Episode 24 - One Week Without Tournament


"Dicari dimanapun, gak ada orang disini?" kata orang itu sambil memeriksa setiap sudut ruangan kecil ini. "Kau bicara dengan siapa?"

"Tidak! Bukan siapa-siapa, kau pasti salah dengar!" balas Hael yang terlihat tak mau membahasnya.

"Enggak kok! Kau jelas-jelas berbicara seperti sedang berdialog sama orang."

"Aku... aku cuma ngomong sendiri kok. Menghibur diri di tempat sepi ini." jawab Hael canggung.

"Masa? Tapi kok, aku dengar suara orang lain selain kamu?"

"Lupakan saja soal itu. Justru aku yang ingin tanya. Kenapa kamu sendiri bisa ada disini?"

"Aku? Aku baru saja dari toilet selagi terus menemani temanku yang sedang di rawat. Lalu tiba-tiba mendengar suara tangisan. Aku pikir itu hantu, ahh tapi ternyata bukan. Sial!” kata Alzen kesal. “Padahal kalau hantu beneran, aku ingin coba lawan! Di buku ditulis hantu itu kebal serangan fisik. Vheins bukan tempat yang aman buat mereka tinggal kalau begitu. Tapi tak kusangka ada orang terkurung disini. Kamu kekunci kenapa?"

"Gak masuk akal! Kau bohong kan!"

"Aku bohong? Buat apa? Memang benar begitu kok."

"Masih sulit aku untuk menerimanya." balas Hael. "Uhm... tapi sepertinya kita pernah bertemu kan?"

"Bertemu? Dimana?"

"Kau tak ingat aku?"

"Uhmm... tunggu, siapa ya?" Orang itu melihat Hael dari dekat. "Ohh... kau yang waktu itu dibully dua anak peserta Umbra ya?! Aku ingat, aku ingat!"

"Di-Dia ingat aku!? Pertama kalinya aku merasa begini." ucap Hael dalam hatinya.

"Kalau gak salah... namamu Hael ya?"

"Dia bahkan ingat namaku!?" kata Hael dalam hati yang tertegun mendengarnya.

"Hey! Halo? Kok diam saja? Kau benar Hael kan? Kalau aku tak salah ingat."

"I-iya, aku Hael yang waktu itu."

"Sinus dan Velizar? Ohh... Sinus si rambut hitam acak-acakan yang waktu itu aku setrum ya? Kalau Velizar itu, pria rambut putih yang menggendongnya pulang. Tapi, mereka kan peserta turnamen juga? Dan dua-duanya menyerah begitu saja. Payah!"

"Iya..." Hael menunduk murung. "Mereka sekelompok denganku. Perwakilan Umbra. Sinus memang payah, tapi Velizar tidak demikian. Dia cuma malas saja."

"Sekelompok dengan orang-orang yang membullymu? Kau pasti tersiksa sekali." Orang itu iba mendengarnya.

"Hidupku memang ditakdirkan begini. Berbeda denganmu, Alzen."

"Hee? Kau tahu namaku? Kita kan waktu itu belum berkenalan waktu itu."

"Kau terkenal!” ucap Hael keras. “Di kelas Stellar banyak yang membicarakanmu karena dekat dengan Leena."

"Haaa!?" Alzen kaget mendengarnya.

"Berbeda denganku. Kau pintar! Kau cerdas! Kau juga... ganteng! Sekali lagi, kau sangat berbeda denganku." keluh Hael. "Mungkin kau juga hidup di keluarga kaya raya! Sama sepertiku. Tapi hanya saja, kau lebih bahagia. Punya orang tua yang sayang padamu. Kamu adalah versi terbaik yang bisa aku bayangkan."

"Kaya raya? Tidak sama sekali... aku hidup biasa-biasa saja di puncak bukit di ujung West Greenhill. Dengan ayahku yang bisa dibilang hampir tak memiliki uang sama sekali. Aku dan ayah, terbilang sangat miskin kalau dibanding orang-orang di kota besar seperti Vheins."

"Kamu tidak kaya? Kamu beruntung sekali."

"Beruntung?" Alzen tak mengerti. "Bukannya harusnya kamu yang beruntung?"

Lalu Hael mencurahkan isi hatinya sambil duduk, bersandar di pinggir tembok dengan lutut kaki sebagai tumpuan kepalanya,

Lalu katanya. "Aku adalah anak yang terlahir dalam keluarga yang gak punya apa-apa selain uang yang banyak. Mereka memaksaku sekolah disini. Meski aku bilang, aku tak mampu belajar disini. Mereka cuma ingin aku lulus dan membuatku bangga akan diriku sendiri. Yang nyata-nyata adalah untuk kesenangan mereka sendiri. Tahun ini adalah tahun ketiga aku gagal di tingkat 1 ini."

"Tapi, tahun ini kan masih lama untuk disimpulkan sekarang." balas Alzen menyemangati.

"Tidak! Tahun ini aku pasti gagal lagi. Biarpun begitu... mereka masih tak mau peduli juga. Mereka bilang, bahwa mereka masih sanggup bayar biaya sekolah aku. Mereka tak mau dengar bahwa aku di-bully di sekolah. Mereka tak mau tahu tentang yang aku alami di sini. Mereka malah minta maaf pada orang tua siswa yang membully diriku, yang tak sengaja kulukai ketika membela diri."

"Orang tuamu benar-benar parah!"

"Tak perlu sok-sok membela dan seolah khawatir padaku! Suatu hari kamu juga akan mengkhianati diriku yang lemah dan tak berguna ini." ucap Hael murung dalam lipat tangan dan kepalanya bersandar di atas lutut kaki Hael sendiri. “Polanya akan terus terulang. Inilah takdir yang harus aku terima.”

"Kau lihat saja nanti! Aku tak akan mengkhianatimu."

"Aku tak mau percaya... aku sudah tak mau di bohongi dan dikhianati lagi. Semua orang bicara begitu padaku pada awalnya, dari tahun pertama aku sekolah disini. Ujung-ujungnya mereka dan kamu nanti, hanya ingin uangku. Hanya ingin ditraktir makan-makanan mahal olehku. Sekali saja aku menolak mentraktir mereka. Sekali saja aku menolak membeli barang rusak mereka dengan harga yang mahal. Sekali saja aku tak menuruti kemauan merkea. Sikapnya langsung berubah. Tatapannya, rasa bencinya, tuntutan mereka yang tidak adil. Aku sudah tahu kau juga nantinya akan sama saja seperti mereka. Jadi... Tak perlu repot-repot menghiburku."

"Mereka sih bukan teman namanya!" Bentak Alzen tak setuju, sambil perlahan ia ikut duduk menyender disamping Hael. "Lagian salahmu sendiri juga, menjalin pertemanan karena uang."

"Aku terpaksa! Kalau tak begitu, tak seorangpun mau berteman denganku. Aku ini kan tidak bisa apa-apa."

"Kata siapa?! Kalau kau mau berteman denganku, silahkan saja. Aku tak perlu uangmu. Aku juga tak akan meminta apa-apa darimu. Tapi kalau kamu perlu bantuan. Silahkan cari aku." Alzen menawarkan diri dengan senyum yang tulus.

Hael tertegun mendengarnya yang memuatnya diam sejenak. Namun tak lama, ia menundukkan kepalanya kembali. "Kata-katamu itu juga sudah sering kali kudengar. Aku tak lagi percaya siapapun. Aku sudah lelah dikhianati oleh orang yang menyebut dirinya teman. Yang seperti dirimu juga ada."

"Kalau begitu terserah kau saja. Sudah jam segini, aku mau kembali ke Dorm." Alzen beranjak naik. "Kamu mau ikut gak? Kau juga tidur di dorm kan?"

Hael tak menjawab.

"Yasudah... kalau mau tidur di sini." Alzen meninggalkan-nya.

Hael masih duduk merenung.

"Ahh... Dasar kau ini!" Alzen kembali dan memaksanya keluar dari tempat itu.

"Hei! Hei! Lepaskan!"

"Jangan berontak! Aku membawamu ketempat lebih baik! Jangan merepotkan." paksa Alzen, menyeret Hael ikut dengannya.

“Hei! Tunggu! Lepaskan!”

***

Sesampainya di Dorm Pria,

"Nah! Sudah sampai! Aku tak tahu dimana kamarmu. Tapi dadah!" Alzen melambaikan tangan dan masuk duluan ke dormnya yang ada di lantai 2.

“Te-terima kasih.” Kata hael dengan kepala tertunduk tanpa beranjak sedikitpun.

***

Beberapa saat kemudian, Alzen kembali.

"Kenapa masih berdiri disitu?! Ayo cepat masuk, diluar dingin dan banyak nyamuk." bujuk Alzen.

Alzen menunggu sebentar dan...

"Ahh... sepertinya harus kuseret paksa lagi ya?"

Hael membalas dengan spontan. "Tidak-tidak! Tidak usah. Biar aku sendiri saja. Diseret kamu sakit tahu!"

"Haha! Maaf-maaf. Kalau begitu ayo segera naik." kata Alzen sambil berjalan meninggalkannya.

***

Keesokan paginya di kamar Dorm Alzen dan Chandra, mereka sedang sikat gigi bersama-sama di toilet.

"Yah... Alzen. Aku tidak menang lagi." kata Chandra dengan mengeluh berbalut perban. "Padahal... babak berikutnya adalah kesempatan emas untuk duel sama kamu. Tapi... aku malah kalah nih. Dan lagi, badanku sakit semua lagi, gara-gara si golem itu."

"Aku juga menyayangkannya chan." balas Alzen sambil menyikat gigi disampingnya. Alzen kumur-kumur dan memuntahkan air dari mulutnya. "Puahh... aku harus mewakili dirimu untuk melawannya nanti. Dan hanya dengan elemen api saja tentunya."

"Haduh... masih seminggu lagi nih. Lama ya." keluh Chandra. “Aku sudah tak sabar melihat kau mengalahkan si golem itu.”

"Aku sendiri juga masih bertanya-tanya, bagaimana caranya melawan dia? Sangat besar dan kuat. Membayangkan harus berhadapan satu lawan satu dengannya nanti membuatku susah tidur."

"Tak usah memaksakan diri Alzen. Dengar apa kata pak Lasius sebelumnya kan? Nyawamu lebih penting. Tak perlu repot-repot melakukannya demi diriku. Aku tak mau kau berakhir sepertiku juga. Sakit tahu! Badanku ini. Gak tangan, gak kaki. Sakit semua! Beneran." balas Chandra yang saat ini tangan dan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban. "Lihat diriku nih! Jadi kayak mummy. Haha..."

"Hahaha... mummy? Betul juga. Kau di perban hampir diseluruh tubuh. Untung masih bisa jalan. Dan sikat gigi." tawa Alzen. "Ngomong-ngomong, Sihir penyembuhan tak bisa langsung menyembuhkan lukamu kah?"

"Sedikit banyak sih bisa... tapi tetap harus dirawat secara tradisional juga katanya. Sihir penyembuhan efektik meregenerasi luka saja katanya."

"Begitu? Yasudah." ucap Alzen sambil menyelesaikan sikat giginya. "Ini libur seminggu, mau dipakai buat apa ya?”

"Ya latihanlah.”

“Latihan? Latihan seperti apa?" Alzen balas bertanya. Ia berjalan ke belakang dan menjatuhkan diri ke atas kasur. “Ahh! Aku sendiri ketakutan membayangkannya.”

“Kamu ke kelas sana. Minta guru ajari kamu lebih lagi. Aku terpaksa harus berbaring saja disini, sampai sembuh. Haduh! Bosannya..."

“Begitu ya... hanya dalam seminggu aku dituntut menang darinya.” renung Alzen selagi berbaring. "Nanti aku minta tolong anak Liquidum deh buat sembuhin kamu.” Alzen beranjak naik dan berjalan ke pintu. “Aku pergi dulu ya. Bye!"

***

Ketika tiba di kelas, Alzen mendapati ruang kelas kosong melompong.

"Si Chandra ngerjain aku ya? Kelas lagi libur juga." gumam Alzen.

"Rajin amat, lagi libur masih masuk kelas." terdengar suara Lasius yang datang menghampiri Alzen.

"Kalau libur, kenapa guru disini?"

"Hahaha! Heran ya? Gaji kami besar, meski tak lagi mengajar. Pak Vlau selalu kasih kami tugas. Mana ada waktu untuk gabut." jawab Lasius. "Asal kamu tahu, kalau lagi libur. Kami diminta mengerjakan Quest. Nyebelin kan?"

"Quest? Quest yang kayak waktu itu?"

"Rahasia! Sudah sana! Nikmati waktu libur kalian. Aku akan latih kalian di hari-hari terakhir saja. Biar gak males-malesan kayak sekarang."

"Ta-tapi kemana? Aku tak tahu."

"Uhm... kemana ya?" Lasius berpikir dan mengusulkan. "Rata-rata pada pulang kampung sih. Buat yang kampung halamannya dekat dari sini."

"Pulang kampung? Kampungku dekat dari sini sih. Ahh... tapi, untuk apa? Aku juga belum lama disini."

"3 bulan juga sudah lama loh... tapi yasudah terserah. Nikmati waktumu saja! Sana-sana!"

“I... iya-iya guru.” Alzen diusir.

***

Tak tahu harus kemana, Alzen berjalan-jalan di Area 3 dan menuju perpustakaan yang rutin ia kunjungi ketika senggang.

"Alzen! Alzen!" Sahut seseorang berusaha memanggil Alzen.

"Huh?"Alzen menoleh ke belakang. "Hael? Ada urusan apa?"

"Hosh... Hosh... A-Alzen! Aku diberitahu kalau kita libur seminggu, sebelum Quarter-Final dimulai kembali. Jadi..."

"Jadi apa?" Alzen menutup bukunya.

"Kamu mau kerumahku tidak?" tanya Hael dengan kepala tertunduk.

"Ehh!? Kerumahmu?!" Alzen kaget mendengarnya. "Dimana?"

"Lethsera. Mau ya?" jawab Hael antusias,

"Ibukota Greenhill? Bo-boleh..." jawab Alzen ragu-ragu.

"Yes!” Hael menatap ke depan dan tersenyum kecil. “Kalau begitu jam 12 siang kita berangkat ya. Kamu bawa diri saja. Sisanya aku yang urus." 

"O-oke..." balas Alzen sambil ia berpikir dalam hati. “Lethsera ya, kotanya seperti apa sih?”

"Baiklah! Nanti kita ketemu di gerbang keluar Vheins. Kutunggu ya." Hael pergi dengan perasaan gembira sekali. Entah apa yang dipikirkannya, yang pasti ia hanya mencoba memberi ruang untuk Alzen sebagai teman.

Alzen kembali ke Dormnya, mempersiapkan sesuatu secukupnya saja. 

“Gimana? Jadi latihannya?” tanya Chandra dari atas kasurnya.

“Aku mau pergi ke ibukota.”

“Hah? Untuk apa?”

“Hael, salah satu peserta Umbra mengajakku kesana. Entah untuk apa.”

“Dan kau setuju-setuju saja?”

“Iya...” jawab Alzen sambil sibuk mengemas. “Daripada aku bingung sendiri disini.”

“Wah... enaknya.”

“Hehe sudah ya. Bye!” 

“Di, dia pergi lagi. Bikin iri saja sih Alzen! Bisa bebas jalan-jalan di saat begini.”

***

Waktu yang dijanjikan sudah tiba. Tak berlama-lama lagi Alzen menemui Hael yang sudah menunggu dari jam 11 siang, saking senangnya ia telah sampai sejam lebih awal. 

Setibanya di gerbang Vheins, mereka berdua diteleportasi keluar melewati Area 2 – The Abyss.

Dari sana mereka berjalan kaki yang dimanfaatkan untuk berbincang-bincang satu sama lain. Hael tak pernah sesenang ini selama 2 tahun lebih di sini. Dan baru pertama kalinya Hael tidak terlihat murung di hadapan Alzen.Harapan kecil Hael, hanyalah sebatas menginginkan teman sejati disisinya. Meski ia selalu menekankan pada dirinya untuk tidak berharap terlalu tinggi.

Mereka berjalan dan tiba di sebuah desa kecil yang berada dekat Vheins. Namanya tak penting untuk disebutkan. Dari sana mereka menumpang kereta kuda menuju ibukota. Ya, karena pada era ini. Mobil belum masuk secara komersil di wilayah Republic of Greenhill.

Berjam-jam lamanya, mereka habiskan dalam perjalanan ini. Waktu yang ditempuh lebih cepat dari jalur biasa, karena kereta kuda ini menggunakan jalur khusus yang sebisa mungkin dibuat lurus tanpa halangan. Waktu yang ditempuh mereka, terbalaskan ketika mereka sampai di tempat tujuan.

Lethsera – Capital City of Greenhill.