pastinya si rusa juga sudah menanti. Akhirnya, Bintang Tenggara perlahan memanjat. Bila terlalu lama di dalam lubang sumur itu, maka si biawak pastinya tak akan tinggal diam. 

“Pengamatan yang cukup baik!” tegur Cendhani di kala keduanya kembali berhadap-hadapan di atas panggung. 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana! 

Tiada menanggapi komentar lawan, Bintang Tenggara segera merangsek menyerang. Ia sepenuhnya menyadari bahwa serangan kombinasi tiga binatang siluman tersebut sangatlah terlatih. Pastinya berbagai skenario pertarungan telah mereka jalani bersama-sama. Bila tak segera membungkam sang pawang, maka pertarungan dalam jangka waktu yang panjang nantinya akan sangat menyulitkan. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Dengan teleportasi jarak dekat, Bintang Tenggara semakin mendekat di hadapan gadis mungil. Jalinan petir masih berderak di kedua kaki ketika ia terus melesat menyasar lawan. Kepalan tinju tangan kanan siap mengincar ke ulu hati. Kemenangan sudah berada di depan mata…

Terkejut akan kecepatan lawan, spontan Cendhani melompat mundur. Kedua lengannya dijulurkan ke depan, dengan telapak tangan terbuka seolah merupakan gerakan reflek menahan kedatangan lawan. 

Bintang Tenggara terus mengejar cepat. Di saat itulah, sudut matanya baru menyadari bahwa sebuah prasasti batu berukuran sedang yang tergeletak di balik tubuh Cendhani. 

Begitu si gadis melompat ke melewati prasasti tersebut, sebuah lorong dimensi segera berpendar di antara mereka…

Terlambat! Meski lintasan kesaktian unsur petir bersifat zig-zag tiada beraturan, Bintang Tenggara yang melesat secepat kilat sudah tiada dapat menghentikan langkah. Ia pun terperosok ke dalam sebuah lorong dimensi, yang dirapal dengan bantuan prasasti batu!

“Set!” Bintang Tenggara mendarat tepat di sebelah sebuah prasasti serupa… di luar panggung pertarungan. Secara teknis, sesuai aturan, dirinya ‘terjatuh’ keluar dari panggung pertarungan!


“Sungguh sebuah ironi,” tegur Guru Muda Khandra, menarik Bintang Tenggara kembali dari ingatan kilas balik sehari sebelumnya. “Murid Utama Bintang Tenggara yang memiliki bakat sebagai perapal segel, justru dikalahkan oleh sesama perapal segel....”

Bintang Tenggara sudah menyadari perihal keanehan yang ia rasakan selama mengamati pertarungan Cendhani. Bahwasanya, gadis tersebut yang merupakan perapal segel. Cendhani bukanlah pawang binatang siluman sebagaimana perkiraan awal. Kemungkinan besar, ketiga binatang siluman yang ia miliki pun diperoleh dari pawang binatang siluman yang cukup mumpuni. 

“Usai liburan akhir tahun, bertandanglah ke Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel di Kota Sanggar. Diriku akan membekalimu dengan pemahaman yang layak tentang segel.”

“Hmph!” Komodo Nagaradja mendengus. Tak ada ramuan yang dapat meredakan kekecewaannya terhadap sang murid, yang kalah karena terperosok ke dalam muslihat sederhana lawan. 


Catatan:

*) Bahasa Sanskerta, Cendhani berarti: bambu kecil.