Episode 25 - City of Wizard and Warrior


Ketika menapakkan kaki untuk pertama kalinya disini, Alzen langsung teringat dengan sensasi ketika ia baru tiba di Vheins, mirip-mirip rasanya. Sebuah kota besar yang dihuni banyak penyihir. Jalur udara di kota ini, diramaikan oleh para penyihir yang memiliki kemampuan terbang. Baik oleh alat, seperti karpet terbang, sapu terbang maupun kemampuan sihirnya sendiri.

“Waaahhh... Ini Letshera? Keren banget. Di jalan ramai, di udara juga ramai.”

"Kamu baru pertama kali kesini ya?" tanya Hael seperti mau tertawa.

"Iya... aneh juga ya. Haha! Aku tinggal di Greenhill sudah lama padahal. Tapi baru kali ini aku kemari."

"Kalau begitu, sambil jalan ke rumahku. Aku akan bimbing kamu lihat-lihat kota ini sebentar mau?"

"Mau! Mau!” jawab Alzen dengan semangat. “Bimbing aku, Mr.Guider."

“Apa-apaan itu? Panggil Hael saja.”

Lethsera sebagai ibukota Greenhill ini. Sering dijuluki sebagai "City of Wizard & Warrior". Bagai kedua sisi uang koin. Karena di kota paling besar di Greenhill ini, penyihir-penyihir hebat dari Vheins dan Negara-negara lain. Mereka saling bertemu untuk memulai karir. 

Baik sebagai anggota Guild Sihir, seperti berinovasi dengan alat-alat sihir dan memasarkannya, mengerjakan Quest yang mengandalkan sihir untuk menyelesaikan masalah, atau menjadi Potion Maker. Atau malah menyalahgunakan sihir untuk kepentingan jahat. Ini semua adalah pekerjaan yang paling lumrah dari sisi penyihir di Letshera.

Sisi yang satunya lagi, ada Warrior. Orang yang notabene tak bisa menggunakan sihir, bekerja sebagai ksatria di kota ini. Mereka sering menggunakan zirah besi yang tebal dengan senjata besi yang sangat kuat. Beberapa dibuat dengan efek sihir pada perlengkapan mereka. Jadi meski mereka bukan pengguna Aura, kekuatan mereka mampu mengimbangi mereka, para penggunna Aura.

Lalu ada lagi sisi tengah di antara dua sisi koin, Mereka disebut Rune Knight. Julukan bagi seorang ksatria yang sekaligus bisa menggunakan sihir dengan baik. Orang-orang semacam ini banyak ditemui di Lethsera. Dalam perang atau ekplorasi dungeon, kemampuan Rune Knight sangat dibutuhkan. Selain sangat kuat secara fisik, mereka memiliki kemampuan sihir yang tinggi. 

Sayangnya Letshera tidak ramah pada mereka yang baru belajar dari nol. Karena mayoritas penduduk Lethsera, datang dengan keterampilan yang mereka sudah miliki sebelum menetap disini. Mereka datang untuk memulai karir, sedangkan untuk tempat belajar. Vheins jadi salah satu tempat untuk belajar sihir dari nol. Akan sangat sulit tinggal di tempat ini jika tidak terampil pada suatu bidang.

Lalu dari segi geografis, Lethsera dialiri dua aliran sungai kecil dan satu aliran sungai besar yang memberikan akses pada air lebih mudah. Kota Lethsera banyak berdampingan dengan pepohonan rindang. Banyak teknologi sihir diterapkan dan digunakan di kota ini. Yang membuat ketergantungan mereka terhadap sihir juga cukup tinggi. 

“Hari sudah mulai malam, tapi kota ini malah makin terang?! Hebat!” Alzen terkagum-kagum.

“Itu karena Shinning Stone.” jawab Hael. “Orang-orang disini membuatnya sebagai penerangan. Kita tak perlu api lagi sejak menggunakan alat itu.”

“Woahh.. apa batunya akan terus bersinar tanpa henti?”

“Iya, kalau siang biasanya batu itu ditutupi atau dibiarkan saja karena cahaya matahari jauh lebih terang.” 

“Woahhh... hebat betul ya! Ada banyak hal yang aku baru lihat disini.”

“Ini belum seberapa, aku yakin masih banyak hal baru yang belum kamu tahu.” kata Hael. 

“Hael.”

“Ya? Kamu mau tanya apa lagi?” balasya dengan antusias untuk menjawab.

“Sejak sampai disini, kamu jadi luwes bicaranya ya. Hehe.” Alzen tersenyum padanya. “Aku jadi ikut senang.”

“Hah!? Ti, tidak juga.” Hael tertunduk kembali. 

Sembari dipandu Hael, tanpa terasa waktu menjadi relatif cepat.

“Sebentar lagi kita sampai.” kata Hael.

“Mana? Dimana?”

“Disana.” Tunjuk Hael pada pagar besar berwarna hitam yang sudah kelihatan dari jauh.

Ketika hari sudah mulai gelap, di gerbang masuk sebuah mansion mewah. Dimana keluarga Hael tinggal.

"I-ini rumahmu!? Betulan!? Pagarnya besar sekali!" Alzen untuk pertama kalinya melihat pagar dengan tinggi 3 kali orang dewasa. Sekitar 6 meter tingginnya. Pagar itu sangat-sangat besar.

"Ayo masuk..." Hael tak menanggapi, tetapi langsung mempersilahkannya masuk.

Hael menyentuh pagar itu dengan sihir di tangan kanannya. Setelahnya, Pagar tersebut langsung bereaksi dengan mengeluarkan cahaya-cahaya indah dalam rangkaian bunga dari besi khusus itu. Kemudian setiap lekuk bunganya secara serentak bergerak secara teratur hingga pagarnya terbuka.

"He-hebat!!" karena baru pertama kali lihat, Alzen mengamat-amati pagar itu lumayan lama. “Kok bisa begitu ya?”

"A-alzen. Kok diam saja?" Hael bingung. "Ayo masuk."

"Ah... tidak, aku cuma tak mengira saja kalau kamu se-kaya ini."

"Baru juga pagar. Ayo masuk lebih dalam."

"Hee!? Memangnya ada apa lagi?"

"Lihat saja sendiri."

***

Alzen dan Hael masuk. Di dalamnya terdapat sebuah jalan lurus dari bahan Cobblestone, ditambah rerumputan hijau dengan pohon-pohon rindang di sekililingnya. Di tengah-tengah rumah luas ini. Ada sebuah Lingkaran Air Mancur yang sangat indah dilihat. Dan rumah ini tersebar tiang-tiang yang ujungnya dipasangi Shinning Stone.

Barulah, tak jauh dari air mancur itu. Terdapat sebuah rumah lebar kesamping seperti membentuk huruf U terbalik. Memiliki dua lantai dan masing-masing lantai memiliki 9 jendela, 3 jendela dari masing-masing sisinya. Keseluruhan rumah ini dominan ber-cat hitam.

"Wahhh! Rumah sebesar ini pasti ada banyak orang yang tinggal ya?" tanya Alzen.

"Tidak juga," jawab Hael dengan terus berjalan dan berwajah murung. "Hanya ada 3 orang disini. Aku, ayah dan ibu. Dan kami semua juga jarang di rumah."

"Sebesar ini? Cuma didiami 3 orang?"

"Ya, dan paling-paling sisanya hanyalah staff yang tak begitu banyak."

"Sayang sekali ya..."

"Sayang sekali apanya?" Hael yang terus berjalan bersama Alzen, sesaat mengarahkan pandangannya pada Alzen. "Untuk apa pakai Staff banyak-banyak. Mereka cuma melayani tiga orang saja."

"Bu-bukan begitu maksudnya." Alzen canggung. "Maksudku, rumah sebesar ini tapi yang tinggal sedikit, hmm... gimana gitu rasanya."

"Uhmm... yang kamu bilang, ada benarnya juga sih." Hael memikirkannya kembali. “Tapi, ayah yang maunya begitu.”

***

Setelah melewati air mancur yang selalu menarik perhatian Alzen lewat keindahannya. Alzen memasuki pintu masuk besar, yang terbuat dari kayu bercat hitam, lalu tiba di ruang tamu yang sangat lega, juga penuh dengan perabotan berkelas.

Tok! Tok! Tok!

"Pe-permisi..." Alzen dengan santun berkunjung ke rumah ini. "Ehh!? Kok gak ada orang?"

"Memang tak ada," jawab Hael ketus. "Kamu tunggu disini, biar kupanggil Butler, untuk melayani kamu."

"B-butler? Apa itu?"

"Butler itu... Uhm, jelasinnya gimana ya?" Hael memikirkan kata yang pas. "Ah... pelayan. Sejenis pelayan. Butler itu seperti Pelayan yang khusus bekerja untuk keluarga ini."

"Ohh... begitu. Aku mengerti. Singkatnya pelayan pribadi untuk orang-orang yang terlalu kaya ya."

"Kamu duduk disini saja dulu." lalu Hael berjalan perlahan menaiki tangga ke lantai 2. "Tunggu disini sebentar ya."

"O-oke."

Selagi menunggu Hael kembali, Alzen tak bisa duduk manis saja. Karena rumahnya ini begitu indah baginya. Baru masuk saja sudah jelas-jelas terlihat di depan mata. Sebuah tangga besar dengan bahan porselein dan karpet hitam bergaris emas di pinggirnya. Lalu terdapat sebuah meja panjang kursi dari bahan kayu, tempat ia duduk menunggu.

Di sekitarnya juga terdapat motif-motif bunga yang indah. Dan patung-patung bermodelkan penyihir berwarna putih dengan pilar-pilar hitam di sekelilingnya yang menghiasi rumah ini. 

Secara garis besar, rumah ini didominasi warna hitam dan putih dengan sedikit warna emas dan merah.

Tek! Tek! Tek!

Alzen menepuk-nepuk meja dengan tak henti-hentinya melihat-lihat sekitarnya.

"Kalau punya rumah sebagus ini? Gimana bisa Hael jadi pemurung begitu ya?" Alzen merenungkannya. "Tapi memang agak sepi sih, kayak rumah menara ayah. Ahh... Tapi rumah ini jauh lebih keren! Aku tidak menduga Hael sekaya ini. Ngomong-ngomong dimana perpustakannya ya? Ada tidak ya."

Sementara itu, Hael di kamarnya yang berada di lantai 2. Sedang berganti pakaian yang lebih casual.

"Tuan Hael," Sambut seorang Butler tua padanya. "Kamu membawa siapa kemari?"

"Temanku di Vheins University."

"Hoo... sudah lama sekali Tuan tak membawa teman kemari."

"Iya..." jawab Hael tak semangat. "Kamu turun dan siapkan makanan sana."

"Seperti yang tuan minta." Hormat Butler dengan membungkukkan badan.

Butler itu turun dan menyapa Alzen yang lagi sibuk kesana-kemari, mengamat-amati setiap detail rumah ini.

"Ehemm..."

"Aaa..." Alzen menoleh perlahan ke belakang. "A-aku cuma melihat-lihat kok... Be-beneran!"

"Kamu teman sekelas Hael?" tanya Butler itu.

"Ti-tidak. Kami tak sekelas. Aku di kelas Ignis. Hael di kelas Stellar. Beda"

"Tumben sekali..."

"Tumben apanya?"

"Biasanya Hael hanya mengajak teman sekelasnya. Baru kali ini mengajak temannya dari kelas yang lain. Mungkin, dia sudah bisa lebih sosialisasi ya."

"Haa?" Alzen tak mengerti apa yang Butler itu katakan. "Aku juga baru tahu?! Soalnya kami baru kenal sejak tahun ajaran ini."

"Hmm, ya, ya. Kita lanjut bicara nanti ya. Aku siapkan makan malam buat kamu dulu." Butler itu berjalan ke Dining Room, tapi ia kembali menoleh ke Alzen. "Ohh iya, perkenalkan namaku Richard, kamu?"

"Aku Alzen, Alzen Franquille lengkapnya."

"Franquille? Hmm... seperti tidak asing." lalu Richard berbalik menuju Dining Room kembali.

"Tapi tunggu dulu." Richard diam sebentar dan kembali berbalik.

"A-apa lagi?" Alzen canggung.

"Aku ingat... Franquille lekat dengan... uhmm..." Richard mencoba mengingat-ingatnya lagi. "Aku lupa lagi... nanti saja aku bicarakan ini. Aku coba ingat-ingat lagi."

Alzen memandang sikapnya itu dan berkata dalam hatinya, "Pelayan yang aneh."

***

Setelah Richard pergi, Hael kembali dari lantai 2.

"Ohh Hael kau sudah... Wow! Bajumu bagus."

“Baju sama sekali tidak penting." Hael mengabaikannya. "Ayo Alzen, kita tunggu di Dining Room saja. Aku pastikan makanannya enak-enak deh."

Alzen mengangguk dengan sedikit air liur yang keluar dari mulutnya. "Oke..."

Mereka berdua duduk di meja makan panjang. Dengan 4 kursi di kedua sisi. Dan 1 kursi di sisi yang lain. Total ada 10 kursi untuk meja panjang ini.

"Selagi menunggu, aku mau ngomong sesuatu." ucap Hael dengan ragu-ragu.

"Tak usah canggung begitu dong. Ini kan rumahmu, harusnya aku yang canggung." kata Alzen.

"Ngomong-ngomong rumah ini? Apa pendapatmu?"

"Sangat keren! Sangat mewah dan indah!" jawab Alzen spontan.

"Baguslah." Hael tersenyum mendengarnya. "Kamu menginap disini saja hari ini ya."

"Boleh?"

"Boleh lah..."

"Tapi ngomong-ngomong boleh aku tanya satu hal?"

"Apa? tanyakan saja."

"Orang tuamu mana? Di lantai 2?"

"Soal itu..." Hael langsung menunduk ketika mendengarnya.

"Ahh tidak-tidak. Tidak usah jawab saja. Aku cuma ngelantur kok. Haha."

"Orangtuaku belum pulang. Mereka baru kembali di rumah jam 10 malam paling cepat. Dan berangkat lagi jam 7 pagi. Kalau libur-pun mereka masih sibuk mengurusi pekerjaannya di rumah. Jadinya..."

"Orangtuamu sibuk sekali ya?"

"Iya, mereka berdua bekerja di pemerintahan. Ayahku bekerja sebagai lembaga penegak hukum Greenhill. Dia orang yang tegas dan dikagumi di Greenhill. Erebus Esterio, kalau kamu lama di Greenhill, kau pasti tahu dia.”

“Maaf, aku tidak tahu. Akses berita tak begitu bagus di rumah menara ayahku.”

“Sedang ibuku, bekerja sebagai mentri sihir Greenhill. Leva Esterio. Ibu juga orang pemerintah dan sangat dihormati di Greenhill. Meski begitu, mereka berdua sama sibuknya."

"Orangtuamu hebat-hebat.” komentar Alzen.

“Kau benar,” jawab Hael murung, dengan kepala tertunduk.

“Tapi Hael," Alzen mengucapkannya dengan perasaan empati. "Kamu kesepian ya?"

"Begitulah..." ucapnya dengan kepala tertunduk.

Zeengg... Zeengg...

Terdengar suara dari Cincin Kristal yang berubah warna terus menerus.

"Suara apa itu?"

"Ayahku ingin bicara." Hael mengambil cincin itu dan memasang di jarinya, kemudian menyentuh kristalnya dengan sihir. "Ya, ada apa pa?"

"Cincin itu bersuara?!" Alzen terpukau, tapi mencoba untuk tidak mengintervensi Hael. Dan menahan dirinya untuk tidak bersuara.

"Aku dapat kabar dari Vheins, sekolahmu libur 7 hari ya? Terus kamu lagi dirumah sekarang?" Terdengar suara ayah Hael, keluar dari Kristal itu.

"I-iya pa. Apa papa..."

"Wah sayang sekali, hari ini aku tak bisa pulang. Karena ada kasus penting yang harus segera ditangani."

"Aku mengerti pa."

"Jaga diri baik-baik."

"..." Setelah selesai bicara, semakin murunglah Hael. Tapi ketika ia melihat Alzen yang sedang melihat dirinya juga. Ia mencoba menahan rasa sedihnya. "Dia tidak pulang lagi, Ayahku memang selalu begitu."

"Itu suara ayahmu? Bagaimana bisa? Cincin apa itu?" tanya Alzen.

"Ohh... ini namanya Crystal Communicator. Namanya agak kepanjangan ya. Dengan cincin ini kita bisa bicara dengan orang lain dalam jarak jauh. Apa yang ini, kamu juga baru pertama lihat?"

Alzen mengangguk.

"Alat ini cuma boleh ada di Negara Greenhill saja. Lagipula yang bisa pakai cuma orang yang bisa menggunakan sihir. Ahh... lebih tepatnya Aura. Dan alat ini ditenagai dengan itu."

“Hoo... Begi-“

"Makanan Siap!"

Richard menyajikan makanan lezat untuk mereka berdua dengan elegansi ala seorang pelayan pribadi. Dengan menyajikan Appetizer berupa kue-kue kecil, Main Course yang adalah makanan yang bikin kenyang, seperti Nasi Goreng. Dan ditutup dengan Dessert berupa makanan manis, buah-buahan dan es krim.

“Se-selamat makan!”

***

Puas bersantap ria, Alzen dan Hael kini beristirahat di kamarnya yang seperti kamar hotel bintang 5.

Keesokan harinya, Jam 6 pagi, ketika matahari baru terbit menyinari jendela-jendela ruangan ini. Alzen dan Richard bicara empat mata di ruang tamu lantai 1 yang berada di sisi kanan rumah dengan kemewahan yang serupa. Tepat di samping ruangan setelah pintu masuk.

"Ada apa mengajak aku kemari?" tanya Alzen.

"Pertama-tama, soal yang kemarin malam itu." Richard memandang Alzen serius.

"Soal apa?"

"Nama Franquille, aku sudah ingat sekarang."