Episode 19 - Kelompok Daun Biru


Shinta menarik mundur tubuhnya secepat yang dia mampu, namun cakarku tak mau kehilangan mangsanya. Aku mendorong tubuhku mengikuti arah mundurnya Shinta, namun pengalaman bertarung Shinta tampaknya cukup banyak. Sambil terus melesat mundur, dia memukulkan tangan kirinya ke lenganku dengan maksud menangkis sekaligus mematahkan lenganku. Tangan kiriku tak tinggal diam, segera kutangkap tangan kiri Shinta yang hendak memukul lenganku. Sebaliknya, tangan kanan Shinta juga tak tinggal diam, melihat kesempatan dari iga kiriku yang terbuka, dia melancarkan pukulan. 

Tangan kananku yang tadinya mengincar kerongkongan Shinta terpaksa kualihkan menangkap pukulan tangan kanan Shinta. Kini kami saling mengunci dengan posisi tangan saling bersilangan. Namun pertarungan kami belum selesai, Shinta dengan cepat mengangkat kaki kanannya dan menggerakkannya menendang satu bagian tubuh paling berharga yang tepat berada di selangkanganku. 

Terpaksa kulepaskan kedua pergelangan tangan Shinta dan melompat mundur secepat kilat, meskipun aku berhasil menghindari tendangannya, tapi angin serangannya menderu hingga menembus celanaku, dingin sekali. Mau tak mau keringat dingin merembes di punggungku. Dasar perempuan gila, gaya bertarungnya benar-benar brutal, berbeda sekali dengan penampilannya yang menggemaskan. 

Deskripsi pertarunganku dan Shinta barusan memang cukup panjang, tapi sesungguhnya semua itu terjadi begitu cepat. Mungkin hanya satu setengah hembusan nafas berlalu. Karena baru mencapai tahap penyerapan energi tingkat ketiga, maka pertarungan kami berdua masih belum dapat menggunakan pukulan-pukulan sakti. Hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan yang berkali-kali lipat dibanding manusia biasa, sehingga kerusakan yang kami timbulkan pada lingkungan sekitar masih terbatas. Serangan-serangan kami lebih fokus pada melumpuhkan atau membunuh lawan dari jarak dekat. 

Aku segera melompat ke atas batang pohon, niatku adalah mengulur waktu untuk mengevaluasi pertarungan jarak dekat dengan Shinta barusan. Dari pertarungan tersebut, kuperkirakan pengalaman bertarung Shinta lebih banyak dariku. Setiap gerakannya dieksekusi dengan terukur dan efektif, dia sama sekali tidak panik ketika kedua tangannya kutangkap. Malah dia mampu melesatkan serangan susulan dengan kakinya dalam sekejap.

Dari pertarungan singkat tersebut, aku juga menyadari kelemahan yang kumiliki, salah satunya adalah kurangnya pengalamanku bertarung dengan sesama pendekar dunia persilatan. Pada kenyataannya, inilah pertama kalinya aku bertarung dengan seseorang yang juga menguasai pengolahan tenaga dalam. Penyergapan oleh Sarwo jelas tidak dapat dihitung sebagai sebuah pertarungan.

Shinta menengadahkan kepalanya ke arahku, mukanya tampak memendam rasa kesal yang amat sangat. Tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung melompat menyusulku. Tampaknya dia tidak ingin memberikan kesempatan padaku untuk bernafas. Namun, justru inilah kesempatan yang kutunggu-tunggu. Saat dia tengah melayang di tengah-tengah udara, aku segera meluncur dan menghujamkan cakarku. Setinggi apapun pengalaman bertarung Shinta, tidak mungkin dia bisa mengubah arah lesatannya di tengah udara. Tidak dengan kesaktian setingkat tahap penyerapan energi tingkat ketiga. 

Shinta sendiri tampaknya menyadari kelengahannya, wajahnya tampak tegang menanti seranganku tiba ditubuhnya. Meskipun dia mencoba menangkisnya menggunakan tangannya, namun gerakannya di udara tak mampu menandingi kecepatanku. 

“Cukup!”

Tiba-tiba terdengar teriakan disusul dengan hempasan tangan dari pihak ketiga membuat kami berdua terpental berlawanan arah. Shinta terjengkang ke tanah sedangkan aku jatuh berguling-guling hingga menubruk pohon. Orang itu hanya mendorong Shinta dengan maksud menyelamatkannya, namun dia menyambut cakaran tanganku dengan pukulan berkekuatan tenaga dalam tinggi. 

Karena itu, tanpa memperdulikan rasa sakit akibat benturan keras dengan pohon. Aku buru-buru bangkit dan memasang kuda-kuda. Jantungku berdebar-debar mencari tahu siapa orang yang telah menghempaskanku dan Shinta barusan. 

Tepat di antara aku dan Shinta, telah berdiri tegak seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan lebih. Dia mengenakan pakaian training berwarna gelap dan rambutnya disisir belah pinggir. Saat dia menggerakkan kepalanya memandang ke arahku, kurasakan darah disekujur tubuhku langsung berdesir lebih cepat. Jadi seperti ini rasanya berhadapan dengan seseorang yang lebih sakti. Dari adu kekuatan singkat saat dia memisahkanku dan Shinta tadi, dapat kurasakan kesaktiannya berada satu tingkat diatasku, tahap penyerapan energi tingkat keempat.

Di luar dugaanku, orang itu tidak melanjutkan serangannya. Setelah memandangku sebentar, mukanya beralih pada Shinta. 

“Shin, kan sudah kubilang tadi. Kau hanya perlu membawanya kemari. Kenapa malah bertarung dengannya?!” seru pemuda itu pada Shinta. Dari nada suaranya, aku dapat menduga kalau pemuda itu sedikit kesal.

“Tapi dia yang mulai duluan kak,” jawab Shinta membela diri.

“Apa?! Kamu kan yang membokongku duluan,” jeritku sambil menunjuk-nunjuk Shinta. Harap maklum jika reaksiku berlebihan, karena ini untuk pertama kalinya aku mengalami sendiri bagaimana lihainya seorang perempuan memutar balik fakta. Aku sampai lupa bersikap waspada pada pemuda yang barusan datang. 

Pemuda yang berdiri diantara kami berdua hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari gelagatnya, jelas-jelas sejak awal dia telah mengawasiku dan Shinta tak jauh dari sini. Mana mungkin dia tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Namun hal itu sama sekali tak menghalangi Shinta menimpakan kesalahan pada diriku. Luar biasa benar perempuan ini.

“Perkenalkan, namaku Arie. Kalau boleh tahu, siapakah adanya saudara dan berasal dari kelompok mana saudara berasal, dan ada urusan apa saudara datang ke kompetisi tiga perguruan awam ini?” Akhirnya pemuda yang mengaku bernama Arie itu tak lagi memperdulikan Shinta, dia membalikkan badannya ke arahku dan bertanya sambil tersenyum ramah.

Melihat sikap ramah Arie, aku merasa dia tidak datang dengan niat jahat. Sehingga aku mengubah posisi berdiriku seperti biasa dan bersikap lebih tenang.

“Bukankah harusnya aku yang bertanya, siapa kalian? Kenapa kalian tiba-tiba membokongku tanpa alasan yang jelas?” Aku balik bertanya pada Arie. 

Arie tampak ragu-ragu sejenak, namun akhirnya dia menjawab pertanyaanku.

“Maafkan kami karena telah bersikap tak menyenangkan sebelumnya. Kami berdua berasal dari Kelompok Daun Biru, sedangkan tentang perbuatan Shinta barusan…” Arie mengalihkan pandangannya pada Shinta sekejap, lalu kembali memandangku sambil tersenyum, “Itu hanya sebuah kesalahpahaman saja.”

Tentu saja aku belum pernah mendengar Kelompok Daun Biru dan tidak tahu sama sekali seberapa tinggi reputasi kelompok itu dalam dunia persilatan. Tapi aku tetap berusaha menunjukkan wajah tenang. Seakan nama itu sama sekali bukan hal yang baru buatku. Sedangkan mengenai alasan yang dikemukakan Arie soal pembokongan diriku oleh Shinta, kurasa aku bisa menerimanya. Mengingat bagaimana dia hampir mencelakai Rahman di tengah arena kompetisi, perempuan ini tampaknya memiliki emosi yang cukup mudah meledak. 

“Kami telah memberitahukan identitas kami,” lanjut Arie, jelas dia mengharapkan aku juga memberitahukan identitasku yang sebenarnya.

“Namaku Riki, sedangkan untuk alasan kenapa aku berada di kompetisi tiga perguruan ini. Jelas karena aku adalah murid Perguruan Gagak Putih, salah satu peserta dari kompetisi tiga perguruan.” 

Arie dan Shinta saling pandang demi mendengar jawabanku. 

“Hmph… maksudmu, kau murid Perguruan Gagak Putih, hanya itu saja? Murid Perguruan Gagak Putih?” Shinta mendengus tak percaya. 

“Terserah kalian mau percaya atau tidak,” ujarku singkat. “Lalu kenapa kalian berdua para pendekar dunia persilatan berada di sini?”

Alis Arie tampak bergerak naik sedikit mendengar pertanyaanku, lalu dia dia menatap mataku tajam, seakan ingin menggali sesuatu di dalam kepalaku. Aku segera menggerakkan kepalaku sedikit ke atas sambil mengepalkan tangan, menunjukkan kalau aku tidak suka pada tatapan Arie.

“Eheh… Tentu kami memiliki alasan yang kuat berada di tempat ini, hanya saja kami belum bisa memberitahukannya padamu sekarang.” Arie menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. “Baiklah kalau begitu, kami mohon diri dulu. Semoga suatu hari nanti kita bertemu lagi.”

Kemudian Arie membalikkan badannya dan berjalan menjauh dariku, begitu juga dengan Shinta. Setelah memandangku sekali lagi, dia berjalan cepat mengikuti Arie menghilang dalam kegelapan malam.

Eh, hanya begitu saja? Mereka hanya bertanya beberapa pertanyaan padaku lalu pergi begitu saja? Hanya sesimple itu? Apa sebenarnya yang mereka inginkan?

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepalaku. Sebenarnya aku juga ingin lebih banyak berbincang-bincang dan mengajukan berbagai macam pertanyaan dengan mereka, tapi tentu saja aku tidak boleh memperlihatkan kenaifanku terhadap dunia persilatan secara terang-terangan. 

Setelah termenung seorang diri di tengah kegelapan hutan, akhirnya aku berjalan kembali menuju penginapan. Tak ada gunanya berlama-lama menerka maksud mereka mengundang diriku di tempat seperti ini. 


***


Arie dan Shinta berjalan berdampingan menuju bangunan besar di tengah Perguruan Lembu Ireng. 

“Bagaimana tuan muda?”

Begitu mereka masuk ke dalam bangunan tersebut, seorang pria paruh baya berperawakan tegap menyambut mereka dengan sebuah pertanyaan. Jika Riki berada disini, dia pasti akan mengenali pria paruh baya tersebut sebagai ketua Perguruan Lembu Ireng. Dan bukan hanya ketua Perguruan Lembu Ireng yang berada disitu, tapi juga ketua Perguruan Kelelawar Merah dan Arya Wiratama, ketua Perguruan Gagak Putih. 

“Tingkat kesaktian dan kemampuan bertarungnya sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Dia telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat ketiga, setingkat dengan Shinta. Kemungkinan dia telah belajar pengolahan tenaga dalam sejak lama, mungkin sejak umur lima tahun.”

“Jadi, dia benar memata-matai kita? Tapi untuk apa?” tanya ketua Perguruan Kelelawar Merah.

Arie menggelengkan kepalanya, “Jika dia memang berniat memata-matai kelompok kita, tidak mungkin dia menunjukkan jati dirinya sebagai praktisi pengolahan tenaga dalam semudah itu.”

Ketiga ketua perguruan mengangguk-nganggukkan kepalanya, yang dikatakan Arie memang tidak salah. Tidak mungkin seorang mata-mata akan bertindak seceroboh itu, membuka penyamarannya secara terang-terangan di tengah umum.

“Jadi, bagaimana pendapat tuan muda?” tanya ketua Perguruan Lembu Ireng pada Arie lagi. 

Arie hanya tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 

“Aku akan mengabarkan pada ketua mengenai informasi ini. Untuk sementara, biarkan dia melanjutkan kegiatannya sebagai murid Perguruan Gagak Putih. Paman Arya Wiratama, terus awasi dia, jangan lengah sedikitpun.”

“Saya mengerti tuan muda,” jawab Arya Wiratama sigap. 

“Bagus, sekarang kembalilah ke tempat kalian masing-masing. Dan lanjutkan kompetisi ini hingga selesai, jangan sampai dia merasa ada yang aneh dengan kalian.”

“Baik tuan muda.” Ketiga ketua perguruan segera memberi hormat pada Arie dan berjalan keluar bangunan menuju penginapan mereka masing-masing. 

“Kak, kak Arie yakin membiarkan orang itu tetap berada di sini? Bagaimana jika dia berniat jahat pada kelompok kita?” Begitu ketiga ketua perguruan undur diri dari hadapan mereka, Shinta segera bertanya pada Arie. 

“Entahlah, tapi aku merasa dia tidak punya niat seperti itu. Kalaupun benar apa yang kau khawatirkan itu, aku tidak akan membiarkan dia berbuat sekehendak hatinya,” ujar Arie sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.