Episode 20 - Buah Takkan Jauh Dari Pohonnya


 Beberapa hari sudah berlalu. Coklat sekarang lagi bingung mau meneruskan kemana habis lulus sekolah, karena dia kebingungan makanya sekarang dia memegangi tiang listrik di depan rumahnya. Orang-orang yang berlalu lalang pun dibuat terheran olehnya.

 “Kenapa, De, kok megangin tiang listrik aja?” tanya orang yang lewat berjenis kelamin laki-laki entah siapa namanya soalnya belum kenalan.

 “Saya lagi bingung nih, Bang, makanya pegangan tiang listrik.”

 “Weleh! Ikutan dong.”

 “Boleh.”

 Akhirnya dua makhluk enggak jelas ini saling memegangi tiang listrik seharian. Dari pagi sampai malam, emang dasar manusia enggak punya kerjaan kalau bingung kerjaannya memegangi tiang listrik. Kadang ya tiang listrik diajak berbicara sendirian, kadang juga diajak pelukan.

 “Kamu sudah makan belum?” tanya Coklat.

 Tiang listrik hanya diam saja.

 “Kok kamu diam aja sih? Kamu marah ya sama aku?”

 Lagi-lagi tiang listrik diam.

 “Kamu marah ya? Ya sudah maafin aku deh,” kata Coklat lalu jongkok merenung di hadapan tiang listrik sambil berharap dapat respon dari tiang listrik itu.

 Sudah menunggu selama setengah jam, Coklat masih dicuekin sama tiang listrik. Coklat pun berdiri kembali sambil berbicara menunduk di hadapan tiang listrik.

 “Sudahlah, kamu emang enggak pernah mengerti perasaan aku, lebih baik aku pergi,” ucap Coklat lalu jalan kembali pulang ke rumahnya.

 Coklat terus berjalan dengan wajah sedihnya, terkadang dia berhenti sejenak berharap tiang listrik memanggil namanya. Hanya orang kurang kerjaan yang berharap seperti itu.

 “Ternyata dia enggak manggil nama gue, mungkin dia sudah benci sama gue, hah sudahlah.”

 Coklat lagi galau, dalam bayangannya sang tiang listrik memanggil dia dengan suara manis dan manjanya.

 “Coklaaat.”

 Coklat pun menoleh ke tiang listrik itu dengan wajah sumringah.

 “Iyaaaa.”

 Dia berlari langsung memeluk tiang listrik itu dengan penuh cinta, owwwh so sweet. 

 Itu hanya khayalan belaka dan jangan ditiru dalam kehidupan sehari-hari Anda, nanti Anda disangka gila meluk-meluk tiang listrik sendirian. Tapi kalau mencoba sih enggak apa-apa, tidak ada pemaksaan dari si penulis untuk melakukan adegan seperti tadi. 

 Ketika Coklat sudah jauh dari tempat tadi, kini orang yang tadi menyapa Coklat pun langsung memarahi tiang listrik. Tangannya nunjak-nunjuk ke tiang listrik.

 “Dasar ya enggak tahu diri! Itu orang sudah tulus sama kamu, eh malah kamu cuekin, kamu tuh enggak punya perasaan!”

 Baght… baght… dengan perasaan kesalnya karena dicuekin juga, orang itu menendang-nendang tiang listrik sendirian.

 “Kamu jahat!”

 Sementara orang-orang yang lalu lalang memandang aneh orang gila itu.

 “Kasian ya dia marah-marah sama tiang listrik.”

 “Iya, mungkin dia agak gitu.”

 “Ya sudah biarkan saja.”

 ***

 Malam harinya, Coklat lagi duduk-duduk di depan rumah sendirian sambil ditemani sama bapaknya, terus ditemani sama Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, Pak Camat. Eh itu mah bukan sendirian tapi ramai-ramai, lagipula kenapa Pak RT sampai Pak Lurah ada di rumah Coklat malam-malam? Dah anggap saja yang ada cuma Coklat sama bapaknya. Dia lagi curhat masalah kemana dia akan melanjutkan sehabis dari SMA. 

 “Beh, kira-kira yang enak itu kerja apa kuliah ya?”

 “Mending lo cari kerja aja dulu, abis itu lu kuliah dah.”

 “Cari kerja, Beh, ya? Cari kerjanya dimana?”

 “Di jonggol, wkwkwkwk.”

 Coklat lalu terdiam, dia tidak senang diledekin sama bapaknya.

 “Emang ada?”

 “Ya enggak ada lah.”

 “Terus ngapain diomongin?” Coklat kesal.

 “Iseng,” ucap bapaknya seakan merasa bersalah lalu termenung.

 “Iseng-iseng, orang lagi tanya serius diisengin!”

 “Iya maaf.” Suara bapaknya Coklat mulai pelan.

 “Enggak ada maaf! Saya pecat kamu jadi ayah!” seru Coklat sambil berdiri di hadapan bapaknya.

 “Oh jangan! Please,” ucap bapaknya sambil memegani kaki Coklat.

 Nah itu, itu salah satu ciri-ciri kiamat. Anak sekarang sudah berani melawan orang tua. Haduh-haduh, jangan dicontoh ya adik-adik di rumah. Biar bagaimana pun juga, merekalah orang tua kalian, kalian harus hormati mereka. Mereka ikhlas mengandung kalian selama kurang lebih 9 bulan lamanya tanpa pamrih, dan mereka juga tulus membesarkan kalian hingga menjadi orang-orang yang sukses. Dan pada akhirnya penonton pun menguraikan air matanya, tukang tisu jadi pada laku diborong semua tisunya.

 Lalu bapaknya Coklat tersadar kalau dia adalah ayahnya.

 “Heh, kan gue babeh lo. Lo main pecat-pecat aja!”

 “Eh maaf, enggak sengaja terbawa emosi, hehehe.”

 “Ya sudah lo masuk kamar terus tidur, besok cari kerja, jangan ngayab lo, bahaya.”

 “Bahayanya?”

 “Kemarin ayam tetangga hamil, gue takut lo yang berbuat.”

 “Wek! Ayam hamil? Emang bisa?”

 “Ya enggak bisa lah, dimana-mana ayam itu bertelur, bagaimana sih kamu?”

 ***

 Keesokan paginya, seperti apa yang dibilang bapaknya kalau dia harus cari kerja, maka pagi ini Coklat bersiap untuk cari kerja. Dengan memakai baju yang bolong dan celana juga bolong, Coklat siap-siap cari kerja. Nah kok baju sama celana bolong dipakai? Nah kalau baju sama celananya engga bolong, bagaimana mau masuki tangan sama kakinya, hayooo. 

 Di ruangan makan, ada bapak dan ibunya Coklat. Mereka duduk bersama di bangku tempat mereka sarapan.

 Dengan wajah yang masih kusut baru bangun tidur, Coklat bersiap menikmati sarapan pagi bersama bapak dan ibunya. Muka Coklat keliatan masih banyak banget belek pada menempel di mata, kerak iler juga masih menempel di mulutnya. Katanya sih sebagai cowok setia, dia enggak mau pisah dari belek sama kerak ilernya, itu sih bukan setia tapi jorok.

 “Aku enggak akan melepas kamu begitu saja,” kata Coklat berbicara ke iler sama beleknya.

 Bapak dan ibunya melongo.

 “Biar bagaimana pun kalian berdua sudah setia temani aku tidur.”

 Bapak dan ibunya sekarang garuk-garuk kepala.

 “Kok kalian berdua diam saja? Kalian marah sama aku?”

 Merasa heran, bapaknya Coklat pun turut ikut campur. Tangannya langsung menyomot belek sama kerak iler dari wajah Coklat, iiiiih jorok banget. Tanpa ampun bapaknya langsung menjatuhkan kerak iler sama belek di atas lantai, terus langsung diinjak-injak sampai mati.

 “Rasakan tuh!” kesal bapaknya Coklat.

 “Pah! Jangaaan! Oooh noooo!” teriak Coklat yang melihat belek sama kerak ilernya diinjak-injak.

 “Sudahlah, kamu jangan terlalu berharap sama dia!”

 “Tapi, Pah!”

 “Diam!”

 “Dasar anak bapak sama saja, haduh-haduh.” Sementara ibunya Coklat cuma bisa menutupi mukanya.

 Haduh, kembali lagi cerita yang enggak jelas dan enggak perlu diceritakan. Anggap saja adegan tadi enggak pernah ada, dan sekarang kita kembali ke dalam cerita yang sebenarnya. Mereka bertiga duduk di bangku masing-masing. Pagi ini Coklat kebetulan belum mandi. Dia itu memang malas kalau mandi pagi, buktinya saja kalau sekolah dulu paling rajin dia itu cuma cuci mata doang, habis itu pakai parfum biar wangi dan disangka sudah mandi. Kayaknya dia itu takut sama air. Pernah kejadian, pas Coklat pagi-pagi dipaksa mandi oleh ibunya.

 “Mah, jangaaaan!” teriak Coklat yang diseret-seret ke kamar mandi oleh ibunya.

 “Kamu tuh harus mandi!”

 “Tidaaaak! Jangaaaaan!” Coklat terus berontak. Dia ingin lepas dari penyiksaan ini.

 Akhirnya dengan tenaga yang melebihi batas, ibunya Coklat berhasil membawa dia ke kamar mandi. Sampainya di kamar mandi, Coklat hanya berdiri terdiam melihat air yang tenang di dalam bak.

 “Haduh,” keluh Coklat.

 “Kenapa haduh? Perasaan tuh air enggak apa-apakan kamu dah?”

 “Coklat takut kalau kena air, kegantengan yang Coklat miliki itu luntur, Mah.”

 “Preeet!”

 Nah itu cerita enggak jelas lagi, ok dah sekarang kita serius ke dalam cerita. Coklat beserta bapak dan ibunya yang sudah selesai sarapan pagi bersiap-siap untuk melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Coklat teringat atas pesan bapaknya kalau dia harus mencari kerja hari ini.

 “Beh, Coklat mau cari kerja dulu ya.”

 “Ya, tapi kalau lo mau cari kerja, lo itu harus mandi dulu.”

 “Kenapa harus mandi?”

 “Biar keliatan gantengnya, nanti kan kalau ganteng lo gampang diterima.”

 “Oh, jadi kalau Coklat mandi, Coklat itu bisa jadi ganteng?”

 “Ya enggaklah, muka pas-pasan kayak kamu masa berubah jadi ganteng, enggak mungkin lah yaw.”

 “Wek!”

 Coklat pun berdiri dan dia bersiap untuk mandi, tumben mandi hahaha. 

 “Eh kamu mau kemana?” tanya bapaknya Coklat.

 “Mandi, Beh.”

 “Enggak usah, lagipula kamu enggak bakal berubah kalau mandi juga.”

 “Arrrggggghhtt!”

 Ya itulah bapaknya yang plin plan, tadi suruh anaknya mandi, eh pas mandi disuruh enggak boleh mandi.

 Ceritanya Coklat selesai mandi, sekarang sudah rapih pakai kemeja putih dan celana panjang hitam, sudah ganteng pula, rambutnya disisir klimis macam Ari Kribo. Lah Ari Kribo mah Kribo, bukan klimis? Nah bingung, pegangan. Sekarang Coklat lagi ada di depan cermin, dia senyum-senyum sendiri melihat dirinya.

 “Set dah gila, keren abis nih orang yang di cermin. Siapa sih dia?” kata Coklat.

 Lalu Coklat menjawab sendiri.

 “Dia itu anda, Tuan.”

 “Hahaha, makasih. Sekarang wahai cermin, siapa cowok paling ganteng di sini?” tanya Coklat.

 Lalu Coklat menjawab sendiri.

 “Anda, Tuan.”

 “Hahaha, emang kamu selalu jujur.”

 Dimohon kepada para pembaca, jangan tiru adegan seperti Coklat lakukan, dia yang tanya dia juga yang jawab, sudah begitu pertanyaannya enggak berbobot.

 ***

 Sekarang Coklat udah bersiap-siap cari kerja. Dari kamarnya dia berjalan menuju halaman rumah belakang untuk bertemu sama bapaknya untuk pamitan. Di halaman belakang bapaknya sedang memetik buah mangga.

 “Beh,” sapa Coklat sama bapaknya yang lagi menyengget mangga pakai galah.

 “Iya, kenapa?”

 “Coklat mau cari kerja, Beh.”

 “Oh ya sudah, lo cari kerja yang benar. Jangan sampai lo kerja yang enggak benar, misalnya nyolong mangga orang, itu enggak boleh ya.”

 “Oh, kayak babeh sekarang iya?”

 “Iya lo tahu aja.”

 “Wooooooy!” teriak yang punya mangga dari jauh.

 “Kabuuuurr!” teriak bapaknya Coklat yang langsung meletakkan galah di atas tanah.

 Dasar! Dia yang nasehatin buat kerja yang benar, dia juga yang kerja enggak benar.

 ***

 Dengan wajah ceria yang sok imut, Coklat berangkat mencari kerja pagi ini. Seusai dari halaman belakang rumah, dia berjalan kembali ke dalam rumahnya. Di ruang tamu dia duduk sejenak sambil memegangi kepalanya, dia berpikir sesaat. Wajahnya terlihat serius ketika sedang berpikir.

 “Pertama-tama gue harus cari di ruangan ini, aha habis itu ke ruang tengah, habis itu ke kamar mandi boker deh.”

 Lha kok buang air sih?

 “Ya terserah gue, rumah-rumah gue. Kenapa penulis yang repot?”

 Ya terserah dia aja, mau guling-gulingan juga masa bodo. 

 Akhirnya Coklat pun bangun dari tempat duduknya. Coklat sekarang lagi mencari sesuatu di kolong meja sama kolong bangku.

 “Aduh enggak ketemu lagi.”

 Lalu Coklat bangun dan beranjak ke ruang tengah rumahnya. Di ruang tengah ini dia masih mencari-cari yang lagi dia cari tapi hasilnya sama saja, terus dia ke kamar mandi. Nah pas di kamar mandi, dia lebih parah, masa mengacak-acak wc.

 “Haduh, gue enggak separah itu kali. Kenapa juga gue acak-acak wc, kurang kerjaan banget.”

 Dan Coklat pun menolak apa yang dikatakan penulis. Saya sebagai penulis pun enggak terima, dia tolak apa yang saya suruh, akhirnya kami pun berantem. Baght bught baght bught!

 “Aaaarrgghhht!” Coklat berteriak.

 “Adduuwwwwhh!” begitu juga saya.

 Muka Coklat babak telur. Sehabis dari kamar mandi ribut sama penulisnya dia kembali lagi ke ruang tamu, dia sekarang lagi duduk-duduk sendiri. Pas dia lagi duduk eh bapaknya muncul dari lampu wasiat.

 “Hahahaha.”

 “Siapa kamu?!”

  Coklat terkejut melihat bapaknya sendiri yang lagi bergaya seperti om jin yang baru keluar dari lampu wasiat.

 “Akulah jin dari Timur Tengah, hahaha.”

 “Oh.” Lalu tampang Coklat melongo, rupanya dia itu enggak terkejut sama sekali. Haduh kasihan bapaknya, sudah keren-keren eh ekspresi anaknya biasa-biasa saja.

 “Lha kok ekspresinya gitu doang?”

 Eh eh eh emang dikiran jin apa. 

 Yang benar itu bapaknya Coklat itu muncul dari depan pintu, enggak pakai acara yang aneh-aneh kayak tadi.

 “Eh kenapa lo mukanya babak telur gitu?”

 “Babak belur, bukan babak telur.”

 “Iya sama saja, kok muka lo jadi jelek ya kalau babak belur gitu?”

 “Emang pas kalau enggak babak belur, muka Coklat ganteng ya?”

 “Sama aja sih.”

 Lalu bapaknya Coklat duduk di sampingnya, dia lalu memegang pundak Coklat. Dengan wajah serius, bapaknya Coklat pun menanyakan apa yang telah dilakukan anaknya itu.

 “Emang lo habis ngapain sih?”

 “Habis cari kerja di rumah ini eh tapi enggak ketemu.”

 “Eh tong, kalau cari kerja itu di pabrik kalau enggak di kantor jangan di rumah!”

 “Jadi salah ya?”

 “Iya lah, haduh. Lo anak siapa sih?” tepok jidad.

 “Anak babeh.”

 “Kan babeh engga beranak.”

 “Tapi kan babeh juga ikut taruh saham kan?”

 “Ho oh sih.”